Suamiku Tega Meninggalkanku Saat Hamil Demi Dampingi Murid Cantiknya Ke Eropa Selama 4 Tahun, Pulang Bawa Medali Emas Dan Wanita Lain, Putraku Malah Bertanya: “Mama, Om Ini Siapa?” Wajahnya Membeku Saat Kuberikan Kejutan Pahit Ini!

BAGIAN 1
Suamiku pergi meninggalkanku saat aku baru saja memegang alat tes kehamilan bergaris dua. Hari itu, bukannya kecupan hangat atau pelukan bahagia yang kudapatkan, melainkan koper hitam besar yang sudah terkemas rapi di dekat pintu front depan rumah kami di kawasan Jakarta Selatan.
Empat tahun kemudian, dia kembali ke Indonesia. Dia pulang membawa kehormatan besar untuk bangsa, medali emas yang berkilau di dadanya, dan seorang wanita muda yang selama empat tahun terakhir tidak pernah lepas dari sisinya.
Yang tidak pernah dia duga sedikit pun adalah—tiga tahun yang lalu, aku sudah secara resmi menghapus namanya dari dalam hatiku. Aku sudah berhenti menunggunya.
Hari Aditya Prasetya melangkahkan kakinya kembali ke Jakarta, puluhan wartawan dari berbagai media nasional memadati halaman depan rumahku. Cahaya kilat kamera menyambar-nyambar tanpa henti, memecah kesunyian komplek perumahan kami.
Aditya berdiri dengan sangat gagah di tengah kerumunan. Dia mengenakan jaket seragam tim nasional Indonesia berwarna merah putih. Medali emas juara dunia yang tergantung di lehernya memantulkan cahaya matahari sore yang menyengat. Di samping kirinya, berdiri Indah Kartika. Murid bulutangkis yang dia dibawanya terbang ke Eropa empat tahun lalu. Murid yang kini disanjung seluruh negeri sebagai pahlawan olahraga.
“Coach Aditya! Lihat ke arah kamera sini!”
“Indah! Pose bawa medalinya dong!”
“Bagaimana rasanya akhirnya pulang ke tanah air sebagai pasangan pelatih dan atlet emas Indonesia?”
Seseorang di antara kerumunan bahkan berteriak nyaring, “Kalian berdua benar-benar pasangan paling serasi di dunia olahraga!”
Aku mendengar setiap kata, setiap sorakan, dan setiap tawa gembira itu dari balik pintu kayu rumahku. Tanganku meremas jemari mungil Rizky. Putra kecilku itu baru berusia tiga tahun. Dia mengintip takut dari celah kaca jendela, lalu mendongak menatap mataku dengan polos.
“Mama… kenapa di luar banyak orang? Ada acara apa?” suara kecilnya berbisik.
Aku belum sempat menenangkan dada yang bergemuruh saat bel rumah berbunyi nyaring. Dua kali. Tiga kali. Sangat tidak sabar.
Aku menarik napas panjang, menahan getaran di lututku, lalu membuka pintu kayu itu lebar-lebar.
Untuk pertama kalinya setelah 1.460 hari yang penuh derita dan air mata, aku kembali bertatap muka secara langsung dengan suamiku.
Aditya masih tampak sama. Tinggi, tegap, dengan paras tampan yang dulu selalu kubayangkan hadir saat malam-malam dingin kesepian. Begitu matanya menatap wajahku, bibirnya perlahan mengukir senyuman tipis yang penuh percaya diri. Seolah-olah empat tahun berpisah tanpa kabar konsisten hanyalah sebuah perjalanan dinas singkat yang sedikit terlambat.
Sebelum pergi dulu, dia memegang pundakku dan berbisik manis, “Tunggu aku pulang ya, Nadia. Saat aku kembali nanti, aku akan memberikan kehidupan kelas atas yang layak untuk keluarga kita.”
Saat kalimat itu diucapkannya dulu, aku baru saja ingin membocorkan rahasia bahwa ada benih kehidupannya yang mulai tumbuh di dalam rahimku. Tapi aku tidak pernah mendapat kesempatan itu. Aditya lebih dulu memotong pembicaraanku dengan pengumuman dingin bahwa dia telah menerima tawaran melatih di pusat pelatihan Eropa. Dia tidak pernah bertanya apakah aku setuju. Dia tidak pernah mengajakku berdiskusi. Dia hanya memberi tahu keputusan yang sudah final.
