Suamiku Membuang Semua Obat Autoimunku Ke Kloset Dan Pergi 74 Hari Ke Eropa Bersama Ibu Mertua Dan Adik Iparnya Menunggu Aku Berpulang Demi Menguasai Penthouse Dan Perusahaan, Tapi Saat Dia Pulang Membawa 12 Koper, Hukuman Penjara Menantinya!

Suamiku Membuang Semua Obat Autoimunku Ke Kloset Dan Pergi 74 Hari Ke Eropa Bersama Ibu Mertua Dan Adik Iparnya Menunggu Aku Berpulang Demi Menguasai Penthouse Dan Perusahaan, Tapi Saat Dia Pulang Membawa 12 Koper, Hukuman Penjara Menantinya!

BAGIAN 1

“Saat kita kembali nanti, tempat ini sudah menjadi milik kita sepenuhnya, Putri.”

Budi Prakoso mengatakannya tanpa nada tinggi. Suaranya dingin, begitu tenang hingga menusuk sampai ke tulang sumsumku. Dia membungkuk tepat di samping tempat tidurku. Napasnya yang beraroma parfum mahal seharga jutaan Rupiah berhembus di pipiku yang pucat.

Aku sudah tiga hari tidak bisa berdiri. Penyakit vaskulitis autoimun menyerang pembuluh darahku tanpa ampun. Demam tinggi membakar tubuhku, rasa nyeri menusuk-nusuk seluruh persendian, dan pandanganku sering mendadak gelap. Dokter ahli di Rumah Sakit Pondok Indah sudah mewanti-wanti: obat imunomodulator ini harus masuk ke tubuhku tepat setiap delapan jam. Melewatkan beberapa dosis saja sama saja menyerahkan organ dalamku pada kerusakan fatal.

Di koridor luar penthouse mewah kami di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, suara roda koper saling bersahut-sahutan. Tawa renyah Ibu Siti, ibu mertuaku, terdengar melengking bersaing dengan suara Indah, adik iparku.

“Aduh, Indah! Tas Chanel warna krem ini cocok sekali Ibu pakai di depan Menara Eiffel nanti!” seru Ibu Siti tanpa beban.

“Jelas cocok, Bu! Kan kita pakai kartu kredit korporat PT Mahakarya Utama! Beli lima tas lagi di Paris juga tidak akan membuat kantong kita bolong!” sahut Indah tertawa bahak-bahak.

Kurang ajar! Mereka bersiap keliling Eropa selama 74 hari saat tubuhku terkulai lemas tak berdaya.

“Budi… tolong…” bisikku lirih. Kerongkonganku terasa seperti digerus amplas kasar. “Sudah waktunya aku minum obat. Ambilkan air putih, Budi…”

Budi melirik jam tangan mewah buatan Swiss di pergelangan tangannya. Jam tangan seharga ratusan juta Rupiah yang kubeli sebagai hadiah ulang tahunnya tahun lalu.

“Jangan mulai drama Sinetron-mu lagi, Putri,” kata Budi dingin. “Pesawat kita ke Paris berangkat dua jam lagi dari Bandara Soekarno-Hatta.”

Ibu Siti muncul di ambang pintu kamar utama. Dia mengenakan kacamata hitam besar dan baju batik sutra mahal. “Astaga, Budi! Kenapa masih meladeni wanita ini? Kami tidak akan membatalkan liburan musim dingin keliling Eropa hanya karena dia mendadak berulah!”

“Ibu benar,” timpal Indah yang berdiri di belakang ibunya sambil mengunyah permen karet. “Pesan nasi goreng lewat aplikasi saja, Kak Putri. Lagipula Kakak bukan anak kecil lagi yang harus disuapi.”

Ya Allah! Hati nurani mereka benar-benar sudah mati!

Mereka sengaja pura-pura lupa. Penthouse seluas 500 meter persegi ini, lima unit mobil mewah di garasi bawah tanah, hingga saham mayoritas PT Mahakarya Utama—semuanya ada karena namaku! Aku mendirikan perusahaan itu menggunakan dana perwalian peninggalan almarhumah ibuku. Aku memberikan jabatan Direktur Utama kepada Budi hanya demi menjaga harga diri dan martabatnya sebagai seorang suami di depan publik.

Budi berjalan santai menuju meja rias. Dia membuka laci kayu jati tempat seluruh botol obat harian dan vitamin khususnya disimpan.

Aku menghela napas lega secara lugu. Kupikir, sedikit sisa kemanusiaan masih tertinggal di dalam dadanya. Kupikir dia akan mengambilkan satu kapsul untuk menyambung nyawaku.

Namun, harapan lugu itu hancur berkeping-keping.

