PART 2
Sheila langsung meletakkan gunting emas ke atas meja kayu di panggung.
Tangan Sheila gemetaran saat menatap Aris.
“Mas Aris meletakkan saya di sini tanpa tahu aturan hukumnya?” tanya Sheila dengan suara bergetar.
“Aku… aku tidak tahu ada klausul itu,” gagap Aris.
“Jadi Mas Aris mencoba memberikan posisi yang bukan milik Mas Aris sendiri?” cecar Sheila, merasa dijebak di depan publik.
Wali Kota yang hadir segera memanggil staf hukumnya untuk memeriksa berkas yang dipegang Budi.
Para donor besar mulai saling berbisik dan menggelengkan kepala.
Rina, ibu Aris, berjalan cepat menghampiri Ibu Ratna dengan wajah merah padam.
“Ibu! Kenapa Ibu mempermalukan anak kandung Ibu sendiri di depan media?” bentak Rina pelan.
“Aku tidak mempermalukan Aris,” jawab Ibu Ratna dingin. “Aris yang mempermalukan dirinya sendiri karena kesombongannya.”
Aris yang mulai panik mendekati Maya di bawah panggung.
Aris mencoba meraih tangan Maya.

“Maya, tolong naik ke panggung. Kita potong pitanya bersama. Masalah internal kita bicarakan di rumah nanti night.”
Maya menatap Aris dengan pandangan lurus dan dingin.
Maya menarik tangannya pelan.
“Tidak, Aris.”
“Apa maksudmu tidak? Media melihat kita!” bisik Aris panik.
“Aku tidak mau kamu mengembalikan posisiku di depan kamera hanya karena kamu terdesak,” kata Maya tenang. “Masalah ini tidak bisa selesai cuma dengan sepasang gunting.”
Maya lalu berbalik menghadap Ibu Ratna dan Wali Kota.
“Saya minta acara inaugurasi hari ini ditunda sampai seluruh keabsahan administrasi selesai,” tegas Maya.
Tindakan Maya mengejutkan semua orang.
Dalam waktu 24 jam, rekaman video pembatalan peresmian itu menjadi pembicaraan hangat di seluruh kota.
Namun Maya memilih tidak mengambil keuntungan dari perhatian publik.
Maya tidak menerima wawancara TV, tidak membuat unggahan di media sosial, dan tidak membalas komentar orang-orang.
Maya memilih menyelesaikan semuanya secara hukum dan profesional.
5 hari kemudian, Maya memanggil seluruh anggota dewan pembina ke ruang rapat internal gedung kesenian.
Hadir dalam rapat itu Ibu Ratna, Budi, 2 pengacara independen, perwakilan penerima beasiswa, serta Aris.
Aris duduk di ujung meja dengan wajah lelah dan kantung mata yang menghitam.
Maya membuka rapat dengan meletakkan berkas tebal di atas meja.
“Gedung ini harus segera dibuka untuk umum,” kata Maya langsung pada intinya. “Ada 20 seniman muda yang jadwal pamerannya tertunda, ada 15 staf operasional yang butuh kepastian gaji, dan ada kontrak kerja sama yang harus dijalankan.”
Aris menatap Maya dengan binar harapan.
“Jadi kita bisa memperbaiki semuanya dan bekerja sama lagi?” tanya Aris.
“Gedung ini akan tetap berjalan,” jawab Maya datar. “Tapi pernikahan kita berhenti di sini.”
Maya mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya dan menggesernya ke hadapan Aris.
Itu adalah surat gugatan cerai.
Aris menatap amplop itu tanpa berani membukanya.
“Hanya karena acara potong pita kemarin kamu minta cerai?” suara Aris gemetar.
Maya menggelengkan kepala.
“Bukan karena acara kemarin, Aris. Acara kemarin cuma puncak dari apa yang kamu lakukan selama 3 bulan terakhir.”
Maya membeberkan bukti-bukti yang dicetak rapi di atas meja.
“Kamu memindahkan kursi kerjaku untuk Sheila.”
“Kamu menghapus namaku dari dokumen sejarah pembangunan gedung.”
“Kamu mencabut akses bankku tanpa berdiskusi denganku.”
“Dan kamu bilang di depan para donor bahwa aku adalah masa lalu yang perlu diganti.”
Aris terdiam seribu bahasa.
“Aku tidak menceraikanmu karena kamu ingin memajukan yayasan,” lanjut Maya. “Aku menceraikanmu karena kamu bingung membedakan antara pembaruan dan penghapusan peran orang lain.”
