Ketika Maya mengambil ponsel itu, dia tahu dia mungkin baru saja menyelamatkan rumah neneknya.

PART 2

Pukul 20:00 keesokan harinya, sebuah mobil mewah menjemput Maya di depan gang rumahnya.

Di dalam kursi belakang terlipat sebuah gaun malam berwarna abu-abu gelap yang dijahit sangat pas dengan ukuran tubuhnya.

Pertemuan itu diadakan di ruang makan pribadi sebuah vila terisolasi di daerah Bogor.

Sebelum masuk, Viktor memberikan satu instruksi mutlak.

“Jangan menerjemahkan apa pun sampai kita keluar dari ruangan ini.”

Di hadapan mereka duduk Sergey Baranov dan Leonid Karpov, dua pria yang mengaku sebagai pengusaha armada kapal kargo.

Selama 25 menit pertama, diskusi berjalan formal mengenai kontainer, izin pelabuhan, dan rute pelayaran.

Kemudian kedua pria itu mengubah gaya bicara mereka.

Maya langsung mengenali dialek kasar dan cepat itu.

Itu dialek daerah selatan yang sering digunakan neneknya ketika tidak ingin tetangga sebelah rumah memahami pembicaraan keluarga.

Sergey berkata pelan sambil tersenyum tipis ke arah Viktor.

“Anjing-anjing kita sudah menunggu di luar perkarangan.”

Leonid menjawab tanpa mengubah nada suaranya.

“Saat aku memukul meja nanti, suruh mereka masuk dan selesaikan semuanya.”

Tangan Maya seketika menjadi dingin di atas pangkuannya.

Ini bukan perundingan bisnis.

Ini adalah jebakan eksekusi.

Maya melihat sudut mata Leonid berkedip dan tangannya perlahan bergeser masuk ke balik lipatan jas bahagian dalam.

Maya tidak panik.

Dia sengaja tertawa agak keras seolah-olah dia adalah wanita pamer yang sudah terlalu banyak minum anggur.

Dia menyandar manja ke bahu Viktor dan berbisik sangat cepat di dekat telinganya.

“Sekarang. Tangan kanannya membawa sesuatu di balik jas.”

Detik itu juga, Maya sengaja menyenggol tempat es batu hingga jatuh menghantam meja dan menumpahi celana Leonid.

Segalanya terjadi dalam hitungan detik.

Grakan cepat, suara kursi terbalik, gertakan kasar, dan dentuman keras memecah ruangan.

Viktor langsung menarik tubuh Maya dan mendorongnya ke belakang pilar beton yang kokoh saat para pengawalnya menerobos masuk.

Ketika suara kekacauan berhenti dan ruangan kembali hening, Sergey dan Leonid sudah diringkus sepenuhnya di lantai oleh anak buah Viktor.

Di dalam mobil dalam perjalanan kembali ke Jakarta, tubuh Maya masih gemetaran.

“Aku yang memicu kekacauan itu.”

“Kamu baru saja menyelamatkan nyawaku,” jawab Viktor datar dari kursi sebelah.

Viktor menyalakan layar ponselnya dan menyerahkannya kepada Maya.

Di layar terlihat bukti transfer dan konfirmasi pelunasan resmi dari lembaga keuangan.

Utang pinjaman pendidikannya dan tunggakan rumah senilai total Rp1.000.000.000 telah bersih tanpa sisa.

Namun sebelum Maya sempat menghela napas lega, Viktor menggeser layar ponselnya ke dokumen berikutnya.

Itu adalah berkas sertifikat pinjaman atas jaminan rumah neneknya.

Dan di bagian bawah dokumen ada sebuah tanda tangan digital yang sangat dikenal Maya.

Tanda tangan Rendy.

“Maya,” kata Viktor dengan suara rendah. “Kakakmu sudah bertahun-tahun menyembunyikan sesuatu darimu.”

Maya menatap layar itu begitu lama hingga tulisan di sana kabur.

“Ini… ini tidak mungkin.”

Viktor tidak membantah.

Dia memperbesar gambar dokumen tersebut.

Tanda tangan persetujuan yang tertera memang mengatasnamakan Nenek Irina.

Tetapi tanggal dokumen itu dibuat adalah 4 bulan sebelum neneknya meninggal dunia.

Maya ingat betul kondisi neneknya pada bulan-bulan terakhir itu.

Nenek Irina sudah terbaring lemah di tempat tidur, bahkan sering lupa hari dan tidak mampu memegang pulpen dengan stabil.

“Bagaimana Rendy bisa mendapatkan persetujuan ini?”

