PART 2
2 hari kemudian, Maya menyewa jasa Rini, seorang mantan penyidik independen berusia 55 tahun.
Maya tidak menginginkan amukan emosional.
Dia butuh kepastian sejauh mana Aris telah membohonginya.
Dalam 3 hari, Rini membawa dokumen lengkap ke hadapan Maya.
Ada foto-foto Aris dan Siska berpelukan di pantai Bali, bukti reservasi hotel, serta riwayat rekening rahasia atas nama Aris.
“Ada uang 576.000.000 IDR di rekening ini,” kata Rini.
“Dia memindahkan bonus perusahaan dan dana simpanan selama 1 tahun terakhir.”
Maya mengepalkan tangannya di bawah meja.
Rini lalu menyerahkan salinan pesan singkat yang berhasil dipulihkan dari pelacakan transaksi digital.
Di sana terdapat percakapan rencana penjualan rumah di Pondok Indah.

Rumah itu adalah aset pribadi milik Maya yang dibeli sebelum mereka menikah.
Aris berencana membujuk Maya agar menjual rumah tersebut, lalu menggunakan uangnya untuk membeli villa atas nama Aris dan Siska di Bali.
Satu pesan dari Siska tertulis jelas: “Dia terlalu percaya kita. Dia tidak akan curiga sampai semuanya selesai.”
Kalimat itu membuat dada Maya terasa sesak.
Maya meminta Rini mengatur pertemuan dengan Siska di sebuah kafe di daerah Senopati.
Siska datang dengan wajah gelisah.
Di sana Maya melihat fakta lain.
Siska baru saja resign dari pekerjaannya karena Aris berjanji akan menghidupinya di Bali.
Maya menatap mantan sahabatnya itu tanpa ekspresi.
“Kamu punya HIV?” tanya Maya langsung.
Mata Siska melotot kaget.
“Apa? Tidak! Hasil tes darahku beberapa bulan lalu normal semua.”
Siska terdiam sejenak, lalu menyadari alasan Aris panik dan lari ke klinik.
Siska mengeluarkan ponselnya dan menggeser layar.
“Kalau begitu kamu harus lihat video ini,” kata Siska.
Di dalam video, Aris sedang bersantai di tepi kolam renang hotel di Nusa Dua.
“Begitu Maya setuju jual rumah Pondok Indah, kita tidak perlu sembunyi lagi,” ujar Aris di video itu sambil tersenyum.
“Uang penjualan dan dana simpananku cukup untuk beli villa dan modal usaha kita.”
Siska mematikan layar ponselnya.
Rasa malu terlihat jelas di wajah Siska.
“Aku menyimpan video ini karena merasa bangga dipilih olehnya,” aku Siska dengan suara bergetar.
“Sekarang aku sadar betapa bodohnya aku.”
Maya mengambil ponselnya sendiri dan mengamankan rekaman video tersebut.
“Kamu tahu rumah Pondok Indah itu milikku sebelum kita kenal Aris,” kata Maya.
“Kamu tahu seberapa keras perjuanganku membelinya.”
Siska menunduk dalam-dalam.
“Ya, aku tahu.”
“Dan kamu tetap menunggu aku dibodohi agar kalian bisa menikmati hasilnya?”
Siska tidak menjawab.
Maya berdiri, mengambil tasnya, dan meletakkan uang tunai di meja untuk membayar minumannya.
Sebelum Maya melangkah, Siska memegang ujung lengan baju Maya.
“Kalau kamu butuh kesaksianku di depan keluarga atau hukum, aku akan bicara,” kata Siska.
Maya memandang tangan Siska lalu melepaskannya perlahan.
“Kejujuranmu sekarang tidak menghapus pengkhianatanmu,” jawab Maya dingin.
“Tapi itu bisa mencegah Aris memutarbalikkan fakta.”
Seminggu kemudian, saat Maya sedang bekerja di kantor penerbitannya, ponselnya berdering.
Panggilan dari staf kantor notaris di Jakarta Selatan.
“Selamat siang Ibu Maya. Pak Aris mengajukan permohonan penerbitan salinan sertifikat rumah Pondok Indah untuk agunan pinjaman dan rencana peralihan hak.”
Staf notaris itu melanjutkan.
“Beliau mencantumkan nomor Ibu untuk konfirmasi. Apakah Ibu menyetujui proses ini?”
Maya menarik napas panjang.
“Saya tidak pernah memberikan kuasa atau menyetujui proses apa pun. Rumah itu murni atas nama saya.”
“Baik Ibu Maya, proses langsung kami batalkan. Kami sarankan Ibu segera mengamankan dokumen asli.”
