PART 2
Sutini duduk di sudut warung kopi tenang di kawasan Surabaya Selatan sore itu.
Tas kain lusuhnya diletakkan rapat di pangkuan.
Saat Maya duduk di depannya, Sutini mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bercover kulit yang sudah pudar.
“Selama 18 tahun saya bekerja di perusahaan katering acara mewah,” kata Sutini pelan. “Saya sering bertugas di acara-acara pribadi Pak Gunawan.”
Dia membuka halaman pertama.
“Setiap kali melihat dia menindas orang kecil atau menjebak mitranya, saya mencatatnya. Saya tidak punya kekuasaan untuk melawan. Tapi saya janji pada diri sendiri, suatu hari catatan ini harus sampai ke tangan orang yang berani berdiri tegak.”
Maya menerima buku itu.
Di dalamnya tertera tanggal, lokasi hotel, nama korban, dan rincian 21 kejadian.
Ada pekerja lapangan yang diancam, pemasok kecil yang dihabisi izin usahanya, serta beberapa mantan direktur wanita yang dipaksa mundur setelah menerima uang pesangon dengan klausul kerahasiaan ketat.
“Kenapa Ibu menyimpan ini begitu lama?” tanya Maya.
Sutini menatap mata Maya. “Karena baru malam kemarin saya melihat ada pengusaha besar yang menolak menundukkan kepala di depan uangnya.”
Maya menutup buku catatan itu dengan rapat.
Keadaan di kantor makin memanas pada hari berikutnya.

Hasil audit awal yang dilakukan Rendy menunjukkan jebakan fatal dalam draf kontrak 1 triliun tersebut.
Klausul tersembunyi menyatakan bahwa Wijaya Corp berhak mengambil alih keputusan operasional penuh jika Dewi Teknologi gagal mencapai target tertentu dalam 6 bulan.
Jika Maya membatalkan perjanjian setelah penandatanganan, denda pinaltinya mencapai 280 miliar rupiah.
Sebaliknya, jika Wijaya Corp yang membatalkan, mereka hanya membayar ganti rugi 18 miliar rupiah.
Pada rapat dewan jam 12.00, tekanan makin berat.
Hendra, salah satu komisaris senior, memukul meja.
“Kamu mempertaruhkan nasib 1.300 karyawan hanya karena masalah harga diri, Maya!” seru Hendra.
“Saya sedang melindungi 1.300 karyawan agar tidak menjadi budak dari orang yang biasa membeli pembungkaman,” balas Maya tegas.
Tiba-tiba layar laptop Rendy berbunyi nyaring.
Email masuk dari investor utama Dewi Teknologi.
Rendy membaca isi pesan itu dengan wajah pucat.
“Bu… Tiga investor institusi baru saja menarik dana investasi senilai 62 miliar rupiah. Mereka menuntut Ibu melanjutkan negosiasi dengan Gunawan.”
Tidak lama kemudian, pengacara pribadi Gunawan mengirimkan penawaran resmi.
Wijaya Corp bersedia memberikan suntikan dana segar senilai 50 miliar rupiah secara langsung.
Syaratnya sangat singkat: Maya harus membuat pernyataan maaf publik, menyatakan bahwa Sutini menyebarkan fitnah, dan menandatangani kontrak awal tanpa perubahan.
Ruang rapat mendadak hening.
Uang 50 miliar rupiah sanggup menutupi operasional, membayar gaji karyawan, dan menenangkan para komisaris selama berbulan-bulan.
Tapi itu berarti Maya harus menjual kehormatannya dan mengorbankan pelayan tua yang sudah mempercayainya.
“Tolak penawaran itu,” kata Maya tanpa ragu.
Hendra berdiri dari kursinya. “Kamu gila, Maya! Tanpa investasi itu, arus kas kita hanya bertahan 4 bulan!”
“Kalau begitu kita cari investor lain yang menghargai integritas kita, bukan uang Gunawan,” tegas Maya.
Malam harinya, Maya pulang ke rumah.
Putra tunggalnya, Aris, 29 tahun, sudah menunggu di meja makan dengan wajah cemas.
“Ibu masuk berita utama di seluruh portal media hari ini,” kata Aris.
“Ibu tahu.”
“Apakah perusahaan Ibu benar-benar dalam bahaya?”
Maya memegang cangkir tehnya.
