Pagi harinya, sebuah berkas rahasia diletakkan di meja Hendra.

PART 2

Anak di dalam foto itu adalah putra kandung Maya.

3 tahun lalu di Bandung, Maya dan putranya terjebak dalam aksi kejahatan jalanan saat keluar dari minimarket.

Rizky tidak tertolong sebelum tiba di rumah sakit.

Pernikahan Maya hancur tidak lama setelah tragedi tersebut.

Dia menjalani perawatan pemulihan trauma selama berbulan-bulan sebelum akhirnya menghapus jejak masa lalunya dan bekerja sebagai perawat khusus pasien cedera berat.

Hendra menutup berkas tebal di mejanya.

Kini dia paham mengapa Maya tidak pernah takut pada gertakannya.

Wanita itu sudah melewati neraka yang paling menderita dalam hidupnya.

“Apakah kita harus memberhentikannya, Pak?” tanya Aris ragu.

“Tidak,” jawab Hendra mantap. “Dan jangan pernah ada yang membahas hal ini di depan siapa pun.”

Minggu-minggu berikutnya, kondisi Reza menunjukkan kemajuan pesat.

Dia mulai mau tertawa, menghabiskan porsi makanannya, dan mau diajak bicara oleh ayahnya.

Hendra pun mulai memberanikan diri keluar dari ruang bawah tanah untuk ikut makan malam di meja yang sama.

Suatu sore, Maya mendatangi Hendra di perpustakaan rumah.

“Reza tidak membutuhkan pelindung yang bersembunyi di balik 24 layar monitor,” kata Maya langsung.

“Dia membutuhkan ayahnya berada di sampingnya.”

Hendra tidak membantah.

Kata-kata wanita itu menusuk tepat di pusat kesadarannya.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Hari Selasa pukul 14.00 WIB, seorang pria pengantar barang yang biasa mengantar paket masuk ke area dapur.

Pria itu tampak gelisah, dahinya basah oleh keringat, dan sebelah tangannya disembunyikan di balik jaket tebal.

Maya yang sedang menyiapkan minuman untuk Reza menyadari keanehan tersebut.

Sebelum penjaga di luar menyadari bahaya, pria itu menarik sebuah benda keras dari balik jaketnya dan mengarahkannya tepat ke arah Reza yang duduk di kursi roda.

“Jangan bergerak!” ancam pria itu dengan suara gemetar.

Pria itu menyalakan speaker ponselnya.

Sebuah suara berat terdengar dari seberang telepon: “Hendra Wijaya harus menandatangani pengalihan hak kelola dermaga hari ini. Anakmu cuma alat untuk membuatmu menyerah!”

Pria pengantar barang itu tersenyum dingin.

Reza membeku di tempatnya.

Tanpa ragu sedikit pun, Maya melompat dan pasang badan di depan kursi roda Reza.

Suara hantaman keras bergema di ruang dapur.

Maya mendorong pria itu hingga terjatuh ke lantai.

Saat Hendra dan petugas keamanan menerobos masuk beberapa detik kemudian, pelaku sudah berhasil dikunci di lantai.

Namun, Maya terbaring di ubin dingin dengan bagian bahu baju yang mendadak berubah warna menjadi merah pekat.

Sebelum matanya terpejam, Maya memegang tangan Hendra.

“Reza… apakah Reza selamat?” bisiknya sangat pelan.

“Dia selamat. Kamu berhasil menyelamatkannya,” sahut Hendra dengan suara bergetar.

Maya dilarikan ke rumah sakit swasta di kawasan Jakarta Selatan.

Setelah menjalani operasi darurat selama 3 jam, dokter menyatakan fisiknya stabil.

Proyektil telah mengenai bagian bahu dan merusak jaringan otot, tetapi tidak mengambil nyawanya.

Hendra duduk di samping tempat tidur Maya sepanjang malam.

Dia belum mengganti kemejanya yang ternoda.

Saat matahari terbit, Maya perlahan membuka matanya.

“Reza…” desah Maya, suaranya masih sangat lemah.

“Dia aman di rumah dengan penjagaan ketat,” kata Hendra pelan. “Kamu menyelamatkan nyawanya.”

Maya memalingkan wajahnya ke arah jendela glass.

“Aku hanya tidak ingin melihat hal yang sama terjadi lagi.”

Hendra menarik napas panjang.

“Aku tahu tentang Rizky.”

Tangan Maya yang bebas seketika menegang.

