**IBUKU MENGIRIM DELAPAN KILO DAGING ASAP DARI SOLO, TAPI SUAMIKU DIAM-DIAM MEMANGGIL IBUNYA UNTUK MENGAMBIL SEMUA—AKU MALAH MENGOSONGKAN KULKAS.**
## BAGIAN 1
Paket itu baru kubuka ketika kudengar suara suamiku dari ruang kerja.
“Bu, sudah sampai.”
Aku berhenti memotong plastik.
Dimas berbicara pelan lewat telepon.
“Iya, banyak. Kayaknya delapan kilo.”
Tanganku langsung kaku.
Di depanku ada daging asap buatan Ibu dari Solo.
Dibungkus satu per satu.
Masih dingin.
Masih berbau kayu bakar.
Ibu membuatnya sendiri setelah menabung berbulan-bulan untuk membeli daging.
Aku bahkan belum sempat memasukkannya ke kulkas.
Lalu kudengar Dimas berkata,
“Datang saja sama Rena. Bawa kotak plastik. Nanti ambil sebanyak mungkin sebelum Nita pulang kerja.”
Aku menatap pintu ruang kerja.
Dia tidak tahu aku mendengar.
“Dia nggak bakal marah,” lanjutnya. “Paling juga cuma makanan kampung.”
Dadaku panas.
Tapi aku tidak masuk dan membuat keributan.
Aku memotret seluruh isi paket.
Lalu mengirimkannya kepada Ibu.
**Bu, Dimas menyuruh Bu Ratna datang mengambil ini semua.**
Balasan Ibu datang cepat.
Bukan kemarahan.
Hanya satu kalimat.
**Jangan bertengkar. Bawa semuanya ke tempat aman, lalu buka bungkusan paling bawah.**
Aku mengernyit.
Aku mengangkat tujuh bungkus.
Di dasar kotak ada satu paket lebih kecil yang dibungkus kain batik.
Bukan daging.
Aku membukanya.
Di dalamnya ada sebuah amplop plastik bening.
Namaku tertulis di depan.
**NITA — JANGAN BUKA DI DEPAN DIMAS.**
Jantungku langsung berdebar.
Aku memasukkan amplop itu ke tas.
Delapan kilo daging kubawa turun melalui tangga darurat.
Aku tidak pergi jauh.
Temanku, Santi, memiliki warung makan dua blok dari apartemen.
“Titip di freezer sampai besok,” kataku.
Santi melihat kantong besar itu.
“Kenapa?”
“Panjang.”
Dia tidak bertanya lagi.
Dalam perjalanan pulang, aku mampir ke pasar dan membeli dua kilo daging sapi murah.
Kubungkus dengan plastik yang mirip milik Ibu.
Saat kembali, Dimas sedang membuka kulkas.
Rak bawah berantakan.
Begitu melihatku, dia langsung berdiri.
“Dagingnya mana?”
Aku meletakkan belanjaan.
“Daging apa?”
“Yang dikirim ibumu.”
Aku membuka kulkas.
Berpura-pura bingung.
“Tadi aku taruh di sini.”
Wajahnya berubah.
“Kamu pindahin?”
“Tidak.”
“Jangan bohong, Nit.”
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu yang panik?”
Dia terdiam.
Bel pintu berbunyi.
Tiga kali.
Dimas langsung menuju pintu.
Bu Ratna masuk membawa dua tas belanja besar.
Di belakangnya ada Rena, adik Dimas.
“Mana?” tanya Bu Ratna tanpa salam.
Aku bersandar di meja dapur.
“Mana apa, Bu?”
Bu Ratna menatap Dimas.
“Kamu bilang delapan kilo.”
Rena bahkan sudah membuka freezer.
“Kok kosong?”
Dimas menatapku tajam.
“Nita bilang tadi dagingnya ada.”
Bu Ratna mendengus.
“Jangan pelit sama keluarga sendiri. Ibumu bisa bikin lagi.”
Kalimat itu membuat tanganku mengepal.
Tapi aku hanya mengambil kantong dari pasar.
“Kalau memang mau, ini ada.”
Bu Ratna segera membukanya.
Begitu mencium dagingnya, wajahnya langsung masam.
“Ini bukan yang dari ibumu.”
Aku tersenyum.
“Kok Ibu tahu?”
Sunyi.
Rena menatap ibunya.
Dimas memalingkan wajah.
Aku melanjutkan.
“Bukannya baru datang? Kok sudah tahu bentuk dan baunya?”
Bu Ratna langsung marah.
“Dimas cerita!”
“Lengkap sekali ceritanya.”
