Dia mengajukan pertanyaan yang jauh lebih berat.

PART 2

Rina memegang jemari Maya yang dingin.

Dia tidak menjawab pertanyaan itu di depan puluhan tamu undangan.

Tanpa mengucap sepatah kata pun kepada Aris atau Ibu Kartini, Rina menarik tangan Maya dan berjalan keluar dari gedung pesta.

Di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke rumah, Rina akhirnya bersuara.

“Ya, Maya. Aris Pramudya adalah ayah kandungmu.”

Maya tidak menangis atau berteriak.

Gadis itu hanya menatap keluar jendela sepanjang jalan.

Reaksi diam itu membuat hati Rina kian berat.

Keesokan harinya pukul 08:00, sebuah mobil berhenti di depan rumah Rina di daerah Kebayoran Lama.

Aris turun sendirian.

Tanpa pengawal, tanpa pengacara, dan tanpa ibunya.

Rina membuka pintu dan menatap pria yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.

“Untuk apa kamu ke sini?” tanya Rina dingin.

“Aku butuh jawaban, Rina,” kata Aris dengan suara bergetar. “Kenapa kamu pergi begitu saja 16 tahun lalu dan menyembunyikan anakku?”

Rina tersenyum sinis.

Dia tidak berdebat.

Rina berjalan ke dalam kamar, lalu keluar membawa sebuah kotak kayu tua.

Dia meletakkan kotak itu di atas meja tamu.

Di dalamnya ada 18 lembar surat yang tidak pernah terkirim, sebuah cincin perak murah, dan salinan surat perjanjian yang dibawa pengacara 16 tahun lalu.

Aris membuka lembaran surat-surat itu satu per satu.

Di sana tertera tanggal, stempel pos yang ditolak, dan tulisan tangan Rina yang amat dia kenali.

Surat-surat itu berisi pemberitahuan kehamilan, permohonan untuk bertemu, dan bukti penolakan uang dari keluarga Pramudya.

Wajah Aris berubah pucat.

“Ini tidak mungkin…” gumam Aris. “Ibu bilang kamu menerima uang lima ratus juta dan pergi ke Surabaya bersama pria lain. Ibu bahkan menyerahkan surat pamit dengan tulisan tanganmu.”

“Aku tidak pernah menerima uang itu dan tidak pernah menulis surat pamit,” balas Rina datar. “Aku diusir satpam kantor milik keluargamu saat hamil empat bulan.”

Telepon genggam Aris mendadak berdering.

Nama Pak Pak Joko, mantan sopir pribadi almarhum ayahnya, tertera di layar.

Aris menekan tombol speaker agar Rina juga bisa mendengar.

“Pak Aris,” kata Joko dari seberang telepon. “Saya dengar cerita dari pesta semalam. Saya merasa berdosa jika terus diam.”

“Apa maksudmu, Pak Joko?” tanya Aris.

“16 tahun lalu, almarhum Bapak dan Ibu Kartini yang menyuruh pengacara mendatangi Mbak Rina. Saya yang mengantar pengacara itu. Saya lihat sendiri Mbak Rina melempar amplop uang itu ke luar pintu.”

Aris mengepalkan tangannya rapat-rapat.

“Lalu kenapa Ibu punya surat pamit dari Rina?”

Joko menghela napas panjang.

“Bapak membayar seseorang untuk meniru tulisan tangan Mbak Rina. Bukan cuma itu, Pak. Ibu Kartini menyimpan berkas rahasia di brankas lama rumah utama. Berkas yang tidak boleh Anda ketahui sampai hari ini.”

Aris berdiri.

Dia menatap Rina.

“Ikut aku ke rumah utama,” tegas Aris. “Masalah ini harus selesai hari ini.”

Rina ragu, tetapi dia tahu Maya berhak mendapatkan kebenaran yang utuh.

Satu jam kemudian, Aris dan Rina tiba di kediaman keluarga Pramudya di kawasan Menteng.

Ibu Kartini terkejut melihat kedatangan mereka berdua.

“Aris! Mau apa kamu membawa wanita ini ke sini?” bentak Kartini.

Aris tidak menjawab ibunya.

Dia berjalan menuju ruang kerja almarhum ayahnya.

Di belakang lemari buku, ada sebuah brankas besi tua.

Aris memutar kode angka tanggal lahir ayahnya.

Pintu brankas terbuka.

Di dalam brankas, selain surat-surat tanah, terdapat satu map cokelat tebal.

Aris membuka map tersebut di depan Ibu Kartini dan Rina.

Isi map itu membuat ruang kerja menjadi sangat hening.

Di dalamnya ada puluhan foto Maya dari kecil hingga remaja.

Foto Maya saat pertama masuk sekolah dasar, foto Maya memenangkan lomba melukis, hingga foto Maya berjalan bersama Rina di pasar.

Ada juga laporan bulanan dari detektif swasta yang disewa oleh keluarga Pramudya selama 16 tahun.

Rina menatap foto-foto itu dengan kemarahan luar biasa.

“Kalian menyewa orang untuk mengawasi anakku?” suara Rina gemetar.

Ibu Kartini menundukkan kepala, tidak bisa membantah.

“Kenapa, Bu?” tanya Aris dengan nada sangat kecewa. “Kenapa Ibu menyembunyikan ini dari aku selama 16 tahun?”

Kartini akhirnya berbicara dengan suara parau.

“Karena ayahmu tidak ingin ada anak di luar pernikahan resmi yang merusak silsilah keluarga. Ayahmu takut pembagian saham perusahaan terganggu.”

