Suamiku Lupa Menutup Telepon, dan Satu Kalimat yang Kudengar Membuatku Menyiapkan “Hadiah” Pernikahan di Depan Seluruh Keluarga

Suamiku Lupa Menutup Telepon, dan Satu Kalimat yang Kudengar Membuatku Menyiapkan “Hadiah” Pernikahan di Depan Seluruh Keluarga

“Aku sudah muak sama dia. Tunggu saja, nanti aku ceraikan dia dan menikah sama kamu.”

Aku membeku sambil menggendong putriku yang baru berusia beberapa bulan.

Suara itu milik Arga, suamiku.

Dan perempuan yang tertawa di ujung telepon jelas bukan rekan kerjanya.

Beberapa menit sebelumnya, aku menelepon Arga untuk menanyakan apakah dia pulang makan malam ke rumah kami di Bintaro.

“Mungkin enggak,” jawabnya ketus. “Nadira, jangan telepon terus. Aku lagi kerja.”

Aku menahan kecewa.

“Ya sudah. Hati-hati.”

Kupikir telepon sudah berakhir. Namun ketika meletakkan ponsel di dekat botol susu Alya, aku melihat sambungan masih aktif.

Lalu terdengar suara perempuan.

“Dia telepon lagi?”

Arga tertawa.

“Iya. Tiap hari kirim foto anak, tanya aku pulang jam berapa. Capek banget.”

Dadaku terasa sesak.

Perempuan itu mengatakan sesuatu yang tidak terdengar jelas.

Kemudian Arga menjawab,

“Aku sudah hampir enggak pernah menyentuh dia. Tenang saja. Aku cuma perlu waktu. Setelah semuanya beres, aku ceraikan Nadira.”

Hening sesaat.

Lalu dia menambahkan,

“Aku akan menikah sama kamu.”

Aku langsung memutus sambungan.

Malamnya, Arga pulang membawa sebuket bunga murah dari minimarket.

Dia mencium keningku.

“Kangen istri sama anak Papa.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Tapi aku hanya tersenyum.

“Kami juga kangen.”

Selama enam hari berikutnya, aku tidak mengatakan apa pun.

Aku memperhatikan Arga membawa ponselnya bahkan ketika mandi. Kode layarnya berubah. Kemeja terbaiknya semakin sering dipakai setiap kali ada “lembur”.

Namun Arga tidak tahu satu hal.

Aku tidak sedang menunggu pengakuannya.

Aku sedang menyiapkan sesuatu.

Hari Minggu itu seharusnya menjadi makan malam sederhana untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami.

Aku mengubah rencana.

Aku mengundang Mama dan Papa Arga, kakaknya, juga kedua orang tuaku.

Meja makan penuh dengan nasi hangat, ayam panggang, tumis buncis, sup, dan kue yang kubeli dari toko langganan keluarga.

Arga terlihat senang.

Di depan keluarga, dia kembali menjadi suami sempurna.

Dia bahkan merangkul bahuku.

“Dua tahun menikah,” katanya sambil tersenyum. “Semoga sampai tua.”

Ibunya tersenyum bangga.

Aku ikut tersenyum.

Setelah makan selesai, aku berdiri sambil memegang gelas.

“Aku juga menyiapkan hadiah kecil untuk Arga.”

Senyumnya langsung melebar.

“Hadiah?”

“Iya.”

Aku mengambil sebuah amplop cokelat dari lemari.

Wajah Arga berubah sedikit.

Aku meletakkannya tepat di depan piringnya.

“Untuk suamiku tercinta,” kataku, “terima kasih karena minggu ini kamu mengajariku bahwa kadang-kadang kita baru benar-benar mengenal seseorang ketika dia mengira kita sudah tidak mendengarkan.”

Tangan Arga berhenti bergerak.

Ibunya mengerutkan kening.

“Maksud kamu apa, Nadira?”

Aku menatap Arga.

Dia sudah pucat.

“Buka amplopnya.”

“Nanti saja.”

“Kenapa nanti?”

Ruangan mendadak sunyi.

Arga mencoba tertawa.

“Nadira, jangan bikin suasana aneh.”

Aku mengeluarkan ponselku.

“Aneh?”

Aku meletakkannya di tengah meja.

“Kalau begitu, mungkin sebaiknya kita dengarkan sesuatu bersama-sama.”

