Ratna membuka penutup kayu tersebut.

PART 2

Di dalam kotak kayu raksasa itu, terdapat 6 kotak karton kecil.

Setiap kotak tertulis nama salah satu dari 6 bersaudara.

Ratna membuka kotak pertama yang bertuliskan nama Rina.

Di dalamnya menumpuk karton ucapan ulang tahun yang tak pernah terkirim, gambar-gambar mewarnai masa kecil, dan selembar kertas lusuh bertuliskan: “Mungkin tahun ini Ibu pulang.”

Ratna membuka kotak milik Siska.

Di sana terdapat tiket masuk acara pentas drama sekolah yang kursinya selalu kosong.

Di kotak Laras, ada foto-foto kelulusan sekolah tanpa sosok seorang ibu.

Di kotak Dina, ada gelang-gelang manik buatan tangan yang warnanya sudah pudar.

Di kotak Tari, ada tumpukan surat tanpa alamat tujuan.

Di kotak milik Maya, putri bungsu, terdapat sebuah foto keluarga di mana hanya ada 6 anak perempuan dan Hendra yang tersenyum lelah.

Wajah Ratna berubah pucat.

“Apa-apaan ini? Singkirkan benda-benda ini! Kamu mau mempermalukan Ibu di depan banyak orang?” suara Ratna gemetar.

Rina menggelengkan kepala dengan tenang.

“Kalau aku berniat mempermalukan Ibu, aku sudah membacakan isi surat-surat ini menggunakan mikrofon sejak tadi.”

Rina mengambil 6 amplop tertutup dari dalam kotak.

“Setiap anak di rumah ini menulis satu surat. Semua ini untuk Ibu, bukan untuk para tamu.”

Ratna gelisah dan melihat ke sekeliling ruangan.

Para tamu mulai berbisik-bisik.

Nora, si bungsu Maya, melangkah maju mendekati ibunya.

“Aku cuma mau tanya satu hal. Kenapa Ibu baru datang sekarang?”

Ratna membuka mulutnya, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Hendra memperhatikan Rina yang menggenggam erat amplop-amplop di dadanya.

Ratna akhirnya mengucapkan satu kalimat yang membongkar seluruh kebohongannya malam itu:

“Karena Broto meninggalkan aku 2 tahun lalu, dan aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang.”

Suasana ruangan menjadi sangat hening.

Tidak ada suara musik, tidak ada denting sendok.

Ratna menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya sejak melangkah masuk, dia terlihat kebingungan.

Tas mewahnya kini tampak tidak ada artian sama sekali.

Rina meletakkan mikrofon di atas meja.

“Jadi Ibu datang bukan karena rindu pada kami.”

“Ibu tidak bermaksud bilang begitu…” sahut Ratna pelan.

“Tapi Ibu bilang Ibu cuma sendirian sekarang,” potong Rina tegas.

Ratna menarik napas panjang.

“Hidup ini tidak sesederhana yang kalian pikirkan.”

Laras, yang berdiri rapat bersama saudara-saudaranya, melipat tangan di dada.

“Bagi kami sangat sederhana. Ibu pergi meninggalkan kami. Ayah bertahan dan membesarkan kami.”

Ratna menatap Hendra, berharap mantan suaminya akan membela atau meredakan suasana seperti yang biasa dia lakukan dulu.

Tetapi Hendra berdiri tegap.

“Aku tidak ingin acara pernikahan ini berubah menjadi tempat menghakimi orang,” kata Hendra dengan suara tenang.

“Ini hari bahagia Rina. Tapi kamu tidak bisa datang setelah 15 tahun dan bersikap seolah kesalahan ada pada gajiku yang kecil dulu.”

Ratna merapatkan bibirnya.

“Kamu juga dulu tidak bahagia bersamaku, Hendra.”

“Mungkin itu benar,” jawab Hendra. “Tapi pernikahan kita dan anak-anak adalah dua hal yang berbeda.”

Kalimat itu menembus pertahanan Ratna.

Selama 15 tahun, Ratna selalu menceritakan kisah yang nyaman kepada teman-teman barunya.

Dia mengaku melarikan diri dari kehidupan miskin, dari suami tanpa ambisi, dan dari rumah sempit yang menyusahkan.

Dia tidak pernah menceritakan tentang 6 anak perempuan yang dia tinggalkan.