Budi mengambil seluruh botol obatku. Dia berjalan melangkah santai ke kamar mandi dalam. Tanpa ragu, dia membuka semua tutup botol, membalikkan wadahnya, dan menuangkan puluhan kapsul penyambung hidupku langsung ke dalam kloset porcelain.

Grojok!

Tombol siram ditekan tanpa rasa bersalah. Air kloset berputar pesat, menelan seluruh obat-obatku hingga tak bersisa.

“Budi! Apa yang kamu lakukan?! Demi Tuhan, Budi!” jeritku dengan sisa nafsu makan dan tenaga terakhir yang kupunya. Air mata panas menetes membasahi bantal.

Budi keluar dari kamar mandi sambil menyunggingkan senyum iblis. “Aku hanya membiarkan takdir menyelesaikan tugasnya dengan tenang, Putri.”

“Kurang ajar kamu, Budi!” racauku memukul kasur.

Sebelum aku sempat bergerak, Ibu Siti maju cepat. Tangan tuanya yang kasar merenggut telepon genggam dari genggaman tanganku yang lemas. Indah menyusul melangkah ke meja kerja, mencabut komputer jinjing beserta seluruh kabel pengisinya.

“Ponsel dan laptop ini kami sita. Kamu tidak perlu menghubungi siapa pun,” ujar Ibu Siti sinis.

Budi melangkah ke koridor luar. Dengan santai, dia memutar tuas keran utama air bersih hingga mati total. Tak berhenti di situ, dia menurunkan sakelar listrik utama kamar. Seketika, kamar megah itu tenggelam dalam kegelapan total. Suara pendingin udara mati, menyisakan keheningan yang mencekam.

Budi berdiri di ambang pintu, menunjuk panel pintu digital modern di dinding.

“Aku sudah mengganti kode akses pintu utama. Tidak ada pengurus rumah tangga atau tetangga yang bisa masuk,” ujar Budi bersuara mantap. “Saat kamu berpulang nanti, aku sebagai suami sah yang akan mewarisi seluruh aset, saham PT Mahakarya Utama, dan penthouse ini tanpa bagian untuk orang lain.”

Mereka bertiga melangkah pergi. Suara tawa renyah mereka perlahan menjauh, menyisakan udara dingin bulan Desember yang menusuk pori-pori.

Mereka tidak sedang pergi berlibur. Mereka sedang melenyapkanku secara perlahan tanpa menyentuh tubuhku!

Dalam kegelapan malam Jakarta yang bisu, aku menggeser tubuhku yang gemetar hebat. Rasa nyeri di persendianku makin menjadi-jadi. Aku memasukkan tangan kanan ke celah terdalam di bawah kasur busa tebal. Tanganku menyentuh permukaan plastik kasar dari sebuah ponsel lipat tua—ponsel rahasia dengan kartu khusus yang tidak pernah diketahui Budi sejak kami menikah.

Hanya ada satu nomor telepon yang terpatri di ingatan kepalaku sejak kecil.

Dengan jari-jari yang kaku dan mati rasa, aku menekan tombol demi tombol.

Panggilan tersambung. Pada nada dering ketiga, suara berat seorang pria paruh baya yang sangat kukenal terdengar di seberang sana:

“Halo?”

“Bapak… ini Putri. Tolong Putri, Pak…” tangisku pecah.

Hening sejenak di ujung telepon, sebelum sebuah perintah tegas dan dingin bergetar tanpa keraguan:

“Jangan tutup teleponnya, Sayang. Bapak datang sekarang membawa seluruh pasukan.”

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Suara raungan sirene ambulans swasta dan tiga mobil pengawal memecah kesunyian malam di Mega Kuningan. Bapakku, Bapak Surya Wijaya—seorang pengusaha senior yang disegani di dunia bisnis Indonesia—tidak datang sendirian. Beliau menerjunkan tim medis darurat lengkap dari rumah sakit swasta ternama, teknisi kunci profesional, serta jajaran pengacara senior dari firma hukum terkemuka di Jakarta.

Pintu digital penthouse yang digembok Budi dibongkar paksa dalam hitungan menit. Saat tim medis membawaku keluar dengan tandu, Bapak memeluk tubuhku yang menggigil hebat. Matanya yang biasanya tenang kini menyiratkan kemarahan luar biasa.

“Maafkan Bapak, Putri. Bapak terlambat menyadari kelakuan ular berkulit manusia itu,” bisik Bapak penuh penyesalan sambil menggenggam tanganku yang kaku.

