Tiga tahun aku dicap sebagai janda gila karena selalu menziarahi makam kosong suamiku, sampai seorang bocah kecil menunjuk foto di batu nisan dan berteriak bahwa pria itu masih bernapas dan tinggal bersama neneknya di kampung nelayan!

Tiga tahun aku dicap sebagai janda gila karena selalu menziarahi makam kosong suamiku, sampai seorang bocah kecil menunjuk foto di batu nisan dan berteriak bahwa pria itu masih bernapas dan tinggal bersama neneknya di kampung nelayan!

Tangan kiriku gemetar memegang seikat bunga melati putih, sementara jemariku yang lain mencengkeram erat map tebal berwarna cokelat tua. Di dalam map itu terbaring lembaran dokumen perjanjian pranikah dan pelepasan hak atas aset perusahaan yang dipaksakan kepadaku. Enam hari lagi, aku dipaksa mengikat janji suci dengan Surya Wijaya, pemilik PT Costa Lines yang merupakan musuh bebuyutan keluarga kami.

Selama tiga tahun terakhir, hampir seluruh warga Surabaya menjulukiku sebagai janda gila yang tidak tahu diri. Suamiku, Aditya Pratama, adalah mantan Direktur Utama PT Samudra Pacific, perusahaan transportasi laut raksasa yang mengoperasikan kapal-kapal kontainer besar di jalur Surabaya, Jakarta, hingga Makassar. Pada malam tanggal 22 Agustus 2022, kapal pesiar pribadinya terbakar hebat di perairan Selat Bali. Raga suamiku tidak pernah ditemukan hingga saat ini. Tim SAR yang bertugas waktu itu hanya berhasil membawa kembali sebuah gesper sabuk emas, robekan kemeja batik yang hangus, dan jam tangan mewah miliknya.

Aku menolak keras menandatangani surat keterangan yang menyatakan suamiku telah berpulang ke Rahmatullah. Naluri batinku terus berteriak bahwa Aditya masih bernapas di suatu tempat. Namun, Ibu Herlina, ibu mertuaku, secara sepihak membangun sebuah makam kosong tanpa raga di pemakaman umum ini. Tidak berhenti di situ, Ibu Herlina terus menyebarkan rumor kejam bahwa rasa duka mendalam telah merusak akal sehatku.

Tanpa membuang waktu, Bimo, adik tiri Aditya, langsung mengambil alih kursi pimpinan di PT Samudra Pacific. Sejak hari itu, keanehan demi keanehan mulai bermunculan. Audit internal mendadak menemukan kerugian misterius yang tak masuk akal, dan pihak bank secara setiba-tiba menuntut jaminan tambahan. Dampaknya sungguh mematikan, jalur kredit perusahaan sebesar Rp 480 miliar dibekukan secara sepihak oleh bank.

Di tengah situasi yang kacau-balau itu, Ibu Herlina menyodorkan Surya Wijaya sebagai sosok “penyelamat”. “Nikahi Surya dan berhentilah mengejar bayangan semu!” gertak Ibu Herlina saat menyerahkan berkas perjanjian ini kepadaku. “Aditya tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini!”

Perjanjian pranikah licik itu menuntutku untuk menyerahkan kendali penuh atas seluruh saham milik Aditya kepada Surya. Aku tahu ini adalah jebakan mematikan, tetapi aku berpura-pura setuju demi mengulur waktu. Satu minggu sebelum acara pernikahan dipaksakan, Ibu Herlina mendesakku menandatangani dokumen tambahan terkait pelepasan hak waris. Aku menyimpan dokumen itu di dalam map dan memohon waktu satu hari terakhir untuk berpamitan di makam kosong suamiku.

Pagi ini, rintik hujan gerimis membasahi tanah pemakaman yang dingin. Saat aku menyapu dedaunan kering di atas batu nisan dan mengusap kaca foto Aditya yang berdebu, seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun mendekat pelan. Pakaian batiknya tampak lusuh dan penuh tambalan.

“Mbak, boleh aku meminta kue wingko babat ini?” tanya anak itu dengan suara polos sembari menunjuk makanan sesaji di atas makam.