Rencana awal hanya satu tahun. Namun, satu tahun berubah menjadi dua tahun karena Indah mulai menorehkan prestasi di turnamen internasional. Dua tahun berganti menjadi tiga tahun. Setiap kali aku menelepon sambil menahan mual akibat kehamilan dan bertanya kapan dia akan pulang, jawabannya selalu menggunakan kalimat template yang sama.
“Sedikit lagi, Nadia. Indah sedang berada di puncak performanya. Aku tidak bisa meninggalkannya sekarang. Ini demi karierku juga.”
Dan akhirnya, empat tahun berlalu.
Dalam empat tahun tanpa kehadiran seorang suami itu, aku berjuang sendirian di ruang bersalin tanpa genggaman tangannya. Saat Rizky mengalami kejang akibat demam tinggi di tengah malam dan harus dilarikan ke rumah sakit, Aditya sedang mendampingi Indah di turnamen French Open. Pada ulang tahun pertama Rizky, dia hanya mengirimkan paket mainan mahal lewat kurir. Pada ulang tahun kedua, dia menelepon via video call kurang dari dua menit karena harus menghadiri jamuan makan malam bersama sponsor Indah.
Dan pada ulang tahun ketiga Rizky… anakku itu sudah sepenuhnya berhenti bertanya, “Mama, kapan Papa pulang?”
Suara cicit mungil di samping kakiku mendadak menarik kembali kesadaranku. Rizky bersembunyi ketakutan di balik gaun batik yang kupakai. Matanya memperhatikan sosok Aditya dengan pandangan asing.
Lalu, kalimat polos itu meluncur dari bibir kecilnya tanpa dosa.
“Mama…”
“Om ini siapa?”
Seketika itu juga, suasana di halaman rumah mendadak senyap bak kuburan. Senyum percaya diri di wajah Aditya langsung membeku total.
Beberapa kamera pers yang tadinya mengarah pada senyuman manis Indah, kini secara serentak berputar seratus delapan puluh derajat, menyorot tepat ke arah wajah suamiku yang mendadak pucat pasi.
Seorang wartawan senior tanpa ragu langsung menyodorkan miknya dan bertanya lantang, “Coach Aditya! Apakah anak Anda sendiri tidak mengenali wajah ayahnya?”
Ekspresi Aditya berubah drastis. Matanya melotot menatap Rizky, seolah-olah baru saja dihantam kenyataan pahit yang selama empat tahun ini sengaja dia abaikan demi kejayaan kariernya.
Dia berjongkok cepat, mencoba mengumbar senyum manis di depan kamera.
“Rizky… ini Papa, Nak.” Suaranya dibuat seheboh dan melembut mungkin. “Sini sama Papa. Papa mau gendong.”
Namun, bukannya mendekat, Rizky justru menjerit kecil dan makin menyembunyikan wajahnya di balik kakiku.
“Nggak mau! Jangan dekat-dekat! Kenapa Om ini sok kenal sama Rizky?!”
Tangan Aditya yang terulur di udara tertahan kaku. Wajahnya merah padam menahan malu di hadapan puluhan jurnalis.
Melihat situasi yang makin tidak menguntungkan, Indah dengan sigap melangkah maju. Wanita muda itu melemparkan senyum paling menawan ke arah kamera pers.
“Teman-teman media, mohon pengertiannya ya,” potong Indah dengan nada suara yang sangat tenang dan terlatih. “Coach Aditya sudah sangat lama bertugas membela nama negara di luar negeri. Naren masih sangat kecil, jadi sangat wajar kalau dia merasa asing dan butuh waktu untuk beradaptasi.”
Indah tertawa kecil, berniat mencairkan suasana yang tegang. “Jangan bikin anak kecil takut dong. Kalau ada pertanyaan soal kemenangan kita di Eropa, nanti saja ya di acara penyambutan resmi Kemenpora.”
Hanya dengan beberapa kalimat cerdas, Indah berhasil menyelamatkan nama baik Aditya di depan publik. Sebuah pola yang sangat rapi, yang tampaknya sudah sering mereka lakukan berdua di luar negeri.
Para wartawan mulai mengalihkan perhatian kembali pada Indah. “Indah! Siapa sosok yang paling berjasa di balik medali emas juara dunia ini?”
Indah menoleh pelan ke arah Aditya. Pandangan matanya penuh dengan arti yang sangat dalam, tampak begitu mesra dan penuh ketergantungan.
