PART 2
Hendra tidak membalas tuduhan Rika dengan teriakan.
Sebagai mantan auditor forensik, dia tahu kapan harus diam dan mengumpulkan bukti.
Hendra menghubungi pengacaranya, Maya, S.H.
24 jam kemudian, Maya menemukan fakta mengejutkan.
Ada dokumen pinjaman senilai Rp1.800.000.000 atas nama perusahaan Bima.
Jaminannya adalah aset dana wali atas nama Arka sebesar Rp2.400.000.000 yang dikelola oleh Hendra.
Tanda tangan Hendra di berkas itu dipalsukan.
Tak hanya itu, 3 bulan lalu, ada draf permohonan ke pengadilan untuk mencabut hak wali Hendra atas dana Arka dengan alasan kelalaian dan gangguan kesehatan mental.
Mereka membutuhkan bukti nyata bahwa Hendra berbahaya bagi cucunya.
Kejadian pagi ini adalah panggung yang mereka ciptakan.

Hendra teringat pesan terakhir dari almarhum Bambang, akuntan Bima, yang dikirim 2 minggu lalu lewat email:
“Pak Hendra, ada yang tidak beres dengan pembukuan Bima. Jika terjadi sesuatu pada saya, temui adik saya, Siska.”
Acara peringatan yang diklaim dihadiri Bima dan Rika adalah peringatan meninggalnya Bambang.
Hendra menyadari Bima dan Rika memanfaatkannya.
Dua hari kemudian, Siska datang ke kantor pengacara Maya bersama Inspektur Rita.
Siska menyerahkan sebuah kilat petunjuk berupa flashdisk dan dokumen keuangan.
“Mas Bambang menitipkan ini. Jika Bima mencari berkas ini, saya diminta diam. Tapi jika Pak Hendra yang datang, saya harus serahkan semuanya,” ujar Siska.
Rekaman suara Bambang diputar di ruangan.
Bambang membongkar adanya 11 transaksi fiktif ke perusahaan cangkang untuk menutupi utang bisnis Bima.
Pinjaman Rp1,8 miliar itu dipakai untuk menutupi kerugian perusahaan yang nyaris bangkrut.
Tanda tangan Hendra sengaja dipalsukan oleh Rika.
Rika juga hadir di acara peringatan kematian Bambang hanya untuk memastikan apakah Bambang meninggalkan dokumen rahasia kepada keluarga.
Hari berikutnya, polisi mendatangi rumah Hendra dengan surat perintah penggeledahan.
Di dalam laci meja kamar tamu, petugas menemukan satu botol kecil obat penenang cair tanpa label resmi.
Hendra menatap botol itu dengan tenang.
“Saya tidak pernah membeli atau menyimpan benda ini.”
Hendra ingat, 10 hari lalu, Rika datang sendirian ke rumahnya dengan alasan mengambil mainan Arka yang tertinggal.
Rika berada di kamar tamu selama 15 menit tanpa pengawasan.
Botol itu segera disita untuk uji sidik jari dan analisis laboratorium.
Malam harinya, Bima datang sendirian ke rumah Hendra.
Wajahnya pucat dan berantakan.
Bima meletakkan lembaran kertas di atas meja.
“Ayah, tolong tandatangani persetujuan pengalihan hak wali dana Arka. Kalau Ayah tanda tangan, Rika akan cabut laporan dan bilang ke polisi kalau dia salah paham soal CCTV.”
Hendra menatap anaknya dingin.
“Anakmu hampir kehilangan nyawa di hospital, Bima. Dan kamu datang ke sini cuma untuk memeras ayahmu?”
Bima mengepalkan tangan.
“Ayah tidak mengerti! Ada orang-orang kuat di belakang pinjaman ini! Kalau bisnis saya hancur, kita semua hancur!”
Hendra berdiri tegak.