“Pak… jangan hancurkan dia sekarang,” bisikku pelan di dalam ambulans sebelum kesadaranku benar-benar menghilang. “Biarkan mereka menikmati 74 hari di Eropa. Saat mereka kembali membawa mimpi kemenangan, aku sendiri yang akan menyerahkan surat kehancurannya.”

Bapak menatapku bangga. “Baik, putriku. Bapak akan menyiapkan panggung eksekusi paling sempurna untuk mereka.”

Selama 74 hari berikutnya, sementara Budi, Ibu Siti, dan Indah berfoya-foya di Paris, Roma, dan London, aku menjalani perawatan intensif isolasi. Dokter ahli membantuku pulih secara ajaib. Rasa sakit vaskulitis berhasil dikendalikan. Di saat yang sama, tim audit independen dan penyidik kepolisian yang dibentuk oleh Bapak Surya bekerja tanpa henti di belakang layar.

Kami menemukan fakta mengerikan. Budi bukan hanya berniat mengakhiri hidupku secara perlahan. Selama tiga tahun menjabat sebagai Direktur Utama di PT Mahakarya Utama, Budi telah menggelapkan dana perusahaan sebesar Rp 150.000.000.000 (seratus lima puluh miliar Rupiah) melalui rekening-rekening fiktif atas nama ibu dan adiknya!

Bahkan, kartu kredit korporat yang mereka gunakan untuk membeli barang-barang mewah di Eropa sebenarnya sudah dipasang jebakan limit oleh tim keuangan keluarga Wijaya. Setiap transaksi belanja mereka di outlet Hermes, Gucci, dan Chanel secara otomatis mencatat bukti tindak pidana pencucian uang secara real-time!

74 hari berlalu cepat. Hari penentuan pun tiba.

Siang itu, matahari Jakarta bersinar terik. Pintu utama penthouse mewah Mega Kuningan terbuka perlahan.

Budi melangkah masuk dengan senyum lebar terpatri di wajahnya. Dia mengenakan jas mahal bergaya Eropa. Di belakangnya, Ibu Siti dan Indah mendorong total 12 koper berukuran jumbo yang penuh berisi belanjaan barang brand mewah.

“Ah, indahnya aroma kemenangan!” seru Budi tertawa puas sambil menepuk-nepuk koper rimowa miliknya. “Ibu, siap-siap kita ganti seluruh interior penthouse ini. Kita buang semua barang-barang sisa si Putri itu!”

“Betul sekali, Budi!” sahut Ibu Siti sambil melepas kacamata hitamnya. “Ibu mau kamar utama dihiasi lampu kristal dari Italia. Lagipula, jasad wanita itu pasti sudah diurus tim kebersihan gedung beberapa minggu lalu!”

“Kak Budi, besok aku mau bawa mobil sport milik Putri ke kampus ya!” jerit Indah kegirangan.

Namun, saat mereka melangkah lebih dalam ke ruang tamu utama, langkah ketiganya mendadak terhenti kaku. Suara tawa mereka tercekik di tenggorokan.

Di tengah ruang tamu yang luas, aku duduk anggun di atas kursi kayu berukir. Aku mengenakan gaun sutra berwarna hijau zamrud yang mewah lengkap dengan jilbab senada. Tubuhku segar, wajahku merona penuh vitalitas, dan tatapan mataku menusuk tajam ke arah mereka.

Di meja kaca di depanku, tertumpuk rapi berkas-berkas dokumen tebal berstempel kepolisian, paspor-paspor asli, serta botol obat yang identik dengan yang dibuang Budi ke kloset.

Di sekelilingku, berdiri lima orang pria berjas hitam tebal. Dua di antaranya adalah pengacara papan atas Indonesia, dan tiga lainnya adalah penyidik kepolisian berseragam lengkap.

“Selamat datang kembali di rumahku, Budi… Ibu Siti… Indah,” sapaku penuh penekanan. Suaraku menggema di seluruh penjuru penthouse.

Wajah Budi seketika berubah pucat pasi bagai mayat. Matanya melotot hampir melompat keluar. “Kamu… Kamu masih hidup?! Bagaimana mungkin?!”

“Astaga! Setan! Ini pasti hantu Putri!” jerit Ibu Siti histeris, menyembunyikan tubuhnya di belakang punggung Budi. 12 koper mewah yang mereka bawa terlepas begitu saja dari genggaman.

Indah berteriak ketakutan hingga menumpahkan minuman kaleng yang dipegangnya.

Aku tersenyum tipis, mengangkat sebuah remote control hitam kecil, lalu menekan tombolnya. Layar televisi LED seluas 85 inci di dinding menyala seketika. Menampilkan rekaman CCTV rahasia yang tersembunyi di dalam kamar mandi dan kamar tidur utama—rekaman jernih saat Budi membuang obatku ke kloset, saat Ibu Siti merenggut ponselku, dan saat Budi mematikan sakelar listrik sambil mengancamku.

