Jawaban Danu membuat Arya makin sadar betapa busuknya mereka.

PART 2

Keesokan paginya, Danu memanggil Maya ke ruang tamu utama.

Siska sudah duduk di sana bersama sebuah map biru di atas meja glass.

Arya berada di balik pintu kaca yang sedikit terbuka, berpura-pura menatap taman dari kursi rodanya.

Di bawah pangkuannya, sebuah perekam suara digital di dalam saku celana sedang aktif.

“Kami ingin menyelesaikan ini secara baik-baik,” kata Danu sambil menggeser berkas itu ke depan Maya.

“Arya butuh ketenangan. Kami sudah menyiapkan surat pernyataan. Kamu setuju untuk tidak campur tangan dalam urusan medis, aset, dan operasional Hendrawan Group. Kamu juga harus meninggalkan rumah ini hari ini.”

Maya membaca dokumen itu baris demi baris.

Tiba-tiba tangan Maya berhenti di lembar kedua.

“Surat ini sudah ditandatangani dan diberi tanggal 11 hari sebelum kecelakaan Arya?” suara Maya bergetar.

Danu tersentak dan langsung merebut kertas itu dari tangan Maya.

“Itu cuma draf formalitas!” bentak Danu.

Maya berdiri dengan wajah pucat. Dia berbalik dan berjalan cepat keluar dari ruang tamu.

Tanpa sengaja, satu lembar lampiran terjatuh di bawah meja samping.

Bi Nah, asisten rumah tangga yang sudah bekerja di rumah itu selama 23 tahun, pura-pura menyapu dan mengambil lembaran tersebut.

Malam harinya, saat suasana rumah sepi, Bi Nah menyelipkan lembaran itu ke bawah bantal Arya.

Itu adalah borongan draf gugatan cerai atas nama Arya.

Tetapi di lembar lampiran itu, tercantum nama wanita lain: Anita Salcedo, seorang konsultan keuangan yang juga teman dekat Siska.

Keesokan harinya, Anita benar-benar datang ke rumah Bogor.

Wanita itu berjalan menghampiri Arya yang duduk di teras, sengaja mengabaikan Maya yang sedang menyiapkan minum.

“Arya, ini aku… Anita. Mungkin ingatanmu lupa, tapi hatimu pasti ingat kita pernah sangat dekat,” ucap Anita manis sambil memegang bahu Arya.

Maya yang berdiri tak jauh dari sana hanya mengepal jemarinya, lalu berbalik menuju dapur.

Siska berbisik kepada Anita di dekat tangga.

“Bagus. Buat dia terbiasa denganmu. Begitu si Maya pergi, posisi komisaris dan rumah ini jatuh ke tangan kita.”

Arya mendengar setiap kata.

Malam itu, Arya menggunakan ponsel rahasia yang disimpan Bi Nah untuk menghubungi Farhan, pengacaranya.

“Farhan, saya tidak butuh bukti penggelapan saja. Saya ingin tahu seberapa jauh mereka sudah merencanakannya.”

Farhan menjawab di seberang telepon.

“Pak Arya… temuan kami menunjukkan ini bukan cuma soal uang proyek Sentul. Ini sudah berlangsung lebih dari 1 tahun.”

Farhan bekerja sepanjang malam memeriksa arus kas, pesan surel internal, dan dokumen legalitas perusahaan cangkang.

Pukul 05:30 pagi, Farhan menelepon kembali.

Arya langsung mengangkatnya. Maya sedang tertidur pulas di sofa kamar dengan selimut tipis.

“Katakan,” bisik Arya.

“Masuknya dana gelap ke rekening Danu sudah terjadi sejak 14 bulan lalu,” terang Farhan.

“Danu menggunakan 3 kontraktor fiktif di proyek Grand Residence. Uang kas perusahaan dialirkan ke rekening penampung atas nama PT Nusantara Gemilang.”

“Siapa pemilik PT Nusantara Gemilang?”

“Mantan rekan bisnis Danu. Dan ada aliran dana rutin setiap bulan ke rekening Siska.”

“Bagaimana dengan Anita?”

“Anita menerima bayaran sebesar Rp 250.000.000 dengan dalih biaya konsultasi manajemen yang tidak pernah ada. Transfer terakhir dilakukan 3 hari sebelum kecelakaan Anda.”

Arya memejamkan mata.

Semua puzzle terpasang sempurna.

Namun Farhan belum selesai.

“Pak Arya, ada hal lain soal kecelakaan itu.”

“Apa?”

