PART 2
Ratna berjalan mendekati pagar dengan senyum lebar di wajahnya.
Ia membawa sebuah kotak kado berbungkus kertas emas.
“Rina, Surya, kenapa kalian berdiri di luar? Kenapa anak ini menghalangi jalan?” tanya Ratna santai.
Anak muda di depan pagar itu membalikkan badan.
Ratna mendadak menghentikan langkahnya.
Kotak kado di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai semen.
Wajah Ratna berubah pucat pasi dalam hitungan detik.
Rehan menatap wanita tua itu dengan pandangan dingin.
“Jadi Anda yang bernama Ratna?” tanya Rehan pelan namun tegas.
Rina membuka pintu pagar lebar-lebar dan menarik Rehan masuk ke dalam halaman.
“Rehan…” panggil Rina dengan suara bergetar.
Rehan memandang Rina dan Surya bergantian.

“Saya datang untuk mencari kebenaran. Saya tidak ingin merusak acara kalian, tapi saya butuh jawaban hari ini,” kata Rehan.
Surya memegang pundak Rehan dengan erat.
“Masuklah nak, kita bicara di dalam,” kata Surya.
Ratna mencoba menyela dengan suara meninggi.
“Rina! Jangan dengarkan orang asing ini! Ini pasti penipu yang mau memanfaatkan keluarga kita!”
Rina menoleh ke arah ibunya dengan tatapan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
“Ibu diam. Ikut masuk sekarang juga,” tegas Rina.
Mereka berjalan menuju ruang tamu.
Di halaman belakang, gelak tawa Rendy dan Aldo masih terdengar riuh.
Surya menutup pintu kaca belakang dan mengunci rapat agar suara dari ruang tamu tidak terdengar keluar.
Rehan mengeluarkan sebuah tas ransel hitam dari pundaknya.
Ia mengeluarkan sebuah map plastik bening dan meletakkannya di atas meja kaca.
“Semua bukti ada di sini,” kata Rehan.
Rina duduk di samping Rehan, matanya tidak bisa lepas dari wajah anak muda itu.
Rehan membuka map tersebut satu per satu.
“Orang tua angkat saya, Pak Hendra dan Bu Maya, meninggal dunia dalam kecelakaan dua tahun lalu di Semarang,” kata Rehan.
“Bulan lalu, saat saya membersihkan deposit box milik almarhum ayah angkat saya, saya menemukan folder ini.”
Rehan menunjukkan dokumen pertama.
Itu adalah surat perjanjian pengangkatan anak tertanggal 14 Agustus 2008.
Di dalam dokumen itu, tertulis nama pihak pertama sebagai penyerah anak: Ratna Wijaya.
“Ibu yang menandatangani surat ini?” tanya Rina pada ibunya.
Ratna memalingkan wajah, enggan menjawab.
Rehan melanjutkan penjelasannya.
“Di dokumen ini tertulis, pihak pertama mewakili orang tua bayi yang mengklaim tidak sanggup secara finansial dan mental untuk membesarkan tiga anak kembar sekaligus.”
Surya mengepalkan tangannya di atas meja.
“Kami tidak pernah merasa tidak sanggup! Saya punya pekerjaan tetap saat itu, dan kami sangat menantikan ketiganya!” seru Surya.
Rehan mengambil lembar kedua.
Itu adalah cetakan pesan email dan bukti transfer bank dari tahun 2008.
“Orang tua angkat saya membayar biaya pengganti perawatan medis sebesar Rp 150.000.000 kepada rekening atas nama Ratna Wijaya,” lanjut Rehan.
Rina menahan napasnya.
Ia menatap ibunya dengan tatapan penuh rasa tidak percaya.
“Ibu… menjual anakku?” tanya Rina dengan suara tercekat.
“Aku tidak menjualnya!” teriak Ratna tiba-tiba.
Ratna berdiri dari kursinya dengan wajah merah padam.
“Aku melakukan itu untuk menyelamatkan keluarga kalian!” lanjut Ratna.
“Menyelamatkan bagaimana, Bu?!” tancap Rina.
“Kamu lupa betapa terpuruknya kamu saat itu?” bentak Ratna.
