PART 2
Jumat sore berikutnya, Aris datang lebih awal ke panti werdha.
Dia meminta waktu berbicara dengan Maya di ruang istirahat staf dekat mesin kopi.
Di ruangan kecil itu, Maya akhirnya menceritakan semuanya.
Maya mengenal Rendy ketika dia baru berusia 15 tahun.
Saat itu, ibu kandung Maya mengidap kecanduan berat dan hidup mereka berpindah-pindah dari satu kontrakan kumuh ke rumah kerabat.
Maya sering menghabiskan sore di perpustakaan umum daerah Joyoboyo karena di sana aman dan ada kipas angin.
Rendy adalah relawan muda yang sering membantu anak-anak sekolah di sana.
Suatu hari, Rendy duduk di depan Maya sambil membawa sebungkus roti bakso yang sangat besar.
“Mau setengah?” tawar Rendy.
Maya menggeleng.
Rendy menaikkan bahunya.
“Baguslah, aku juga lapar.”
Beberapa menit kemudian, Rendy pergi dan “secara tidak sengaja” meninggalkan separuh roti bakso itu di atas meja Maya.
Sejak hari itu, setiap Kamis sore Rendy selalu datang.

Dia tidak pernah bertanya di mana Maya tinggal atau mengapa seragam sekolah Maya tampak lusuh.
Rendy hanya membawa makanan, buku pelajaran, dan gitar tuanya.
Ketika Maya berniat putus sekolah karena tidak punya biaya, Rendy menyanyikan lagu itu untuk pertama kalinya.
“Rendy bilang, lagu itu dibuat untuk orang-orang yang merasa tersesat dan berpikir tidak ada yang bisa menemukan mereka lagi,” ujar Maya.
Aris menunduk memandangi cangkir kopinya.
“Lalu apa yang terjadi setelah itu?”
“Lagu itu memberi saya kekuatan,” kata Maya dengan mata berkaca-kaca. “Saya menyelesaikan SMP, masuk SMA, dan berhasil dapat beasiswa kuliah keperawatan.”
Maya menarik napas dalam-dalam.
“Tapi Rendy tidak pernah tahu. Tepat 2 minggu setelah dia menyanyikan lagu itu untuk saya… dia meninggal dalam kecelakaan.”
Keheningan melingkupi ruang kecil itu.
Aris menatap Maya dengan pandangan berbeda.
“Apakah Rendy pernah menceritakan tentang saya?” tanya Aris pelan.
Maya memandang Aris cukup lama sebelum menjawab.
“Sering sekali.”
“Apa katanya?”
Maya ragu sejenak.
“Dia bilang, dia sangat mengkhawatirkan Anda.”
Kata-kata itu membuka kembali luka lama di hati Aris yang dipendamnya selama 8 tahun.
Sejak hari itu, Aris datang ke panti werdha jauh lebih sering.
Dia mulai mengamati cara Maya merawat ibunya.
Aris belajar bahwa merawat seseorang yang kehilangan ingatan tidak bisa dilakukan dengan pemaksaan.
“Jangan pernah menanyainya ‘Apakah Ibu ingat ini?'” saran Maya suatu hari ketika melihat Aris menunjukkan foto keluarga lama.
“Kenapa?” tanya Aris.
“Pertanyaan itu hanya mengingatkannya pada apa yang sudah hilang. Tanyakan padanya apa yang dia rasakan saat melihat foto itu.”
Nasihat sederhana itu mengubah cara Aris berinteraksi dengan ibunya.
Aris tidak lagi merasa tertekan saat Maria memanggilnya Rendy.
Suatu sore, Maria bercerita bahwa Aris pernah mencoba membuatkan kue ulang tahun untuk Rendy saat berusia 12 tahun, tapi kuenya gosong dan dapurnya berantakan.
“Itu tidak pernah terjadi, Bu,” sahut Aris spontan.
“Kamu menangis waktu kuenya hancur,” sela Maria yakin.
Maya tersenyum di dekat pintu.
“Saya tidak ada di sana waktu itu,” kata Aris pada Maya.
“Tapi saya percaya cerita Ibu Maria,” jawab Maya bercanda.
Maria menunjuk Maya sambil melihat Aris.
“Gadis ini pintar. Kamu harus menikahinya.”
Maya hampir tersedak air minum yang sedang dipegangnya.
“Ibu…” protes Aris.
Maria lalu menatap Maya.
