SAYA PULANG TANPA KABAR DAN MENEMUKAN EMPAT ANAK SAYA BERDOA BERSAMA ASISTEN RUMAH TANGGA BARU DI DEPAN KURSI KOSONG ALMARHUMAH ISTRI… TAPI FOTO KELAM DARI SLEMAN INI MEMBONGKAR SIAPA PENGKHIANAT SEBENARNYA DI RUMAH MEWAH MENTENG KAMI!

Pukul 12:57 siang. Panas Jakarta terasa membakar, namun dada saya jauh lebih membara.
Saya, Budi Santoso, melangkah masuk ke dalam rumah mewah kami di kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat. Langkah sepatu kulit saya mendadak terhenti tepat di ambang pintu ruang makan. Suasana rumah yang biasanya bising atau sepi dingin bagai kuburan, siang ini sangat sunyi. Hanya terdengar sayup-sayup suara doa yang begitu tulus.
Demi Tuhan, mata saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat.
Di sana, empat anak laki-laki saya—Rizky, Aditya, Dimas, dan Doni—sedang saling menggenggam tangan erat-erat bersama Indah, asisten rumah tangga baru kami. Mereka duduk melingkari sebuah kursi kayu jati yang kosong. Kursi milik mendiang Siti, istri tercinta saya yang berpulang ke Rahmatullah satu tahun lalu.
Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari kehadiran saya. Seharusnya, saat ini saya sudah duduk manis di dalam pesawat First Class menuju Singapura untuk menandatangani kontrak kerja sama megaproyek senilai 12 triliun Rupiah. Namun, rasa sesak yang menohok dada secara tiba-tiba di Bandara Soekarno-Hatta memaksa saya membatalkan penerbangan.
Sejak Siti berpulang, saya selalu melarikan diri dari rumah ini. Rumah lima ribu meter persegi ini terasa terlalu luas dan penuh kenangan yang menyiksa. Saya lebih memilih tidur di kamar hotel berbintang lima atau memperpanjang jadwal dinas luar kota demi menghindari bayangan senyum Siti.
Namun siang ini, aroma masakan yang sangat familiar menusuk hidung saya. Sayur lodeh gurih, sambal bajak terasi, ayam goreng lengkuas yang renyah, dan tiwul hangat dengan kelapa parut. Ya Allah… itu adalah aroma masakan khas Yogyakarta buatan Siti yang selalu ia hidangkan setiap hari ulang tahunnya.
Empat anak saya duduk menunduk khusyuk. Selama ini, saya merasa sudah menjadi ayah yang sempurna hanya karena sanggup memenuhi seluruh kebutuhan finansial mereka. Saya memanjakan mereka dengan kartu kredit tanpa limit dan mobil-mobil mewah.
Tapi apa hasilnya? Rizky, 24 tahun, baru saja keluar dari Fakultas Hukum karena sering bolos. Aditya, 22 tahun, terjerat utang judi online hingga miliaran Rupiah dan dikejar-kejar penagih utang. Dimas, 20 tahun, bolak-balik masuk pusat rehabilitasi karena terjerat barang haram. Dan Doni, si bungsu yang baru 16 tahun, baru saja dikeluarkan dari sekolah internasional karena sering mengamuk.
Saya menyelesaikan semua keadaannya dengan cek giro dan uang tunai, tanpa pernah menurunkan gengsi saya untuk bertanya: mengapa anak-anak saya hancur?
Sementara itu, Indah, wanita berusia 34 tahun berbalut busana muslimah sederhana, berdiri dengan penuh kedamaian di samping mereka. Ia baru bekerja selama enam bulan di rumah ini. Dulu, saya bahkan tidak sudi membaca berkas riwayat hidupnya saat menerima dia bekerja. Saya juga tak pernah memedulikan mengapa Indah sering tertegun lama menatap foto-foto almarhumah istri saya di dinding hall utama.
“Duduklah bersama kami, Mbak Indah,” ucap Doni lirih, matanya berkaca-kaca. “Hari ini, Mbak bukan pekerja di sini. Mbak adalah bagian dari kami.”
“Saya harus menyiapkan piring dan melayani kalian, Mas Doni,” jawab Indah lembut dengan logat Jawa yang sangat halus.
