PART 2
Maya menyimpan pesan ancaman itu di ponselnya dan memperlihatkannya kepada Aris keesokan harinya.
Aris langsung berniat memanggil tim hukum perusahaan, namun Maya menahan tangan pria itu.
“Jika kita bertindak sekarang tanpa bukti kuat, pelaku akan menghapus semua jejaknya,” ujar Maya.
Selama 5 minggu berikutnya, Maya mengurung diri di ruang arsip dan mengolah ribuan lembar dokumen keuangan.
Ia memeriksa faktur pembelian, data vendor, kontrak perawatan mesin, hingga arus kas keluar masuk.
Ia menemukan satu nama vendor yang mencurigakan: CV Anugerah Alam.
Perusahaan itu selalu menerima pembayaran berkala untuk perawatan kebun dengan nilai fantastis, namun rincian pekerjaannya selalu sama.
Total dana yang mengalir ke vendor itu dalam 2 tahun mencapai 4.200.000.000 rupiah.
Maya menelusuri data dan menemukan bahwa pembayaran ke CV Anugerah Alam melonjak tajam sejak Dion Subrata menjabat sebagai manajer operasional Kebun Kampar.
Di saat yang sama, suasana di kantor pusat mulai memanas.
Cemoohan terhadap Maya tidak berkurang, justru berganti menjadi gosip jahat.

Beberapa karyawan berbisik bahwa wanita bergaun murahan itu berhasil mendapat posisi strategis karena mendekati sang pewaris.
Suatu sore, Maya menemukan lembaran foto dirinya saat wawancara ditempel di papan pengumuman lantai 3 dengan tulisan: “Gadis Miskin Penjilat Bos.”
Aris yang melihat hal itu sangat marah dan ingin mengumpulkan seluruh staf untuk memberi sanksi.
Namun Maya kembali melarangnya.
“Jangan biarkan mereka mengalihkan fokus kita,” kata Maya dingin sambil mencabut kertas itu. “Biarkan mereka bicara sampai bukti kita lengkap.”
Malam-malam panjang yang mereka habiskan di kantor membuat hubungan Maya dan Aris kian dekat.
Mereka sering berbagi cerita di sela-sela tumpukan berkas.
Aris menceritakan beban berat yang ia pikul setelah ayahnya meninggal, sementara Maya menceritakan perjuangannya membiayai sekolah kedua adiknya.
Suatu malam, Aris mengantar Maya pulang ke rumahnya di pinggiran kota.
Di sana, Aris duduk di kursi kayu sederhana dan menikmati teh hangat buatan ibu Maya.
Dari interaksi yang sederhana itu, benih-benih cinta tumbuh di antara mereka.
Namun, badai yang sebenarnya baru saja dimulai.
Pada hari Senin minggu berikutnya, Siska De la Vega, sepupu Aris yang menjabat sebagai direktur keuangan, mencegat Maya di koridor utama.
Di hadapan belasan karyawan yang lalu lalang, Siska tersenyum sinis.
“Jadi ini hasil kerja auditmu?” sindir Siska keras. “Masuk ke sini pakai baju bekas, lalu sekarang berpegangan tangan dengan pemilik perusahaan?”
Langkah Maya terhenti.
Mata Siska menyipit saat menatap Maya.
“Kamu pikir kamu bisa membohongi semua orang di sini?”
Maya tidak membalas makian itu.
Matanya justru menangkap pemandangan di ujung lorong: Dion Subrata sedang berdiri sambil memberikan kode lirikan mata kepada Siska.
Maya langsung paham siapa lawan mereka yang sebenarnya.
Maya segera masuk ke ruangan Aris dan mengunci pintu dari dentro.
“Siska terlibat,” kata Maya tanpa ragu.
Aris terdiam cukup lama.
Siska bukan sekadar sepupu; mereka dibesarkan bersama oleh almarhum ayahnya, dan Siska sudah mengabdi di perusahaan keluarga selama lebih dari 8 tahun.
“Kita butuh bukti yang tidak bisa membantah,” bisik Aris dengan suara serak.
Malam itu juga, Aris menghubungi Bambang, mantan auditor senior yang sudah pensiun dan merupakan sahabat karib almarhum ayahnya.
Bambang setuju membantu mereka secara rahasia.
Untuk menghindari sabotase, Maya dan Bambang membuat salinan digital dari seluruh berkas keuangan dan menyimpannya di drive eksternal yang terenkripsi.
Dugaan Maya terbukti tepat.
CV Anugerah Alam ternyata hanyalah perusahaan fiktif tanpa kantor operasional maupun pekerja lapangan.
Alamat terdaftar vendor tersebut ternyata adalah sebuah rumah kosong yang disewa atas nama Dion.
Namun, persetujuan akhir untuk pencairan dana vendor fiktif itu selalu ditandatangani langsung oleh Siska dari meja direktur keuangan.
Ketika bukti mulai terkumpul, piat musuh mulai bergerak cepat.