“Tentu saja Coach Aditya,” jawab Indah tanpa ragu. “Tanpa bimbingan, perhatian, dan pengorbanan beliau siang malam selama empat tahun ini, saya tidak akan pernah menjadi siapa-siapa.”
Seorang wartawan infotainment menimpali sambil tertawa bermakna. “Kalian berdua tinggal dan berjuang bersama hampir setiap hari di Eropa selama empat tahun. Apakah hubungan kalian benar-benar murni hanya sebatas pelatih dan atlet?”
Indah tersipu malu. Dia menunduk pelan, sengaja tidak langsung memberikan jawaban tegas yang makin memancing spekulasi publik.
“Coach Aditya adalah pria yang paling memahami seluruh jiwa dan raga saya…” jawabnya menggantung.
Kilatan cahaya kamera kembali membanjiri halaman rumahku. Aku berdiri di ambang pintu rumahku sendiri, menyaksikan dengan mata kepalaku bagaimana suamiku terang-terangan menunjukkan chemistry romantis dengan wanita lain di depan rumah kami.
Aduh, Ya Allah! Jika ini terjadi tiga tahun lalu, mungkin dadaku akan sesak dan air mataku akan mengalir deras sampai habis. Tapi hari ini? Aku hanya merasa sangat geli dan lelah melihat drama murahan ini.
Aditya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kerumunan wartawan. Dia melangkah tegas mendekatiku dengan raut wajah penuh kewibawaan palsu.
“Masuk dulu ke dalam,” perintahnya dengan nada suara dominan. Nada bicara yang mengindikasikan bahwa dia masih menganggap dirinya sebagai penguasa tunggal di rumah ini. “Kita bicara di dalam. Jangan bikin malu di luar.”
Aku tidak bergeming sedikit pun dari ambang pintu. Tanganku melipat rapat di dada.
“Tidak perlu,” jawabku dingin.
Aditya mengernyitkan dahinya. Matanya menatapku penuh peringatan. “Nadia! Jangan mulai bikin masalah di depan media! Kamu mau merusak momen kemenanganku?!”
Dia mencoba mendorong pintu dan melangkah melewatiku begitu saja. Namun, aku berdiri tegak memblokir jalan masuk.
Aditya menghentikan langkahnya, giginya bergelatuk menahan amarah. “Ini rumahku juga! Aku suami kamu!”
Aku menatap lurus ke dalam manik matanya tanpa rasa takut sedikit pun. “Bukan. Ini bukan rumahmu lagi.”
Raut wajahnya makin membeku. “Apa maksudmu?!”
“Ini adalah tempat tinggal bersih untukku dan Rizky. Tempat di mana nama dan bayanganmu sudah kami buang ke tempat sampah sejak lama.”
Rahang Aditya mengeras seketika. “Nadia, cukup! Jangan bertindak kekanak-kanakan! Aku baru saja menginjakkan kaki di Jakarta setelah berjuang keras. Kamu mau mempermalukanku di depan seluruh pers Indonesia?!”
Dia lalu mengucapkan satu kalimat paling hipokrit yang pernah kudengar sepanjang hidupku.
“Empat tahun ini aku mengorbankan perasaan dan jiwaku di luar negeri demi masa depan keluarga kita!”
Aku menatap medali emas berkilau di dadanya. Lalu mengalihkan pandanganku pada Indah yang berdiri memegang tas mewahnya tidak jauh di belakangnya.
Dengan nada suara paling tenang namun menusuk, aku bertanya kepadanya, “Keluarga yang mana, Aditya?”
Aditya langsung bungkam seribu bahasa. Matanya melotot, tak mampu menjawab.
Tanpa membuang waktu lagi, aku memegang bahu Rizky, menarik anakku masuk ke dalam rumah.
BRAK!
Kututup pintu kayu tebal itu dengan keras tepat di depan hidungnya, mengunci rapat seluruh akses dari luar!
Malam harinya, sekitar pukul sembilan malam, terdengar suara gerendel kunci mencoba diputar secara paksa dari luar pintu depan.
Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tetap tidak bisa terbuka.
Tentu saja tidak akan bisa. Aku sudah mengganti seluruh sistem penguncian rumah ini dengan kunci digital dua tahun lalu.
Tak lama kemudian, ponsel yang kuletakkan di atas meja makan berdering nyaring. Nama “Aditya” tertera di layarnya. Aku menggeser tombol hijau dan menempelkannya di telinga tanpa mengcapkan salam.
