PART 2
Wajah Rina seketika kehilangan warna.
Baskara menangkap perubahan reaksi istrinya.
“Ada apa dengan Laras?” tanya Baskara pada Sumi.
Sumi menggelengkan kepala.
“Saya tidak ada saat kejadian itu, Pak. Tapi saat minggu pertama saya kerja di sini, saya menemukan sebuah kotak plastik tua di gudang belakang.”
“Kotak apa?”
“Kotak milik Mbak Laras. Di dalamnya ada sebuah surat yang dia tinggalkan sebelum pergi.”
Rina langsung menyela dengan suara tinggi.
“Itu cuma sampah! Pembantu yang dulu memang bermasalah dan suka memfitnah!”
Baskara menatap istrinya tajam.
“Di mana kotaknya sekarang, Sumi?”
Sumi mengantar Baskara menuju gudang kecil di sebelah area jemuran.
Di atas rak paling atas, tersembunyi di belakang tumpukan kardus bekas, terdapat sebuah kotak plastik berdebu.
Baskara mengambil kotak itu dan membukanya.
Di dalamnya ada sepasang sarung tangan karet, buku catatan kusam, dan selembar kertas yang dilipat rapi.
Baskara membuka lipatan kertas tersebut.

Di sana tertulis 3 baris kalimat pendek.
Laras menulis bahwa ia memilih keluar tanpa mengambil sisa gajinya karena setiap pagi ia merasa ketakutan sebelum melangkah masuk ke dalam rumah ini.
Ia merasa selalu disalahkan atas hal-hal yang tidak pernah ia lakukan.
Baskara membaca surat itu berulang kali.
Rina bersandar pada dinding lorong, tidak berani menatap mata suaminya.
“Kamu tahu Laras pergi sambil menangis malam itu, kan?” tanya Baskara.
Rina diam membisu.
Sumi kemudian menambahkan informasi lain.
Selama 8 bulan bekerja, Sumi selalu makan siang dengan terburu-buru di kamar mandi belakang.
Ia takut jika Rina melihatnya duduk walau hanya 5 menit, Rina akan menganggapnya pemalas dan memotong gajinya.
Baskara berjalan kembali ke ruang tamu.
Ia menggelar seluruh berkas riwayat pekerja di atas meja kaca.
Ada 8 nama dalam waktu 3 tahun terakhir.
Rumah megah ini ternyata menyimpan penderitaan bagi orang-orang yang bekerja di dalamnya.
“Sumi, hari ini kamu pulang lebih awal. Saya bayar gaji penuh untuk hari ini,” kata Baskara.
Sumi terkejut.
“Pak… apakah saya dipecat?”
“Tidak. Saya melarang kamu bekerja di sini sampai masalah ini selesai. Kamu tidak boleh diperlakukan seperti ini lagi.”
Setelah Sumi pergi, Baskara menatap Rina.
“Sekarang, kita akan menghubungi semua mantan pekerja rumah ini.”
“Mas, kamu mempermalukan aku!” bentak Rina.
“Kamu yang mempermalukan diri sendiri dengan perbuatanmu.”
Baskara mengambil ponselnya dan mencari nomor telepon Laras yang tertera di dokumen lama.
Ia menelepon nomor tersebut dan menekan tombol pengeras suara.
Pada panggilan ketiga, sambungan terhubung.
“Halo? Ini siapa ya?” suara seorang wanita terdengar dari seberang telepon.
“Selamat sore, Mbak Laras. Ini Baskara Pratama.”
Suasana di seberang telepon mendadak hening selama beberapa detik.
“Pak Baskara? Ada apa Bapak menghubungi saya setelah 2 tahun?”
“Saya baru saja membaca surat yang Mbak Laras tinggalkan di dalam kotak di gudang belakang.”
Laras menghela napas panjang.
“Saya pikir kotak itu sudah dibuang ke tempat sampah.”
“Sumi menemukannya. Mbak Laras… saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi saat Mbak bekerja di sini.”
Laras berbicara dengan nada tenang namun penuh luka.
Ia bercerita bahwa awal bekerja di rumah itu, ia merasa sangat bersyukur karena gajinya cukup besar.
Namun setelah 2 minggu, tekanan psikologis mulai terjadi.
Rina akan memberikan instruksi A di pagi hari.
Saat sore hari, Rina akan marah besar dan mengklaim bahwa ia memberi instruksi B.
Jika Laras mencoba menjelaskan, Rina akan menuduhnya tidak sopan.
Rina juga sering memeriksa setiap sudut rumah setelah jam kerja Laras selesai.
Jika menemukan sedikit debu di atas lemari tinggi yang bahkan tidak terlihat, Rina akan menyuruh Laras membersihkannya kembali di tengah malam.
“Saya sampai mengalami insomnia, Pak. Setiap malam sebelum tidur, saya menghafal letak barang-barang di rumah Bapak karena takut besok pagi dipersalahkan lagi,” kata Laras.