“Kakekmu dulu bekerja 42 tahun sebagai buruh pabrik. Dia selalu berpesan, gaji memang membayar tagihan, tapi cara orang memperlakukanmu menentukan siapa dirimu. Jika Ibu menyerah hari ini, seluruh karyawan Ibu akan percaya bahwa harga diri bisa dibeli jika angkanya cukup besar.”
Aris menggenggam tangan ibunya. “Kalau begitu, Aris akan bantu Ibu.”
Serangan Gunawan makin gencar di hari-hari berikutnya.
Sebuah koran bisnis ternama menerbitkan artikel yang menyudutkan Maya.
Artikel itu menyebut Maya egois, emosional, dan tidak layak memimpin perusahaan publik.
Dua mitra bisnis Dewi Teknologi membatalkan pesanan komponen secara sepihak.
Di televisi swasta, Gunawan tampil rapi dengan setelan jas mahal.
“Itu hanya insiden kecil, kecelakaan sosial,” ujar Gunawan di depan kamera dengan senyum tenang. “Sangat disayangkan Ibu Maya memanfaatkan hal itu untuk menutupi ketidakmampuannya memimpin.”
Maya tidak membalas dengan wawancara tandingan.
Dia memilih bergerak secara sistematis lewat bukti.
Atas izin Sutini, Maya menyerahkan buku catatan 18 tahun itu kepada Sinta, seorang jurnalis investigasi senior.
Selama empat hari berturut-turut, Sinta menelusuri nama-nama yang ada di dalam buku tersebut.
Satu per satu mantan korban Gunawan mulai bersuara.
Dua mantan manajer keuangan Wijaya Corp memberikan bukti pemotongan pembayaran pemasok secara tidak sah.
Seorang mantan direktur operasional menyerahkan rekaman suara saat Gunawan mengancam akan menghancurkan karirnya jika dia tidak mau menandatangani laporan palsu.
Buku catatan Sutini bukan lagi sekadar cerita, melainkan peta bukti kejahatan bisnis yang utuh.
Sementara itu, Rendy menemukan pola jahat lainnya dari audit mendalam.
Dalam 6 tahun terakhir, ada 17 perusahaan manufaktur menengah yang bekerja sama dengan anak perusahaan Gunawan.
Sebanyak 11 di antaranya bangkrut atau terpaksa dijual murah setelah pembayaran mereka ditahan secara sengaja oleh pihak Gunawan.
“Dia tidak mencari mitra,” kata Maya saat melihat data itu. “Dia mencari mangsa.”
Meski kebenaran mulai terkuak, masalah keuangan Dewi Teknologi tetap mendesak.
Hendra kembali menggelar rapat untuk memecat Maya dari posisi Direktur Utama.
“Kita butuh pemangkasan karyawan sebesar 40 persen atau menjual aset jika tidak mau bangkrut,” tekan Hendra.
“Tidak ada pemecatan karyawan,” jawab Maya.
Rendy memaparkan opsi alternatif yang telah disusun.
Mereka berhasil menggalang kerja sama dengan konsorsium koperasi industri Jawa Timur dan dana investasi berkelanjutan lokal.
Mereka mendapatkan komitmen dana sebesar 38 miliar rupiah.
“Pertumbuhan kita akan lebih lambat,” jelas Rendy. “Tapi kita memiliki kontrol penuh dan tidak tergantung pada Wijaya Corp.”
Hendra tertawa mengejek. “Menolak 1 triliun demi 38 miliar? Itu kebodohan!”
Maya memandang seluruh anggota dewan.
“Saya tidak menolak 1 triliun. Saya menolak menyerahkan leher perusahaan ini untuk disembelih.”
Pemungutan suara dilakukan saat itu juga.
Tujuh komisaris mendukung rencana Maya, sementara tiga lainnya menolak.
Hendra keluar dari ruangan dengan gusar.
Malam harinya, sebuah video berdurasi 45 detik mendadak viral di internet.
Video itu bukan rekaman ponsel yang buram, melainkan rekaman kamera kualitas tinggi dari acara gala di Jakarta.
Rekaman itu memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana Gunawan dengan sengaja menyiramkan minuman ke atas kepala Maya, tertawa mengejek, dan menolak meminta maaf.
Publik merespons dengan gelombang kemarahan besar.
Tagar mendukung Maya dan memboikot produk Wijaya Corp memenuhi media sosial.
Di depan pabrik Dewi Teknologi di Surabaya, puluhan perwakilan buruh dan masyarakat berkumpul memberi dukungan.