“Kakakmu memegang surat kuasa lama untuk mengurus administrasi medis saat nenekmu dirawat di rumah sakit.”

“Tapi surat kuasa medis tidak bisa digunakan untuk menjaminkan sertifikat rumah ke lembaga pinjaman!”

“Tepat sekali,” sahut Viktor.

Maya menahan napasnya.

“Dia memalsukannya?”

“Aku bukan polisi. Tapi sertifikat ini dijaminkan dengan dokumen yang cacat hukum. Seseorang dengan pengacara yang tepat bisa membatalkannya dalam sekejap.”

Kenyataan itu menghantam Maya lebih keras daripada ancaman bahaya sejam yang lalu.

Selama 3 tahun terakhir, Maya menyalahkan dirinya sendiri atas kemalangan keluarga mereka.

Dia mengambil giliran kerja ganda di restoran.

Dia tidak pernah membeli pakaian baru.

Dia menjual beberapa simpanan perak kenangan neneknya hanya untuk membayar bunga bulanan.

Dia bahkan meminjam uang ke sana-sini agar bank tidak mengirimkan surat penyitaan.

Dan Rendy mengetahui setiap tetes keringat dan penderitaannya.

Rendy makan malam bersamanya saat hari raya, menyaksikan Maya menghitung setiap lembar uang receh untuk membeli bahan makanan.

Rendy membiarkan Maya membayar iuran kebersihan dan keamanan lingkungan dengan alasan bisnis reformasi rumahnya sedang sepi.

Rendy bahkan berulang kali memarahi Maya dan menyebutnya egois karena menolak menjual rumah tua itu.

Maya membuka pintu mobil yang baru saja berhenti di tepi jalan raya.

“Aku mau pulang.”

“Maya.”

“Perjanjian kita 1 malam. Malam ini sudah selesai.”

Viktor mengeluarkan sebuah kartu nama hitam tipis berbahan logam.

“Aku menawarkan pekerjaan tetap. Rp120.000.000 per minggu.”

Maya melepaskan tawa hampa.

“24 jam yang lalu kamu memanggilku anjing jalanan.”

“24 jam yang lalu aku membuat kesalahan besar.”

“Dan sekarang kamu pikir kamu bisa membeliku?”

“Tidak. Aku sudah memenuhi janjiku. Utangmu sudah lunas sepenuhnya bahkan jika kamu membuang kartu ini ke dalam selokan malam ini.”

Maya menghentikan langkahnya di luar pintu mobil.

Itu adalah perbedaan paling mendasar antara tawaran kerja dan ikatan rantai.

Viktor meletakkan kartu logam itu di atas jok mobil.

“Besok jam 13:00 aku ada di kantor utamaku. Jika kamu datang, kita bicara. Jika kamu tidak datang, aku tidak akan pernah menyuruh orang untuk mencarimu lagi.”

“Apa yang harus aku lakukan di sana?”

“Mendengar. Menerjemahkan. Dan mendeteksi kapan seseorang mendadak mengubah bahasa mereka karena menganggap orang lain di ruangan itu terlalu bodoh untuk mengerti.”

Maya berdiri tegak. Before menututup pintu, dia menatap Viktor tajam.

“Bagaimana dengan Maksim?”

Viktor sedikit mengerutkan dioxidnya.

“Ada apa dengannya?”

“Pelayan yang kugantikan gilirannya kemarin malam bernama Siska. Beberapa minggu lalu Maksim mengikutinya ke lorong toilet dan mengintimidasinya sampai dia ketakutan setengah mati.”

Untuk pertama kalinya, Viktor memutar tubuhnya ke arah kursi depan tempat Maksim duduk mengemudi.

Maksim tidak bergerak sedikit pun, tetapi cermin tengah memperlihatkan matanya yang menegang.

“Apakah itu benar, Maksim?”

Maksim membutuhkan waktu terlalu lama untuk menjawab.

Keterlambatan itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Viktor.

Viktor kembali menatap Maya.

“Pria itu tidak akan pernah mendekatinya lagi.”

“Itu bukan permintaan maaf.”

Maksim memutar kepalanya perlahan dari kursi pengemudi, matanya menyipit penuh kemarahan.

Maya tidak mundur satu langkah pun. Dia membalas tatapan Maksim dengan dingin.

Viktor berbicara tanpa perlu menaikkan nada suaranya.

“Besok kamu datang kembali ke restoran itu. Minta maaf secara pribadi kepada pelayan wanita itu. Setelah itu kamu tidak boleh lagi menginjakkan kaki di restoran Livia.”

Maksim mengepalkan rahangnya hingga berbunyi.

“Baik, Bos.”

Maya menutup pintu mobil dengan rapat.

