PART 2
Rendy menatap dokumen sertifikat tanah yang diserahkan pengacara ke mejanya dengan raut wajah tidak percaya.
“Itu tidak mungkin. Rumah itu atas nama saya.”
Hakim Wahyudi mengetuk palu sekali.
“Pak Rendy, harap tenang dan biarkan kuasa hukum berbicara.”
Rina membuka map kedua di atas meja.
Map itu berisi hasil tes DNA medis resmi yang dilakukan 6 minggu sebelum kelahiran Raya.
Sampel darah dan liur Rendy telah diambil secara sah di sebuah klinik swasta di Jakarta Pusat atas persetujuan tertulis yang dia tandatangani sendiri saat pemeriksaan kesehatan perusahaan.
Hasil analisis laboratorium menunjukkan tingkat kompatibilitas ayah dan anak sebesar 99,99 %.
Hakim Wahyudi membaca dokumen medis itu dengan teliti lalu menatap Rendy.
“Anda sudah menerima hasil tes resmi ini sebelum datang ke persidangan hari ini?”
Pengacara Rendy mencoba menyela untuk memberikan penjelasan, namun Hakim Wahyudi mengangkat tangan.
“Saya bertanya langsung kepada Pak Rendy.”

Rendy mengepalkan jemarinya di atas meja.
“Ya, Yang Mulia.”
Sella yang duduk di sebelah Rendy perlahan menarik tangannya mundur dari lengan Rendy.
Siska tetap menatap lurus ke depan.
Rasa sakit terbesarnya bukanlah fakta bahwa Rendy berpaling ke wanita lain, melainkan kenyataan bahwa Rendy dengan sengaja menggunakan tuduhan palsu untuk menekan posisinya dalam pembagian harta.
Rina kemudian membuka map ketiga.
Map ketiga ini memuat berkas perjanjian sewa lahan Gedung Utama Adhitama Tower, pusat operasional bisnis milik Rendy.
Lahan seluas 4.000 meter persegi di kawasan bisnis Jakarta Selatan itu disewa oleh perusahaan Rendy dari sebuah entitas anak milik Pratama Heritage.
Rina membacakan pasal 12 ayat 4 dalam kontrak sewa tersebut.
“Setiap tindakan pelanggaran hukum, pencemaran nama baik, atau tindakan tidak beretika berat yang melibatkan pimpinan puncaknya dapat menjadi dasar evaluasi ulang dan pembatalan hak sewa lahan secara sepihak.”
Rendy langsung berdiri dari kursinya.
“Siska! Apa-apaan ini?!”
“Pak Rendy, duduk!” bentak Hakim Wahyudi keras.
Hakim Wahyudi lalu memutuskan skors persidangan selama 30 menit.
Siska berjalan perlahan menuju ruang mediasi khusus di area belakang gedung pengadilan untuk menyusui Raya.
10 menit kemudian, pintu ruangan itu diketuk dari luar.
Sella masuk ke dalam ruangan.
Wajah Sella tidak lagi menunjukkan keangkuhan seperti di ruang sidang tadi.
Sella memegang ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetaran.
“Siska, saya perlu bicara sebentar.”
Rina berdiri memasang badan di depan Siska, namun Siska memberi isyarat pelan agar Rina memberi ruang.
“Ada apa?” tanya Siska singkat.
Sella menyerahkan ponselnya ke meja.
“Rendy membohongi saya juga.”
Di layar ponsel Sella, terbuka tangkapan layar percakapan grup dan pesan pribadi antara Rendy dengan tim humas perusahaannya.
Pesan pertama dari Rendy tertulis jelas: “Jika Siska menolak draf pesangon, buat narasi ke media bahwa dia mengalami depresi berat pascalahir dan tidak stabil secara mental.”
Pesan kedua tertulis: “Tunda pengakuan tes DNA. Gunakan isu ragu ayah kandung untuk menekan nilai tuntutan harta dari pihaknya.”
Pesan ketiga tertulis: “Opini publik harus memegang asumsi bahwa dia yang bermasalah sejak awal.”
Rina membaca setiap detail pesan itu dengan cermat lalu mengambil foto dari layar ponsel Sella.
