PART 2
Aris menemukan kontrakan kecil tempat Rina tinggal di daerah Tambora, Jakarta Barat.
Rina sedang sibuk memasukkan barang-barang ke dalam kardus bersama adiknya, Bimo, 10 tahun.
Pemilik kontrakan meminta mereka pindah karena bangunan akan dijual.
Aris langsung menyelesaikan masalah sewa tempat tinggal itu hanya dengan 1 panggilan telepon kepada kenalannya.
Rina tidak menunjukkan raut wajah senang.
“Ini yang membuat saya ragu pada orang kaya,” kata Rina dingin.
“Kemarin saya hanya pekerja biasa yang tidak Anda kenal nama lengkapnya.”
“Hari ini Anda datang seolah-olah saya berutang Budi pada Anda.”
Aris tidak membantah.

Dia langsung meminta Rina kembali ke rumah untuk mendampingi Nia.
Rina akhirnya setuju, tetapi mengajukan 3 syarat mutlak.
Pertama, Aris tidak boleh memotong ucapan Nia.
Kedua, Aris tidak boleh berbicara mewakili Nia.
Ketiga, Aris tidak boleh memperlakukan setiap perkembangan kecil Nia sebagai pertunjukan besar.
Malam itu, Aris duduk di lantai kamar adiknya untuk pertama kali.
Dia menunggu selama 40 menit hanya untuk melihat Nia mencoba memindahkan satu balok kayu dengan tangan kanannya.
Aris menahan diri dan tidak ikut campur.
Pada hari ke-4, Nia berhasil mengucapkan 3 kata berurutan dengan suara pelan.
Saat itulah Rina mengeluarkan sebuah buku catatan bergaris warna biru dari tasnya.
Selama bertutur-turut dalam beberapa bulan, Rina mencatat semua perkembangan Nia yang tidak pernah masuk ke dalam laporan resmi Siska.
Nia sebenarnya sudah bisa berjalan sendiri di dalam kamar.
Nia bisa menulis namanya sendiri di kertas.
Nia bisa memakai pakaian tanpa bantuan orang lain.
Namun seluruh laporan kesehatan resmi yang dibuat Siska selalu mencatat sebaliknya.
Semua laporan itu menuliskan bahwa kondisi Nia terus memburuk dan memerlukan bantuan total.
Aris langsung membawa dokter spesialis saraf independen dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk memeriksa Nia secara rahasia.
Setelah pemeriksaan menyeluruh, dokter memberikan kesimpulan yang sangat tegas.
Kerusakan saraf Nia hanya mengganggu respon bicara dan motorik halus di tangannya.
Daya tangkap, ingatan, dan kemampuan mengambil keputusan milik Nia masih berfungsi dengan sangat baik.
Tidak pernah ada catatan medis awal yang menunjukkan Nia mengalami kerusakan otak permanen.
Ada pihak tertentu yang sengaja memalsukan perkembangan kondisi fisik Nia di atas kertas.
Rina kemudian menunjuk ke arah kamera pengawas yang terpasang di sudut ruang tengah.
“Nia selalu memilih main balok di bawah kamera itu,” kata Rina.
“Karena itu satu-satunya sudut rumah tempat seluruh tubuhnya bisa terekam jelas tanpa terhalang lemari.”
Aris menatap karpet di ruang tengah.
Nia tidak sedang bermain.
Adiknya sedang mengumpulkan bukti visual untuk menunjukkan bahwa dia bisa bergerak normal.
Aris mulai menyadari bahwa rumah mewahnya penuh dengan sudut buta yang tidak terjangkau kamera.
Rina menjelaskan alasan sebenarnya dia mendadak mundur malam itu.
3 minggu sebelumnya, Siska memanggil Rina ke ruang kerja di lantai bawah.
Di atas meja, Siska sudah menyiapkan surat teguran dan ancaman hukum.
Siska mengancam akan melaporkan Rina ke polisi atas tuduhan manipulasi pasien trauma jika Rina terus mendekati Nia di luar jam kerja bersih-bersih.
Rina tidak takut kehilangan pekerjaannya.
Namun Siska mengancam akan merusak hak asuh Rina atas adiknya, Bimo, menggunakan pengaruh hukum orang kaya.
“Saya memilih mundur karena saya tahu dia bisa menghancurkan hidup adik saya,” kata Rina.
“Saya pikir Anda sebagai kakak kandung akan melihat apa yang terjadi pada Nia.”
Aris menundukkan kepala.
“Saya tidak melihatnya sama sekali.”
“Benar,” jawab Rina singkat. “Anda terlalu sibuk dengan bisnis Anda.”
Rina membuka buku catatan birunya lagi.