Suatu pagi, beberapa map berkas fisik di ruang arsip mendadak hilang, dan sistem komputer keuangan sempat mengalami gangguan karena ada upaya penghapusan data secara paksa.
Beruntung, salinan cadangan yang dibuat Maya dan Bambang tetap aman.
Merasa posisinya terancam, Siska memainkan kartu terakhirnya.
Ia menghasut bibi Aris, Dewi De la Vega, yang merupakan pemegang saham terbesar kedua di keluarga De la Vega.
Siska menceritakan bahwa Aris telah dimanipulasi oleh seorang wanita miskin yang berniat menguasai aset perusahaan dan menyingkirkan pejabat lama.
Dewi yang terpengaruh langsung datang ke kantor pusat dengan amarah besar.
Ia menuntut rapat darurat keluarga dan pemegang saham diadakan hari itu juga.
Di dalam ruang rapat utama yang megah, Dewi menunjuk muka Maya di depan 10 anggota keluarga dan 5 direktur.
“Gadis tidak jelas ini datang dengan baju robek, dan sekarang dia mengacak-acak keuangan keluarga kita!” teriak Dewi. “Aris, kamu sudah terperdaya!”
Siska duduk di samping ibunya sambil tersenyum puas.
Aris berdiri pasang badan.
“Jaga bicaramu, Bibi. Maya bekerja berdasarkan data, bukan manipulasi.”
“Data apa?” potong Siska cepat. “Dia hanya orang luar yang mencoba membuat kekacauan agar posisinya aman!”
Maya melangkah maju ke depan meja rapat.
Wajahnya tenang, matanya menatap satu per satu anggota keluarga De la Vega.
“Saya tidak minta Anda percaya pada saya,” kata Maya tegas. “Saya hanya minta Anda melihat angka-angka ini. Jika setelah melihat data ini Anda menganggap saya berbohong, saya akan berjalan keluar dari kantor ini detik ini juga.”
Bambang melangkah masuk ke ruang rapat membawa proyektor dan dokumen fisik yang sudah dilegalisasi.
Ia memproyeksikan alur transaksi CV Anugerah Alam di layar besar.
Siska mulai terlihat gelisah.
“Ini semua bisa direkayasa!” seru Siska.
Bambang membuka dokumen verifikasi bank.
“Semua transaksi di layar ini cocok 100 persen dengan rekening koran resmi dari bank mitra perusahaan,” tegas Bambang.
Ruang rapat mendadak riuh dengan bisik-bisik anggota keluarga.
Aris kemudian menyuruh sekretarisnya memanggil Dion Subrata masuk ke ruangan.
Dion masuk dengan wajah pucat pasi.
Aris meletakkan bundel laporan di depan Dion.
“Jelaskan pada kami semua, ke mana aliran dana 4,2 miliar rupiah ini pergi,” kata Aris dingin.
Dion mencoba mengelak dan berdalih bahwa itu kesalahan administrasi lapangan.
Maya langsung menyela.
“Setiap kali dana CV Anugerah Alam cair, dalam waktu 24 jam, 70 persen dari dana itu ditransfer kembali ke rekening PT Surya Mandiri.”
Maya membuka lembaran dokumen kepemilikan perusahaan.
“Dan pemilik tunggal PT Surya Mandiri adalah Siska De la Vega.”
Siska berdiri dari kursinya dengan wajah merah padam.
“Fitnah! Itu tidak benar!”
Aris menatap Dion dengan pandangan tajam.
“Dion, kamu sudah bekerja untuk ayahku selama 15 tahun. Ini kesempatan terakhirmu sebelum kasus ini masuk ke kepolisian.”
Kepanikan menguasai Dion.
Ia tidak mau mendekam di penjara sendirian.
Dion mengambil ponsel lamanya dari saku dan meletakkannya di meja.
“Siska yang menyuruh saya!” seru Dion. “Dia punya utang investasi bodong sebesar miliaran rupiah dua tahun lalu! Dia mengancam akan memecat saya jika tidak mau membuat perusahaan fiktif ini!”
Dion memutar rekaman suara dari ponselnya.
Suara Siska terdengar jelas di dalam rekaman tersebut, memberikan instruksi untuk memalsukan nota pembelian peralatan kebun dan mengancam Dion agar tidak buka suara.
Ruang rapat seketika hening.
Dewi menatap putrinya dengan tatapan tidak percaya.
“Siska… apa yang kamu lakukan?” bisik Dewi dengan suara gemetar.
Siska terduduk lemas di kursinya, tidak mampu lagi membantah.
“Aku… aku berniat mengembalikannya nanti,” bisik Siska pelan.
Maya melangkah mendekati Siska.
“Total dana yang disimpangkan bukan lagi 4,2 miliar, tapi mencapai 5,1 miliar rupiah setelah kami menghitung sisa transaksi di triwulan ini.”
Aris menatap sepupunya dengan rasa kecewa yang mendalam.
