PUKUL 01.43 AKU MENELEPON 112 KARENA AYAH DAN IBU TAK BISA DIBANGUNKAN, LALU POLISI MENEMUKAN SESUATU YANG MEMBUAT RUMAH KAMI DISEGEL
BAGIAN 1
Pukul 01.43 dini hari, aku berdiri di ujung tangga sambil memegang telepon rumah dengan kedua tangan.
Aku baru delapan tahun.
Tanganku gemetar.
Dari lantai atas tercium bau aneh yang sejak beberapa menit sebelumnya membuat kepalaku terasa berat.
Operator di ujung telepon bertanya dengan suara tenang.
“Namamu siapa?”
“Alya.”
“Umurmu berapa, Alya?”
“Delapan.”
“Sekarang kamu sendirian?”
Aku menatap ke arah kamar orang tuaku.
Pintunya masih terbuka sedikit.
“Ayah sama Ibu ada di kamar.”
“Mereka sedang tidur?”
“Aku enggak tahu. Aku sudah panggil. Mereka enggak bangun.”
Operator itu berhenti sebentar.
Lalu suaranya berubah lebih tegas.
“Alya, dengarkan Ibu baik-baik. Jangan masuk ke kamar mereka lagi. Kamu turun sekarang, buka pintu depan, lalu keluar rumah.”
Aku langsung menurut.
Aku mengambil boneka kelinci yang tergeletak di sofa, membuka kunci pintu, lalu berdiri di halaman tanpa sandal.
Udara malam terasa dingin.
Aku masih memegang telepon nirkabel di satu tangan.
“Sudah di luar?”
“Sudah.”
“Bagus. Petugas sedang menuju ke rumahmu.”
Aku melihat ke lantai dua.
Lampu kamar Ayah dan Ibu masih menyala.
Aku ingin naik lagi.
Aku takut mereka marah karena aku membiarkan pintu depan terbuka.
Tapi aku juga takut masuk.
Beberapa menit kemudian suara kendaraan terdengar dari ujung jalan.
Dua petugas turun.
Salah satunya berjalan cepat ke arahku.
“Kamu Alya?”
Aku mengangguk.
“Orang tuamu di atas?”
“Iya, Pak.”
Namanya kemudian kuketahui Bripka Arif.
Ia berjongkok di depanku.
“Sejak kapan mereka enggak bangun?”
“Aku enggak tahu. Tadi aku bangun karena haus. Aku dengar suara seperti benda berdengung. Terus baunya aneh.”
Ia langsung menoleh kepada rekannya.
Mereka mendekati pintu.
Belum sampai masuk, Bripka Arif berhenti.
Wajahnya berubah.
“Jangan masuk dulu.”
Ia mengambil radio.
Beberapa saat kemudian datang petugas tambahan bersama tim pemadam.
Aku dipindahkan menjauh dari rumah.
Aku duduk di kursi belakang mobil patroli sambil memeluk boneka kelinciku.
Dari sana aku melihat beberapa orang memakai perlengkapan pelindung masuk ke rumah.
Aku tidak tahu apa yang sedang mereka cari.
Yang kutahu hanya satu.
Ayah dan Ibu masih ada di dalam.
Tak lama kemudian dua tandu dibawa keluar.
Aku langsung membuka pintu mobil.
“Ibu!”
Seorang petugas menahanku pelan.
“Sebentar, Alya.”
Aku melihat wajah Ibu.
Matanya tertutup.
Ayah juga tidak bergerak.
Aku mulai menangis.
“Kenapa mereka enggak bangun?”
Seorang perawat mendekat.
“Mereka sedang dibantu bernapas. Kami bawa mereka ke rumah sakit sekarang.”
“Mereka nanti pulang?”
Perawat itu tidak langsung menjawab.
“Kami akan bantu semaksimal mungkin.”
Ambulans pergi.
Aku pikir bagian terburuk malam itu sudah selesai.
Ternyata belum.
Bripka Arif kembali masuk ke rumah bersama seorang petugas pemadam.