Aku lalu masuk kamar.
Mengunci pintu.
Baru saat itu aku mengeluarkan amplop dari Ibu.
Tanganku gemetar ketika membukanya.
Isinya bukan surat biasa.
Ada fotokopi buku tabungan.
Rekening atas namaku.
Aku tidak pernah membuka rekening itu.
Saldo terakhirnya membuatku duduk.
**Rp486.750.000.**
Di bawahnya ada daftar transfer selama hampir tiga tahun.
Pengirimnya: Ibuku.
Setiap beberapa bulan.
Rp15 juta.
Rp20 juta.
Rp25 juta.
Aku langsung menelepon Ibu.
“Bu, ini apa?”
Suara Ibu berubah pelan.
“Uang dari penjualan tanah peninggalan Bapak. Ibu kirim bagianmu sedikit-sedikit lewat Dimas karena waktu itu kamu bilang semua urusan bank dipegang suamimu.”
Aku merasa tengkukku dingin.
“Aku tidak pernah menerima satu rupiah pun.”
Ibu diam.
“Apa?”
“Aku bahkan tidak tahu rekening ini ada.”
Dari luar kamar terdengar suara Bu Ratna.
“Kalau dia mulai curiga, bilang saja rekeningnya sudah ditutup.”
Aku menutup mulut.
Mereka sedang membicarakan rekening yang baru saja kutemukan.
Aku segera menyalakan perekam suara.
Dimas menjawab,
“Tenang, Bu. ATM-nya masih sama aku.”
Bu Ratna berbisik sesuatu.
Lalu suara Rena terdengar jelas.
“Yang penting sebelum Nita tahu kalau uang itu dipakai buat DP rumah Mama.”
Aku berdiri.
Rumah Bu Ratna baru dibeli enam bulan lalu.
Harga hampir Rp900 juta.
Selama ini Dimas bilang uang mukanya berasal dari hasil penjualan tanah keluarga mereka.
Aku membuka halaman terakhir dokumen.
Ada fotokopi formulir penarikan.
Tanda tanganku tercantum di sana.
Palsu.
Jumlahnya Rp420 juta.
Tanggalnya sama persis dengan hari pembayaran rumah Bu Ratna.
Lalu aku menemukan satu lembar lagi.
Bukan dari bank.
Surat perjanjian jual beli.
Nama pembeli membuat napasku berhenti.
Rumah yang dibeli Bu Ratna ternyata tidak terdaftar atas namanya.
Pemilik resminya tertulis:
**Dimas Prakoso dan Rena Prakoso.**
Aku baru hendak memotretnya ketika seseorang mencoba membuka pintu kamar dari luar.
Dimas mengetuk.
“Nita, buka.”
Aku diam.
Nada suaranya berubah.
“Nita… amplop dari ibumu yang ada di paket daging itu kamu lihat?”
BAGIAN 2
Aku tidak membuka pintu.
Dimas mengetuk lagi, lebih keras. “Nita, aku tahu kamu di dalam. Buka. Kita bicara.”
Aku berdiri di tengah kamar, menatap pintu yang bergetar. Amplop Ibu masih di tanganku. Fotokopi buku tabungan, formulir penarikan dengan tanda tangan palsu, surat rumah atas nama Dimas dan Rena—semuanya berserakan di tempat tidur.
“Aku sedang tidak enak badan,” jawabku. Suaraku sengaja kubuat lemas.
“Kamu dari tadi di dalam. Buka sebentar saja.”
“Besok saja.”
Hening. Lalu suara langkah menjauh.
Aku menunggu sampai benar-benar sepi, baru aku memotret setiap lembar. Satu per satu. Dekat-dekat. Nomor rekening, tanggal transfer, nominal, tanda tangan palsu itu. Semuanya.
Perekam suara masih menyala di sakuku.
Aku duduk di lantai, punggung bersandar pada ranjang. Pikiranku berputar. Tiga tahun. Tiga tahun Dimas menerima transfer dari Ibu tanpa pernah memberitahuku. Dia memegang ATM rekening atas namaku. Dia memalsukan tanda tanganku untuk menarik Rp420 juta. Dan sekarang, rumah yang katanya dibeli untuk Bu Ratna, ternyata atas nama dia dan adiknya.
Aku menekan tombol panggil.
Ibu mengangkat hampir seketika. “Nita?”
“Bu, aku perlu tanya sesuatu.” Suaraku bergetar meski kucoba menahannya. “Waktu Ibu transfer, Ibu kirim ke rekening siapa?”
