Kakak tiriku mempermalukanku sebagai ‘cuma perawat miskin’ di depan 150 tamu undangan konglomerat Bandung, tapi saat calon mertua milyardernya berdiri dan membongkar rahasia kelam keluarga kami, ayah kandungku langsung gemetar ketakutan di atas panggung!

Kakak tiriku mempermalukanku sebagai ‘cuma perawat miskin’ di depan 150 tamu undangan konglomerat Bandung, tapi saat calon mertua milyardernya berdiri dan membongkar rahasia kelam keluarga kami, ayah kandungku langsung gemetar ketakutan di atas panggung!

“Dia ini Indah, kakak tiriku… cuma seorang perawat gajian pas-pasan yang kerja shift malam!”

Suara tawa Putri memecah keheningan aula mewah bernuansa emas di salah satu hotel berbintang daerah Lembang, Bandung. Tawa renyahnya disahut gelak tawa para tamu kelas atas yang memadati ruangan.

Ibu tiriku, Ibu Ratna, mengangkat gelas kristalnya tinggi-tinggi dengan senyum meremehkan. Dan yang paling menyayat hatiku, Bapak Budi, ayah kandungku sendiri, justru menjadi orang yang tertawa paling keras di atas panggung utama.

Ya Allah! Betapa perihnya dada ini. Aku berdiri sendirian di sudut ruangan, tepat di dekat meja nomor 15 yang berada di samping pintu dapur. Tanganku menggenggam erat tas kulit murahan yang warnanya sudah pudar dan terkelupas di beberapa bagian.

Malam itu, aku hanya mengenakan gaun biru polos seharga Rp 250.000 yang kubeli dari pasar kaget Cicaheum. Uang itu adalah sisa terakhir dari gaji bulananku setelah dipotong bayar sewa kontrakan sempit dan membelikan obat untuk rekan kerjaku yang sedang terbaring sakit.

Di sekeliling aula megah ini, kilauan jam tangan mewah, gaun batik sutra buatan desainer ternama, dan perhiasan berlian para konglomerat berkilau kusam di mataku. Tidak ada satu pun dari 150 tamu terpandang ini yang tahu bahwa aku baru saja menyelesaikan tugas shift 12 jam di ruang UGD Rumah Sakit Umum Hassan Sadikin pagi tadi. Tubuhku pegal, kakiku gemetar, dan mataku berat. Namun, keluargaku sendiri menempatkanku di sini hanya untuk dijadikan bahan lelucon.

Dua bulan lalu, saat undangan pernikahan mewah berbingkai emas itu sampai di kontrakan kecilku, nama yang tertulis di sana bahkan bukan namaku. Putri sengaja menulis “Indah Permata”, padahal nama lengkapku adalah Indah Rahmawati. Kami tinggal satu atap selama belasan tahun sejak ibuku berpulang ke Rahmatullah, tapi dia pura-pura lupa namaku.

“Kamu harus datang saat foto keluarga nanti,” ucap Bapak Budi melalui telepon minggu lalu dengan suara dingin tanpa kasih sayang. “Ingat Indah, jangan bikin malu keluarga di depan calon mertua Putri! Jangan buat drama sampahmu di sana!”

Aku sebenarnya ingin menolak hadir. Namun jauh di lubuk hatiku, masih ada secercah harapan kecil. Aku merindukan kasih sayang seorang ayah. Aku berharap, suatu hari nanti Bapak Budi akan menatapku dengan rasa bangga yang sama seperti dia menatap Putri.

Sejak ibu kandungku berpulang karena sakit keras sepuluh tahun lalu, hidupku berubah menjadi neraka. Aku dianggap sebagai anak pembawa sial. Putri mendapatkan segalanya: kamar utama ber-AC, les berkuda, mobil pribadi, dan kuliah di universitas swasta termahal di Jakarta. Sementara aku? Aku dibuang ke kamar sempit berukuran dua kali dua meter di sebelah ruang cuci baju. Aku harus membiayai kuliah keperawatanku sendiri dengan bekerja paruh waktu di klinik kecil dan menjadi kasir toko kelontong.