“Apa-apaan semua ini, Nadia?!” bentak suara di seberang sana dengan nada penuh amarah yang meluap-luap. “Kamu mengganti kunci rumah?! Kamu mau mengunciku di luar seperti anjing?!”
Sebelum aku sempat membalas bentakannya, sebuah notifikasi pesan masuk terdengar dari ponselnya sendiri. Pengacaraku baru saja mengirimkan sebuah dokumen resmi berformat PDF langsung ke nomor WhatsApp pribadinya.
Hening sejenak. Di seberang telepon, suara napas Aditya yang tadinya memburu mendadak terhenti total.
Aku sangat tahu apa yang sedang dibacanya saat ini melalui layar ponselnya. Di halaman utama dokumen berkop resmi itu, tertera tulisan tebal berbintik merah:
GUGATAN CERAI DAN TUNTUTAN HAK ASUH ANAK SEPENUHNYA.
“Nadia…” Suara Aditya mendadak berubah drastis. Kesombongannya menguap, berganti dengan getaran cemas yang nyata. “Kamu… kamu mau menceraikanku?”
Aku menghela napas pelan, menatap wajah Rizky yang sudah tertidur pulas dan damai di atas sofa ruang tamu.
“Aku tidak baru mau menceraikanmu sekarang, Aditya,” jawabku dengan nada datar tanpa beban.
“Aku sudah ingin menceraikanmu dan membuangmu dari hidupku sejak tiga tahun yang lalu…”
Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇
BAGIAN 2
Keheningan di seberang telepon terasa begitu mencekam. Aditya tidak bersuara selama beberapa detik, hanya terdengar deru napasnya yang berat dan tidak teratur.
“Nadia! Kamu sudah gila ya?!” teriaknya tiba-tiba, memecah kesunyian malam. “Aku baru saja pulang membawa kehormatan untuk negara! Namaku sedang harum di seluruh media! Dan kamu malah mengirimkan berkas perceraian murahan ini?! Kamu mau menghancurkan karierku?!”
“Kariermu bukan tanggung jawabku lagi sejak kamu memilih mengabaikan anak kandungmu sendiri,” jawabku dingin.
“Kurang ajar kamu, Nadia! Buka pintunya sekarang! Kita selesaikan ini di dalam!” bentaknya sambil memukul pintu depan rumahku dengan keras. Suara hantamannya berdentum nyaring di tengah malam yang sepi.
“Kalau kamu tidak pergi dalam waktu lima menit dari depan rumahku, aku akan memanggil petugas keamanan komplek dan melaporkanmu atas tindakan pengancaman serta pengrusakan,” ancamku tegas tanpa ragu sedikit pun. “Pengacaraku sudah merekam seluruh percakapan telepon ini.”
Aditya menggeram penuh dendam di seberang sana. “Kamu akan menyesal, Nadia! Demi Tuhan, kamu akan memohon padaku untuk kembali!”
Telepon ditutup secara sepihak. Aku mendengar suara langkah kaki yang dihentakkan kasar meninggalkan teras rumah, disusul suara derum mesin mobil yang melaju kencang meninggalkan kawasan komplek perumahan.
Aku menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan detak jantungku yang berdebar keras. Ya Allah, berikan aku kekuatan untuk menyelesaikan pertarungan ini sampai akhir.
Keesokan harinya, seperti yang sudah kuprediksi, berita utama di berbagai media cetak, televisi, dan portal berita online nasional langsung gempar. Foto Aditya yang berdiri membeku di depan pintu rumahku menjadi tajuk utama di mana-mana.
“JUARA DUNIA DITOLAK MASUK RUMAH SENDIRI! APABILA KESUKSESAN MEMBUAT LUPA ISTRY DAN ANAK?”
“SKANDAL DIBALIK MEDALI EMAS: COACH ADITYA DIGUGAT CERAI ISTRINYA TEPAT DI HARI KEPULANGI PARADE KEMENANGAN!”
Nama baik Aditya yang baru saja diagung-agungkan langsung tercoreng hebat. Publik mulai mempertanyakan integritas moril sang pelatih emas. Komentar-komentar pedas dari netizen membanjiri akun media sosial milik Aditya dan Indah.
Namun, drama Sinetron kehidupan ini baru saja dimulai.
