KAKAKKU MEMAKSAKU MINUM JAMU SETIAP MALAM, TETAPI SETELAH AKU MEMBUANGNYA, SEORANG PEREMPUAN DARI BAWAH RUMAH MEMANGGILKU DENGAN NAMA ORANG MATI.

BAGIAN 2

Aku menatap perempuan kurus di depanku.

“Apa maksudmu?”

Dia menarik rantai di pergelangan tangannya.

“Namaku Alya Maheswari.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Itu namaku.”

“Bukan.”

Langkah kaki di lorong semakin dekat.

Perempuan itu menatap kartu akses di tanganku.

“Buka pengunci ranjangku. Cepat.”

Tanganku gemetar saat menempelkan kartu ke panel kecil di dinding.

Lampunya merah.

Gagal.

Suara Raka terdengar lagi melalui pengeras suara.

“Kirana, jangan membuat ini lebih sulit.”

Kirana.

Sekali lagi nama itu.

Aku menoleh ke perempuan tadi.

“Kalau aku Kirana, kenapa semua orang memanggilku Alya?”

“Karena mereka membutuhkan Alya tetap hidup di atas kertas.”

Pintu luar dihantam.

BRAK.

“Apa maksudmu?”

“Setelah Ayah meninggal, saham perusahaan dibagi. Aku mendapat empat puluh satu persen. Raka hanya mendapat dua belas.”

BRAK.

“Dia tidak bisa menguasai perusahaan selama aku masih hidup.”

“Lalu aku?”

Wajahnya menegang.

“Kamu penggantiku.”

Pintu mulai retak di bagian kunci.

Aku meraih tiang infus yang tergeletak di lantai.

“Aku tidak mengerti.”

“Dua puluh satu tahun lalu, Raka membawa pulang seorang anak perempuan dari Bandung.”

“Bohong.”

“Aku melihatmu.”

Aku membeku.

“Aku waktu itu sebelas tahun. Kamu sekitar lima.”

Dadaku sesak.

“Dia bilang kamu Kirana, adik jauh dari pihak Ayah yang orang tuanya meninggal.”

“Lalu?”

“Enam bulan kemudian, aku dikirim sekolah ke Singapura.”

Suara logam berderak dari luar.

“Malam sebelum berangkat, aku mendengar Raka bertengkar dengan Ibu. Ibu bilang dia akan mengembalikanmu.”

“Kepadaku?”

“Kepada keluarga aslimu.”

Pintu dihantam lagi.

“Setelah itu aku tidak pernah pulang.”

Aku menatap rantai di tangannya.

“Dua puluh satu tahun?”

“Awalnya tidak.”

Dia menelan ludah.

“Raka membuat semua orang percaya aku mengalami gangguan mental. Aku dipindahkan dari klinik ke klinik milik perusahaan keluarga.”

“Kenapa tidak kabur?”

“Karena semua dokter bekerja untuk mereka.”

Dia mengangkat lengan.

Penuh bekas suntikan.

“Mereka membuatku terlihat gila.”

Aku teringat map merah.

Hasil pemeriksaan medis.

Surat gangguan jiwa.

Semua memakai namaku.

“Lalu Ibu?”

Perempuan itu menatapku lama.

“Ibu tahu semuanya.”

Pintu berhenti dihantam.

Tiba-tiba sunyi.

Itu justru membuatku lebih takut.

“Kalau Ibu tahu, kenapa dia membiarkanku?”

“Dia tidak membiarkan.”

Dia menunjuk langit-langit.

“Ada panel darurat di balik kamera. Cabut.”

Aku meraih kursi kecil, naik, lalu menarik kamera hingga kabelnya terputus.

Di belakangnya memang ada tuas merah.

Kutarik.

Klik.

Rantai di ranjang terbuka.

Perempuan itu jatuh hampir tersungkur.

Aku menangkapnya.

“Terima kasih.”

Belum sempat kami bergerak, pintu terbuka.

Raka berdiri di sana.

Di belakangnya ada dua perawat.

Salah satunya memegang alat suntik.

Raka melihat rantai yang sudah terbuka.

Wajahnya berubah dingin.

“Aku seharusnya menaikkan dosis sejak lama.”

Aku mundur.