“Kamu baru saja mengakui ada pihak lain yang terlibat. Pulanglah, Bima. Tentukan pilihanmu, mau melindungi kebohongan atau menyelamatkan anakmu.”
Dua hari kemudian, direktur keuangan Bima, Lukman, menyerahkan diri ke kepolisian didampingi pengacaranya.
Lukman membawa bukti rekaman percakapan rapat tertutup 3 minggu sebelum kejadian.
Dalam rekaman itu, suara Rika terdengar jelas.
“Kalau Pak Hendra tahu soal pemalsuan tanda tangan itu, kita masuk penjara. Kita harus buat dia kehilangan hak wali atas Arka. Buat dia terlihat lalai dan berbahaya.”
Bima terdengar ragu dalam rekaman itu.
“Jangan libatkan Arka. Jangan sampai dia terluka.”
Namun Rika menjawab dingin.
“Cuma dosis kecil supaya bayinya lemas saat di rumah Ayah. Kita butuh alasan kuat untuk panggil ambulans dan tuduh dia.”
Hendra menunduk saat mendengar rekaman itu.
Anaknya tahu rencana jebakan itu, meski Bima tidak ingin Arka terluka parah.
Tetapi Bima tetap membiarkan Arka dibawa ke rumah Hendra.
Kunci utama kasus ini akhirnya terungkap dari sistem keamanan rumah Hendra sendiri.
Rika telah menghapus potongan video 47 detik dari server cloud, namun server lokal independen milik Hendra tetap merekamnya secara utuh.
Teknikus kepolisian berhasil mengekstrak berkas asli dari harddisk lokal.
Video diputar ulang secara utuh di hadapan penyidik.
Stempel waktu menunjukkan pukul 09:17:12, Hendra berjalan membawa Arka ke kamar mandi untuk mengganti popok.
11 detik kemudian, pukul 09:17:23, Rika—yang ternyata belum benar-benar pergi—masuk kembali lewat pintu samping yang tidak terkunci.
Rika masuk ke kamar tamu, meletakkan botol obat di dalam laci, lalu keluar lagi pada pukul 09:17:54.
4 detik kemudian, pukul 09:17:58, Hendra kembali ke ruang tamu menggendong Arka.
Tidak ada potongan waktu.
47 detik itu membuktikan Rika adalah orang yang menaruh obat di laci dan memberikan zat berbahaya kepada Arka sebelum menyerahkannya kepada Hendra.
Hasil analisis laboratorium forensik mengonfirmasi bahwa zat dalam botol di laci identik dengan racun dosis rendah yang ditemukan di sampel darah Arka.
Selain itu, sidik jari Rika terdeteksi jelas pada botol obat tersebut.
Bukti perbankan juga memperkuat posisi Hendra.
Pada tanggal dokumen pinjaman bertanda tangan palsu itu dibuat, Hendra terbukti berada di Surabaya untuk menghadiri reuni pensiunan.
Ada bukti tiket pesawat, transaksi kartu kredit, dan rekaman CCTV hotel di Surabaya.
Semua bukti kejahatan Rika dan Bima terpampang nyata.
Bima yang tidak bisa lagi mengelak akhirnya menyerahkan seluruh bukti percakapan pesan singkat dan dokumen internal kepada penyidik.
“Saya tahu Rika ingin menjebak Ayah,” kata Bima di hadapan penyidik dengan suara bergetar.
“Saya pikir dia cuma mau buat Ayah terlihat lalai. Saya tidak tahu dia tega memberi obat berbahaya pada Arka.”
Bima tidak memohon belas kasihan.
Dia sadar kesalahannya sudah terlalu jauh.
Dalam persidangan hak asuh di Pengadilan Agama, Rika tidak hadir karena sudah ditetapkan sebagai tersangka penipuan, pemalsuan, dan penganiayaan anak.
Bima hadir didampingi kuasa hukumnya tanpa mengajukan keberatan atas gugatan Hendra.