Sekitar pukul sebelas siang, sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan rumahku. Pintu rumahku digedor dengan sangat kasar. Kali ini, bukan Aditya yang datang, melainkan Ibu Ratna—ibu mertuaku—bersama dengan Aditya dan Indah yang mengekor di belakangnya.
Aku membuka pintu dengan tenang. Begitu pintu terbuka, Ibu Ratna langsung menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya yang gemetaran karena emosi.
“Nadia! Wanita tidak tahu diri!” jerit Ibu Ratna dengan suara melengking hingga tetangga sebelah rumah keluar untuk melihat. “Dasar istri tidak tahu diuntungkan! Suamimu berjuang mati-matian di Eropa membela nama bangsa Indonesia, pulang membawa medali emas dan uang miliaran Rupiah, kamu malah membuat malu keluarga di depan wartawan!”
Aditya berdiri di belakang ibunya dengan tangan bersedekap, memasang wajah penuh kemenangan seolah-olah mendapat pembelaan dari sang ibu. Sementara Indah berdiri dengan wajah memelas yang berpura-pura sedih.
“Ibu datang ke sini hanya untuk memaki saya?” tanyaku datar, sedikit pun tidak gentar menghadapi gertakan wanita tua itu.
“Kamu harus mencabut gugatan cerai itu sekarang juga!” perintah Ibu Ratna galak. “Kamu pikir kamu siapa?! Kalau bukan karena Aditya yang menafkahimu, kamu dan anakmu itu sudah mati kelaparan di Jakarta!”
Tawa sinis meluncur dari bibirku. Kata-kata “menafkahi” dari mulut ibu mertuaku terdengar sangat menggelikan.
“Menafkahi?” ulangku dengan penekanan tajam. Aku melangkah ke meja teras, mengambil sebuah map tebal berwarna merah yang sudah kusiapkan sejak tadi pagi, lalu melemparkannya tepat ke dada Aditya.
Map itu terjatuh ke lantai teras. Lembaran-lembaran kertas bukti transaksi bank dan laporan keuangan berhamburan di atas keramik.
“Coba Ibu baca kertas-kertas itu baik-baik sebelum bicara soal nafkah!” kataku menyindir tajam.
Aditya dengan cemas membungkuk, mengambil lembaran-lembaran kertas itu. Begitu membaca judul dan angka-angka yang tertera di sana, matanya terbelalak lebar. Wajahnya mendadak pucat pasi, lebih pucat dari kertas yang dipegangnya.
“Empat tahun lalu, tiga hari sebelum Aditya terbang ke Eropa membawa Indah, dia menarik uang tabungan milik almarhum ayahku sebesar delapan ratus juta Rupiah dari rekening bersama kami!” ungkapku dengan suara nyaring agar terdengar oleh tetangga dan beberapa awak media yang ternyata diam-diam mengintai dari balik pagar komplek.
“Dia mencuri uang warisan ayahku tanpa izin! Uang yang seharusnya dipakai untuk biaya persalinanku dan investasi masa depan anak kami!” sambungku penuh penekanan.
Ibu Ratna terpaku, matanya menatap Aditya dengan ragu. “Aditya… apa benar yang dikatakan wanita ini?”
Aditya gagap, lidahnya mendadak kaku. “I-Ibu… itu… itu uang untuk biaya operasional awal tim di Eropa! Sponsor di sana terlambat mencairkan dana! Aku terpaksa memakainya demi karier Indah!”
“Demi karier Indah?!” pekikku menatapnya jijik. “Kamu meninggalkan istri tercintamu yang sedang hamil muda di Jakarta dengan sisa uang di rekening hanya lima puluh ribu Rupiah! Saat hari raya Idul Fitri, aku bahkan tidak sanggup membeli daging sapi untuk dimasak karena seluruh uangku kamu kuras habis!”
“Astaga…” gumam beberapa tetangga yang menyaksikan kejadian itu dari balik pagar perumahan.
“Selama empat tahun ini,” lanjutku dengan mata berkaca-kaca menahan emosi yang terpendam lama, “aku berjuang sendirian! Aku berjualan batik tulis secara online dan membuka katering nasi goreng dari dapur kecil ini dari subuh sampai malam demi membayar biaya rumah sakit, membeli susu formula Rizky, dan membayar cicilan rumah ini!”
Aku menunjuk tepat ke wajah Indah yang mulai panik. “Sementara uang ratusan juta hasil curian dari suamiku itu kamu nikmati bersama wanita ini di hotel-hotel mewah Eropa! Apakah itu yang dinamakan menafkahi, Ibu Ratna?!”