Mereka membawa spanduk kain putih bertuliskan: “Martabat Kami Tidak Dijual.”
Maya keluar menemui mereka.
Sutini berdiri di samping Maya.
Setelah perusahaan katering memecat Sutini karena tuduhan membocorkan informasi, Maya langsung merekrut Sutini untuk memimpin program pengawasan kesejahteraan pekerja di Dewi Teknologi.
“Terima kasih sudah mempercayai saya,” kata Sutini lirih di sebelah Maya.
Pagi harinya, laporan investigasi lengkap terbit di media nasional.
Artikel itu memuat dokumen, tanggal, dan kesaksian sah yang diverifikasi secara ketat.
Dampaknya sangat cepat.
Dua BUMN besar mengumumkan penundaan proyek dengan Wijaya Corp.
Beberapa bank swasta mulai meninjau ulang fasilitas kredit untuk grup usaha Gunawan.
Pihak otoritas pemeriksaan keuangan mulai turun tangan memeriksa dugaan manipulasi laporan keuangan pada anak perusahaan Wijaya Corp.
Gunawan mengadakan konferensi pers darurat dengan wajah tegang.
Dia terus membantah dan menuduh Maya melakukan kampanye hitam.
“Dewi Teknologi tidak akan bertahan lebih dari 6 bulan tanpa bantuan saya!” seru Gunawan di akhir wawancara.
Namun ancaman itu justru berbalik padanya.
Dua hari kemudian, sebuah lembaga pendanaan hijau tingkat nasional menghubungi Maya.
Mereka tertarik menyuntikkan modal jangka panjang untuk pengembangan teknologi ramah lingkungan yang diproduksi Dewi Teknologi.
Satu bulan kemudian, posisi Gunawan di perusahaannya sendiri mulai goyah akibat tekanan pemegang saham dan pemeriksaan hukum yang berjalan.
Proses hukum memang membutuhkan waktu berbulan-bulan, tetapi dominasi mutlak Gunawan telah runtuh.
Enam bulan setelah malam gala di Jakarta, pabrik Dewi Teknologi di Surabaya tetap beroperasi penuh.
Tiga investor baru telah masuk dengan syarat perlindungan hak-hak pekerja yang ketat.
Tidak ada satu pun karyawan yang dipecat.
Aris dan Sutini kini mengelola kantor layanan pengaduan internal yang independen bagi seluruh pekerja dan pemasok kecil di lingkungan perusahaan.
Suatu sore, Maya berjalan ke ruangan Sutini.
Di atas meja kerja Sutini, buku catatan kulit lusuh itu masih terbaring rapi.
“Ibu masih menyimpannya?” tanya Maya.
Sutini tersenyum tenang. “Buku ini adalah pengingat. Lupa berarti membiarkan hal yang sama terjadi lagi pada orang lain.”
Maya menatap keluar jendela kantornya.
Ratusan pekerja tampak berjalan pulang dengan senyum di wajah mereka setelah menyelesaikan shift sore.
“Tahu apa yang saya pikirkan malam itu ketika minuman tumpah di kepala saya?” tanya Maya.
“Apa, Bu?”
“Saya pikir saya akan kehilangan segalanya dalam semalam.”
Sutini menggeleng lembut. “Ibu justru menyelamatkan semuanya malam itu.”
Beberapa minggu kemudian, Maya menghadiri acara anugerah pengusaha manufaktur Indonesia di Surabaya.
Aris bertanya apakah ibunya yakin ingin datang.
“Tentu saja,” jawab Maya.
Malam itu, Maya mengenakan gaun malam berwarna biru yang anggun.
Warna yang sama dengan gaun yang tersiram anggur enam bulan lalu.
Dia datang bukan untuk memamerkan kemenangan, melainkan untuk menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa membuatnya merasa malu atas apa yang telah terjadi.
Maya datang bersama Sutini.
Sutini berjalan melewati pintu utama ballroom, berdiri tegak di samping Maya di bawah lampu kristal yang megah.
Saat beberapa wartawan mendekat dan mengambil foto mereka, Maya menggenggam tangan Sutini.
Gunawan Wijaya mengira uang 1 triliun rupiah mampu membeli kepatuhan dan membungkam kebenaran selamanya.
Dia lupa bahwa kekuatan sejati suatu bisnis tidak terletak pada seberapa besar modal yang dimiliki pemiliknya, melainkan pada kebenaran dan keteguhan orang-orang yang menolak untuk membengkokkan harga diri mereka.
