Suamiku mengangkat gelas di meja makan dan berkata dalam bahasa Jerman bahwa mantan pacarnya sedang mengandung anaknya.

Semua orang tertawa karena mereka yakin aku tidak memahami sepatah kata pun.
Lalu Mama mertuaku tersenyum sambil menatapku yang sedang membagikan kue.
“Tenang saja, Lukas. Nanti kita buat Nadira yang membesarkan bayi itu.”
Tanganku hampir menjatuhkan piring.
Tapi aku tetap tersenyum.
“Ada yang mau kopi?”
Suamiku, Arga, menoleh kepada keluarganya dan tertawa kecil.
“Lihat? Dia sama sekali tidak curiga.”
Mereka tidak tahu satu hal.
Aku memahami setiap kata yang mereka ucapkan.
Namaku Nadira. Aku menikah dengan Arga hampir sepuluh tahun dan tinggal di Bintaro. Arga lahir dan besar di Indonesia, tetapi ibunya keturunan Jerman dan keluarganya masih sering menggunakan bahasa Jerman saat berkumpul.
Selama bertahun-tahun, setiap kali mereka ingin membicarakanku tanpa sepengetahuanku, mereka mengganti bahasa.
Awalnya aku tidak peduli.
Lalu dua tahun lalu, diam-diam aku mulai belajar.
Aku mengikuti kelas daring sepulang kerja, mendengarkan percakapan bahasa Jerman saat perjalanan dari kantor di Kuningan, bahkan berlatih setelah Arga tidur.
Aku melakukannya karena ingin lebih dekat dengan keluarganya.
Ternyata kemampuan itu justru membuatku mengetahui bagaimana mereka sebenarnya memandangku.
Malam itu, aku mendengar nama perempuan tersebut.
Sofia.
Mantan Arga sebelum kami menikah.
“Sudah berapa bulan?” tanya Mama mertuaku.
“Hampir lima bulan,” jawab Arga santai.
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
Lima bulan.
Tiga minggu sebelumnya, kami baru merayakan ulang tahun pernikahan kesepuluh.
Arga menggenggam tanganku di sebuah restoran di Jakarta Selatan dan berkata, “Apa pun yang terjadi, kita tetap punya satu sama lain.”
Kalimat itu sangat berarti bagiku.
Sebab selama enam tahun kami berusaha memiliki anak.
Konsultasi dokter.
Pemeriksaan berkali-kali.
Program kehamilan.
Dua kali program bayi tabung yang tidak berhasil.
Setiap kali hasilnya mengecewakan, Arga memelukku dan mengatakan bahwa aku tidak perlu merasa kurang sebagai seorang istri.
Sekarang dia justru membuat mantannya hamil.
Yang lebih menyakitkan adalah keluarganya sudah tahu.
“Kapan Nadira akan diberi tahu?” tanya adik Arga.
Arga melirikku.
“Nanti. Sofia juga belum mau muncul sekarang.”
Mama mertuaku mengangguk.
“Bagus. Nadira ingin punya anak sejak lama. Awalnya pasti marah, tapi begitu bayinya lahir, dia akan luluh.”
Aku menahan napas.
Lalu dia menambahkan sesuatu yang membuat darahku terasa dingin.
“Yang penting jangan sampai dia pergi sebelum semuanya beres.”
Semuanya beres?
Apa maksudnya?
Aku mulai sadar mereka bukan sekadar membicarakan perselingkuhan.
Mereka sudah punya rencana.
Saat perjalanan pulang, Arga menggenggam tanganku seperti biasa.
“Kamu kok diam?”
“Capek saja.”
Dia tersenyum.
“Tidur saja nanti. Jangan terlalu banyak pikiran.”
Aku menatap keluar jendela.
Untuk pertama kalinya, aku merasa sedang duduk di samping orang asing.
Malam itu Arga tertidur cepat.
Aku tidak.
Aku membuka aplikasi bank dan memeriksa rekening bersama kami.
Ada satu transaksi yang langsung menarik perhatianku.