Ketika aku lulus dengan predikat cumlaude dan penghargaan lulusan terbaik, tidak ada satu pun anggota keluargaku yang hadir di gedung wisuda.

“Untuk apa datang? Apa orang-orang membuat pesta mewah hanya karena seseorang menjadi perawat tukang suntik?” ejek Putri kala itu sambil tertawa bersama Ibu Ratna.

Seminggu sebelum acara syukuran pertunangan malam ini, sebuah acara makan siang keluarga digelar di kediaman megah keluarga Mahendra. Di depan calon mertuanya, Putri memperkenalkanku sebagai wanita yang memiliki gangguan mental dan emosi tidak stabil. Dia bilang aku terpaksa bekerja di klinik pinggiran kota karena tidak bisa bersosialisasi dengan orang normal.

Ibu Ratna bahkan menarik lenganku kasar ke sudut ruangan begitu makan siang selesai. “Jangan pernah coba-coba cari perhatian di depan Bapak Hendra Mahendra!” bisiknya dengan tatapan mata penuh kebencian. “Putri sudah berjuang keras mendekati Aditya untuk masuk ke dalam keluarga konglomerat ini. Kalau kamu merusaknya, aku pastikan kamu tidak akan bisa hidup tenang di kota ini!”

Dan malam ini, di depan 150 tamu terpandang Bandung, Putri kembali mengulang hinaan itu. Dia sengaja memegang mikrofon di atas panggung untuk memamerkan gaun mewahnya sekaligus menginjak-injak harga diriku. Tawa ejekan para tamu kembali menggema. Aku menundukkan kepala, menahan air mata yang mulai mendesak keluar dari pelupuk mata.

Namun tiba-tiba, suasana di dalam aula mewah itu mendadak hening total.

Bapak Hendra Mahendra, pemilik tunggal Grup Properti Mahendra sekaligus calon mertua Putri, berdiri perlahan dari kursi meja utamanya. Pria paruh baya yang sangat disegani di seluruh Jawa Barat itu berjalan tenang menuju panggung, mengambil mikrofon dari tangan Putri yang mendadak membeku.

Mata Bapak Hendra yang tajam menatap lurus ke arahku. Lebih tepatnya, menatap anting mutiara perak tua yang terpasang di telingaku—satu-satunya peninggalan almarhumah ibu kandungku.

“Tiga tahun lalu, saya hampir berpulang di jalan tol Purbaleunyi,” suara berat Bapak Hendra menggema kuat melalui pengeras suara. “Saat terjadi kecelakaan beruntun yang sangat dahsyat di tengah hujan badai…”

“Ada seorang malaikat berhati emas yang nekat menerobos pecahan kaca, kobaran api, dan genangan bahan bakar demi menarik tubuh saya yang terjepit besi tua…”

Bapak Hendra melangkah turun dari panggung utama. Dia tidak memedulikan Putri yang berdiri mematung atau Bapak Budi yang kebingungan. Langkah kakinya yang mantap berjalan perlahan menyeberangi hall mewah, menuju lurus ke arah meja nomor 15 di dekat pintu dapur tempatku berdiri…

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Langkah kaki Bapak Hendra Mahendra terdengar begitu jelas di tengah keheningan aula yang mencekam. 150 pasangan mata tamu undangan mengikuti kemana pria paling berkuasa di ruangan itu melangkah.

Dia berhenti tepat satu langkah di hadapanku. Matanya yang tajam kini berkaca-kaca. Ditatapnya wajahku yang pucat, lalu pandangannya terkunci pada anting mutiara perak di telingaku.

“Suara ini… mata ini… dan anting mutiara milik almarhumah Ibu Kartini,” bisik Bapak Hendra dengan suara bergetar. Dia lalu berbalik menghadap seluruh tamu undangan dan meninggikan suaranya melalui mikrofon. “Dialah wanita luar biasa yang saya cari selama tiga tahun ini! Dialah perawat pemberani yang menyelamatkan nyawa saya malam itu!”

“Astaga! Apa-apaan ini?!” jerit Putri mendadak histeris dari atas panggung. Dia berlari turun dengan gaun mewahnya, wajahnya merah padam karena panik. “Paman Hendra, Bapak pasti salah orang! Dia ini Indah, kakak tiriku yang gangguan jiwa! Mana mungkin perawat miskin dan bodoh seperti dia bisa menyelamatkan Bapak?!”