Setelah menutup telepon, Maya langsung menghubungi pengacara spesialis perceraian, Ratna SH.
Sore itu juga Maya menyerahkan seluruh bukti.
Tangkapan layar transaksi bank, bukti reservasi hotel, foto-foto di Bali, rekam obrolan penjualan rumah, serta video pengakuan Aris.
Ratna memeriksa semua berkas itu dengan teliti.
“Rumah ini aset bawaan milik Ibu sebelum menikah, Aris tidak punya hak hukum sedikit pun,” tegas Ratna.
“Untuk uang 576.000.000 IDR di rekening rahasia, kita akan masukkan ke dalam gugatan penggelapan dana bersama.”
2 hari kemudian, orang tua Aris menggelar syukuran ulang tahun pernikahan ke-45 di sebuah restoran besar di Kebayoran Baru.
Acara itu dihadiri sekitar 30 anggota keluarga besar, termasuk saudara kandung dan kerabat dekat.
Aris hadir dengan gaya sempurna.
Dia membawa buket bunga untuk ibunya dan melingkarkan tangan di pinggang Maya di hadapan semua orang.
“Nanti kita bahas rencana liburan kita bulan depan ya,” kata Aris keras agar terdengar oleh keluarganya.
Maya menggeser tubuhnya menjauh dari Aris.
Aris menggunakan citra suami idaman untuk menutupi kebusukannya.
Maya memutuskan tidak akan menunggu lebih lama lagi.
Setelah acara pemotongan tumpeng, ayah Aris berdiri menyampaikan terima kasih kepada seluruh keluarga.
Ayah Aris lalu menatap Maya.
“Terima kasih untuk Maya yang selalu menjaga Aris dan membantu acara keluarga ini.”
Aris bertepuk tangan sambil tersenyum bangga.
Maya berdiri dari kursinya.
“Ayah, Ibu, sebelum acara berlanjut, ada hal penting yang harus saya sampaikan.”
Suasana ruangan langsung hening.
“Saya tidak ingin keluarga berpikir perceraian kami nanti terjadi secara mendadak tanpa alasan.”
Aris langsung berdiri dengan wajah tegang.
“Maya, apa-apaan ini? Jangan bikin malu di sini!”
Maya tidak menghiraukan Aris.
Dia mengeluarkan sebuah map dari tasnya.
“Aris tidak pergi ke acara dinas di Surabaya selama 15 hari. Dia berada di Bali bersama Siska.”
Ibu Aris terperanjat.
“Siska? Sahabat kamu?”
Aris maju hendak merebut map di tangan Maya.
“Ini fitnah! Saya tidak sengaja bertemu Siska di sana!”
Maya meletakkan lembaran foto Aris merangkul Siska di Bali, resi pembayaran kamar suite hotel, dan bukti sewa mobil di atas meja makan.
Ayah Aris mengambil foto tersebut.
Wajahnya berubah merah padam.
“Aris… Jelaskan ini,” kata ayahnya dengan suara berat.
Maya membuka lembar berikutnya.
“Selain itu, Aris memindahkan uang sebesar 576.000.000 IDR ke rekening rahasia selama 1 tahun terakhir.”
Adik laki-laki Aris, Deni, ikut membaca dokumen transaksi tersebut.
“Mas Aris, ini uang dari mana saja?” tanya Deni kaget.
“Ini urusan rumah tanggaku! Kalian tidak usah ikut campur!” bentak Aris.
“Kamu membawa masalah ini ke acara ulang tahun orang tua kita, Aris!” balas Deni keras.
Aris menunjuk Maya dengan emosi meluap.
“Kamu menyewa orang untuk memata-matai suamimu sendiri? Kamu sudah gila!”
Maya menjawab dengan tenang tanpa mengangkat suara.
“Saya juga punya bukti obrolan dan dokumen notaris. Aris mencoba memalsukan proses untuk menjual rumah Pondok Indah milik saya.”
Ibu Aris memegang dadanya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Ayah Aris membaca salinan pesan singkat Aris yang tercetak jelas di kertas.
“‘Maya akan nurut kalau perlahan dijebak.’ Ini tulisanmu, Aris?” tanya ayahnya dengan tangan gemetar.
Aris mulai panik.
“Yah, aku cuma emosi saat ketik itu. Pernikahan kami memang sudah dingin!”
Maya tersenyum tipis.
“Cold? 20 menit lalu kamu berakting mengajakku liburan di depan semua orang.”
Maya lalu menatap Aris lurus ke mata.
“Dan ingat hari pertama kamu pulang? Saat saya tanya apakah kamu tahu Siska kena HIV?”
