Ketika anak itu mengangkat tangan kirinya, gelang perak kusam berkilau di bawah lampu.//

PARTE 2

Baskara tidak langsung menggedor pintu rumah Ratna.

Ia tahu kejutan besar bisa membuat mental anak 11 tahun terguncang.

Baskara menghubungi Dokter Hendra, dokter keluarga yang paling ia percaya.

Ia mengatur pemeriksaan kesehatan gratis untuk anak-anak di lingkungan rumah Ratna.

Dari sana, Dokter Hendra mengambil 2 sampel DNA milik Reno.

Namun sampel pertama tidak pernah sampai ke laboratorium.

Kurir yang membawanya dicegat di jalan dan kotak sampelnya hilang.

Baskara mulai merasa ada yang tidak beres.

Hanya 6 orang di rumahnya yang tahu tentang tes DNA tersebut.

Baskara memesan tes DNA ulang secara rahasia di Surabaya.

Kali ini, Yudi, kepala keamanannya, membawa langsung sampel itu naik kereta.

Sambil menunggu hasil, Baskara meminta Ratna membawa anak-anaknya ke rumah besar setiap hari Sabtu.

Baskara pura-pura ingin mengajari Reno bermain catur.

Pada permainan pertama, Reno menjalankan perwira dengan langkah tak biasa.

Langkah itu adalah trik khusus yang hanya pernah diajarkan Baskara pada Bima kecil.

Beberapa hari kemudian, Reno berjalan santai ke lantai 2 rumah itu.

Tangannya langsung meraih gagang pintu kamar lama yang tingginya persis seperti ingatannya dulu.

6 hari kemudian, hasil tes dari Surabaya keluar.

Cocok 99,99%.

Baskara menangis sendirian di ruang kerjanya.

Ia menahan diri untuk tidak langsung mendekap anaknya sesuai saran dokter.

Di saat bersamaan, Yudi menemukan fakta lain.

Malam sebelum kecelakaan 7 tahun lalu, Arini menemukan aliran dana gelap di perusahaan logistik milik keluarga.

Ada 41 pegawai fiktif dan uang miliaran rupiah yang dialihkan.

Nama di balik rekening penampung itu mengarah pada seseorang di rumah Baskara.

Orang itu adalah Bi Asih.

Bi Asih adalah pengurus rumah tangga yang sudah bekerja 27 tahun.

Bagi Baskara, Bi Asih sudah seperti keluarga sendiri.

Bi Asih yang merawat almarhum ibunya dan menggendong Bima saat bayi.

Anak Bi Asih bernama Denis, tumbuh besar di lingkungan rumah itu dan bekerja di bagian operasional kapal.

Yudi membongkar arus kas selama 4 hari.

Uang senilai Rp 3,2 miliar telah ditransfer ke 9 perusahaan cangkang atas nama Denis.

Arini telah menandai nama-nama itu dengan pensil di buku catatannya malam sebelum meninggal.

Lalu ada data telepon yang mengejutkan.

Pukul 23.04 malam itu, ada panggilan keluar dari telepon Bi Asih ke nomor saingan bisnis Baskara.

Telepon itu berlangsung selama 91 detik.

Beberapa menit kemudian, jadwal mobil keluarga diubah.

Seharusnya Baskara yang memakai mobil itu ke luar kota besok harinya.

Namun Arini mendadak menggunakan mobil tersebut untuk mengantar Bima.

Bi Asih telah membocorkan rute dan jam keberangkatan mobil untuk melindungi kejahatan Denis.

Ia tidak tahu bahwa Arini dan Bima yang akhirnya berada di dalam mobil itu.

Selama 7 tahun, Bi Asih memilih bungkam.

Baskara ingin mengusir Bi Asih malam itu juga.

Namun Yudi mencegahnya.

“Kalau Bi Asih diusir sekarang, Denis akan kabur,” kata Yudi.

“Kita juga belum tahu siapa yang mencuri sampel DNA pertama.”

Mereka memutuskan menunggu 48 jam.

Namun Bi Asih membuat langkah panik.

Ia mencoba menjebak Ratna.

Pagi harinya, sebuah botol cairan kimia berbahaya ditemukan di lemari staf.

Uang tunai Rp 50 juta ditemukan tersembunyi di bawah kasur kamar Ratna.

Bi Asih menuduh Ratna berniat meracuni penghuni rumah dan mencuri uang.

Ratna adalah sasaran empuk karena ia pegawai baru tanpa kontrak tetap.

