Empat Tahun Dicampakkan Dan Dituduh Mandul Oleh Mantan Suami Saat Bertemu Di Rumah Sakit Jakarta Ketika Istri Barunya Melahirkan Putra, Dia Membeku Melihat Putri Kecilku Yang Sangat Mirip Wajahnya Dan Rahasia Kelam Terbongkar

Empat tahun setelah perceraian yang menghancurkan seluruh hidupku di Jakarta, aku berdiri terpaku di depan pintu lift Rumah Sakit Harapan Kita. Hari itu, takdir membawa mantan suamiku, Rizky Mahardika, ke tempat yang sama untuk merayakan kelahiran anak laki-laki dari istri barunya.
Di seluruh koridor rumah sakit, keluarga besar Mahardika bersukacita. Mereka memuji Rizky yang akhirnya mendapatkan seorang putra penerus tahta bisnis tekstil dan properti keluarganya. Namun, hanya dalam hitungan detik, kegembiraan itu sirnah seketika.
Langkah kaki Rizky terhenti kaku. Wajah lelaki yang dulu amat kucintai itu berubah pucat pasi bagai mayat ketika tatapannya jatuh pada seorang anak perempuan berusia tiga setengah tahun yang berdiri di sampingku. Anak kecil itu memiliki pasang mata cokelat pekat, bentuk hidung mancung, dan garis rahang yang identik dengan milik Rizky.
Dia adalah Nisa, putri kandungku. Dan selama lebih dari tiga tahun, Rizky sama sekali tidak pernah mengetahui keberadaannya.
Semua bermula saat aku baru saja keluar dari ruang pemeriksaan spesialis jantung anak sambil menggenggam map rekam medis Nisa. Pintu lift terbuka, mempertemukan tatapanku dengan Rizky secara langsung.
“Indah?” bisiknya terkejut.
Aku memilih diam dan melangkah masuk ke dalam lift tanpa menyapa. Keheningan yang menekan memenuhi ruangan sempit itu.
“Kamu sakit, Indah?” tanya Rizky dengan nada canggung, matanya menatap cemas pada map tebal di tanganku.
“Bukan aku,” jawabku dingin tanpa menoleh. “Anakku.”
Raut wajah Rizky berubah seketika. “Anakmu?”
Pintu lift terbuka di lantai dasar. Aku melangkah keluar dengan cepat, namun Rizky nekat mengikuti langkahku dari belakang. Di dekat kursi tunggu, Nisa sedang memeluk boneka kelincinya. Begitu melihatku, putri kecilku melompat kegirangan.
“Mama!” panggilnya lembut.
Aku berjongkok, mengusap lembut rambut lurus Nisa yang tertata rapi, lalu mencium keningnya. Ketika aku berdiri kembali, aku menyadari tubuh Rizky gemetar hebat. Matanya menatap wajah Nisa tanpa berkedip.
Rizky melangkah mendekat dengan napas memburu. “Berapa umurnya, Indah?”
“Lebih dari tiga tahun,” jawabku jujur.
Ya Allah! Raut wajah Rizky seketika hancur. Dia mulai menghitung bulan dan tahun dalam benaknya. Mata lelaki itu berair dan memerah. “Dia… anak kita?”
Aku tidak memberikan jawaban lisan, namun tatapan mataku yang tajam sudah cukup menegaskan kebenaran yang tersembunyi selama ini.
“Indah!” teriak Rizky histeris hingga membuat beberapa pasien dan perawat menoleh.
“Jangan berteriak di depan anakku!” tegasku menahan amarah.
Rizky tertawa getir, suara tawanya penuh kehampaan. “Anakmu? Jika dia anakku, bagaimana mungkin selama lebih dari tiga tahun aku tidak pernah tahu aku memiliki seorang putri?!”
“Sekarang kamu sudah tahu,” balasku datar.
“Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?!” gertak Rizky sambil maju selangkah.
Aku menggenggam jemari kecil Nisa semakin erat. Dengan suara bergetar namun tegas, aku mengajukan satu pertanyaan yang membakar dadanya. “Kamu masih ingat bayi pertama kita yang hilang empat tahun lalu?”
Rizky langsung membeku. Amarah di wajahnya luntur seketika.
Bagaimana mungkin dia bisa lupa? Empat tahun lalu, ketika pernikahan kami berada di ujung tanduk akibat fitnah kekejamannya dan godaan perempuan lain, aku mengalami pendarahan hebat hingga janin dalam kandunganku berpulang. Hari kelam itu menghancurkan seluruh kepercayaanku padanya.