“Tidak, Mbak,” sela Rizky dengan suara serak menahan tangis. “Hari ini ulang tahun Ibu yang ke-54. Semasa hidupnya, Ibu tidak akan pernah membiarkan siapa pun makan sendirian di sudut dapur saat keluarga sedang berkumpul.”
Ya Allah! Jantung saya serasa dihempas batu besar. Saya terpaku. Dosa besar apa yang telah saya perbuat? Saya, suaminya, bahkan melupakan hari lahir wanita yang telah mendampingi saya dari nol!
Di atas meja makan, di depan kursi kosong itu, terhampar ronce bunga melati yang harum, lilin putih yang menyala, dan kain selendang Batik Tulis kesayangan Siti. Indah bahkan telah mengeluarkan kembali foto-foto kenangan keluarga yang dulu sempat saya perintahkan kepada satpam untuk disimpan di gudang belakang karena saya tidak kuat melihatnya.
Hanya dalam waktu enam bulan, wanita sederhana ini berhasil merangkul Rizky untuk kembali membuka buku-buku hukumnya, mendampingi Aditya keluar dari lingkaran setan utang, menemani Dimas menjalani terapi pemulihan, dan membuat Doni kembali memegang kuas melukisnya.
Seorang asisten rumah tangga telah melakukan mukjizat yang gagal dilakukan oleh seorang ayah milyuner!
Dengan dada gemetar, saya mencoba melangkah maju. Namun, ujung sepatu saya menyenggol nampan perak di dekat pintu.
PRANGGG!
Dentingan nyaring menggema di seluruh ruangan. Semua orang terperanjat dan menoleh secara bersamaan.
“Ayah…?” gumam Dimas, matanya membelalak kaget.
Sebelum saya sempat bersuara atau memeluk mereka, bel pintu depan mendadak berbunyi keras dan kasar sebanyak tiga kali.
TENG! TENG! TENG!
Tanpa menunggu dibukakan pintu, Ratna Santoso, kakak kandung saya, melangkah masuk ke ruang makan dengan berkacak pinggang. Ia mengenakan gaun merah menyala yang mencolok, memegang sebuah map kulit tebal berwarna senada.
Tanpa mengucap salam atau menyapa siapa pun, Ratna melemparkan map kulit itu ke atas meja makan, tepat di atas piring kosong milik almarhumah Siti.
“Bagus! Kamu pulang di saat yang sangat tepat, Budi!” seru Ratna dengan suara melengking dan penuh kebencian. “Hari ini juga, kamu harus melihat wajah asli perempuan penipu ini! Dia menyusup ke rumah ini memakai identitas palsu hanya untuk menguras habis hartamu!”
Ratna membuka kasar map merah itu dan menarik beberapa lembar kertas. Ada salinan akta kelahiran, lembar hasil tes DNA laboratorium, dan bukti transfer bank. Lalu, dengan senyum culas, ia membanting sebuah foto tua berwarna agak kekuningan ke meja.
Di foto itu, sosok Siti yang masih sangat muda tampak menggendong seorang bayi perempuan yang baru lahir di depan sebuah klinik bersalin di daerah Sleman, Yogyakarta.
Di balik foto lusuh itu, terdapat tulisan tangan Siti yang sangat saya kenali: “Indah adalah anak perempuan yang mereka paksa aku lepaskan…”
Darah saya serasa berhenti mengalir. Pandangan saya kabur seketika.
Namun, saat mata saya meneliti lebih dekat, tepat di bawah kalimat tersebut, terdapat tulisan tangan tambahan menggunakan tinta biru yang agak pudar:
“Jika Kak Ratna menunjukkan foto ini padamu, Budi… itu artinya rencana jahatnya sudah dimulai. Dialah orang jahat yang merebut anakku dariku!”…
Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇
BAGIAN 2
“Aduh! Apa-apaan ini?!” jerit Kak Ratna dengan wajah mendadak pucat pasi bagai mayat. Tangannya yang dipenuhi perhiasan emas gemetar hebat saat berusaha merebut foto tua itu dari genggaman saya.
Tapi saya lebih cepat. Saya menarik foto itu ke dada saya, sementara air mata saya menetes tanpa bisa ditahan.