“Kamu pikir kamu pintar, Budi?” kataku santai sambil mengambil selembar kertas bertuliskan huruf tebal dari meja. “Selama 74 hari kalian bersenang-senang di Eropa menggunakan uang hasil kejahatan, aku dan tim hukum keluarga Wijaya telah merampungkan seluruh proses pembekuan aset.”

Pengacara senior di sampingku maju satu langkah, membuka map merah tebal.

“Budi Prakoso,” ujar pengacara itu dengan suara menggelegar. “Atas nama Klien kami, Nyonya Putri Wijaya, kami telah mendaftarkan gugatan cerai beserta pembatalan seluruh hak waris. Selain itu, pihak Kepolisian Daerah Metro Jaya telah menetapkan Anda, Ibu Siti, dan Indah sebagai tersangka atas kasus pemalsuan dokumen, penggelapan dana perusahaan sebesar 150 miliar Rupiah, serta percobaan penganiayaan berat yang membahayakan nyawa!”

“Apa?! 150 miliar?!” jerit Ibu Siti pingsan terduduk di atas lantai marmer. “Budi! Apa-apaan ini?! Kamu bilang semua uang itu aman?!”

“Bongkar seluruh koper mereka sekarang,” perintah penyidik kepolisian kepada anggotanya.

Dua petugas polisi maju dan membuka paksa 12 koper mewah buatan Paris itu. Ratusan tas bermerek, perhiasan emas, jam tangan berlian, dan pakaian mahal berhamburan di atas lantai marmer penthouse. Semua barang tersebut langsung disita sebagai bukti tindak pidana pencucian uang!

“Tidak! Ini tidak mungkin! Semua ini milikku! Aku Direktur Utama PT Mahakarya Utama!” teriak Budi histeris. Dia mencoba berlari menuju pintu keluar.

Namun, dua petugas polisi dengan sigap menangkap kedua tangannya, memiting tubuhnya ke lantai, dan memasangkan borgol besi dingin yang berkilat di pergelangan tangannya.

Klek!

Suara besi mengunci itu menandai berakhirnya seluruh kesombongan Budi Prakoso.

Budi berlutut di mataku, menangis meraung-raung bagai anjing terbuang. “Putri! Ampuni aku, Putri! Aku khilaf! Aku membawakan banyak hadiah dari Paris untukmu! Tolong cabut laporannya, Putri! Aku ini suamimu!”

Aku bangkit berdiri dari kursi. Dengan langkah perlahan namun mantap, aku mendekati Budi yang bersimpuh lemas di lantai. Aku membungkuk sedikit, menatap lurus ke dalam matanya yang penuh penyesalan palsu.

“Suami? Suami mana yang membuang obat istrinya yang sedang sakaratul maut ke dalam kloset lalu mengunci pintunya?” bisikku tepat di depan wajahnya. “Ingat kata-katamu 74 hari yang lalu, Budi? Kamu bilang, kamu biarkan takdir menyelesaikan tugasnya dengan tenang. Sekarang, giliranku membiarkan hukum menyelesaikan tugasnya dengan sangat tegas.”

Polisi menyeret Budi, Ibu Siti yang menangis histeris, dan Indah yang menjerit ketakutan keluar dari penthouse. 12 koper mewah milik mereka ditinggalkan berantakan di lantai—menjadi simbol kehancuran mutlak keluarga keserakahan tersebut.

Aku berjalan menuju jendela kaca besar penthouse, menatap pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Angin sore berhembus lembut. Aku mengambil napas panjang, merasakan kebebasan murni yang telah lama hilang.

Budi mengira dia telah menyusun rencana kejahatan yang paling sempurna untuk menguasai hartaku. Tapi dia lupa satu hal penting: kejahatan yang dibangun di atas penderitaan orang lain hanya akan bermuara pada kehancuran yang sangat menyakitkan.

Saat mobil tahanan polisi bergerak menjauh membawa Budi menuju sel tahanan, sebuah rahasia terakhir terungkap dari dokumen hukum di tanganku.

Wanita simpanan dan anak rahasia yang diam-diam dibiayai Budi selama ini ternyata adalah aktor bayaran yang disewa oleh bapakku sejak tiga tahun lalu untuk menguji kesetiaannya.

Budi tidak hanya kehilangan seluruh harta, jabatan, dan kebebasannya, tetapi dia juga menyadari bahwa seluruh hidup yang dia banggakan selama ini hanyalah sebuah ilusi jebakan yang dibuatnya sendiri.