“Setelah kita resmi bercerai di pengadilan, aku baru menyadari bahwa aku sedang mengandung lagi,” lanjutku dengan tatapan tanpa rasa takut. “Setelah trauma mendalam atas kehilangan bayi pertama kita akibat ulahmu, apakah kamu pikir aku akan mempertaruhkan nyawa bayi ini di dalam keluarga kalian yang beracun?”
Cengkeraman tangan Rizky melonggar. Tatapannya kembali jatuh pada Nisa, lalu matanya terbelalak saat menyadari gelang pasien khusus berwarna kuning yang melingkar di pergelangan tangan putriku.
“Kenapa dia diperiksa di poli jantung?” tanya Rizky dengan suara gemetar.
Sebelum aku sempat melarangnya, Nisa dengan polosnya menjawab, “Nisa sudah pernah operasi dada, Paman.”
Wajah Rizky kian memutih bagai kertas. “Operasi?!”
“Kelainan jantung bawaan sejak lahir. Semua sudah ditangani,” potongku cepat.
“Kapan? Berapa biaya yang kamu keluarkan?!” cercar Rizky panik. “Aku akan membayar seluruh biaya rumah sakit ini! Kirim semua tagihannya padaku!”
“Tidak perlu,” balasku dingin. “Kami tidak membutuhkan uangmu.”
Saat perselisihan itu memuncak, seorang perawat berjalan mendekat sambil membawa bingkisan hadiah kecil. “Selamat siang, Ibu. Ini ada bingkisan manis untuk adiknya. Hari ini keluarga Bapak Rizky Mahardika sedang membagikan kebahagiaan untuk seluruh bangsal.”
Perawat itu tersenyum manis lalu menambahkan, “Istri Pak Rizky, Ibu Dira, baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan pagi ini.”
Jantungku berdegup kencang, namun bibirku tersenyum sinis. Hari ini adalah hari paling bahagia bagi Rizky karena mendapatkan anak laki-laki penerus tahta. Sementara di lorong dingin ini, putri sulungnya yang berjuang melawan kelainan jantung berdiri tanpa pernah diakui.
“Ayo pulang, Nisa,” bisikku sambil menarik lembut tangan putriku menuju tangga darurat.
Rizky mencoba mengejarku, namun langkahnya terhenti saat mantan ibu mertuaku, Ibu Ratna, muncul dari balik koridor VIP bersama perawat.
“Rizky! Mau ke mana kamu? Dira dan bayi laki-lakimu sedang menunggu di kamar!” seru Ibu Ratna dengan nada sombong.
Namun Rizky tidak menghiraukan ibunya. Dia memanggil namaku dengan suara serak yang penuh penyesalan. “Indah! Tunggu!”
Tanpa membalikkan badan, aku menjawab di tangga darurat, “Kembalilah pada istri barumu dan bayi laki-lakimu. Jangan tiba-tiba berpura-pura menjadi ayah yang penyayang hanya karena secara tidak sengaja melihat wajah putriku!”
Aku terus berjalan tanpa menoleh lagi. Namun, di belakangku, Rizky langsung memanggil asisten pribadinya dengan wajah penuh emosi. “Aditya! Cari seluruh dokumen medis anak itu sekarang juga!”
Beberapa menit kemudian, map rekam medis Nisa tiba di tangan Rizky. Saat membukanya di lembar pertama, napas Rizky terhenti total ketika membaca satu fakta yang mengerikan tentang operasi jantung Nisa saat berusia satu tahun…
Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇
BAGIAN 2
Rizky berdiri kaku di lorong Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta dengan tangan gemetar memegang berkas rekam medis yang baru saja didapatkan oleh asistennya, Aditya. Setiap lembar kertas medis itu serasa menyayat dadanya tanpa ampun.
Di lembar pertama, tertera jelas bahwa Nisa pernah mengalami masa kritis saat usianya belum genap satu tahun akibat kelainan septum ventrikel jantung. Anak perempuan kecil itu harus menjalani operasi bedah dada terbuka selama delapan jam penuh—sebuah pertaruhan nyawa yang dilakukan tanpa kehadiran seorang ayah di sisinya.
Namun, yang paling menghancurkan perasaan Rizky adalah kolom identitas keluarga. Pada baris bertuliskan ‘Nama Ayah Kandung’, hanya ada garis tipis yang kosong. Tidak ada nama Rizky Mahardika di sana. Di mata hukum dan medis, Rizky dianggap tidak pernah ada dalam hidup darah dagingnya sendiri.
