BAGIAN 2
Aku menatap nama itu sampai huruf-hurufnya berbayang.
DION MAHENDRA — HUBUNGAN BIOLOGIS: AYAH.
“Tidak mungkin.”

Perempuan di depanku menggenggam meja.
“Namaku Ratna Mahendra.”
Aku mengangkat kepala.
“Dion siapa?”
“Anak saya.”
“Di mana dia?”
Bu Ratna menutup mata sebentar.
“Di rumah sakit.”
Aku langsung berdiri.
“Kenapa?”
“Dia sedang menjalani pemeriksaan terakhir sebelum menjadi donor untuk Raka.”
“Donor apa?”
“Darah dan jaringan yang mungkin dibutuhkan selama operasi. Golongan dan profilnya sangat langka.”
Aku tidak peduli pada penjelasan itu.
Aku menunjuk hasil laboratorium.
“Kenapa di sini tertulis dia ayah kandung?”
Bu Ratna tidak menjawab.
“BU!”
Bimo langsung mendekat.
“Bu Sari, tenang dulu.”
“Anak saya mau operasi beberapa jam lagi dan perempuan ini baru bilang suami saya bukan ayahnya!”
Air mataku jatuh.
“Aku bahkan tidak mengenal Dion!”
Bu Ratna menatapku tajam.
“Kamu pernah melihatnya.”
Aku membeku.
“Kapan?”
“Delapan tahun lalu.”
Dia membuka ponsel.
Muncul foto seorang pria berusia sekitar tiga puluhan.
Aku langsung mengenal wajah itu.
Bukan karena pernah berbicara dengannya.
Karena pernah kulihat berdiri bersama Arif.
Di klinik fertilitas.
Delapan tahun lalu.
Saat aku dan Arif mengikuti program bayi tabung setelah hampir empat tahun menikah tanpa anak.
“Dia teman Arif,” bisikku.
Bu Ratna menggeleng.
“Bukan.”
Dia memperbesar foto.
“Dion sepupu Arif.”
Aku menatapnya.
“Arif bilang dia teman kuliah.”
“Karena dia tidak ingin kamu tahu hubungan mereka.”
Tengkukku mulai dingin.
Aku meraih ponsel dan menelepon Arif lagi.
Kali ini dia mengangkat.
“Sari, kamu di mana?”
“Siapa Dion?”
Sunyi.
Hanya satu detik.
Tapi cukup.
“Kamu ketemu siapa?”
Aku mengepalkan tangan.
“Jawab.”
“Sari, jangan percaya siapa pun di sana.”
“DION SIAPA?”
Arif mengembuskan napas.
“Datang ke rumah dulu.”
“Raka di rumah sakit!”
“Aku bisa jelaskan.”
“Depositnya sudah lunas.”
Dia langsung diam.
Aku melanjutkan.
“Kenapa kamu bilang rumah sakit menunggu Rp280 juta?”
“Sari—”
“Kenapa?”
“Aku butuh uang.”
Jawaban itu menghantam lebih keras daripada kebohongan sebelumnya.
“Untuk apa?”
Dia tidak menjawab.
Aku melihat Rp612 juta di dalam tas cokelat.
Tiba-tiba semuanya terasa jauh lebih kotor.
“Arif, kamu tahu isi tas ini?”
Dia langsung berkata,
“Jangan sentuh uangnya.”
Aku membeku.
Jadi benar.
Dia tahu.
“Bagaimana kamu tahu ada uang?”
Sambungan terputus.
Aku langsung menghubungi administrasi rumah sakit.
“Operasi Raka tetap dilakukan?”
“Jadwal masih pukul dua belas, Bu.”
“Aku menuju ke sana.”
Bu Ratna memegang lenganku.
“Saya ikut.”
Aku menarik tangan.
“Kenapa?”
“Karena Dion ada di sana.”
Aku menunjuk tas.
“Dan ini?”
Wajahnya berubah.
“Itu milik saya.”
“Kenapa ditinggalkan di toilet bandara?”
Bu Ratna tidak menjawab.
Bimo ikut menatapnya.
“Bu Ratna, saya rasa Ibu perlu menjelaskan itu sebelum pergi.”
Dia duduk kembali.
“Saya sengaja meletakkannya di sana.”
Aku sampai tidak langsung memahami.
“Apa?”
“Saya tahu penerbanganmu mendarat pagi ini.”
“Bagaimana?”
“Arif.”
Aku tertawa pahit.
Tentu.
“Dia bilang kepada Ibu?”
“Seminggu lalu.”
“Lalu Ibu meninggalkan Rp612 juta di toilet supaya kutemukan?”
“Saya tidak bisa menghubungimu langsung.”
“Kenapa?”