Rp78 juta.
Transfer itu dilakukan beberapa bulan sebelumnya.
Ketika dulu aku menanyakannya, Arga bilang uang tersebut digunakan sebagai modal sementara untuk proyek bersama temannya.
Aku mempercayainya.
Sekarang aku memeriksa lagi tanggalnya.
Tidak lama setelah transfer itu, Arga pergi selama tiga hari dengan alasan urusan pekerjaan di Bandung.
Aku mengambil buku catatan.
Dalam setahun terakhir, ada sebelas perjalanan kerja.
Enam memiliki bukti jelas: tiket, hotel, atau agenda kantor.
Lima lainnya tidak.
Salah satunya terjadi sekitar waktu Sofia kemungkinan mulai hamil.
Aku tidak membangunkan Arga.
Aku juga tidak membuka ponselnya.
Aku hanya mencatat semua yang sudah bisa kubuktikan sendiri.
Keesokan paginya aku izin dari kantor.
Aku bekerja di bagian administrasi keuangan sebuah perusahaan di kawasan Kuningan, jadi angka dan dokumen bukan sesuatu yang asing bagiku.
Aku duduk di sebuah kedai kopi dekat Bintaro dengan laptop dan buku catatan.
Di halaman pertama kutulis:
SOFIA.
Di bawahnya:
Rp78 juta.
Lima perjalanan tanpa bukti.
Kehamilan hampir lima bulan.
Lalu satu kalimat Mama mertuaku terus berputar di kepalaku.
Jangan sampai dia pergi sebelum semuanya beres.
Apa yang harus “dibereskan” sebelum aku pergi?
Aku kembali membuka riwayat transaksi.
Saat itulah aku menemukan detail yang sebelumnya tidak pernah kuperhatikan.
Rp78 juta itu bukan dikirim ke rekening perusahaan.
Penerimanya adalah rekening pribadi seorang perempuan.
Nama belakangnya membuat jantungku berdegup lebih cepat.
Weber.
Aku baru hendak mengambil tangkapan layar ketika ponselku bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Aku hampir membiarkannya.
Namun entah kenapa, aku menjawab.
“Halo?”
Beberapa detik tidak ada suara.
Kemudian seorang perempuan berbicara pelan.
“Ini Nadira?”
“Iya. Siapa?”
Dia menarik napas panjang.
“Nama saya Sofia.”
Tanganku membeku di atas meja.
Aku tidak menjawab.
Sofia melanjutkan dengan suara gemetar.
“Saya tahu Arga bilang sesuatu tentang saya kepada keluarganya. Tapi ada satu hal yang dia tidak ceritakan kepada mereka.”
Aku menegakkan tubuh.
“Apa?”
Sofia terdiam cukup lama.
Lalu terdengar suara kertas dibuka dari seberang telepon.
“Sebelum saya menjelaskan tentang bayi ini, Mbak Nadira harus melihat dokumen yang Arga minta saya tanda tangani. Karena kalau dokumen ini benar-benar digunakan…”
Dia berhenti.
“…yang sedang dia rencanakan bukan cuma soal anak.”
Saat itu sebuah pesan masuk ke WhatsApp-ku.
Satu foto dokumen.
Aku membukanya.
Dan ketika membaca nama lengkapku tercantum di halaman pertama, tanganku langsung gemetar.
Karena aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.
Aku memperbesar foto dokumen yang dikirim Sofia.
Namaku tercetak jelas di halaman pertama.
NADIRA PRAMESWARI.
Di bawahnya ada alamat rumah kami di Bintaro, nomor identitas yang sebagian disamarkan, dan satu kalimat yang membuat napasku tertahan.
Persetujuan penggunaan dana bersama untuk kewajiban keluarga.
“Apa ini?” tanyaku.
Suara Sofia di telepon terdengar tegang.
“Itulah yang ingin saya jelaskan.”
“Kenapa nama saya ada di dokumen yang kamu pegang?”
“Saya tidak tahu sampai minggu lalu.”