“Ya Allah… Apa yang telah kulakukan?” gumam Rizky dengan mata memerah dan tubuh gemetar.
“Pak Rizky, Ibu Ratna sudah menunggu di ruang VIP lantai empat untuk acara pemotongan tumpeng syukuran kelahiran anak laki-laki Anda,” ucap Aditya pelan dari sampingnya.
Rizky menatap Aditya dengan pandangan penuh amarah dan kekosongan. “Aditya, empat tahun lalu… Saat Indah keluar dari rumahku dengan pakaian compang-camping setelah kita bercerai, apakah kamu tahu dia sedang hamil?”
Aditya menunduk dalam-dalam, menghindari tatapan Rizky. “Saya… saya tidak tahu pasti, Pak. Saat itu Ibu Dira meminta saya untuk segera mengantar Ibu Indah ke stasiun kereta tanpa memberikan uang sepeser pun.”
Mendengar nama Dira, dada Rizky bergemuruh hebat. Pikiran Rizky terlempar kembali pada kenangan empat tahun lalu—sebuah masa kelam yang menghancurkan pernikahan pertamanya bersama Indah.
Dahulu, Indah adalah wanita berhati emas. Saat bertandang ke sebuah kampung kecil di Jawa Tengah, Indah menemukan Dira yang hidup terlunta-lunta akibat terlilit hutang keluarga. Karena rasa kasihan yang mendalam, Indah membawa Dira ke Jakarta, memberinya tempat tinggal yang layak di rumah mereka, bahkan membantunya mendapatkan pekerjaan sebagai staf administrasi di perusahaan tekstil milik Rizky.
Namun, kebaikan Indah justru dibalas dengan racun berbisa. Dira yang silau akan kemewahan hidup di Jakarta mulai merancang rencana licik untuk menggeser posisi Indah. Dengan paras cantiknya dan sikap lembut yang dibuat-buat, Dira perlahan-lahan mendekati Rizky dan mengompori Ibu Ratna, ibu kandung Rizky yang memang sangat mendambakan cucu laki-laki.
Puncaknya terjadi empat tahun lalu. Ketika Indah dinyatakan hamil anak pertama, Dira secara tersembunyi memasukkan ramuan berbahaya ke dalam minuman herbal Indah hingga menyebabkan Indah pendarahan hebat dan janinnya berpulang ke Rahmatullah. Tidak berhenti di situ, Dira memanfaatkan kepedihan Indah dengan memfitnahnya sebagai wanita histeris, tidak stabil secara mental, dan cemburu buta. Ibu Ratna yang terhasut langsung menuding Indah sebagai wanita pembawa sial dan mandul yang tidak layak berada di keluarga Mahardika.
Di bawah tekanan hebat ibunya dan akumulasi kesalahpahaman yang diciptakan Dira, Rizky yang tumpul mata hatinya menandatangani surat cerai dan mengusir Indah dari rumah megah mereka di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Hanya dalam waktu enam bulan setelah perceraian itu, Rizky menikahi Dira atas desakan Ibu Ratna.
“Kurang ajar!” bisik Rizky penuh penyesalan yang mendalam. Kebenaran yang terlambat kini menghantam kesadarannya bagai gada besi.
Rizky melangkah cepat menuju kamar VIP lantai empat, tempat istri barunya dirawat. Pintu kamar terbuka lebar, menampilkan ruangan mewah bertabur bunga dan balon biru. Di atas tempat tidur VIP, Dira tampak bersandar anggun dengan senyum mengembang, sementara Ibu Ratna dengan bangga menggendong bayi laki-laki yang baru lahir.
“Rizky! Dari mana saja kamu?” seru Ibu Ratna dengan wajah berseri-seri. “Lihat anakmu! Hidungnya mancung, kulitnya bersih. Dia adalah penerus tunggal kekayaan keluarga Mahardika! Tidak seperti mantan istrimu yang tidak bisa memberikan keturunan itu, Dira benar-benar menantu idaman!”
Dira tersenyum manja. “Mas Rizky, kemarilah. Lihat putra kita. Aku sudah memberinya nama kakekmu.”
Namun, tidak ada kehangatan di mata Rizky. Lelaki itu berjalan mendekati tempat tidur dengan raut wajah dingin yang mengerikan. Dia melempar map rekam medis Nisa ke atas meja kaca di samping tempat tidur.
“Siapa anak perempuan yang baru saja kubertemu di koridor lantai dasar, Dira?” tanya Rizky dengan nada suara rendah namun sangat menakutkan.