“Ibu kirim ke rekening yang Dimas kasih. Katanya itu rekening kamu, cuma atas nama beda karena alasan kerja.”
“Sejak kapan?”
“Sejak tiga tahun lalu. Waktu kamu sakit dan bilang semua urusan bank dipegang Dimas.”
Aku menutup mata. Waktu itu aku memang sakit tipes selama hampir dua minggu. Dimas yang mengurus semuanya. Termasuk kartu ATM-ku sendiri.
“Bu, apakah Ibu pernah tanda tangan sesuatu?”
“Ada. Dimas bawa beberapa surat. Katanya untuk pencairan tanah. Ibu tanda tangan karena percaya.”
“Suratnya masih ada?”
“Ibu simpan fotokopinya.”
“Besok aku ke Solo. Aku ambil.”
“Nita…” Suara Ibu bergetar. “Apakah kamu baik-baik saja?”
Aku menatap pintu kamar. “Belum, Bu. Tapi akan.”
Malam itu aku tidak tidur.
Aku mendengar Dimas mondar-mandir di ruang tamu. Sekali waktu suaranya terdengar di telepon, tapi kubuat perekam suara tetap menyala. Bu Ratna pulang sekitar pukul sepuluh. Rena menyusul.
Sekitar pukul dua pagi, aku mendengar Dimas berbicara lagi.
“Besok aku cek rekeningnya. Kalau dia belum tahu, aman.”
Jeda.
“Aku bilang apa? Dia cuma curiga soal daging. Nggak mungkin dia tahu soal tanah.”
Jeda lagi.
“Iya, Bu. DP rumah kan sudah lunas. Tinggal cicilan. Selama Nita nggak buka rekeningnya, aman.”
Aku tersenyum di kegelapan.
Pagi-pagi sekali, sebelum Dimas bangun, aku sudah siap. Aku menyimpan fotokopi dokumen di tas kerja, menyisipkan perekam suara di saku dalam, dan menulis catatan kecil untuk Dimas di meja dapur.
Aku ke Solo. Ibuku sakit.
Dia tidak akan curiga. Dia bahkan mungkin senang aku pergi.
Aku keluar apartemen pukul setengah enam. Sebelum menuju stasiun, aku mampir ke warung Santi untuk mengambil daging asap Ibu. Santi sudah buka.
“Ambil satu bungkus saja,” kataku. “Sisanya biar di sini dulu.”
“Kenapa?”
Aku menatapnya. “Karena aku butuh barang bukti yang belum disentuh siapa pun.”
Santi mengangguk pelan. Dia tidak bertanya.
Kereta ke Solo berangkat pukul tujuh. Sepanjang perjalanan, aku membuka ponsel dan mencari nama pengacara yang dulu menangani sengketa tanah keluarga temanku. Aku menyimpan nomornya.
Lalu aku mengirim pesan ke Ibu.
Bu, tolong siapkan semua dokumen tanah. Fotokopi surat yang Dimas bawa. Dan kalau ada, buku catatan Ibu waktu transfer.
Balasan Ibu singkat.
Sudah Ibu siapkan sejak semalam.
Ibu menungguku di teras rumah. Tubuhnya lebih kurus dari terakhir kali aku pulang. Tapi matanya tajam.
“Masuk,” katanya.
Di meja makan sudah tersusun rapi: fotokopi sertifikat tanah, surat kuasa, dan satu buku tulis bersampul plastik. Ibu membuka buku itu.
“Ini catatan Ibu. Setiap kali transfer, Ibu tulis tanggal dan jumlahnya.”
Aku membaca. Rapi. Detail. Bahkan ada nomor referensi transfer.
“Bu, kenapa Ibu baru bilang sekarang?”
Ibu menatapku lama. “Karena kamu selalu bilang Dimas baik. Kamu selalu bilang dia yang urus semuanya. Ibu nggak mau kamu sakit hati.”
“Aku sudah sakit hati, Bu.”
“Ibu tahu.” Ibu meraih tanganku. “Makanya Ibu titipkan surat itu di daging. Ibu tahu kamu pasti buka.”
Aku tersenyum getir. “Ibu tahu dari mana?”
“Ibu kenal kamu.” Ibu tersenyum tipis. “Dan Ibu kenal Dimas.”
Aku menatapnya. “Maksud Ibu?”
Ibu berdiri, mengambil sesuatu dari lemari. Sebuah map plastik.
“Dua tahun lalu, Dimas datang ke sini sendiri. Katanya mau minta uang untuk modal usaha. Ibu kasih Rp50 juta. Dia bilang kamu tahu.”
Aku menggeleng.