“Karena setiap nomor yang saya gunakan untuk menghubungi rumahmu selalu diketahui Arif.”
Aku terdiam.
Bu Ratna menunjuk tas.
“Foto Raka sengaja saya letakkan supaya kamu tidak menyerahkan tas itu begitu saja.”
“Dan tulisan jangan hubungi polisi?”
“Saya takut dokumen di dalam diambil sebelum sampai kepadamu.”
“Kenapa tidak menungguku di bandara?”
“Saya menunggu.”
Aku mengernyit.
“Di mana?”
“Di parkiran.”
“Lalu pria berjaket abu-abu?”
Wajah Bu Ratna langsung berubah.
“Pria apa?”
Aku menceritakan kejadian di dekat pintu keluar.
Dia langsung mengambil ponselnya.
“Foto Raka dicuri?”
“Iya.”
Bu Ratna berdiri.
“Itu bukan orang saya.”
Kini Bimo memanggil supervisornya lagi.
CCTV bandara diperiksa.
Wajah pria itu memang terlihat.
Aku tidak mengenalnya.
Bu Ratna mengenalnya.
“Namanya Yudi.”
“Siapa?”
“Mantan sopir Arif.”
Dadaku kembali sesak.
Aku tiba di rumah sakit pukul 09.26.
Tidak ada Arif.
Raka sedang tidur.
Tubuh kecilnya terlihat semakin kurus di bawah selimut.
Aku mencium dahinya.
“Mama pulang, Nak.”
Matanya terbuka sedikit.
“Mama jangan pergi lagi.”
Aku hampir menangis.
“Tidak.”
Kugenggam tangannya.
“Mama di sini.”
Seorang dokter datang sekitar sepuluh menit kemudian.
“Bu Sari?”
Aku berdiri.
“Saya dokter Aditya.”
Dia menjelaskan bahwa kondisi Raka stabil untuk operasi, tetapi tim membutuhkan persediaan darah khusus karena risiko perdarahan tinggi.
“Pak Dion sudah lolos pemeriksaan awal sebagai donor langsung.”
Aku menatap pintu.
“Dia di mana?”
Dokter menunjuk ruang di ujung koridor.
Aku berjalan ke sana.
Bu Ratna tidak ikut.
Katanya ada percakapan yang sebaiknya dilakukan tanpa dirinya.
Ketika pintu dibuka, pria dalam foto itu sedang duduk dengan lengan digulung setelah pengambilan darah.
Dion.
Dia terlihat lebih tua.
Ada uban tipis di pelipis.
Begitu melihatku, dia berdiri.
“Sari.”
Aku berhenti di ambang pintu.
“Kamu tahu namaku.”
Dia tersenyum pahit.
“Aku tahu lebih banyak dari yang seharusnya.”
Aku meletakkan hasil laboratorium di meja.
“Jelaskan.”
Dion melihat tulisan itu.
“Arif belum bicara?”
“Kalau dia sudah bicara, aku tidak akan berdiri di sini.”
Dion menarik kursi.
Aku tidak duduk.
Delapan tahun lalu.
Program bayi tabung.
Itulah awalnya.
Arif mengetahui dirinya mengalami gangguan kesuburan berat.
Peluangnya menjadi ayah biologis hampir tidak ada.
Aku tidak pernah diberi tahu.
“Dia bilang masalahnya ada padaku,” kataku.
Dion mengangguk pelan.
“Dia berbohong.”
Aku merasa jijik.
Bertahun-tahun aku menyalahkan tubuhku sendiri.
Suntikan hormon.
Tes.
Tangisan di kamar mandi.
Sementara Arif tahu.
“Lalu kamu?”
Dion menatap tangannya.
“Arif datang kepadaku.”
“Meminta apa?”
“Sampel.”
Aku hampir menamparnya.
“Kamu setuju?”
“Awalnya tidak.”
“Tapi akhirnya iya.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Dia bilang kamu tahu.”
Aku tertawa keras.
Suara itu terdengar seperti milik orang lain.
“Dia bilang aku setuju memakai donor keluarga?”
Dion mengangguk.
“Aku bahkan menandatangani dokumen.”
“Dokumen apa?”
“Persetujuan donor anonim.”
“Anonim?”
“Aku tidak pernah bermaksud menjadi ayah Raka.”
Aku menatapnya tajam.
“Jangan sebut namanya seperti kamu berhak.”
Dion menerima itu.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa sekarang muncul?”
“Karena tiga bulan lalu Arif menghubungiku.”
Aku membeku.
“Untuk operasi?”
“Awalnya.”
Dion menarik napas.
“Dia bilang Raka butuh donor yang kemungkinan cocok. Dia minta aku tes.”
“Lalu hasil DNA keluar.”
“Iya.”
“Dan Arif tahu.”