“Kamu menangis setiap hari! Tiga bayi menangis berbarengan setiap malam! Rehan lahir cacat paru-paru dan butuh biaya pengobatan ratusan juta yang tidak ditanggung asuransi penuh saat itu!”
Ratna menunjuk ke arah Surya.
“Suamimu hanya pegawai biasa saat itu! Dari mana kalian punya uang untuk pengobatan Rehan bertahun-tahun?”
“Keluarga Pak Hendra di Semarang sangat kaya dan tidak punya anak. Mereka sanggup memberikan Rehan perawatan medis terbaik!”
Rina berdiri dan menatap ibunya dari jarak dekat.
“Tapi kenapa Ibu bohong? Kenapa Ibu bilang Rehan sudah meninggal?!”
Ratna tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin.
“Kalau aku bilang Rehan diadopsi orang lain, apa kamu akan melepaskannya? Tidak! Kamu pasti akan memaksakan diri, menjual rumah ini, dan akhirnya kalian bertiga hancur bersama!”
“Aku mengambil keputusan pahit itu agar Rendy dan Aldo bisa tumbuh dengan layak, dan kamu tidak gila!”
Surya maju mensejajari Rina.
“Lalu bagaimana dengan surat kematian yang Ibu berikan pada kami waktu itu?” tanya Surya.
Rehan mengeluarkan selembar kertas lain dari mapnya.
“Ini surat keterangan meninggal dari rumah sakit yang dipalsukan,” kata Rehan.
“Saya sudah mendatangi rumah sakit tempat saya lahir minggu lalu di Surabaya.”
“Saya menemui bagian arsip medis bersama pihak hukum.”
“Dokter yang menangani saya dulu, Dokter Budi, sudah pensiun, tapi catatannya masih ada.”
“Di catatan medis resmi rumah sakit, nama saya terdaftar keluar dalam keadaan hidup atas permintaan keluarga pada tanggal 12 Agustus 2008.”
“Surat kematian yang dipegang Ibu Rina menggunakan stempel palsu dan nomor registrasi fiktif.”
Rina menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Selama 18 tahun, ia menangisi makam kosong.
Selama 18 tahun, ia menyalakan lilin untuk anak yang sebenarnya sedang tumbuh di kota lain.
“Ibu membuat kami berziarah ke pemakaman kosong setiap tahun,” kata Rina dengan suara bergetar karena amarah dan kesedihan.
“Ibu membiarkan kami hidup dalam rasa bersalah dan duka bertahun-tahun!”
Ratna mencoba mempertahankan diri.
“Ibu lakukan itu demi kebaikan kalian! Lihat hasilnya sekarang! Rendy dan Aldo tumbuh sukses, kuliah di tempat bagus, hidup kalian berkecukupan! Rehan juga tumbuh sehat dan berpendidikan tinggi karena uang keluarga angkatnya!”
Rehan memotong ucapan Ratna dengan suara tenang namun menohok.
“Saya tumbuh dengan anggapan bahwa orang tua kandung saya membuang saya karena saya sakit-sakitan.”
“Saya tumbuh dengan rasa rendah diri, merasa menjadi beban yang tidak diinginkan.”
“Setiap kali melihat anak-anak lain bersama keluarga utuh mereka, saya selalu bertanya-tanya, apa salah saya sampai orang tua saya memilih menyimpan dua saudara saya dan membuang saya?”
Kata-kata Rehan membuat ruang tamu itu mendadak hening.
Ratna bungkam, tidak bisa menjawab satu kata pun.
Tiba-tiba, pintu kaca ruang tamu terdorong terbuka.
Rendy dan Aldo berdiri di ambang pintu.
Wajah kedua remaja itu pucat.
Mereka telah mendengarkan percakapan itu dari balik pintu kaca selama beberapa minute terakhir.
“Jadi… kami punya saudara kembar satu lagi?” tanya Rendy dengan suara gemetar.
Aldo berjalan mendekati meja, matanya tertuju pada Rehan.
Ia melihat wajah Rehan yang sangat identik dengan mereka berdua.
“Dia… Rehan?” tanya Aldo pada Rina.
Rina tidak mampu menahan air matanya lagi. Ia mengangguk pelan.
“Iya… ini Rehan. Adik kalian yang selama ini kita kira sudah meninggal,” jawab Rina.