“Ibu curiga. Ibu minta tanda terima. Dia tanda tangan.”
Ibu membuka map. Ada satu lembar kertas bertulisan tangan Dimas. Tanda tangan dan cap jempol.
“Ini Ibu simpan. Untuk jaga-jaga.”
Aku menatap kertas itu. Tanganku dingin.
“Bu, apakah Ibu pernah ke bank?”
“Pernah. Sekali. Waktu Ibu mau cek rekening yang katanya atas nama kamu.”
Ibu mengeluarkan satu lembar lagi. Cetakan mutasi rekening.
“Tiga bulan lalu Ibu ke bank. Ibu tanya saldo. Petugas bilang saldo terakhir Rp486 juta. Tapi Ibu lihat mutasi, ada penarikan besar Rp420 juta. Ibu tanya ke petugas, penarikan itu di mana.”
Ibu menunjuk satu baris.
“Di ATM dekat rumah Dimas. Pukul sembilan pagi. Tanggalnya sama dengan hari Dimas bilang mau urus surat tanah.”
Aku menutup mulut.
“Jadi Ibu sudah tahu?”
“Baru tiga bulan lalu.” Ibu menghela napas. “Ibu nggak langsung bilang karena Ibu mau lihat sampai mana Dimas berani.”
Aku menatap Ibu. “Dan Ibu baru kirim surat sekarang?”
“Ibu kirim daging supaya Dimas nggak curiga. Ibu tahu dia pasti mau ambil. Jadi Ibu selipkan surat di bawah.”
Aku menggeleng. “Ibu ini…”
“Ibu cuma ibu rumah tangga, Nita. Tapi Ibu tahu cara menyimpan bukti.”
Aku tertawa getir. Lalu menangis.
Ibu memelukku. “Sudah. Sekarang kita urus.”
Di Solo, aku menghubungi pengacara itu. Namanya Bu Retno. Dia menerimaku di kantornya sore itu.
Aku menyerahkan semua dokumen. Bu Retno membacanya dengan tenang.
“Rekening ini atas nama Anda?”
“Iya. Tapi saya tidak pernah membukanya.”
“Tanda tangan di formulir penarikan ini bukan Anda?”
“Bukan.”
“Ada bukti transfer dari ibu Anda?”
“Iya. Catatan Ibu lengkap.”
Bu Retno mengangguk. “Ini tindak pidana. Pemalsuan tanda tangan, penggelapan dana, dan penipuan.”
“Apa yang bisa saya lakukan?”
“Beberapa hal.” Bu Retno melepas kacamatanya. “Pertama, kita bisa laporkan ke polisi. Kedua, kita bisa gugat perdata. Ketiga, kita bisa minta pemblokiran rekening dan aset yang dibeli dari dana itu.”
“Rumah itu.”
“Iya. Kalau bisa dibuktikan dana DP-nya dari rekening Anda, rumah itu bisa disita.”
Aku menatap Bu Retno. “Berapa lama?”
“Kalau dokumen lengkap, prosesnya bisa cepat. Tapi ada satu hal.”
“Apa?”
“Suami Anda punya akses ke rekening Anda. Kita harus blokir dulu sebelum dia tahu.”
Aku mengangguk. “Saya mengerti.”
Bu Retno menyiapkan surat kuasa. Aku menandatanganinya.
“Besok kita ke bank,” katanya. “Bawa KTP dan buku tabungan asli kalau ada.”
“Aku tidak punya buku tabungannya.”
“Tidak masalah. Kita bisa minta cetak ulang.”
Malam itu aku menginap di rumah Ibu. Ponselku bergetar beberapa kali. Dimas.
Kamu di mana?
Kenapa tidak jawab?
Nita, aku butuh bicara.
Aku tidak membalas. Aku menyalakan perekam suara dan menelepon balik.
“Dimas.”
“Nita! Kamu ke mana? Aku khawatir.”
“Aku di Solo. Ibu sakit.”
“Oh.” Jeda. “Dagingnya… kamu bawa?”
Aku menahan diri. “Daging apa?”
“Daging dari ibumu. Yang dikirim.”
“Ah, itu. Masih di kulkas.”
“Kamu yakin?”
“Iya. Kenapa?”
“Tidak apa-apa.” Suaranya terdengar lega. “Cepat pulang ya.”
“Aku pulang besok.”
“Baik.”
Aku menutup telepon. Perekam suara masih menyala.
Ibu menatapku dari kursi. “Dia masih cari daging.”
“Iya. Dia belum tahu.”
“Bagus.”
