PARTE 1
“Bonus akhir tahun enam puluh juta rupiah itu sudah aku transfer semuanya ke Sari.”

Kalimat pertama yang keluar dari mulut suamiku malam itu membuat tanganku berhenti di atas layar ponsel.
Raka berdiri di dekat meja makan, melepas jam tangannya seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat biasa.
Sebelum aku sempat bertanya, dia langsung menambahkan,
“Ayah Sari baru meninggal. Ibunya sakit, anaknya masih kecil. Kondisi keluarganya benar-benar kacau. Aku tidak mungkin diam saja.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu mataku turun ke notifikasi yang baru masuk dari panti lansia tempat ibunya tinggal.
Tagihan bulan ini: Rp8.600.000.
Itu belum termasuk popok dewasa, obat tambahan, susu nutrisi, biaya pendamping pribadi, kontrol rumah sakit, dan transportasi ambulans jika diperlukan.
Selama enam bulan terakhir, setiap kali tagihan datang, Raka selalu mengatakan hal yang sama.
“Nadira, bulan ini aku lagi seret. Kamu talangi dulu, ya?”
Dan aku selalu membayar.
Karena Bu Ratna adalah ibunya.
Dan setelah menikah dengan Raka, aku menganggap perempuan itu juga keluargaku.
Tapi malam ini, lelaki yang enam bulan berturut-turut tidak punya uang untuk kebutuhan ibunya justru memberikan seluruh bonus akhir tahunnya kepada sahabat perempuan masa kecilnya.
Aku tersenyum.
“Memang seharusnya begitu.”
Raka tampak lega.
Dia mungkin mengira aku akan marah.
“Syukurlah kamu mengerti. Aku tahu kamu selalu baik.”
Aku tidak menjawab.
Keesokan paginya, aku datang ke panti lansia sebelum berangkat ke kantor.
Manajer panti, Bu Mira, menerima berkas yang kusodorkan lalu menatapku dengan bingung.
“Ibu Nadira yakin ingin menghentikan perawatan Bu Ratna?”
“Yakin.”
Tangannya berhenti saat hendak menandatangani formulir.
“Selama dua tahun ini semua urusan Bu Ratna selalu Ibu yang pegang. Kondisinya juga tidak mudah. Setelah stroke, emosinya sering tidak stabil. Malam hari kadang berteriak, menolak obat, bahkan pernah menuduh penghuni lain mencuri barangnya.”
Aku tahu.
Aku tahu lebih baik daripada siapa pun.
Dua tahun terakhir, setiap tanggal lima belas, aku yang membayar tagihan.
Aku yang membeli pakaian ketika musim hujan datang.
Aku yang berlari ke panti pukul dua pagi ketika tekanan darah Bu Ratna tiba-tiba melonjak.
Raka?
Dia hanya datang tiga kali.
Pertama, saat ibunya baru dimasukkan.
Saat itu dia melihat kamar ibunya lalu berkata kepadaku,
“Tempat ini agak sepi, ya. Bisa cari yang lebih bagus?”
Kedua, ketika keluarga besarnya datang menjenguk.
Raka mengambil beberapa foto, mengirimkannya ke grup keluarga, lalu menulis,
“Ibu nyaman di sini. Jangan khawatir.”
Ketiga, ketika ulang tahun Bu Ratna.
Dia membawa kue, duduk dua puluh menit, lalu pergi karena katanya ada rapat mendadak.
Sejak itu, seluruh keluarga mengenal Raka sebagai anak berbakti.
Dan aku sebagai istri yang “pandai mengurus rumah”.
Sederhana sekali.
Dia menjaga citra.
Aku yang membayar harga di balik citra itu.
Bu Mira menghela napas.
“Kalau keluar dari sini, siapa yang akan merawat Bu Ratna?”
Aku menulis nomor telepon Raka di kolom penanggung jawab keluarga.
“Anaknya.”
Bu Mira menatapku.
“Mulai hari ini, semua urusan biaya, kontrol, obat, dan perawatan, hubungi Raka Mahendra.”
Tak lama kemudian, Mbak Lina, perawat yang biasa menangani Bu Ratna, berlari turun membawa kotak obat.
“Ibu Nadira, benar Bu Ratna mau pulang?”
“Iya.”
Mbak Lina terlihat khawatir.