Sekitar dua puluh menit kemudian ia keluar.
Kali ini ia tidak mendekatiku.
Ia berdiri di dekat pagar dan berbicara pelan kepada rekannya.
Aku tidak bisa mendengar semuanya.
Tapi beberapa kalimat terdengar jelas.
“Katupnya terbuka terlalu besar.”
Lalu petugas lain menjawab.
“Ventilasi kamar juga ditutup dari dalam.”
Bripka Arif menoleh ke rumah.
“Alarm gasnya mati.”
Aku tidak mengerti maksud mereka.
Sampai ia berjalan kepadaku.
“Alya, sebelum tidur, siapa saja yang ada di rumah?”
“Ayah. Ibu. Aku.”
“Tidak ada tamu?”
Aku berpikir.
“Tadi sore ada Om Bayu.”
“Siapa Bayu?”
“Teman Ayah.”
“Jam berapa dia pulang?”
“Enggak tahu.”
“Apa kamu dengar mereka bertengkar?”
Aku menunduk.
Sebenarnya aku tidak ingin menjawab.
Karena sebelum aku tidur, aku memang mendengar suara Ayah dari ruang kerja.
“Kalau kamu datang ke rumah saya lagi, saya lapor.”
Lalu suara laki-laki lain.
“Kamu pikir laporan bisa menghapus utang?”
Aku tidak tahu apa itu utang.
Aku hanya tahu Ayah marah.
Aku menceritakan semuanya.
Bripka Arif langsung meminta rekannya mencatat.
Kemudian ia bertanya lagi.
“Ada yang aneh beberapa hari terakhir?”
Aku memeluk kelinciku lebih erat.
“Ada orang telepon rumah terus.”
“Siapa?”
“Aku enggak tahu. Kalau aku yang angkat, dia diam.”
“Berapa kali?”
“Banyak.”
Aku mengingat sesuatu lagi.
“Terus kemarin kaca spion mobil Ayah rusak.”
Bripka Arif menatapku beberapa detik.
“Kenapa Ayahmu tidak melapor?”
“Ayah bilang cuma anak nakal.”
Saat itu seorang petugas keluar dari rumah membawa sebuah kantong bening.
Di dalamnya ada benda kecil berwarna hitam.
Bripka Arif berdiri.
“Itu apa?”
“Perekam.”
Aku melihat benda itu.
Aku pernah melihatnya sebelumnya.
Tapi bukan di kamar orang tuaku.
Dua hari sebelumnya benda yang sama tergeletak di meja kerja Ayah.
Ketika aku ingin mengambilnya karena kukira itu flashdisk, Ayah langsung menutup laci.
“Alya, jangan sentuh barang Ayah.”
Sekarang benda itu ditemukan di dekat pintu kamar.
Aku menunjuknya.
“Itu punya Ayah.”
Semua orang menoleh kepadaku.
Bripka Arif kembali berjongkok.
“Kamu yakin?”
“Iya.”
“Pernah dengar isinya?”
Aku menggeleng.
Ia berdiri perlahan.
Petugas lain datang membawa sebuah amplop cokelat yang ditemukan di ruang kerja.
Bripka Arif membukanya.
Aku melihat ekspresinya berubah.
Di dalamnya ada beberapa lembar fotokopi, catatan angka, dan satu foto.
Bripka Arif memperhatikan foto itu cukup lama.
Kemudian ia melihat rumah kami.
Lalu melihatku.
“Alya.”
“Iya?”
“Untuk malam ini, rumah ini belum boleh dimasuki siapa pun.”
“Kenapa?”
Ia tidak menjawab pertanyaanku.
Ia hanya berkata kepada petugas di sampingnya,
“Hubungi penyidik. Jangan anggap ini kebocoran biasa.”
Aku masih belum tahu apa yang sebenarnya mereka temukan.
Namun sebelum matahari terbit, garis pembatas sudah dipasang di depan rumahku.
Dan nama pertama yang dicari polisi adalah nama orang yang datang menemui Ayah beberapa jam sebelum aku menelepon 112.