“Tapi Ibu bingung, kenapa kamu pacaran dengan kedua anak Ibu sekaligus?”
Suasana kamar mendadak hening selama 2 detik sebelum Maya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Aris tertawa lepas.
Itu adalah tawa pertama Aris di dalam kamar ibunya sejak 8 tahun terakhir.
Namun, Maya menyadari ada satu hal yang tidak pernah disentuh oleh Aris.
Aris tidak pernah mau membahas hari kematian Rendy.
Setiap kali topik itu mendekat, Aris langsung mengalihkan pembicaraan atau pergi.
Sampai pada suatu malam hujan, ketika Maria tertidur di ranjangnya.
Maya menemukan beberapa potong biskuit kecil tersimpan di dalam kantong baju hangat Maria.
“Ibu dulu suka memberi makan burung dara di taman kota,” kata Aris pelan sambil memperhatikan biskuit itu. “Rendy yang selalu menemaninya.”
“Rendy menyukai hal-hal kecil,” sahut Maya.
Aris mendadak diam.
Ekspresi wajahnya berubah kelam.
“Apa yang sebenarnya terjadi di hari kecelakaan itu, Pak Aris?” tanya Maya lembut.
Aris menatap ke luar jendela yang terbasahi air hujan.
Selama bertahun-tahun, cerita ini disimpan sendirian.
“Kami bertengkar hebat,” kata Aris dengan suara berat.
Maya tidak memotong.
“Umur saya waktu itu 20 tahun, Rendy 17 tahun. Ayah kami sudah pergi meninggalkan keluarga, dan bisnis keluarga kami bangkrut. Ibu harus bekerja keras sendirian. Saya merasa sebagai anak tertua, saya harus mengendalikan segalanya.”
Aris mengepalkan tangannya.
“Tapi Rendy tidak mau diatur. Dia sering bolos sekolah, datang terlambat, dan hanya peduli pada musik serta kegiatan sosialnya. Saya ingin dia fokus pada masa depannya. Saya ingin dia jadi orang sukses.”
“Lalu?”
“Hari itu, saya menemukan nilai ujiannya anjlok. Kami bertengkar di ruang tamu. Rendy bilang saya berubah jadi pria tua yang kaku dan membosankan.”
Arah mata Aris menunduk ke lantai.
“Saya membentaknya. Saya bilang dia anak yang tidak tahu diri. Saya bilang Ibu sudah cukup menderita, dan saya butuh minimal 1 adik yang tidak membuat rumit semua hal.”
Maya menahan breath.
“Rendy memandang saya dengan mata terluka. Dia mengambil kunci motor dan keluar rumah tanpa mengucapkan satu kata pun.”
Aris menggigit bibir bawahnya.
“58 menit kemudian, telepon rumah berdering dari kantor polisi. Rendy mengalami kecelakaan di jalan lingkar luar.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Aris.
“Saya tidak sempat minta maaf. Saya tidak sempat menarik kembali kata-kata kasar itu. Kata-kata terakhir yang didengar adik saya dari saya adalah bahwa dia adalah beban.”
Aris berdiri dan berjalan ke sudut ruangan.
“Selama 8 tahun saya bekerja keras, mendirikan perusahaan, membeli rumah besar, membayar panti werdha terbaik untuk Ibu… tapi saya tidak pernah bisa memaafkan diri saya sendiri.”
Maya berjalan mendekati Aris.
“Rendy pernah membicarakan pertengkaran kalian seminggu sebelum kejadian itu.”
Aris menoleh cepat.
“Apa?”
“Saya pernah bertanya pada Rendy, kenapa dia tahan punya kakak yang selalu mengatur hidupnya.”
“Apa jawabannya?” suara Aris bergetar.
Maya mengingat kembali kenangan di tangga perpustakaan itu.
“Rendy bilang: ‘Kakakku merasa dia harus memperbaiki dunia sendirian. Suatu hari dia akan sadar bahwa dia tidak perlu menanggung semuanya sendirian.'”
Aris berdiri mematung.
“Rendy tidak pernah membenci Anda, Pak Aris,” lanjut Maya dengan suara lembut tapi tegas. “Dia tahu Anda takut. Dia tahu Anda bekerja keras karena takut keluarga kalian hancur.”
“Tapi kata-kata saya di hari itu…”
“Pertengkaran antara saudara adalah hal biasa,” potong Maya. “Kata-kata kasar saat marah itu menyakitkan, tapi itu tidak mendefinisikan rasa sayang Rendy pada Anda. Rendy sangat menghormati Anda.”