Arga langsung berdiri.

“Nadira.”

Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya terdengar takut.

Namun sebelum aku menyentuh layar, ponsel Arga yang tergeletak di meja menyala.

Sebuah pesan WhatsApp masuk.

Nama pengirimnya membuat Arga buru-buru meraih ponsel.

Terlambat.

Kakaknya sudah melihatnya.

“Siapa Rani?”

Arga terdiam.

Lalu pesan kedua muncul.

Kali ini ibunya ikut membacanya.

Wajah beliau berubah.

Karena Rani tidak hanya menanyakan kapan Arga akan meninggalkanku.

Dia menulis sesuatu tentang uang yang selama ini tidak pernah kuketahui.

Dan saat itulah aku sadar perselingkuhan mungkin bukan rahasia terbesar suamiku.

Aku membuka amplop cokelat itu dan mengeluarkan lembar pertama.

“Sekarang,” kataku pelan, “jelaskan kepada semua orang kenapa nama perempuan itu muncul di transaksi rekening kita.”

Arga menatap dokumen tersebut.

Dan wajahnya seketika kehilangan warna.

Karena transaksi pertama hanyalah permulaan.

Dokumen berikutnya menunjukkan sesuatu yang bahkan tidak pernah kubayangkan dilakukan suamiku sendiri…

SUAMIKU MENGIRA PERSELINGKUHANNYA ADALAH RAHASIA TERBESAR—SAMPAI KUBUKA DOKUMEN KEDUA DAN MERTUAKU SENDIRI MENYURUHNYA BERHENTI BERBOHONG

Arga menatap lembar mutasi rekening di tanganku seolah berharap angka-angka itu akan berubah kalau dia cukup lama diam.

Ruangan makan yang beberapa menit sebelumnya penuh suara sendok dan obrolan keluarga mendadak sunyi.

Mama Arga yang pertama bicara.

“Arga, itu apa?”

“Enggak ada apa-apa, Ma.”

Aku hampir tertawa.

Tidak ada apa-apa.

Kalimat yang sangat sederhana untuk menjelaskan uang puluhan juta rupiah yang mengalir dari rekening keluarga kami kepada perempuan yang baru saja mengirim pesan menanyakan kapan suamiku akan meninggalkanku.

Aku menarik kursi dan duduk.

“Kalau memang tidak ada apa-apa, jelaskan saja.”

Arga menatapku tajam.

“Nadira, jangan lakukan ini di depan keluarga.”

“Kenapa?”

Aku menunjuk ponselnya.

“Bukankah tadi kamu senang merayakan pernikahan kita di depan keluarga?”

Papa Arga mengulurkan tangan.

“Bapak mau lihat.”

Arga tidak bergerak.

Aku menyerahkan salinan mutasi rekening itu kepada beliau.

Ada enam transaksi.

Rp7,5 juta.

Rp12 juta.

Rp8 juta.

Rp15 juta.

Rp9 juta.

Dan yang terakhir, Rp25 juta.

Totalnya lebih dari Rp76 juta.

Semua dikirim dalam beberapa bulan terakhir ke rekening atas nama Rani Kusuma.

Mama Arga menutup mulut.

“Ya Allah, Arga…”

“Uang itu bukan buat selingkuhan!” Arga tiba-tiba berkata.

Aku mengangguk pelan.

“Bagus.”

Semua orang menoleh kepadaku.

“Berarti sekarang kamu bisa menjelaskan untuk apa.”

Arga berdiri.

“Nadira, kita bicara di kamar.”

“Tidak.”

“Nadira.”

“Kamu membicarakan aku dengan perempuan lain tanpa sepengetahuanku. Kamu merencanakan perceraian tanpa sepengetahuanku. Kamu memindahkan uang tanpa sepengetahuanku.”

Aku menatapnya lurus.

“Jadi malam ini aku memilih bicara di sini.”

Kakaknya, Dimas, mengambil salah satu lembar.

“Ini rekening bersama kalian?”

“Sebagian.”

Jawabanku membuat Arga langsung menoleh.

Aku mengambil dokumen kedua dari amplop.

“Ini yang lebih menarik.”

Aku meletakkannya di meja.

Bukan mutasi rekening bersama.

Itu catatan transaksi rekening pribadiku.