“Kapan kamu menerima petunjuk ini?” tanya Rina.
“3 minggu lalu,” jawab Sella dengan suara pelan. “Rendy memberi tahu saya bahwa Siska mencoba memeras perusahaannya dan memanfaatkan kehamilan untuk merebut saham Adhitama Group.”
Sella menatap Siska yang sedang merapikan selimut bayi Raya.
“Pagi ini saya melihat sendiri bagaimana dia menatap bayinya di depan hakim. Dia sama sekali tidak peduli pada anak itu, dia hanya memikirkan nilai saham dan reputasinya.”
Siska menatap Sella tanpa rasa benci.
“Kamu sudah mendapat apa yang kamu inginkan, Sella.”
“Saya salah,” kata Sella. “Saya tidak akan bersaksi palsu untuk mendukung skenario humasnya. Semua data percakapan asli dan daftar kontak tim medis yang dia bayar sudah saya kirim ke email pengacara Anda.”
Sella berbalik dan berjalan keluar dari ruangan tanpa mengucap kata lain.
Saat sidang dibuka kembali, kursi di sebelah Rendy sudah kosong.
Sella telah meninggalkan area pengadilan.
Rina menyerahkan bukti tambahan berupa tangkapan layar percakapan dan instruksi manipulasi opini publik yang baru saja diterima.
Hakim Wahyudi memeriksa bukti-bukti digital tersebut.
“Pak Rendy, apakah Anda memberikan instruksi ini kepada tim komunikasi Anda saat Anda sudah tahu pasti hasil tes DNA anak Anda?”
Rendy tampak kesulitan bernapas, kerah kemejanya terasa sangat menjepit.
“Itu… itu hanya diskusi internal untuk antisipasi krisis reputasi bisnis, Yang Mulia.”
“Diskusi internal yang merencanakan pembunuhan karakter ibu dari anak Anda sendiri?” cecar Hakim Wahyudi.
Sore itu juga, majelis hakim mengeluarkan putusan interim.
Hak asuh sementara bayi Raya jatuh sepenuhnya kepada Siska.
Rendy diwajibkan membayar biaya perawatan medis pascanatal serta tunjangan anak bulanan sebesar Rp 50.000.000 yang dipotong langsung dari rekening operasionalnya.
Hak visitasi Rendy dibatasi ketat dan wajib didampingi oleh petugas sosial independen.
Serta, seluruh aset properti di Menteng dinyatakan sah sebagai milik tunggal Pratama Heritage.
Saat keluar dari gedung pengadilan, Rendy berjalan sendirian tanpa didampingi Sella maupun tim komunikasinya.
Di luar gedung, Rahmi Pratama sudah menunggu di samping mobil hitam.
Siska berjalan menghampiri neneknya sambil menggendong Raya.
Rahmi melangkah maju, memeluk cucunya dengan hati-hati agar tidak menekan luka bekas operasi caesar Siska.
“Ayo pulang,” kata Rahmi pelan.
Dalam 3 minggu berikutnya, tekanan terhadap Rendy bertubi-tubi datang.
Dewan komisaris Adhitama Group menggelar rapat darurat setelah berita manipulasi publik dan sengketa lahan gedung utama tersebar di media bisnis.
Harga saham Adhitama Group merosot 18 % dalam kurun waktu 10 hari.
Direksi Pratama Heritage secara resmi mengirimkan surat pemberitahuan evaluasi ulang kontrak sewa lahan Adhitama Tower.
Rendy mencoba mendatangi rumah di Menteng, namun penjaga keamanan menolak membukakan pagar karena kepemilikan aset sudah dikunci secara legal.
Rendy kemudian mengirim pesan singkat ke ponsel Siska: “Kita bisa selesaikan ini secara kekeluargaan tanpa harus merusak bisnis yang sudah dibangun bertahun-tahun.”
Siska menyerahkan pesan itu ke Rina untuk dibalas secara formal melalui jalur hukum: “Sengketa ini bukan tentang bisnis, melainkan tentang tanggung jawab moral yang Anda inginkan untuk diabaikan.”
Proses perceraian resmi berlangsung selama 7 bulan.
