Ditinggalkan Anak-Anaknya, Pasangan Lansia Tinggal di Rumah Rusak di Pegunungan—Akhirnya Tidak Pernah Mereka Duga!


“Ayah, Ibu… kami sudah tidak bisa membawa kalian tinggal bersama kami. Kami juga sudah punya keluarga sendiri.”

Kata-kata itu terasa seperti palu yang terus menghantam dada Pak Iskandar.

Usianya sudah tujuh puluh empat tahun.

Istrinya, Bu Pilar, berusia tujuh puluh satu tahun.

Lebih dari lima puluh tahun mereka hidup bersama.

Lima puluh tahun penuh perjuangan.

Bekerja.

Bertahan.

Dan membesarkan tiga orang anak.

Mereka berpikir, ketika suatu hari tubuh mereka mulai lemah, bahkan hanya sebuah kamar kecil di rumah salah satu anak mereka pun sudah cukup.

Namun ternyata mereka salah.

Anak sulung mereka, Ernesto, sudah memiliki keluarga sendiri di Jakarta.

Anak kedua mereka, Liza, bekerja di provinsi lain.

Sedangkan anak bungsu mereka, Ramon, memiliki usaha kecil tetapi istrinya tidak ingin ada orang tua yang tinggal di rumah mereka.

“Kami bukan berarti menelantarkan Ayah dan Ibu,” jelas Ernesto sambil menghindari tatapan mereka.

“Kami tetap akan memberikan uang kalau kami mampu.”

Pak Iskandar tersenyum.

Namun tidak ada kebahagiaan dalam senyuman itu.

“Anak, kami sebenarnya tidak meminta uang kalian.”

Semua terdiam.

Bu Pilar memegang tas tua berisi beberapa pakaian.

“Kami hanya ingin ada seseorang yang menemani makan bersama sesekali.”

Tidak ada yang menjawab.

Keesokan harinya, pasangan lansia itu pergi.

Mereka tidak membawa banyak barang.

Dua tas.

Satu selimut tua.

Beberapa obat-obatan.

Dan sebuah kotak kecil yang selalu dibawa Pak Iskandar ke mana pun.

Karena sudah tidak memiliki tempat tinggal di kota, Iskandar teringat sebuah rumah tua di pegunungan yang dulu milik ayahnya.

Rumah itu sudah tidak dihuni selama lebih dari tiga puluh tahun.

Sulit untuk dijangkau.

Tidak ada jalan yang layak.

Tidak ada toko di dekat sana.

Namun hanya itulah tempat yang tidak membutuhkan mereka untuk meminta izin agar bisa tinggal.

Setelah perjalanan panjang dan hampir dua jam berjalan kaki mendaki gunung, akhirnya mereka sampai di rumah itu.

Begitu melihatnya, Bu Pilar langsung berhenti.

“Iskandar…”

Atap rumah itu memiliki lubang besar.

Salah satu jendelanya hancur.

Pintunya sudah miring.

Dan lantainya hampir tertutup daun-daun kering.

Pak Iskandar menatap istrinya.

“Maafkan aku, Pilar.”

Wanita tua itu tersenyum.

“Yang penting aku bersamamu.”

Hanya itu jawabannya.

Dan dengan kalimat sederhana itu, rasa berat di dada Iskandar terasa sedikit berkurang.

Pada malam pertama mereka, hujan turun sangat deras.

Air menetes dari atap.

Mereka meletakkan beberapa baskom tua di lantai untuk menampung air hujan.

Dingin.

Gelap.

Dan hanya cahaya lilin yang menerangi ruangan.

Saat berbaring di atas ranjang kayu tua, Pilar menggenggam tangan suaminya.

“Kamu ingat waktu kita baru menikah?”

Iskandar tersenyum.

“Sepertinya rumah kita dulu bahkan lebih buruk dari ini.”

Pilar tertawa kecil.

“Walaupun tidak punya uang, kita tetap bahagia.”

“Kita juga punya tiga anak yang dulu sangat berisik.”

Tiba-tiba keduanya terdiam.

Air mata mulai menggenang di mata Pilar.

“Menurutmu, apakah mereka merindukan kita?”

Iskandar tidak langsung menjawab.

“Mungkin.”

Namun jauh di dalam hatinya, dia sendiri tidak yakin.

Minggu demi minggu berlalu.

Perlahan-lahan Pak Iskandar mulai memperbaiki rumah itu menggunakan kayu-kayu tua yang dia temukan di sekitar hutan.