Ibu Ratna dan Bapak Budi ikut berlari menghampiri kami. Wajah ayah kandungku terlihat sangat panik, keringat dingin mulai membasahi dahinya.

“Betul Bapak Hendra!” sahut Ibu Ratna dengan nada suara tinggi dan memburu. “Anak ini sengaja pakai anting itu untuk menipu Bapak! Indah, kurang ajar kamu ya! Ayo keluar sekarang! Kamu cuma bikin malu keluarga di acara penting adikmu!” Ibu Ratna maju dan mencoba mencengkeram lenganku dengan kasar untuk menyeretku keluar.

“Lepaskan tangannya!” bentak Bapak Hendra dengan suara menggelegar hingga membuat Ibu Ratna terlonjak kaget dan menghentikan langkahnya.

Bapak Hendra memberi isyarat tangan. Dalam hitungan detik, empat orang pengawal pribadi berjas hitam langsung maju dan berdiri memagari tubuhku, melindungi aku dari jangkauan Ibu Ratna dan Bapak Budi.

“Kalian pikir saya tua dan pikun?” kata Bapak Hendra dengan nada dingin yang menusuk tulang. “Tiga tahun lalu, saat saya tergeletak tidak berdaya di tol Purbaleunyi dengan luka merah di dada dan napas yang hampir habis, wanita inilah yang merangkak masuk ke dalam mobil saya yang berasap! Dia melepas kain syal birunya untuk menahan pendarahan di kepala saya, lalu memberikan pertolongan pertama sebelum ambulans datang!”

Bapak Hendra merogoh saku jas mewahnya dan mengeluarkan sebuah kain syal biru yang sudah tua namun tersimpan sangat rapi di dalam plastik pelindung. Di sudut kain syal itu, terukir rajutan benang berbentuk huruf “I.R.”

“Syal ini milikmu, bukan?” tanya Bapak Hendra lembut padaku.

Aku menatap syal itu dengan dada bergemuruh. “Ya Allah… itu… itu memang syal rajutan almarhumah Ibuku yang saya pakai malam itu, Bapak,” jawabku dengan suara bergetar.

Keheningan di ruangan itu makin mencekam. Para tamu undangan mulai berbisik-bisik. Wajah Putri kini berubah pucat pasi bagaikan mayat.

“Bohong! Itu pasti rekayasa!” teriak Putri histeris, mencoba memegang tangan Aditya, calon suaminya yang berdiri di dekat panggung. “Aditya, kamu harus percaya sama aku! Waktu itu aku yang cerita ke kamu kalau aku yang sering ikut bakti sosial di tol! Dia cuma mencuri ceritaku!”

Aditya Mahendra, pria tampan berjas elegan itu, perlahan melepaskan genggaman tangan Putri. Tatapan matanya yang dulu hangat kini berubah menjadi tatapan penuh jijik dan kekecewaan mendalam.

“Cukup, Putri,” ucap Aditya dingin. Dia melangkah mendekati ayahnya dan berdiri di sampingku. “Selama ini aku diam karena menghormati janji Ayah untuk menikahi putri dari wanita yang menyelamatkannya. Tapi makin hari, kebohonganmu makin terpampang nyata.”

Aditya menoleh ke arah asisten pribadinya yang berdiri di dekat operator lampu. “Nyalakan layar proyektor utama sekarang!” perintahnya tegas.

Layar kain putih raksasa di belakang panggung utama mendadak menyala. Gambar dokumen resmi dan video rekaman medis dari Rumah Sakit Umum Hassan Sadikin terpampang sangat jelas di hadapan 150 tamu konglomerat Bandung.

“Dua minggu lalu, karena merasa ada yang tidak beres dengan cerita Putri, aku melakukan penyelidikan mandiri ke Rumah Sakit Umum Hassan Sadikin,” lanjut Aditya dengan suara lantang. “Ini adalah catatan log medis dan laporan kepolisian malam kecelakaan tiga tahun lalu. Nama perawat yang terdaftar dalam tim penyelamat darurat UGD malam itu adalah Indah Rahmawati! Bukan Putri!”

