PART 2
Pagi hari berikutnya, Reza mendatangi kantor bank cabang pembantu di kota kecamatan untuk mencetak seluruh riwayat transaksi rekeningnya selama 3 tahun terakhir.
Daftar cetak rekening itu menunjukkan bukti yang sangat jelas.
Setiap bulan, uang transferan puluhan juta dari Reza selalu masuk tepat waktu.
Namun, hanya dalam hitungan jam setelah uang masuk, seluruh dana tersebut ditarik tunai atau ditransfer kembali ke rekening atas nama Bagas dan Sisil.
Bahkan ada beberapa penarikan ekstra dalam jumlah besar dengan alasan biaya pengobatan dan perbaikan rumah Maya.
Reza kembali ke gubug bambu membawa sekotak makanan hangat.
Maya sedang merapikan benang rajutnya sementara anjing cokelat bernama Bruno duduk setia di sampingnya.
“Waktu aku sakit keras tahun lalu, Pak Kadir yang membiayai obatku,” kata Maya tanpa menatap Reza. “Keluargamu sama sekali tidak peduli.”
Reza mengepalkan tangan, rasa bersalah menindih pundaknya.

Ia segera menghubungi Citra Paramita, seorang pengacara senior yang merupakan rekan bisnisnya di Jakarta.
Citra langsung meluncur ke Garut sore itu juga.
Setelah mempelajari dokumen awal, Citra menemukan slip kuasa penarikan uang yang menggunakan tanda tangan atas nama Maya.
“Tanda tangan ini sangat mencurigakan,” ujar Citra sambil mengamati lembaran berkas.
Tak lama kemudian, seorang anak perempuan berusia 12 tahun bernama Rara datang ke gubug membawa sebungkus nasi dan telur rebus.
Rara adalah anak kandung Sisil.
Anak kecil itu rupanya sering datang secara sembunyi-sembunyi untuk memberikan makanan kepada Maya selama berbulan-bulan.
Sebelum pulang, Rara mengeluarkan sebuah ponsel pintar tua dari tas sekolahnya.
“Tante Maya, aku pernah tidak sengaja merekam obrolan Ibu dan Bapak waktu mereka bertengkar di kamar,” kata Rara polos.
Dalam rekaman suara tersebut, terdengar jelas suara Bagas yang panik membicarakan utang judi online dan rencana memalsukan tanda tangan Maya agar bisa menjual tanah kebun di belakang rumah.
Sisil dalam rekaman itu menanggapi santai dan menyuruh suaminya memastikan Maya tidak pernah bisa kembali ke rumah utama.
Citra mendengarkan rekaman itu dengan cermat, lalu ponselnya berdering menerima panggilan dari rekan sejawatnya.
“Reza, ada kabar penting,” kata Citra setelah menutup telepon. “Sisil dan Bagas sudah mendaftarkan Akta Jual Beli untuk tanah kebun cengkeh itu ke kantor PPAT. Mereka akan melakukan penandatanganan berkas akhir dalam waktu 3 hari.”
Citra menatap Reza dan Maya dengan pandangan serius.
“Saya perlu memeriksa berkas asli kepemilikan di Badan Pertanahan Nasional. Ada sesuatu yang janggal dari status sertifikat tanah itu.”
Keesokan harinya, dokumen resmi dari kantor BPN kabupaten akhirnya keluar.
Citra membuka map bergaris hijau itu di depan Reza dan Maya yang duduk di kantor hukum skala kecil milik rekannya.
Di dalamnya terdapat salinan sertifikat tanah, akta jual beli lama, dan surat ukur tanah.
Citra menggeser lembar sertifikat utama ke hadapan Maya.
“Coba baca siapa nama pemilik sah yang tertera di lembar utama ini.”
Maya menyusuri baris demi baris tulisan di atas kertas tebal tersebut.
Matanya tertuju pada satu nama yang tercetak jelas.
Sertifikat tanah, bangunan rumah utama, beserta seluruh lahan kebun cengkeh seluas 1.500 meter persegi itu terdaftar secara sah dan tunggal atas nama Maya Morales.
Reza menarik napas panjang, teringat kejadian 8 tahun lalu.