“Sebuah bengkel di daerah Cikarang menerima pembayaran tunai senilai Rp 85.000.000 untuk perbaikan darurat bagian depan truk boks 36 jam setelah kecelakaan Anda. Pelat nomornya cocok dengan rekaman CCTV jalan tol yang kami dapatkan.”

Arya mengepalkan tangan.

“Kumpulkan semua bukti. Besok pagi kita selesaikan.”

Siang harinya, Danu mengadakan makan siang di halaman belakang rumah.

Dia mengundang 3 direktur Hendrawan Group dan seorang notaris.

Danu ingin menunjukkan kepada para kolega bahwa kondisi Arya tidak memungkinkan untuk memimpin, sehingga peralihan kekuasaan harus segera dilakukan.

Irene atau Maya menyiapkan makanan sendiri di dapur.

Ketika Maya membawa nampan berisi sop hangat untuk Arya dan hendak duduk di sebelah suaminya, Siska meletakkan tas mewahnya di atas kursi itu.

“Tempat ini untuk Anita,” kata Siska dingin.

Beberapa direktur tampak canggung, tetapi tidak ada yang berani bersuara.

Maya menatap Siska.

“Saya istri sah Arya.”

“Istri yang sebentar lagi tidak punya hak apa-apa,” potong Danu dari ujung meja. “Duduk saja di meja belakang kalau masih mau makan di sini.”

Anita datang dengan senyum lebar dan langsung duduk di samping Arya.

Maya menahan napas, mengambil piringnya, lalu berjalan menuju meja kecil di sudut teras.

Arya melihat Maya duduk sendirian, memakan makanannya dalam diam, sementara orang-orang di meja utama tertawa dan mengangkat gelas.

Anita mencoba menyuapkan makanan ke mulut Arya.

“Ayo, Arya, buka mulutmu. Ini enak sekali.”

Maya berdiri dari meja kecilnya.

“Dia bisa makan sendiri.”

Siska tertawa sinis. “Kenapa kamu yang repot? Anita cuma mau membantu.”

“Kalian tidak sedang membantu. Kalian sedang memanfaatkan kondisi suami saya!” suara Maya meninggi.

Danu menepuk meja. “Jaga bicaramu, Maya! Kamu itu bukan siapa-siapa di keluarga ini tanpa Arya!”

Maya menatap Danu lurus.

“Selama 12 tahun saya mendampingi Arya dari saat dia tidak punya uang Rp 100.000 pun di dompetnya. Saya tidak pernah meminta harta. Tapi saya tidak akan biarkan kalian menginjak-injak dia saat dia sedang lemah!”

Suasana halaman belakang mendadak hening.

Maya membalikkan badan dan masuk ke dalam rumah.

Malam itu, saat seluruh rumah sudah sepi, Maya duduk di kursi samping tempat tidur Arya.

Dia mengira Arya sudah tidur nyenyak.

Maya mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari tasnya.

Di dalamnya ada beberapa foto lama, resi pembayaran, dan sebuah kunci kuno yang sudah agak berkarat.

“Ini kunci kontraktor pertama kita di Jakarta Timur,” gumam Maya pelan sambil menatap kunci itu.

“Waktu itu umur kita baru 25 tahun. Kamu bilang kita pasti bisa membangun perusahaan besar, walau modal kita cuma Rp 5.000.000 dan satu mobil bak tua.”

Air mata Maya menetes ke atas tangannya.

“Aku sudah mencoba memperingatkanmu, Arya… 1 tahun lalu aku melihat catatan transfer Danu. Aku mendengar Siska bicara di telepon soal pembagian saham. Tapi setiap kali aku cerita, kamu selalu bilang aku salah paham.”

Arya mendengar setiap patah kata itu.

“Kamu selalu bilang, ‘Danu itu abangku, Siska itu adikku, mereka tidak mungkin jahat.’ Jadi aku memilih diam karena aku tidak mau kamu menderita harus memilih antara aku atau keluargamu.”

Maya mengusap air matanya.

“Sekarang kamu bahkan tidak mengingat namaku. Tapi tidak apa-apa. Selama kamu belum pulih, aku akan tetap di sini menjagamu dari mereka.”

Maya menggenggam tangan Arya yang terbaring kaku, lalu menyandarkan kepalanya di tepi kasur hingga tertidur.

Arya membuka matanya dalam kegelapan.

Penyesalan yang sangat dalam menghantam dadanya.

Maya bukan wanita lemah yang mengincar hartanya. Maya adalah satu-satunya orang yang benar-benar tulus melindunginya.

Pukul 10:00 pagi berikutnya, Danu mengumpulkan semua orang di ruang tamu besar.

Hadir di sana Siska, Anita, notaris bernama Pak Bambang, dua orang pengacara keluarga, dan Maya yang dipanggil secara paksa.