“Dua malam terakhir beliau tidak tidur. Jam tiga pagi masih ribut. Kalau dirawat di rumah, harus ada orang yang mengawasi hampir dua puluh empat jam.”
Aku menerima kotak obat itu.
Di setiap sekat sudah tertempel label pagi, siang, malam.
Aku sendiri yang membuat label itu.
Aku juga membuat jadwal obat besar yang ditempel di samping tempat tidur supaya petugas tidak salah.
Raka bahkan tidak tahu benda-benda itu ada.
Aku tersenyum tipis.
“Kalau begitu, anaknya harus belajar.”
Saat hendak pergi, aku melewati ruang aktivitas.
Bu Ratna sedang duduk di kursi roda sambil menyuruh petugas mengupas jeruk.
Begitu melihatku, wajahnya langsung masam.
“Nadira! Sweater yang kemarin Ibu minta mana? Jangan bilang kamu lupa lagi!”
Biasanya aku akan menjelaskan panjang lebar.
Hari ini tidak.
“Belum saya beli.”
Bu Ratna membelalak.
“Apa?”
Aku meletakkan map di pangkuannya.
“Besok Raka akan menjemput Ibu pulang.”
Mata Bu Ratna langsung berbinar.
“Benarkah? Akhirnya! Sudah dari dulu Ibu bilang tempat ini tidak cocok. Anak Ibu itu mampu. Kalau bukan karena kamu, pasti dari dulu dia sudah membawa Ibu pulang.”
Aku mengangguk.
“Iya, Bu.”
Aku menatapnya lurus.
“Mulai sekarang kalau Ibu butuh apa pun, bilang langsung kepada anak Ibu.”
Dia tidak menangkap maksudku.
Malah tersenyum puas.
“Memang seharusnya begitu. Raka itu anak paling berbakti.”
Di parkiran, ponselku bergetar.
Raka mengirim foto.
Sari duduk di koridor rumah sakit dengan mata sembap, memegang bunga putih.
Di bahunya ada jaket Raka.
Yang paling menarik perhatianku bukan jaket itu.
Melainkan tangan Raka di sudut foto.
Cincin kawinnya sudah dilepas.
Beberapa detik kemudian pesan suara masuk.
“Nadira, aku tahu kamu mungkin kurang suka soal uang tadi. Tapi ini masalah kemanusiaan. Sari benar-benar sendirian. Jangan bikin masalah sekarang, ya?”
Aku menatap layar ponsel.
Lalu tertawa kecil.
Tidak.
Kali ini aku tidak akan membuat masalah.
Aku hanya akan berhenti menyelesaikan masalah yang selama ini dia ciptakan.
Dan Raka sama sekali belum tahu bahwa besok pagi, ibunya akan dikirim langsung ke rumah kami bersama dua koper, satu kursi roda, dan seluruh tanggung jawab yang selama bertahun-tahun dia lemparkan kepadaku.
PARTE 2
Pukul sembilan pagi, Raka meneleponku tujuh kali.
Aku tidak menjawab.
Pada panggilan kedelapan, sebuah pesan masuk.
“NADIRA, KAMU NGAPAIN?!”
Aku sedang duduk di ruang rapat ketika membaca pesan itu.
Lima menit kemudian pesan lain muncul.
“Panti telepon aku. Katanya Ibu disuruh pulang?!”
Aku menjawab singkat.
“Bukan disuruh. Perawatannya dihentikan.”
Telepon langsung masuk.
Kali ini kuangkat.
“Nadira, kamu gila?”
Aku bisa mendengar suara Bu Ratna berteriak di belakangnya.
“Raka! Bilang ke sopir jangan taruh koper Ibu sembarangan!”
Aku hampir tertawa.
Raka menurunkan suara.
“Kenapa kamu tidak diskusi dulu denganku?”
“Bukankah itu ibumu?”
“Tentu ibuku!”
“Bagus. Berarti tidak ada masalah.”
Dia terdiam.
Lalu suaranya meninggi.
“Aku kerja! Siapa yang mau jaga Ibu?”
“Cari caregiver.”
“Bayarnya mahal!”
Aku melihat keluar jendela kantor.
“Enam puluh juta untuk Sari tidak mahal.”
Telepon mendadak hening.
Beberapa detik kemudian dia berkata,
“Kamu jangan campur dua hal berbeda.”