Dia tidak pernah menceritakan bahwa saat dia pergi, Maya masih tidur di dalam ayunan bayi.

Rina mengambil sebuah foto dari dalam kotak kayu.

Foto itu diambil 4 tahun setelah kepergian Ratna.

Di dalam foto, Hendra duduk di kursi bambu di teras rumah sederhana, dikelilingi 6 putrinya.

Semuanya tersenyum bahagia.

Maya kecil duduk di pangkuan Hendra.

“Foto ini tergantung di dinding ruang tamu kami selama belasan tahun,” kata Rina.

“Setiap kali ada yang bertanya di mana Ibu, Ayah selalu menjawab: Ayah tidak tahu kapan Ibu kalian kembali, tapi Ayah selalu ada di sini.”

Ratna menerima foto itu.

Jari-jarinya gemetar hebat.

“Aku… aku pernah mengirim uang untuk kalian,” bisik Ratna membela diri.

Siska tertawa dingin.

“Cuma 2 kali transfer dalam waktu 15 tahun.”

“Aku tidak tahu bagaimana cara menghubungi kalian lagi,” kata Ratna.

“Ibu tahu nomor telepon rumah,” sahut Tari. “Ayah tidak pernah mengganti nomor itu.”

Dina menambahkan:

“Ibu juga tahu alamat rumah kita.”

Maya memberikan pertanyaan terakhir:

“Dan Ibu tahu nama-nama kami.”

Kata-kata dari anak bungsu itu benar-benar menghancurkan kesombongan Ratna.

Dia terduduk di kursi terdekat, kehilangan seluruh kata-kata.

Para tamu memperhatikan dari kejauhan.

Aris, pengantin pria, mendekati Rina dan berbisik pelan, menanyakan apakah acara perlu dihentikan sejenak.

Rina menggelengkan kepala.

“Tidak. Aku mau menyelesaikan ini sebelum kita mengucapkan janji pernikahan.”

Rina tidak mencari dendam.

Dia telah menghabiskan bertahun-tahun membayangkan momen ini.

Saat berusia 11 tahun, dia ingin marah dan berteriak.

Saat berusia 16 tahun, dia berniat berpura-pura tidak mengenali ibunya.

Saat berusia 20 tahun, dia merasa tidak peduli lagi.

Namun ketika pesan singkat dari Ratna masuk—pesan yang menunjukkan bahwa Ratna hanya peduli pada pandangan keluarga barunya—Rina tahu dia harus mengambil sikap.

Bahkan setelah 15 tahun berlalu, Ratna tetap lebih mementingkan gengsi daripada 6 anak yang ditelantarkannya.

Rina menyentuh tepi kotak kayu itu.

“Aku tidak menyiapkan semua ini untuk menghukum Ibu.”

“Aku menyimpannya karena dulu aku selalu berharap Ibu akan pulang dan bertanya apa saja yang sudah Ibu lewatkan.”

Ratna mendongak dengan mata berkaca-kaca.

“Kalau Ibu mau tahu semuanya sekarang… bagaimana?”

“Kalau begitu, bawa kotak ini pulang,” jawab Rina.

Rina menunjuk ke arah 6 kotak karton kecil di dalamnya.

“Lihat setiap gambar di sana. Baca setiap surat.”

“Pelajari hari apa Siska lulus sekolah, alat musik apa yang disukai Dina, kapan Laras mulai kuliah di Jakarta, kenapa Tari berhenti ikut les menari, dan jurusan apa yang dipilih Maya.”

“Mulailah dari hal-hal dasar yang seharusnya diketahui oleh seorang ibu.”

Ratna mengepalkan tangannya.

“Kamu tidak bisa meminta Ibu menggantikan waktu 15 tahun hanya dalam satu malam.”

“Benar. Itu yang ingin aku jelaskan ke Ibu.”

Hendra memandang putri sulungnya dengan rasa bangga yang luar biasa.

Dia teringat malam Natal pertama tanpa Ratna.

Waktu itu dia hampir tidak memiliki uang tersisa.

Dia hanya mampu membeli 6 stel pakaian sederhana, sekotak kue murah, dan memasang hiasan plastik di ruang tamu.

Anak-anaknya bangun pagi-pagi sekali, dan Siska bertanya apakah ibunya akan datang untuk makan siang.

Hendra tidak bisa menjawab.