“Sejak tiga minggu lalu.”
Tanggal foto Raka dalam tas.
Tiga minggu lalu.
Potongannya menyatu.
“Kenapa deposit operasi dibayar?”
Dion menjawab,
“Ibu.”
“Rp280 juta?”
“Iya.”
“Lalu kenapa Arif tetap meminta uang itu dariku?”
Dion menatapku.
“Itu yang membuat kami curiga.”
Bu Ratna kemudian menemukan Arif memiliki utang besar.
Bukan kepada bank.
Kepada pemberi pinjaman pribadi.
Hampir Rp900 juta.
Sebagian akibat investasi bodong.
Sebagian lagi judi online.
Aku menutup mata.
Enam tahun aku bekerja di Taiwan.
Mengirim uang setiap bulan.
Untuk rumah.
Untuk sekolah Raka.
Untuk masa depan.
Sementara Arif menumpuk utang.
“Rp612 juta di tas itu apa?”
Dion menjawab,
“Uang yang Arif minta kepada Ibu.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
“Katanya sebagai kompensasi.”
“Kompensasi?”
“Dia mengancam akan membuka identitasku sebagai ayah biologis Raka dan menuduh keluargaku menyuap klinik kalau Ibu tidak membayar.”
Aku sampai kehilangan kata-kata.
“Jadi suamiku memeras keluarga kalian menggunakan anakku?”
Dion mengangguk.
“Ibu pura-pura setuju.”
Tas itu bukan pembayaran.
Itu jebakan.
Bu Ratna sengaja menarik uang tunai dan membuat Arif percaya uang tersebut akan diserahkan melalui perantara di bandara.
Tapi dia mengubah rencana pada detik terakhir.
Dia ingin aku menemukannya.
Bersama dokumen.
Agar aku mengetahui semuanya sebelum Arif sempat mengambil uang.
“Yudi?”
“Mungkin disuruh Arif mengambil foto dan dokumen.”
Aku langsung teringat satu hal.
“Kenapa hanya foto yang dia ambil?”
Dion berdiri.
“Karena mungkin dia tidak mencari uang.”
“Apa?”
“Dia mencari bukti bahwa Arif tahu identitas biologis Raka.”
Ponselku bergetar.
Pesan masuk.
Dari Arif.
AKU DI RUMAH. DATANG SENDIRI KALAU MAU TAHU KENAPA DION BOHONG.
Aku menunjukkan pesan itu kepada Dion.
Wajahnya berubah.
“Jangan pergi.”
Aku menatapnya.
“Aku harus.”
Aku tidak datang sendirian.
Aku menghubungi polisi lebih dulu.
Dua petugas menunggu beberapa rumah dari tempat kami.
Aku masuk sendiri.
Arif duduk di ruang tamu.
Di atas meja ada amplop putih yang tadi dicuri Yudi.
“Di mana Yudi?”
“Pergi.”
“Aku sudah tahu semuanya.”
“Belum.”
Aku berdiri di depannya.
“Deposit operasi sudah dibayar.”
Dia diam.
“Kamu minta Rp280 juta dariku.”
Tidak ada jawaban.
“Kamu tahu Dion ayah biologis Raka.”
Arif mengepalkan tangan.
“Dia bukan ayah Raka.”
“DNA mengatakan lain.”
“Ayah itu yang membesarkan.”
“Kalau begitu kenapa anak yang kamu besarkan kamu jadikan alat untuk memeras orang?”
Wajahnya berubah.
Aku tahu aku tepat sasaran.
“Siapa bilang aku memeras?”
“Dion.”
Dia tertawa.
“Tentu.”
Aku mengeluarkan ponsel.
“Rekaman transfer utangmu sudah ditemukan.”
Arif berhenti tertawa.
“Aku hanya butuh waktu.”
“Enam tahun aku kirim uang.”
“Aku akan mengembalikannya.”
“Dengan uang siapa? Uang operasi anakmu?”
Dia berdiri.
“Itu juga anakku!”
“Lalu kenapa kamu bilang rumah sakit akan memberikan jadwal operasinya kepada orang lain kalau aku tidak kirim Rp280 juta?”
Dia tidak menjawab.
Aku merasakan sesuatu di dalam diriku patah.
Bukan cinta.
Kepercayaan terakhir.
“Aku hampir mengambil uang dari tas itu.”
Arif menatapku.
“Aku hampir mencuri karena kupikir itu satu-satunya cara menyelamatkan Raka.”
Dia menunduk.
“Kamu membuatku berpikir anak kita bisa mati karena aku tidak punya uang.”
“Sari…”
“Padahal depositnya sudah lunas.”
Air mataku jatuh.
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu untuk itu.”
Aku membuka pintu.
Dua polisi masuk.
Arif langsung mundur.