“Benar.”
Aku menjawab tenang.
“Ibumu memang tidak ada hubungannya dengan Sari.”
Aku menutup telepon.
Malam itu aku pulang hampir pukul sembilan.
Begitu pintu dibuka, aku langsung mendengar suara Bu Ratna.
“Airnya terlalu dingin! Selimutnya tipis! Obat malam mana?”
Ruang tamu berantakan.
Dua koper terbuka.
Kursi roda menghalangi jalan.
Raka berdiri dengan rambut kusut dan kemeja belum diganti.
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, wajahnya terlihat benar-benar lelah karena merawat ibunya sendiri.
Begitu melihatku, dia langsung mendekat.
“Nadira, kita bicara.”
“Aku mau mandi.”
Dia menahan lenganku.
“Kita harus masukkan Ibu lagi ke panti.”
Aku menatap tangannya sampai dia melepaskannya.
“Silakan.”
Wajahnya berubah sedikit lebih cerah.
“Tapi aku tidak tahu prosedurnya. Kamu urus besok, ya?”
Aku hampir kagum.
Bahkan setelah semua ini, dia masih mengira aku akan membereskan semuanya.
Aku berjalan ke kamar, mengambil sebuah map cokelat, lalu menyerahkannya.
“Daftar panti ada di sini. Nomor telepon juga.”
Raka membolak-balik isinya.
“Terus biaya?”
“Bayar sendiri.”
“Kita kan suami istri.”
“Kemarin bonusmu juga uang keluarga.”
Dia langsung membela diri.
“Sari akan mengembalikannya.”
“Kapan?”
Raka tidak menjawab.
Aku masuk kamar.
Saat membuka lemari untuk mengambil pakaian, mataku tertuju pada kotak dokumen di bagian paling bawah.
Aku menariknya keluar.
Di dalamnya ada buku tabungan bersama, polis asuransi, dokumen cicilan apartemen, dan beberapa kuitansi.
Aku mulai menghitung.
Selama dua tahun terakhir, hampir seluruh pengeluaran Bu Ratna dibayar dari rekening pribadiku.
Totalnya jauh lebih besar daripada yang kukira.
Lalu aku menemukan sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Sebuah slip transfer.
Nama penerima:
SARI WULANDARI.
Tanggalnya bukan kemarin.
Melainkan delapan bulan lalu.
Nominalnya Rp25.000.000.
Di bawahnya ada slip lain.
Rp15.000.000.
Lalu Rp18.500.000.
Tanganku membeku.
Raka bukan baru sekali membantu Sari.
Dia sudah melakukannya berkali-kali.
Dan beberapa transfer dilakukan pada bulan yang sama ketika dia mengatakan tidak punya uang untuk biaya perawatan ibunya.
Aku mengambil semua slip itu.
Saat itulah sebuah kuitansi kecil jatuh dari antara dokumen.
Bukan transfer bank.
Melainkan uang muka sewa apartemen.
Nama penyewa:
Sari Wulandari.
Nama penjamin:
Raka Mahendra.
Dadaku terasa dingin.
Ternyata enam puluh juta itu bukan awal dari masalah.
Itu hanya satu bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Dan ketika malam itu ponsel Raka menyala di meja karena sebuah pesan masuk, aku tanpa sengaja melihat satu kalimat yang membuat seluruh tubuhku kaku.
“Mas, kapan kamu bilang ke Nadira kalau apartemen ini sebenarnya untuk kita?”
PARTE 3
Aku tidak langsung mengambil ponsel itu.
Aku juga tidak berteriak.
Justru anehnya, setelah membaca pesan tersebut, pikiranku menjadi sangat tenang.
Seolah-olah potongan puzzle yang selama bertahun-tahun tercecer akhirnya menemukan tempatnya.
Raka selalu punya uang ketika orang lain membutuhkan bantuan.
Untuk teman kantor yang anaknya masuk rumah sakit.
Untuk sepupu yang ingin membuka usaha.
Untuk Sari yang katanya kesulitan membayar sekolah anak.
Untuk membelikan tablet baru karena anak Sari harus mengikuti kelas daring.
Tapi ketika ibunya perlu membayar panti lansia, dia “sedang seret”.
Ketika cicilan rumah jatuh tempo, dia meminta aku menutupinya dulu.