“Kenapa Mbak Laras tidak pernah menghubungi saya saat itu?” tanya Baskara.
“Bapak selalu tidak ada di rumah. Bapak berangkat pukul 6 pagi dan pulang pukul 10 malam. Setiap kali Bapak ada di rumah, Ibu Rina selalu bersikap sangat manis di depan Bapak. Siapa yang akan percaya pada pembantu seperti saya?”
Baskara mengepalkan tangannya di bawah meja.
“Saya minta maaf, Laras. Saya benar-benar tidak tahu.”
“Saya sudah memaafkan, Pak. Tapi saya harap Bapak tidak membiarkan hal ini terjadi pada orang lain.”
Panggilan telepon itu berakhir.
Rina duduk di sofa dengan wajah tertunduk.
Baskara menatap istrinya dengan pandangan yang sama sekali berbeda dari biasanya.
“Kenapa kamu melakukan semua ini, Rina? Kamu punya segalanya. Rumah besar, fasilitas cukup, uang tidak pernah kurang. Kenapa kamu harus menyiksa orang-orang yang bekerja untuk kita?”
Rina diam cukup lama sebelum akhirnya menjawab dengan suara parau.
“Aku tidak tahu…”
“Kamu tahu alasannya. Katakan padaku.”
“Aku merasa tidak punya kendali atas apa pun, Mas!” teriak Rina tiba-tiba.
Baskara terkejut.
Rina mulai menangis.
Ia menjelaskan bahwa sejak Baskara sibuk dengan bisnisnya dan sering pergi ke luar kota selama berhari-hari, ia merasa kesepian dan kehilangan peran.
Anak-anak mereka yang sudah berkuliah di luar negeri juga jarang pulang.
Rina merasa rumah besar itu terlalu kosong.
Ia mulai menuntut kesempurnaan pada rumah karena hanya hal itulah yang bisa ia kendalikan secara penuh.
Ketika ada barang yang bergeser 1 sentimeter atau lantai yang kurang berkilau, Rina merasa dunianya kacau.
Rasa butuh kendali itu perlahan berubah menjadi perilaku menindas kepada orang-orang yang posisinya lebih lemah darinya.
“Itu menjelaskan alasanmu, tapi sama sekali tidak membenarkan tindakanmu,” kata Baskara dingin.
“Aku tahu…”
“Kamu menggunakan rasa frustrasimu untuk menindas orang lain. Itu hal yang sangat jahat, Rina.”
Keesokan harinya, Baskara menghubungi 3 mantan pekerja lainnya.
Dua orang bersedia bicara dan menceritakan pengalaman yang sama.
Satu orang menolak bicara dan meminta Baskara tidak menghubunginya lagi.
Baskara menghormati keputusan mereka.
Selain itu, Baskara meminta akuntan pribadinya menghitung ulang jam kerja Sumi selama 8 bulan terakhir.
Baskara menemukan fakta bahwa Sumi selalu bekerja ekstra 1 hingga 2 jam setiap hari tanpa pernah dicatat sebagai lembur oleh Rina.
Rina selalu memanfaatkan menit-menit terakhir sebelum jam pulang Sumi untuk memberikan tugas baru.
Total ada sekitar 120 jam lembur yang tidak pernah dibayar.
Baskara langsung mengirimkan uang kompensasi lembur tersebut ke rekening Sumi.
Ia tidak meminta Sumi menandatangani surat perjanjian apa pun.
Baskara hanya mengirimkan pesan singkat:
“Ini hak kamu yang tertunda selama 8 bulan. Terima kasih sudah berani bersuara kemarin.”
Sumi menelepon Baskara sore harinya.
“Pak Baskara, saya sudah menerima transferannya. Jumlahnya terlalu besar…”
“Itu murni hak kamu, Sumi. Kami yang berutang padamu.”
“Terima kasih banyak, Pak. Apakah… apakah saya masih boleh bekerja di sana?”
Baskara kaget mendengar pertanyaan itu.
“Kamu masih mau kembali ke rumah ini?”
“Saya butuh pekerjaan ini untuk biaya sekolah anak saya di kampung. Tapi saya cuma mau kembali kalau ada perubahan.”
Sumi memberikan beberapa syarat tegas.
Ia meminta jam kerja yang pasti dari pukul 8 pagi hingga pukul 4 sore.
Tugas harian harus tertulis secara jelas di awal minggu.
Jika ada perubahan instruksi, harus disampaikan dengan sopan.
Dan tidak ada lagi tugas mendadak di luar jam kerja.
Baskara menyetujui seluruh persyaratan itu tanpa ragu.
Hari Senin berikutnya, Sumi kembali bekerja.
Ia masuk melalui pintu depan rumah, bukan pintu samping yang biasanya diperintahkan oleh Rina.
Baskara sendiri yang membuka pintu depan untuknya.
“Mulai hari ini, semua orang yang masuk ke rumah ini melewati pintu yang sama,” tegas Baskara di depan Rina.
Rina tidak membantah.