Pagi berikutnya, aku dan Bu Retno ke bank. Prosesnya memakan waktu hampir dua jam. Tapi akhirnya rekening itu diblokir. Aku juga meminta cetak ulang buku tabungan dan mutasi lengkap tiga tahun.
Petugas bank menatapku aneh ketika melihat mutasi.
“Bu, rekening ini aktif. Ada penarikan terakhir tiga bulan lalu.”
“Aku tahu.”
“Apakah Ibu ingin membuat laporan?”
“Sudah. Saya sedang urus.”
Petugas itu mengangguk.
Bu Retno menyimpan semua salinan. “Sekarang kita ke notaris. Kita buat surat pernyataan bahwa tanda tangan di formulir penarikan itu bukan Anda.”
Aku mengikuti semua prosesnya. Sampai sore, aku sudah memegang: surat pemblokiran rekening, mutasi lengkap, surat pernyataan notaris, dan fotokopi laporan polisi yang akan kami ajukan besok.
Bu Retno menatapku. “Anda siap?”
“Apa risikonya?”
“Suami Anda bisa ditangkap. Ibu mertua Anda bisa ikut terseret. Adik ipar Anda juga.”
Aku menarik napas. “Saya siap.”
Aku kembali ke Jakarta malam itu. Sebelum pulang, aku mampir ke warung Santi.
“Dagingnya masih ada?”
“Masih. Utuh.”
“Bagus. Besok aku ambil.”
Santi menatapku. “Kamu kelihatan berbeda.”
“Aku memang berbeda.”
Aku memasuki apartemen pukul sembilan malam. Dimas sudah menunggu di ruang tamu. Wajahnya tegang.
“Akhirnya kamu pulang.”
“Aku bilang aku pulang malam ini.”
Dia berdiri. “Kamu tidak jawab teleponku.”
“Aku sibuk.”
“Nita, ada yang harus kita bicarakan.”
Aku meletakkan tas. “Ada.”
Dia menatapku. “Soal daging.”
“Apa soal daging?”
“Daging dari ibumu. Kamu bilang masih di kulkas. Tapi aku cek, tidak ada.”
Aku menatapnya. “Kamu cek?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dia terdiam.
Aku melangkah ke dapur. Membuka kulkas. Rak bawah kosong.
“Kamu benar. Tidak ada.”
Dimas mendekat. “Nita, kamu sembunyikan di mana?”
Aku menutup pintu kulkas. “Dimas, kamu kenapa panik soal daging?”
“Aku tidak panik.”
“Kamu panik.”
Dia menatapku. Matanya mencari-cari.
“Kamu buka amplop dari ibumu?”
Aku tersenyum. “Amplop apa?”
Dia mundur selangkah.
Aku melangkah maju. “Dimas, aku tanya sekali. Rekening atas namaku, yang kamu pegang ATM-nya, isinya berapa?”
Wajahnya memucat.
“Apa?”
“Kamu dengar.”
“Nita, aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan.”
Dia membuka mulut. Tapi tidak ada suara.
Aku mengeluarkan fotokopi mutasi dari tas. Meletakkannya di meja dapur.
“Rp486 juta, Dimas. Transfer dari Ibu selama tiga tahun. Kamu tarik Rp420 juta untuk DP rumah ibumu. Tanda tanganku kamu palsukan.”
Dia menatap kertas itu. Tangannya gemetar.
“Nita, itu… itu untuk keluarga kita juga.”
“Keluarga kita?”
“Rumah itu untuk investasi. Aku beli atas nama aku dan Rena supaya…”
“Supaya apa?”
“Supaya kalau kita cerai, kamu tidak dapat.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Dia langsung menutup mulut.
Aku menatapnya. Dadaku panas. Tapi aku tersenyum.
“Jadi kamu sudah rencanakan perceraian?”
Dia menggeleng. “Bukan begitu.”
“Sejak kapan?”
Dia diam.
Aku mengeluarkan ponsel. Memutar rekaman suara.
“Tenang, Bu. ATM-nya masih sama aku.”
“Yang penting sebelum Nita tahu kalau uang itu dipakai buat DP rumah Mama.”
“Iya, Bu. DP rumah kan sudah lunas. Tinggal cicilan. Selama Nita nggak buka rekeningnya, aman.”
Dimas mendengarkan. Wajahnya berubah.
“Nita, kamu merekam?”
“Aku merekam.”
Dia melangkah mundur. “Kamu tidak boleh…”
“Aku boleh. Ini rumahku juga.”
Dia menatapku. Matanya penuh amarah.
“Kamu mau apa?”
Aku menatapnya. “Besok pagi, aku akan ke kantor polisi. Aku akan melaporkan pemalsuan tanda tangan dan penggelapan dana.”