Aku berdiri dari kursi kedai kopi dan berjalan ke sudut yang lebih sepi.
“Sofia, jangan berputar-putar. Kamu hamil anak suamiku. Keluarganya sudah membicarakan bagaimana caranya membuatku membesarkan bayi itu. Sekarang kamu mengirim dokumen memakai namaku. Kalau kamu menelepon untuk meminta pengertian—”
“Bukan.”
Dia memotongku.
“Saya menelepon karena Arga membohongi kita berdua.”
Aku terdiam.
Sofia kemudian mengatakan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.
Arga mendatanginya kembali hampir setahun sebelumnya.
Menurut Arga, pernikahan kami sudah berakhir secara emosional. Kami hanya masih tinggal bersama karena persoalan rumah dan keuangan.
Dia bahkan mengatakan aku sudah setuju berpisah setelah beberapa urusan selesai.
“Itu bohong,” kataku.
“Saya tahu sekarang.”
“Kenapa baru sekarang?”
“Karena awalnya saya percaya.”
Aku menutup mata.
Rasanya aneh mendengar perempuan yang mengandung anak suamiku mengaku sebagai korban kebohongan yang sama.
Aku tidak mempercayainya sepenuhnya.
Belum.
“Apa hubungannya dengan dokumen itu?”
Sofia menarik napas.
“Arga memberi saya uang.”
“Rp78 juta?”
Telepon mendadak sunyi.
“Dari mana Mbak tahu?”
“Rekening kami.”
Sofia terdengar benar-benar terkejut.
“Dia bilang itu uang pribadinya.”
Aku hampir tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena semakin banyak kebohongan yang terbuka, semakin bodoh aku merasa pernah mempercayainya.
“Untuk apa uang itu?”
“Biaya pemeriksaan, kontrakan, dan kebutuhan selama kehamilan. Tapi beberapa minggu lalu dia mulai bicara soal biaya setelah bayi lahir.”
“Lalu?”
“Dia bilang semuanya akan lebih mudah kalau Mbak Nadira tetap bersamanya.”
Aku meremas ujung meja.
“Mudah untuk siapa?”
“Untuk Arga.”
Jawaban itu membuatku semakin dingin.
Sofia melanjutkan.
“Dia bilang rumah kalian dibeli selama pernikahan dan sebagian besar tabungan ada dalam rekening bersama. Kalau terjadi perceraian, semuanya akan jauh lebih rumit. Dia tidak ingin urusan keuangan dibuka sekarang.”
Aku menatap layar laptop.
Rumah.
Tabungan.
Rekening bersama.
Tiba-tiba kalimat Mama mertuaku terdengar berbeda.
Jangan sampai dia pergi sebelum semuanya beres.
Bukan hanya soal bayi.
Mereka takut aku pergi sebelum Arga sempat mengatur uang kami.
“Dokumen itu dari mana?”
“Arga membawanya.”
“Kamu menandatangani?”
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya sejak telepon dimulai, aku merasa Sofia mungkin benar-benar sedang berusaha memperingatkanku.
“Kenapa?”
“Karena ada halaman yang meminta saya mengakui beberapa pembayaran sebagai kewajiban yang sudah diketahui pasangan sahnya.”
Aku tercekat.
“Pasangan sahnya berarti aku.”
“Iya.”
“Dan aku tidak pernah menyetujuinya.”
“Itulah sebabnya saya menolak.”
Aku menatap orang-orang di kedai kopi yang tetap menjalani pagi mereka seperti biasa.
Seorang pria sedang mengetik.
Dua perempuan tertawa.
Barista memanggil pesanan.
Sementara hidupku seperti sedang dibongkar lembar demi lembar.
“Sofia.”
“Iya?”
“Kirim semuanya.”
Dia ragu.
“Semua?”
“Setiap halaman. Pesan Arga. Bukti transfer kalau ada. Jangan diedit. Jangan dipotong.”
“Mbak mau melakukan apa?”
Aku menatap cincin di jariku.
“Berhenti menjadi orang terakhir yang tahu.”