Hakim bertanya kepada Hendra di akhir persidangan.
“Pak Hendra, apa yang Anda harapkan dari penetapan hak asuh ini?”
Hendra menatap Bima sejenak, lalu menjawab tegas.
“Saya hanya ingin Arka tumbuh aman dan selamat. Saat ini, hanya saya yang bisa menjamin itu.”
Hakim memutuskan hak pengasuhan penuh atas Arka jatuh kepada Hendra.
Rika dijatuhi hukuman penjara atas tindakan kriminal penipuan, pemalsuan dokumen, dan pembahayaan anak.
Bima ikut terseret hukuman pidana atas keterlibatan dalam pemalsuan dokumen dan pembiaran kejahatan.
Hendra tidak menggunakan koneksinya untuk meringankan hukuman Bima.
Selama bertahun-tahun, Hendra selalu membereskan masalah keuangan Bima, memberinya modal, dan menutupi kegagalannya.
Hendra sadar, memanjakan anaknya secara buta justru membentuk Bima menjadi pria yang lemah dan tidak bertanggung jawab.
Arka kembali ke rumah Bintaro saat usianya menginjak 7 bulan.
Adik Hendra, Maya, membantu menata kamar Arka dengan cat warna biru muda dan ranjang bayi yang hangat di dekat jendela.
Saat pekerja sosial menyerahkan Arka, bayi itu memandang Hendra dengan mata bulatnya yang jernih.
Tangan kecilnya meraih dan menggenggam ibu jari Hendra dengan kuat.
Hendra tersenyum tipis, menahan haru di dadanya.
3 bulan kemudian, sebuah surat bertuliskan tangan tiba dari lembaga pemasyarakatan.
Surat itu dari Bima.
“Ayah, saya minta maaf. Saya terlalu takut kehilangan materi sampai saya tega mengorbankan keluarga. Ayah benar, saya harus menerima akibat dari perbuatan saya sendiri. Tolong jaga Arka.”
Hendra membaca surat itu dua kali, lalu menyimpannya di dalam laci meja kerjanya.
Dia tidak membalas surat itu dengan kata-kata, tetapi mengizinkan jadwal kunjungan terbatas bagi Bima sesuai aturan hukum.
Pada kunjungan pertama, Arka hanya menatap Bima dari kejauhan.
Pada kunjungan ketiga, Arka mulai mau menerima mainan balok kayu yang digeser Bima di atas meja kunjungan.
Bima menangis tanpa suara melihat cucuran keringat Arka yang bermain di depannya.
Hendra memantau dari jauh tanpa menginterupsi.
Proses pemulihan hubungan keluarga itu membutuhkan waktu panjang, tetapi fondasinya kini berdiri di atas kebenaran.
Ketika Arka berusia 18 bulan, dia mulai belajar berjalan di ruang tamu rumah Hendra.
Langkah-langkah kecilnya yang masih sempoyongan membawanya menuju kursi goyang kayu milik almarhum neneknya.
Arka memegang lengan kursi, berbalik menatap Hendra, lalu tertawa lepas.
Hendra duduk di lantai, menyambut cucunya dengan kedua tangan terbuka.
Sore itu di halaman belakang, Hendra mengajak Arka melihat pohon mangga yang ditanamnya belasan tahun lalu saat Bima masih kecil.
Arka menengadah melihat daun-daun yang bergoyang tertiup angin sore.
Bibir kecilnya berusaha merangkai kata yang sering didengarnya belakangan ini.
“Kakek…” panggil Arka perlahan.
Hendra berlutut dan memeluk Arka dengan lembut.
Hendra paham betul bahwa mencintai anak tidak berarti harus menutupi kejahatannya dari hukum.
Menyelamatkan keluarga terkadang berarti membiarkan orang dewasa menanggung akibat dari keputusannya sendiri, sambil memastikan generasi berikutnya tumbuh dalam perlindungan yang penuh kejujuran.