 

 

Tangan tua itu kapalan. Urat-uratnya menonjol seperti akar pohon beringin yang mencengkeram tebing terjal. Setiap kali martil berkarat itu menghantam paku bengkok yang diluruskan kembali di atas batu pipih, bunyi klak-klak yang tumpul memecah kesunyian lembah.

Napas Iskandar memburu. Bau getah pinus basah bercampur karat besi menusuk hidungnya. Pinggangnya berdenyut ngilu, rasa sakit akrab yang selalu datang menjelang sore, seolah mengingatkan bahwa tulang-tulangnya sudah kelewat rapuh untuk menopang sisa hidup yang dipaksa mandiri.

“Sudah, Kang. Tehnya keburu dingin.”

Pilar berdiri di ambang pintu yang baru setengah terpasang engselnya. Kain jarik kusamnya diikatkan kencang ke pinggang, menahan dinginnya angin pegunungan yang mulai turun membawa kabut putih tebal. Di tangannya ada cangkir seng loreng hijau—satu-satunya barang dapur utuh yang mereka temukan tergeletak di kolong amben lapuk tiga pekan lalu.

Iskandar menurunkan martil. Dihapusnya peluh di dahi dengan punggung tangan yang gemetar.

“Dikit lagi, Lar. Kalau pasak kayu sebelah barat ini nggak dipantek sebelum magrib, angin barat bisa ngangkat sengnya lagi kayak kemarin malam.”

“Duduk dulu. Napasmu itu kayak lokomotif tua, bunyi terus.”

Iskandar tersenyum tipis. Gigi serinya tinggal tiga. Tapi tawa kecil istrinya itu selalu berhasil melumasi sendi-sendinya yang kaku. Dia merosot duduk di atas balok kayu kasau yang belum sempat diserut. Teh tawar hangat beraroma sangit kayu bakar mengaliri kerongkongannya. Bukan teh wangi melati kemasan kotak yang biasa dibeli menantu bungsunya di supermarket kota, melainkan daun teh hutan liar yang dipetik Pilar di semak belukar pinggir kali kecil seratus meter di bawah tebing. Rasanya getir, kelat, tapi bikin dada hangat.

“Tadi pagi berasnya sisa dua genggam, ya?” tanya Iskandar pelan. Matanya menatap ke bawah, ke lembah yang mulai ditelan halimun kelabu. Jauh di sana, lampu-lampu kota mulai menyala seperti taburan pasir emas. Kota tempat anak-anaknya mungkin sedang duduk di meja makan dengan piring porselen tebal, menikmati ayam goreng atau daging bumbu kecap tanpa perlu memikirkan apakah atap mereka bakal bocor malam ini.

“Ada talas liar yang kutemukan di dekat rumpun bambu,” jawab Pilar santai, sambil mengibaskan abu kayu dari ujung selendangnya. “Sudah kukukus bareng garam kasar. Enak. Manis. Nggak bikin mati kelaparan, Kang.”

Selalu begitu. Pilar tidak pernah meratap. Sejak mereka berdua masih muda dan tidur beralas karung goni di bedeng proyek jalan raya puluhan tahun silam, perempuan itu punya cara aneh untuk menertawakan kemalangan. Namun, Iskandar tahu betul. Tadi malam, ketika angin mendesing dan ranting pohon cemara mengetuk dinding papan lapuk, kasur tempat tidur mereka terguncang kecil bukan karena angin, melainkan karena bahu Pilar yang naik-turun menahan isak tangis tertahan.

Nama Ramon, Ernesto, dan Liza sama sekali tidak pernah diucapkan lagi secara terang-terangan di rumah itu. Tapi nama-nama itu mengendap di mana-mana. Di dalam periuk nasi yang kosong, di sudut lemari pakaian yang ompong, di lipatan selimut tua yang dulunya dibeli saat Ernesto lahir ke dunia.

Hidup di lereng gunung tanpa tetangga itu aneh. Hari-hari tidak dihitung dengan kalender kertas bergambar toko emas, melainkan dari berapa tinggi rebung bambu tumbuh, atau berapa kali burung jalak hitam hinggap di dahan randu tua.

Dua bulan berjalan, rumah itu mulai mirip tempat tinggal manusia. Tidak bagus, jauh dari kata layak menurut standar orang kota. Dindingnya belang-benteng: sebagian papan jati tua yang tersisa, sebagian anyaman bambu baru yang dipilin Iskandar sampai jari-jarinya tergores duri sembilu, dan beberapa lembar terpal bekas yang ditambal getah karet.

Lalu, datanglah anak anjing itu.

