PARTE 2
Reihan akhirnya membeberkan kenyataan di dalam mobil yang melaju membelah hujan.
Empat tahun lalu, Reihan memeriksa keuangan grup bisnis keluarga Gemasurya karena ada utang besar yang belum terbayar.
Gemasurya pernah mencoba menemui Reihan untuk meminta bantuan modal, tetapi Reihan menolaknya.
Tidak lama setelah penolakan itu, Gemasurya tiba-tiba mendekati Maya.
“Kamu tahu dia mendekatiku hanya untuk menjangkau kamu?” tanya Maya dengan suara bergetar.
Reihan mengangguk pelan.
“Aku sempat mencurigai hal itu.”
Maya mengepalkan tangannya.
Gemasurya yang mengikuti mereka menggunakan mobil lain kini menghentikan kendaraannya di area parkir hotel.
Gemasurya turun dan mendekati jendela mobil Reihan.
“Pahlawanmu ini menyimpan banyak rahasia dari kamu, Maya!” teriak Gemasurya.
Reihan keluar dari mobil dan berdiri tenang.

“Aku memang membuat kesalahan karena tidak jujur dari awal.”
Namun kejutan sebenarnya baru dimulai ketika Maya memeriksa aplikasi perbankan di ponselnya.
Semua kartu kredit dan rekening pribadinya diblokir.
Mobil atas nama Maya yang terparkir di rumah juga telah dipindahkan secara sepihak oleh Gemasurya.
Di sistem data aset perbankan, tertera nama manajer keuangan bernama Dimas Prasetya sebagai pihak berwenang atas akun bisnis keluarga yang melibatkan nama Maya.
“Siapa Dimas Prasetya?” tanya Maya pada Reihan.
Reihan terdiam sejenak.
“Dia mantan staf keuanganku 4 tahun lalu.”
Gemasurya tersenyum puas dari samping.
“Tanyakan pada Reihan, siapa yang membayar sebagian utang keluargaku dulu!”
Reihan menatap Maya dengan tulus.
“Aku yang membiayainya.”
“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Maya.
“Karena rumah ibunya Gemasurya dijadikan jaminan, dan aku tahu Gemasurya memanfaatkan namamu untuk menekan situasi.”
Maya melangkah mundur.
Dua pria di hadapannya sama-sama menyembunyikan informasi penting dalam hidupnya.
Mereka berdua mengambil keputusan tanpa pernah bertanya padanya.
Gemasurya merasa berada di atas angin.
“Kamu tidak punya uang, tidak punya mobil, dan tidak punya tempat tinggal. Besok kamu pasti pulang meminta maaf padaku.”
Maya menarik kopernya erat-erat.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi besok. Tapi aku tahu pasti malam ini aku tidak akan tidur di rumahmu.”
Maya melangkah masuk ke dalam lobi hotel.
Reihan menawarkan kartu kreditnya untuk membayarkan kamar Maya.
Namun Maya menolak menggunakan uang Reihan secara cuma-cuma.
Maya mencatat nominal biaya kamar sebagai utang pribadi yang akan dibayar dalam 30 hari.
Reihan menghormati keputusan itu tanpa banyak bicara.
Malam itu, seorang dokter memeriksa lebam di tangan Maya dan mengeluarkan surat keterangan medis resmi.
Maya menyimpan dokumen medis tersebut sebagai bukti hukum.
Pukul 02.00 dini hari, Maya menemukan salinan dokumen lama di dalam surel pribadinya.
Tercatat bahwa 3 bulan sebelum pernikahan mereka, ada perubahan hak akses atas nama Dimas Prasetya.
Maya membawa tabletnya ke area ruang tamu hotel tempat Reihan dan Lukman masih bersiap.
“Reihan, apa hubungan sebenarnya antara Dimas, Gemasurya, dan kamu?”
Reihan duduk tegak.
“Aku akan menceritakan semuanya.”
Empat tahun lalu, saat memeriksa utang keluarga Gemasurya, Reihan menemukan manipulasi laporan keuangan yang dilakukan Dimas.
Dimas sengaja memperburuk kondisi perusahaan Gemasurya agar nilai asetnya anjlok dan bisa dibeli murah.
Pada saat yang sama, Gemasurya mulai mendekati Maya.
Reihan yang saat itu memendam perasaan pada Maya merasa dilema.
Jika dia campur tangan, orang-orang akan menganggapnya bertindak atas dasar rasa cemburu.
Oleh karena itu, Reihan memilih mundur dari kehidupan Maya.
“Aku pikir menjauh adalah cara terbaik melindungi kamu,” kata Reihan.
“Kamu memutuskan masa depanku tanpa bertanya padaku,” jawab Maya dingin.
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Maya dari nomor Gemasurya.
“Tanyakan pada Reihan apa yang terjadi dengan dana investasi tepat seminggu sebelum pernikahan kita.”