Hari itu, Hendra membuat keputusan penting: dia tidak akan pernah berbicara buruk tentang Ratna di depan anak-anaknya.

Bukan untuk melindungi Ratna, melainkan agar rasa sakit anak-anaknya tidak bertambah berat oleh amarah orang dewasa.

Selama bertahun-tahun, Hendra selalu memberikan jawaban yang sama:

“Ibu kalian mengambil keputusannya sendiri. Nanti kalau kalian sudah dewasa, kalian berhak mengambil keputusan kalian sendiri.”

Hari itu akhirnya tiba.

Rina menatap adik-adiknya.

“Aku ingin Ibu tetap ada di acara pemberkatan.”

Laras terkejut.

“Kamu serius, Kak?”

“Ya. Bukan karena dia pantas mendapatkannya, tapi karena aku tidak ingin mengingat hari pernikahanku sebagai hari di mana aku mengusir ibuku sendiri.”

Siska menarik napas panjang.

“Aku tidak akan memeluknya.”

“Tidak ada yang memintamu melakukan itu,” jawab Rina.

Dina dan Tari mengangguk setuju.

Maya tetap diam, tetapi tidak membantah.

Ratna meneteskan air mata tanpa suara.

Tidak ada drama jeritan atau tindakan histeris.

Hanya seorang wanita yang akhirnya menyadari jarak besar antara alasan yang dia buat dan kenyataan yang dia tinggalkan.

Hendra melangkah mendekat ke arah mantan istrinya.

“Kamu boleh duduk dan menyaksikan. Tapi hari ini bukan tentang kamu.”

Ratna menatap Hendra.

“Aku mengerti.”

“Dan setelah hari ini, kalau kamu mau menghubungi mereka, ikuti aturan yang mereka buat,” tambah Hendra.

Ratna mengangguk pelan.

“Aku paham.”

Beberapa menit kemudian, musik alunan pernikahan mulai terdengar di area taman.

Rina berjalan ke ruang persiapan untuk merapikan gaunnya.

5 adiknya ikut masuk ke dalam ruangan.

Hendra menunggu di luar door frame.

Ketika Rina keluar, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Ayah.”

“Ada apa, Nak?”

Rina menggandeng lengan ayahnya.

“Kotak kayu itu sebenarnya juga buat Ayah.”

Hendra mengerutkan dahi.

“Maksudmu?”

“Selama ini Ayah selalu merasa tidak pernah memberi kami kehidupan yang cukup, kan?”

Hendra menunduk pelan.

Itu benar.

Ada malam-malam di mana dia duduk sendirian di meja dapur setelah semua anak tidur, menghitung sisa uang di dompet dan khawatir anak-anaknya hanya akan mengingat kesulitan hidup mereka.

Mereka tidak pernah liburan ke luar negeri.

Pakaian mereka sering kali diturunkan dari kakak ke adik.

Beberapa acara perayaan dilewati dengan sangat sederhana.

Rina menggenggam tangan ayahnya lebih erat.

“Lihat semua barang di dalam kotak itu. Tiket acara, foto, gambar, surat. Ayah tahu apa persamaan dari semua barang itu?”

Hendra menggelengkan kepala.

“Ayah selalu ada di setiap momen itu.”

Hendra menahan napasnya, mencoba menguasai emosinya.

Rina tersenyum lembut.

“Kami tidak butuh kehidupan yang mewah, Yah. Kami cuma butuh seseorang yang tidak pernah pergi.”

Musik berganti nada.

Saatnya berjalan menuju altar.

Mereka berjalan berdampingan di sepanjang jalan setapak berhiaskan bunga-bunga putih.

5 adiknya berdiri rapi di dekat altar.

Aris menunggu di depan dengan senyum lega.

Ratna duduk di barisan paling belakang.

Bukan di depan.

Bukan di samping keluarga inti.

Di barisan paling akhir.

Ratna menerima posisi itu tanpa protes, menyadari bahwa itu adalah tempat yang sesuai dengan kehadirannya selama 15 tahun terakhir.

Selama acara berlangsung, Ratna tidak mencoba menarik perhatian.

Dia tidak mengambil foto berlebihan.

Dia tidak mengajak orang di sampingnya berbicara tentang kekayaannya.

Dia hanya diam dan menyaksikan.

Dia melihat Rina tertawa bahagia saat Aris salah mengucapkan kata dalam janji nikah.

Dia melihat Siska merapikan gaun Rina.