Saya membacakan kalimat kedua di balik foto itu dengan suara bergetar namun menggelegar di seluruh sudut ruangan:
“Jika Kak Ratna menunjukkan foto ini padamu, Budi… itu artinya rencana jahatnya sudah dimulai. Dialah orang jahat yang merebut anakku dariku!”
“Bohong! Itu fitnah dari wanita gila!” teriak Kak Ratna histeris, suaranya melengking memecah kesunyian ruang makan. “Siti itu sudah pikun dan gila sebelum meninggal! Budi, kamu jangan mau dibodohi oleh tulisan tangan palsu itu! Perempuan pelayan ini dan almarhumah istrimu bersekongkol untuk menghancurkan keluarga kita!”
“Kurang ajar!” gertak Rizky, putra sulung saya.
Rizky maju mendekat. Wajahnya yang biasa dingin kini memerah penuh amarah. Sebagai mantan mahasiswa Hukum, naluri kritisnya mendadak bangkit. Ia menyambar map merah tebal yang dilemparkan Kak Ratna dan meneliti berkas tes DNA serta surat transfer bank di dalamnya.
“Cukup, Tante Ratna!” bentak Rizky tajam. “Tante pikir aku bodoh? Kertas tes DNA ini menggunakan kop surat Laboratorium Medika Sejahtera Yogyakarta. Padahal laboratorium itu sudah ditutup dan dinyatakan bangkrut sejak dua tahun lalu karena kasus pemalsuan dokumen! Bagaimana mungkin laboratorium mati bisa mengeluarkan hasil tes DNA bulan lalu?!”
DEGGGG!
Kata-kata Rizky bak petir di siang bolong. Kak Ratna mundur satu langkah, matanya bergerak liar mencari alasan.
“Dan bukti transfer bank ini…” sambung Rizky sambil menatap tajam ke arah Kak Ratna. “Transfer uang sebesar lima ratus juta Rupiah ke rekening Mbak Indah ini bukan dari rekening Ayah atau perusahaan, tapi dari rekening perusahaan cangkang milik Tante sendiri di Singapura! Tante sengaja mentransfer uang itu minggu lalu untuk menjebak Mbak Indah seolah-olah dia mencuri uang keluarga kami!”
“Astaga! Tante Ratna… Tante jahat sekali!” seru Aditya dengan napas memburu. Kedua tangannya mengepal erat, matanya menatap tidak percaya pada wanita yang selama ini ia panggil Tante.
Saya terduduk di kursi makan, lutut saya serasa lolos dari persendiannya. Ya Allah, selama satu tahun ini saya membutakan mata dan telinga saya. Saya menganggap Kak Ratna sebagai pahlawan yang mengurus perusahaan saat saya terpuruk, padahal ular berkepala dua ini sedang merajut jaring kejahatan di bawah atap rumah saya sendiri!
“Buka suaramu, Indah!” perintah saya dengan suara bariton yang gemetar. Saya menatap Indah yang berdiri tenang di samping empat anak saya. “Katakan padaku… siapa kamu sebenarnya? Dan apa yang terjadi 34 tahun lalu di Sleman?!”
Indah menghela napas panjang. Tidak ada ketakutan di matanya, hanya ada kedukaan mendalam dan ketabahan yang luar biasa. Dengan jemarinya yang halus, ia membuka tas batik kecil yang selalu ia bawa. Dari dalam tas itu, ia mengeluarkan sebuah buku harian bersampul kulit cokelat yang sudah agak usang—buku harian milik almarhumah istri saya, Siti.
“Bapak Budi yang terhormat…” ucap Indah lembut, air matanya perlahan menetes membasahi pipinya. “Saya memang Indah. Anak bayi perempuan yang dilahirkan oleh Ibu Siti 34 tahun lalu di sebuah klinik kecil di Sleman, Yogyakarta.”
Ruang makan kembali menjadi sangat hening. Keempat anak saya menahan napas.