Ketika aku ingin mengganti laptop kerja yang rusak, dia berkata kami harus lebih hemat.
Aku selalu mengira Raka terlalu murah hati.
Ternyata bukan.
Dia hanya murah hati menggunakan uang yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sendiri.
Karena dia tahu aku akan menutup kekurangannya.
Pintu kamar terbuka.
Raka masuk.
Melihat map dan slip transfer di tempat tidur, wajahnya langsung berubah.
“Kamu bongkar barangku?”
“Barang kita.”
Dia terdiam.
Aku mengangkat kuitansi apartemen.
“Ini apa?”
Raka langsung menarik napas.
“Nadira, jangan salah paham.”
Aku tertawa.
Selama lima tahun menikah, kalimat itu mungkin adalah kalimat favoritnya.
Jangan salah paham.
Ketika dia mengantar Sari pulang tengah malam.
Jangan salah paham.
Ketika dia membayar uang sekolah anak Sari.
Jangan salah paham.
Ketika dia melepas cincin kawin di rumah sakit.
Dan sekarang, ketika dia menyewa apartemen untuk perempuan itu.
“Jelaskan.”
Raka mengusap wajah.
“Sari dan anaknya harus pindah. Rumah kontrakan lamanya bermasalah. Aku cuma bantu jadi penjamin.”
“Untuk kita?”
Wajah Raka memucat.
“Apa?”
Aku mengambil ponselnya dari meja dan menunjukkan notifikasi tadi.
Seketika dia ingin merebutnya.
Aku mundur.
“Nadira, dengarkan dulu.”
“Silakan.”
Dia berjalan mondar-mandir.
“Aku dan Sari tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Aku belum bilang aku berpikir apa.”
“Kami memang dekat. Tapi dia sedang rapuh setelah ayahnya meninggal. Suaminya juga sudah lama pergi. Aku cuma…”
“Mau menyelamatkannya.”
Raka berhenti.
Aku tersenyum.
“Kamu suka sekali jadi penyelamat, ya?”
“Nadira…”
“Teman kesulitan, kamu penyelamat. Sari menangis, kamu penyelamat. Anaknya butuh tablet, kamu penyelamat.”
Aku menunjuk ke arah ruang tamu, tempat suara ibunya masih terdengar memanggil-manggil.
“Tapi begitu ibumu sendiri butuh seseorang, kamu mencariku.”
Raka mengepalkan rahang.
“Kamu sengaja membawa Ibu pulang untuk menghukumku.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Aku hanya mengembalikan tanggung jawab kepada pemiliknya.”
Saat itulah Bu Ratna berteriak dari luar.
“Raka! Ibu mau ke toilet!”
Raka memejamkan mata.
“Nadira, tolong bantu dulu.”
Aku menatapnya tanpa bergerak.
Dia jelas tidak terbiasa.
Selama bertahun-tahun, semua hal yang menyusahkan selalu selesai sebelum sampai ke tangannya.
Aku yang memastikan obat tersedia.
Aku yang menelepon dokter.
Aku yang membayar caregiver.
Aku yang menghadapi amarah ibunya.
Jadi bagi Raka, ibunya memang “baik-baik saja”.
Karena semua penderitaan itu terjadi di tempat yang tidak pernah dia lihat.
“Nadira!”
Bu Ratna kembali berteriak.
Akhirnya Raka berlari keluar.
Dari kamar aku mendengar kegaduhan.
Kursi roda bergeser.
Bu Ratna mengomel.
“Pelan-pelan! Kamu mau jatuhkan Ibu?”
“Aku juga baru belajar, Bu.”
“Kalau Nadira yang bantu tidak begini!”
Aku menutup mata.
Ironis sekali.
Perempuan yang selama dua tahun mengatakan aku tidak becus mengurusnya, baru sadar keberadaanku setelah aku berhenti.
Keesokan paginya, aku pergi ke bank.
Rekening bersama kami sebenarnya sebagian besar berisi uangku.
Gajiku lebih tinggi daripada Raka sejak dua tahun lalu, tetapi aku tidak pernah mempermasalahkannya.
Aku hanya berpikir kami adalah satu keluarga.
Aku mencetak mutasi rekening selama dua tahun.
Dan di situlah kebohongan Raka terlihat lebih jelas.