“Jangan mendekat.”

“Berikan ponselmu.”

“Tidak.”

“Kirana.”

“Jangan panggil aku begitu!”

Untuk pertama kalinya, dia tersenyum.

Bukan senyum kakakku.

Senyum orang asing.

“Itu nama aslimu.”

“Siapa orang tuaku?”

Tidak ada jawaban.

“Jawab!”

“Apa pentingnya sekarang?”

“Penting bagiku!”

Dia melangkah maju.

Aku mengangkat tiang infus.

Perawat di kanan bergerak.

Aku menghantam lengannya.

Alat suntik jatuh.

Perempuan di sampingku langsung menendangnya ke bawah ranjang.

Perawat kedua menerjang.

Aku menjerit saat dia menarik rambutku.

Alya—perempuan yang mengaku Alya asli—menghantam wajahnya dengan rantai.

Pria itu tersungkur.

Aku berlari ke lorong.

“KE PINTU UJUNG!” teriak Alya.

Alarm berbunyi lebih keras.

Lampu merah berkedip.

Raka mengejar kami.

Aku menekan kartu akses ke pintu pertama.

Merah.

Pintu kedua.

Merah.

Pintu ketiga.

Hijau.

Kami masuk.

Ruangan itu penuh lemari pendingin.

Bau antiseptik menusuk hidung.

Di tengahnya ada meja operasi.

Dan enam tabung besar berisi darah.

Namaku tercetak di semuanya.

ALYA MAHESWARI.

“Ya Tuhan…”

Alya asli membuka salah satu laci.

Di dalamnya ada map-map pasien.

Bukan hanya aku.

Ada belasan nama perempuan.

Usia dua puluh sampai tiga puluh lima tahun.

Golongan darah langka.

Beberapa diberi tanda merah.

NONAKTIF.

Aku membuka satu map.

Foto pasiennya ditempeli cap:

MENINGGAL — KOMPLIKASI.

Tanganku dingin.

“Ini bukan cuma tentang aku.”

“Tidak,” kata Alya.

“Raka menjual akses medis?”

“Darah. jaringan. data genetik. Organ bagi mereka yang dianggap tidak punya keluarga.”

Perutku mual.

“Dan perusahaan farmasi?”

“Dipakai sebagai jalur distribusi.”

Pintu di belakang kami berbunyi.

Alya segera menarikku.

“Cari lemari bertanda 07.”

“Kenapa?”

“Ibu menyimpan sesuatu.”

Kami membuka satu per satu sampai menemukan lemari 07.

Terkunci.

Aku menggunakan kartu.

Hijau.

Di dalamnya tidak ada darah.

Hanya kotak logam kecil.

Aku membukanya.

Sebuah flashdisk.

Surat tulisan tangan.

Dan foto lama.

Aku mengambil foto itu.

Seorang perempuan muda memeluk anak perempuan sekitar lima tahun.

Aku mengenali anak itu.

Aku.

Di belakang tertulis:

Kirana Prameswari — Bandung, 2004.

Di sebelahnya ada seorang pria yang wajahnya dicoret dengan tinta.

“Siapa mereka?”

Alya mengambil surat.

“Itu tulisan Ibu.”

Aku merebutnya.

Kalimat pertama membuat lututku lemas.

Untuk Kirana, jika suatu hari kamu menemukan ruang ini, maafkan Ibu karena menggunakan nama Alya untuk menyelamatkanmu.

Aku membaca semakin cepat.

Ibu menemukan bahwa Raka terlibat dalam penculikan anak sejak masih kuliah.

Awalnya untuk melunasi utang judi.

Kemudian untuk jaringan pemalsuan identitas.

Aku salah satu anak yang dibawa Raka.

Tapi Ibu tidak mengembalikanku.

Bukan karena tidak mau.

Karena orang yang membayar penculikanku masih mencariku.

Ibu mengubah namaku menjadi Alya saat Alya asli “dikirim ke luar negeri”.

Dia berharap satu identitas bisa menyembunyikan dua anak sekaligus.

Tapi rencana itu gagal.

Raka menemukan Alya.

Menahannya.

Lalu menyadari ada keuntungan yang lebih besar.

Dua perempuan.

Satu identitas.

Dua sumber tanda tangan, darah, dan dokumen.