Kurus kering. Bulunya cokelat kusam bercampur lumpur merah, telinga kanannya robek bekas gigitan musang atau babi hutan. Dia terkapar di bawah pohon jambu air di samping sumur tua yang airnya berwarna cokelat pekat.

Pilar yang pertama kali menemukannya saat hendak mencuci kain lap.

“Kang! Sini dulu!”

Iskandar tergopoh-gopoh datang membawa arit. Mengira ada ular tanah atau babi hutan masuk pekarangan.

“Bocah malang,” bisik Pilar, berlutut tanpa jijik di dekat selokan tanah. “Napasnya tinggal satu-satu.”

“Buang saja ke jurang, Lar. Mau dikasih makan apa? Kita sendiri kadang cuma makan rebusan pucuk pakis,” kata Iskandar, nadanya datar tapi matanya tidak bisa berbohong. Dia membuang muka.

Pilar tidak mendengarkan. Dia mengambil serpihan talas sisa semalam, melumatkannya dengan air hangat menggunakan tempurung kelapa, lalu meneteskannya perlahan ke moncong hewan kecil itu.

“Dia juga dibuang orang tuanya, Kang. Sama kayak kita. Bedanya dia nggak bisa ngomong kalau sakit.”

Kalimat itu menancap di ulu hati Iskandar. Dia terdiam, lalu meletakkan aritnya. Sore itu, dia membuat kandang kecil dari sisa bambu di pojok teras. Anak anjing itu diberi nama Bolong, gara-gara ada lingkaran putih di punggungnya yang hitam belang.

Keberadaan Bolong mengubah udara di rumah reyot itu. Ada makhluk lain yang menatap mereka dengan mata berbinar lapar, yang menggoyangkan ekor pendeknya setiap kali pintu berderit terbuka, yang tidak pernah bertanya mengapa rumah ini tidak punya televisi, kulkas, atau lampu kristal.

“Setidaknya ada yang menyambut kalau kita pulang dari kali,” gumam Pilar suatu sore saat Bolong menjilati jempol kakinya yang retak-retak kena kutu air.

Bulan keempat, hujan badai turun tiga hari berturut-turut tanpa jeda. Langit pegunungan seperti robek. Gemuruh air terjun dari bukit atas terdengar seperti raungan raksasa yang kelaparan.

Malam itu, tanah bergetar.

Bukan gempa bumi. Suaranya berbeda. Brummm… krek…

“Kang!” Pilar terbangun, menyambar lengan baju Iskandar dalam gelap pekat. Lilin sudah lama mati tertiup angin yang menerobos lewat celah papan.

Bolong menggonggong gila-gilaan di luar, mencakar-cakar pintu kayu miring. Suaranya melengking, panik.

“Pakai kainmu, Lar! Cepat!” seru Iskandar. Naluri tuanya yang puluhan tahun bekerja di perkebunan teh masa muda langsung berdentang kencang. Itu bunyi tebing patah.

Iskandar menendang pintu kayu yang macet karena lembap. Mereka lari keluar tanpa alas kaki. Hujan menghantam wajah mereka seperti lemparan kerikil tajam. Dinginnya menusuk langsung ke sumsum tulang. Di bawah kilatan petir yang menyambar pucuk pohon enau, Iskandar melihat tanah di belakang rumah mereka—tebing gundul tempat ayahnya dulu menanam ubi—mulai bergerak merayap turun perlahan seperti adonan semen basah.

Tanah longsor kecil.

Tidak menimpa rumah secara langsung, tapi jalur airnya mengarah ke pojok dapur. Iskandar menyeret Pilar ke arah pohon beringin besar yang akarnya mencengkeram tanah berbatu keras lima puluh meter dari rumah. Bolong berlari di depan, sesekali menoleh, memastikan dua manusia renta itu tidak tertinggal.

Mereka berteduh di ceruk akar beringin besar, basah kuyup, menggigil hebat sampai gigi mereka bergemeletuk tak karuan.

Iskandar merengkuh tubuh istrinya yang kurus. Tulang rusuk Pilar terasa begitu tipis di balik kebaya basahnya. Dia merasa seperti laki-laki paling gagal di muka bumi. Menghabiskan umur membesarkan anak-anak agar mereka jadi orang berdasi, berakhir membawa perempuan yang dicintainya sejak umur sembilan belas tahun untuk mati beku di bawah pohon rimba.

“Pilar… maaf,” bisik Iskandar, air matanya luruh bersama air hujan di pipinya yang cekung. “Seharusnya aku memaksa Ernesto waktu itu. Biar kita tidur di garasi rumahnya pun nggak apa-apa, asal kamu nggak kedinginan begini…”

Pilar mendongak. Di sela kilat yang membelah langit hitam, matanya terlihat tenang sekali. Tidak ada kemarahan. Tidak ada sesal.