Di dapur, Baskara telah menyiapkan papan tulis kecil berisi daftar tugas harian Sumi yang sudah disepakati bersama.
Ketika Rina masuk ke dapur, suasana sempat canggung.
Rina menatap Sumi, lalu melihat ke arah papan tulis.
“Selamat pagi, Sumi,” ucap Rina pelan.
“Selamat pagi, Bu.”
Rina tampak ragu-garu sebelum melanjutkan.
“Lantai dapur… sudah bersih. Terima kasih.”
Sumi mengangguk sopan.
Perubahan tidak terjadi secara instan.
Atas desakan Baskara, Rina mulai berkonsultasi dengan seorang psikolog di kawasan Jakarta Selatan untuk menangani masalah kecemasan dan obsesi kendalinya.
Pada minggu ketiga, ujian pertama terjadi.
Sumi tidak sengaja memecahkan sebuah cangkir keramik kesayangan Rina saat mencuci piring.
Suara pecahan keramik itu terdengar nyaring di seluruh rumah.
Sumi langsung berdiri kaku, wajahnya pucat pasi.
Rina berjalan cepat ke dapur.
Melihat cangkir kesayangannya hancur di dalam bak cuci piring, tangan Rina mulai gemetar.
Ia membuka mulutnya, hendak meluapkan kemarahannya seperti biasa.
Sumi menahan napas dan memejamkan mata.
Namun Rina teringat pada sesi terapinya dan janji yang ia buat pada Baskara.
Rina menarik napas panjang.
Ia memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali.
“Kamu tidak apa-apa, Sumi? Ada tangan yang terluka?” tanya Rina dengan suara yang ditahan agar tetap tenang.
Sumi membuka matanya, terkejut.
“Saya… saya tidak apa-apa, Bu. Maafkan saya, cangkirnya licin…”
Rina mengambil tempat sampah dan membawanya mendekat.
“Tidak apa-apa. Ini Cuma barang. Yang penting kamu tidak terluka. Biar kita bersihkan bersama.”
Sumi menatap Rina dengan pandangan tidak percaya.
Malam itu, Baskara memperhatikan sikap Rina yang mulai berubah.
Rumah mereka tidak lagi sebersih museum.
Ada beberapa barang yang tidak diletakkan pada posisi simetris.
Cangkir bekas minum Baskara kadang dibiarkan di meja hingga malam.
Namun suasana rumah tidak lagi terasa mencekam.
Enam bulan kemudian, Baskara tidak lagi terlalu sering mengambil proyek di luar kota.
Ia memutuskan untuk mengurangi jadwal perjalanannya dan mengelola bisnisnya dari kantor pusat di Jakarta.
Ia ingin lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Suatu sore, Baskara melihat Sumi sedang duduk santai di teras belakang sambil menikmati teh saat jam istirahatnya.
Rina berjalan melewati teras, membawa wadah buah segar, lalu meletakkannya di meja Sumi.
“Ini ada buah naga yang baru dipotong, Sumi. Dimakan ya,” kata Rina.
“Terima kasih banyak, Bu,” jawab Sumi sambil tersenyum tulus.
Tidak ada kepura-puraan.
Tidak ada rasa takut yang tersisa di mata Sumi.
Baskara mengambil kotak tua milik Laras dari dalam lemari kerjanya.
Ia membungkus buku catatan milik Laras dan mengirimkannya kembali ke alamat Laras di Jawa Central via jasa kurir.
Bersama paket itu, Baskara menyelipkan sebuah surat pendek:
“Kotakmu sudah kami pulihkan. Terima kasih telah keberanianmu menyadarkan kami bahwa kehormatan seseorang jauh lebih berharga daripada rumah yang sempurna.”
Seminggu kemudian, Laras membalas pesan WhatsApp ke ponsel Baskara:
“Terima kasih, Pak Baskara. Kebersihan sebuah rumah bukan diukur dari kilau lantainya, tapi dari kedamaian orang-orang yang tinggal dan bekerja di dalamnya.”
Suatu hari di akhir tahun, Rina secara tidak sengaja menjatuhkan biskuit dari tangannya hingga remahannya berserakan di atas lantai dapur yang baru disapu.
Sumi yang melihat kejadian itu langsung mengambil sapu.
Namun Rina mendahuluinya.
Rina mengambil sapu dan pengki sendiri, lalu membungkuk untuk membersihkan pecahan biskuit tersebut.
Sumi menatapnya kaget.
“Bu Rina, biar saya saja…”
Rina tersenyum tipis sambil memasukkan kotoran ke dalam pengki.
“Tidak apa-apa, Sumi. Yang mengotori harus belajar membersihkannya sendiri.”
Baskara yang berdiri di dekat pintu senyum melihat pemandangan itu.
Rumah megah di Menteng itu kini benar-benar menjadi tempat tinggal yang hangat.
Bukan karena lantainya yang selalu berkilau tanpa noda, melainkan karena tidak ada lagi orang yang harus merasa kecil dan tertekan di dalamnya.