Bayu Pranata.
Tapi ternyata Bayu bukan orang yang paling perlu kami takuti.
BAGIAN 2: YANG TERSEMBUNYI DI BALIK PINTU
Pukul 04.17, aku duduk di dalam mobil patroli dengan selimut tipis yang dipinjamkan seorang petugas.
Boneka kelinciku masih kupeluk.
Di luar, lampu-lampu rumah tetangga mulai menyala satu per satu. Mungkin mereka dengar sirene. Mungkin mereka lihat garis polisi yang membentang di depan rumahku.
Aku melihat Bu Ratna, tetangga sebelah, berdiri di teras rumahnya sambil menutup mulut dengan tangan.
Pak Hasan dari seberang jalan keluar dengan jaket tidur, menatap rumahku seperti melihat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi di lingkungan ini.
Aku ingin pulang.
Tapi aku tidak punya rumah untuk dituju sekarang.
Bripka Arif menghampiri mobil dan membuka pintu.
“Allya, kamu mau ikut kami dulu ke kantor? Nanti pagi kami cari tempat yang aman untukmu.”
“Aku mau ke rumah sakit. Aku mau lihat Ibu.”
Ia menghela napas.
“Untuk sekarang belum bisa. Dokter masih menangani mereka.”
“Apakah Ibu akan meninggal?”
Bripka Arif tidak menjawab langsung.
Ia hanya berkata, “Kami akan jemput tantemu pagi ini. Kamu punya tant, kan?”
Aku mengangguk.
“Tante Sari. Adiknya Ibu.”
“Bagus. Kami akan hubungi dia.”
Aku ingat Tante Sari tinggal di kota lain, sekitar tiga jam perjalanan. Ia jarang datang karena Ayah dan Ibu sering bertengkar dengannya soal warisan nenek.
Tapi malam itu, Tante Sari adalah satu-satunya orang yang kupunya.
Pukul 07.30, aku sudah berada di ruang tunggu kantor polisi.
Seorang petugas perempuan memberiku susu kotak dan roti.
Aku tidak lapar.
Aku hanya duduk di kursi plastik, menatap lantai, dan mendengar potongan-potongan percakapan dari ruangan sebelah.
Pintunya tidak tertutup rapat.
Suara Bripka Arif terdengar.
“Hasil awal dari lab: kadar karbon monoksida di kamar korban sangat tinggi. Sumbernya dari water heater gas di kamar mandi dalam. Tapi ada yang aneh.”
Suara lain, lebih berat.
“Apa?”
“Katup gasnya dibuka manual. Bukan kerusakan. Bukan kebocoran alami. Ada yang sengaja membuka dan membiarkannya mengalir.”
Hening sebentar.
“Ventilasi kamarnya?”
“Ditutup dengan lakban dari dalam. Lakban yang sama ditemukan di dapur. Sarung tangan tidak ada, tapi ada sidik jari sebagian di gagang katup.”
“Milik siapa?”
“Belum bisa dipastikan. Tapi bukan suami istri korban.”
Aku menelan ludah.
Aku tidak paham sepenuhnya apa yang mereka bicarakan.
Tapi aku tahu satu hal.
Ada orang yang masuk ke rumah kami malam itu.
Dan orang itu bukan Ayah, bukan Ibu, bukan aku.
Pukul 09.15, Tante Sari datang.
Ia berlari masuk ke kantor polisi dengan mata bengkak.
Begitu melihatku, ia langsung memelukku erat.
“Allya, sayang. Kamu baik-baik saja?”
Aku mengangguk.
“Tante, Ibu sama Ayah di rumah sakit.”
“Aku tahu. Aku sudah telepon rumah sakit. Mereka masih di ICU.”
Ia menatap Bripka Arif.
“Ada apa sebenarnya? Kenapa rumah disegel?”
Bripka Arif mempersilakan Tante Sari duduk.
“Kami masih menyelidiki. Tapi ada indikasi bahwa kejadian ini bukan kecelakaan.”