Kala itu, proyek pertama perusahaan kontraktornya hampir bangkrut dan seluruh asetnya terancam disita bank.
Agar Maya memiliki jaminan masa depan jika terjadi hal terburuk padanya, Reza membeli rumah dan tanah di desa tersebut lalu mengatasnamakan seluruh aset itu atas nama Maya.
Seiring berjalannya waktu dan kesibukan bisnisnya, keluarga besar Reza selalu menyebut bangunan itu sebagai “Rumah Reza”, hingga Reza sendiri lupa detail hukum dokumen tersebut.
Maya memegang sertifikat itu dengan jemari yang gemetar.
“Mereka mengusirku dari rumah yang sebenarnya milikku sendiri?”
Reza menunduk dalam-dalam.
Rasa malu dan penyesalan meremukkan dadanya.
Selama 2 tahun istrinya menderita di dalam gubug bambu tanpa aliran listrik yang layak, sementara adik kandungnya menikmati fasilitas rumah atas nama kepemilikan yang sah milik Maya.
“Aku akan usir mereka sekarang juga,” tegas Reza berdiri dari kursinya.
Maya menggeleng pelan.
“Jangan. Biarkan mereka merasa berada di atas angin sampai hari penandatanganan itu tiba. Aku ingin melihat bagaimana mereka menjelaskan semua kebohongan ini.”
Citra menyetujui rencana Maya.
Ia segera berkoordinasi dengan pihak notaris untuk menghentikan seluruh proses transaksi jual beli ilegal tersebut secara diam-diam.
Sore harinya, Reza menelepon Sisil.
Ia berpura-pura membutuhkan dana segar dalam jumlah besar untuk modal proyek baru dan berencana menjual seluruh aset rumah beserta kebun di desa.
Di ujung telepon, suara Sisil terdengar panik.
“Mas Reza tidak bisa menjual rumah itu sembarangan! Itu rumah peninggalan keluarga!” seru Sisil.
“Kenapa tidak bisa? Bukankah aku yang membeli rumah itu dengan uangku sendiri?” balas Reza dingin.
“Pokoknya kita harus bicara besok sore di rumah!” tegas Sisil sebelum mematikan telepon.
Pertemuan keluarga disepakati esok harinya pukul 17.00 WIB.
Reza datang seorang diri ke rumah utama.
Di atas meja tamu, Sisil telah menyiapkan teh hangat, camilan, dan buah-buahan seolah-olah suasana keluarga sedang sangat harmonis.
Bagas duduk di sofa dengan kaki terlipat, sementara Henny duduk diam di sudut ruangan dekat jendela.
“Mas Reza, rumah ini punya banyak kenangan keluarga kita. Sayang kalau dijual,” buka Sisil dengan raut wajah memohon.
Bagas menimpali cepat, “Kalau lahan kebun cengkeh di belakang, apa kamu mau menjualnya juga?”
Reza menyesap tehnya santai. “Mungkin saja. Kenapa kamu begitu tertarik dengan kebun belakang, Bagas?”
“Ah, tidak apa-apa. Hanya bertanya,” jawab Bagas gugup.
Reza kemudian mengubah arah pembicaraan.
“Sisil, kapan sebenarnya Maya pergi dari rumah ini?”
Sisil menegang. “Kan sudah aku bilang, dia pergi atas kemauannya sendiri sekitar pertengahan tahun lalu.”
“Kamu melihat dia membereskan barang-barangnya?”
“Tentu saja. Aku dan Ibu melihatnya sendiri.”
Henny menundukkan kepala semakin dalam, tak berani mengangkat wajah.
Reza meletakkan cangkirnya di atas meja hingga menimbulkan suara dentingan keras.
“Aneh sekali. Karena kemarin dan hari ini, aku menghabiskan waktu bersama Maya.”
Bagas langsung berdiri dari sofanya.
Wajah Sisil berubah pucat pasi.
“Kamu… ketemu Maya di mana?”
“Bukankah kalian bilang tidak tahu di mana dia tinggal?” tanya Reza balik.
Sebelum ada yang sempat menjawab, pintu depan rumah terbuka lebar.
Maya melangkah masuk dengan anggun memakai pakaian rapi dan lugas.
Bruno mengekor di belakangnya, lalu mengambil posisi berbaring di bawah pohon mangga depan teras.