Dira tertawa canggung, matanya menunjukkan kepanikan singkat. “Anak siapa, Mas? Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”
“Indah ada di rumah sakit ini!” bentak Rizky hingga Ibu Ratna terlonjak kaget. “Dia membawa seorang anak perempuan berusia tiga setengah tahun! Wajah anak itu adalah cerminan dari wajahku sendiri! Dan anak itu pernah menjalani operasi jantung tanpa sedikit pun bantuan dariku!”
Ibu Ratna mengerutkan keningnya, lalu mencibir tajam. “Hah! Paling itu anak dari pria lain! Mana mungkin itu anakmu! Dulu dokter sudah bilang Indah sulit hamil setelah musibah itu. Jangan biarkan wanita itu merusak kebahagiaan kelahiran putra pertamamu!”
“Tutup mulut Ibu!” teriak Rizky murka. Ini pertama kalinya Rizky berani membentak ibu kandungnya sendiri. “Indah tidak pernah menyerah pada pernikahan kita! Akulah yang bodoh karena mendengarkan semua fitnah busuk di rumah ini!”
Wajah Dira mendadak pucat pasi. “Mas Rizky… kenapa kamu membelanya? Aku ini istri sahmu yang baru saja melahirkan anakmu dengan bertaruh nyawa!”
Rizky menatap Dira dengan tatapan penuh kebencian. Pengalaman hidup dan intuisi bisnisnya mendadak curiga. Selama tiga tahun menikah dengan Dira, wanita itu selalu gagal hamil. Namun tiba-tiba, sembilan bulan lalu setelah Rizky sering bertugas luar kota ke Yogyakarta dan Surabaya, Dira mendadak mengumumkan kehamilannya.
Rizky berbalik menatap Aditya yang berdiri di dekat pintu. “Aditya, panggil tim laboratorium independen sekarang juga. Ambil sampel darahku dan sampel darah bayi yang ada di gendongan Ibu!”
Kata-kata Rizky membuat seluruh ruangan mendadak hening seketika. Dira menjerit histeris dari atas tempat tidur.
“Demi Tuhan, Mas Rizky! Apa-apaan ini?!” teriak Dira dengan air mata mengalir deras. “Kamu meragukan anak kandungmu sendiri demi wanita masa lalumu?! Ibu, tolong aku! Mas Rizky sudah gila!”
Ibu Ratna berdiri pasang badan memeluk bayi itu erat-erat. “Rizky! Kamu tidak boleh menghina kehormatan keluarga kita seperti ini! Bayi ini adalah cucu kandungku!”
“Jika bayi ini memang darah dagingku, kenapa kalian harus takut?!” tegas Rizky dingin. “Aku tidak akan membiarkan satu sen pun harta keluarga Mahardika jatuh ke tangan orang yang salah. Lakukan tes DNA sekarang!”
Selama dua hari berikutnya, suasana di rumah sakit dan kediaman Mahardika berubah menjadi seperti neraka. Rizky menolak menyentuh bayi laki-laki itu sebelum hasil tes DNA resmi keluar. Sementara itu, Rizky mengerahkan seluruh anak buahnya untuk melacak keberadaan Indah dan Nisa di Jakarta.
Hasil penyelidikan membongkar tabir kebohongan yang jauh lebih mengerikan dari perkiraan Rizky.
Dua hari kemudian, di ruang rapat pribadi rumah sakit, sebuah amplop berstempel resmi dari laboratorium genetik diletakkan di atas meja. Di dalam ruangan itu, hadir Rizky, Ibu Ratna, Dira yang masih lemah, dan Aditya yang berdiri menyendiri di sudut ruangan dengan wajah bersimbah keringat dingin.
Rizky membuka amplop tersebut dengan jemari yang kokoh. Matanya membaca baris demi baris hasil analisis ilmiah tersebut. Saat sampai pada kesimpulan akhir, bibir Rizky mengukir senyuman yang sangat mengerikan.
“Hasil tes DNA menunjukkan tingkat probabilitas sebesar nol persen,” ucap Rizky dengan nada suara yang begitu tenang namun mampu meremukkan tulang. “Bayi laki-laki ini… sama sekali bukan anak kandungku.”
“Apa?!” jerit Ibu Ratna histeris. Tubuh wanita tua itu gemetar hebat, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Tidak mungkin! Ini pasti salah! Dira, katakan pada Ibu kalau ini tidak benar!”