Tante Sari menutup mulut dengan tangan.
“Tuhan…”
“Apakah Ibu tahu siapa Bayu Pranata?”
Tante Sari mengerutkan dahi.
“Bayu? Teman kerja Pak Hendra?”
“Seberapa dekat mereka?”
Tante Sari berpikir.
“Mereka dulu sering kerja sama di proyek. Tapi beberapa bulan terakhir… ada masalah.”
“Masalah apa?”
Tante Sari menatapku, lalu menunduk.
“Aku tidak tahu detailnya. Tapi yang aku dengar, Pak Hendra menemukan sesuatu. Sesuatu yang membuat Bayu marah.”
Bripka Arif mencatat.
“Kapan terakhir Ibu bicara dengan korban?”
“Seminggu lalu. Mbak Rina—istri Pak Hendra—telepon aku. Dia bilang suaminya sedang stres. Ada orang yang terus meneror mereka.”
“Terror seperti apa?”
“Telepon gelap. Kaca mobil pecah. Surat kaleng.”
Bripka Arif dan rekannya bertukar pandang.
“Kenapa tidak lapor polisi?”
Tante Sari menghela napas.
“Karena Pak Hendra bilang… dia tidak bisa.”
“Kenapa?”
Tante Sari tidak menjawab.
Ia hanya menatapku, lalu berkata pelan, “Karena kalau dia lapor, rahasia itu akan terbuka.”
Aku dan Tante Sari dibawa ke rumah aman sementara.
Sebuah apartemen kecil milik kerabat polisi di kota yang sama.
Sepanjang perjalanan, Tante Sari tidak banyak bicara.
Ia hanya menggenggam tanganku.
Sesampainya di apartemen, ia menyuruhku mandi dan tidur.
Tapi aku tidak bisa tidur.
Aku berbaring di kasur asing, menatap langit-langit, dan mengingat semuanya.
Bayu.
Suara pertengkaran.
Perekam hitam.
Amplop cokelat.
Foto yang membuat Bripka Arif terdiam.
Aku ingin tahu apa isinya.
Pukul 14.20, Tante Sari menerima telepon.
Aku mendengar ia bicara pelan di dapur.
“Ya… ya… aku mengerti… tapi dia masih kecil… tidak, aku tidak bisa… tunggu, apa maksudmu?”
Suaranya meninggi.
Aku bangkit dari kasur dan mengintip dari balik pintu.
Tante Sari berdiri membelakangi aku, satu tangan menutup mulut.
“Jadi selama ini…?” Ia berhenti. “Astaga.”
Ia menutup telepon.
Ketika berbalik, ia melihatku.
Matanya merah.
“Tante, ada apa?”
Ia menghampiriku dan berjongkok.
“Allya, kamu harus tahu sesuatu.”
“Apa?”
“Ibumu… bukan ibu kandungmu.”
Dunia terasa berhenti.
“Apa?”
Tante Sari menggenggam tanganku.
“Kamu anak dari kakakku yang lain. Kakak tertua kami. Namanya Maya.”
Aku tidak pernah dengar nama itu.
“Maya meninggal saat melahirkan kamu. Suaminya—ayah kandungmu—tidak mau mengurus kamu. Jadi Rina dan Hendra mengambil kamu. Mereka merawatmu sejak kamu bayi.”
Aku menunduk.
“Jadi Ayah dan Ibu… bukan orang tuaku?”
“Mereka orang tua angkatmu. Tapi mereka mencintaimu seperti anak sendiri.”
Aku merasa dadaku sesak.
“Kenapa baru bilang sekarang?”
“Karena ada alasan.”
“Alasan apa?”
Tante Sari menarik napas panjang.
“Ayah kandungmu… namanya Bayu Pranata.”
Aku menatap Tante Sari.
“Om Bayu?”
“Iya.”
“Om Bayu yang datang ke rumah kami?”
Tante Sari mengangguk.
“Bayu datang bukan karena utang. Dia datang karena dia tahu kamu ada di sana. Dia ingin mengambilmu.”