Dia tertawa. “Kamu tidak akan menang.”
“Aku punya bukti.”
“Bukti apa? Kamu tidak punya buku tabungan.”
Aku mengeluarkan buku tabungan baru dari tas. Meletakkannya di meja.
“Baru dicetak hari ini.”
Dimas menatap buku itu. Tangannya gemetar.
“Kamu blokir rekeningnya?”
“Iya.”
Dia menatapku. “Kamu tidak bisa.”
“Sudah.”
Dia melangkah ke arahku. Aku mundur.
“Dimas, jangan.”
Dia berhenti. “Kamu tidak akan bawa ini ke polisi.”
“Aku akan.”
“Kalau kamu lakukan, aku akan ceritakan semua tentang kamu.”
“Apa?”
“Kamu pernah pinjam uang online. Kamu pernah…”
“Itu tidak ada hubungannya.”
“Kamu juga pernah…”
Aku mengangkat tangan. “Cukup.”
Dia menatapku. “Kamu tidak akan menang, Nita.”
Aku menatapnya balik. “Kita lihat.”
Malam itu aku mengunci diri di kamar. Aku mengirim semua bukti ke Bu Retno. Aku juga mengirim salinan ke email pribadiku.
Pukul sebelas, aku mendengar suara Bu Ratna datang. Mereka bicara di ruang tamu. Aku menyalakan perekam suara.
“Dimas, kenapa kamu bodoh sekali?” Suara Bu Ratna.
“Dia tahu, Bu.”
“Bagaimana bisa?”
“Dia buka amplop dari ibunya.”
Bu Ratna menghela napas. “Sekarang apa?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu harus cari cara. Jangan sampai dia lapor polisi.”
“Bagaimana?”
“Bilang saja kamu akan kembalikan uangnya. Pelan-pelan. Kamu bilang kamu salah. Kamu bilang kamu panik.”
“Bu, dia sudah blokir rekeningnya.”
“Blokir bisa dibuka.”
“Tidak bisa. Dia sudah ke bank.”
Bu Ratna diam.
Lalu suara Rena. “Kita bisa gugat dia. Kita bilang dia yang salah.”
Bu Ratna mendengus. “Dengan bukti apa?”
“Kita bisa buat bukti.”
Aku tersenyum di kegelapan. Mereka masih mencoba.
Aku mengirim pesan ke Bu Retno.
Besok jam delapan. Saya akan ke kantor polisi.
Balasan Bu Retno singkat.
Saya akan temani.
BAGIAN 3
Pagi itu aku bangun pukul lima. Aku mandi, berpakaian rapi, dan menyiapkan semua dokumen di tas. Aku tidak keluar kamar sampai pukul tujuh.
Ketika aku membuka pintu, Dimas sudah duduk di ruang tamu. Bu Ratna ada di sofa. Rena berdiri di dekat jendela.
Mereka menatapku.
“Nita, duduk. Kita bicara,” kata Bu Ratna.
Aku tetap berdiri. “Aku sedang buru-buru.”
“Duduk.”
Aku menatap Bu Ratna. “Ada apa?”
Dimas berdiri. “Nita, aku minta maaf.”
Aku menatapnya.
“Aku salah. Aku akan kembalikan uangnya. Pelan-pelan. Aku janji.”
“Berapa lama?”
“Lima tahun. Mungkin sepuluh.”
Aku tertawa. “Sepuluh tahun?”
“Aku akan kerja keras.”
“Dimas, kamu sudah tiga tahun bohong. Kamu palsukan tanda tanganku. Kamu beli rumah atas nama kamu dan adikmu. Dan sekarang kamu minta waktu sepuluh tahun?”
Bu Ratna berdiri. “Nita, jangan keterlaluan. Dia suamimu.”
“Dia suamiku yang mencuri uangku.”
“Uang itu untuk keluarga.”
“Keluarga siapa?”
Bu Ratna menatapku tajam. “Kamu ini menantu yang tidak tahu terima kasih.”
Aku tersenyum. “Bu, saya tahu terima kasih. Tapi saya tidak tahu cara menerima penipuan.”
Rena melangkah maju. “Kakak, jangan sombong. Kamu juga dapat rumah ini dari Dimas.”
“Rumah ini apartemen sewa. Dibayar dari uangku juga.”
Rena terdiam.
Aku melangkah ke pintu.
Dimas menghadang. “Nita, jangan pergi.”
“Minggir.”
“Kalau kamu pergi, aku tidak akan pernah maafkan kamu.”