“Kalau kita di sana, Kang… kita cuma jadi sampah yang bikin malu tamu-tamu mereka. Di sini, kita kedinginan bareng tanah. Bumi ini nggak pernah ngusir kita.”

Dia merapatkan kepalanya ke dada Iskandar. Napasnya pendek-pendek.

Menjelang subuh, hujan mereda menjadi gerimis tipis yang malas. Suara burung hantu menghilang, digantikan kokok ayam hutan liar dari kejauhan.

Ketika kabut perlahan terangkat oleh semburat merah di timur, pemandangan di belakang rumah mereka terbuka.

Tebing kecil itu memang longsor. Dinding dapur bagian luar ambruk, menyisakan lubang menganga tempat abu tungku hanyut terbawa lumpur. Tapi bukan itu yang membuat Iskandar mematung di tempatnya berdiri.

Tanah yang runtuh itu mengelupas lereng bukit sedalam dua meter. Dan di balik lapisan tanah merah liat yang tergerus air deras semalaman, ada sesuatu yang berkilau terpapar sinar matahari pagi yang baru menembus pucuk cemara.

Bukan batu kali biasa.

Warnanya kuning kecokelatan mengilat, tertanam di antara urat-urat batu hitam yang patah.

Iskandar berjalan tertatih-tatih mendekati longsoran, kakinya yang kotor oleh lumpur merah terasa kebas. Bolong mengendus-endus gundukan itu, lalu mulai menggali dengan dua kaki depannya.

Iskandar berlutut. Tangannya yang gemetar menyentuh bongkahan batu besar yang sebagian permukaannya tersingkap bersih karena sapuan air.

Lendir lumpur dia bersihkan dengan telapak tangannya.

Urat-urat batu itu aneh. Padat, berat, dengan sulur-sulur warna kuning tua pekat yang tidak memantulkan cahaya seperti mika murahan, melainkan berpendar hangat di bawah mentari pagi. Di bawahnya lagi, ada lapisan kayu hitam legam yang sudah membatu—fosil kayu jati purba yang terkubur ratusan tahun, mengeras menjadi batu akik hitam legam dengan sisipan serat logam menyala.

Ayah Iskandar dulu adalah mandor tambang rakyat liar di zaman kolonial sebelum ditutup paksa tentara. Orang tua itu meninggal tanpa meninggalkan warisan apa pun selain cerita-cerita dongeng sebelum tidur tentang “urat naga emas” yang konon terkunci di perut bukit kapur tempat rumah ini berdiri. Iskandar selalu menganggap itu bualan orang tua pengantar tidur agar anak-anaknya tidak menangis karena lapar.

“Kang? Itu apa?” tanya Pilar yang menyusul dengan langkah gontai, memeluk tubuhnya sendiri yang masih basah.

Iskandar tidak langsung menjawab. Dia mengambil sepotong batu kuarsa keras yang terlepas, lalu menggoreskannya ke permukaan batu bercorak kuning pekat itu. Logam itu lunak, tergores meninggalkan bekas kuning keemasan yang murni tanpa karat.

Bukan cuma itu. Fosil kayu hitam di sekelilingnya adalah kayu galih kelor dan kayu jati fosil yang mengkristal sempurna—jenis batu mulia langka yang di kota sering dicari kolektor barang antik dengan harga gila-gilaan hanya untuk potongan sebesar ibu jari. Dan di hadapannya, dinding bukit itu menampakkan bongkahan sebesar punggung kerbau jantan.

Iskandar duduk terjerembap di atas tanah becek. Dia tidak tertawa. Dia tidak berteriak kegirangan.

Dia justru menundukkan kepalanya dalam-dalam ke atas lumpur, membiarkan dahinya menyentuh tanah basah itu. Bahunya berguncang hebat. Tangis yang ditahannya sejak Ernesto mengusirnya secara halus di teras rumah mewah Jakarta, tangis yang terkunci saat Liza membuang muka di stasiun kereta api, dan tangis saat menantunya menolak menyalami tangannya di depan mobil baru Ramon… semuanya tumpah ruah di atas tanah longsor itu.

Pilar ikut berlutut di sampingnya, membelai punggung suaminya yang ringkih, meski dia belum sepenuhnya mengerti apa yang membuat suaminya menangis seperti anak kecil yang baru menemukan jalan pulang.