Aku mengangguk lembut dan berusaha tersenyum. “Ambillah, Dik. Siapa namamu?”

“Rizky,” jawabnya singkat sambil meraih jajanan tradisional itu. Namun, ketika matanya tak sengaja menatap foto pria berjas rapi yang tertempel di batu nisan, wingko babat di tangannya seketika terlepas dan jatuh ke tanah. Wajah bocah itu berubah pucat pasi.

“Astaga! Ini Paman Sembilan!” bisik Rizky dengan napas memburu dan mata terbelalak.

Darahku serasa berhenti mengalir. “Apa maksudmu, Dik? Paman Sembilan?”

“Paman ini belum berpulang!” jerit Rizky pelan namun penuh kepastian. “Nenekku menemukannya terdampar di hutan bakau tiga tahun lalu saat malam takbiran Lebaran! Dia memang hilang ingatan dan tidak tahu siapa namanya, tetapi di bahu kirinya ada bekas luka berbentuk bulan sabit! Dia juga selalu memakai jam tangan gosong yang tidak pernah mau dilepaskan!”

Ya Allah! Jantungku berdegup amat kencang hingga dadaku terasa sesak. Suamiku memang memiliki bekas luka berbentuk bulan sabit di bahu kirinya akibat cedera masa kecil!

“Demi Tuhan, Rizky! Apakah paman itu pernah mengigau saat tidur di rumah nenekmu?” tanyaku dengan suara gemetar hebat dan air mata yang mulai menetes.

Rizky menoleh ke sekeliling area makam dengan raut wajah cemas. “Dia sering menangis sambil menyebut nama ‘Maya’… Lalu dia berteriak ketakutan, memohon agar Bimo tidak membuangnya ke tengah laut!”

Aduh! Kata-kata bocah itu bagaikan petir yang menghantam jiwaku! Dugaan batinku selama tiga tahun ini terbukti nyata! Aditya masih bernapas, dan tragedi kapal terbakar itu bukan kecelakaan biasa, melainkan aksi keji yang dirancang oleh Bimo!

Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera menutup map cokelat di tanganku, menggenggam jemari Rizky erat-erat, dan melangkah cepat meninggalkan area makam kosong tersebut. Aku harus menemui suamiku sekarang juga!

Namun, baru beberapa langkah kami berjalan mendekati gerbang utama pemakaman, sebuah mobil sedan hitam mewah mendadak meluncur deras dan berhenti melintang tepat memotong jalan kami. Kaca jendela mobil perlahan turun. Di dalam sana, Ibu Herlina duduk anggun dengan tatapan mata sedingin es, sementara Bimo duduk di sampingnya sambil menyunggingkan senyuman culas yang sangat mengerikan…

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

“Mau pergi ke mana kamu, Maya?!” suara Ibu Herlina menggelegar menembus rintik hujan gerimis, memecah kesunyian gerbang pemakaman. Perempuan tua itu keluar dari mobil dengan langkah angkuh, disusul oleh Bimo yang menatapku dan Rizky dengan pandangan penuh curiga.

“Serahkan map dokumen itu dan tanda tangani sekarang juga!” bentak Bimo seraya melangkah maju, berusaha merebut map cokelat dari genggamanku. Matanya melirik tajam ke arah Rizky yang gemetar ketakutan di balik rok batiku. “Siapa bocah kampung ini? Mengapa kamu membawanya?”

“Jangan berani-berani menyentuh kami, Bimo!” teriakku lantang, membusungkan dada untuk melindungi Rizky. “Aku tahu semua kejahatan kalian! Aditya masih bernapas! Kalian yang berusaha mengakhiri hidupnya tiga tahun lalu!”

Mendengar ucapanku, wajah Ibu Herlina berubah memerah karena murka. “Kurang ajar! Bicaramu semakin ngelantur! Dasar wanita tidak waras! Bimo, panggil para pengawal dan paksa dia masuk ke dalam mobil!”