Malam itu, aku tidak bisa menutup mata.
Semua yang kukenal tentang hidupku runtuh dalam satu hari.
Ayah dan Ibu—orang yang selalu kupanggil Ayah dan Ibu—bukan orang tuaku.
Dan orang yang datang ke rumah kami, yang membuat Ayah marah, yang namanya dicari polisi—adalah ayah kandungku.
Aku tidak tahu harus merasa apa.
Marah? Sedih? Bingung?
Yang kutahu, aku ingin bertemu Ibu.
Ibu yang selama ini merawatku.
Ibu yang selalu membangunkan aku pagi-pagi dan menyiapkan sarapan.
Ibu yang menggendongku ketika aku demam.
Ibu yang bukan ibu kandungku, tapi tetap ibu bagiku.
Pukul 19.45, Bripka Arif datang ke apartemen.
Ia membawa kabar.
“Ibumu sadar.”
Aku langsung berdiri.
“Ibu bisa bicara?”
“Sedikit. Tapi kamu belum bisa menemuinya. Dokter bilang butuh istirahat.”
“Ayah?”
Bripka Arif menunduk.
“Kondisinya lebih kritis. Tapi masih bertahan.”
Aku menelan ludah.
“Apakah Om Bayu yang melakukan ini?”
Bripka Arif tidak menjawab langsung.
“Kami masih menyelidiki. Tapi ada perkembangan.”
“Apa?”
Ia duduk di sofa, menatapku dengan serius.
“Kami menemukan sidik jari di gagang katup gas. Sidik jari itu milik seseorang yang sudah kami kenal.”
“Siapa?”
“Bukan Bayu.”
Aku mengerutkan dahi.
“Lalu siapa?”
Bripka Arif mengeluarkan foto dari tasnya.
“Kamu pernah lihat orang ini?”
Aku menatap foto itu.
Seorang laki-laki muda, sekitar tiga puluhan, dengan rambut pendek dan tatapan tajam.
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Namanya Raka. Dia mantan karyawan di perusahaan tempat ayahmu bekerja.”
“Kenapa dia?”
“Kami belum tahu. Tapi dia menghilang sejak dua hari lalu.”
Aku menatap foto itu lebih lama.
Ada sesuatu yang aneh.
Sesuatu yang familier.
Lalu aku ingat.
“Tunggu.”
Bripka Arif menatapku.
“Kamu ingat sesuatu?”
“Aku pernah lihat orang ini.”
“Di mana?”
“Di depan sekolahku. Seminggu yang lalu.”
Bripka Arif mencondongkan tubuh.
“Dia ngapain?”
“Dia hanya berdiri. Menatap aku.”
“Kamu yakin?”
Aku mengangguk.
“Ia tersenyum.”
Bripka Arif dan Tante Sari bertukar pandang.
“Allya, ini penting. Apakah kamu cerita ke Ayah atau Ibu?”
“Aku cerita ke Ibu.”
“Apa kata Ibu?”
“Ibu bilang… jangan bilang siapa-siapa. Dan besoknya, Ibu jemput aku lebih awal.”
Bripka Arif menghela napas.
“Ini bukan kasus biasa.”
Ia berdiri.
“Allya, kamu dan Tante Sari harus tetap di sini. Jangan keluar. Jangan buka pintu untuk siapa pun kecuali aku atau petugas yang kamu kenal.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang melakukan ini masih bebas. Dan dia mungkin masih mencari kamu.”
BAGIAN 3: KEBENARAN YANG TAK BISA LAGI DISEMBUNYIKAN
Tiga hari berlalu.
Aku dan Tante Sari tinggal di apartemen itu seperti dalam penjara.
Tante Sari keluar hanya untuk beli makanan, itu pun ditemani petugas.
Aku menghabiskan waktu menatap jendela, berharap ada kabar dari Ibu.
Setiap malam, aku mimpi buruk.
Aku melihat Bayu berdiri di depan pintu rumah, tersenyum, lalu menghilang.