Dia tidak tahu apakah harus merasa lega atau takut dengan dunia baru yang baru saja menyentuh hidurnya.

Maya tiba di rumah kontrakan tua di Tebet pukul 03:15.

Rendy sedang duduk di atas tangga semen depan pintu rumahnya dengan rokok di tangan.

Maya berjalan melewatinya begitu saja.

“Dari mana saja kamu jam segini?”

Maya memasukkan kunci ke lubang pintu.

“Bekerja.”

“Aku baru saja dapat notifikasi dari aplikasi sistem bank.”

Maya membuka pintu.

“Penyitaan dibatalkan. Seluruh tunggakan lunas.”

Rendy langsung berdiri dan menerobos masuk ke dalam rumah.

“Dari mana kamu dapat uang Rp1.000.000.000 dalam semalam?”

Maya tidak menjawab.

Rendy memegang bahu Maya dengan kasar.

“Jawab aku! Apa yang kamu lakukan?!”

“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang sudah kamu lakukan pada rumah Nenek?”

Rendy mendadak terdiam. Tangannya terlepas dari bahu Maya.

Maya mengambil beberapa lembar foto dokumen yang sempat dia cetak dari file yang dikirimkan Viktor ke ponselnya.

Dia melempar kertas-kertas itu ke atas meja kayu di ruang tamu.

Wajah Rendy berubah seketika.

Hanya perubahan kecil pada sudut matanya, tetapi itu sudah cukup sebagai pengakuan.

“Dari mana kamu dapat kertas ini?”

“Jadi semuanya benar.”

“Maya, dengarkan aku dulu…”

“Aku sudah mendengarkanmu selama 3 tahun, Rendy!”

Rendy mulai berjalan bolak-balik di ruang tamu yang sempit itu.

Dia beralasan bahwa usaha kontraktornya saat itu berada di ujung tanduk.

Dia butuh dana segar secepatnya.

Dia yakin nenek pasti akan mengizinkannya jika nenek masih sehat.

Dan dia mengaku berencana mengembalikan seluruh uang itu sebelum Maya mengetahui apa pun.

“Tapi kondisi Nenek makin buruk!” kata Rendy dengan suara meninggi. “Lalu Nenek meninggal! Semuanya jadi rumit!”

Maya menatap kakaknya dengan rasa tidak percaya yang mendalam.

“Semuanya jadi rumit? Kamu membiarkan aku mencuci piring dan membersihkan meja sampai jam 2 pagi setiap hari untuk membayar cicilan uang yang kamu pakai?”

“Aku juga cucunya! Aku punya hak atas aset keluarga ini!”

“Dan untuk mendapatkan hakmu, kamu membuang hidup adikmu sendiri?”

Suara Maya begitu tenang namun penuh penekanan, membuat ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap.

Rendy menarik napas panjang, berusaha menguasai keadaan.

“Oke, begini saja. Kita jual rumah ini sekarang. Kita bagi dua hasilnya setelah dipotong biaya, lalu kita selesaikan semua ini secara kekeluargaan.”

Maya merasakan bayangan dirinya yang lama mencoba muncul kembali.

Bayangan wanita lemah yang selalu mengalah demi menghindari konflik keluarga.

Wanita yang mau bekerja ekstra jam hanya karena orang lain memintanya.

Wanita yang mengira menahan penderitaan adalah tanda orang baik.

Namun wanita itu telah mati di sebuah ruang makan mewah di Bogor kemarin malam.

“Tidak.”

Rendy terperanjat.

“Apa katamu?”

“Aku tidak akan menjual rumah ini.”

“Aku punya hak hukum atas rumah ini sebagai ahli waris!”

“Dan aku punya bukti dokumen yang menunjukkan kamu menggunakan surat kuasa medis secara ilegal dari seorang wanita tua yang sedang sakit keras untuk mengambil pinjaman pribadi.”

Wajah Rendy pucat bagai kertas.

“Kamu mau mengancam kakakmu sendiri?”

“Aku tidak mengancam. Besok pagi aku akan bertemu pengacara. Biar hukum yang menentukan apa sebutan untuk tindakanmu itu.”

Rendy menatap Maya seolah-olah dia sedang melihat orang asing yang sama sekali tidak dia kenal.

“Siapa yang mengajarimu bersikap seperti ini? Pria mana yang mempengaruhi otakmu?”

“Tidak ada. Itu selalu jadi masalahmu dari dulu. Kamu selalu berpikir aku terlalu bodoh untuk mengambil keputusan sendiri tanpa ada pria di belakangku.”

Rendy berdiri kaku di depan pintu selama beberapa detik.