Dia melihat Laras mengusap air mata.

Dia melihat Tari menggenggam tangan Maya.

Dia melihat Dina memberikan tisu kepada adiknya.

Dan dia melihat Hendra.

Pria itu berdiri di sana dengan sikap tenang, memandangi putri-putrinya dengan penuh rasa syukur.

Ratna akhirnya menyadari apa yang tidak pernah bisa dibeli oleh harta Broto.

Dia berpikir bahwa dengan pergi, dia meninggalkan kehidupan yang serba kekurangan.

Namun kehidupan di rumah itu terus berjalan dan tumbuh menjadi sangat indah.

Tanpa dirinya.

Setelah acara pemberkatan selesai, para tamu bergerak ke area resepsi.

Ratna mendekati Hendra yang berdiri di dekat area taman.

“Boleh aku bicara sebentar?”

Hendra melihat ke arah anak-anaknya sebelum menjawab.

“Satu menit.”

Ratna memegang foto lama yang tadi ditunjukkan Rina.

“Kamu benar-benar tidak pernah menceritakan keburukanku kepada mereka?”

Hendra menjawab datar:

“Aku tidak perlu melakukan itu. Mereka bisa melihat sendiri.”

Ratna menunduk.

“Broto selalu bilang, nanti kalau anak-anak sudah besar, mereka bakal paham kalau aku cuma mencari kebahagiaanku sendiri.”

“Dan kamu percaya?” tanya Hendra.

“Aku mencoba mempercayainya.”

“Itu dua hal yang berbeda,” kata Hendra.

Ratna menarik napas pelan.

“Waktu Broto pergi meninggalkan aku, aku pikir aku bisa pulang dan menjelaskan semuanya.”

“Menjelaskan alasan tidak sama dengan memperbaiki keadaan,” sahut Hendra.

Ratna memejamkan mata sejenak.

“Aku baru tahu sekarang.”

Hendra memperhatikan anak-anaknya yang sedang berkumpul dan tertawa bersama pengantin pria.

“Kamu tidak perlu minta maaf padaku,” kata Hendra. “Urusan kita sudah selesai sejak lama. Kamu utang penjelasan, kejujuran, dan kesabaran kepada mereka. Kamu juga harus terima kalau ada di antara mereka yang tidak mau kenal lagi denganmu.”

“Apa kamu bakal melarang kalau aku mencoba mendekati mereka?” tanya Ratna.

Hendra menatapnya lurus.

“Bukan aku yang berhak melarang atau memberi izin. Mereka sudah dewasa.”

Jawaban itu terasa lebih menyakitkan bagi Ratna daripada sebuah makian.

Selama 15 tahun, Ratna membayangkan Hendra sebagai penghalang yang bisa dia bujuk suatu saat nanti.

Ternyata tidak ada penghalang tunggal.

Ada 6 anak perempuan, dan masing-masing memegang kendali atas hidup mereka sendiri.

Sebelum malam berakhir, Ratna berjalan mendekati Rina.

“Aku akan membawa kotak kayu ini.”

“Bawa saja,” kata Rina.

“Aku bakal baca semuanya.”

“Baca waktu kamu sendirian di rumah,” saran Rina.

“Kenapa?”

Rina menatap ibunya tanpa rasa benci.

“Karena sebagian besar surat itu ditulis saat kami masih kecil. Kosa kata kami belum tertata dan sangat jujur. Aku tidak mau kamu mengubah rasa sakit kami masa lalu menjadi bahan perdebatan baru.”

Ratna mengangguk paham.

“Boleh Ibu menelepon kamu setelah kamu selesai bulan madu?”

Rina diam sejenak sebelum menjawab.

“Ibu bisa kirim pesan dulu. Nanti aku yang tentukan kapan mau balas.”

Itu bukan tanda pemaafan instan.

Tetapi itu juga bukan penolakan total.

Malam itu, setelah kembali ke apartemennya di Jakarta, Ratna meletakkan 6 kotak karton di atas meja makan yang luas.

Dia tidak menyalakan televisi.

Dia tidak menghubungi siapa pun.

Dia membuka kotak milik Rina terlebih dahulu.

Dia membaca kartu ucapan yang ditulis saat Rina berusia 10 tahun:

“Ibu, hari ini aku menang lomba lari di sekolah. Ayah teriak kencang sekali sampai aku malu. Aku berharap Ibu ada di sana melihat aku.”