Semua keluarga menatap Aris.
“Kamu tidak bertanya apa pun. Kamu langsung lari ketakutan ke klinik medis,” lanjut Maya.
Aris mengepalkan tangannya.
“Kamu membohongiku soal penyakit parah! Kamu menjebakku!”
“Saya menggunakan gertakan itu untuk menguji kejujuranmu,” kata Maya.
“Jika kamu tidak pernah menyentuh Siska, kamu tidak akan panik dan lari ke klinik hari itu.”
Pintu ruang VIP restoran terbuka.
Rini masuk bersama Siska.
Aris melangkah mundur saat melihat Siska berdiri di sana.
Siska berjalan mendekati meja keluarga.
“Saya datang untuk membenarkan semua perkataan Maya,” kata Siska dengan suara bergetar.
“Aris dan saya memang merencanakan liburan itu. Aris berjanji akan menjual rumah Maya dan membelikan villa untuk kami di Bali.”
Siska memandang Ibu Aris.
“Saya tidak punya penyakit apa pun. Hasil tes saya sehat. Aris lari ke klinik murni karena rasa bersalah dan ketakutannya sendiri.”
Ayah Aris memukul meja hingga gelas-gelas bergetar.
“Cukup!” bentak ayahnya.
Ayah Aris menunjuk ke arah pintu keluar.
“Keluar kamu dari sini, Aris! Keluar!”
“Yah… Dengarkan penjelasan Aris dulu…” mohon Aris sambil memegang tangan ayahnya.
Ayah Aris menepis tangan itu kasar.
“Jangan panggil aku Ayah kalau kamu tega merampok istri yang sudah menemani hidupmu 17 tahun! Keluar!”
Ibu Aris menangis tanpa bersuara dan menolak menatap Aris.
Deni berdiri mematung memandangi kakaknya dengan rasa kecewa mendalam.
Aris berjalan keluar ruangan dengan wajah pucat.
Saat melewati Maya, Aris berbisik penuh dendam.
“Kamu puas sudah menghancurkan nama baikku di depan semua orang?”
Maya menatapnya tanpa rasa takut.
“Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri. Saya hanya menunjukkannya kepada dunia.”
Acara keluarga itu bubar seketika.
3 minggu kemudian, surat gugatan cerai dan pendaftaran pidana atas dugaan penggelapan dana resmi diterima oleh Aris.
Pengacara Maya, Ratna SH, bergerak cepat memblokir rekening rahasia Aris sebesar 576.000.000 IDR melalui penetapan pengadilan.
Dalam proses persidangan di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Aris tidak mampu membantah satu pun bukti yang diajukan.
Hakim memutuskan perceraian resmi dikabulkan.
Rumah di Pondok Indah tetap sepenuhnya milik Maya tanpa ada pembagian harta gono-gini.
Aris diwajibkan mengembalikan seluruh dana simpanan yang telah dipindahkan secara ilegal.
Akibat skandal penggelapan uang dan pemalsuan berkas notaris yang tersebar, perusahaan tempat Aris bekerja melakukan audit internal.
Aris dipecat secara tidak hormat dari jabatannya sebagai manajer proyek.
Siska mengirimkan satu surat permohonan maaf ke alamat kantor Maya.
Dalam surat itu, Siska mengaku iri pada kehidupan Maya dan terbuai janji manis Aris.
Maya membaca surat itu sekali, lalu menyimpannya di dalam arsip berkas perceraian tanpa membalasnya.
Bagi Maya, memaafkan tidak berarti harus memasukkan kembali orang yang merusak hidupnya.
Beberapa bulan kemudian, di bulan November, Maya duduk di ruang tamu rumahnya di Pondok Indah.
Suasana rumah kini terasa tenang dan damai.
Maya menyesap teh hangatnya sambil memeriksa draf buku terbaru yang akan diterbitkan oleh perusahaannya.
Di dalam laci meja, tersimpan cincin nikah dan salinan putusan pengadilan.
Maya tidak perlu membuka laci itu lagi untuk mengingat pelajaran hidupnya.
Dia melihat ke luar jendela, memandangi pepohonan hijau di halaman rumahnya.
Pertanyaan sederhana soal tes kesehatan hari itu bukanlah penyebab hancurnya pernikahan mereka.
Pertanyaan itu hanya membuka topeng dari kebohongan yang sudah berjalan terlalu lama.
Maya menyandarkan punggungnya di kursi, merasakan ketenangan yang sudah lama hilang.
Ketenangan karena berhasil melindungi dirinya sendiri dan berdiri di atas kebenaran.