Rendy berjalan cepat ke arah Ratna.
“Nenek… Nenek tega melakukan ini?” tanya Rendy.
Ratna mencoba memegang tangan Rendy.
“Rendy, Nenek melakukan ini semua demi kalian berdua…”
“Jangan sentuh aku!” teriak Rendy sambil mundur beberapa langkah.
“Nenek memisahkan kami dari saudara kami sendiri! Nenek bohongi kami selama 18 tahun!”
Aldo berjalan mendekati Rehan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Aldo langsung memeluk Rehan dengan erat.
Rehan sempat terkejut dan tubuhnya kaku sejenak.
Namun perlahan, tangan Rehan terangkat dan membalas pelukan saudaranya.
Rendy ikut bergabung dalam pelukan itu.
Tiga bersaudara yang terpisah selama 18 tahun akhirnya bersatu kembali di ruang tamu itu.
Rina dan Surya saling berpelukan sambil menangis menyaksikan ketiga anak mereka.
Ratna berdiri terisolasi di sudut ruangan.
Tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang mau menatapnya lagi.
Rina mengambil ponselnya di atas meja.
Ia menekan sebuah nomor telepon.
“Halo, Mbak Maya? Ini Rina. Saya butuh bantuan hukum sekarang juga. Ibu saya memalsukan dokumen adopsi dan surat kematian anak saya 18 tahun lalu.”
Ratna panik dan mencoba merebut ponsel dari tangan Rina.
“Rina! Kamu mau melaporkan ibu kandungmu sendiri ke polisi?!” seru Ratna hysterical.
Surya menghalangi langkah Ratna dengan tegas.
“Ibu sudah melewati batas yang tidak bisa diampuni,” kata Surya dingin.
“Ibu tidak hanya membohongi kami, tapi Ibu menjual cucu Ibu sendiri demi uang dan ego Ibu.”
“Mulai hari ini, jangan pernah datang ke rumah ini lagi.”
“Kami akan memproses semua ini secara hukum.”
Ratna menatap anak perempuan, menantu, dan ketiga cucunya.
Semua mata menatapnya dengan rasa kecewa yang mendalam.
Tidak ada lagi rasa hormat atau kasih sayang di mata mereka.
Dengan tangan gemetar, Ratna mengambil tas emasnya dan berjalan keluar dari rumah itu tanpa ada seorang pun yang mencegahnya.
Setelah Ratna pergi, suasana rumah perlahan-lahan menjadi lebih tenang.
Rina mengajak Rehan duduk di sofa.
“Rehan, Ibu tidak minta kamu langsung memanggil kami orang tua,” kata Rina lembut.
“Ibu tahu kami sudah kehilangan 18 tahun masa tumbuh kembangmu.”
“Tapi Ibu janji, mulai hari ini, tidak akan ada lagi rahasia. Kamu adalah bagian dari keluarga ini.”
Rehan menatap Rina, lalu menatap Surya, Rendy, dan Aldo.
Ia melihat ketulusan di mata mereka semua.
Rasa sakit dan penolakan yang ia rasakan selama bertahun-tahun perlahan sirna.
“Saya hanya ingin tahu kebenarannya,” kata Rehan pelan.
“Dan sekarang saya sudah tahu bahwa saya tidak pernah dibuang.”
Rendy merangkul pundak Rehan dari samping.
“Nanti malam kamu tidur di kamar kami. Kita punya banyak cerita yang harus dikejar untuk 18 tahun yang hilang.”
Aldo tersenyum lebar.
“Dan yang paling penting, makanan di luar masih banyak. Ayo kita makan kue ulang tahun kita bertiga.”
Di meja makan malam itu, ada tiga potong kue ulang tahun yang tertata rapi.
Rina tidak lagi menyalakan lilin kesepian di dalam kamar.
Ia menyalakan tiga lilin di atas meja makan, di hadapan ketiga anak kembarnya yang duduk berdampingan.
Meskipun masa lalu tidak bisa diubah dan luka tidak bisa sembuh dalam sekejap, kebenaran telah meruntuhkan tembok kebohongan yang berdiri selama 18 tahun.
Rina menatap ketiga anaknya yang sedang tertawa bersama.
Keluarganya akhirnya utuh kembali.
