Saat Alya sedang membaca isi dokumen tersebut, Bima tiba-tiba berlari ke atas dan menggonggong kencang ke arah luar pondok.//

PART 2

Langkah kaki itu makin dekat.

Pintu pondok terdorong terbuka.

Alya naik dari ruangan bawah tanah sambil memegang lampu minyak.

Seorang pria paruh baya berkacamata tebal berdiri di ambang pintu bersama Pak RT setempat.

Pria berkacamata itu memegang map hitam dan memandang Alya dengan terkejut.

“Kamu… Alya?” tanya pria itu.

Alya mengangguk perlahan sambil memegang kayu pertukangan.

“Jangan takut, Nak. Saya Danu, pengacara almarhum Pak Broto, kakekmu,” kata pria itu penuh kelembutan.

Pak RT di sampingnya menatap Bima yang sedang duduk tenang di dekat Alya.

“Bima benar-benar membawamu ke sini,” ujar Pak RT. “Sejak Pak Broto meninggal 6 bulan lalu, anjing ini selalu menunggui pondok ini.”

Pak Danu meminta izin masuk dan duduk di kursi kayu.

Ia membuka map hitam yang dibawanya.

“Saya datang ke sini karena mendapat laporan dari warga desa kalau ada mobil asing naik ke lereng tadi sore,” jelas Pak Danu. “Saya khawatir ada orang yang mencoba masuk tanpa izin.”

Alya duduk di seberang Pak Danu.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Pak? Mengapa kakek saya meninggalkan surat dan dokumen ini?” tanya Alya.

Pak Danu menarik napas panjang dan meletakkan berkas-berkas hukum di atas meja.

“Kakekmu, Pak Broto, membangun pondok dan mengelola tanah seluas 45 hektar di lereng gunung ini,” kata Pak Danu.

“Tanah ini penuh dengan pohon pinus tua dan sumber air alami.”

“Enam bulan lalu, sebelum meninggal, Pak Broto menyertifikatkan seluruh tanah, pondok, dan rekening tabungan perlindungan atas namamu secara mutlak.”

Alya tertegun.

“Tetapi… ibu tiri saya bilang tanah ini milik ayah saya dan tidak ada harganya,” bisik Alya.

Pak Danu tersenyum tipis, lalu mengeluarkan salinan surat komunikasi resmi dari tasnya.

“Ibu tirimu, Rika, bohong besar,” tegas Pak Danu.

“Tiga bulan lalu, sebuah perusahaan pengembang resort besar menawar tanah ini seharga Rp4.500.000.000.”

“Rika dan ayahmu, Hendra, sudah mendatangi kantor saya 2 kali.”

“Merek memalsukan tanda tangan dan mencoba menjual tanah ini untuk menutup utang bisnis katering Rika yang bangkrut sebesar Rp1.200.000.000.”

Alya mengepalkan tangannya di bawah meja.

Semua puzzle di kepalanya mendadak terpasang rapi.

Alasan Rika dan ayahnya membawanya ke gunung ini bukan untuk memberinya pelajaran atau hukuman.

Mereka sengaja mengisolasinya.

Mereka mengambil HP, uang, dan kendaraannya agar Alya merasa tidak punya harapan, kelaparan, dan terdesak.

Rencana mereka adalah membiarkannya menderita selama beberapa hari, lalu datang kembali membawa surat kuasa pelepasan hak tanah untuk ditandatangani Alya.

Pak Danu mengeluarkan lembaran surat dari dalam amplop cokelat yang ditemukan Alya di bawah tanah.

“Bukan cuma itu, Alya,” lanjut Pak Danu.

“Lihat surat-surat ini.”

Alya membuka tumpukan surat tua berstempel pos yang tertahan di bawah tanah.

Ada puluhan surat dari Pak Broto yang dikirimkan setiap tahun pada tanggal ulang tahun Alya.

Di setiap amplop, ada cap stempel merah dari pos: “Ditolak Alamat Tujuan – Kembalikan ke Pengirim.”

Alamat tujuan surat itu adalah rumah ayahnya di Surabaya.

Tulisan tangan di samping stempel penolakan itu sangat dikenal Alya: tulisan tangan Rika.

Selama 8 tahun sejak ibunya meninggal, kakeknya tidak pernah berhenti mencoba menghubunginya.