Dalam beberapa menit, file mulai masuk.
Foto dokumen.
Tangkapan layar percakapan.
Bukti pembayaran klinik.
Pesan Arga kepada Sofia.
Sebagian membuatku ingin melempar ponsel.
Aku tidak melakukannya.
Aku membaca.
Satu demi satu.
Lalu kutemukan pesan yang mengubah arah semuanya.
Arga menulis:
Kalau Nadira tahu terlalu cepat, semua rencana berantakan. Mama bilang tunggu sampai urusan rekening selesai.
Aku membacanya tiga kali.
Urusan rekening.
Jadi memang ada sesuatu yang sedang mereka lakukan.
Aku segera mengunduh mutasi rekening beberapa bulan terakhir.
Kali ini aku tidak hanya mencari transfer besar.
Aku mencari pola.
Dan menemukannya.
Beberapa transfer dengan nominal lebih kecil.
Rp14 juta.
Rp9,5 juta.
Rp17 juta.
Rp12 juta.
Semuanya menuju rekening yang sama.
Bukan Sofia.
Sebuah rekening usaha atas nama perusahaan kecil yang tidak kukenal.
Aku mencari nama perusahaan itu melalui informasi publik yang tersedia.
Alamat korespondensinya membuatku membeku.
Alamat kantor adik Arga.
Elisa.
Jadi keluarganya bukan hanya tahu.
Setidaknya salah satu dari mereka mungkin terlibat.
Aku mencetak semua dokumen penting di kantor cabang percetakan dekat kedai kopi.
Kemudian aku menelepon seorang kenalan lama yang bekerja sebagai konsultan hukum keluarga.
Aku tidak menceritakan drama.
Aku hanya bertanya sederhana.
“Apa yang harus kulakukan kalau ada transaksi dari rekening bersama yang tidak pernah kusetujui dan ada dokumen yang mencantumkan namaku tanpa persetujuan?”
Jawabannya jelas.
Simpan bukti asli.
Amankan akses ke rekening pribadiku.
Jangan menandatangani dokumen apa pun.
Dan jangan membuat tuduhan hukum sebelum dokumen diperiksa.
Aku mengikuti itu.
Siang harinya, Arga menelepon.
“Kamu di mana?”
“Keluar.”
“Kok tidak kerja?”
“Aku ambil cuti.”
Dia diam sesaat.
“Kenapa?”
Aku sengaja menjawab ringan.
“Capek.”
“Oh.”
Lalu pertanyaan berikutnya datang terlalu cepat.
“Kamu buka rekening kita hari ini?”
Aku menatap layar.
Jantungku berdetak keras.
Dia tahu.
“Mungkin. Kenapa?”
“Nggak apa-apa. Aku cuma dapat notifikasi.”
Itu bohong kecil yang sangat berguna.
Sekarang aku tahu dia mengawasi.
“Aku pulang sore,” kataku.
“Okay. Mama mengajak makan malam lagi Jumat nanti.”
Aku hampir tersenyum.
“Bagus.”
“Kamu mau datang?”
“Tentu.”
Nada suaranya langsung lebih santai.
“Love you.”
Aku menatap foto dokumen dengan namaku.
“Iya.”
Aku tidak mengatakan hal yang sama.
Malam itu Arga pulang membawa martabak manis kesukaanku.
Seperti suami perhatian.
Dia mencium keningku.
Menanyakan hariku.
Bahkan mencuci dua piring setelah makan.
Kalau aku belum mengetahui semuanya, mungkin aku akan merasa bersalah karena pernah mencurigainya.
Itulah bagian paling menakutkan dari kebohongan Arga.
Dia sangat pandai terlihat normal.
Aku menunggu sampai dia mandi.
Ponselnya berada di meja.
Aku tidak menyentuhnya.
Aku tidak perlu.
Aku sudah punya bukti dari pihak lain.
Namun ketika dia keluar dari kamar mandi, dia tiba-tiba bertanya,
“Nadira, kamu akhir-akhir ini belajar bahasa Jerman lagi?”