Indah melanjutkan, “Tiga puluh empat tahun lalu, saat Bapak masih merintis usaha di luar kota dan belum bergelimang harta seperti sekarang, Ibu Siti melahirkan saya secara prematur. Saat itu, Tante Ratna membiayai persalinan Ibu. Tapi diam-diam, Tante Ratna membayar dokter dan suster klinik untuk memalsukan kematian saya. Mereka memberi tahu Ibu Siti bahwa bayi perempuannya meninggal saat dilahirkan…”
“Bohong! Demi Tuhan itu fitnah!” potong Kak Ratna dengan suara makin melengking, berusaha memotong ucapan Indah. “Budi, jangan dengarkan pembantu gila ini! Dia hanya mau merebut warisanmu!”
“Diam, Kak Ratna! Biarkan Indah bicara!” bentak saya keras hingga suara saya menggelegar di seluruh rumah. Kak Ratna bungkam seketika dengan wajah membiru.
Indah mengusap air matanya dan menatap saya lurus. “Tante Ratna membuang saya ke rumah seorang buruh cuci di kampung Sleman. Tante Ratna tidak ingin Ibu Siti memiliki anak pertama yang bisa memperkuat posisinya di keluarga Santoso. Tante Ratna ingin menguasai seluruh kekayaan Bapak sejak dulu. Selama 34 tahun, saya hidup dalam kesederhanaan di kampung, tanpa pernah tahu siapa orang tua kandung saya.”
“Lalu bagaimana kamu bisa ada di rumah ini, Mbak?” tanya Dimas dengan suara bergetar, memegang lengan Indah.
Indah tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kehangatan yang sangat mirip dengan senyuman Siti.
“Satu setengah tahun lalu, sebelum Ibu Siti jatuh sakit parah, beliau melakukan perjalanan napak tilas ke Sleman. Beliau menemukan fakta bahwa dokter yang dulu merawatnya membuat pengakuan dosa sebelum meninggal. Ibu Siti mencari keberadaan saya hingga ke kampung… dan akhirnya kami bertemu,” terang Indah.
Jantung saya serasa diiris-iris. Jadi, sebelum Siti meninggal, ia sudah tahu bahwa anak perempuannya masih hidup?!
“Kenapa… kenapa Siti tidak pernah memberi tahu aku, Indah? Kenapa?!” tanya saya histeris, penyesalan membakar dada saya.
“Karena Ibu Siti tahu, Tante Ratna sudah menguasai seluruh sistem keuangan perusahaan Bapak dan menaruh orang-orang kepercayaannya di sekeliling Bapak,” jawab Indah pelan. “Ibu Siti tahu hatinya sudah tidak kuat. Beliau tahu usianya tidak lama lagi. Ibu takut jika beliau memberi tahu Bapak secara langsung, Tante Ratna akan bertindak lebih nekat dan membahayakan keselamatan Mas Rizky, Mas Aditya, Mas Dimas, dan Doni.”
Indah menatap keempat anak laki-laki saya dengan tatapan seorang kakak yang begitu menyayangi adik-adiknya.
“Ibu Siti meminta saya berjanji satu hal sebelum beliau berpulang,” lanjut Indah. “Ibu tidak meminta saya menuntut harta atau pengakuan sebagai anak. Ibu hanya menangis dan memohon: ‘Indah, selamatkan adik-adikmu. Ayahmu sudah buta oleh harta dan kedukaan. Tante Ratna sengaja merusak adik-adikmu dengan memberi mereka uang tanpa batas, mengenalkan Aditya pada judi online, membiarkan Dimas terjerat barang haram, dan merusak mental Doni agar keluarga ini hancur dari dalam. Masuklah ke rumah itu sebagai pelayan, sembuhkan adik-adikmu, dan lindungi mereka.’“
“Ya Allah…” ratap saya. Saya menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Air mata saya tumpah tak terbendung.
Pikiran saya berputar hebat. Segala puzzle rumit yang selama ini membingungkan saya mendadak terpasang sempurna!
Pantas saja! Kenapa Aditya yang tadinya anak penurut tiba-tiba bisa kenal dengan bandar judi online besar? Karena Kak Ratna yang mengenalkannya melalui relasi bisnisnya! Kenapa Dimas bisa dengan mudah mendapatkan akses ke pergaulan bebas dan obat-obatan melarang? Karena Kak Ratna yang selalu memberi Dimas uang jajan berlebihan secara diam-diam dan menutupi kenakalannya! Kenapa Doni menjadi anak yang pemarah dan dibenci di sekolahnya? Karena Kak Ratna selalu membisikkan bahwa ibunya meninggal karena tidak dipedulikan oleh ayahnya!