Bimo mencengkeram pergelangan tanganku dengan kasar. Namun, aku tidak tinggal diam. Aku menyikut perut Bimo sekuat tenaga hingga dia mengaduh kesakitan dan melepaskan pegangannya. “Tolong! Ada penculikan! Tolong!” teriakku sekencang-kencangnya ke arah para pedagang bunga dan penjaga makam yang berada di sekitar pintu gerbang.

Kerumunan warga sekitar mulai menoleh dan bergerak mendekat. Melihat situasi yang tidak menguntungkan, Bimo mengumpat kasar. “Awas kamu, Maya! Kamu tidak akan bisa lari dari kami!”

Memanfaatkan momen kekacauan tersebut, aku menarik tangan Rizky dan berlari secepat mungkin keluar dari area pemakaman. Di tepi jalan raya, sebuah armada taksi melintas. Aku langsung melambaikan tangan, mendorong Rizky masuk ke kursi belakang, dan menyuruh pengemudi menancap gas menuju arah pantai pesisir tempat kampung halaman Rizky berada.

Selama perjalanan melintasi jalanan pesisir Jawa Timur, dadaku bergemuruh hebat. Air mata terus menetes tanpa bisa kubendung. Tiga tahun aku hidup dalam penderitaan, dihina sebagai janda gila oleh kerabat dan masyarakat, dikucilkan dari pergaulan, dan terus ditindas oleh keluarga mertuaku sendiri. Ternyata, suami tercintaku masih bertahan hidup di sebuah kampung nelayan terpencil!

“Mbak Maya, jangan menangis,” bisik Rizky pelan sambil mengusap air mataku dengan jemari kecilnya. “Paman Sembilan orang baik. Dia selalu membantu nenek merapikan jaring ikan, walaupun dia sering melamun menatap laut luas.”

“Terima kasih, Rizky… Terima kasih banyak, Dik,” sahutku seraya memeluk bocah polos itu dengan erat.

Satu jam kemudian, mobil taksi berhenti di pinggir kawasan perkampungan nelayan. Bau amis garam dan aroma laut menyengat hidung. Perahu-perahu kayu bersandar lemas di tepi pantai. Rizky membimbingku menyusuri lorong-lorong sempit berlantai batu yang diapit oleh dinding-dinding rumah warga yang kusam dan berlumut.

“Itu rumah nenekku, Mbak! Dan itu Paman Sembilan!” tunjuk Rizky dengan gembira.

Langkah kakiku mendadak terhenti secara tiba-tiba. Mataku terkunci pada sosok pria yang sedang berdiri bersandar di dinding batu tua dekat pantai.

Pria itu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak biru yang sudah pudar dan koyak di beberapa bagian, celana kain lusuh, dan rambut yang berantakan. Tangannya yang kasar mencengkeram erat sebuah jaring ikan yang setengah basah. Wajahnya yang ditumbuhi brewok tipis tampak tirus dan lelah.

Ya Allah! Meski tubuhnya tampak kurus dan pakaiannya sangat sederhana, aku tidak mungkin salah mengenali raut wajah pria itu. Pria yang berdiri di hadapanku ini adalah Aditya Pratama! Suamiku! Pria yang selama tiga tahun ini selalu kuhadirkan dalam setiap bait doaku!

“Aditya…” panggilku dengan suara bergetar dan tercekik oleh rasa haru yang luar biasa. Air mataku menetes deras membahasahi kerudung hijau yang kukenakan.

Aku melangkah mendekatinya dengan tangan terulur, berusaha menggapai wajahnya. Namun, begitu melihatku mendekat, Aditya justru menunjukkan raut wajah ketakutan yang sangat mendalam. Dia mundur beberapa langkah, menyandarkan punggungnya rapat-rapat ke dinding batu, dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi seolah memohon ampun.

“Jangan mendekat! Jangan sakiti aku!” jerit Aditya dengan suara serak dan panik. “Siapa kamu? Siapa kalian? Jangan bawa aku kembali ke laut!”

“Paman Sembilan! Ini Mbak Maya!” panggil Rizky seraya menunjukku. “Ini wanita yang ada di dalam foto batu nisan itu! Paman selalu menyebut namanya saat mengigau malam-malam!”

