BAGIAN 2
Aku menatap akta kelahiran itu sampai huruf-hurufnya seperti bergerak.
Nama anak: Siska Natalia Pramesti.
Nama ibu: Mirna Kusuma.
Tanganku gemetar.
“Ini apa?”

Bu Mirna langsung merebut dokumen itu.
“Palsu.”
Aku menatapnya tajam.
“Kalau palsu, kenapa disimpan?”
Dia tidak menjawab.
Adrian bergerak cepat dan mencoba mengambil ponselku.
Aku mundur.
“Jangan sentuh aku.”
“Nadya, dengarkan dulu.”
“Livia diikat. Ibumu menyuruh membawanya pergi sebelum ayahku datang. Apa lagi yang harus kudengar?”
“Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku tertawa pendek.
Kalimat itu terdengar menjijikkan sekarang.
“Lalu seperti apa?”
Di belakang Adrian, Livia berusaha melepaskan kain dari pergelangan tangannya.
Aku ingin menghampirinya.
Adrian menghalangi.
“Jangan.”
Aku menatapnya.
“Geser.”
“Nadya—”
“GESER.”
Untuk pertama kalinya sejak kami bertunangan, dia terlihat takut kepadaku.
Bukan karena suaraku.
Karena dia sadar permainan mereka sudah terbuka.
Aku menekan tombol darurat di ponsel.
Lokasi rumah itu sudah kukirim kepada ayah beberapa menit sebelumnya.
Bu Mirna melihat layar ponselku.
“Matikan.”
“Tidak.”
“Nadya, kamu tidak tahu apa yang terjadi dua puluh tahun lalu.”
“Bagus. Ceritakan.”
Dia diam.
Aku menunjuk dokumen yang masih di tangannya.
“Kenapa nama adikku ada di sana?”
Bu Mirna menarik napas.
“Karena saya yang membesarkannya.”
“Itu bukan jawaban.”
“Saya memberinya makan. Saya merawatnya ketika sakit. Saya menyekolahkannya.”
Livia tertawa pahit dari belakang.
“Menyekolahkan?”
Bu Mirna menoleh tajam.
Livia menatapnya balik.
“Kapan terakhir kali saya sekolah, Bu?”
“Diam.”
“Kenapa harus diam?”
Suara Livia bergetar, tapi dia tidak menunduk lagi.
“Katanya saya bodoh. Katanya saya tidak pantas kuliah. Padahal waktu SMA nilai saya paling tinggi.”
Aku menatap Adrian.
Dia langsung menghindari mataku.
“Adrian tahu?”
Livia tertawa lagi.
“Dia yang mengambil surat penerimaan kampus saya.”
Dunia seakan berhenti.
Aku menatap laki-laki yang rencananya akan kunikahi tiga bulan lagi.
“Kamu melakukan itu?”
Adrian mengusap wajah.
“Keadaan waktu itu sulit.”
“Sulit untuk siapa?”
“Untuk keluarga.”
“Dia juga keluarga.”
Adrian tidak menjawab.
Livia menggeleng.
“Tidak pernah.”
Kalimat itu pelan.
Tapi menghantam lebih keras daripada teriakan.
“Saya tidak pernah dianggap keluarga.”
Dia mengangkat kedua tangannya yang masih terikat.
“Saya bangun jam lima. Masak. Bersih-bersih. Cuci pakaian. Kalau terlambat, saya dimaki. Kalau ada barang hilang, saya dituduh.”
Air matanya jatuh.
“Kalau saya memang anak yang mereka selamatkan, kenapa hidup saya seperti utang yang harus dibayar setiap hari?”
Bu Mirna berteriak.
“Karena kalau bukan saya, kamu sudah mati!”
Aku langsung memandangnya.
“Jadi Ibu memang membawa dia?”
Bu Mirna terdiam.
Kesalahan itu sudah keluar dari mulutnya.
Aku maju satu langkah.
“Dari mana?”
Tidak ada jawaban.
“Dari terminal?”
Diam.
“Dari pusat perbelanjaan?”
Wajahnya berubah.
Cukup.
Aku sudah mendapat jawabannya.
“Kamu ada di sana saat Siska hilang.”