Layar proyektor berganti menampilkan dokumen donor darah darurat. “Bahkan saat Ayah kehilangan banyak cairan dan membutuhkan donor darah golong O negatif yang sangat langka di RSU malam itu, Indah yang memberikan darahnya sendiri hingga dia pingsan karena kelelahan!”

Suara gumaman kaget dan dorongan amarah langsung membuncah dari para tamu undangan.

“Demi Tuhan! Kurang ajar sekali keluarga itu!” “Jadi selama ini mereka menjual kebohongan demi bisa besanan dengan keluarga Mahendra?!” “Tega sekali memperlakukan pahlawan asli seperti pembantu!”

Kata-kata cemoohan dari para tamu terpandang kini berbalik menyerang keluarga Bapak Budi. Ibu Ratna tampak gemetar hebat, memegangi lengan suaminya yang berdiri kaku bagaikan patung.

“Tapi kebohongan pertunangan ini belum ada apa-apanya dibanding kejahatan besar yang kalian lakukan pada Indah!” suara Bapak Hendra kembali menggema, kali ini penuh dengan nada kemurkaan yang amat sangat.

Bapak Hendra menatap lurus ke mata Bapak Budi. “Budi! Kamu pikir aku tidak tahu dari mana asal-usul seluruh harta dan perusahaan properti yang kamu banggakan hari ini?”

Tubuh Bapak Budi makin gemetar hebat. “B-Bapak Hendra… apa maksud Bapak? Perusahaan itu hasil keringat saya sendiri…”

“Hasil keringatmu?!” potong Bapak Hendra dengan tawa sinis. “Layar proyektor, tampilkan dokumen aset tahun 2014!”

Layar besar itu kini menampilkan sertifikat tanah, surat kepemilikan lahan di kawasan strategis Dago, dan dokumen pendirian perusahaan atas nama Ibu Kartini—ibu kandungku!

“Sepuluh tahun lalu, saat Ibu Kartini terbaring lemah di ruang perawatan sebelum berpulang ke Rahmatullah, kamu dan istri barumu ini memalsukan cap jempol dan tanda tangan almarhumah!” tegas Bapak Hendra dengan tatapan membunuh. “Kalian memindahkan seluruh hak milik tanah, rumah, dan dana warisan milik Kartini ke atas namamu sendiri! Kertas-kertas ini yang kamu jadikan jaminan bank untuk membangun bisnismu!”

“Ya Allah…” bisikku terperanjat. Tanganku menutupi mulutku yang gemetaran. Selama sepuluh tahun ini, aku percaya bahwa ibuku tidak meninggalkan apa-apa selain anting mutiara ini. Aku percaya cerita Bapak Budi bahwa ibuku meninggal dalam keadaan bangkrut. Ternyata… seluruh kemewahan yang dinikmati Putri dan Ibu Ratna adalah hak milik ibuku yang dicuri!

“Aduh! Jangan dengarkan fitnah ini! Ini semua bohong!” jerit Ibu Ratna panik. Dia mencoba melangkah maju tapi langsung dihalangi tegas oleh dua pengawal berbadan tegap.

“Fitnah?” sahut Bapak Hendra tenang namun mematikan. “Tiga bulan lalu, saya secara pribadi telah membeli 100 persen saham utang bisnismu yang menunggak di bank, Budi. Hari ini, secara hukum, seluruh aset perusahaan, rumah mewah di Dago, dan rekening bank milikmu telah resmi disita oleh konsorsium Mahendra Group atas nama pemilik sah yang sebenarnya: Indah Rahmawati!”

Bagaikan disambar petir di siang bolong, Bapak Budi langsung tersungkur jatuh ke lantai marmer aula. Wajahnya pucat pasi, matanya melotot tidak percaya. Ibu Ratna menjerit histeris dan terduduk di samping suaminya, sementara Putri menangis meraung-raung karena sadar seluruh kehidupan mewahnya baru saja hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.

Bapak Budi merangkak di atas lantai marmer, mencoba menggapai ujung gaun murahku. Air mata penyesalan mengalir deras di pipinya yang keriput.