Arya duduki di kursi roda dekat jendela, berselimut kain batik di kakinya.

Danu meletakkan seberkas dokumen tebal di atas meja kayu jati.

“Maya, ini dokumen pengalihan hak kelola aset dan permohonan pengampuan atas Arya. Kami juga menyiapkan dana pesangon sebesar Rp 500.000.000 untukmu agar kamu bisa memulai hidup baru di luar rumah ini.”

Maya berdiri tegak.

“Saya tidak akan menandatangani apa pun.”

Siska berdiri dan menunjuk muka Maya.

“Jangan tidak tahu diri! Kamu cuma wanita dari kampung yang beruntung dinikahi Arya! Sekarang Arya sudah tidak kenal kamu!”

Danu mengisyaratkan Siska untuk tenang, lalu menatap Maya.

“Kalau kamu menolak secara baik-baik, kami akan ajukan gugatan ke pengadilan dengan bukti bahwa kamu tidak mampu merawat suami yang sedang sakit.”

Maya menatap Danu tanpa rasa takut.

“Ambil semua uang itu. Saya tidak butuh Rp 500.000.000 kalian. Tapi saya tidak akan melepaskan hak saya sebagai istri untuk menjaga Arya.”

Danu tertawa terkekeh.

“Hak istri? Di mata hukum, kalau suami dinyatakan tidak mampu secara mental, keluarga kandung yang mengambil alih!”

Danu lalu berbalik menghampiri Arya.

“Arya… katakan pada notaris dan pengacara ini. Siapa yang harus mengurus perusahaan dan rumah ini? Abangmu, kan?”

Arya perlahan mengangkat kepalanya.

Mata Arya yang sebelumnya redup kini menatap Danu dengan tajam.

“Iya, Danu.”

Danu tersenyum lebar ke arah notaris. “Kalian dengar sendiri?”

“Iya, Danu…” ulang Arya dengan suara berat dan jelas. “Itu jawaban yang sangat ingin kamu dengar sejak saya berbaring di rumah sakit, bukan?”

Senyum Danu mendadak beku.

Siska mengerutkan dahi. “Arya… kamu…”

Arya menyingkap kain batik dari kakinya.

Dia memegang kedua lengan kursi roda, lalu berdiri tegap di atas kedua kakinya.

Anita melangkah mundur hingga menabrak vas bunga.

Maya menahan napas, menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Arya berjalan langkah demi langkah menuju meja tengah.

Gerakannya mantap, tidak ada sedikit pun tanda kelumpuhan atau kebingungan.

“Ingatan saya tidak pernah hilang satu detik pun,” kata Arya, suaranya menggema di ruangan yang luas itu.

“Arya!” panggil Maya dengan suara bergetar.

Arya berhenti di samping Maya. Dia menatap istrinya dengan pandangan penuh penyesalan dan kasih sayang.

“Maafkan aku, Maya… Maafkan aku karena membuatmu menderita beberapa hari ini.”

Danu mencoba menguasai diri, walau wajahnya mulai sepucat kertas.

“Arya! Apa-apaan sandiwara ini?! Kamu pura-pura gila?!”

“Saya tidak pura-pura gila. Saya hanya ingin melihat seberapa cepat topeng kalian terbuka saat kalian pikir saya sudah tidak berdaya,” jawab Arya dingin.

Pintu depan rumah terbuka lebar.

Farhan masuk bersama 2 orang penyidik kepolisian berpakaian preman dan Dokter Rina.

Danu melangkah mundur. “Farhan? Mau apa kamu membawa polisi ke rumah saya?!”

“Ini rumah saya, Danu. Rumah yang dibangun dari keringat saya dan Maya,” potong Arya tegas.

Farhan membuka tas docu-case miliknya dan meletakkan laptop di atas meja, menyambungkannya ke layar televisi besar di ruang tamu.

“Bapak dan Ibu sekalian, silakan lihat,” ujar Farhan.

Di layar muncul grafik aliran dana dari Hendrawan Group ke PT Nusantara Gemilang senilai total Rp 14,8 miliar selama 14 bulan terakhir.

Selanjutnya, muncul rekaman percakapan telepon antara Siska dan Anita tentang rencana menyingkirkan Maya dari rumah utama.

Lalu, sebuah surat perjanjian kerahasiaan bernilai Rp 250.000.000 untuk Anita.

Siska terduduk di sofa dengan wajah pucat pasi.

Anita langsung meraih tasnya. “Saya tidak tahu apa-apa! Saya cuma disuruh Siska!”

“Diam kamu, Anita!” teriak Siska.

Farhan menekan tombol berikutnya.