Beberapa kali dia menarik uang dari rekening bersama tanpa memberitahuku.
Nominalnya tidak besar jika dilihat satu per satu.
Lima juta.
Delapan juta.
Tujuh juta lima ratus.
Tetapi jika dijumlahkan, jumlahnya mendekati seratus juta.
Sebagian waktunya berdekatan dengan transfer kepada Sari.
Aku membawa salinan mutasi itu pulang.
Malamnya, Raka sedang duduk di ruang makan dengan wajah lelah.
Di meja ada daftar harga tiga panti lansia.
“Aku telepon beberapa tempat,” katanya.
Aku hampir ingin bertepuk tangan.
Akhirnya dia bisa melakukan sesuatu sendiri.
“Tapi tempat yang bagus mahal sekali.”
“Sekarang kamu tahu.”
Dia menatapku.
“Panti yang lama masih bisa terima Ibu?”
“Entahlah. Kamu telepon sendiri.”
Raka menghela napas.
“Nadira, sampai kapan kamu mau begini?”
Aku meletakkan mutasi rekening di depannya.
“Sampai kamu menjelaskan ini.”
Wajahnya langsung kehilangan warna.
“Aku bisa jelaskan.”
“Seratus juta lebih.”
“Itu bukan semuanya untuk Sari.”
“Berapa yang untuk Sari?”
Raka diam.
Aku mengangguk pelan.
“Baik.”
Aku mengeluarkan laptop.
“Mulai bulan depan, rekening bersama kita hentikan.”
Dia menatapku tajam.
“Apa maksudmu?”
“Cicilan apartemen dibagi sesuai kepemilikan. Tagihan rumah dibagi dua. Pengeluaran pribadimu tanggung sendiri.”
“Dan Ibu?”
“Ibumu tanggung jawabmu.”
Raka berdiri.
“Dia juga mertuamu!”
Aku menatapnya.
“Benar.”
“Lalu kenapa kamu tega?”
Pertanyaan itu begitu lucu hingga aku hampir tidak percaya dia mengucapkannya.
“Aku sudah membayar kebutuhan ibumu selama dua tahun ketika anak kandungnya sibuk membayar kebutuhan perempuan lain. Sekarang kamu bertanya kenapa aku tega?”
Suara Raka mengecil.
“Nadira, aku cuma ingin membantu Sari.”
“Dengan uang rumah tangga kita?”
“Dia tidak punya siapa-siapa.”
“Dia punya kamu.”
Ruangan langsung hening.
Aku membuka map lain.
Di dalamnya ada seluruh bukti pengeluaran Bu Ratna selama dua tahun.
Obat.
Panti.
Kontrol.
Caregiver.
Ambulans.
Susu nutrisi.
Totalnya lebih dari dua ratus juta rupiah.
Aku mendorongnya ke arah Raka.
“Ini biaya yang selama ini kutalangi.”
Dia memandangi angka terakhir dengan wajah terkejut.
“Sebanyak ini?”
“Ya.”
Dia benar-benar tidak tahu.
Karena dia tidak pernah bertanya.
Aku berkata,
“Aku tidak akan menagih semuanya. Anggap itu bagian tanggung jawabku selama masih menjadi menantu.”
Raka mengangkat kepala.
“Selama masih?”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah menjadi panik.
“Nadira, jangan bicara sembarangan.”
“Aku tidak sedang sembarangan.”
Dia segera pindah duduk lebih dekat.
“Aku salah. Soal uang, aku akui salah. Tapi antara aku dan Sari belum terjadi apa-apa.”
Aku tersenyum tipis.
“Belum?”
Raka sadar dia salah bicara.
“Nadira…”
“Masalahnya bukan cuma apakah kamu sudah tidur dengannya atau belum.”
Aku menunjuk semua dokumen di meja.
“Masalahnya kamu membuatku menjadi istri, bendahara, caregiver, dan penanggung jawab keluargamu, sementara kamu menggunakan tenaga, waktu, dan uangmu untuk membangun kehidupan emosional bersama perempuan lain.”
Raka tidak menjawab.
Dari kamar, terdengar suara Bu Ratna.
“Nadira!”
Aku berdiri.
Tetapi bukan untuk menghampirinya.
Aku mengambil koper yang sejak dua hari lalu sudah kusiapkan.
Raka membeku.