Bu Mirna mundur.
“Tidak.”
“Ada namamu di laporan polisi.”
“Itu salah.”
“Ayahku kirim dokumennya.”
Aku mengangkat ponsel.
“Mirna Kusuma. Saksi yang sempat dimintai keterangan lalu namanya dicoret.”
Adrian menoleh cepat kepada ibunya.
“Mama bilang tidak ada bukti.”
Aku membeku.
Lalu perlahan menatap Adrian.
“Apa?”
Dia sadar telah salah bicara.
“Adrian.”
“Nadya…”
“Kamu tahu?”
Dia menggeleng.
Terlambat.
Aku mendekatinya.
“Sejak kapan?”
“Nadya, aku baru tahu beberapa tahun lalu.”
“Berapa tahun?”
Dia diam.
“BERAPA TAHUN?”
“Enam.”
Dadaku seperti ditusuk.
Kami sudah bersama hampir empat tahun.
Artinya sejak pertama kali mengenalku, dia sudah tahu.
Dia sudah tahu aku memiliki adik bernama Siska.
Dia sudah tahu Siska hilang saat kecil.
Dan dia tahu perempuan yang hidup di rumahnya mungkin adalah anak yang sama.
“Jadi waktu pertama aku cerita tentang Siska…”
“Aku belum yakin.”
“Kamu bahkan bertanya nama lengkapnya.”
“Aku cuma—”
“Nama lengkap adikku Siska Natalia Pramesti.”
Aku menunjuk dokumen di lantai.
“Nama itu ada di rumahmu.”
Adrian menatapku dengan wajah pucat.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Kalau semuanya terbongkar, Mama bisa masuk penjara.”
Aku menahan napas.
“Jadi kamu memilih melindungi ibumu.”
“Nadya…”
“Dan membiarkan adikku jadi pembantu di rumah ini.”
Livia menutup mulut menahan tangis.
Aku berbalik kepadanya.
“Kemarilah.”
Adrian mencoba menghadang lagi.
Kali ini aku mendorongnya.
“Jangan pernah sentuh dia lagi.”
Aku menarik kain di tangan Livia.
Simpulnya terlalu kuat.
Aku mengambil gunting kecil dari meja dekorasi di lorong dan memotongnya.
Bekas merah langsung terlihat di kulitnya.
Ada bekas lama juga.
Lebih gelap.
Aku menyentuhnya perlahan.
“Ini dari apa?”
Livia menarik tangannya.
“Tidak apa-apa.”
Aku menatap wajahnya.
“Siapa yang melakukan?”
Dia tidak menjawab.
Matanya justru bergerak ke Bu Mirna.
Aku berdiri.
“Berapa kali?”
Bu Mirna mengepalkan tangan.
“Jangan dramatis.”
Aku kehilangan kesabaran.
“DIA BUKAN BARANG YANG KAMU TEMUKAN!”
Bu Mirna ikut berteriak.
“SAYA TIDAK MENCULIKNYA!”
Sunyi.
Aku menatapnya.
“Lalu?”
Dadanya naik turun.
Untuk pertama kalinya, wajah angkuhnya retak.
“Dia ikut saya.”
“Apa?”
“Hari itu saya juga ada di mal.”
Aku menelan ludah.
Bu Mirna menunjuk Livia.
“Dia menangis dekat tangga darurat. Tidak ada orang dewasa. Saya tanya orang tuanya di mana.”
“Lalu?”
“Dia tidak bisa menjawab jelas.”
“Kamu bawa ke polisi?”
Bu Mirna diam.
“Satpam?”
Diam.
“Pusat informasi?”
Tetap diam.
Aku mulai memahami.
Dan pemahaman itu jauh lebih buruk.
“Kamu membawa dia pulang.”
Bu Mirna menatap lantai.
“Aku baru kehilangan anak perempuan.”
Adrian menoleh.
“Mama?”
Bu Mirna duduk perlahan.
Seolah kakinya tidak mampu lagi menopang tubuhnya.
“Namanya Alya.”
Tidak seorang pun bicara.
“Dia meninggal dua bulan sebelumnya. Demam berdarah. Umurnya empat tahun.”