Kakeknya mengirimkan tabungan bulanan atas nama Alya yang kini terkumpul lebih dari Rp250.000.000 di bank daerah.

Tetapi Rika menyembunyikan semua kenyataan itu dari Alya.

Rika membuat Alya percaya bahwa keluarga ibunya telah membuangnya.

“Pak Broto tahu sifat Rika dan lemahnya ayahmu,” kata Pak Danu.

“Sebab itu, kakekmu memasukkan klausa khusus dalam surat wasiat.”

“Jika ada pihak yang mencoba memaksa atau menipu Alya untuk menyerahkan hak tanah ini, seluruh hak pengelolaan otomatis dialihkan ke lembaga hukum dan kepolisian akan langsung memproses tindakan pidana perampasan aset.”

Pak Danu memandang Alya dengan tegas.

“Pilihan ada di tanganmu sekarang, Alya. Kamu mau melapor?”

Alya melihat ke arah Bima yang menaruh kepalanya di pangkuannya.

Ia menatap foto ibunya yang tersimpan di dalam amplop kakeknya.

“Saya tidak akan lari,” kata Alya pelan tapi mantap.

“Saya akan tunggu mereka datang besok.”

Pak Danu dan Pak RT mengangguk.

Pak Danu meninggalkan dua anggota perlindungan masyarakat desa di dekat pondok dan berjanji akan bersiap di kantor polisi kecamatan setempat.

Malam itu, Alya tidur dengan menyalakan api di tungku.

Ia membaca setiap surat dari kakeknya satu per satu sampai fajar menyingsing.

Kakeknya menceritakan betapa miripnya Alya dengan ibunya, Maya.

Kakeknya juga menceritakan bagaimana ia mengukir mecedora kayu di ruangan bawah untuk Alya jika suatu hari cucunya itu datang.

Pukul 09.00 pagi berikutnya, suara deru mesin mobil terdengar dari arah jalan setapak.

Mobil MPV hitam milik Hendra berhenti di depan pondok.

Rika turun lebih dulu dengan pakaian rapi dan kacamata hitam.

Hendra menyusul di belakangnya dengan langkah gontai dan wajah pucat.

Rika membuka pintu pondok tanpa mengetuk.

Wajahnya memasang senyum buatan yang sangat manis.

“Alya, sayang… Ibu dan Ayah tidak tenang semalaman memikirkanmu,” kata Rika dengan suara lembut yang dibuat-buat.

“Di luar dingin sekali, kan? Ayo bereskan barang-barangmu, kita pulang ke Surabaya sekarang.”

Alya duduk di kursi kayu dekat tungku.

Wajahnya tenang.

Tidak ada air mata.

Tidak ada rasa takut.

“Kemarin Tante bilang tempat ini adalah tempat saya belajar mandiri,” kata Alya datar.

Rika tertawa kecil sambil mendekat.

“Ibu cuma emosi kemarin. Lagipula, tempat ini tidak layak huni.”

Rika mengeluarkan sebuah map plastik tebal dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja kayu.

Ia juga meletakkan sebuah pulpen mahal di sampingnya.

“Ini ada berkas pengurusan administrasi tanah,” kata Rika tanpa rasa malu.

“Tanah tua ini ada masalah sengketa dan beban pajak dari almarhum kakekmu.”

“Ayahmu yang akan urus semuanya supaya kamu tidak pusing.”

“Kamu cukup tanda tangan di lembar terakhir ini, nanti uang Rp38.000.000 milikmu dan HP-mu Ibu kembalikan sekarang juga.”

Alya menatap dokumen di atas meja.

Itu adalah Surat Pernyataan Pelepasan Hak Merek dan Tanah Hibah.

“Berapa harga yang ditawarkan pengembang resort itu, Tante?” tanya Alya tiba-tiba.

Langkah Rika terhenti.

Wajahnya membeku.

“Apa maksudmu?” suara Rika mulai meninggi.

“Rp4.500.000.000, kan?” pangkas Alya.

Hendra di dekat pintu langsung mendongak dengan mata terbelalak.

“Dari mana kamu tahu angka itu?” bisik Hendra gemetar.

Alya berdiri dari kursinya.

Ia mengambil surat wasiat asli dan dokumen dari Pak Danu yang berada di meja bawah.

Alya melempar berkas itu tepat di depan Rika.

“Saya sudah bertemu Pak Danu, pengacara Kakek Broto,” ujar Alya tegas.