Aku bekerja sebagai analis keuangan sebelum mengambil cuti melahirkan. Sebelum menikah, aku sudah punya tabungan sendiri. Setelah menikah, aku dan Arga sepakat sebagian penghasilan masuk ke rekening bersama, sedangkan rekening pribadi tetap terpisah.

Namun dua bulan setelah Alya lahir, Arga berkata kami perlu membuat pembayaran otomatis untuk beberapa tagihan rumah.

Aku percaya kepadanya.

Kesalahanku adalah tidak memeriksa semuanya sendiri.

Beberapa hari setelah mendengar telepon itu, aku membuka kembali riwayat transaksi berbulan-bulan.

Di sanalah aku menemukan pembayaran rutin yang tidak kukenal.

Rp4 juta.

Rp4 juta.

Rp4 juta.

Selalu pada tanggal yang hampir sama.

Keterangan transfernya dibuat sangat biasa.

“Pembayaran rumah.”

Aku awalnya mengira itu biaya cicilan atau kebutuhan keluarga.

Sampai aku memeriksa nomor rekening penerima.

Rekening itu bukan milik bank pemberi KPR.

Bukan pengelola kompleks.

Bukan perusahaan listrik.

Itu rekening milik Rani.

“Ini dari rekening Nadira?” tanya Papa Arga.

Aku mengangguk.

Arga langsung menyela.

“Aku bisa jelaskan.”

Aku tersenyum.

“Aku sudah menunggu kalimat itu hampir seminggu.”

Dia mengusap wajah.

“Rani sedang kesulitan.”

Mama Arga menatapnya tak percaya.

“Jadi kamu mengambil uang istrimu untuk membantu perempuan lain?”

“Aku tidak mengambil!”

Aku membuka dokumen ketiga.

“Benar.”

Aku meletakkannya di depan Arga.

“Kamu tidak mengambil langsung.”

Wajahnya berubah.

Karena itu adalah salinan formulir perubahan instruksi transfer otomatis.

Namaku tercantum di sana.

Nomor rekeningku tercantum.

Dan di bagian bawah terdapat tanda tangan yang sangat mirip tanda tanganku.

Masalahnya sederhana.

Aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.

Dimas berdiri dari kursinya.

“Ga… jangan bilang kamu yang bikin ini.”

Arga diam.

Aku merasakan tanganku gemetar.

Bukan karena takut.

Karena selama hampir seminggu aku berusaha meyakinkan diri bahwa mungkin ada penjelasan yang tidak seburuk kelihatannya.

Sekarang penjelasan itu semakin tidak mungkin.

“Aku tanya sekali saja,” kataku. “Siapa yang menandatangani ini?”

Arga menatap ibunya.

Lalu ayahnya.

Kemudian aku.

“Aku.”

Mama Arga langsung berdiri.

“Kamu sudah gila?”

“Ma, dengarkan dulu!”

“Apa yang harus Mama dengarkan?”

Arga mengangkat kedua tangannya.

“Aku cuma mengatur pembayaran. Nadira sedang sibuk sama bayi. Aku pikir—”

“Kamu pikir kamu boleh meniru tanda tangan istrimu?”

Papa Arga memotong dengan suara yang sangat tenang.

Justru ketenangan itu membuat ruangan terasa lebih dingin.

Arga tidak menjawab.

Aku menarik napas.

“Aku belum selesai.”

Dia menatapku.

Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang berbeda di matanya.

Bukan marah.

Takut.

Aku mengeluarkan satu lembar lagi.

Arga langsung mencoba mengambilnya.

Aku menarik tanganku.

“Jangan.”

“Apa lagi yang kamu cari-cari?”

Aku menatapnya.

“Lucu sekali. Kamu yang melakukan semuanya, tapi aku yang dituduh mencari masalah.”

Lembar berikutnya adalah bukti pembayaran uang muka sebuah apartemen studio di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Nilainya Rp45 juta.

Nama calon penyewa?

Rani Kusuma.

Nomor kontak darurat?

Arga Pratama.

Hubungan dengan penyewa?

Pasangan.

Mama Arga kembali duduk perlahan.

Dimas mengumpat pelan.

Aku sendiri sebenarnya sudah melihat dokumen itu dua hari sebelumnya.