Ibu Ratna terdiam kaku. Dia tidak mampu lagi berkutik. Kebenaran yang sangat membagongkan itu menghantam kepalanya bagai disambar petir di siang bolong.
Indah yang merasa terpojok mencoba membela diri dengan suara gemetar. “Mba Nadia… tolong jangan fitnah saya! Saya tidak tahu apa-apa soal uang warisan itu! Saya hanya fokus berlatih di bawah bimbingan Coach Aditya!”
“Fitnah?” aku tersenyum dingin. “Lalu bagaimana dengan transferan rutin senilai lima puluh juta Rupiah setiap bulan dari rekening Aditya ke rekening pribadimu dengan keterangan ‘Uang Jajan Indah’? Apakah itu juga bagian dari program latihan bulutangkis?!”
Indah mendadak bungkam. Mukanya merah padam karena malu luar biasa.
Aditya yang merasa terdesak dan kehilangan muka di depan publik akhirnya menunjukkan tabiat aslinya. Dia melangkah maju dengan mata melotot kejam.
“Cukup, Nadia!” gertaknya kasar. “Bahkan kalaupun aku memakai uang itu, aku sudah mengembalikannya lewat nama besar yang kubawa pulang hari ini! Medali emas ini harganya jauh lebih mahal dari uang delapan ratus juta rupiah milik ayahmu yang sudah mati itu!”
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi kanan Aditya!
Tangan kananku gemetar hebat usai melayangkan tamparan tersebut. Napasku terengah-engah. “Jangan pernah kamu berani menghina almarhum ayahku, lelaki tidak tahu diri!”
Aditya memegang pipinya yang memerah. Matanya menyipit penuh dendam. “Kamu sudah keterlaluan, Nadia! Kamu pikir kamu bisa menang dariku di pengadilan?! Kamu hanya seorang janda miskin penjual nasi goreng dan batik eceran! Aku punya pengacara terbaik di Jakarta dan dukungan penuh dari sponsor internasional!”
Dia lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik penuh ancaman. “Sponsor utamaku dari Eropa, Nusantara Global Sports, baru saja mendatangani kontrak kerja sama eksklusif denganku bernilai sepuluh miliar Rupiah! Sekali usap, aku bisa menghancurkan hidupmu dan mengambil hak asuh Rizky secara paksa dari tanganmu!”
Aku tidak takut. Malah sebaliknya, aku menatap wajah suamiku itu dengan tatapan paling kasihan yang pernah ada.
“Kita buktikan saja semuanya di Pengadilan Agama minggu depan, Aditya,” jawabku sangat tenang. “Sekarang, angkat kaki kalian dari rumahku sebelum aku melepaskan anjing penjaga komplek.”
Satu minggu kemudian, Pengadilan Agama Jakarta Selatan menjadi saksi pertarungan sengit antara kami. Ruang sidang dipenuhi oleh awak media dan pengunjung yang ingin menyaksikan akhir dari skandal terbesar dunia olahraga tahun ini.
Aditya datang dengan penuh percaya diri. Dia mengenakan jas mahal berwarna hitam, didampingi oleh tim pengacara kondang yang disewanya dengan harga fantastis. Di deretan kursi pengunjung, Indah dan Ibu Ratna duduk dengan dagu terangkat, yakin bahwa kemenangan akan berada di pihak mereka.
Di sisi lain, aku duduk tenang di samping pengacaraku, Bapak Budi—seorang pria paruh baya yang sangat berpengalaman dan berwibawa. Aku mengenakan gaun batik tulis bermotif mega mendung berwarna biru gelap buatan tanganku sendiri.
Hakim Ketua mengetukkan palunya, membuka persidangan resmi.
Pengacara Aditya langsung mengambil alih panggung dengan nada suara membumbung tinggi. “Yang Mulia Hakim, klien kami, Saudara Aditya Prasetya, adalah seorang pahlawan nasional yang telah mengharumkan nama bangsa. Penggugat, Saudara Nadia, secara sengaja mengajukan gugatan cerai dan tuduhan palsu ini hanya demi memeras harta gono-gini serta mencari popularitas di media sosial! Kami menuntut agar gugatan ini ditolak dan hak asuh anak sepenuhnya diserahkan kepada klien kami!”
Hakim Ketua menatap pengacaraku. “Bagaimana tanggapan dari pihak Penggugat?”