Aku melihat Ibu terbaring di lantai, matanya terbuka tapi tidak melihat apa-apa.
Aku melihat seorang laki-laki dengan rambut pendek berdiri di depan gerbang sekolahku, melambaikan tangan.
Aku selalu terbangun dengan keringat dingin.
Pukul 10.00 pagi, hari keempat, Bripka Arif datang lagi.
Kali ini ia tidak sendiri.
Ia bersama seorang laki-laki tinggi berjas hitam.
“Ini Pak Dimas. Dari Satuan Reserse Kriminal.”
Pak Dimas tersenyum tipis padaku.
“Allya, kami butuh bantuanmu.”
“Apa?”
“Kami menemukan sesuatu. Dan kami pikir kamu bisa membantu kami memahami apa artinya.”
Ia meletakkan sebuah kotak plastik berisi barang bukti.
Di dalamnya ada perekam hitam yang ditemukan di rumahku.
“Kami sudah memeriksa isinya. Ada rekaman suara.”
Aku menelan ludah.
“Suara siapa?”
“Suara ayahmu. Dan suara Bayu.”
Pak Dimas menekan tombol play.
Suara Ayah terdengar.
“Kamu tidak akan pernah bisa mengambil Allya. Dia anakku. Bukan anakmu.”
Lalu suara Bayu.
“Dia anak kandungku. Kamu cuma pencuri.”
“Aku bukan pencuri. Aku menyelamatkan dia dari kamu. Kamu bukan ayah. Kamu pembunuh.”
Hening.
Lalu suara Bayu lagi, lebih pelan.
“Kamu tahu apa yang terjadi pada Maya?”
“Aku tahu. Dan aku punya buktinya.”
“Kamu tidak punya apa-apa.”
“Aku punya rekaman ini.”
Rekaman berhenti.
Aku menatap Pak Dimas.
“Ayah bilang Om Bayu pembunuh?”
“Ya.”
“Pembunuh siapa?”
Pak Dimas tidak menjawab.
Ia hanya berkata, “Ibumu—maksudku, Ibu Maya—meninggal saat melahirkan kamu. Tapi ada indikasi bahwa kematiannya bukan karena komplikasi biasa.”
Aku merasa dunaku berputar.
“Jadi Om Bayu yang membunuh Ibu Maya?”
“Kami masih menyelidiki.”
“Tapi Ayah punya bukti?”
“Ya. Dan bukti itu yang membuat Bayu datang ke rumahmu malam itu.”
Pukul 13.00, aku dibawa ke rumah sakit.
Akhirnya.
Bripka Arif mengantar aku dan Tante Sari ke ruang ICU.
Ibu terbaring di tempat tidur, dengan selang di hidung dan mesin yang berdenyut.
Matanya setengah terbuka.
Begitu melihatku, ia tersenyum lemah.
“Allya…”
Aku berlari ke samping tempat tidurnya.
“Ibu!”
Ia menggenggam tanganku lemah.
“Kamu… baik-baik saja?”
Aku mengangguk, air mata mengalir.
“Ibu, aku takut.”
“Ibu tahu. Ibu minta maaf.”
“Kenapa Ibu tidak bilang kalau Ibu bukan ibu kandungku?”
Ibu menutup mata sebentar.
“Karena Ibu takut kamu pergi.”
“Aku tidak akan pergi.”
“Ibu tahu sekarang.”
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Allya, ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
“Apa?”
“Bayu… dia bukan ayah kandungmu.”
Aku tertegun.
“Apa?”
“Kami bohong. Kami bilang Bayu ayah kandungmu karena kami ingin melindungimu.”
“Aku tidak mengerti.”
Ibu menangis.
“Ayah kandungmu… adalah orang yang berbahaya. Bayu datang ke rumah untuk memperingatkan kami. Bukan untuk mengambilmu.”
“Jadi siapa ayah kandungku?”
Ibu tidak menjawab.
Ia hanya menatap ke arah pintu.
Aku menoleh.