Di belakang Maya, Citra berjalan masuk membawa map dokumen tebal di tangannya.
Sisil menatap Maya dengan pandangan tidak percaya dan penuh kebencian.
“Mau apa kamu ke sini? Perempuan tidak tahu diri!” bentak Sisil.
Maya duduk di kursi utama, menatap adiknya lurus-lurus.
“Aku datang untuk mendengar ulang cerita bagaimana aku ‘kabur’ dari rumah ini.”
“Aku tidak perlu menjelaskan apa-apa padamu!” teriak Sisil.
“Kalau begitu, jelaskan ini,” kata Reza sambil melempar berkas cetakan rekening bank ke atas meja.
“Setiap bulan aku kirim uang untuk biaya hidup Maya. Mana uang itu? Kenapa semuanya mengalir ke rekening Bagas dan dipakai untuk bayar utang judi?”
Sisil membela diri, “Aku yang mengurus rumah ini! Uang itu dipakai untuk biaya operasional!”
“Tapi Maya tidak menerima satu sen pun!” bentak Reza.
Citra kemudian mengeluarkan draf surat perjanjian jual beli tanah kebun.
“Dan ini adalah bukti percobaan penjualan aset secara ilegal menggunakan dokumen palsu,” tegas Citra.
Maya menunjuk tanda tangan di berkas tersebut. “Aku tidak pernah menandatangani surat kuasa jual ini.”
Bagas mulai panik dan mencoba mengelak, “Saya tidak tahu apa-apa soal dokumen itu! Itu urusan orang luar!”
Reza tidak buang waktu.
Ia menyalakan rekaman suara dari ponsel tua Rara.
Suara Bagas yang sedang berdiskusi dengan Sisil tentang cara meniru tanda tangan Maya dan mengusir Maya saat hujan deras menggema di seluruh ruangan.
Skandal itu terbuka lebar tanpa ada celah untuk mengelak.
Bagas yang tersudut langsung menunjuk Sisil.
“Ini semua ide Sisil! Dia yang menyuruhku memalsukan surat dan menguras uang transferan Reza!”
Sisil membalas berteriak, “Kamu yang punya utang di mana-mana! Kalau tidak pakai uang itu, kita sudah dikejar-kejar penagih utang!”
Keduanya saling tuduh dan membongkar kejahatan masing-masing di depan mata Reza dan ibunya.
Reza memejamkan mata, menahan amarah yang membakar dada.
Citra lalu berjalan ke tengah ruangan dan menarik keluar sertifikat tanah yang asli dari map hijau.
“Ada satu hal penting yang belum kalian ketahui,” ujar Citra dingin. “Rumah ini, tanah teras, beserta lahan kebun cengkeh di belakang bukan milik Reza.”
Sisil mengerutkan dahi. “Maksud Mbak apa? Mas Reza yang beli rumah ini!”
Citra membalikkan halaman kepemilikan sertifikat dan menunjukkannya tepat di depan wajah Sisil dan Bagas.
“Rumah dan seluruh lahan ini adalah milik sah Maya Morales secara hukum pertanahan Negara Republik Indonesia.”
Sisil terperanjat, matanya melotot membaca nama Maya di sertifikat tersebut.
Maya berdiri, menatap adik iparnya dengan suara yang sangat tenang namun penuh penekanan.
“Kalian mengusirku, memfitnahku, dan menguasai hartaku di rumahku sendiri.”
Bagas mundur beberapa langkah, wajahnya lesu tanpa daya.
Reza lalu berpaling menatap ibunya yang mulai menangis terisak.
“Ibu… Ibu tahu Maya diusir?”
Henny menangis sesenggukan. “Ibu tahu… Ibu lihat waktu Sisil menyuruh orang mengeluarkan barang-barang Maya saat hujan…”
“Kenapa Ibu diam saja?” tanya Reza dengan suara bergetar.
“Ibu takut Sisil dan Bagas bertengkar… Ibu pikir kalau Ibu diam, keluarga kita tidak akan pecah…” jawab Henny penuh penyesalan.
Reza menggelengkan kepala.
“Keluarga ini sudah hancur sejak Ibu memilih diam melihat kejahatan di depan mata.”