Dalam audit pembagian harta bersama, tim akuntan publik menemukan bahwa Rendy telah memindahkan sejumlah aset tunai perusahaan ke rekening luar negeri selama masa kehamilan Siska.
Temuan ini memaksa Rendy mengembalikan seluruh dana tersebut ke dalam kas aset yang dibagikan sesuai hukum yang berlaku.
Selain itu, terungkap pula bahwa awal berdirinya Adhitama Group pada 8 tahun lalu sangat bergantung pada koneksi bisnis jaringan Pratama Heritage yang diberikan oleh Rahmi atas permintaan Siska.
Rendy selama ini mengira kesuksesannya adalah hasil murni dari kejeniusan individunya sendiri.
Pada bulan ke-5 setelah persidangan pertama, Rendy meminta pertemuan pribadi dengan Siska di kantor pengacara.
Rendy duduk di ruang rapat dengan wajah yang tampak jauh lebih kurus dan lelah.
“Kenapa kamu tidak pernah memberi tahu saya kalau Pratama Heritage itu milik keluargamu?” tanya Rendy.
Siska menatap Rendy dengan tenang.
“Saya memberi tahu kamu tentang keluarga saya. Kamu yang tidak pernah peduli untuk mendengarkan.”
“Saya pikir kamu hanya staf biasa di yayasan itu.”
“Saya memang bekerja di sana karena saya menyukai pekerjaan itu. Tapi kamu tidak pernah bertanya lebih jauh karena kamu hanya fokus pada bisnismu sendiri.”
Rendy menunduk.
“Saya membuat kesalahan besar.”
“Kamu tidak hanya membuat kesalahan, Rendy. Kamu melihat bayi berusia 8 hari dan menganggapnya sebagai ancaman finansial.”
Satu tahun setelah keputusan cerai final dikeluarkan, Siska mendirikan Pusat Bantuan Hukum dan Poliklinik Ibu-Anak Valdés-Pratama di Jakarta Timur.
Lembaga ini menyediakan layanan pendampingan hukum gratis, pemeriksaan kesehatan pascamelahirkan, dan bantuan psikologis bagi wanita yang mengalami kekerasan domestik atau penelantaran saat proses perceraian.
Pada hari peresmian gedung tersebut, Siska berdiri di podium sambil menggendong Raya yang sudah berusia 1 tahun 6 bulan.
Di hadapan puluhan tamu undangan, Siska berbicara tanpa menggunakan naskah.
“Dulu saya berpikir bahwa bertahan dalam diam adalah bentuk dari kesabaran,” kata Siska dengan suara jernih.
“Tapi saya belajar bahwa berdiam diri saat kebenaran diinjak-injak hanya akan memberi ruang bagi orang lain untuk terus menyakiti kita.”
“Lembaga ini didirikan agar tidak ada lagi ibu yang harus berdiri sendirian di ruang sidang sambil menahan sakit bekas operasi, tanpa tahu ke mana harus mencari keadilan.”
Raya yang memegang cangkir plastik kecil melempar mainannya ke lantai, membuat seluruh isi ruangan tertawa hangat.
Siska tersenyum lebar sambil mencium pipi anaknya.
Setiap bulan, Siska menerima laporan resmi dari petugas sosial mengenai sesi kunjungan Rendy dengan Raya.
Rendy kini rutin menghadiri sesi kunjungan yang dijadwalkan 2 minggu sekali.
Dia tidak lagi membawa mainan impor mahal atau membawa kamera media.
Dia duduk di lantai ruang bermain anak, belajar menyusun balok kayu bersama Raya di bawah pengawasan petugas.
Siska tidak pernah menghalangi hubungan antara ayah dan anak itu.
Namun Siska juga tidak lagi mengizinkan siapa pun untuk memperlakukan dirinya dan anaknya sebagai objek yang bisa dimanipulasi.
Saat berjalan keluar dari gedung pusat bantuan hukum sore itu, Siska menatap langit Jakarta yang mulai terang oleh lampu-lampu kota.
Siska tahu bahwa kehidupan yang dia bangun sekarang bukanlah hasil dari dendam, melainkan hasil dari keberaniannya untuk melepaskan diri dari kebohongan.