Kartu lain saat Rina berusia 13 tahun:

“Ayah bilang aku tidak boleh benci Ibu selamanya. Kadang aku berharap Ayah tidak sebaik itu.”

Ratna memejamkan mata saat air matanya menetes ke atas kertas.

Kemudian dia membuka kotak milik Maya.

Di dalamnya tidak ada kenangan bersama sama sekali.

Hal itu justru terasa lebih menyakitkan.

Hanya ada gambar-gambar anak kecil yang berusaha membayangkan wujud ibunya.

Di salah satu gambar, ada 7 figur manusia di bawah matahari. 6 figur diberi nama terang. Figur ketujuh hanya bertuliskan: “Mungkin Ibu.”

Ratna menutup mukanya dan menangis di meja makan.

Minggu-minggu berikutnya, Ratna tidak lagi datang tiba-tiba atau menuntut perhatian.

Dia mengirimkan 6 pesan terpisah ke ponsel anak-anaknya.

Kepada setiap anak, dia menyampaikan permohonan maaf atas hal yang spesifik.

Kepada Rina, karena telah merusak suasana awal hari pernikahannya.

Kepada Siska, karena tidak pernah hadir di acara sekolahnya.

Kepada Laras, karena tidak ada saat dia dirawat di rumah sakit.

Kepada Dina, karena tidak pernah tahu minat musiknya.

Kepada Tari, karena membiarkannya melewatinya hari ulang tahun tanpa ucapan.

Kepada Maya, karena hanya meninggalkannya ruang kosong tanpa kenangan.

Respon dari anak-anaknya tidak datang bersamaan.

Rina membalas 4 hari kemudian.

Dina membalas 2 minggu setelahnya.

Tari menjawab dengan satu kalimat singkat.

Siska tidak membalas selama berbulan-bulan.

Laras setuju untuk bertemu minum kopi, tetapi menegaskan tidak ingin mendengar cerita tentang masa lalu ibunya bersama Broto.

Maya mengirimkan pesan yang dibaca Ratna berulang kali:

“Aku tidak tahu apakah aku butuh sosok ibu sekarang. Tapi mungkin suatu hari nanti aku mau mengenal siapa Ibu yang sebenarnya.”

Hendra tidak ikut campur dalam komunikasi itu.

Dia melanjutkan rutinitas harian seperti biasa.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, rumah terasa sepi. Anak-anaknya sibuk dengan kuliah, pekerjaan, atau kehidupan baru mereka.

Kadang-kadang dia duduk di teras rumah tempat foto lama mereka diambil.

Suatu sore, Rina datang berkunjung membawa bingkai foto pernikahan.

Di dalamnya ada foto Rina, Aris, 5 adiknya, dan Hendra.

“Ibumu tidak ada di foto ini,” kata Hendra pelan.

Rina tersenyum.

“Foto ini bukan untuk menampilkan semua orang, Yah. Foto ini cuma mencatat siapa yang benar-benar ada di sana mendampingi aku.”

Hendra memperhatikan foto itu.

“Kamu menyesal sudah mengundangnya?”

Rina berpikir sejenak.

“Tidak. Kalau dia tidak datang, mungkin aku masih berpikir uang adalah alasan utama dia pergi. Sekarang aku tahu itu murni keputusannya. Dan keputusan kami setelahnya adalah milik kami sendiri.”

“Bagaimana dengan kotak kayu itu?” tanya Hendra.

“Kotak itu sudah menjalankan tugasnya.”

“Tugas apa?”

Rina melihat ke arah foto masa kecil mereka di dinding.

“Mengingatkan kita semua bahwa meninggalkan sesuatu bukan berarti hal itu berhenti tumbuh.”

Hendra tersenyum.

15 tahun lalu, Ratna melangkah keluar dari rumah sederhana itu karena mengira dia meninggalkan kehidupan yang tak bernilai.

15 tahun kemudian, dia membuka 6 kotak dan menyadari bahwa di dalamnya tersimpan seluruh perjalanan tumbuh dewasa, kelulusan, tawa, perjuangan, dan keluarga yang terus berkembang tanpa dirinya.

Uang memang memberinya tempat tinggal mewah dan kendaraan mahal.

Namun uang tidak akan pernah bisa membeli kembali satu hari pun dari masa lalu yang hilang.