Maya melangkah menuju pintu keluar, lalu berbalik menatap Sisil dan Bagas.
“Kalian punya waktu sampai besok jam 12.00 siang untuk mengosongkan seluruh barang-barang kalian dari rumahku. Aku tidak akan membuang pakaian kalian ke jalanan seperti yang kalian lakukan padaku. Tapi mulai hari ini, aku yang menentukan siapa yang berhak tinggal di sini.”
Sisil mencoba mendekat sambil menangis pamer kesedihan, “Maya… tolong, kita bisa bicarakan ini baik-baik…”
“Aku tidak butuh kelakuan pura-pura kalian lagi,” potong Maya dingin.
Citra menegaskan bahwa seluruh bukti pemalsuan tanda tangan, penggelapan dana bulanan, dan penipuan berkas jual beli akan dilaporkan secara resmi ke pihak kepolisian esok hari.
Proses hukum akan berjalan tanpa ada kompromi.
Sore itu juga, Sisil dan Bagas berkemas dengan wajah penuh kehancuran dan rasa malu di hadapan para tetangga yang mulai berkumpul di luar rumah.
Setelah rumah kosong dan sepi, Reza membuka seluruh jendela agar udara segar masuk.
Ia berjalan mendekati Maya.
“Maya… kamu bisa kembali tinggal di rumah ini sekarang.”
Maya menatap ruangan luas itu, lalu menggeleng pelan.
“Mendapatkan kembali kunci rumah ini tidak otomatis mengembalikan kehidupan yang sudah rusak, Reza.”
Reza menunduk, tidak mampu membantah perkataan istrinya.
Malam itu, Maya memilih berjalan kaki kembali ke gubug bambu di dekat kebun cengkeh.
Reza berjalan di belakangnya dalam diam.
Setibanya di gubug, Maya menyalakan lampu minyak.
“Sisil memang yang mengusirku dari rumah,” kata Maya pelan. “Tapi jarak dan ketidakpedulianmu yang membuat mereka punya kesempatan melakukan semua ini.”
“Aku tahu… aku sangat menyesal,” ucap Reza lirik.
“Kamu tidak bisa menyelesaikan masalah ini hanya dengan memberikan uang atau membelikan rumah baru, Reza.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Beri aku waktu. Dan jangan pernah berusaha membeli maafku dengan materi.”
Sejak hari itu, Reza mengubah total pola hidupnya.
Ia menyerahkan sebagian besar operasional proyek renovasi hotelnya di Jakarta dan Surabaya kepada mitra bisnisnya.
Reza menetap di desa, menyewa sebuah kamar kecil tak jauh dari kebun cengkeh.
Ia tidak memaksa Maya untuk kembali hidup bersamanya, juga tidak memaksa masuk ke dalam gubug.
Setiap pagi, Reza datang membawa peralatan pertukangan.
Ia meminta izin untuk memperbaiki atap gubug yang bocor, memperkuat dinding bambu, dan membuatkan saluran air yang bersih.
Maya mengizinkannya, tetapi menolak jika Reza membayar seluruh biaya perbaikan.
Maya membayar separuh biaya bahan bangunan dari uang hasil menjahitnya sendiri.
Maya mengambil keputusan besar yang mengejutkan banyak orang.
Ia tidak menjual gubug bambu tersebut.
Sebaliknya, ia merenovasi tempat itu menjadi sebuah bengkel jahit yang kokoh.
Tempat itu diberi nama “Taller La Encina” atau Bengkel Jahit Encina.
Maya membeli 4 unit mesin jahit bekas dari hasil tabungannya dan mulai menerima pesanan permak pakaian, seragam sekolah, hingga taplak meja untuk rumah makan lokal.
Pak Kadir membantunya mendapatkan pesanan besar pertama: membuat 60 celemek untuk acara festival kuliner kabupaten.
Usaha jahit Maya berkembang pesat karena pengerjaannya yang rapi dan tepat waktu.
Bruno, anjing cokelat yang dulu diselamatkannya, menjadi penjaga setia di depan pintu bengkel jahit.
Sementara itu, rumah besar milik Maya tidak dijual.
Maya menyewakan bagian bangunan utama kepada sepasang suami istri muda yang baru menikah di desa tersebut.