Aku menatap Livia.
Bu Mirna melanjutkan.
“Saya tidak bisa menerima rumah yang kosong.”
“Jadi kamu mengambil anak orang lain?”
“Saya pikir hanya satu malam.”
“Kemudian?”
“Besoknya berita kehilangan anak mulai muncul.”
Aku menahan napas.
“Foto Siska?”
Bu Mirna mengangguk.
“Kenapa tidak dikembalikan?”
Dia mulai menangis.
Tapi aku tidak merasakan iba.
“Saya takut.”
“Takut atau tidak mau kehilangan pengganti anakmu?”
Dia tidak menjawab.
Itulah jawabannya.
“Akta ini?”
“Saya urus beberapa tahun kemudian.”
“Dengan nama Siska?”
“Saya tidak tahu nama lain.”
“Dan kamu menulis dirimu sebagai ibu kandung?”
“Saya butuh dokumen untuk sekolah.”
Aku tertawa tanpa humor.
“Kamu memalsukan identitas anak yang kamu ambil, lalu menyebut itu pertolongan?”
“Saya membesarkannya!”
“Tidak.”
Livia tiba-tiba berbicara.
Suara kami semua berhenti.
Dia memandang Bu Mirna.
“Ibu tidak membesarkan saya.”
Bu Mirna membeku.
“Ibu membuat saya merasa harus berterima kasih karena masih hidup.”
Air mata mengalir di wajah Livia.
“Setiap saya bertanya siapa orang tua saya, Ibu bilang mereka membuang saya.”
Bu Mirna menggeleng.
“Saya—”
“Setiap saya ingin keluar rumah, Ibu bilang saya tidak punya siapa-siapa.”
“Livia…”
“Nama saya Livia pun bukan nama saya, kan?”
Bu Mirna tidak sanggup menjawab.
Livia menyentuh gelangnya.
“Nama saya Siska.”
Kakiku lemas.
Aku memeluknya.
Awalnya tubuhnya kaku.
Lalu beberapa detik kemudian, lengannya perlahan melingkari pinggangku.
Dia mulai menangis.
Bukan tangis kecil.
Tubuhnya bergetar hebat.
Aku memeluknya lebih erat.
“Aku di sini.”
“Kalau ternyata saya bukan adik Kakak?”
“Kita cek.”
“Kalau bukan?”
Aku menjauh sedikit dan memegang wajahnya.
“Kalau bukan pun, aku tidak akan meninggalkanmu di sini malam ini.”
Suara sirene terdengar dari luar.
Bu Mirna langsung berdiri.
Adrian memucat.
Beberapa detik kemudian, pagar depan dipukul keras.
“Nadya!”
Suara ayah.
Aku berlari membuka pintu.
Ayah masuk bersama dua anggota polisi dan seorang laki-laki yang kukenal sebagai Pak Hendra, pengacara keluarga kami.
Begitu ayah melihat Livia, dia berhenti.
Wajahnya berubah.
Matanya jatuh pada gelang.
Kemudian tahi lalat kecil di dekat telinganya.
“Siska?”
Livia menatapnya dengan bingung.
Ayah mendekat perlahan.
Tangannya gemetar.
Dia tidak langsung memeluk.
Dia hanya berkata,
“Boleh Ayah lihat tanganmu?”
Livia mengangguk.
Ayah melihat gelang itu.
Lalu menangis.
Aku belum pernah melihat ayah menangis seperti itu.
Bahkan saat ibu meninggal lima tahun lalu.
Dia berlutut di depan Livia.
“Ibumu menyimpan pasangan gelang itu sampai hari terakhir hidupnya.”
Livia menutup mulut.
“Apa Mama… mencari saya?”
Ayah mengangkat wajah.
“Setiap hari.”
Kalimat itu menghancurkannya.
Livia jatuh berlutut dan menangis di bahu ayah.
Aku ikut memeluk mereka.
Selama beberapa menit, kami tidak memikirkan Bu Mirna.
Tidak memikirkan Adrian.
Tidak memikirkan polisi.
Kami hanya tiga orang yang kehilangan anggota keluarga selama hampir tujuh belas tahun.
Malam itu, semua dokumen dibawa polisi.