Layar menampilkan foto-foto truk boks yang diperbaiki secara sembunyi-sembunyi di Cikarang, lengkap dengan kwitansi pembayaran atas nama anak buah Danu, serta pengakuan tertulis dari pemilik bengkel.

“Bukti transfer Rp 85.000.000 ini dikirim langsung dari rekening pribadi Anda, Pak Danu, 36 jam setelah kecelakaan Pak Arya,” kata Farhan tenang.

Polisi yang berdiri di belakang Farhan maju satu langkah.

“Saudara Danu, Anda kami amankan atas dugaan tindak pidana penggelapan dalam jabatan, pemalsuan dokumen, dan dugaan perencanaan kejahatan yang membahayakan nyawa orang lain.”

Danu menunjuk Arya dengan jari gemetar.

“Arya! Aku ini abang kandungmu! Kamu tega memasukkan abangmu sendiri ke penjara demi wanita ini?!”

Arya menatap Danu tanpa kedipan.

“Bukan aku yang memasukkanmu ke penjara, Danu. Keserakahanmu sendiri yang membawamu ke sana.”

“Siska! Katakan sesuatu!” jerit Danu.

Siska justru membuang muka dan menangis histeris.

“Aku cuma ikut kata Mas Danu! Aku tidak tahu apa-apa soal truk itu!”

“Kalian berdua,” kata Arya sambil menatap Danu dan Siska bergantian, “mulai hari ini dicopot dari seluruh jabatan di Hendrawan Group. Seluruh akses rekening keluarga dibekukan. Rumah ini akan dibaliknamakan atas nama Maya.”

“Kamu tidak bisa melakukan ini!” teriak Danu saat polisi memasangkan borgol di tangannya.

“Saya bisa. Dan saya sudah melakukannya,” jawab Arya datar.

Danu dan Siska digiring keluar oleh petugas kepolisian.

Anita berlari keluar tanpa berani menatap siapa pun.

Notaris dan para direktur meminta maaf kepada Arya dan Maya sebelum akhirnya pamit meninggalkan ruangan.

Ruang tamu yang luas itu mendadak menjadi sangat hening.

Hanya ada Arya dan Maya yang berdiri berhadapan.

Arya melangkah mendekati istrinya.

“Maya…”

Maya tidak menjawab. Dia berbalik dan walked cepat menuju kamar mereka di lantai atas.

Arya menyusulnya.

Di dalam kamar, Maya sedang merapikan baju-bajunya ke dalam koper.

Arya memegang tangan Maya untuk menghentikannya.

“Kamu mau ke mana?”

Maya melepaskan pegangan tangan Arya secara perlahan.

“Aku mau pulang ke rumah orang tuaku di Bandung.”

“Kenapa? Semua orang yang berbuat jahat sudah pergi. Rumah ini aman sekarang.”

Maya menatap Arya, air matanya menetes tanpa suara.

“Kamu membiarkan mereka menghinaku, Arya. Kamu melihat Siska menyuruhku makan di meja kecil. Kamu melihat Danu mengusirku. Kamu melihat Anita mencoba mengambil posisiku… dan kamu diam saja.”

“Aku harus mengumpulkan bukti, Maya! Kalau aku langsung membongkarnya hari pertama, Danu akan menghilangkan semua dokumen penggelapan itu!”

“Aku tahu!” potong Maya dengan suara serak.

“Aku tahu alasan manajerialmu. Aku tahu itu keputusan yang rasional secara bisnis. Tapi secara perasaan… kamu membiarkan aku berjuang sendirian menghadapi mereka sambil menangisi kondisi ingatanmu yang ternyata cuma bohong.”

Kata-kata Maya menembus dada Arya.

“Waktu aku duduk di meja kecil itu, Arya… yang bikin aku sakit bukan Siska atau Danu. Tapi kenyataan bahwa suamiku ada di sana, melihatku diinjak-injak, dan memilih diam demi sebuah rencana.”

Arya menundukkan kepala.

Tidak ada argumen bisnis, tidak ada bukti hukum yang bisa membela dirinya saat ini.

“Kamu benar,” kata Arya pelan. “Aku salah.”

Maya menutup kopernya.

“Aku butuh waktu, Arya.”

“Berapa lama pun kamu butuh waktu, aku akan tunggu,” balas Arya.

Hari itu, Maya pergi meninggalkan rumah Bogor.

Bulan-bulan berikutnya menjadi masa-masa tersulit dalam hidup Arya.

Audit adil dilakukan secara menyeluruh di Hendrawan Group.

Danu dijatuhi hukuman penjara 7 tahun atas kasus penggelapan skala besar dan keterlibatan dalam sabotase lalu lintas.