Di dalamnya tertulis tanggal dan jam kejadian secara terperinci.
Suatu malam, Nia berjalan sendiri menyusuri lorong lantai 2.
Laporan Siska minggu berikutnya mencatat: “Pasien membutuhkan bantuan penuh untuk berpindah tempat.”
Di lain hari, Nia menulis namanya 3 kali di kertas.
Laporan Siska mencatat: “Fungsi motorik tangan hilang total.”
Ini bukan sekadar kelalaian pencatatan.
Semua kebohongan ini mengarah pada satu tujuan yang sama: membuat Nia terlihat tidak mampu mengurus dirinya sendiri secara legal.
Aris meminta auditor independen memeriksa seluruh dokumen keuangan keluarga.
Hasilnya sangat mengejutkan.
Ada draft transfer dana dalam jumlah besar dari rekening perusahaan keluarga ke sebuah lembaga perawatan swasta di luar negeri.
Selain itu, ditemukan dokumen hukum yang sudah disiapkan untuk mengajukan pengampuan atas diri Nia di pendaftaran pengadilan.
Jika pengampuan itu dikabulkan oleh hakim, maka hak wali akan jatuh kepada orang lain.
Wali tersebut akan memiliki wewenang penuh atas 34% saham milik Nia di perusahaan logistik keluarga.
Nama yang diajukan sebagai calon wali hukum Nia adalah Hendra.
Hendra adalah anak kandung Siska yang bekerja sebagai petugas pemeliharaan bangunan di rumah itu.
Aris tertegun melihat nama itu.
Dia sudah ratusan kali bertemu dengan Hendra di halaman rumah.
Namun Aris tidak pernah memperhatikan keberadaannya.
Sebelum Aris sempat memanggil Siska, sebuah kejadian darurat terjadi di rumah.
Pukul 03:40 dini hari, sebuah mobil ambulans swasta datang ke pintu pagar depan.
3 orang berseragam medis membawa surat rujukan darurat untuk memindahkan Nia ke fasilitas perawatan khusus di luar kota.
Saat itu Aris sedang berada dalam perjalanan menuju bandara untuk urusan bisnis.
Siska menunjukkan surat keputusan medis yang menyatakan Nia mengalami penurunan kondisi jiwa secara mendadak.
Rina, yang kebetulan masih berada di rumah untuk menjaga Nia, membaca surat itu di pintu depan.
Rina melihat ada yang tidak beres.
“Mana tanda tangan persetujuan dari pasien?” tanya Rina tegas.
Petugas ambulans menjawab bahwa izin sudah diberikan oleh pengurus rumah atas dasar kewenangan medis.
“Nia sudah berusia 19 tahun,” kata Rina.
“Dia paham apa yang terjadi di sekitarnya. Tidak ada yang boleh membawanya tanpa persetujuannya.”
“Pasien ini tidak bisa bicara,” potong petugas itu kasar.
Tiba-tiba langkah kaki terdengar dari dalam koridor.
Nia berjalan keluar dari kamarnya sendiri tanpa bantuan siapa pun.
Dia berdiri tegak di depan 3 petugas ambulans itu.
Nia menatap mata mereka satu per satu.
Membutuhkan waktu beberapa detik sampai tenggorokannya mengeluarkan suara.
“Ti… dak!”
Kata itu terdengar kaku dan keras, tetapi sangat jelas.
Rina langsung menyalakan pengeras suara di ponselnya.
Aris yang berhasil dihubungi Rina memberikan perintah tegas dari telepon untuk membatalkan seluruh proses pemindahan itu.
Petugas ambulans akhirnya pergi setelah Aris mengancam akan mendatangkan tim hukum perusahaan dalam 15 menit.
Pagi harinya, Aris memanggil Siska ke ruang perpustakaan.
Aris meletakkan semua bukti di atas meja: pemalsuan laporan medis, dokumen pengampuan palsu, dan rekaman kamera pengawas yang memperlihatkan Nia berjalan lancar.
Siska tidak terlihat panik.
Dia justru mengeluarkan 3 lembar cetakan rekening bank dari dalam tasnya.
Rekening itu menunjukkan ada aliran dana mencurigakan ke dalam akun atas nama Rina.
Siska juga menunjukkan foto Rina sedang memegang kalung emas milik Nia di dalam kamar.
Terakhir, Siska menyerahkan sebuah dokumen lama.
Dokumen itu menunjukkan bahwa tunangan Rina meninggal 3 tahun lalu dalam kecelakaan kerja di proyek pengerjaan gudang milik anak perusahaan Aris.
Siska tersenyum tipis.
“Apakah Anda yakin perempuan ini tulus membantu adik Anda?” tanya Siska.