Ratna dikurung di salah satu ruangan sementara Yudi memeriksa barang-barangnya.

Ratna tidak berteriak atau menangis histeris.

“Tolong ambilkan buku catatan abu-abu saya di tas,” kata Ratna tenang.

Sejak usia 22 tahun, Ratna selalu mencatat jam kerja, tugas, dan perintah yang ia terima setiap hari.

Ia melakukan itu setelah pernah difitnah oleh majikan lamanya.

Yudi membuka buku catatan abu-abu itu.

Pada jam yang dituduhkan Bi Asih, catatan Ratna menunjukkan ia disuruh Bi Asih merapikan gorden di lantai atas.

Pelayan lain membenarkan bahwa mereka bersama di lantai atas pada jam 18.20 hingga 18.47.

Botol kimia itu sudah berada di lemari sebelum Ratna turun.

Bukan hanya itu.

3 bulan lalu, Ratna sempat memfoto gudang belakang untuk inventaris kebersihan.

Di dalam foto itu, terlihat jelas botol kimia dengan nomor lot yang sama sudah ada di rak khusus Bi Asih.

Yudi menutup buku catatan itu.

“Kami minta maaf, Bu Ratna,” kata Yudi.

“Saya cuma mau anak-anak saya aman,” jawab Ratna.

Ratna segera berlari ke ruang bermain.

Rania langsung memeluk kakinya.

Reno berdiri diam sejenak sebelum mendekati Ratna.

“Ibu, ada yang harus Aku kasih tahu,” kata Reno.

Reno mengeluarkan selembar kertas terlipat dari dalam kaus kakinya.

Di kertas itu tertulis tanggal, jam, dan satu kalimat:

“Rania lihat Bi Asih masuk ke kamar Ibu bawa kotak.”

Reno belajar dari Ratna bahwa hal penting harus dicatat saat kejadian berlangsung.

Reno juga menceritakan hal lain.

2 malam sebelumnya, Reno dan Rania melihat Bi Asih turun tangga barat setelah tengah malam.

Anak-anak itu mengikutinya hingga ke gudang tua dekat dermaga kecil di belakang rumah.

Di sana, Bi Asih berbicara dengan Denis.

Reno mengingat ucapan mereka karena merasa takut.

Bi Asih bilang Pak Yudi sudah mulai curiga.

Denis bertanya apakah Baskara masih melakukan pemeriksaan DNA.

Bi Asih menjawab ya, dan bilang buku catatan keuangan 7 tahun lalu harus dimusnahkan sebelum hari Senin.

Lalu Denis bertanya tentang Reno.

Bi Asih menjawab:

“Selama dia tetap jadi Reno, dia tidak akan ingat kalau dia itu Bima.”

Ratna lemas mendengar cerita itu.

Sebenarnya Ratna sudah diberi tahu oleh Baskara beberapa hari sebelumnya tentang identitas asli Reno.

Ratna setuju menyembunyikannya sementara demi psikologis anak.

Namun ia tidak menyangka Bi Asih dan Denis terlibat langsung dalam musibah 7 tahun lalu.

“Ibu,” tanya Reno pelan. “Siapa Bima?”

Ratna tidak bisa menjawab dan hanya memeluk anak itu erat-erat.

Tiba-tiba listrik di seluruh rumah padam.

Denis telah masuk melalui pintu jalur perawatan AC yang ia ketahui sejak kecil.

Denis ingin mengambil buku catatan keuangan lama di brankas kerja sebelum polisi datang.

Namun Denis berpapasan dengan Reno dan Rania di lorong belakang.

Anak-anak itu berlari ketakutan menuju arah gudang dermaga.

Ratna mengejar mereka dari belakang.

Di dalam gudang, Denis mengunci pintu dari dalam.

Denis tampak panik dan gemetar.

Ia terus bergumam bahwa semua ini awalnya hanya untuk menutup utang judi.

Ia tidak bermaksud membuat mobil itu mengalami kecelakaan.

Ratna berdiri di depan anak-anaknya.

“Ibumu mengorbankan 27 tahun hidupnya untuk melindungimu,” kata Ratna tegas.

“Jangan buat pengorbanannya jadi kejahatan yang lebih besar.”

Denis mengepalkan tangan.

“Kamu tidak tahu apa yang akan dilakukan seorang ibu untuk anaknya!” teriak Denis.

Ratna menatap Reno dan Rania.

“Saya tahu persis. Karena itu saya tahu, melindungi anak bukan berarti mengajarkannya lari dari kesalahan.”