“Saya juga sudah tahu tanah ini 100% milik saya atas nama hukum.”

“Tante dan Ayah tidak punya hak sepeser pun atas tempat ini.”

Rika mendadak panik.

Ia mencoba meraih berkas di atas meja dengan cepat.

“Kamu anak kecil tidak tahu apa-apa! Kami orang tuamu! Kami yang membesarkanmu!” teriak Rika hysteris.

“Kalian membesarkan saya dengan uang tabungan Kakek yang kalian sembunyikan!” balas Alya dengan suara lantang.

Alya berjalan ke arah meja dan meletakkan tumpukan surat tua yang stempel penolakannya ditandatangani Rika.

“Selama 8 tahun, Tante memalsukan penolakan surat dari Kakek.”

“Tante bilang Kakek benci saya.”

“Padahal Tante yang memotong hubungan kami supaya Tante bisa menguasai harta keluarga ibu saya!”

Rika mengepalkan tangan dan maju hendak merebut surat-surat itu.

Tetapi sebelum tangan Rika menyentuh meja, Bima berdiri dan berdiri pasrah di depan Alya sambil mengeluarkan geraman rendah yang sangat dalam.

Rika mundur 2 langkah dengan wajah pucat pasi.

“Hendra! Diam saja kamu?!” bentak Rika pada suaminya. “Bicarakan sesuatu! Anakmu sudah berani melawan kita!”

Hendra menatap tumpukan surat di atas meja.

Matanya berkaca-kaca saat melihat tulisan tangan mertuanya di amplop-amplop tua itu.

“Hendra! Ambil kertas itu!” teriak Rika makin panik.

“Cukup, Rika…” kata Hendra pelan.

“Apa kamu bilang?!”

“Aku bilang cukup!” teriak Hendra tiba-tiba.

Suara Hendra menggema di dalam pondok kayu.

Hendra berjalan mendekati meja dengan langkah berat.

Ia berlutut di depan Alya dengan tubuh gemetar.

“Alya… Ayah minta maaf…” bisik Hendra.

“Selama 8 tahun ini Ayah tahu Rika mengontrol semua keuangan dan surat-surat itu.”

“Ayah tahu bisnis kateringnya bangkrut karena judi online dan investasi bodong.”

“Ayah diam saja karena Ayah takut dan tidak punya keberanian.”

“Ayah biarkan dia mengambil uang simpananmu… Ayah biarkan dia membawamu ke sini…”

Alya memandang ayahnya dari atas.

Rasa kecewa di dadanya begitu dalam, tetapi ia tidak membiarkan dirinya hancur.

“Ayah bukan cuma takut,” kata Alya dingin.

“Ayah membiarkan Tante Rika menghapus kenangan Ibu dari hidup saya.”

Hendra merogoh saku jaketnya dengan tangan gemetar.

Ia mengeluarkan kotak kayu kecil milik ibu Alya yang diambil Rika kemarin.

Hendra meletakkannya perlahan di atas meja.

“Ini milik ibumu… Ayah ambil kembali dari tas Rika semalam saat dia tidur,” kata Hendra.

Rika yang melihat hal itu langsung berteriak keras.

“Kamu pengkhianat, Hendra! Kita akan dipenjara karena utang-utang itu!”

Tiba-tiba pintu depan terbuka lebar.

Pak Danu masuk bersama 3 anggota polisi dari Polres setempat dan Pak RT.

Polisi berjalan masuk ke dalam ruangan.

“Saudari Rika dan Saudara Hendra,” kata salah satu petugas polisi.

“Kami menerima laporan resmi atas dugaan tindak pidana penipuan, pemalsuan dokumen pertukangan tanah, dan perampasan uang tunai sebesar Rp38.000.000 milik Alya.”

Rika mundur hingga punggungnya menabrak dinding.

“Ini urusan keluarga! Kami cuma mendidik anak kami!” jerit Rika mencoba membela diri.

“Mendidik anak tidak dengan cara membuangnya di gunung tanpa komunikasi dan mencuri uang miliknya,” tegas polisi itu.

Petugas bergerak maju dan memasangkan borgol besi ke kedua pergelangan tangan Rika.

Rika berteriak dan memaki-maki saat diseret keluar dari pondok menuju mobil patroli.

Hendra tidak melawan saat polisi memintanya ikut ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sebelum berjalan keluar, Hendra menatap Alya dengan mata basah.