Siska harus mengembalikan seluruh aset yang pernah dibeli menggunakan uang perusahaan dan hidup dalam pengawasan hukum.

Arya tidak mencari pengganti untuk posisi-posisi itu.

Dia mengubah struktur perusahaan.

Dalam rapat pemegang saham tahunan yang diliput media, Arya mengumumkan perubahan nama holdings dan struktur kepemilikan.

40% saham utama perusahaan secara resmi didaftarkan atas nama Maya Hendrawan.

Di depan para wartawan dan investor, Arya berbicara di atas mimbar.

“Perusahaan ini berdiri bukan karena modal bank atau keahlian saya sendiri. Perusahaan ini ada karena ada seorang wanita yang rela menjual seluruh barang berharga miliknya 15 tahun lalu agar saya punya kantor pertama.”

Berita itu menjadi tajuk utama di berbagai media bisnis nasional.

Namun Arya tahu, memberikan saham tidak otomatis menyembuhkan luka hati.

3 bulan kemudian, Arya mengendarai mobilnya sendiri menuju sebuah jalan kecil di daerah Lavapiés, sebuah kawasan pemukiman padat di Jakarta Pusat.

Dia berhenti di depan sebuah ruko tua dengan pintu besi yang agak berkarat.

Irene atau Maya sedang berdiri di depan ruko itu, terkejut melihat mobil Arya berhenti.

Arya keluar dari mobil, membawa sebuah kunci tua di tangannya.

“Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?” tanya Maya pelan.

“Bi Nah yang bilang kamu sering datang ke ruko lama kita,” jawab Arya.

Arya berjalan mendekat dan mengulurkan kunci berkarat itu—kunci yang sama yang ada di dalam kotak kayu Maya.

“Aku sudah membeli kembali ruko ini dari pemiliknya minggu lalu.”

Maya menatap ruko tua berukuran kecil itu.

Dindingnya masih memiliki bekas cat lama yang terkelupas, lantai keramiknya sederhana, sangat berbeda dengan gedung pencakar langit Hendrawan Group.

“Kenapa kamu beli tempat ini lagi?” tanya Maya.

“Karena di tempat inilah aku pernah menjadi pria yang paling jujur,” kata Arya, suaranya bergetar.

“Di tempat ini, kita tidak punya apa-apa selain kepercayaan. Dan di tempat ini pula, aku ingin meminta kesempatan untuk mulai lagi dari awal.”

Maya menatap mata Arya. Tidak ada lagi kebohongan, tidak ada lagi kalkulasi bisnis, hanya ada ketulusan dan penyesalan yang mendalam.

Maya mengambil kunci tua itu dari tangan Arya.

Dia membuka tasnya, mengeluarkan resi gadai perhiasan yang sudah berwarna kuning kecokelatan dari 15 tahun lalu.

“Kamu masih simpan resi ini?” tanya Arya terperanjat.

“Aku tidak pernah menyimpannya untuk menagih hutang padamu, Arya,” kata Maya lembut.

“Aku menyimpannya untuk mengingatkan diriku sendiri… bahwa kita pernah berjuang bersama tanpa peduli seberapa sulit keadaannya.”

Arya menggenggam kedua tangan Maya yang memegang kertas tua itu.

“Maukah kamu mengajariku lagi cara berjuang bersama?”

Maya menatap pintu ruko tua di depannya, lalu menatap suami yang berdiri di sampingnya.

Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Maya setelah berbulan-bulan.

“Mari kita buka pintunya dulu.”

Beberapa bulan kemudian, di halaman rumah utama Bogor, meja kayu panjang kembali ditata di bawah naungan pohon rindang.

Tidak ada lagi pembatas VIP, tidak ada lagi sekat kelas, tidak ada lagi manipulasi.

Bi Nah, para pekerja senior, driver, dan teman-teman lama dari masa-masa ruko kecil duduk bersama di satu meja yang sama.

Arya berjalan tanpa kursi roda, membawa nampan makanan, lalu duduk tepat di sebelah Maya.

Dia melihat kursi roda tua yang kini tersimpan rapi di gudang belakang.

Kursi roda itu bukan lagi simbol penderitaan, melainkan pengingat abadi.

Pengingat tentang masa ketika dia pura-pura hilang ingatan untuk melihat siapa yang benar-benar tulus dan siapa yang hanya menginginkan hartanya.

Dan yang paling penting, pengingat bahwa orang paling berharga dalam hidupnya tidak pernah meminta bagian dari kekayaannya.

Maya hanya pernah meminta satu hal sederhana: sebuah tempat terhormat di sampingnya.