Aku menatapnya.
Pertanyaan itu datang tanpa konteks.
“Kenapa?”
“Cuma tanya.”
“Kadang.”
Wajahnya berubah sepersekian detik.
“Sudah sampai mana?”
Aku tersenyum.
“Masih dasar.”
Dia tertawa kecil.
“Bahasa Jerman susah.”
“Iya.”
Aku kembali membaca.
Dari sudut mataku, kulihat dia berdiri beberapa detik lebih lama.
Mungkin nalurinya mengatakan ada yang berbeda.
Tapi kesombongannya lebih kuat.
Dia tetap yakin aku tidak tahu.
Dua hari berikutnya, aku bekerja seperti biasa.
Di sela-sela pekerjaan, aku memeriksa dokumen yang dikirim Sofia.
Kemudian Sofia mengirim pesan baru.
Mbak, Arga tahu saya menghubungi seseorang.
Aku langsung menelepon.
“Dia tahu kamu bicara denganku?”
“Belum. Tapi tadi dia datang dan marah. Dia minta dokumen dikembalikan.”
“Jangan temui dia sendirian kalau kamu merasa tidak nyaman.”
“Saya sudah pindah sementara ke rumah kakak.”
“Bagus.”
Sofia diam.
Lalu berkata,
“Ada hal lain.”
“Apa?”
“Waktu Arga datang tadi, dia bilang Jumat semuanya selesai.”
Jumat.
Hari keluarga Arga mengundangku makan malam.
Aku langsung merasakan sesuatu tidak beres.
“Selesai apa?”
“Saya tanya. Dia tidak jawab.”
Jumat sore, sebuah pesan masuk dari Mama mertuaku.
Nadira, datang agak awal ya. Mama perlu tanda tanganmu untuk administrasi keluarga. Tidak penting kok.
Aku membaca pesan itu lama.
Tanda tangan.
Jadi inilah yang mereka tunggu.
Aku membalas:
Baik, Ma.
Lalu aku memasukkan satu map cokelat ke dalam tas.
Isinya bukan hanya foto dokumen Sofia.
Ada mutasi rekening.
Rincian transfer.
Salinan pesan.
Dan catatan kronologi yang kubuat sendiri.
Aku tiba di rumah Mama mertuaku di kawasan Alam Sutera sebelum makan malam.
Arga sudah di sana.
Begitu melihatku, dia tersenyum.
“Kok cepat?”
“Mama minta datang awal.”
Mama mertuaku keluar membawa map abu-abu.
“Oh, bagus. Sebelum makan, ada sedikit administrasi.”
Aku hampir kagum.
Begitu santai.
Seolah aku hanya diminta menandatangani daftar tamu.
Kami duduk di ruang keluarga.
Elisa ada di sana.
Papa mertua juga.
Tidak ada yang terlihat gugup.
Mama membuka map.
“Ini cuma terkait pengaturan beberapa kewajiban keluarga. Arga sudah jelaskan, kan?”
Aku menoleh kepada suamiku.
“Belum.”
Arga segera menyela.
“Nggak rumit. Aku jelaskan nanti di rumah.”
Mama mendorong dokumen ke arahku.
“Kamu tanda tangan di bagian yang sudah ditandai saja.”
Aku melihat halaman pertama.
Berbeda dari dokumen Sofia.
Tapi bahasanya mirip.
Ada bagian mengenai persetujuan pasangan terhadap beberapa pengeluaran dan kewajiban finansial.
Aku membalik halaman.
Kemudian halaman berikutnya.
Elisa mulai tidak sabar.
“Nad, itu cuma formalitas.”
Aku menatapnya.
“Formalitas apa?”
Dia terdiam.
Arga mengambil pulpen.
“Sayang, jangan bikin semuanya rumit.”
Aku melihat pulpen itu.
Lalu wajahnya.
“Kalau sederhana, jelaskan.”
Ruangan mendadak sunyi.
Mama mertua menarik napas.
“Kalian suami istri. Masa urusan seperti ini harus dipermasalahkan?”