Sebuah kamar independen di bagian samping tetap dirawat rapi oleh Maya dan diperuntukkan bagi Henny, ibu mertuanya, yang kini sudah sepuh dan kesulitan menaiki tangga rumah lamanya.
Meskipun Henny pernah berbuat salah dengan berdiam diri, Maya memilih tidak membalas dendam.
Ia merawat ibu mertuanya dengan batas rasa hormat yang wajar tanpa menyimpan kebencian membara.
Rara, keponakannya, tetap bebas berkunjung kapan saja ke bengkel jahit untuk belajar menjahit dan mengerjakan tugas sekolah.
Proses hukum terhadap Sisil dan Bagas tetap berjalan sesuai aturan yang berlaku untuk mempertanggungjawabkan perbuatan pemalsuan dan penggelapan dana.
Reza tidak memanjakan adiknya lagi dengan membayar utang-utangnya.
Ia membiarkan Sisil dan Bagas menghadapi konsekuensi hukum agar mereka belajar bertanggung jawab atas tindakan keji yang mereka lakukan.
2 bulan berlalu.
Suatu sore menjelang matahari terbenam, Reza datang ke Bengkel Jahit Encina.
Ia melihat Maya tertidur lelap di atas kursi kayu akibat kelelahan menyelesaikan tumpukan pesanan seragam.
Di sekelilingnya terhampar kain-kain gulungan, benang beraneka warna, dan jendela kaca baru yang memantulkan sinar jingga sore hari.
Reza mengambil selembar kain hangat lalu menyelimutkannya ke bahu Maya dengan perlahan.
Maya terbangun, membuka matanya perlahan.
“Kamu selalu datang terlambat,” gumam Maya pelan.
Reza tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca.
“Aku sedang belajar untuk selalu datang lebih awal mulai sekarang.”
Maya tidak menjawab, tetapi ia tidak menggeser duduknya saat Reza mengambil kursi dan duduk di sampingnya sambil memperhatikan deretan hasil karya istrinya.
Butuh waktu hingga 6 bulan lamanya sebelum Maya akhirnya membuka hati untuk kembali hidup bersama Reza.
Ketika mereka memutuskan untuk tinggal bersama kembali, mereka tidak memilih rumah besar milik Maya maupun rumah kontrakan mewah di Jakarta.
Mereka menyewa sebuah rumah sederhana berjarak 15 menit dari bengkel jahit Maya.
Rumah itu disewa atas nama mereka berdua, dengan dua kunci yang dipegang masing-masing, serta pengelolaan keuangan yang transparan dan terbuka.
Reza menyadari kesalahan besarnya selama bertahun-tahun yang menganggap bahwa memberi materi sama dengan memberikan kasih sayang.
Sementara Maya belajar bahwa menjadi wanita mandiri telah menyelamatkan hidupnya, tetapi membuka diri untuk memaafkan telah menyembuhkan jiwanya.
Sore itu, saat bengkel jahit ditutup, Bruno berlari gembira menelusuri jalan setapak.
Reza memegang gagang pintu dan membukakannya untuk Maya.
Maya mematikan lampu bengkel, mengunci pintu, dan memasukkan kuncinya ke dalam saku.
Rumah besar yang pernah direbut darinya kini tetap menjadi milik sahnya secara hukum.
Gubug bambu tempatnya menderita kini telah bertransformasi menjadi sumber penghidupannya yang mandiri.
Namun tempat terbaik yang ia miliki sekarang adalah sebuah ruang kehidupan baru di mana tidak ada lagi orang yang mengatur hidupnya secara diam-diam, tidak ada lagi kebohongan, dan tidak ada lagi jarak yang terabaikan.
Setiap kali Reza harus pergi keluar kota untuk mengurus pekerjaan singkat, ia tidak lagi sekadar bertanya apakah uang tabungan di rumah masih cukup.
Reza akan menggenggam tangan Maya, menatap matanya, dan bertanya:
“Bagaimana kabarmu hari ini, Maya?”
Maya tidak selalu menjawab bahwa semuanya baik-baik saja.
Namun kini Maya tahu pasti, Reza akan selalu ada di sampingnya untuk mendengarkan setiap jawaban dengan tulus.