Aku menutup mulut.

“Jadi Ibu…”

“Mencoba menyelamatkan kita berdua,” kata Alya.

“Tapi kenapa dia tidak ke polisi?”

“Karena Raka punya orang di kepolisian, rumah sakit, bahkan kantor notaris.”

Aku membaca bagian terakhir.

Aku sudah mengirim salinan bukti ke seseorang yang tidak diketahui Raka. Jika aku mati mendadak, orang itu akan datang ketika Kirana berhenti meminum jamunya.

Aku menatap Alya.

“Siapa?”

“Aku tidak tahu.”

Pintu lemari pendingin terbuka.

Raka masuk.

Sekarang dia memegang pistol.

“Taruh surat itu.”

Aku membeku.

Alya berdiri di depanku.

“Sudah selesai, Raka.”

“Justru baru dimulai.”

Dia mengarahkan pistol pada Alya.

“Dua puluh satu tahun aku memperbaiki kekacauan Ibu.”

“Kekacauan?”

“Dia terlalu lembek.”

“Kamu menculik anak!”

“Dan dia membuang uang perusahaan untuk mencari keluarga mereka.”

“Kamu membunuh Ibu?”

Raka diam.

Aku menatapnya.

“Jawab.”

Dia tersenyum tipis.

“Dia memilih.”

“Apa maksudmu?”

“Aku memberinya dua pilihan. Menandatangani pemindahan saham atau berhenti bernapas.”

Napas Alya tercekat.

“Jadi benar.”

“Dia keras kepala.”

Amarahku meledak.

“Kamu membunuhnya!”

“Aku membuat kematiannya terlihat wajar.”

Dia menunjukku dengan pistol.

“Seperti yang akan terjadi padamu.”

Aku mundur.

“Kenapa jamu?”

“Lebih sederhana daripada suntikan. Dosis kecil membuatmu tidur. Dosis sedang menurunkan tekanan darah. Dosis tinggi menghentikan jantung.”

Kucingku.

Memar.

Pagi-pagi ketika aku lemas.

Semuanya masuk akal.

“Dan darahku?”

“Kamu punya fenotipe darah yang sangat langka.”

“Kamu menjualnya?”

“Jangan dramatis. Kami memanfaatkannya.”

“Dengan mencuri darahku saat aku tidak sadar?”

“Dengan cara yang efisien.”

Aku merasa ingin muntah.

Raka mengulurkan tangan.

“Berikan flashdisk.”

Aku menggenggamnya.

“Tidak.”

“Kalau begitu aku menembak Alya terlebih dahulu.”

Pistol bergeser.

Alya berbisik, “Jangan.”

Aku menatap Raka.

Lalu kulempar flashdisk ke lantai.

Dia refleks melihat ke bawah.

Aku menendang troli besi sekuat tenaga.

Troli menghantam lututnya.

Pistol meletus.

DOR!

Pelurunya mengenai pintu pendingin.

Alya menerjangnya.

Aku meraih pistol.

Kami bertiga jatuh.

Raka memukul wajah Alya.

Aku menarik pelatuk.

Klik.

Tidak terjadi apa-apa.

Peluru macet.

Raka tertawa.

Lalu terdengar suara dari lorong.

“POLISI! JATUHKAN SENJATA!”

Wajah Raka seketika pucat.

Belasan langkah kaki memenuhi lorong.

Dia berdiri hendak kabur.

Tiga petugas bersenjata muncul dari pintu.

Di belakang mereka ada seorang perempuan sekitar lima puluh tahun memakai jas dokter.

Ketika melihatku, wajahnya berubah.

“Kirana?”

Aku membeku.

Raka menatap perempuan itu seperti melihat hantu.

“Kamu?”

Perempuan itu mendekat.

“Aku menunggu setahun agar racun dalam tubuhnya turun cukup rendah untuk dia bisa bangun malam hari.”

“Siapa Anda?” tanyaku.

Matanya berkaca-kaca.

“Dokter Ratih Prameswari.”

Nama belakang di foto.

Prameswari.

Tanganku melemas.

“Foto itu…”

“Aku perempuan yang memelukmu.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Ibu?”

Dia mengangguk.

Raka mencoba lari.