Aditya menggelengkan kepalanya dengan kuat, matanya membelalak penuh kecemasan. “Tidak! Aku tidak tahu! Namaku Paman Sembilan! Aku hanya tukang jaring ikan di sini! Tolong, jangan sakiti aku!”

Melihat kondisi suamiku yang begitu trauma dan kehilangan ingatan, dadaku serasa dihantam godam yang sangat berat. Aku berlutut di hadapannya di atas tanah batu yang dingin, menatap mata indahnya yang kini dipenuhi ketakutan.

“Aditya, ini aku… Maya, istrimu,” tangisku pecah tanpa mampu ditahan lagi. Aku menunjuk bahu kirinya. “Lihat luka bulan sabit ini, Mas… Kamu mendapatkannya saat menyelamatkanku dari reruntuhan kayu sewaktu kita masih kecil. Dan jam tangan emas yang gosong di pergelangan tanganmu ini… Aku yang menghadiahkannya saat hari pernikahan kita!”

Dari dalam rumah panggung sederhana, seorang wanita tua renta melangkah keluar dengan bantuan tongkat kayu. Dia adalah Nenek Marni, nenek dari Rizky.

“Nak, berpikirlah tenang,” ujar Nenek Marni dengan suara lembut. “Tiga tahun lalu, tepat pada malam takbiran Idul Fitri, saya dan almarhum suami saya menemukan pria ini terdampar di antara akar-akar pohon bakau. Kepala bagian belakangnya mengalami luka merah yang amat parah dan pakaiannya hangus terbakar. Kami merawatnya hingga sembuh, tetapi ingatan masa lalunya telah hilang sepenuhnya. Dia hanya ingat ketakutan luar biasa pada nama Bimo dan selalu menyebut nama Maya.”

“Nenek… Terima kasih… Terima kasih telah menyelamatkan nyawa suamiku,” ucapku tulus seraya mencium tangan Nenek Marni penuh rasa syukur.

Namun, momen keharuan itu tidak berlangsung lama. Suara deru mesin mobil berdaya tinggi mendadak memecah ketenangan kampung nelayan. Tiga unit mobil SUV hitam berukuran besar berhenti mendadak di ujung lorong sempit. Dari dalam kendaraan tersebut, keluar belasan pria berbadan tegap mengenakan setelan jas hitam, diikuti oleh Bimo, Surya Wijaya, dan Ibu Herlina!

Mereka telah melacak keberadaanku menggunakan sinyal GPS ponselku!

“Luar biasa! Sungguh pertunjukan sinetron yang sangat menyentuh hati!” ejek Bimo sambil bertepuk tangan dengan nada sinis. Langkah kakinya yang berat menghentak lorong batu, diikuti oleh para pengawalnya yang mengepung tempat kami berdiri.

Surya Wijaya menyunggingkan senyuman licik seraya mengeluarkan seberkas dokumen perjanjian dari dalam tas kulitnya. “Maya, kamu benar-benar wanita yang keras kepala. Tetapi permainan ini harus berakhir sekarang juga!”

Ibu Herlina melangkah maju dengan wajah penuh kebencian. “Janda gila! Kamu pikir kamu bisa lari dariku?! Lihat suami tercintamu itu! Dia hanyalah seorang pengemis ingatan yang tidak berguna! Tandatangani surat penyerahan saham dan pelepasan hak waris ini sekarang, atau kami akan memastikan kamu, suamiku yang hilang ingatan ini, serta nenek dan bocah kampung ini lenyap tanpa jejak!”

“Kalian sungguh manusia berhati iblis!” jeritku dengan kemarahan meluap-luap. “Ibu Herlina, Aditya adalah anak kandungmu! Bimo adalah saudara kandungnya! Bagaimana bisa kalian begitu tega bertindak sekejam ini hanya demi harta dan kekuasaan?!”

Tawa melengking yang sangat dingin keluar dari mulut Ibu Herlina. Tatapan matanya berubah begitu jahat dan penuh dengki.