Bu Mirna dimintai keterangan.
Adrian juga.
Aku menyerahkan rekaman, laporan lama, foto gelang, dan dokumen yang ditemukan di koper.
Polisi menemukan lebih banyak hal.
Ada kliping berita tentang hilangnya Siska.
Foto keluarga kami.
Bahkan fotokopi poster pencarian yang dulu ditempel ayah di terminal, rumah sakit, dan pasar.
Bu Mirna menyimpannya.
Selama bertahun-tahun.
Artinya dia tidak pernah benar-benar tidak tahu.
Dia tahu persis siapa anak yang dibawanya.
Pemeriksaan DNA dilakukan keesokan harinya.
Kami tidak menunggu di rumah Adrian.
Aku membawa Livia—atau Siska—ke hotel bersama ayah.
Hari pertama dia masih memanggil dirinya Livia.
Hari kedua dia mulai menulis nama “Siska” di kertas beberapa kali.
Hari ketiga dia bertanya tentang ibu.
Aku menunjukkan semua foto yang kumiliki.
Di salah satu foto, ibu menggendong Siska kecil yang memakai gelang perak.
Siska memegang foto itu hampir satu jam.
“Dia cantik.”
“Dia selalu merasa bersalah.”
“Kenapa?”
“Karena hari kamu hilang, Mama meninggalkanmu sebentar dengan pengasuh toko untuk mencari aku yang pergi ke toilet.”
Aku menangis saat mengatakannya.
“Mama selalu merasa kalau dia tidak pergi mencariku, kamu tidak akan hilang.”
Siska menatapku.
“Kakak juga merasa bersalah?”
Aku tidak menjawab.
Dia tahu.
Dia menggenggam tanganku.
“Itu bukan salah Kakak.”
Aku tersenyum sambil menangis.
Mungkin selama tujuh belas tahun aku membutuhkan seseorang mengatakan kalimat itu.
Dan ternyata orang itu adalah adikku sendiri.
Hasil DNA keluar lima hari kemudian.
Probabilitas hubungan saudara kandung sangat tinggi.
Siska benar-benar adikku.
Kasus Bu Mirna masuk proses hukum.
Akta kelahiran palsu dan dokumen-dokumen lain diperiksa.
Adrian menghubungiku belasan kali.
Aku tidak menjawab.
Sampai akhirnya dia datang ke kantor pengacara saat aku mengambil salinan hasil pemeriksaan.
“Nadya.”
Aku berhenti.
Dia terlihat berantakan.
“Aku cuma ingin bicara sekali.”
“Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dibicarakan.”
“Aku mencintaimu.”
Aku menatapnya lama.
“Kalau kamu mencintaiku, enam tahun lalu kamu sudah memberitahu polisi.”
“Aku takut kehilangan Mama.”
“Dan aku kehilangan adikku selama tujuh belas tahun.”
Dia diam.
Aku melepaskan cincin tunangan.
Kutaruh di telapak tangannya.
“Sekarang kita sama-sama kehilangan sesuatu.”
Aku berjalan pergi.
Dia tidak mengejar.
Tiga bulan kemudian, Siska mendaftar kuliah lagi.
Ternyata dia tidak bodoh seperti yang selalu dikatakan Bu Mirna.
Nilai tes masuknya bahkan jauh di atas rata-rata.
Ayah membelikan meja belajar baru.
Aku memberikan gelang pasanganku kepadanya.
Sekarang kami memakai dua gelang itu lagi.
Seperti saat kecil.
Kupikir semua misteri akhirnya selesai.
Sampai suatu sore Pak Hendra datang membawa amplop dari berkas lama kepolisian.
Di dalamnya ada hasil pemeriksaan sidik jari yang tidak pernah dimasukkan ke laporan resmi.
Ada sidik jari seorang perempuan yang ditemukan di gelang Siska saat pertama kali polisi menggeledah rumah Bu Mirna bertahun-tahun lalu.
Aku membaca namanya.
Tanganku langsung dingin.
Perempuan yang membantu Bu Mirna membawa Siska keluar dari mal hari itu bukan orang asing.
Namanya Rani Pramesti.
Adik kandung ibuku sendiri.