Polisi menjatuhkannya ke lantai.

Tangannya diborgol.

Untuk pertama kalinya sejak kecil, aku melihat kakakku berteriak minta tolong.

Tidak ada seorang pun yang menolongnya.

Penggerebekan berlangsung sampai pagi.

Mereka menemukan lima pasien lain yang masih hidup di B-3.

Tiga di antaranya telah dinyatakan meninggal secara administratif.

Dua tidak memiliki identitas yang tercatat.

Puluhan kantong darah disita.

Server perusahaan dibawa.

Begitu pula dokumen transfer saham senilai Rp780 miliar.

Semua tanda tanganku dinyatakan palsu.

Raka ditahan bersama dua dokter, empat perawat, seorang notaris, dan mantan kepala keamanan perusahaan.

Kasus kematian Ibu dibuka kembali.

Hasil pemeriksaan toksikologi dari sampel rambut yang masih disimpan membuktikan adanya zat yang sama dengan jamu yang diberikan kepadaku.

Aku akhirnya tahu seluruh cerita.

Dokter Ratih memang ibu kandungku.

Dua puluh satu tahun lalu, Raka bekerja sama dengan jaringan penculik yang mencari anak dari keluarga tertentu.

Ayah kandungku adalah peneliti yang pernah menemukan bukti manipulasi uji klinis di perusahaan keluarga.

Sebelum sempat melaporkannya, ia meninggal dalam kecelakaan yang kini juga diselidiki ulang.

Aku diculik untuk menekan ibuku agar menyerahkan dokumen penelitian.

Raka kemudian menyembunyikanku di rumahnya sendiri.

Ibu yang selama ini kupanggil Ibu menemukan siapa aku.

Dia melindungiku.

Mengganti identitasku.

Mencari Ratih diam-diam.

Tapi mereka tidak pernah bisa bertemu langsung karena semua komunikasi diawasi.

“Kenapa Ibu kandungku tidak datang lebih cepat?” tanyaku saat kami duduk di ruang pemeriksaan.

Ratih menunduk.

“Karena setiap kali aku mendekat, ada orang yang mengikutiku.”

“Dua puluh satu tahun?”

“Aku kehilangan suamiku.”

Suaranya pecah.

“Aku tidak mau kehilanganmu juga.”

Dia menunjukkan kepadaku puluhan bukti pencarian.

Foto.

Catatan.

Laporan polisi.

Surat yang dikembalikan.

Nama samaran.

Selama bertahun-tahun dia tidak pernah berhenti.

Alya asli juga kembali mendapatkan identitasnya.

Kami melakukan tes DNA.

Tidak ada hubungan darah di antara kami.

Tapi ketika hasil itu keluar, dia justru memelukku.

“Bagus.”

Aku tertawa kecil sambil menangis.

“Bagus?”

“Berarti kita tidak harus menjadi saudara karena darah.”

Dia menggenggam tanganku.

“Kita bisa memilih.”

Untuk pertama kalinya, aku mengerti maksudnya.

Empat bulan kemudian, perusahaan dibekukan sementara oleh pengadilan.

Saham yang dipindahkan menggunakan tanda tangan palsu dikembalikan ke status semula.

Alya mendapatkan kembali haknya.

Aku mendapatkan nama asliku.

Kirana Prameswari.

Tapi aku tidak membuang nama Alya begitu saja.

Nama itu adalah hidupku selama dua puluh satu tahun.

Nama yang diberikan seorang perempuan yang bukan ibu kandungku, tetapi mempertaruhkan nyawanya untuk menyembunyikanku dari pembunuh.

Di batu nisannya, aku menaruh dua bunga.

Satu dari Kirana.

Satu dari Alya.

Kupikir semua rahasia akhirnya selesai.

Sampai polisi membuka kotak deposit milik Ibu yang baru ditemukan enam bulan setelah penangkapan Raka.

Di dalamnya hanya ada satu hasil tes DNA lama—dan nama ayah kandungku bukan pria yang selama ini disebut Dokter Ratih.

Nama yang tercetak di sana adalah Alfredo Maheswari, ayah kandung Raka.

Artinya, Raka bukan penculik asing yang kebetulan membawaku pulang.

Dia adalah kakak kandungku sendiri.