Monitor detak jantung di samping tempat tidur mulai berbunyi lebih cepat.

“Kamu… memata-matai hidupku?” tanya Maya dengan nada kecewa.

“Aku memeriksa semua orang yang masuk ke rumahku,” jawab Hendra jujur. “Aku menemukan berkas medis dari Bandung, laporan kepolisian 3 tahun lalu, dan kisah perceraianmu.”

Maya mengepalkan jemarinya.

“Jadi kamu menganggapku wanita yang terganggu jiwanya? Wanita yang mencari pelarian dengan mengurus anak orang lain?”

“Tidak,” potong Hendra cepat.

Dia menatap mata Maya secara langsung.

“Aku melihat seorang ibu yang luar biasa. Seseorang yang memiliki alasan paling kuat untuk membenci dunia, tapi justru memilih untuk menyembuhkan anakku.”

Air mata akhirnya menetes di pipi Maya.

Rasa sakit yang diendamnya selama 3 tahun meledak tanpa bisa ditahan lagi.

“Aku harusnya menjaga Rizky hari itu,” bisik Maya serak. “Aku merasa tidak berhak untuk bahagia lagi.”

“Kamu tidak bersalah atas apa yang terjadi pada putra tercintam u,” tegas Hendra. “Dan kamu tidak perlu menghukum dirimu sendiri selamanya.”

Pintu kamar rawat mendadak terbuka.

Aris mendorong kursi roda Reza masuk ke ruangan.

Wajah bocah 8 tahun itu tampak sangat cemas.

“Tante Maya!” panggil Reza.

Maya menyapu air matanya dan berusaha tersenyum.

“Kenapa belum latihan tangan hari ini?” goda Maya.

Reza mendekatkan kursi rodanya ke tepi tempat tidur.

Dia memegang jemari Maya dengan erat.

“Tante melompat ke depanku kemarin. Kenapa Tante melakukan itu?”

Maya membalas genggaman tangan kecil itu.

“Karena Tante tidak mau kehilangan kamu, Reza.”

Reza menatap ayahnya, lalu kembali menatap Maya.

“Kalau begitu, Tante harus tinggal bersama kami selamanya.”

Kata-kata sederhana itu membuat suasana ruangan mendadak hening.

Hendra tersenyum tipis, sesuatu yang sangat jarang terlihat di wajah tegasnya.

“Soal itu, kita harus menanyakannya langsung pada Tante Maya,” kata Hendra.

3 hari kemudian, Maya diperbolehkan pulang ke rumah Menteng.

Sementara itu, tim keamanan Hendra bekerja cepat mengusut tuntas siapa dalang di balik serangan pengantar barang tersebut.

Aris menyerahkan laporan lengkap di meja kerja Hendra.

“Pelaku mengaku dibayar oleh Fajar Perkasa, pesaing bisnis Anda dari Surabaya,” terang Aris. “Mereka ingin menguasai jalur distribusi pelabuhan kita.”

“Apakah kita akan mengirim orang ke Surabaya?” tanya Aris menunggu perintah balas dendam seperti yang biasa dilakukan Hendra di masa lalu.

Hendra melihat ke arah jendela.

Di halaman luar, Maya sedang membimbing Reza yang duduk di atas matras terapi.

Mereka berdua tertawa saat sebuah bola plastik terlempar jauh.

Hendra mengambil keputusan yang mengejutkan seluruh stafnya.

“Serahkan semua bukti rekaman percakapan, alur transfer bank rahasia, dan dokumen pencucian uang milik Fajar ke Polda Metro Jaya dan KPK,” perintah Hendra.

Aris terbelalak.

“Bapak tidak membalas mereka secara langsung?”

“Aku tidak akan menggunakan cara kotor lagi,” kata Hendra tegas. “Aku tidak ingin ada darah baru yang mengancam keselamatan anakku.”

Langkah hukum yang diambil Hendra bertindak sangat cepat.

Dalam waktu 2 minggu, Fajar Perkasa dan kelompoknya ditangkap oleh pihak kepolisian atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana, suap, dan penggelapan aset negara.

Jaringan bisnis ilegal yang sempat melibatkan beberapa anak perusahaan Hendra pun dibersihkan secara total.

Hendra merela kehilangan nilai kontrak bernilai puluhan miliar rupiah demi membersihkan nama dan bisnisnya dari tindakan melanggar hukum.

Malam harinya, Maya berdiri di balkon lantai 2 sambil menikmati angin malam.

Hendra berjalan mendekat membawa 2 cangkir teh hangat.