Tiga minggu kemudian, desas-desus mulai merembes ke desa terdekat di kaki bukit—desa berjarak dua jam jalan kaki yang biasanya hanya didatangi Iskandar sebulan sekali untuk membeli garam dan minyak tanah menggunakan uang receh hasil menjual rebung.

Seorang pria paruh baya bernama Harjo, tengkulak kayu tua dan batu akik dari kota kecamatan, datang mendaki bukit dengan sepeda motor trail tua yang meraung-raung kepayahan. Dia datang karena mendengar cerita Pak RT desa bawah, bahwa kakek tua yang tinggal di rumah hantu atas bukit membawa serpihan batu kuning aneh untuk ditukar dengan sekarung beras dan selimut tebal.

Harjo duduk di bale-bale bambu buatan Iskandar yang baru. Matanya yang licik bergerak liar mengamati sekeliling.

“Pak Iskandar,” kata Harjo sambil menyalakan rokok kreteknya, mencoba terdengar santai tapi jari tangannya gemetar memegang lup kecil pengamat permata. “Batu yang sampeyan bawa ke warung kemarin… itu cuma tembaga campur pirit. Emas monyet orang sini bilang. Nggak ada harganya. Tapi ya, karena saya kasihan lihat sampeyan sama Ibu Pilar sudah sepuh begini tinggal di hutan, saya mau beli bongkahan yang ada di tebing belakang itu seharga dua juta rupiah. Lumayan buat sangu sampeyan turun ke kota, nyari kontrakan kecil.”

Iskandar yang duduk di seberang meja kayu kasar hanya tersenyum. Matanya yang redup menatap tepat ke manik mata Harjo. Pengalaman hidup tujuh puluh empat tahun membuatnya kenyang melihat tatapan orang serakah yang berusaha menutupi liurnya sendiri.

“Mas Harjo,” suara Iskandar tenang sekali, nyaris seperti bisikan angin di pucuk pinus. “Ayah saya dulu mandor tambang. Mata saya mungkin sudah rabun buat membaca koran, tapi telapak tangan saya tahu bedanya berat pirit dengan emas urat murni dua puluh dua karat. Dan kayu hitam yang sampeyan injak di dekat pintu itu, sampeyan tahu betul itu fosil jati hitam kristal yang kemarin dicari orang Belanda di galeri batu Solo.”

Rokok di bibir Harjo nyaris jatuh. Mukanya memerah padam. Dia menelan ludah dengan susah payah.

“Sa-sampeyan tahu dari mana…?”

“Saya tua, Mas. Bukan bodoh. Anak-anak saya mengira saya sudah pikun makanya mereka menaruh saya di sini. Padahal tanah ini cuma nunggu saya pulang.”

Harjo mematikan rokoknya tergesa-gesa di tanah. Sikap meremehkannya lenyap seketika. Dia membungkuk sedikit, tangannya diletakkan di atas paha dengan sopan.

“Saya minta maaf, Pak Iskandar. Saya khilaf. Kalau begitu… izinkan saya bawa kenalan saya dari dinas purbakala dan asosiasi permata provinsi. Mereka orang lurus. Mereka bisa menaksir dengan adil. Tapi tolong… jangan jual ke orang lain dulu.”

Iskandar menatap cangkir sengnya yang tinggal menyisakan ampas teh liar.

“Bawa siapa saja yang mau datang, Mas. Asal mereka tahu cara menghormati tanah ini. Dan satu lagi… bawa beras yang pulen dua karung besok kalau ke sini. Istri saya bosan makan talas kukus.”

Enam bulan berikutnya adalah riak air yang berubah menjadi gelombang besar.

Kabar penemuan urat emas alami dan deposit fosil kayu permata langka di tanah milik mendiang Mbah Mangun—kakek dari Iskandar—bukan lagi rahasia. Pemerintah daerah turun tangan, tapi sertifikat tanah tua berbahasa Belanda dengan segel lilin merah yang disimpan Iskandar di kotak kecil tua yang dibawanya sejak hari pengusiran membuktikan kepemilikan mutlak tanpa celah.

Iskandar menolak tanahnya dijadikan tambang terbuka berskala besar yang menggunakan alat berat dan racun sianida. Dia tidak ingin pohon beringin yang melindunginya malam itu ditebang. Dia tidak ingin air kali kecil tempat Pilar mencuci sayur berubah menjadi lumpur beracun.

Sebaliknya, sebuah kesepakatan langka ditandatangani. Lahan seluas lima hektar itu dijadikan area cagar geologi dan wisata edukasi alam terbatas, dikelola bersama universitas negeri dan sebuah yayasan pelestari hutan. Iskandar hanya mengizinkan penambangan tradisional selektif di area longsoran, dengan sistem bagi hasil yang langsung masuk ke rekening bank atas nama dirinya dan Pilar.