Maya menatap Aris lurus.
“Selama ini Anda menghukum diri Anda sendiri dengan mengurung kenangan Rendy dalam rasa bersalah. Anda lupa betapa banyaknya hal baik yang pernah kalian lewati bersama.”
Aris tidak bisa menahan rasa dadanya yang makin sesak.
Tiba-tiba suara lembut terdengar dari ranjang.
“Aris…”
Kedua orang itu menoleh.
Maria sudah terbangun. Matanya menatap Aris dengan kejernihan yang jarang sekali terjadi.
Aris mendekati ranjang dan berlutut di samping ibunya.
“Iya, Bu. Aris di sini.”
Maria mengulurkan tangannya yang keriput, mengusap rambut Aris.
“Rendy tidak pernah menyalahkanmu, Nak.”
Aris menahan napas.
“Bu…”
“Adikmu sayang padamu,” lanjut Maria dengan suara pelan namun pasti. “Dia tahu kamu bekerja keras untuk keluarga kita.”
Air mata Aris akhirnya menetes jatuh ke seprai ranjang ibunya.
Pria yang selalu tampil tangguh di depan ratusan karyawannya itu kini menangis seperti anak kecil di hadapan ibunya.
“Aku yang menyebabkan dia pergi, Bu…” bisik Aris terdesak rasa bersalah.
“Kecelakaan itu musibah, Aris,” usap Maria pada kepala anaknya. “Bukan salahmu. Lepaskan rasa sakit itu, Nak.”
Aris menundukkan kepala di atas tangan ibunya, menangis tanpa suara.
Maya berdiri diam di samping mereka, memberi ruang bagi Aris untuk melepaskan beban yang dipikulnya selama 8 tahun.
Malam itu menjadi titik balik bagi Aris.
Bulan-bulan berikutnya, kondisi kesehatan dan daya ingat Maria terus menurun sesuai perjalanan penyakitnya.
Ada hari-hari di mana Maria tidak mengenali Aris sama sekali.
Namun Aris tidak lagi merasa patah hati.
Dia belajar menerima keadaan dan menikmati setiap detik yang ada.
Pada awal musim kemarau, pihak panti werdha mengadakan acara syukuran kecil di taman belakang.
Aris datang membawa kue bolu lemon.
Di sana, Maya duduk di kursi taman sambil memangku sebuah tempat gitar tua yang agak kusam.
Aris berjalan mendekat.
“Gitar itu…”
Maya tersenyum.
“Ibu saya menyerahkannya pada saya beberapa tahun lalu sebelum beliau meninggal. Dulu Rendy meninggalkannya di perpustakaan dan meminta petugas menyimpankannya untuk saya.”
Maya mengeluarkan gitar tua dengan kayu yang sedikit terkelupas itu.
“Saya ingin mengembalikannya pada Anda.”
Aris menyentuh kayu gitar adiknya.
Dia merasakan kehangatan kenangan masa lalu, bukan lagi rasa sakit.
“Tidak,” kata Aris pelan. “Simpanlah. Rendy memberikannya padamu karena dia tahu kamu membutuhkannya.”
Maya memangku gitar itu dan mulai memetik senarnya.
NADA demi nada mengalir lembut di udara terbuka.
Maria yang duduk di kursi roda dekat pohon mangga memejamkan mata sambil tersenyum tenang.
Aris mendengarkan lagu itu sampai selesai.
Lagu yang dulunya diciptakan oleh seorang anak laki-laki berusia 14 tahun untuk menguatkan seorang gadis kecil yang hampir menyerah, kini telah membawa gadis itu menjadi seorang perawat yang merawat ibu dari anak laki-laki tersebut.
Kebaikan kecil Rendy di masa lalu telah melompati waktu 8 tahun dan kembali untuk menyembuhkan luka seluruh keluarganya.
Sore itu, saat matahari mulai terbenam di ufuk barat Surabaya, Aris memandang ibunya dan Maya.
Dia tidak lagi teringat pada kalimat terakhir yang diucapkannya pada hari kecelakaan itu.
Kini, yang memenuhi pikirannya adalah tawa adiknya, petikan gitar yang sumbang di dapur rumah lama, dan rasa kasih sayang yang tidak pernah benar-benar hilang.
Aris tersenyum tipis, menggenggam tangan ibunya dengan penuh rasa syukur.