Tetapi membaca kata “pasangan” sekali lagi tetap terasa seperti seseorang menekan luka yang belum sempat mengering.

Arga tidak lagi menyangkal.

Dia hanya berkata,

“Aku memang mau pisah sama kamu.”

Kalimat itu menghantam ruangan.

Aku menatapnya.

Aneh.

Setelah semua yang kudengar, justru kalimat itu tidak terlalu menyakitkan.

Mungkin karena aku sudah kehilangan suamiku enam hari sebelumnya, saat sebuah telepon yang lupa dimatikan menunjukkan siapa dia sebenarnya.

Aku mengangguk.

“Baik.”

Arga tampak terkejut.

“Apa?”

“Kalau kamu ingin berpisah, kita bisa membicarakannya secara baik-baik. Kita bisa konsultasi dengan pengacara masing-masing dan mengurus semuanya melalui prosedur yang benar.”

Aku menunjuk dokumen-dokumen di meja.

“Tapi kamu tidak boleh mengambil uangku diam-diam.”

Dia mendengus.

“Uang, uang, uang. Semua buat kamu selalu soal uang.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu tertawa kecil.

“Tidak, Arga.”

Aku melirik Alya yang sedang digendong Mama.

“Ini soal kepercayaan.”

Arga mulai berjalan mondar-mandir.

“Selama kamu cuti melahirkan, siapa yang kerja? Aku. Siapa yang bayar kebutuhan rumah? Aku.”

Aku menatapnya.

“Kita membayar kebutuhan rumah dari rekening bersama.”

“Karena uangku masuk ke sana!”

“Dan uangku juga.”

Dia diam.

Aku melanjutkan.

“Sebelum cuti, aku bekerja. Tabunganku ikut membayar uang muka rumah ini. Perabot. Biaya rumah sakit waktu melahirkan yang tidak seluruhnya ditanggung asuransi. Jadi jangan berdiri di depan keluargamu dan berpura-pura aku hidup dari belas kasihanmu.”

Mama Arga memandang anaknya dengan kecewa.

Namun Arga justru semakin defensif.

“Kamu enggak tahu bagaimana rasanya pulang dan setiap hari cuma dengar bayi menangis.”

Kalimat itu membuatku benar-benar kehilangan kata-kata.

Aku menatapnya.

“Jadi itu alasannya?”

“Aku cuma bilang hidup kita berubah.”

“Ya.”

Aku mengangguk.

“Karena kita punya anak.”

“Semua perhatian kamu cuma buat Alya.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Dia bayi, Arga.”

Dia memalingkan wajah.

Saat itulah aku akhirnya mengerti.

Rani bukan awal masalah.

Dia hanya tempat Arga melarikan diri ketika kehidupan rumah tangga tidak lagi berputar mengelilinginya.

Aku berdiri.

“Aku tidak akan berdebat soal perselingkuhan malam ini.”

Arga tertawa sinis.

“Karena kamu sudah menang, kan? Kamu berhasil mempermalukan aku di depan semua orang.”

“Tidak.”

Aku memasukkan kembali beberapa dokumen ke amplop.

“Karena masih ada satu hal yang belum aku mengerti.”

Wajahnya kembali tegang.

Aku memperhatikannya.

Setiap kali membicarakan Rani, dia defensif.

Setiap kali membicarakan uang, dia marah.

Tetapi setiap kali aku menyentuh dokumen tertentu, wajahnya berubah takut.

Jadi aku tahu ada sesuatu yang lebih besar.

Aku mengambil ponsel.

“Dua hari lalu aku menghubungi bank.”

Arga berhenti bergerak.

“Aku meminta mereka menonaktifkan instruksi transfer yang tidak pernah kubuat.”

Aku berhenti sebentar.

“Mereka menemukan permintaan lain.”

“Apa?”

“Mereka bilang ada pengajuan untuk menaikkan limit transaksi rekening bersama.”

Papa Arga mengernyit.

“Untuk apa?”

Aku menatap suamiku.

“Itu yang ingin aku tahu.”

Arga langsung mengambil kunci mobil.

“Aku enggak mau lanjut.”

Dia berjalan menuju pintu.

Aku tidak mengejarnya.

“Kalau kamu pergi sekarang, besok aku tetap akan mendapatkan jawabannya.”

Dia berhenti.

“Jawaban apa?”