Aku menatapnya. “Aku tidak butuh maafmu.”
Aku mendorongnya pelan dan keluar.
Di lift, aku menghela napas. Tanganku gemetar. Tapi aku terus berjalan.
Di lobi, Bu Retno sudah menunggu. Dia membawa map tebal.
“Semua siap?”
“Siap.”
Kami menuju kantor polisi. Prosesnya panjang. Aku membuat laporan, menyerahkan bukti, dan memberikan keterangan. Bu Retno mendampingi.
Sekitar pukul dua siang, laporan itu diterima. Polisi akan memanggil Dimas untuk dimintai keterangan.
Aku keluar dari kantor polisi dengan kaki lemas. Tapi lega.
Bu Retno menatapku. “Sekarang kita ke notaris lagi. Kita ajukan gugatan perdata.”
Aku mengangguk.
Sore itu, ketika aku kembali ke apartemen, pintu sudah terbuka. Dimas, Bu Ratna, dan Rena sedang duduk di ruang tamu. Wajah mereka tegang.
“Kamu lapor polisi?” Dimas berdiri.
“Iya.”
Dia menatapku. “Kamu benar-benar lapor?”
“Iya.”
Bu Ratna berdiri. “Kamu tidak punya hati.”
Aku menatapnya. “Bu, hati saya sudah dipakai untuk percaya tiga tahun. Sekarang saya pakai otak.”
Rena menangis. “Kak, aku tidak tahu apa-apa.”
“Kamu tahu. Kamu yang bilang rumah itu untuk DP Mama.”
Rena menatap Dimas. “Kak, kamu bilang dia tidak akan tahu.”
Dimas menatapku. “Nita, kita bisa selesaikan ini baik-baik.”
“Sudah terlambat.”
“Kamu tidak bisa lapor polisi. Kita masih suami istri.”
“Justru karena kita suami istri, kamu tidak boleh mencuri dari aku.”
Bu Ratna melangkah maju. “Kamu akan menyesal.”
Aku menatapnya. “Saya sudah menyesal menikah dengan anak Ibu.”
Bu Ratna mengangkat tangan. Aku mundur.
“Bu, kalau Ibu menyentuh saya, saya akan lapor.”
Tangannya berhenti di udara.
Dimas menatapku. “Nita, aku minta maaf. Sungguh.”
“Aku tidak butuh maaf. Aku butuh keadilan.”
Aku masuk kamar. Mengunci pintu.
Proses hukum berjalan lambat tapi pasti. Dimas dipanggil polisi dua kali. Bu Ratna juga. Rena juga.
Sidang pertama digelar tiga bulan kemudian. Aku datang dengan Bu Retno. Ibu datang dari Solo.
Di ruang sidang, Dimas duduk di kursi terdakwa. Wajahnya pucat. Bu Ratna duduk di barisan belakang. Rena menangis.
Hakim membuka sidang.
Jaksa membacakan dakwaan: pemalsuan tanda tangan, penggelapan dana, dan penipuan. Ancaman hukuman maksimal enam tahun.
Bu Retno mengajukan bukti: mutasi rekening, catatan Ibu, surat pernyataan notaris, rekaman suara, dan fotokopi formulir penarikan dengan tanda tangan palsu.
Pengacara Dimas mencoba membantah. Dia bilang Dimas hanya mengelola keuangan keluarga. Dia bilang Nita tahu.
Bu Retno tersenyum. “Kalau klien saya tahu, kenapa dia tidak pernah menerima satu rupiah pun? Kenapa rekeningnya diblokir? Kenapa dia tidak pernah tanda tangan?”
Pengacara itu terdiam.
Hakim menatap Dimas. “Terdakwa, apakah Anda mengakui perbuatan Anda?”
Dimas menunduk. “Saya mengakui, Yang Mulia. Tapi saya melakukan untuk keluarga.”
Hakim mengangguk. “Untuk keluarga atau untuk diri sendiri?”
Dimas tidak menjawab.
Sidang berlanjut. Saksi-saksi dihadirkan. Petugas bank. Notaris. Ibu.
Ibu memberikan kesaksian dengan tenang. Dia menyerahkan catatan transfernya. Dia menyerahkan surat tanda terima Rp50 juta.
Hakim membaca. “Anda memberikan Rp50 juta kepada terdakwa?”
“Iya. Untuk modal usaha. Katanya istri saya tahu.”
“Apakah istri Anda tahu?”
“Tidak.”
Dimas menunduk.
Sidang ditutup. Hakim akan memutuskan minggu depan.
Minggu berikutnya, aku datang lagi. Ibu ada di sampingku. Santi juga.