“Ayahku mempercayaimu seperti anaknya sendiri, Siska.”
“Aris, tolong… kita keluarga,” panggil Siska memohon.
“Keluarga tidak saling menghancurkan dari dalam,” jawab Aris dingin.
Hari itu juga, Aris menyerahkan seluruh bukti rekaman, dokumen transfer, dan hasil audit independen kepada pihak kepolisian.
Siska dan Dion langsung diamankan untuk menjalani proses legal atas tindakan penggelapan dalam jabatan.
Kasus hukum yang menimpa Siska menjadi pembicaraan hangat di industri minyak sawit selama berbulan-bulan.
Namun, Aris dan Maya memilih untuk fokus membenahi internal PT Palma Nusantara.
Agar tidak ada anggapan nepotisme, Maya meminta audit ulang atas seluruh pekerjaannya oleh lembaga auditor independen ternama.
Selama 4 bulan, Maya bekerja profesional tanpa keistimewaan apa pun.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sistem kontrol keuangan yang dirancang Maya berhasil menyelamatkan perusahaan dari potensi kerugian yang lebih besar.
Dewan komisaris akhirnya secara resmi mengangkat Maya Anindita sebagai Kepala Departemen Pengawasan Keuangan.
Dewi, yang dulu sangat membenci Maya, hadir dalam rapat penetapan tersebut.
Setelah rapat selesai, Dewi menghampiri Maya di koridor.
“Saya minta maaf atas kata-kata kasar saya waktu itu,” kata Dewi pelan.
“Saya sudah memaafkannya, Bu,” jawab Maya ramah. “Yang penting sekarang perusahaan ini sudah aman.”
Kehidupan keluarga Maya berubah secara perlahan.
Dengan gajinya yang layak, Maya mampu merenovasi rumah ibunya di Martos, membiayai kuliah adiknya Dimas, dan mendaftarkan Rini ke sekolah musik.
Meski sudah berkecukupan, Rahma tetap memilih menerima pesanan jahitan dari tetangga karena ia menyukai pekerjaan itu.
Aris sering berkunjung ke rumah sederhana mereka di akhir pekan, tanpa membawa pengawal atau mobil mewah.
Ia duduk di teras, mengobrol dengan adiknya Maya, dan belajar memahami arti kesederhanaan dari keluarga itu.
Satu tahun kemudian, di sebuah perkebunan tua milik keluarga yang dikelilingi pepohonan hijau yang asri, Aris mengajak Maya berjalan-jalan.
Udara sore itu terasa sejuk.
Aris menghentikan langkahnya di atas bukit kecil yang menghadap ke area perkebunan.
“Ayahku dulu selalu bilang, tanah dan perusahaan ini hanya akan bertahan jika dikelola oleh orang-orang yang jujur,” kata Aris sambil menatap Maya.
Maya tersenyum. “Ayahmu orang yang sangat bijaksana.”
Aris merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil.
Ia berlutut di hadapan Maya.
“Maya Anindita, kamu bukan hanya menyelamatkan perusahaan ini, tapi kamu juga mengajarkanku arti keberanian yang sesungguhnya. Maukah kamu menikah denganku?”
Air mata haru menetes di pipi Maya.
“Ya, saya mau,” jawab Maya mantap.
Pernikahan mereka digelar dengan penuh kehangatan di aula utama kantor pusat yang telah dihias indah.
Rahma sendiri yang menjahit sebagian gaun pengantin Maya, menambahkan sentuhan renda anggun di bagian lengan.
Maya ingin membawa karya tangan ibunya di hari paling membahagiakan dalam hidupnya.
Tahun demi tahun berlalu.
Maya kini memegang posisi sebagai Direktur Keuangan PT Palma Nusantara.
Namanya dihormati di dunia bisnis sebagai sosok yang tegas, teliti, dan berintegritas tinggi.
Di dalam ruang kerja megahnya, terdapat sebuah kotak kayu terukir di sudut lemari.
Di dalam kotak itu, tersimpan jas abu-abu tua dengan tambalan rapi di bagian lengannya.
Suatu hari, anak pertama mereka bertanya mengapa ibunya menyimpan baju tua yang sudah kusam itu di dalam ruangan yang begitu indah.
Maya tersenyum, mengambil jas itu, dan mengelus jahitan di lengannya.
“Baju inilah yang mengingatkan Ibu tentang dari mana Ibu berasal,” kata Maya lembut.
“Ibu pernah dihina dan tertawakan hanya karena baju ini. Tapi bukannya lari, Ibu memilih untuk membuktikan kemampuan Ibu.”
Maya menatap anaknya dengan penuh kasih sayang.
“Ingatlah, nak, harga diri dan masa depanmu tidak ditentukan oleh apa yang kamu pakai atau apa kata orang lain tentangmu. Masa depanmu ditentukan oleh keberanianmu untuk berdiri tegak dan menyuarakan kebenaran saat orang lain memilih untuk diam.”