Aku tersenyum kecil.
“Justru karena kami suami istri, aku ingin tahu apa yang kutandatangani.”
Arga mulai kesal.
“Nadira.”
“Apa?”
“Kita bahas di rumah.”
“Kenapa tidak sekarang?”
Elisa berdiri.
“Aku ambil minum dulu.”
“Duduk, Elisa.”
Dia menatapku.
Itu pertama kalinya malam itu ekspresinya berubah.
“Apa?”
Aku membuka tas.
Mengeluarkan map cokelat.
Meletakkannya di atas meja.
Arga langsung melihatnya.
Wajahnya kehilangan warna.
Aku membuka halaman pertama.
Bukti transfer Rp78 juta.
“Ini uang kita.”
Arga tidak menjawab.
Halaman berikutnya.
Transfer ke perusahaan yang terhubung dengan Elisa.
Aku meletakkannya tepat di depan adiknya.
“Ini juga uang kita.”
Elisa menelan ludah.
Mama mertua berdiri.
“Nadira, jangan membuat keributan di rumah Mama.”
Aku menatapnya.
“Aku belum mulai.”
Lalu kuletakkan foto dokumen Sofia.
Arga berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
“Dari mana kamu dapat itu?”
Akhirnya.
Pertanyaan yang kutunggu.
Bukan, “Apa itu?”
Bukan, “Aku tidak tahu.”
Tapi:
Dari mana kamu dapat itu?
Artinya dia mengenal dokumen tersebut.
Aku menatap matanya.
“Jadi kamu tahu?”
Dia menyadari kesalahannya.
“Nadira, dengarkan aku.”
Aku menoleh kepada Mama mertuaku.
“Bayi Sofia hampir lima bulan, benar?”
Tidak ada yang menjawab.
Elisa menutup mulut.
Papa mertua menunduk.
Arga membeku.
Aku melanjutkan.
“Dan rencananya aku akan marah sebentar, lalu karena aku sangat ingin punya anak, aku akan membesarkan bayi itu?”
Mama mertua perlahan duduk.
Wajahnya pucat.
“Kamu…”
Aku menjawab dalam bahasa Jerman.
Lancar.
Tenang.
“Aku mengerti setiap kata yang kalian ucapkan malam itu.”
Tidak ada yang bergerak.
Aku kembali menggunakan bahasa Indonesia.
“Sudah dua tahun aku belajar.”
Arga menatapku seperti baru pertama kali melihat istrinya.
“Kamu bohong.”
Aku hampir tertawa.
“Menarik mendengar kata itu keluar dari mulutmu.”
“Nadira, hubungan dengan Sofia itu—”
“Jangan.”
Aku mengangkat tangan.
“Aku tidak datang untuk mendengar versi yang sudah kamu siapkan.”
Mama mertua mencoba masuk.
“Kami melakukan semua ini karena—”
“Karena apa, Ma? Karena kalian kasihan kepadaku?”
Dia terdiam.
“Karena aku tidak berhasil punya anak, jadi kalian pikir aku akan menerima anak dari perselingkuhan suamiku sebagai hadiah?”
“Nadira, bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Tidak ada jawaban.
Aku menunjuk dokumen di meja.
“Dan ini? Kenapa namaku ada dalam dokumen yang tidak pernah kulihat?”
Arga memijat dahinya.
“Dokumen itu belum berlaku.”
“Aku tidak bertanya berlaku atau tidak.”
Aku mendekatkan dokumen itu kepadanya.
“Aku bertanya kenapa namaku ada di sana.”
Papa mertua akhirnya berbicara.
“Arga, jawab.”
Arga menoleh tajam kepada ayahnya.
“Papa jangan ikut campur.”
“Aku sudah ikut campur sejak kamu membawa semua ini ke rumah.”
Kalimat itu membuatku berhenti.
Ada sesuatu dalam nada suaranya.
Aku menatap Papa.
“Apa maksud Papa?”
Dia memandang Mama.
Mama langsung berkata,
“Jangan.”
Papa tidak mendengarkannya.