Bapak Budi berdiri dengan anggun. “Yang Mulia, kami tidak hanya bermaksud melanjutkan gugatan perceraian ini atas dasar penelantaran anak dan istri selama empat tahun berturut-turut, tetapi kami juga mengajukan tuntutan ganti rugi materiil dan imateriil atas tindak pidana penggelapan dana warisan sebesar delapan ratus juta Rupiah.”
Pengacara Aditya tertawa mengejek. “Tuduhan penggelapan itu sangat tidak berdasar! Klien kami telah menginvestasikan dana tersebut untuk membiayai pelatihan internasional yang menghasilkan medali emas! Dan perlu dicatat, klien kami saat ini terikat kontrak kerja sama eksklusif bernilai sepuluh miliar Rupiah dengan perusahaan apparel olahraga terbesar di Asia Tenggara, Nusantara Global Sports! Klien kami sangat mampu secara finansial untuk merawat anak tersebut!”
Aditya tersenyum culas di kursi pesakitan, menatapku dengan pandangan meremehkan. Seolah-olah uang sepuluh miliar Rupiah itu adalah benteng kokoh yang tidak akan pernah bisa kutembus.
Bapak Budi membetulkan letak kacamata tebalnya, lalu tersenyum tipis. “Ah, sepertinya Kuasa Hukum Tergugat kurang memperbarui informasi terkini mengenai jajaran direksi dan pemilik saham mayoritas dari Nusantara Global Sports.”
Aditya mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu?!”
Bapak Budi menyerahkan sebendel berkas hukum berkulit hitam tebal kepada Majelis Hakim, lalu menampilkan sebuah dokumen digital di layar proyektor ruang sidang.
“Untuk diketahui oleh Majelis Hakim dan Tergugat,” kata Bapak Budi dengan suara menggelegar yang menggema di seluruh ruangan, “Nusantara Global Sports bukanlah perusahaan asing murni. Perusahaan tersebut didirikan empat tahun lalu di Eropa oleh sebuah konsorsium bisnis batik internasional.”
Layar proyektor menampilkan sertifikat pendirian perusahaan dan struktur pemilik saham. Di urutan paling atas, tertera nama pemilik saham sebesar tujuh puluh lima persen sekaligus Chairman utama perusahaan:
NADIA PARAMITA.
Suasana ruang sidang seketika pecah! Suara gemuruh kaget dan bisik-bisik ketakutan langsung memenuhi seluruh ruangan!
Aditya terlonjak berdiri dari kursinya dengan wajah pucat bagai mayat! “N-Nggak mungkin! Ini pasti rekayasa! Ini dokumen palsu!”
“Tidak ada yang rekayasa, Saudara Aditya,” potong Bapak Budi tegas. “Selama empat tahun Anda bersenang-senang di Eropa menggunakan uang hasil mencuri dari almarhum ayah Penggugat, Ibu Nadia bekerja keras membangun bisnis ekspor kain batik modern ke pasar Eropa. Bisnis batik tersebut berkembang sangat pesat hingga mampu mengakuisisi saham mayoritas Nusantara Global Sports dua tahun lalu!”
Aku berdiri pelan dari kursiku, menatap Aditya yang kini tubuhnya gemetaran hebat.
“Kamu selalu menganggapku hanya sebagai janda miskin penjual batik eceran, kan Aditya?” kataku dengan suara tenang namun penuh penekanan. “Kamu tidak pernah tahu bahwa merek pakaian olahraga yang dipakai oleh Indah selama bertanding di kompetisi dunia adalah hasil rancangan dan milik perusahaanku!”
Aditya terduduk lemas di kursinya. Matanya melotot tidak percaya. Dunia tempatnya berpijak seolah runtuh seketika di bawah kakinya.
Namun, kejutan paling pahit untuknya tidak berhenti sampai di situ.
“Dan berdasarkan pasal pelanggaran kode etik serta pencemaran nama baik yang tertera dalam draf kontrak kerja sama Nusantara Global Sports,” lanjut Bapak Budi dengan senyum dingin, “pagi ini, jajaran direksi Nusantara Global Sports telah secara resmi membatalkan seluruh kontrak sponsorship bernilai sepuluh miliar Rupiah atas nama Aditya Prasetya dan Indah Kartika!”
“APA?!” jerit Indah dari kursi pengunjung. Wanita muda itu langsung berdiri dengan wajah histeris.