“Atau dia datang ke rumah ini untuk membalas dendam atas kematian tunangannya?”
Keraguan mulai memengaruhi pikiran Aris.
Dia terbiasa berprasangka buruk dalam dunia bisnis.
Aris melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Dia meminta Rina untuk meninggalkan rumah itu hari itu juga.
Rina menatap Aris tanpa meneteskan air mata.
“Anda tidak perlu percaya pada saya,” kata Rina pelan.
“Anda hanya perlu berhenti mempercayai wanita yang sudah membohongi Anda selama bertahun-tahun.”
Rina mengambil tasnya.
Sebelum keluar, Rina meminta untuk melihat kertas berisi 6 kata yang ditemukan Aris di meja perpustakaan pada hari pertama.
Aris mengeluarkan kertas itu dari dompetnya.
Rina melihat tulisan tersebut lalu menggelengkan kepala.
“Ini bukan tulisan tangan saya,” kata Rina.
Aris terkejut.
Mereka membandingkan tulisan di kertas itu dengan tulisan Rina di buku catatan biru.
Tulisan Rina sangat rapi, kecil, dan tegak.
Sementara tulisan di kertas itu memiliki bentuk huruf yang besar, tidak rata, dan tertekan dalam ke dalam serat kertas.
Aris mendadak teringat sesuatu.
Pada malam pertama dia pulang lebih awal, Nia sempat masuk ke dalam perpustakaan sebelum tidur.
Kertas berisi tulisan “Jangan pergi. Aku masih di sini” bukan ditulis oleh Rina.
Tulisan itu dibuat oleh Nia sendiri.
Setelah 14 bulan diam, Nia menggunakan seluruh tenaganya untuk menuliskan pesan pertama itu kepada kakaknya.
Namun Aris membutuhkan waktu bertingkat-tingkat untuk menyadarinya.
Aris berlari ke lantai 2 dan masuk ke kamar Nia.
Nia sedang duduk berbaring membelakangi pintu.
Dia menolak menatap Aris.
Aris tidak memberikan pidato panjang.
Dia tidak meminta maaf berulang kali.
Aris hanya duduk di lantai dekat pintu kamar adiknya dan diam.
Dia menunggu di sana sepanjang malam.
Malam berikutnya, Aris melakukan hal yang sama.
Pada hari ke-4, Nia meletakkan sebuah amplop di atas meja kecil dekat pintu.
Di dalamnya ada lembaran kertas berisi tulisan tangan Nia yang dibuat dengan susah payah:
“Saat aku tidak bisa bersuara, Rina mau menunggu. Jangan biarkan aku sendirian lagi.”
Aris membawa surat itu langsung ke rumah Rina di Tambora.
Aris meminta maaf secara terbuka atas prasangkanya.
Rina menolak bekerja kembali sebagai pegawai Aris.
Namun Rina setuju untuk datang kembali hanya demi Nia, dengan satu syarat baru.
Semua keputusan yang berkaitan dengan kesehatan, keuangan, dan masa depan Nia harus didiskusikan langsung dengan Nia sendiri.
Di sisi lain, kejutan lain muncul dari dalam rumah itu.
Hendra, anak kandung Siska, datang menemui Aris di perpustakaan.
Hendra membawa sebuah perekam suara tua dan beberapa dokumen fisik dari dalam lemari ibunya.
“Siska memang ibu kandung saya,” kata Hendra dengan suara rendah.
“Tetapi almarhum ayah Anda adalah ayah kandung saya juga.”
Aris terkejut mendengar kenyataan itu.
Hendra tumbuh di area belakang rumah mewah tersebut hanya sebagai anak pengurus rumah tangga.
Almarhum ayah mereka membiayai sekolah Hendra, tetapi tidak pernah mengakuinya secara resmi di depan publik.
Siska menyimpan rasa dendam yang mendalam selama 20 tahun karena melihat anak resminya mendapatkan segalanya, sementara Hendra hanya menjadi pekerja kasar.
Rasa dendam itu mendorong Siska untuk menguasai saham milik Nia agar Hendra mendapatkan bagian harta yang dianggapnya hak.
Namun Hendra tidak mau terlibat dalam rencana jahat ibunya.
“2 tahun lalu, saat semua orang memanggil saya ‘orang lapangan’, hanya Nia yang memanggil nama lengkap saya setelah membaca papan nama di ruang jaga,” kata Hendra.
“Dia memperlakukan saya sebagai manusia.”
Hendra menyerahkan seluruh rekaman percakapan Siska dengan pihak dokter palsu dan pengacara nakal yang disewa untuk mengurus dokumen pengampuan.