Dira menundukkan kepala, menangis sesenggukan tanpa berani membantah.
Rizky melemparkan selembar foto rahasia ke atas meja. Foto-foto tersebut memperlihatkan Dira sedang keluar masuk hotel berbintang di daerah Jakarta Selatan bersama seorang pria—pria yang tidak asing lagi bagi mereka semua.
Pria di dalam foto itu adalah Aditya, asisten pribadi Rizky sendiri.
“Astaga! Kurang ajar!” pekik Ibu Ratna saat melihat foto-foto tersebut. Wajahnya merah padam, dadanya naik turun menahan guncangan jiwa. “Aditya?! Dira?! Kalian… kalian berdua bertindak curang di belakang anakku?!”
Aditya langsung berlutut di lantai dengan tubuh gemetar ketakutan. “Ampun, Pak Rizky! Ampunkan saya! Ibu Dira yang memaksa saya! Beliau takut diusir karena selama tiga tahun tidak bisa memberikan Pak Rizky keturunan. Ketika Bapak bertugas ke luar kota, Ibu Dira merayu saya!”
“Bohong! Kamu yang merayuku, Aditya!” teriak Dira saling tuduh dalam kepanikan.
“Cukup!” bentak Rizky dengan suara menggelegar. “Empat tahun lalu kalian berdua bekerja sama menyingkirkan Indah dari hidupku! Dira memberi ramuan berbahaya pada Indah, dan kamu Aditya, membantu menyembunyikan bukti-buktinya! Dan sekarang kalian mencoba menipuku dengan bayi ini?!”
Ibu Ratna terduduk lemas di kursi, menangis meraung-raung meratapi kebodohannya sendiri. Wanita tua yang selama ini membanggakan nasab dan harta kekayaan keluarganya kini harus menanggung malu yang teramat sangat. Cucu laki-laki yang diagung-agungkannya hanyalah hasil pengkhianatan menantu kesayangannya dengan seorang asisten pribadi.
“Usir Dira dan Aditya dari rumahku sekarang juga!” perintah Rizky pada para pengawal pribadinya. “Sita seluruh perhiasan, mobil, dan harta yang pernah kuberikan pada Dira. Laporkan mereka berdua ke kepolisian atas tindakan penipuan!”
Dira merangkak di lantai, memegang kaki Rizky sambil memohon ampun. “Mas Rizky, maafkan aku! Tolong kasihani aku dan bayi ini, Mas! Jangan usir kami!”
Namun Rizky menepis kaki Dira dengan kasar tanpa rasa iba sedikit pun. Pengawal membawa Dira dan Aditya keluar dari rumah sakit secara paksa diiringi tatapan hina dari seluruh staf rumah sakit.
Ibu Ratna memegang tangan Rizky sambil menangis sesenggukan. “Rizky… maafkan Ibu… Ibu sudah salah menilai orang… Bawa Indah dan cucu perempuan Ibu kembali ke rumah kita, Rizky… Ibu mohon…”
Rizky tidak menjawab. Fokus utamanya saat ini hanyalah satu: memohon ampun pada Indah dan membawa Nisa, putri kandung satu-satunya, kembali ke dalam kehidupannya.
Sore itu, hujan deras mengguyur kota Jakarta. Rizky berlari menembus koridor Klinik Spesialis Jantung Anak RS Harapan Kita. Di sana, di depan ruang kontrol pasien, Indah sedang duduk tenang mendampingi Nisa yang bermain mewarnai gambar.
Rizky berjalan mendekat. Pria jangkung yang dulunya selalu tampil angkuh dan dominan itu kini melangkah dengan tubuh gemetar. Tanpa memedulikan pandangan orang-orang di sekitarnya, Rizky berlutut tepat di hadapan Indah.
“Indah…” bisik Rizky dengan air mata yang menetes deras membasahi pipinya. “Maafkan aku… Demi Allah, maafkan seluruh kebodohanku di masa lalu…”
Indah menatap mantan suaminya dengan pandangan datar tanpa ekspresi. Tidak ada lagi rasa benci, tidak ada lagi rasa cinta. Hanya ada kekosongan yang dingin.
“Untuk apa kamu berlutut di sini, Rizky?” tanya Indah pelan.
“Aku sudah tahu semuanya, Indah!” ucap Rizky sengguk-sengguk. “Dira dan Aditya sudah kubongkar kejahatannya. Anak laki-laki itu bukan anakku! Dira yang telah meracunimu empat tahun lalu! Aku sudah mengusir mereka semua dari hidupku!”