“Bukan hanya membatalkan kontrak,” tambah Bapak Budi tanpa ampun, “pihak perusahaan juga melayangkan tuntutan ganti rugi sebesar lima belas miliar Rupiah kepada Saudara Aditya dan Indah atas pelanggaran klausa moralitas serta skandal perselingkuhan yang merusak citra merek perusahaan kami!”
Indah mendadak lemas, jatuh terduduk di lantai ruang sidang sambil menangis histeris. “Coach Aditya! Anda bilang semuanya akan aman-aman saja! Anda bilang istri Anda hanya wanita kampungan yang bisa diatur! Kenapa jadi begini?!”
Indah menatap Aditya dengan pandangan penuh kebencian. “Saya tidak mau ikut menanggung utang lima belas miliar itu! Saya menyesal pernah percaya sama Anda!”
Indah memungut tas mewahnya lalu berlari keluar dari ruang sidang meninggalkan Aditya begitu saja. Hubungan ‘mesra’ yang dipamerkan selama empat tahun di Eropa menguap dalam hitungan detik ketika roda nasib berputar.
Ibu Ratna memegangi dadanya yang terasa sesak, pingsan di kursi pengunjung dan harus digotong oleh petugas keamanan pengadilan.
Majelis Hakim akhirnya mengetukkan palu sidang dengan tegas.
“Mengabulkan seluruh gugatan Penggugat. Menjatuhkan talak cerai kepada Tergugat. Menetapkan hak asuh anak sepenuhnya berada di tangan Penggugat, Saudara Nadia Paramita. Menghukum Tergugat untuk mengembalikan dana warisan sebesar delapan ratus juta Rupiah serta membayar biaya ganti rugi yang telah ditetapkan.”
Dua bulan kemudian.
Sore itu, hujan deras mengguyur kota Jakarta. Air mengalir deras di sepanjang trotoar di depan gedung pencakar langit kawasan bisnis SCBD.
Aku melangkah keluar dari lobi utama gedung kantor pusat Nusantara Global Sports. Aku mengenakan pakaian formal yang elegan, menggandeng tangan kecil Rizky yang mengenakan jaket tebal. Di sampingku, Bapak Budi berjalan setia memayungi kami berdua menuju mobil Alphard hitam yang sudah menunggu di depan pintu kedatangan.
Tiba-tiba, seorang pria dengan pakaian lusuh dan rambut berantakan berlari menerobos hujan, melemparkan tubuhnya hingga berlutut di atas lantai basah tepat di depan kakiku.
Itu Aditya.
Pria yang dulu dipuja sebagai pelatih emas Indonesia kini tampak sangat mengenaskan. Seluruh asetnya telah disita oleh pengadilan untuk membayar utang dan ganti rugi. Rumahnya disita, lisensi kepelatihannya dicabut oleh federasi olahraga akibat skandal moral, dan dia kini tinggal di sebuah kamar kos sempit di pinggiran Jakarta.
“Nadia… tolong aku, Nadia…” ratap Aditya dengan suara serak, air matanya bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya. “Aku mohon maafkan aku… Aku salah… Aku telah menjadi suami dan ayah yang sangat jahat…”
Dia mencoba meraih ujung celanaku, namun Bapak Budi dengan sigap menghalangi tangannya.
Aditya menatap Rizky yang berdiri di sampingku dengan tatapan memelas. “Rizky… ini Papa, Nak… Ini Papa kandungmu… Tolong bilang sama Mama supaya mau maafkan Papa…”
Rizky menatap pria yang berlutut basah kuyup di depannya itu dengan pandangan dingin tanpa emosi. Anak tiga tahun itu sama sekali tidak menunjukkan rasa kasihan.
Rizky makin erat memeluk jemari tanganku, lalu mendongak menatap wajah Bapak Budi yang memegang payung di atas kepala kami.
Lalu, kalimat terakhir meluncur dari bibir polos anakku, menghantam sisa-sisa kesombongan Aditya hingga hancur berkeping-keping.
“Papa Budi… ayo kita masuk ke mobil, Om jahat yang basah ini bikin Rizky takut.”
Aku tersenyum tipis, mengelus lembut kepala putraku tanpa memandang sedikit pun ke arah pria yang masih menangis tersedu-sedu di atas lantai basah. Aku terus melangkah maju memasuki mobil mewahkan, meninggalkan masa lalu yang kelam tenggelam di dalam derasnya air hujan Jakarta.