Kak Ratna sengaja merusak keempat anak saya agar tidak ada satu pun dari mereka yang sanggup meneruskan takhta bisnis keluarga Santoso! Dan saat keluarga kami hancur, seluruh kekayaan bernilai triliunan itu akan jatuh sepenuhnya ke tangan Kak Ratna!
“Perempuan iblis!” geram Aditya. Tanpa sadar ia hendak melangkah mendekati Kak Ratna, namun ditahan oleh Rizky.
“Jangan pakai kekerasan, Adit. Jangan kotorkan tanganmu untuk manusia seperti dia,” ucap Rizky dingin.
Kak Ratna tertawa bersikap kasar dan sinis. “Haha! Cerita dongeng yang sangat menarik! Tapi kalian punya bukti apa, hah?! Semua ini cuma bualan seorang pembantu kampung! Di mata hukum, tidak ada bukti bahwa aku melakukan semua itu! Budi, perusahaanmu sekarang ada di bawah kendaliku! Aku sudah memindahkan aset-aset utamamu saat kamu sibuk mengurung diri di hotel!”
“Siapa bilang tidak ada bukti, Tante?” sela Doni, si bungsu yang berusia 16 tahun.
Doni berjalan mendekati meja makan, menghampiri foto keluarga besar yang tadinya dipajang di hall utama dan telah dikeluarkan oleh Indah dari gudang. Doni melepaskan bingkai kayu di bagian belakang foto tersebut.
“Ibu selalu mengajarkan aku melukis di kayu,” kata Doni dengan suara mantap. “Seminggu sebelum Ibu meninggal, Ibu memanggilku ke kamarnya. Ibu menyuruhku membuat kompartemen rahasia di balik bingkai foto keluarga ini. Ibu bilang, suatu hari nanti, jika Ayah sudah pulang dan siap menghadapi kenyataan, aku harus menyerahkan isi bingkai ini kepada Ayah.”
Dari balik lapisan kayu bingkai foto itu, Doni mengeluarkan sebuah rekaman suara berbentuk flashdisk hitam dan bundel dokumen berisikan pembukuan asli rahasia perusahaan.
Wajah Kak Ratna yang tadinya pucat kini berubah menjadi abu-abu. Matanya melotot tajam penuh ketakutan. “T-tidak… Tidak mungkin! Siti tidak mungkin secerdik itu!”
Rizky dengan cepat menyambar flashdisk itu, mencolokkannya ke laptop kerja miliknya yang ada di atas meja samping, dan menekan tombol play.
Suara pengeras suara laptop memenuhi seluruh ruangan makan yang megah itu. Suara yang sangat jernih dan tak terbantahkan—suara Kak Ratna sendiri sedang berbicara dengan pengacaranya:
“…Pastikan dosis obat penenang untuk Siti ditingkatkan secara perlahan. Biarkan jantungnya melemah secara alami agar Budi tidak curiga. Setelah Siti mati, buat anak-anak Budi hancur! Biar si Aditya terlilit judi online dan si Dimas makin kecanduan. Dengan begitu, Budi akan stres dan menyerahkan seluruh aset lima ratus miliar itu ke tanganku. Anak perempuan Siti yang di Sleman dulu sudah kubuang ke tempat sampah, jadi tidak akan ada yang bisa menghalangi kita!…”
DEG! DEG! DEG!
Suara rekaman itu bagaikan dentuman meriam yang menghancurkan seluruh dinding pertahanan Kak Ratna.
“Aduh! Kurang ajar! Matikan! Matikan rekaman itu!” jerit Kak Ratna seperti kesetanan. Ia melompat maju berusaha merebut laptop dari meja, namun Aditya dengan sigap berdiri memblokir jalannya dan menghempaskan Kak Ratna hingga tersungkur ke lantai marmer.
“Tante bukan cuma penipu dan pencuri…” bisik Rizky dengan nada suara tebal yang menusuk tulang. “Tante adalah pembunuh Ibu kami!”
NINO-NINO-NINO!
Suara sirine mobil polisi terdengar melengking dari luar pagar rumah mewah Menteng. Tiga mobil dinas Kepolisian Polda Metro Jaya beserta belasan petugas bersenjata lengkap sudah mengepung halaman depan.