Lukman, pengacara Reihan, segera memeriksa berkas lamanya di laptop.
Hasilnya mengejutkan.
Sebagian dana yang digunakan Reihan untuk membeli aset utang ternyata dialihkan secara ilegal oleh Dimas ke rekening penampung atas nama perusahaan bayangan milik Gemasurya.
Reihan sendiri tidak tahu ada transaksi gelap tersebut.
Keesokan harinya, Maya mendatangi kantor bank utama sendirian.
Dia meminta salinan berkas otorisasi rekening yang ditandatangani bertahun-tahun lalu.
Di sana tertera tanda tangan Maya yang dipalsukan pada lembar persetujuan investasi.
Maya teringat momen beberapa hari setelah pernikahan.
Gemasurya membawanya ke sebuah kantor mewah di kawasan Sudirman.
Gemasurya memintanya menandatangani tumpukan dokumen dengan alasan pendaftaran aset bersama.
Dimas Prasetya saat itu duduk di samping Gemasurya sambil memegang dokumen hitam.
Kala itu Gemasurya berbisik:
“Setelah ini, tidak ada yang bisa mengambil hak kita.”
Maya kini paham arti kalimat tersebut.
Dia diposisikan sebagai jaminan finansial tanpa dia sadari.
Maya memutuskan kembali ke rumah Menteng untuk mengambil sisa dokumen penting dan laptop kerjanya.
Reihan menawarkan diri untuk mengawal.
“Lebih baik aku ikut,” kata Reihan.
Maya menatapnya lurus.
“Itu sarankan?”
“Ya.”
“Bukan perintah?”
“Bukan perintah.”
Maya masuk ke dalam rumah sendirian.
Gemasurya duduk di sofa ruang tamu dengan pakaian rapi.
Raut wajahnya terlihat sangat tenang.
“Kamu kembali untuk minta maaf?” tanya Gemasurya.
Maya tidak membalas provokasi itu.
“Kamu yang meminta bank memblokir akses keuanganku?”
Gemasurya berdiri.
“Aku hanya mengamankan aset keluarga. Kamu bicara soal cerai dan bekerja lagi, aku harus melindungi diri.”
“Kamu sengaja membuatku tidak punya daya secara finansial.”
“Aku ingin kamu sadar di mana tempatmu!” suara Gemasurya meninggi.
Maya menatapnya tanpa rasa takut.
“Bagaimana kamu bisa menemukanku 4 tahun lalu di pameran arsitektur?”
Gemasurya terdiam sejenak.
“Itu kebetulan.”
“Jangan bohong lagi. Dimas yang memberitahumu, kan?”
Gemasurya akhirnya mengangguk pelan.
“Dimas bilang kamu punya hubungan dekat dengan Reihan. Jika aku bisa menikahimu, Reihan tidak akan berani menghancurkan perusahaanku.”
Jawaban itu memusnahkan sisa rasa hormat Maya.
Pernikahan yang dia jalani selama bertahun-tahun hanyalah alat tawar-menawar bisnis.
Sebelum Maya melangkah keluar, Gemasurya memberikan satu pernyataan lagi.
“Ayahmu sendiri yang menyerahkan sahamnya padaku sebelum dia meninggal!”
Pernyataan itu membuat langkah Maya terhenti.
Almarhum ayahnya, Subrata Arisandi, adalah sosok yang sangat menolak hubungan Maya dengan Reihan dahulu.
Maya segera menemui ibunya di rumah utama.
Ibunya yang renta membuka kotak penyimpanan peninggalan almarhum ayahnya.
Di dalam kotak itu terdapat surat rahasia dan catatan keuangan.
Ternyata, beberapa bulan sebelum meninggal, Ayah Maya mulai curiga ada kecurangan dalam bisnis Gemasurya.
Ayah Maya menuliskan catatan tangan:
“Dimas Prasetya memakai nama Maya untuk menjamin pinjaman baru. Jangan izinkan transaksi tambahan atas nama E. Salcedo atau Dimas.”
Ada pula salinan surat elektronik dari Dimas kepada Gemasurya yang dikirim 9 hari sebelum Gemasurya berkenalan dengan Maya:
“Reihan menolak negosiasi. Opsi alternatif sangat fleksibel. Jika Maya masuk dalam skenario, Reihan pasti akan kembali ke meja perundingan.”
Maya membaca kalimat itu berulang kali.
Dia dianggap sebagai umpan bisnis.
Maya kemudian mengatur pertemuan di sebuah ruang rapat netral di kawasan Karet Kuningan.
Ruangan itu memiliki kaca transparan dan diawasi oleh petugas keamanan gedung.
Gemasurya hadir bersama pengacaranya.
Dimas Prasetya datang 20 menit kemudian dengan membawa tas kerja.
Reihan dan Lukman duduk di ruangan terpisah di sebelah ruang rapat utama.
Maya meletakkan bukti surel dan catatan otorisasi palsu di atas meja.