“Kamu mau ke mana?”
“Ke apartemen kantor sementara.”
“Nadira, jangan pergi.”
“Kenapa?”
Dia berdiri cepat.
“Ibu bagaimana?”
Aku akhirnya tertawa.
Bukan karena lucu.
Tapi karena setelah semua percakapan tentang pernikahan kami, pertanyaan pertamanya tetap tentang siapa yang akan mengurus ibunya.
Aku menarik koper menuju pintu.
Raka mengejarku.
“Aku bisa berubah.”
Aku berhenti.
“Bagus.”
Dia menatapku penuh harap.
Aku melanjutkan,
“Mulailah dari mengganti popok ibumu malam ini.”
Wajahnya membeku.
Aku membuka pintu.
Sebelum keluar, aku berkata,
“Dan satu hal lagi. Jangan pernah bilang kamu terpaksa membantu Sari karena dia tidak punya siapa-siapa.”
Aku menatap cincin kawin yang masih terpasang di jariku.
“Karena selama ini, orang yang benar-benar sendirian dalam pernikahan ini adalah aku.”
Tiga hari setelah aku pergi, Raka menelepon berkali-kali.
Aku hanya menjawab pesan penting tentang tagihan rumah.
Seminggu kemudian, dia mengirim foto ibunya sudah kembali ke panti.
Bukan panti lama.
Tempat lama menolak menerima kembali setelah mengetahui keluarga menghentikan perawatan secara mendadak.
Panti baru lebih mahal.
Raka harus menjual motornya untuk membayar uang muka tiga bulan.
Sari?
Dia mengirim pesan kepadaku sekali.
Katanya semua ini hanya salah paham.
Aku tidak membalas.
Dua minggu kemudian aku mendengar dari teman kantor Raka bahwa hubungan mereka mulai retak.
Tanpa bonus tahunan, tanpa akses ke rekening bersama, dan dengan biaya ibunya yang kini harus dia tanggung sendiri, Raka tidak lagi punya banyak uang untuk menjadi “penyelamat”.
Apartemen Sari juga batal dilanjutkan setelah uang muka habis.
Yang membuatku terkejut justru Bu Ratna.
Suatu sore, dia meneleponku.
Untuk pertama kali dalam dua tahun, suaranya tidak memerintah.
“Nadira…”
Aku diam.
Lama sekali dia tidak melanjutkan.
Kemudian dia berkata pelan,
“Dulu… ternyata kamu banyak keluar uang untuk Ibu.”
Aku tersenyum pahit.
“Sekarang Ibu tahu?”
“Raka cerita.”
Aku tidak tahu apakah dia meminta maaf.
Mungkin bagi perempuan seperti Bu Ratna, kalimat berikutnya sudah merupakan bentuk permintaan maaf paling jauh yang mampu dia ucapkan.
“Ibu kira selama ini semua dibayar Raka.”
Aku menatap langit dari balkon apartemen sewaanku.
“Tidak apa-apa, Bu. Sekarang Ibu sudah tahu.”
Setelah telepon ditutup, aku melepas cincin kawin.
Aku belum tahu apakah pernikahan ini benar-benar akan berakhir.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah lima tahun, aku tidak merasa takut memikirkan kemungkinan itu.
Aku baru memahami satu hal.
Kebaikan yang terus diberikan tanpa batas kadang tidak membuat orang berterima kasih.
Justru membuat mereka mengira pengorbanan kita adalah kewajiban.
Selama bertahun-tahun, aku selalu menjadi orang yang menambal semua lubang.
Raka boros, aku menutupnya.
Ibunya sakit, aku mengurusnya.
Keluarganya membutuhkan bantuan, aku maju.
Pernikahan kami retak, aku diam-diam memperbaikinya.
Sampai akhirnya aku lupa bertanya:
Siapa yang selama ini memperbaiki aku?
Jawabannya sederhana.
Tidak ada.
Jadi kali ini, aku memutuskan melakukannya sendiri.
Dan jika Raka benar-benar ingin menjadi lelaki yang bertanggung jawab seperti yang selalu dia banggakan di depan semua orang, mungkin sudah waktunya dia belajar satu hal paling dasar:
Menolong seluruh dunia tidak ada artinya jika orang yang paling dekat denganmu selalu dipaksa membayar harganya.