“Arga datang beberapa bulan lalu. Dia minta bantuan.”
“Bantuan apa?”
Arga membentak,
“Papa!”
Namun Papa mertua berdiri.
Wajahnya terlihat lelah.
“Cukup.”
Kemudian dia berjalan ke lemari kecil di ruang keluarga.
Membuka laci.
Mengeluarkan sebuah amplop putih.
Mama mertua langsung panik.
“Kamu tidak perlu menunjukkan itu!”
Aku membeku.
Arga bergerak hendak mengambil amplop tersebut.
Papa mengangkat tangan.
“Jangan.”
Untuk pertama kalinya aku melihat Arga benar-benar takut.
Bukan marah.
Takut.
Papa menyerahkan amplop itu kepadaku.
“Aku seharusnya memberikan ini kepadamu sejak awal.”
Tanganku terasa dingin.
“Apa ini?”
“Alasan sebenarnya kenapa mereka begitu takut kamu meninggalkan Arga sekarang.”
Mama mertua berdiri.
“Kalau Nadira membaca itu, semuanya selesai!”
Aku menatapnya.
Kemudian kepada Arga.
Suamiku tidak lagi mencoba tersenyum.
Aku membuka amplop.
Di dalamnya ada beberapa lembar dokumen dan salinan bukti transaksi.
Pada halaman pertama tercantum nama Arga.
Nama Elisa.
Dan satu angka yang membuat napasku terhenti.
Rp1.860.000.000.
Hampir dua miliar rupiah.
“Apa ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku membalik halaman.
Lalu aku melihat sesuatu yang jauh lebih buruk.
Alamat rumah kami.
Rumah di Bintaro yang selama ini kupikir aman.
Di sampingnya terdapat salinan dokumen lain yang mencantumkan rumah itu sebagai bagian dari sebuah pengajuan pembiayaan.
Aku menatap Arga.
“Kamu menggunakan rumah kita untuk apa?”
“Nadira…”
“UNTUK APA?”
Suara itu keluar lebih keras daripada yang kurencanakan.
Arga menutup mata.
Elisa mulai menangis.
Mama mertua memegang meja.
Papa berkata pelan,
“Usaha Elisa hampir bangkrut tahun lalu.”
Aku menoleh kepada Elisa.
“Dan?”
“Mereka butuh dana.”
“Mereka?”
Papa menunjuk Arga dan Elisa.
“Mereka membuat usaha bersama tanpa memberitahumu.”
Potongan terakhir mulai masuk ke tempatnya.
Transfer.
Rekening perusahaan.
Perjalanan palsu.
Dokumen.
Mengapa mereka membutuhkan tanda tanganku.
Namun ada satu hal yang masih tidak masuk akal.
“Kalau mereka sudah mengajukan pembiayaan, kenapa masih membutuhkan tanda tanganku sekarang?”
Papa menatap Arga.
“Karena pengajuan itu bermasalah.”
Arga langsung berkata,
“Papa, cukup.”
Tapi aku sudah melihat halaman terakhir.
Ada ruang tanda tangan.
Satu untuk Arga.
Satu untukku.
Tanda tangan Arga sudah ada.
Bagian milikku masih kosong.
Aku akhirnya mengerti.
Mereka belum berhasil mendapatkan persetujuanku.
Mereka membutuhkan tanda tanganku malam ini.
“Jadi makan malam ini…”
Aku menatap Mama mertua.
“…bukan makan malam keluarga.”
Tidak ada jawaban.
“Kalian mengundangku untuk menandatangani ini.”
Mama mulai menangis.
“Kami hanya ingin menyelamatkan keluarga.”
“Dengan menghancurkan keluargaku?”
Aku memasukkan seluruh dokumen ke map.
Arga mencoba mendekat.
“Nadira, pulanglah denganku. Kita bicara.”
Aku mundur.
“Jangan sentuh aku.”
“Nadira—”
“Sepuluh tahun.”
Suaraku bergetar untuk pertama kalinya.