Ibu Ratna yang duduk di samping Maya hanya diam, menatap cucunya dengan tatapan kecewa.
Setelah rapat selesai, Aris mengejar Maya di koridor belakang dekat taman dalam.
Di sana masih tertumpuk kotak-kotak dekorasi acara yang batal.
“Maya, listening to me,” panggil Aris. “Aku bisa memecat Sheila hari ini juga. Aku kembalikan hak tanda tanganmu, ruang kerja utama, dan seluruh wewenangmu.”
Maya berhenti melangkah dan menatap Aris.
“Itu justru bukti kesalahan terbesarmu, Aris.”
“Maksudmu?”
“Kamu masih merasa punya hak untuk memberi atau mengambil posisi seseorang seolah-olah kamu pemilik tunggal dunia ini.”
Aris melepaskan pegangannya dan tertunduk lesu.
Sementara itu, Sheila yang berada di kantor komunikasi akhirnya menyadari posisinya.
Sheila sadar bahwa Aris memanfaatkannya hanya untuk membentuk citra baru dan menyingkirkan istri sahnya.
Sore itu, Sheila menemui Aris di ruang kerja.
“Saya mengundurkan diri hari ini, Mas Aris,” kata Sheila sambil meletakkan surat pengunduran diri.
“Kenapa? Kamu tidak perlu mundur!” tahan Aris.
Sheila tersenyum pahit.
“Mas Aris tidak pernah memberi saya kewenangan nyata. Mas Aris cuma memberi saya foto, acara formal, dan kursi milik wanita lain.”
Sheila mengambil tasnya.
“Kontrak saya cuma koordinasi komunikasi. Saya tidak punya hak membuat keputusan strategis seperti yang dilakukan Ibu Maya selama 8 tahun. Saya cuma dijadikan pajangan.”
Sebelum pergi dari kota itu, Sheila mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Maya.
“Saya tidak minta dimaafkan. Saya cuma ingin Ibu tahu bahwa saya tidak pernah berniat mengambil karya orang lain. Saya bodoh karena tidak mencari tahu lebih awal.”
Maya membalas pesan itu dengan singkat.
“Buatlah karyamu sendiri di tempat lain.”
Konflik di internal Keluarga Pratama semakin memuncak.
Rina datang ke rumah Ibu Ratna untuk memprotes keputusan pembagian aset.
“Ibu terlalu membela Maya! Aris itu cucu kandung Ibu!” seru Rina di ruang tamu.
Ibu Ratna meletakkan cangkir tehnya dengan tenang.
“Maya bekerja 8 tahun berpanas-panasan di tapak proyek saat Aris sibuk dengan urusan bisnis pribadinya di Jakarta.”
“Tapi nama yang dipakai adalah nama keluarga kita!” bantah Rina.
Ibu Ratna mengetukkan tongkatnya ke lantai.
“Nama keluarga tidak memberi hak pada Aris untuk mencuri hasil keringat orang lain. Kamu yang mengajari Aris bahwa wanita yang bekerja keras bisa dibuang begitu saja saat ada yang lebih muda.”
Ibu Ratna melemparkan salinan akta pendirian 8 tahun lalu ke meja.
Di sana tertera jelas bahwa 60% modal awal pemugaran gedung berasal dari dana warisan pribadi Maya dan hibah seni yang dicari Maya sendiri.
Rina membaca dokumen itu dan terdiam.
“Kenapa Ibu tidak pernah memberi tahu kami soal ini?” tanya Rina pelan.
“Karena aku ingin melihat siapa di antara kalian yang menghargai Maya bukan karena uangnya, tapi karena kerja kerasnya,” jawab Ibu Ratna tajam.
6 minggu kemudian, inaugurasi ulang Gedung Kesenian Nusantara akhirnya digelar.
Kali ini tidak ada karpet merah yang berlebihan atau panggung megah untuk pejabat.
Acara dibuat sederhana namun hangat.
Yang dipanggil ke depan adalah mandor bangunan, tim restorasi kayu, kurator senior, dan 3 seniman muda penerima beasiswa pertama.
Aris hadir dalam acara tersebut.
Ia tidak duduk di barisan depan, melainkan di barisi ke-4 di antara penonton umum.
Tidak ada acara pemotongan pita dengan gunting emas.
Pita merah di pintu utama dipotong bersama-sama oleh Maya, Ibu Ratna, arsitek utama, dan seorang siswi SMK seni berusia 17 tahun yang memenangkan lomba melukis.
Sebelum pintu dibuka, Maya berdiri di depan mikrofon.