Perselisihan ini akhirnya sampai ke tingkat Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Siska mengajukan permohonan hak wali atas Nia dengan alasan gangguan jiwa permanen.
Pengacara Siska menggunakan data utang keluarga Rina dan riwayat kecelakaan kerja masa lalu untuk memojokkan posisi Rina di depan hakim.
Di dalam ruang sidang, Rina diberikan kesempatan untuk berbicara.
“Saya memang memiliki utang untuk berobat almarhum ibu saya,” kata Rina tenang.
“Saya bekerja keras setiap malam dan tidak pernah mengambil uang yang bukan hak saya.”
“Selama 11 bulan di rumah itu, saya adalah satu-satunya orang yang mau duduk diam mendengarkan Nia tanpa memaksanya menjadi orang lain.”
Dokter spesialis dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menyampaikan hasil analisis medis independen.
Hendra juga menyerahkan bukti rekaman manipulasi yang dilakukan ibunya.
Bukti aliran dana palsu yang dituduhkan kepada Rina terbukti dibuat oleh Siska menggunakan dokumen identitas buatan.
Di akhir persidangan, Nia berdiri dari kursi penonton.
Aris refleks hendak memegang tangan adiknya, tetapi dia menahan diri sesuai janjinya.
Rina juga tetap berdiri di tempatnya tanpa memegang Nia.
Nia berdiri tegak di depan majelis hakim.
Dia menarik napas panjang.
Suaranya keluar lambat dan terputus-putus, tetapi sangat tegas:
“Saya… tidak… gila.”
Seluruh ruangan sidang menjadi hening.
Nia melanjutkan ucapannya sambil menatap mata hakim.
“Saya… hanya… butuh… waktu… bicara.”
Hakim menatap Nia dengan penuh rasa hormat.
Tidak dibutuhkan kalimat yang sempurna untuk membuktikan kebenaran.
Kalimat sederhana itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Nia memiliki kesadaran penuh atas dirinya sendiri.
Hakim menolak seluruh permohonan pengampuan yang diajukan oleh Siska.
Hakim juga memerintahkan pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan pidana atas pemalsuan dokumen medis dan upaya penipuan hak waris yang dilakukan oleh Siska.
Siska diproses secara hukum atas tindakan kejahatannya.
Hendra memilih mundur dari rumah itu dan mencari pekerjaan baru di luar kota dengan usahanya sendiri.
Aris menjual sebagian saham anak perusahaan yang bermasalah, membersihkan manajemen internalnya, dan membentuk sebuah yayasan bantuan hukum untuk membantu keluarga yang anggapannya kehilangan hak pilih karena kondisi fisik.
Rina melanjutkan pendidikan keperawatannya melalui jalur beasiswa resmi tanpa menggunakan bantuan uang dari Aris.
Beberapa bulan kemudian, di suatu sore bulan Juni yang cerah.
4 orang duduk bersama di atas karpet ruang tengah rumah mewah Pondok Indah.
Nia sedang menyusun tumpukan balok kayu.
Bimo, adik Rina, duduk di sebelahnya sambil berdebat kecil bahwa balok warna biru harus ditaruh di bagian bawah.
Rina tertawa melihat mereka berdua.
Aris mencoba membantu dengan meletakkan balok warna merah tepat di tengah tumpukan.
“Salah,” kata Nia cepat.
Semua orang langsung menatap ke arah Nia.
Nia tersenyum tipis.
“Kakak… payah.”
Tumpukan balok kayu itu roboh ke karpet.
Tidak ada yang bertepuk tangan secara berlebihan.
Tidak ada yang membuat momen itu menjadi pertunjukan dramatis.
Aris hanya tersenyum, mengambil kembali balok merah yang jatuh, lalu menyerahkannya kembali ke tangan adiknya.
Sebelum pulang sore itu, Rina berjalan melewati ruang perpustakaan.
Di atas meja kayu, kertas kecil berisi 6 kata pertama milik Nia tersimpan rapi di dalam bingkai kaca.
Aris menghampiri Rina dan menunjuk ke arah bingkai itu.
“Ini milikmu,” kata Aris.
Rina menggelengkan kepala pelan.
“Bukan. Itu bukti suara Nia.”
Dari luar pintu, suara Nia terdengar memanggil nama mereka dengan lambat namun jelas.
Aris melihat ke arah adiknya.
Dia akhirnya mengerti arti dari menjaga yang sebenarnya.
Menjaga bukanlah mengambil alih hidup seseorang atau membuatkan keputusan untuk mereka.
Menjaga adalah duduk bersila di sampingnya, diam, dan memberikan waktu yang cukup hingga orang tersebut mampu menyelesaikan kalimatnya sendiri.