Tanpa mengucapkan satu kata pun lagi, dia memutar badan dan keluar dari rumah.

Maya langsung mengunci pintu dari dalam.

Begitu sendirian di ruang tamu, seluruh ketahanannya runtuh.

Dia terduduk di lantai dingin dan menangis tanpa suara.

Bukan karena uang atau bahaya yang baru saja dia lewati.

Dia menangis karena menyadari bahwa orang yang selama ini dia perjuangkan dengan mengorbankan masa mudanya adalah orang yang sama yang membiarkannya tenggelam demi menyelamatkan dirinya sendiri.

Pukul 11:00 pagi berikutnya, Maya mendatangi kantor bantuan hukum di daerah Jakarta Selatan.

Dia menyerahkan seluruh dokumen pinjaman dan berkas medis almarhum neneknya.

Jawaban pengacara itu sangat tegas: ada indikasi kuat tindak pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan hak yang bisa membawa kasus ini ke jalur hukum serius jika Rendy tidak bersikap kooperatif.

Pukul 13:17, Maya melangkah masuk ke sebuah gedung pencakar langit di kawasan Jalan Jenderal Sudirman.

Dia diantar menuju ruangan luas di lantai paling atas.

Viktor duduk di balik meja kerja kayu besar tanpa pengawal di sekelilingnya.

“Kamu terlambat 17 menit.”

Maya berjalan mendekat dan meletakkan kartu nama logam hitam itu di atas meja Viktor.

“Aku punya syarat.”

Satu ukiran senyum tipis yang penuh minat muncul di wajah Viktor.

“Tentu saja. Sebutkan.”

“Aku tidak bekerja untukmu. Aku bekerja bersamamu.”

Viktor menyandarkan punggungnya ke kursi kulit.

“Lanjutkan.”

“Semua penghasilan yang kuterima harus bersumber dari kontrak resmi perusahaan terdaftar. Aku tidak akan membawa paket mencurigakan. Aku tidak akan menyimpan senjata. Aku tidak akan berbohong kepada pihak berwajib untuk melindungimu. Kamu tidak boleh menggunakan informasi keluargaku untuk menekan aku. Dan jika aku bilang sebuah pertemuan terlalu berbahaya, aku berhak berdiri dan pergi detik itu juga.”

Viktor hening mendengarkan setiap kalimat tanpa memotong.

“Sudah selesai?”

“Belum.”

Maya membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah meja.

“Jangan pernah lagi berbicara kepada pekerja wanita mana pun dengan cara kasarmu seperti malam itu.”

Viktor mengamati wajah Maya selama beberapa detik.

“Itu terdengar sangat pribadi.”

“Memang.”

“Setuju.”

“Dan Rp120.000.000 per minggu setelah dipotong pajak bersih.”

Viktor tertawa kecil.

“Ini dia wanita dari restoran itu.”

“Bukan. Wanita yang ini tahu berapa harga keahliannya.”

Dalam bulan-bulan berikutnya, Maya mempelajari satu hal penting: menjadi pendengar yang tidak terlihat bisa memberikan kekuatan yang jauh lebih besar daripada menjadi orang yang paling banyak bicara di dalam ruangan.

Dalam berbagai pertemuan bisnis berisiko tinggi di Jakarta, Surabaya, hingga Bali, para pengusaha berkemeja mahal sering kali mengubah bahasa pembicaraan mereka dari bahasa Indonesia atau Inggris ke bahasa Rusia regional.

Merek yakin wanita muda yang duduk anggun di sebelah Viktor hanya seorang asisten pajangan yang tidak mengerti apa-apa.

Maya mencatat setiap detail nama, perbedaan angka, dan kebohongan kecil di dalam buku catatannya.

Namun dia tetap memegang teguh batasannya.

Ketika sebuah pertemuan terasa mengarah pada tindakan kriminal berbahaya, Maya akan langsung berdiri dan melangkah keluar.

Viktor sering memprotes keputusannya.

Maya membalas argumennya dengan kepala dingin.

Tidak ada di antara mereka yang terbiasa menyerah, tetapi mereka saling menghormati batas masing-masing.

Maksim memenuhi perintahnya.

Siska kemudian bercerita kepada Maya bahwa pria berbadan besar itu datang ke restoran Livia pada suatu pagi tanpa pengawal, berdiri kaku di depan kasir, dan mengucapkan permohonan maaf secara formal di hadapan staf lainnya.

Siska tidak memaafkannya, dan Maya menegaskan bahwa Siska tidak memiliki kewajiban apa pun untuk memaafkan pria itu.