Uang bukan lagi masalah. Jumlah angka di buku tabungan bersampul biru yang diantar langsung oleh kepala cabang bank kabupaten itu bahkan tidak masuk akal bagi orang tua yang terbiasa menghitung sisa minyak goreng di botol kecap.

Namun, apakah mereka pindah ke kota?

Tidak.

Rumah tua itu tidak dirubuhkan. Iskandar menyewa tukang-tukang kayu terbaik dari Jepara untuk memperbaikinya tanpa mengubah bentuk aslinya. Kayu-kayu lapuk diganti dengan jati tua pilihan. Atap yang dulu berlubang kini ditutup sirap kayu ulin yang kokoh dan harum saat terkena hujan. Dinding anyaman bambunya diperbarui dengan motif kepang ganda yang halus. Lantai tanahnya kini beralas papan kayu tebal yang hangat, dipoles minyak kelapa murni hingga berkilau keemasan.

Di sudut ruangan, ada tungku perapian dari batu kali yang megah, tempat kayu pinus kering berderak pelan menghangatkan seluruh rumah saat malam turun.

Sumur tua berair cokelat itu telah dipasangi pipa batu alami, mengalirkan air pegunungan sebening kaca langsung ke bak mandi batu di samping rumah. Listrik tenaga surya terpasang rapi di atap belakang, cukup untuk menyalakan beberapa lampu gantung temaram yang membuat rumah itu tampak seperti lentera hangat di tengah gelapnya belantara pinus.

Bolong kini berbulu lebat dan berkilat, tidur mendengkur di atas permadani wol tebal di depan perapian.

Dan di sanalah mereka tinggal. Tetap berdua. Menikmati teh liar yang kini diseduh di teko porselen antik hadiah dari rektor universitas, sambil mendengarkan desir angin gunung yang tak lagi terdengar mengancam.

Hingga suatu hari di akhir tahun, suara deru mobil memecah ketenangan lereng bukit.

Bukan satu, melainkan tiga mobil.

Jalan setapak terjal yang dulunya harus ditempuh dengan jalan kaki dua jam kini sudah diperkeras dengan batu kali yang ditata rapi oleh warga desa bawah yang dipekerjakan Iskandar dengan upah layak. Mobil jenis MPV keluarga perkotaan kini bisa merayap naik perlahan meski harus sedikit bersusah payah.

Pilar yang sedang menyiram tanaman cabai di pekarangan depan meletakkan ember sengnya. Dia berdiri mematung.

Pintu mobil-mobil itu terbuka.

Dari mobil pertama, turun Ernesto. Kemeja batiknya kusut, rambutnya yang biasanya disisir rapi dengan pomade tampak awut-awutan kena angin gunung. Istrinya turun di belakangnya, mengenakan sepatu hak tinggi yang langsung terperosok ke tanah pekarangan yang basah, membuatnya memekik kesal sebelum buru-buru memasang senyum canggung yang dipaksakan.

Dari mobil kedua, Liza keluar membawa dua anaknya yang memegang ponsel canggih tapi mengeluh karena tidak ada sinyal internet.

Dan dari mobil ketiga, Ramon keluar bersama istrinya yang dulu melipat tangan di dada saat mengusir mertuanya. Hari ini, wanita itu membawa rantang susun besar berbungkus kain batik halus.

Iskandar keluar dari pintu depan, mengenakan sarung tenun tebal dan baju koko sederhana. Martil tua yang dulu dipakainya menambal seng kini tergantung rapi di dinding teras sebagai hiasan, berdampingan dengan foto hitam putih orang tuanya.

Ketiga anaknya berjalan mendekat dengan langkah ragu-ragu. Mata mereka liar memandang ke sekeliling: rumah kayu yang megah nan asri, mobil jip kabin ganda baru terparkir di bawah naungan pohon randu, dan hamparan lembah asri yang kini berpagar kayu putih rapi.

“Ayah… Ibu…”

Suara Ernesto tercekat di tenggorokan. Dia melangkah maju hendak mencium tangan Iskandar, tapi Iskandar tidak mengulurkan tangannya. Dia hanya melipat kedua lengannya di dada, tenang, sedingin es abadi di puncak gunung.

Pilar melangkah perlahan ke samping suaminya. Wajahnya tetap teduh seperti biasa, tidak ada amarah, tapi tidak ada pula kerinduan yang meluap-luap seperti dulu saat dia menangis di ceruk akar beringin.