Di sana, berdiri seorang laki-laki.
Rambut pendek.
Tatapan tajam.
Senyum tipis.
Raka.
Aku mundur.
“Kamu…”
Raka melangkah masuk.
Bripka Arif langsung berdiri.
“Berhenti! Kamu tidak boleh masuk!”
Raka mengangkat tangan.
“Tenang. Aku di sini untuk bicara.”
“Kamu tersangka!”
“Aku bukan tersangka. Aku saksi.”
Bripka Arif dan Pak Dimas saling pandang.
“Apa maksudmu?”
Raka menatapku.
“Allya, aku tidak akan menyakitimu. Aku di sini untuk memberitahu kamu kebenaran.”
“Kebenaran apa?”
“Aku ayah kandungmu.”
Dunia terasa hancur.
“Apa?”
“Aku ayah kandungmu. Dan Bayu… Bayu adalah orang yang menyelamatkan kamu dari aku.”
Aku menatap Ibu.
Ibu menangis.
“Maafkan Ibu, Allya. Kami berbohong untuk melindungimu.”
“Kenapa?”
Raka menjawab.
“Karena aku bukan orang baik. Aku pernah melakukan kesalahan. Dan Bayu—teman baikku—mengambil kamu dari aku karena dia tahu aku tidak bisa merawatmu.”
“Lalu kenapa kamu datang sekarang?”
“Karena aku berubah. Aku ingin memperbaiki semuanya.”
“Kamu yang buka katup gas?”
Raka menunduk.
“Bukan. Aku tidak melakukan itu.”
“Lalu siapa?”
Raka menatap Ibu.
“Ibu.”
Semua mata menoleh ke Ibu.
Ibu menutup mata.
“Maafkan Ibu.”
“Bu, apa maksudnya?”
Ibu menarik napas.
“Aku… aku yang buka katup gas.”
Bripka Arif melangkah maju.
“Bu, apa yang Ibu katakan?”
Ibu menangis.
“Aku ingin mengakhiri semuanya. Aku lelah. Bayu terus mengancam. Ayahmu terus marah. Aku tidak tahu harus bagaimana.”
“Jadi Ibu mencoba bunuh diri?”
“Iya. Tapi aku tidak ingin Allya ikut mati. Itu sebabnya aku minta dia keluar.”
Aku gemetar.
“Ibu…”
“Aku minta maaf, Allya.”
Raka melangkah mendekat.
“Rina, kenapa kamu lakukan ini?”
“Karena kamu! Kamu datang kembali setelah sepuluh tahun. Kamu bilang ingin ambil Allya. Aku panik.”
“Aku tidak ingin ambil dia. Aku ingin lihat dia.”
“Kamu bilang kamu akan bawa dia pergi.”
“Itu bohong. Aku hanya ingin mengenalnya.”
Bripka Arif mengangkat tangan.
“Cukup. Ini semua akan dicatat. Ibu Rina, kamu akan diperiksa lebih lanjut.”
Ibu mengangguk.
“Aku mengerti.”
Aku keluar dari ruang ICU dengan kaki gemetar.
Tante Sari memelukku.
“Allya, kamu kuat.”
Aku tidak merasa kuat.
Aku merasa hancur.
Semua yang kukenal tentang keluargaku adalah kebohongan.
Ayah dan Ibu bukan orang tuaku.
Bayu bukan ayah kandungku.
Raka adalah ayah kandungku.
Dan Ibu—Ibu yang kucintai—mencoba membunuh dirinya sendiri.
Malam itu, aku duduk di jendela apartemen.
Tante Sari tidur di kamar sebelah.
Aku menatap langit.
Bintang-bintang bersinar terang.
Aku memikirkan semua yang terjadi.
Ayah masih kritis di rumah sakit.
Ibu akan diperiksa.
Bayu masih dicari.
Raka menghilang lagi setelah memberikan keterangan.
Dan aku—aku hanya anak berusia delapan tahun yang harus menanggung semua ini.
Aku memeluk boneka kelinciku.