“Indah… anakku… ampuni Ayah, Indah!” tangis Bapak Budi pecah di hadapan semua orang. “Ayah khilaf, Nak! Ayah melakukan ini semua demi masa depan keluarga kita! Tolong katakan pada Bapak Hendra untuk membatalkan penyitaan itu… Ayah ini ayah kandungmu, Indah!”

Aku menatap pria yang selama sepuluh tahun ini memanggilku anak pembawa sial. Pria yang membiarkanku kelaparan, membiarkanku tidur di dekat ruang cuci baju, dan tertawa paling keras saat aku dihina di depan umum.

“Keluarga?” ucapku dengan suara tenang, namun penuh ketegasan yang tak tertandingi. Aku mundur satu langkah, menjauhkan gaunku dari genggaman tangannya. “Waktu aku tidur kedinginan di kamar sempit tanpa selimut, apa Ayah ingat aku? Waktu aku harus bekerja shift malam di klinik sambil menahan lapar demi membayar biaya kuliah keperawatan, apa Ayah peduli? Waktu aku lulus cumlaude dan tidak ada satu pun dari kalian yang datang, kalian menyebutku cuma perawat sampah! Sekarang, saat seluruh kejahatan kalian terbongkar, Ayah baru mengingat namaku?!”

Aku menarik napas panjang, meresapi rasa lega yang luar biasa yang memenuhi dadaku. “Aku tidak akan pernah membenci Ayah. Tapi aku juga tidak akan pernah menyerahkan kembali hak milik almarhumah Ibuku kepada orang-orang yang telah menginjak-injak harga dirinya!”

Bapak Hendra tersenyum bangga menatapku. Dia lalu berbalik dan menunjuk ke arah pintu masuk utama aula. Dua petugas kepolisian berpakaian dinas lengkap melangkah masuk ke dalam ruangan.

“Petugas, silakan bawa Budi dan Ratna atas dugaan kasus pemalsuan dokumen warisan, penipuan investasi, dan penggelapan aset,” ujar Bapak Hendra tegas.

Bapak Budi dan Ibu Ratna menjerit dan berteriak mengemis ampun saat petugas kepolisian memasangkan borgol besi di tangan mereka dan menyeret mereka keluar dari aula mewah tersebut. Putri berlari mengejar orang tuanya sambil menangis histeris, ditinggalkan sendirian oleh para tamu terpandang yang menatapnya dengan penuh hinaan dan jijik.

Bapak Hendra kemudian berjalan mendekatiku, mengambil mikrofon untuk terakhir kalinya di hadapan seluruh tamu yang masih terpaku.

“Mulai malam ini,” umum Bapak Hendra dengan penuh kewibawaan, “seluruh aset yang telah direbut kembali akan diserahkan penuh kepada Indah Rahmawati. Selain itu, saya secara resmi mengangkat Indah sebagai Direktur Utama Yayasan Kesehatan Mahendra dan pemegang saham utama untuk proyek Rumah Sakit Internasional Mahendra yang baru!”

Tepuk tangan riuh bertubi-tubi langsung memecahkan keheningan aula. Para konglomerat dan tamu undangan memberi penghormatan berdiri untukku. Aku meneteskan air mata, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan dan kebebasan.

Saat polisi hendak menarik Bapak Budi melewati pintu keluar, Bapak Hendra mendadak memanggil nama ayah tiriku itu untuk yang terakhir kali.

“Tunggu sebentar, Budi!” panggil Bapak Hendra dingin.

Bapak Budi menghentikan langkahnya, menoleh dengan harapan tipis di matanya.

Bapak Hendra berjalan mendekatinya, lalu membisikkan sesuatu yang cukup keras hingga terdengar oleh orang-orang di sekitar pintu:

“Dan satu hal lagi yang harus kamu tahu Budi… hasil tes DNA rahasia yang aku lakukan minggu lalu membuktikan bahwa Indah sama sekali bukan anak kandungmu. Dia adalah putri tunggal dari almarhum saudaraku yang hilang, pemilik sah dari seluruh jaringan Mahendra Group yang sebenarnya!”