“Ada angin apa mendaki gunung sejauh ini, Ernesto?” tanya Iskandar pelan.

Liza yang pertama menangis. Air matanya tumpah begitu saja, langkahnya terburu-buru maju mendekati ibunya.

“Ibu… maafkan Liza, Bu… Kami baru tahu dari berita di koran bulan lalu… Kami sibuk sekali kemarin-kemarin, Bu, anak-anak sakit, kerjaan di kantor numpuk… Kami kangen sama Ibu…”

Liza mencoba memeluk Pilar, tapi perempuan tua itu bergeming. Pelukan itu hampa. Tangannya tidak balas melingkari punggung anak perempuannya.

Ramon melangkah maju, mendorong istrinya sedikit ke depan.

“Ayah, Ibu, ini… Linda bikin rendang kesukaan Ayah. Kami sengaja datang mau jemput Ayah sama Ibu. Nggak pantas orang tua tinggal di hutan begini sendirian. Rumah kami di kota sudah direnovasi, ada kamar bawah yang luas buat Ayah sama Ibu…”

Istri Ramon tersenyum manis sekali, jenis senyuman yang biasanya dia berikan pada pelanggan kaya di butiknya.

“Iya, Bu… Dulu kan Linda cuma panik karena keuangan lagi susah. Sekarang usaha Ramon sudah mendingan. Ayo kita kumpul lagi di kota. Biar cucu-cucu bisa dekat sama kakek-neneknya.”

Angin berembus pelan, menggugurkan beberapa daun pinus kering ke atas tanah.

Bolong bangkit dari peraduannya di teras, melangkah pelan ke samping kaki Iskandar, mengeluarkan geraman rendah dari tenggorokannya melihat orang-orang asing yang berisik itu.

“Diam, Bolong,” tegur Iskandar lembut sambil mengelus kepala anjingnya. Seketika hewan itu duduk patuh, matanya tetap mengawasi awas.

Iskandar menatap anak-anaknya satu per satu. Dia menatap Ernesto yang menunduk tak berani menatap matanya. Dia menatap Liza yang sibuk mengusap air mata dengan tisu wangi. Dia menatap Ramon yang tangannya memegang rantang dengan kikuk.

“Rendang daging sapi, Ramon?” tanya Iskandar pelan.

Ramon mengangguk cepat, matanya berbinar penuh harap. “Iya, Yah. Masih hangat.”

“Waktu pertama kali kami sampai di sini,” suara Iskandar datar, mengalir tanpa emosi yang meledak-ledak, “ibumu memetik pucuk pakis liar dan mengukus talas busuk bekas tikus hutan. Kami makan berdua di bawah genteng bocor sambil mengucap syukur karena kami masih punya satu sama lain.”

Semua terdiam. Cucu-cucu mereka yang tadinya ribut mengeluhkan sinyal ponsel mendadak terdiam merasakan ketegangan yang pekat.

“Ernesto,” panggil Iskandar.

Anak sulung itu mengangkat wajahnya yang pucat.

“Kamu dulu ingat waktu umurmu tujuh tahun dan kena demam berdarah di Surabaya? Rumah sakit penuh. Ayah menggendongmu jalan kaki lima kilometer tengah malam cari dokter praktek yang masih buka. Hujan sama derasnya kayak malam pertama kami dibuang ke sini.”

Ernesto menggigit bibir bawahnya. Air matanya mulai menetes.

“Waktu kamu mau nikah dan uangmu kurang lima puluh juta, siapa yang menjual cincin kawin satu-satunya warisan nenekmu?” lanjut Iskandar, suaranya tetap tenang, tapi setiap kata yang keluar terasa menghujam lebih tajam daripada parang pemotong bambu.

Pilar menyentuh lengan suaminya perlahan. Bukan untuk mencegahnya bicara, melainkan hanya memberinya kekuatan.

“Kami tidak mendidik kalian jadi orang miskin harta,” kata Pilar akhirnya bersuara, nadanya lembut menusuk kalbu. “Tapi kami ternyata gagal mendidik kalian punya ingatan.”

“Ibu… jangan bicara begitu, Bu… Kami anak-anak Ibu…” ratap Liza, kini bersimpuh di atas tanah basah, tidak peduli lagi celana kain mahalnya kotor oleh lumpur lereng bukit.

“Kalian memang anak-anakku,” jawab Pilar pelan. “Darahku mengalir di tubuh kalian. Rasa sakit melahirkan kalian bertiga dulu masih ada bekasnya di perutku ini. Tapi rasa sakit saat kalian berdiri di depan pintu rumah kontrakan di kota enam bulan lalu, sambil bilang kalian tidak punya tempat buat kami… rasa sakit itu jauh lebih mematikan.”