Dimas menatap berkas itu dengan wajah santai.
“Ini hanya dokumen bisnis biasa,” ujar Dimas.
Maya menunjuk surat otorisasi bank.
“Tanda tanganku dipalsukan di sini untuk mencairkan dana 2 miliar rupiah. Bukti forensik tanda tangan sudah siapkan.”
Wajah Dimas mulai berubah pucat.
Gemasurya menunjuk ke arah Dimas dengan marah.
“Kamu yang mengatur semua ini dari awal! Kamu meyakinkanku bahwa cara ini aman!”
Dimas membalas ucapan Gemasurya dengan dingin.
“Saya hanya memberikan jalan keluar. Kamu yang memutuskan untuk mendekati Maya, memalsukan persetujuannya, dan mengunci akses keuangannya saat dia ingin pergi!”
Suasana ruang rapat menjadi tegang.
Maya menatap kedua pria di hadapannya.
“Kalian berdua sama-sama bersalah. Dimas memanipulasi data, dan Gemasurya mengeksekusinya karena rasa serakah dan keinginan untuk mengontrol hidupku.”
Dimas mencoba membela diri.
“Saya tidak pernah memukulmu atau mengurungmu di rumah!”
Maya menjawab dengan tenang.
“Tapi kamu memfasilitasi kejahatan finansial yang membuatku terikat pada Gemasurya selama 3 tahun.”
Lukman masuk membawa berkas laporan resmi yang siap diserahkan ke pihak kepolisian atas dugaan pemalsuan dokumen dan penggelapan dana.
Gemasurya terduduk lemas di kursinya.
Semua aset investasi yang dia banggakan kini terancam disita untuk proses hukum.
Dimas tidak bisa lagi mengelak karena bukti aliran dana mengarah langsung ke rekening pribadinya.
Gemasurya menatap Maya dengan mata berkaca-kaca.
“Maya, aku sungguh mencintaimu setelah kita menikah. Tolong beri aku kesempatan.”
Maya mengambil kembali berkas pribadinya dari meja.
“Kamu tidak mencintaiku. Kamu hanya takut kehilangan kontrol atas hidupku.”
Proses hukum berjalan tegas selama beberapa bulan berikutnya.
Dimas Prasetya ditetapkan sebagai tersangka kasus pemalsuan dokumen keuangan.
Gemasurya harus menjual seluruh saham pribadinya untuk membayar ganti rugi aset milik keluarga Maya dan menyelesaikan urusan utangnya.
Gugatan cerai Maya dikabulkan oleh pPengadilan Agama tanpa hambatan berarti.
Maya menyewa sebuah apartemen kecil di kawasan Tebet.
Dia melunasi seluruh biaya hotel dan bantuan hukum kepada Reihan tepat waktu dari hasil proyek arsitektur pertamanya.
Proyek itu adalah merancang ulang studio seni di Jakarta Selatan.
Pekerjaan itu tidak menghasilkan puluhan miliar, tetapi murni atas hasil kerja kerasnya sendiri.
Reihan tidak pernah mencampuri urusan kerja Maya.
Dia tidak mengirimkan klien, tidak memberi kemudahan jalur bisnis, dan tidak memaksakan kehadiran.
Suatu sore, Reihan berdiri di depan studio baru Maya.
Dia tidak masuk ke dalam.
Dia hanya berdiri di tepi jalan sambil memegang dua cangkir kopi.
Maya keluar dari pintu studio dan melihatnya.
“Kamu tidak masuk?” tanya Maya.
Reihan tersenyum tipis.
“Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu.”
Reihan menyerahkan satu cangkir kopi.
“Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas selesainya proyek pertamamu.”
Maya menerima cangkir itu.
“Terima kasih.”
Mereka hening sejenak di bawah naungan pohon peneduh jalan.
“Apakah kamu masih marah padaku?” tanya Reihan pelan.
“Aku tidak marah. Tapi aku butuh waktu untuk berdiri di atas kakiku sendiri tanpa bantuan siapa pun,” jawab Maya jujur.
Reihan mengangguk memahami.
“Aku akan selalu menghormati keputusannmu. Jika suatu hari kamu siap untuk bicara sebagai dua orang yang setara, aku ada di sini.”
Maya menatap jalanan Jakarta yang ramai.
Dia mengingat kembali malam saat dia mengurung diri di kamar mandi rumah Menteng.
Malam itu dia berpikir dia butuh seorang penyelamat untuk keluar dari penderitaannya.
Namun kini dia tahu, penyelamat sejati dalam hidupnya adalah keberaniannya sendiri untuk melangkah melewati pintu keluar.
Maya menyesap kopinya lalu tersenyum tipis.
Masa depannya kini tidak lagi ditentukan oleh Gemasurya, Reihan, atau dokumen rahasia mana pun.
Masa depannya sepenuhnya milik Maya Arisandi.