“Anak kandung?! Jangan bermimpi, Maya!” seru Ibu Herlina dengan suara penuh hinaan. “Aditya bukan anak kandungku! Ibu kandungnya sudah berpulang sejak dia masih balita! Aku hanyalah istri kedua yang masuk ke keluarga Pratama untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi hak milik anak kandungku, Bimo!”

Ya Allah! Pernyataan itu bagaikan petir di siang bolong! Rahasia besar yang disimpan rapat selama puluhan tahun akhirnya terbongkar di hadapan mataku!

“Selama puluhan tahun aku harus berpura-pura menjadi ibu tiri yang penyayang di hadapan almarhum suamiku!” lanjut Ibu Herlina dengan nada penuh dendam. “Tetapi seluruh warisan dan kejayaan PT Samudra Pacific seharusnya menjadi milik Bimo! Tiga tahun lalu, aku yang memerintahkan Bimo untuk merusak katup saluran bahan bakar kapal pesiar milik Aditya! Aku yang menyuruhnya memastikan kapal itu meledak di tengah perairan Selat Bali!”

Bimo menyeringai puas mendengarkan pengakuan ibunya. “Benar sekali, Maya! Malam itu, aku sendiri yang memotong saluran bahan bakar dan mendorong tubuh Aditya yang terbakar ke dalam lautan lepas! Sayang sekali rupanya nyawanya masih menyangkut di hutan bakau ini. Tapi hari ini, aku akan menyelesaikan apa yang tertunda!”

Bimo memberi isyarat kepada para pengawalnya. Dua orang pengawal berbadan besar langsung maju dan menyeret Nenek Marni serta Rizky secara kasar hingga Nenek Marni jatuh tersungkur ke tanah. Rizky menjerit ketakutan saat leher bajunya dicengkeram oleh pengawal tersebut.

“Sakit, Paman! Tolong!” jerit Rizky histeris.

“Nenek! Rizky!” teriakku histeris seraya berusaha menolong mereka, namun dua pengawal lain langsung menahan kedua tanganku dengan sangat kuat.

Melihat Rizky yang menangis kesakitan dan Nenek Marni yang terkapar di tanah, sesuatu dalam diri Aditya mendadak bergolak hebat. Matanya yang semula redup dan penuh ketakutan mendadak menyala memancarkan amarah yang luar biasa. Rasa sakit luar biasa menghantam kepalanya, memecahkan seluruh dinding trauma yang mengurung ingatannya selama tiga tahun terakhir!

Bayangan malam kelam tanggal 22 Agustus 2022 berputar cepat di dalam benaknya. Kobaran api yang membumbung tinggi, bau bahan bakar yang menyengat, pisaunya Bimo yang memotong saluran pipa, dan dorongan kejam yang melemparnya ke dalam gelombang laut yang dingin!

“Aaargh!” jerit Aditya seraya memegangi kepalanya dengan kedua tangan.

“Aditya!” teriakku panik.

Secara mengejutkan, Aditya melepaskan jaring ikan di tangannya, menerjang maju dengan kecepatan luar biasa, dan menghantam wajah pengawal yang sedang memegang leher baju Rizky hingga pengawal itu tersungkur ke tanah! Aditya melindunginya di belakang tubuhnya yang tinggi.

Aditya berdiri tegak, matanya menatap Bimo dengan sorot tajam penuh keberanian dan ingatan yang telah pulih sepenuhnya!

“Bimo! Kurang ajar kamu!” raung Aditya dengan suara menggelegar yang menggetarkan seluruh lorong nelayan. “Aku ingat semuanya! Kamu yang memotong pipa bahan bakar kapal pesiarku malam itu! Kamu yang mendorongku dari atas geladak kapal!”

Bimo terbelalak kaget, matanya membelalak tak percaya melihat perubahan drastis pada diri kakaknya. “A-apa?! Ingatanmu… Ingatanmu sudah kembali?!”

Surya Wijaya mulai panik dan mundur beberapa langkah. “Bimo! Selesaikan ini sekarang! Paksa mereka menandatangani berkas itu dan bungkam mulut mereka selamanya!”