Rizky menggenggam tepi gaun Indah dengan penuh pengharapan. “Kembalilah padaku, Indah. Mari kita bangun kembali keluarga kita. Aku akan memberikan seluruh hartaku untukmu dan Nisa. Rumah mewah di Pondok Indah, saham perusahaan, semuanya akan kunamakan atas nama Nisa! Aku ingin menjadi ayah yang utuh untuk putri kita!”
Indah tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh sindiran yang menusuk jantung Rizky.
“Harta?” bisik Indah lembut. “Saat Nisa berjuang antara hidup dan mati di meja operasi dua tahun lalu, di mana hartamu? Saat aku harus bekerja membanting tulang siang dan malam untuk membayar biaya pengobatannya, di mana keberadaanmu?”
“Aku tahu aku bersalah, Indah! Tolong beri aku kesempatan kedua!” jerit Rizky penuh penderitaan.
“Kesempatan itu sudah habis empat tahun lalu, Rizky,” jawab Indah tenang.
Pada saat itulah, pintu ruang dokter spesialis terbuka. Seorang pria bertubuh tegap dengan jas putih dokter keluar dari dalam ruangan. Wajahnya tampan, berwibawa, dan memiliki tatapan mata yang hangat. Pria itu adalah Dr. Budi Santoso, dokter spesialis bedah jantung anak terkemuka di Indonesia yang memimpin operasi penyelamatan nyawa Nisa dua tahun lalu.
Dr. Budi melangkah mendekat, lalu dengan lembut merangkul bahu Indah. Nisa yang melihat dokter tersebut langsung tersenyum lebar dan melompat ke pelukannya.
“Papa Budi!” panggil Nisa riang sambil memeluk leher Dr. Budi.
Mata Rizky terbelalak lebar. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat mendengar kata ‘Papa’ keluar dari mulut putri kecilnya untuk pria lain.
“Siapa pria ini, Indah?!” bentak Rizky dengan suara gemetar, mencoba berdiri namun kakinya terasa lemas.
Dr. Budi menatap Rizky dengan tenang namun penuh ketegasan seorang pelindung. “Saya adalah Budi Santoso. Suami sah dari Indah, dan ayah hukum yang telah secara resmi mengadopsi Nisa sejak dua tahun lalu.”
“Bohong!” teriak Rizky histeris. “Aku adalah ayah kandungnya secara biologis! Kamu tidak punya hak atas putriku!”
Indah berdiri di samping suaminya, menatap Rizky dengan pandangan paling dingin yang pernah ada.
“Kamu salah, Rizky,” ucap Indah dengan nada suara tegas yang mengakhiri segalanya.
Indah mengeluarkan selembar surat keputusan pengadilan dari dalam tasnya dan meletakkannya di tangan Rizky.
“Secara hukum negara dan hukum agama, hak asuh serta hak wali Nisa telah sepenuhnya dicabut darimu karena kamu dianggap menelantarkan anak selama bertahun-tahun,” lanjut Indah. “Dua tahun lalu, ketika Nisa membutuhkan donor dan perawatan medis bernilai miliaran Rupiah, Dr. Budi bukan hanya menyelamatkan nyawa putriku di meja operasi, tetapi juga hadir memberikan kasih sayang seorang ayah yang nyata saat kamu sibuk memanjakan wanita penipu di rumah megahmu.”
Rizky membuka dokumen tersebut dengan tangan gemetar hebat. Di lembar pengesahan hukum, nama Nisa telah resmi berganti menjadi Nisa Santoso, terdaftar secara legal sebagai anak dari Dr. Budi Santoso dan Indah.
“Tidak… Ini tidak mungkin… Nisa itu darah dagingku!” histeris Rizky meratapi nasibnya.
“Darah daging yang pernah kamu abaikan sebelum dia sempat melangkah,” potong Indah tajam. “Sekarang, kembalilah ke rumah megahmu yang kosong itu, Rizky. Nikmati kekayaanmu sendirian bersama ibumu. Karena putriku sudah memiliki ayah sejati yang tidak akan pernah meninggalkannya.”
Indah menggandeng tangan Dr. Budi dan menggendong Nisa, melangkah pergi meninggalkan koridor rumah sakit tanpa pernah berpaling lagi.
Di belakang mereka, di tengah dinginnya koridor rumah sakit Jakarta, Rizky Mahardika tersungkur di lantai, menangis meraung-raung meratapi penyesalan seumur hidup yang tak akan pernah bisa diperbaiki lagi.