“Sepuluh tahun aku percaya padamu.”
Dia diam.
“Enam tahun aku menangis karena kita tidak punya anak. Kamu memelukku. Kamu ikut ke dokter. Kamu bilang kita menghadapi semuanya bersama.”
Mataku panas.
“Ternyata sementara aku merasa tubuhku mengecewakan kita, kamu pergi membuat keluarga baru dengan perempuan lain.”
Arga menunduk.
“Dan bahkan itu belum cukup.”
Aku menunjuk dokumen.
“Kamu juga mempertaruhkan rumah kita.”
“Niatku mengembalikan semuanya.”
“Dengan uang apa?”
Dia tidak menjawab.
“Dengan uang siapa, Arga?”
Tetap diam.
Aku mengangguk.
“Itu jawabanmu.”
Aku pulang sendiri malam itu.
Arga menelepon puluhan kali.
Aku tidak menjawab.
Aku mengunci dokumen penting di tempat aman dan menghubungi konsultan hukum yang sebelumnya kutanyai.
Kali ini aku menceritakan semuanya.
Perselingkuhan.
Transaksi.
Dokumen.
Rumah.
Aku tidak meminta dia menjanjikan kemenangan.
Aku hanya meminta satu hal.
“Bantu aku memahami apa yang benar-benar terjadi sebelum mereka menghilangkan bukti.”
Keesokan paginya, Sofia menelepon.
Aku menjawab.
“Arga datang ke tempat kakakku tadi malam,” katanya.
“Apa?”
“Dia tidak masuk. Kakak saya menyuruhnya pergi.”
“Kamu aman?”
“Iya.”
Kemudian suaranya mengecil.
“Tapi ada sesuatu yang harus Mbak tahu.”
Aku duduk.
“Apa lagi?”
“Saya akhirnya membuka semua file yang pernah Arga kirim.”
Dadaku langsung menegang.
“Ada satu PDF lama. Saya dulu kira itu cuma dokumen bank.”
“Lalu?”
“Saya baca tadi malam.”
Dia menarik napas.
“Nama Mbak ada di dalamnya.”
Aku memejamkan mata.
“Dokumen apa?”
“Saya sudah kirim.”
WhatsApp berbunyi.
Satu file masuk.
Aku membukanya.
Halaman pertama tampak seperti dokumen biasa.
Aku menggulir ke bawah.
Lalu berhenti.
Ada tanda tangan.
Atas namaku.
Bentuknya mirip.
Sangat mirip.
Tapi aku tahu itu bukan tanda tanganku.
Aku langsung mengambil salinan beberapa dokumen lama untuk membandingkannya.
Tanganku gemetar.
“Sofia…”
“Iya?”
“Kapan Arga mengirim file ini kepadamu?”
“Tujuh bulan lalu.”
Tujuh bulan.
Sebelum Sofia hamil.
Sebelum transfer Rp78 juta.
Sebelum makan malam itu.
Artinya semua ini mungkin sudah dimulai jauh lebih awal daripada yang kukira.
Namun kemudian Sofia mengatakan kalimat terakhir.
“Mbak Nadira, ada satu halaman lagi.”
“Apa?”
“Saya sengaja belum kirim karena saya ingin memastikan dulu.”
“Memastikan apa?”
“Siapa yang menandatanganinya.”
Jantungku berdegup keras.
“Siapa?”
Sofia terdiam.
Kemudian sebuah foto baru masuk.
Aku membukanya.
Di bagian bawah terdapat dua tanda tangan.
Satu memakai namaku.
Satu lagi milik seseorang yang kukenal sangat baik.
Aku menatap nama di bawah tanda tangan kedua.
Dan untuk beberapa detik, aku benar-benar tidak bisa bernapas.
Karena orang itu bukan Arga.
Bukan Elisa.
Bukan pula Mama mertuaku.
Orang itu adalah seseorang yang selama ini berdiri di pihakku sejak awal.
Dan tiba-tiba aku sadar:
Pengkhianatan ini mungkin tidak dimulai dari keluarga Arga.