Bimo menarik sebuah benda tumpul berukuran berat dari balik jasnya dan melangkah maju dengan tatapan kalap. “Ingat atau tidak ingatanmu, itu tidak ada gunanya, Aditya! Tempat ini terpencil! Tidak ada polisi, tidak ada saksi! Setelah kalian lenyap, seluruh aset Rp 480 miliar dan saham PT Samudra Pacific akan jatuh ke tanganku secara sah!”

“Siapa bilang tidak ada polisi?!” suara dingin bernada tegas mendadak bergema dari arah ujung lorong pantai.

Sebelum Bimo dan para pengawalnya sempat bereaksi, puluhan personel kepolisian bersenjata lengkap dari jajaran Polda Jawa Timur mendadak muncul memblokir seluruh sudut perkampungan nelayan! Sirene mobil polisi meraung-raung memecah keheningan pantai!

“Jangan bergerak! Angkat tangan kalian semua!” teriak petugas kepolisian seraya menodongkan senjata ke arah Bimo dan pengawalnya.

Di barisan paling depan, muncul sosok Bapak Komisaris Hendra, pejabat tinggi kepolisian yang juga merupakan sahabat karib almarhum ayah Aditya!

Bimo, Ibu Herlina, dan Surya Wijaya mendadak pucat pasi bagaikan mayat. Tubuh mereka gemetar hebat melihat pasukan kepolisian yang telah mengepung tempat tersebut secara sempurna.

“Bagaimana bisa… Bagaimana bisa polisi tahu tempat ini?!” jerit Ibu Herlina histeris penuh kepanikan.

Aku melangkah maju mendekati Aditya, lalu perlahan mengambil map cokelat yang sejak tadi kupegang erat. Dari balik lipatan kulit tebal map tersebut, aku mengeluarkan sebuah alat pemancar satelit kecil yang dilengkapi dengan mikrofon perekam suara canggih.

“Kalian berpikir aku datang ke pemakaman tanpa persiapan?” ucapku dengan senyuman puas di tengah derai air mata kemenangan. “Sebelum aku pergi menziarahi makam kosong suamiku pagi tadi, aku telah menemui Komisaris Hendra. Alat pemancar ini terhubung langsung secara ‘live stream’ ke markas Polda Jawa Timur!”

Seluruh pengakuan keji Ibu Herlina tentang sabotase kapal, pengakuannya bahwa dia bukan ibu kandung Aditya, niat jahat Bimo memotong saluran bahan bakar, serta ancaman pemerasan yang dilakukan oleh Surya Wijaya telah terekam secara utuh dan sah sebagai bukti tindak kejahatan berat di mata hukum!

“Ibu Herlina, Bimo, dan Surya Wijaya!” tegas Komisaris Hendra dengan suara mantap. “Kalian kami tahan atas tuduhan percobaan pengakhiran hidup berencana, sabotase perusahaan, pemerasan, dan penggelapan aset negara!”

Para petugas kepolisian langsung bergerak cepat memborgol kedua tangan Bimo, Ibu Herlina, dan Surya Wijaya. Ibu Herlina menjerit histeris seraya meratapi nasibnya, sementara Surya Wijaya hanya bisa menundukkan kepala penuh penyesalan saat diseret menuju mobil tahanan.

Bimo yang terikat dalam borgol besi berteriak histeris penuh keputusasaan, membongkar rahasia terbesar bahwa ingatan Aditya sebenarnya telah pulih sepenuhnya sejak enam bulan yang lalu. Aditya sengaja berpura-pura tetap mengalami amnesia demi bekerja sama secara rahasia dengan pihak bank dan kepolisian untuk memancing seluruh kejahatan Ibu Herlina serta Bimo terbongkar tanpa sisa. Aditya merangkul tubuhku dengan sangat erat, mengusap air mata di pipiku, lalu berbisik lembut, “Maafkan aku harus berpura-pura lupa ingatan selama ini, Maya… semua ini demi memancing para iblis keluar dari sarangnya dan melindungi masa depan kita.”