“Apa-apaan ini?”
Salah satu petugas menunjukkan identitas.
“Kami ingin meminta keterangan mengenai dugaan pemerasan, pemalsuan informasi pembayaran medis, dan beberapa transaksi.”
Arif menatapku seolah aku pengkhianat.
Lucu.
Setelah semua yang dilakukan, dia masih bisa menatapku seperti itu.
Ponselku berdering.
Rumah sakit.
Aku langsung mengangkat.
“Bu Sari, kami akan membawa Raka ke ruang operasi dua puluh menit lagi.”
Aku tidak menoleh lagi kepada Arif.
Aku berlari keluar.
Operasi berlangsung hampir enam jam.
Aku menunggu bersama Bu Ratna.
Dion duduk jauh dari kami setelah mendonorkan darah.
Kami tidak banyak bicara.
Aku belum tahu harus menempatkan mereka sebagai apa dalam hidup Raka.
Keluarga?
Orang asing?
Orang-orang yang ikut membangun kebohongan delapan tahun lalu?
Aku hanya tahu satu hal.
Raka harus selamat dulu.
Pukul 18.47, dokter keluar.
“Operasinya berhasil.”
Aku menangis.
Benar-benar menangis.
Kakiku sampai lemas.
Dokter tersenyum.
“Kondisinya masih harus dipantau ketat, tetapi masalah utama sudah ditangani.”
Aku masuk beberapa jam kemudian.
Raka belum sadar penuh.
Tangannya kecil sekali di telapak tanganku.
Aku mencium jari-jarinya.
“Tidak ada lagi yang bohong ke Mama, Nak.”
Hari-hari berikutnya bergerak cepat.
Arif diperiksa.
Yudi ditemukan.
Dari ponselnya, polisi mendapatkan pesan-pesan Arif yang memerintahkannya mengikuti Bu Ratna dan mengambil amplop dari tas.
Utang Arif juga terbuka.
Dia memang berencana memakai Rp280 juta dariku untuk membayar sebagian pemberi pinjaman sebelum mereka datang ke rumah.
Uang Rp612 juta dikembalikan Bu Ratna ke bank setelah proses pemeriksaan selesai.
Aku tidak mengambil satu rupiah.
Biaya operasi Raka tetap dianggap bantuan tanpa syarat.
Aku meminta semuanya dibuat tertulis.
Tidak ada hak asuh.
Tidak ada tuntutan menjadi orang tua.
Tidak ada “imbalan” di masa depan.
Dion menyetujuinya.
“Aku cuma ingin dia hidup,” katanya.
Aku menjawab,
“Untuk sekarang, itu cukup.”
Hubunganku dengan Arif selesai.
Aku tidak langsung memikirkan perceraian pada hari pertama.
Tapi ketika Raka sudah bisa duduk dan tertawa lagi, aku tahu keputusan itu tidak akan berubah.
Aku bisa memaafkan banyak kegagalan.
Aku tidak bisa hidup dengan seseorang yang menggunakan ketakutanku kehilangan anak untuk mendapatkan uang.
Sebulan kemudian, sebelum kembali ke Sidoarjo bersama Raka, dokter memintaku datang ke ruang konsultasi.
Kupikir hanya pemeriksaan lanjutan.
Ternyata ada seorang petugas laboratorium menunggu.
Dia membawa map.
“Bu Sari, saat verifikasi hubungan biologis Pak Dion dan Raka, kami menjalankan panel keluarga tambahan karena riwayat program bayi tabung.”
Aku langsung merasa tidak enak.
“Kenapa?”
“Ada ketidaksesuaian.”
“Dengan Arif?”
Dia menggeleng.
“Bukan.”
Dia mendorong satu lembar ke arahku.
Nama Raka.
Nama Dion.
Hubungan ayah biologis: cocok.
Lalu satu kolom di bawahnya.
IBU BIOLOGIS: SARI WULANDARI — TIDAK COCOK.
Aku tidak bisa bernapas.
“Ini salah.”
“Kami sudah mengulang pemeriksaan dua kali.”
Aku menatap Raka yang sedang bermain mobil-mobilan di balik kaca ruang tunggu.
Anak yang kukandung sembilan bulan.
Anak yang kulahirkan.
Anak yang kupeluk tujuh tahun.
Petugas itu mengeluarkan satu dokumen lama dari klinik fertilitas.
Ada nomor embrio.
Dan nama seorang perempuan yang belum pernah kudengar.
Aku membaca tiga baris terakhir laporan itu.
Embrio yang ditanamkan ke rahimku delapan tahun lalu bukan berasal dari sel telurku.
Dion memang ayah biologis Raka—tetapi aku bukan ibu biologisnya.
Nama perempuan pemilik sel telur itu adalah Ratna Mahendra.