Pilar memandang rantang susun yang dibawa menantunya.

“Bawa pulang rendangmu, Linda. Lidah kami sudah terbiasa makan sayur bening dari kebun sendiri. Lambung kami sudah terlalu tua untuk makanan yang dibumbui rasa malu.”

Istri Ramon mematung, wajahnya merah padam antara malu dan terhina, tapi tak berani mendebat sedikit pun.

Ernesto jatuh berlutut di sebelah adiknya. “Ayah… ampuni kami, Yah… Kami khilaf. Kami silau sama urusan dunia… Jangan kutuk kami, Yah…”

Iskandar menghela napas panjang. Dihirupnya udara pegunungan yang bersih ke dalam paru-paru tuanya. Langit di atas kepala mereka biru bersih, tanpa noda polusi.

“Aku tidak pernah mengutuk kalian,” kata Iskandar. “Kalau aku berniat mengutuk, sudah kulakukan sejak malam pertama rumah ini dihantam badai dan ibumu menggigil sampai bibirnya biru. Seorang ayah tidak mengutuk darah dagingnya sendiri.”

Iskandar melangkah mundur satu langkah, merapatkan posisinya di samping Pilar.

“Uang yang kalian dengar ada di bank itu… sebagian besar sudah kuserahkan ke yayasan desa dan rumah sakit paru-paru di kabupaten. Sisanya cukup buat aku dan ibumu hidup tenang di sini sampai giliran kami dijemput tanah kuburan di bawah pohon beringin itu.”

Ketiga anak itu membelalakkan mata. Kecewa, kaget, dan rasa bersalah bercampur menjadi satu raut wajah yang menyedihkan. Niat terselubung mereka—yang mungkin berharap kecipratan rezeki nomplok dari tambang emas dan batu permata yang diberitakan di televisi—hancur berantakan dalam satu kalimat lugas.

“Tapi kalau kalian datang ke sini cuma mau minta maaf…” Iskandar terdiam sejenak. Matanya menatap jauh melompati kepala anak-anaknya, memandang kabut yang perlahan naik di ujung lembah. “…pintu maaf sudah kubuka sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di tanah ini. Karena kalau aku menyimpan dendam pada kalian, aku tidak akan bisa tidur nyenyak di rumah yang berkah ini.”

Ernesto mendongak, matanya penuh harap yang menyedihkan. “Berarti Ayah mau ikut kami pulang?”

Iskandar tersenyum tipis. Senyuman yang sama seperti saat dia berdiri di teras rumah kontrakan kota enam bulan lalu—senyuman tanpa dendam, tapi kali ini penuh dengan kebebasan mutlak.

“Rumahku ada di sini, Ernesto. Rumah kalian ada di kota. Tempat ini terlalu tinggi dan terlalu dingin buat orang-orang yang hatinya gampang silau oleh kilau emas.”

Iskandar berbalik.

“Pilar, ayo masuk. Air di teko sepertinya sudah mendidih. Waktunya minum teh.”

Pilar mengangguk. Dia tidak menoleh lagi ke arah anak-anak, menantu, dan cucu-cucunya yang masih terpaku mematung di pekarangan. Dia melangkah tenang mengikuti suaminya masuk ke dalam rumah kayu yang hangat.

Bolong berdiri di ambang pintu, menatap rombongan dari kota itu sejenak, lalu melangkah masuk ke dalam menyusul kedua tuannya.

Pintu kayu jati tebal berukir sederhana itu ditarik perlahan dari dalam.

Klek.

Bunyi gerendel kayu masuk ke lubangnya terdengar tegas, mantap, dan final.

Di luar, angin gunung berembus kembali, membawa aroma pinus yang segar dan dingin, menyapu jejak-jejak ban mobil perkotaan di atas tanah merah, sementara di dalam rumah, suara cangkir seng yang diletakkan di atas meja kayu mengalun lembut, diiringi kepulan uap teh liar yang menari-nari di udara hangat perapian.

Mereka berdua duduk berdampingan di dekat jendela. Tidak ada lagi ketakutan akan hari esok. Tidak ada lagi harapan palsu yang dititipkan pada manusia. Di puncak sunyi pegunungan itu, hidup mereka akhirnya genap—bukan karena emas yang terkubur di bawah tanah, melainkan karena mereka telah menemukan kembali hati mereka yang utuh, yang tak lagi bisa dihancurkan oleh siapa pun.