Aku mengeluarkan lembar terakhir yang kumiliki.

“Bank mengirim pemberitahuan bahwa ada transaksi besar yang dijadwalkan untuk diproses awal minggu depan.”

Arga membeku.

Nilainya Rp185 juta.

Jauh lebih besar daripada transfer-transfer sebelumnya.

Dan uang itu hampir menghabiskan saldo rekening bersama kami.

“Penerimanya siapa?” tanya Dimas.

“Itu masalahnya.”

Aku menjawab tanpa melepaskan pandangan dari Arga.

“Bukan Rani.”

Semua orang diam.

Bahkan Arga tidak bergerak.

Mama Arga bertanya,

“Lalu siapa?”

“Aku belum tahu.”

Aku menatap Arga.

“Tapi kurasa dia tahu.”

Arga membuka pintu.

“Batalkan saja transaksinya.”

Kalimat itu membuatku semakin curiga.

“Sudah.”

Dia menoleh cepat.

“Apa?”

“Aku sudah meminta bank menahannya sampai diverifikasi.”

Untuk sesaat, ekspresi Arga benar-benar berubah.

Panik.

Bukan karena ketahuan selingkuh.

Bukan karena keluarganya melihat bukti transfer.

Karena transaksi Rp185 juta itu gagal.

Dia menatapku seperti aku baru saja menghancurkan sesuatu yang sudah lama dia rencanakan.

“Kenapa kamu lakukan itu?”

Aku tertawa pendek.

“Karena itu uang kami?”

“Kamu enggak ngerti!”

“Kalau begitu jelaskan!”

Arga menghantam telapak tangannya ke meja.

Semua orang terkejut.

Alya mulai menangis.

Aku segera mengambil putriku dari Mama dan memeluknya.

“Jangan lakukan itu di dekat anakku.”

Arga memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian dia mengambil jaket dan pergi.

Pintu depan tertutup keras.

Malam itu Arga tidak pulang.

Aku tidak menelepon.

Aku membawa Alya ke kamar dan mengunci pintu.

Mama dan Papaku menginap bersamaku.

Keesokan paginya, sebuah pesan masuk.

Dari Rani.

Aku tidak tahu bagaimana dia mendapatkan nomorku.

Pesannya singkat.

“Mbak Nadira, saya tahu Mbak pasti membenci saya. Tapi ada sesuatu tentang Arga yang harus Mbak tahu. Saya juga baru tahu semalam.”

Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Aku tidak membalas.

Beberapa menit kemudian dia mengirim foto.

Sebuah dokumen.

Resolusinya buruk, tetapi aku bisa membaca nama Arga di bagian atas.

Di bawahnya ada sebuah nama perusahaan yang tidak pernah kudengar.

Dan angka yang membuat napasku tercekat.

Rp185.000.000.

Jumlah yang sama persis dengan transaksi yang kutahan.

Aku langsung meneleponnya.

Rani mengangkat setelah dering kedua.

“Halo?”

“Jelaskan.”

Dia terdiam.

Kemudian aku mendengar dia menangis.

“Mbak… Arga bohong sama saya juga.”

Aku hampir memutus sambungan.

Namun dia buru-buru berkata,

“Dia bilang uang itu miliknya.”

“Uang apa?”

“Uang untuk bisnis.”

Aku duduk.

“Bisnis apa?”

“Dia bilang mau masuk sebagai investor di usaha temannya. Dia bilang setelah bisnis itu jalan, dia akan punya penghasilan sendiri dan bisa meninggalkan Mbak tanpa kehilangan gaya hidupnya.”

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

“Siapa temannya?”

Rani menyebut sebuah nama.

Aku tidak mengenalnya.

Namun nama perusahaan di foto terasa familiar.

Aku pernah melihatnya.

Entah di mana.

Aku membuka laptop dan mencari dokumen rumah tangga kami.

Lalu aku menemukannya.

Enam bulan sebelumnya, Arga pernah meminta fotokopi KTP dan NPWP-ku dengan alasan untuk memperbarui data asuransi keluarga.

Saat itu aku memberikannya tanpa curiga.

Di folder email lama, ada sebuah lampiran yang pernah dia kirim kepadaku untuk “dicek sebentar”.

Aku membukanya.

Nama perusahaan itu ada di sana.

Bukan perusahaan investasi.