Hakim membacakan putusan.
“Terdakwa Dimas Prakoso terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pemalsuan tanda tangan, penggelapan dana, dan penipuan. Dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Selain itu, terdakwa diwajibkan mengembalikan seluruh dana yang digelapkan sebesar Rp470 juta kepada korban.”
Aku menutup mata. Lega.
Dimas menunduk. Bu Ratna menangis. Rena memeluk ibunya.
Hakim melanjutkan. “Aset yang dibeli dari dana tersebut, yaitu rumah di alamat…, disita untuk dikembalikan kepada korban.”
Bu Ratna berdiri. “Yang Mulia, itu rumah saya!”
Hakim menatapnya. “Rumah itu atas nama terdakwa dan Rena Prakoso. Dana pembelian berasal dari rekening korban. Maka rumah itu disita.”
Bu Ratna menangis. “Saya tidak tahu apa-apa.”
Hakim mengangguk. “Anda bisa mengajukan banding.”
Bu Ratna duduk. Wajahnya pucat.
Aku menatap Dimas. Dia menatapku. Matanya kosong.
Aku tidak tersenyum. Aku tidak marah. Aku hanya lega.
Setelah sidang, aku menemui Ibu di luar. Ibu memelukku.
“Sudah selesai, Nita.”
“Belum, Bu. Masih ada proses perdata.”
“Tapi yang penting sudah.”
Aku mengangguk.
Bu Retno mendekat. “Kita akan ajukan gugatan cerai. Dan kita akan minta pembagian harta.”
Aku menatapnya. “Apa saja?”
“Rumah itu akan dikembalikan kepada Anda. Rekening Anda akan dibuka kembali. Dan Anda bisa menuntut ganti rugi.”
Aku mengangguk.
Proses perceraian berjalan cepat. Dimas tidak membantah. Dia menandatangani semua dokumen dari penjara.
Hakim mengabulkan perceraian. Aku mendapatkan kembali rekeningku. Rumah yang dibeli Dimas dan Rena disita dan dilelang. Hasil lelangnya dikembalikan kepadaku.
Aku juga mendapatkan ganti rugi dari Dimas. Tapi aku tidak peduli dengan uangnya. Aku peduli dengan keadilan.
Setahun kemudian, aku duduk di teras rumah Ibu di Solo. Aku sudah pindah dari Jakarta. Aku membuka usaha kecil-kecilan: warung makan sehat.
Santi mengunjungiku sekali. Dia membawa kabar: Bu Ratna pindah ke rumah saudaranya. Rena menikah dan pindah ke luar kota.
Dimas masih di penjara. Dia tidak pernah mengirim surat.
Aku tidak peduli.
Ibu duduk di sampingku. “Nita, kamu sudah bahagia?”
Aku menatap langit. “Belum sepenuhnya, Bu. Tapi aku sudah tenang.”
Ibu tersenyum. “Itu cukup.”
Aku menatap Ibu. “Bu, terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Untuk daging asap itu.”
Ibu tertawa. “Ibu cuma kirim daging.”
“Bukan. Ibu kirim keadilan.”
Ibu menatapku. Matanya berkaca-kaca. “Ibu hanya melakukan yang seharusnya.”
Aku memeluk Ibu.
Malam itu, aku membuka buku catatan Ibu. Aku membaca setiap baris. Setiap tanggal. Setiap jumlah. Setiap transfer.
Aku menutup buku itu. Menyimpannya di lemari.
Di dapur, ada satu bungkus daging asap yang belum kubuka. Daging terakhir dari paket itu. Aku menyimpannya di freezer.
Bukan untuk dimakan. Tapi untuk diingat.
Bahwa dari delapan kilo daging asap, aku menemukan keberanian.
Bahwa dari pengkhianatan, aku menemukan kekuatan.
Bahwa dari kehilangan, aku menemukan diriku sendiri.
Aku menatap cermin. Wajahku lebih tua. Tapi mataku lebih tajam.
Aku tersenyum.
“Aku sudah pulang,” kataku pada diriku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku benar-benar merasa pulang.
TAMAT
Catatan: Cerita ini fiksi. Nama, tokoh, dan peristiwa tidak dimaksudkan untuk merujuk pada orang atau kejadian nyata. Namun, tema tentang pengkhianatan dalam keluarga, penipuan keuangan, dan keberanian untuk melawan—adalah realitas yang bisa terjadi pada siapa saja. Jika Anda mengalami situasi serupa, jangan ragu mencari bantuan hukum dan dukungan dari orang-orang yang Anda percaya.