“Gedung ini tidak didirikan untuk mengagungkan satu nama, satu keluarga, atau satu foto di media,” kata Maya. “Gedung ini berdiri untuk memberi ruang bagi mereka yang mau berkarya dengan jujur.”
Tepuk tangan riuh bergema di seluruh area alun-alun.
Setelah acara usai, proses perceraian berjalan dengan lancar.
Maya tidak menuntut pembagian harta yang bukan haknya.
Maya hanya mengambil kembali hak kelola penuh atas gedung kesenian dan memisahkan seluruh aset pribadinya dari Yayasan Pratama.
Aris menyetujui seluruh gugatan tanpa perlawanan di court.
Restrukturisasi total dilakukan pada Yayasan Pratama.
Sistem kepemimpinan tunggal dihapus dan diganti dengan komite independen agar kejadian serupa tidak terulang.
Aris tetap berada di dalam struktur yayasan induk, namun kekuasaannya dibatasi secara ketat oleh dewan pengawas.
Beberapa bulan kemudian, Ibu Ratna jatuh sakit karena usia lanjut.
Selama masa perawatannya di rumah, Maya selalu menyempatkan diri datang setiap sore.
Suatu hari, sebelum Ibu Ratna tutup usia dengan tenang, ia menggenggam tangan Maya.
“Kamu tahu kenapa aku menaruh namamu di akta 8 tahun lalu?” tanya Ibu Ratna lirih.
“Kenapa, Nenek?”
“Karena saat pertama kali kamu melihat bangunan tua yang hancur itu, kamu tidak bertanya berapa harga jualnya nanti. Kamu bertanya berapa banyak anak muda yang bisa belajar di sana.”
Maya menahan air matanya.
“Terima kasih sudah melindungiku, Nenek.”
“Aku tidak melindungimu, Maya. Aku cuma memberi waktu sampai kamu sadar betapa kuatnya dirimu sendiri.”
Ibu Ratna wafat dengan tenang di musim berikutnya, meninggalkan warisan tata kelola yang kuat bagi lembaga kesenian kota.
1 tahun setelah peristiwa inaugurasi yang gagal itu, Gedung Kesenian Nusantara telah mendanai 14 proyek seni daerah dan melatih ratusan anak muda.
Suatu malam saat pameran seni patung berlangsung, Aris tampak hadir sendirian.
Penampilannya jauh lebih sederhana dan tidak lagi dikelilingi oleh pengawal atau staf citra.
Aris berjalan menghampiri Maya yang sedang memeriksa pencahayaan galeri.
“Gedung ini benar-benar hidup sekarang,” kata Aris pelan.
“Ya, sesuai rencana awal,” jawab Maya tanpa emosi.
Aris menatap lantai sejenak.
“Aku sering memikirkan kejadian pagi itu.”
“Tidak perlu dipikirkan lagi. Itu sudah berlalu.”
“Kamu… benar-benar sudah memaafkanku?” tanya Aris ragu.
“Sudah,” jawab Maya mantap.
Mata Aris sedikit berbinar. “Apakah itu artinya suatu hari nanti kita…”
Maya memotong kalimat Aris dengan tatapan mata yang tenang namun tegas.
“Memaafkan bukan berarti kembali, Aris.”
Aris mengangguk pelan, menyadari batasan yang tak akan pernah bisa menembus lagi.
“Aku mengerti,” bisik Aris.
“Aku tidak pergi untuk menghukummu,” tambah Maya. “Aku pergi karena aku tidak mau lagi hidup di tempat di mana aku harus meminta izin hanya untuk diakui keberadaannya.”
Aris tidak menjawab lagi.
Ia pamit dengan sopan dan berjalan keluar meninggalkan galeri yang ramai.
Maya berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke alun-alun kota.
Di sana, anak-anak muda masih berkumpul, berdiskusi, dan menikmati karya seni hingga malam.
Maya tersenyum kecil.
Dahulu, Maya berpikir hari di mana Aris menyerahkan gunting emas kepada wanita lain adalah kehancuran hidupnya.
Namun kini Maya tahu, hari itu adalah hari pembebasannya.
Ia tidak kehilangan tempatnya hari itu.
Ia hanya melepaskan ketergantungannya pada pengakuan orang lain.
Kini, Maya melangkah di dalam gedung tersebut bukan lagi sebagai istri dari seorang pengusaha besar.
Ia berdiri tegak sebagai Maya, seorang wanita yang membangun ruangnya sendiri dan memastikan pintunya selalu terbuka untuk orang lain.