“Jangan pernah maafkan Ayah, Alya… Ayah memang tidak pantas jadi ayahmu,” kata Hendra pelan.

Alya hanya berdiri diam menyaksikan ayahnya dibawa pergi.

Suasana pondok mendadak menjadi sangat hening.

Hanya ada suara hembusan angin gunung dan derit kayu dari tungku pemanas.

Pak Danu mendekati Alya dan menyerahkan HP milik Alya serta amplop berisi uang Rp38.000.000 yang disita polisi dari tas Rika.

“Semua hakmu sudah aman sekarang, Alya,” kata Pak Danu lembut.

“Rekening tabungan dari kakekmu sudah bisa kamu akses besok di bank kota.”

“Tanah ini sepenuhnya milikmu.”

“Apa rencana selanjutnya?”

Alya membuka kotak kayu kecil milik ibunya.

Di dalamnya ada ukiran burung kaca yang masih utuh dan foto ibunya yang tersenyum di depan pondok ini.

Alya menatap keluar jendela, melihat pemandangan pepohonan pinus yang membentang luas di bawah langit biru.

“Saya akan tinggal di sini,” jawab Alya mantap.

“Saya akan memperbaiki tempat ini.”

Tiga bulan kemudian.

Pondok tua di lereng gunung itu sudah berubah total.

Atapnya yang bocor telah diganti dengan kayu baru yang kokoh.

Listrik dari panel surya sudah terpasang di atas tejado.

Asap membumbung tinggi dari cerobong asap setiap pagi.

Alya tidak menjual tanah itu ke perusahaan pengembang resort.

Ia menolak tawaran miliaran rupiah itu dan memilih bekerjasama dengan warga desa untuk menjadikan kawasan hutan tersebut sebagai area konservasi alam dan kerajinan kayu lokal.

Dengan bantuan modal dari simpanan kakeknya, Alya membuka bengkel kerajinan kayu di bekas bangunan penyimpanan bawah tanah.

Ia belajar mengukir kayu menggunakan alat-alat peninggalan kakeknya.

Bangku-bangku kayu dan meja ukir buatan Alya mulai dikenal oleh para wisatawan yang berkunjung ke daerah Bromo.

Pak RT dan Tomás, warga desa yang dulu mengenal kakeknya, membantu memasarkan hasil karyanya ke kota.

Mengenai Rika, Pengadilan Negeri menjatuhkan hukuman penjara selama 3 tahun 6 bulan atas kasus pemalsuan dokumen dan perampasan aset.

Seluruh utangnya ditanggung oleh penyitaan aset katering miliknya di Surabaya.

Hendra mendapat hukuman percobaan karena terbukti tidak ikut merencanakan pemalsuan sejak awal dan kooperatif dalam memberikan kesaksian.

Hendra mencoba mengirim surat setiap bulan kepada Alya dari rumah sewanya di luar kota.

Alya tidak pernah membalas surat-surat ayahnya.

Tetapi ia tidak membuangnya.

Alya menyimpan surat-surat itu di dalam kotak kayu di bawah lantai, bersanding dengan surat-surat tua dari kakeknya.

Ia membiarkan pintu masa lalu itu tidak terkunci, tetapi ia tidak akan pernah membiarkan orang lain mengatur hidupnya lagi.

Suatu sore di akhir musim dingin, matahari terbenam memancarkan warna keemasan di atas puncak gunung.

Alya duduk di kursi mecedora kayu yang kini telah selesai diukirnya sendiri.

Kursi itu bergoyang perlahan di teras depan pondok.

Bima berbaring santai di samping kakinya, menikmati kehangatan sinar matahari terakhir.

Alya memegang kaset tua milik ibunya dan meletakkannya di pemutar radio kecil.

Suara lembut ibunya yang sedang bernyanyi terdengar mengisi seluruh halaman pondok.

Alya tersenyum.

Dulu, tempat ini dimaksudkan oleh ibu tirinya untuk menghancurkan dan membuatnya merasa terbuang.

Namun kakeknya telah membangun tempat ini sebagai perlindungan.

Dan Alya telah memilih untuk mengubahnya menjadi sebuah rumah.

Ia tidak lagi menunggu siapa pun untuk menyelamatkannya.

Sebab di atas tanah milik kakeknya ini, Alya telah menemukan jalannya sendiri.