Rizky tersenyum dingin sambil mengangkat ponselnya. “Sebelum Tante masuk ke rumah ini dan melemparkan fitnah murahan itu, aku sudah menaruh curiga pada berkas-berkas keuangan yang Tante bawa. Aku sudah menghubungi tim penyidik Polda Metro Jaya dan menyerahkan bukti awal penggelapan uang perusahaan. Rekaman suara ini hanya akan memperberat hukuman Tante: percobaan pembunuhan berencana dan kejahatan kemanusiaan!”
Pintu ruang makan didobrak terbuka. Petugas kepolisian masuk dengan cepat dan langsung mengunci kedua tangan Kak Ratna dengan borgol besi.
“Budi! Tolong aku, Budi! Aku ini kakak kandungmu! Aku darah dagingmu!” jerit Kak Ratna histeris saat tubuhnya diseret keluar oleh para petugas. “Budi! Ampuni aku! Jangan biarkan mereka memenjarakan aku!”
Saya berdiri mematung. Tidak ada lagi rasa kasihan di hati saya. Yang ada hanyalah rasa jijik dan penyesalan mendalam karena telah membiarkan serigala berbulu domba memimpin keluarga saya selama ini.
“Bawa dia pergi,” ucap saya dingin tanpa menatap wajahnya sedikit pun. “Biarkan hukum menuntut balasan atas setiap tetes air mata istri dan anak-anak saya.”
Raungan histeris Kak Ratna perlahan menghilang seiring pintu depan yang tertutup rapat dan deru mobil polisi yang menjauh dari kawasan Menteng.
Ruang makan kembali hening.
Saya menatap empat anak laki-laki saya. Rizky, Aditya, Dimas, dan Doni. Untuk pertama kalinya dalam satu tahun terakhir, saya melihat sorot mata mereka tidak lagi dipenuhi keputusasaan atau amarah gila. Di mata mereka, ada benih keberanian, pemulihan, dan kasih sayang yang telah ditanamkan oleh Indah selama enam bulan terakhir.
Saya berjalan perlahan mendekati Indah. Saya berlutut di hadapannya di hadapan keempat anak saya. Seorang milyuner yang dulunya sombong dan merasa bisa membeli dunia dengan uang, kini berlutut bersimbah air mata di depan seorang wanita yang bekerja sebagai asisten rumah tangga.
“Indah…” suara saya tercekat di tenggorokan. “Maafkan Ayah… Maafkan laki-laki bodoh yang tidak tahu diri ini. Kamu telah menyelamatkan anak-anakku… Kamu telah menjaga amanah almarhumah ibumu dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri…”
Indah ikut berlutut, memegang kedua bahu saya dan membimbing saya untuk berdiri.
“Jangan berlutut pada saya, Bapak,” ucap Indah dengan air mata yang mengalir hangat di pipinya. “Ibu Siti tidak pernah membenci Bapak. Sebelum beliau berpulang, beliau hanya ingin Bapak kembali pulang ke rumah ini… bukan sebagai milyuner, tapi sebagai seorang Ayah.”
Empat anak saya mendekat. Kami saling berpelukan erat di ruang makan itu, melingkari kursi kosong milik Siti yang tertutup kain batik dan ronce melati. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hangatnya sebuah keluarga kembali berdenyut di dalam rumah ini.
Saya sadar, proyek 12 triliun Rupiah di Singapura yang saya lewatkan siang ini tidak ada artinya dibanding senyuman dan keutuhan keluarga yang baru saja saya dapatkan kembali.
Namun, saat polisi memasukkan Kak Ratna ke dalam mobil tahanan di luar, Kak Ratna tiba-tiba berteriak histeris membongkar rahasia paling mengerikan: “Budi, kamu pikir Indah itu anak Sekar dengan lelaki lain? Indah itu anak kandungmu sendiri yang aku buang karena aku benci padamu!” Saya dan Indah membeku, merinding menyadari bahwa anak perempuan yang disiksa takdir selama 34 tahun ini adalah darah daging saya sendiri. Dan detik itu juga, air mata Indah menetes tepat di atas foto lama kami, memanggil saya untuk pertama kali: “Ayah…”