Beberapa bulan kemudian, sengketa tanah dengan Rendy berakhir melalui perjanjian hukum di hadapan notaris.

Rendy mengakui pemalsuan dokumen tersebut dan menyerahkan seluruh hak kepemilikan rumah tua itu sepenuhnya kepada Maya untuk menghindari tuntutan pidana.

Maya tidak merayakan kemenangan itu.

Kehilangan kepercayaan pada saudara kandung bukanlah sebuah kemenangan yang patut dirayakan.

Tetapi rumah neneknya kini benar-benar aman atas namaya sendiri.

Malam pertama setelah dokumen kepemilikan resmi selesai balik nama, Maya membuka seluruh jendela rumah di Tebet, menyeduh teh hangat, dan meletakkan foto Nenek Irina di atas meja kayu.

“Ternyata ada gunanya Nenek mengajariku semua kata-kata kasar dalam bahasa Rusia itu dulu,” bisik Maya pelan dalam bahasa Rusia.

Dia tertawa kecil seorang diri di dalam ruangan yang tenang itu.

6 bulan kemudian, Maya kembali ke restoran Livia di Senopati.

Dia tidak datang mengenakan seragam pelayan hitam putih.

Dia mengenakan setelan blazer biru gelap yang elegan, berjalan masuk dan duduk di meja utama VIP bersama Viktor untuk menemui dua investor dari Eropa Timur.

Alvaro, manajer restoran yang dulu sering membentak para pelayan jika ada piring yang terlambat diangkat, bergegas datang sendiri ke meja mereka dengan senyum lebar.

“Selamat malam, Tuan Orlov. Selamat datang kembali, Ibu Maya. Sebuah kehormatan bagi kami malam ini.”

Maya menahan senyum tipisnya melihat perubahan sikap yang begitu drastis.

Tak lama kemudian, seorang pelayan wanita muda mendekati meja mereka membawa buku menu.

Tangannya terlihat sedikit gemetar karena gugup.

Salah satu investor asing di meja itu mendecakkan jarinya dua kali dengan kasar ke arah pelayan muda itu.

“Hei, cepat ambilkan air dingin.”

Pelayan muda itu menundukkan kepalanya, wajahnya memerah karena malu di hadapan banyak tamu.

Maya merasakan ingatan lama kembali berputar di kepalanya.

Ingatan tentang meja lain, jas mahal lain, dan suara pria yang merasa seorang wanita bercelemek tidak pantas dihargai.

“Permisi,” kata Maya dengan suara tenang namun tegas.

Investor itu menoleh terkejut.

“Ya?”

“Wanita ini punya nama. Tanyakan namanya terlebih dahulu.”

Pria itu mengerutkan dahi, merasa tersinggung, namun melihat reaksi Viktor yang hanya diam memperhatikan Maya dengan tenang, pria itu akhirnya mengalah.

Dia menatap pelayan muda itu.

“Siapa namamu?”

“Nia, Pak.”

“Nia, bisakah kamu membawakan kami air dingin, tolong?”

“Baik, Ibu, Pak. Segera saya bawakan.”

Saat pelayan muda itu berjalan pergi, Viktor menyandarkan fisiknya dan berbisik pelan pada Maya.

“Kamu masih saja suka mencari masalah.”

“Tidak,” jawab Maya sambil membuka berkas dokumen di depannya. “Sekarang aku hanya memilih masalah mana yang layak untuk kuhadapi.”

Viktor tersenyum tipis.

Maya membalik halaman pertama berkas perundingan malam itu.

Dia tidak berada di sana sebagai hiasan, pembayar utang, pelayan yang tak terlihat, atau milik siapa pun.

Maya juga tidak perlu berpura-pura bahwa jalan yang dipilihnya sekarang sepenuhnya bersih atau mudah.

Dia telah melihat terlalu banyak sisi gelap dunia untuk percaya pada dongeng yang sempurna.

Namun dia telah mempelajari satu pelajaran paling berharga yang tidak pernah dia dapatkan dari kehidupan lamanya.

Menjadi tidak terlihat mungkin bisa melindungimu dari pandangan orang lain untuk sementara waktu.

Tetapi itu juga bisa menjadi penjara yang mematikan jiwa jika kamu biarkan berlangsung selamanya.

Dan saat orang-orang berkuasa di meja itu mulai berbicara dalam bahasa Rusia, merasa bahwa mereka menguasai seluruh permainan, Maya tetap duduk tenang dalam diam.

Mendengarkan.

Memahami setiap kata yang diucapkan.

Dan menunggu saat yang paling tepat untuk mengingatkan mereka bahwa dia ada di sana, dan dia mengerti semuanya.