“Ibu, kenapa?”
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan malam.
Pukul 03.12, aku terbangun karena suara ponsel Tante Sari bergetar.
Tante Sari mengangkat.
“Halo?”
Wajahnya berubah.
“Apa? Kapan?”
Ia menutup telepon dan menatapku.
“Allya, Ayahmu sadar.”
Aku langsung bangun.
“Kita ke rumah sakit?”
“Ya. Sekarang.”
Pukul 04.00, kami tiba di rumah sakit.
Ayah terbaring di tempat tidur, matanya terbuka.
Ia tersenyum lemah ketika melihatku.
“Allya.”
Aku menghampirinya.
“Ayah.”
Ia menggenggam tanganku.
“Ayah minta maaf.”
“Kenapa Ayah minta maaf?”
“Karena Ayah berbohong.”
“Bohong apa?”
Ayah menutup mata.
“Bayu… dia bukan teman Ayah.”
“Lalu siapa?”
“Bayu adalah adik kandung Ayah.”
Aku tertegun.
“Apa?”
“Bayu adalah adikku. Dan dia… dia yang membuka katup gas.”
“Tapi Ibu bilang Ibu yang buka.”
Ayah menggeleng.
“Ibumu berbohong untuk melindungi Bayu. Karena Bayu mengancam akan menyakiti kamu kalau Ibu tidak mengaku.”
Aku menatap Ayah.
“Jadi Ibu tidak bersalah?”
“Ibumu tidak bersalah. Bayu yang melakukannya.”
“Kenapa?”
“Karena Bayu ingin uang asuransi. Dia ingin Ayah dan Ibu mati, dan dia ingin mengambil kamu sebagai anak angkat untuk mendapatkan uang itu.”
Aku menangis.
“Jadi Om Bayu jahat?”
“Ya. Dan dia masih bebas.”
Bripka Arif masuk ke ruangan.
“Kami sudah melacak Bayu. Dia berada di bandara. Kami akan menangkapnya sekarang.”
Pukul 06.45, kabar datang.
Bayu Pranata ditangkap di bandara saat hendak melarikan diri ke luar negeri.
Ia membawa tas berisi uang tunai dan dokumen palsu.
Di dalam tasnya juga ditemukan surat wasiat palsu yang menyatakan bahwa ia adalah wali sah Allya.
Pukul 09.00, aku duduk di ruang tunggu rumah sakit bersama Tante Sari.
Ayah dan Ibu masih dirawat.
Tapi mereka akan sembuh.
Bayu sudah ditangkap.
Raka telah memberikan keterangan lengkap dan dibebaskan dari tuduhan.
Ia tidak diizinkan mendekatiku sampai proses hukum selesai.
Tapi ia berjanji akan berubah.
Aku menatap boneka kelinciku.
“Kelinci, kita akan baik-baik saja.”
Tante Sari memelukku.
“Kamu anak yang kuat, Allya.”
Aku tersenyum.
“Aku tahu.”
Beberapa minggu kemudian, aku kembali ke rumah.
Rumah itu sudah dibuka segelnya.
Ayah dan Ibu sudah pulang dari rumah sakit.
Mereka masih lemah, tapi mereka tersenyum.
Aku berlari ke pelukan mereka.
“Allya, sayang.”
“Ibu, Ayah.”
Kami berpelukan lama.
Tidak ada yang bicara.
Hanya tangis bahagia.
Malam itu, aku tidur di kamarku.
Boneka kelinciku di sampingku.
Aku menatap langit-langit.
Aku tahu hidupku tidak akan pernah sama.
Tapi aku juga tahu satu hal.
Aku dicintai.
Oleh Ayah.
Oleh Ibu.
Oleh Tante Sari.
Oleh banyak orang.
Dan itu cukup.
TAMAT
Catatan: Cerita ini fiksi. Nama, karakter, dan peristiwa adalah imajinasi penulis. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami kekerasan atau krisis kesehatan mental, segera hubungi layanan darurat atau profesional.