Suara sirine polisi terdengar mendekat dari luar pagar.

Yudi telah melacak pergerakan Denis dan memanggil pihak berwajib.

Baskara mendobrak pintu gudang bersama petugas.

Saat melihat Baskara berdiri di ambang pintu, Reno terpaku.

Kepala Reno mendadak dipenuhi potongan ingatan yang selama ini terbuang.

Bau harum mobil lama, suara lembut ibunya, ruangan dengan mainan kuda kayu, dan tangan besar yang mengajarinya memegang bidak catur.

Satu kata keluar dari mulut anak itu.

“Papa.”

Baskara terhenti di tempat.

Pria itu tidak langsung menerjang.

Ia menunggu dengan mata berkaca-kaca.

Reno yang melangkah maju melintasi ruangan itu.

Reno memeluk Baskara terlebih dahulu.

Baskara merengkuh tubuh anaknya erat-erat.

Namun saat melihat Ratna berdiri di belakang, Baskara tidak mencoba menarik Reno pergi.

Malam itu, setelah Denis dan Bi Asih dibawa oleh polisi, Baskara duduk bersama Ratna di dapur.

“Dia anak saya,” kata Baskara.

Ratna mengangguk pelan. “Saya tahu.”

“Tapi Ibu adalah orang yang membesarkannya,” lanjut Baskara.

Ratna mengangkat wajahnya.

“Ibu menemukannya saat saya kehilangan arah. Ibu mengobatinya, mengajarinya, dan menyayanginya saat dia ketakutan. Saya tidak akan menghapus peran Ibu dari hidupnya.”

Baskara menarik napas panjang.

“Kalau dia mau tetap dipanggil Reno, dia adalah Reno. Kalau suatu hari dia mau memakai nama Bima, itu pilihannya. Saya tidak akan merebut anak dari Ibu. Saya cuma mau minta izin untuk belajar jadi ayahnya lagi.”

Ratna meneteskan air mata.

Ini pertama kalinya seorang pria berkuasa menghormati haknya tanpa syarat.

Proses hukum berlangsung selama beberapa bulan.

Buku catatan keuangan lama ditemukan di balik panel kayu gudang.

Foto-foto dari Ratna, buku catatan harian abu-abu, hasil tes DNA, serta tulisan tangan Reno menjadi bukti kuat di pengadilan.

Bi Asih dan Denis dijatuhi hukuman penjara sesuai perbuatan mereka.

Baskara juga merestrukturisasi seluruh manajemen perusahaannya agar lebih transparan.

Reno menjalani sesi terapi berkala dengan psikolog anak.

Secara bertahap, ingatan masa kecilnya kembali tanpa menghilangkan kasih sayangnya pada Ratna.

Baskara membelikan sebuah rumah yang nyaman untuk Ratna dan Rania di dekat kompleks tempat tinggalnya.

Rumah itu didaftarkan atas nama Ratna secara resmi.

Baskara juga memberikan posisi staf administrasi tetap dengan gaji dan asuransi lengkap untuk Ratna.

Setiap hari Sabtu, mereka selalu berkumpul di rumah besar.

Acara makan bersama dan permainan catur menjadi rutinitas baru.

Reno masih sering mengalahkan Baskara dalam permainan catur.

Rania kini bebas berlarian di ruang tamu tanpa perlu bersembunyi di dapur lagi.

Suatu sore, Rania berdiri di depan lukisan ruang tamu yang kini sudah berganti.

Di dinding itu, terpajang dua foto dalam satu bingkai besar.

Foto pertama memperlihatkan Bima sewaktu berusia 4 tahun dengan gelang peraknya.

Foto kedua memperlihatkan Reno berusia 11 tahun, duduk di antara Ratna dan Baskara, sementara Rania tersenyum lebar di depan mereka.

“Nah, sekarang lukisannya bagus,” kata Rania polos.

Baskara yang berjalan mendekat tersenyum.

“Kenapa begitu, Rania?” tanya Baskara.

“Dulu foto yang itu kelihatan kesepian,” jawab Rania sambil menunjuk foto lama. “Sekarang ramai-ramai.”

Baskara menatap Reno yang sedang bercanda dengan Ratna di teras luar.

Ia menyadari satu hal penting.

Anak 4 tahun yang hilang itu memang tidak akan pernah kembali dengan cara yang sama.

Namun seorang anak 11 tahun telah hadir membawa keluarga baru yang lebih utuh untuk mereka semua.