“Aku mendengar cerita dari Aris,” kata Maya. “Kamu menyerahkan semua bukti ke polisi dan menutup 3 jalur bisnis utama.”

“Ya,” jawab Hendra tenang.

“Kamu kehilangan banyak keuntungan.”

“Aku kehilangan istriku karena dendam bisnis,” kata Hendra sambil menatap lurus ke depan. “Aku tidak boleh kehilangan masa depan Reza hanya karena mempertahankan kesombonganku.”

Maya menatap pria di sampingnya dengan pandangan baru.

“Kamu sudah banyak berubah, Hendra.”

“Seseorang mengajariku bahwa bertahan hidup tidak ada gunanya jika kita hanya hidup di dalam penjara yang kita buat sendiri,” jawab Hendra lembut.

Dia menatap Maya dengan kesungguhan.

“Tetaplah di sini. Bukan hanya sebagai perawat Reza, tapi sebagai bagian dari hidup kami.”

Maya tidak menjawab dengan kata-kata.

Dia meraih cangkir teh dari tangan Hendra dan tersenyum tulus.

Satu bulan kemudian, sebuah momen penting terjadi di ruang fisioterapi.

Hendra masuk ke ruang bawah tanah untuk terakhir kalinya.

Dia berdiri di depan panel utama kontrol kamera pengawas.

Dari layar monitor, dia melihat Reza sedang berdiri di antara dua tiang penyangga kayu.

Kaki bocah itu gemetar hebat, tetapi matanya memancarkan semangat yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Maya berdiri 2 meter di depannya dengan tangan terulur.

“Satu langkah lagi, Reza. Kamu pasti bisa,” panggil Maya.

Reza menggerakkan kaki kanannya ke depan.

Lalu kaki kirinya.

1 langkah.

2 langkah.

3 langkah.

4 langkah.

5 langkah.

Bocah itu berhasil melangkah sejauh 5 langkah sebelum tubuhnya kehilangan keseimbangan dan ditangkap dengan sigap oleh Maya.

Keduanya tertawa lepas di atas matras terapi.

Di ruang bawah tanah, Hendra menarik napas panjang.

Dia menjangkau sakelar utama di dinding.

Satu per satu, tombol kamera interior dimatikan.

Layar 1 mati.

Layar 2 mati.

Layar 10 mati.

Layar 24 mati.

Seluruh monitor yang mengawasi bagian dalam rumah kini gulita.

Hendra hanya menyisakan kamera keamanan di luar pagar utama.

Dia berjalan keluar dari ruangan dingin itu dan membiarkan pintunya terbuka lebar.

Saat Hendra memasuki ruang fisioterapi, Reza menunjuk ke arahnya dengan bangga.

“Papa! Aku bisa berjalan 5 langkah hari ini!” seru Reza gembira.

Hendra berlutut di depan kursi roda anaknya dan memeluknya erat.

“Papa lihat semuanya. Papa sangat bangga padamu.”

Reza lalu menunjuk ke sudut ruangan.

“Pa, lampu merah di kamera itu mati. Apakah alatnya rusak?”

Hendra menatap Maya yang juga sedang memperhatikannya.

“Tidak rusak,” jawab Hendra pelan. “Papa baru saja mematikannya.”

“Kenapa dimatikan?” tanya Reza heran.

“Karena Papa tidak perlu lagi mengawasi hidup kita dari balik layar,” kata Hendra sambil memegang tangan Maya. “Papa ingin hadir dan hidup bersama kalian di sini.”

Reza tertawa senang.

“Kalau begitu, Papa harus bayar janji. Tante Maya bilang kalau aku bisa 5 langkah, kita boleh makan pizza malam ini!”

“Setuju. Pizza besar untuk malam ini,” jawab Hendra penuh kehangatan.

Malam itu, meja makan kediaman Wijaya diisi oleh gelak tawa yang riuh.

Tidak ada lagi ketakutan yang mencekam.

Tidak ada lagi penjaga yang berdiri kaku di dalam rumah.

Tidak ada lagi dinding tebal yang memisahkan seorang ayah dari putranya.

Hendra memandang Reza yang sibuk menghabiskan potongan pizza keduanya, lalu beralih menatap Maya yang tersenyum bahagia di sampingnya.

Rasa sakit dari masa lalu tidak pernah benar-benar hilang, tetapi malam itu, mereka bertiga tahu bahwa mereka telah menemukan cara untuk menyembuhkannya bersama.