Itu perusahaan kecil yang bergerak di bidang pemasaran digital.

Dan salah satu nama pengurus yang tercantum membuat darahku terasa dingin.

Bukan Rani.

Bukan teman Arga.

Dimas.

Kakak Arga sendiri.

Aku menatap layar lama sekali.

Dimas semalam duduk di meja makanku.

Dia terlihat sama terkejutnya seperti semua orang.

Dia bahkan membela aku.

Apakah dia benar-benar tidak tahu?

Atau seluruh keterkejutannya hanya sandiwara?

Aku menelepon Dimas.

Tidak diangkat.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Kemudian sebuah pesan masuk.

“Aku lagi menuju rumah kamu. Jangan telepon siapa-siapa dulu.”

Aku berdiri.

Beberapa menit kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Dimas turun membawa sebuah map abu-abu.

Wajahnya pucat.

Begitu masuk, dia mengunci pintu di belakangnya.

“Aku harus jelaskan sesuatu.”

Aku menunjuk map itu.

“Apa itu?”

Dia tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, dia duduk dan mengeluarkan beberapa dokumen.

“Aku memang pernah membuat perusahaan itu bersama Arga.”

Dadaku langsung sesak.

“Kapan?”

“Tiga tahun lalu. Sebelum kalian menikah.”

“Kenapa semalam kamu berpura-pura tidak tahu?”

“Aku bukan pura-pura.”

Dia menatapku.

“Perusahaannya sudah lama tidak aktif. Aku keluar hampir dua tahun lalu. Arga bilang mau menutupnya.”

“Lalu transaksi Rp185 juta?”

Dimas menggeleng.

“Aku enggak tahu.”

Dia mendorong map itu kepadaku.

“Tapi setelah pulang semalam, aku cari dokumen lama.”

Aku membukanya.

Ada akta pendirian, perubahan kepengurusan, dan beberapa salinan dokumen lain.

Lalu aku menemukan selembar surat yang tanggalnya hanya beberapa minggu setelah Alya lahir.

Aku membaca bagian atas.

Namaku tercantum di sana.

Sekali lagi.

Tanganku mulai dingin.

“Aku enggak pernah tanda tangan ini.”

“Aku tahu.”

“Dimas…”

Aku mengangkat dokumen tersebut.

“Ini apa?”

Dia menarik napas panjang.

“Makanya aku datang.”

Belum sempat dia menjelaskan, terdengar mobil berhenti di depan rumah.

Aku melihat melalui jendela.

Arga.

Dia turun dengan langkah cepat.

Dimas langsung berdiri.

“Dia enggak boleh tahu aku bawa dokumen ini.”

“Kenapa?”

Dimas menatapku.

Karena ternyata transaksi Rp185 juta bukan sekadar uang untuk bisnis.

Map itu berisi bukti bahwa Arga sudah membuat persiapan jauh sebelum aku mendengar percakapannya dengan Rani.

Jauh sebelum dia mengatakan ingin menceraikanku.

Bahkan mungkin sebelum perselingkuhan itu dimulai.

Bel rumah berbunyi.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian Arga mengetuk keras.

“Nadira! Buka!”

Aku memandang Dimas.

“Sekarang bilang. Dokumen apa yang memakai namaku ini?”

Dimas membuka halaman terakhir.

Jarinya menunjuk satu bagian.

Aku membaca kalimatnya.

Lalu tubuhku terasa dingin.

Karena di bawah namaku terdapat tanda tangan palsu kedua.

Dan kali ini dokumen itu tidak mengatur transfer beberapa juta rupiah.

Dokumen itu berkaitan dengan sesuatu yang nilainya jauh lebih besar.

Rumah yang sedang kutempati bersama putriku.

Ketukan Arga semakin keras.

“NADIRA! JANGAN TANDA TANGANI APA PUN YANG DIBAWA DIMAS!”

Aku menoleh ke pintu.

Dimas menatapku dengan wajah tegang.

Lalu dia berkata pelan,

“Kalau kamu mau tahu apa sebenarnya yang Arga rencanakan terhadap rumah ini, jangan buka pintu dulu.”

Saat itulah gagang pintu depan mulai bergerak dari luar.

Dan aku baru teringat satu hal yang membuat darahku membeku.

Arga masih memiliki kunci cadangan.