“Tapi setelah ayah meninggal delapan tahun lalu, kenapa Ibu tetap diam?” cecar Aris.

Kartini memegang tepi meja.

“Karena Ibu takut kamu meninggalkan perusahaan jika tahu kebenarannya. Ibu takut kamu membenci Ibu.”

Namun di dalam map itu, Aris menemukan dokumen lain.

Ada lembaran bukti transfer rutin setiap bulan ke sebuah rekening atas nama Hendra Wijaya di Bandung.

Aris mengerutkan kening.

“Siapa Hendra Wijaya?”

Wajah Kartini mendadak semakin pucat.

Aris membaca dokumen lampiran di bawahnya.

Ternyata almarhum ayahnya memiliki anak laki-laki lain dari hubungan masa lalu sebelum menikah dengan Ibu Kartini.

Anak itu bernama Hendra, berusia empat tahun lebih tua dari Aris.

Selama puluhan tahun, ayah Aris memberi uang bungkam kepada ibu dari Hendra agar tidak menuntut hak waris.

Kartini telah mengetahui rahasia itu sejak lama.

Sebab itulah Kartini sangat panik ketika Rina hamil 16 tahun lalu.

Kartini takut rahasia kelam suaminya terbongkar jika ada masalah baru mengenai anak di luar nikah.

Kartini mengorbankan masa depan Rina dan Maya hanya demi menjaga kerapian kebohongan suaminya sendiri.

“Ibu mengorbankan hidupku dan anakku hanya untuk menutupi kejahatan Ayah?” suara Aris terdengar sangat rendah namun penuh penekanan.

“Ibu minta maaf, Aris…” bisik Kartini.

“Maaf Ibu tidak bisa mengembalikan 16 tahun waktu yang hilang dari hidup anakku,” potong Aris dingin.

Aris berpaling dari ibunya dan memandang Rina.

“Aku tahu aku tidak pantas meminta maaf sekarang. Tapi beri aku kesempatan untuk memperbaikinya.”

Rina menatap pria di depannya.

Rasa benci yang dia simpan belasan tahun perlahan berganti menjadi rasa kasihan pada takdir rumit keluarga itu.

“Bukan kepadaku kamu harus bertanggung jawab, Aris. Tapi kepada Maya,” ujar Rina tegas.

Sore harinya, Aris menunggu di depan gerbang sekolah Maya.

Pria itu tidak memakai mobil mewah atau dikawal pengawal pribadi.

Dia duduk di bangku taman dekat sekolah dengan kemeja biasa.

Saat bel sekolah berbunyi, Maya berjalan keluar bersama teman-temannya.

Gadis itu terkejut melihat Aris berdiri menunggu di dekat pohon.

Maya menghampirinya dengan raut wajah serba salah.

“Kenapa Bapak di sini?” tanya Maya.

“Bisa kita bicara sebentar?” panggil Aris dengan lembut.

Merek duduk di sebuah warung es krim tak jauh dari sekolah.

Aris menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi.

Dia mengaku bahwa dirinya dulu tidak cukup kuat melawan kebohongan orang tuanya.

Dia menunjukkan salinan 18 surat yang ditulis Rina dan laporan detektif yang baru saja dia ambil.

“Aku tidak minta kamu langsung memanggilku Ayah,” kata Aris. “Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku tidak pernah sengaja membuangmu.”

Maya melihat bukti-bukti di atas meja.

“Aku tidak butuh harta atau nama besar keluarga Pramudya,” kata Maya pelan. “Aku cuma ingin tahu kenapa ibuku harus menderita sendirian selama ini.”

“Aku tahu,” jawab Aris. “Dan aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk memastikan ibumu dan kamu tidak perlu berjuang sendirian lagi.”

Permasalahan tidak berhenti sampai di situ.

Beberapa hari kemudian, foto pertemuan di pesta ulang tahun Maya bocor ke media sosial.

Seorang tamu pesta mengunggah foto saat Aris memegang tangan Maya dengan keterangan bahwa Direktur Utama Pramudya Utama memiliki anak rahasia.

Isu tersebut membuat nilai saham perusahaan sempat goyah.

Beberapa pemegang saham mendesak Aris untuk mengeluarkan pernyataan bantahan formal demi menjaga citra perusahaan.

Mereka menyarankan agar Aris menyebut Rina sebagai penipu yang mencoba memeras perusahaan.

Aris menolak keras usulan tersebut.

Dalam rapat pemegang saham luar biasa, Aris berdiri di depan seluruh dewan komisaris.

Dia menampilkan dokumen pengakuan resmi.

“Gadis itu adalah anak kandung saya,” tegas Aris di hadapan para investor. “Ibunya adalah wanita paling terhormat yang pernah saya kenal. Jika kehadiran mereka dianggap merusak nilai perusahaan ini, saya siap mundur dari jabatan Direktur Utama hari ini juga.”

Keputusan tegas Aris membuat dewan komisaris bungkam.

Keberanian Aris mengakui kesalahannya justru mendapat simpati dari publik.

Citra perusahaan kembali pulih karena Aris dinilai sebagai pria yang bertanggung jawab dan jujur.

Langkah berikutnya, Aris pergi ke Bandung untuk menemui Hendra, saudara tirinya.

Pertemuan itu berlangsung tenang.

Hendra, yang kini bekerja sebagai guru sekolah dasar, tidak memiliki niat untuk menuntut harta keluarga Pramudya.

Aris memastikan hak-hak keperdataan Hendra diselesaikan secara adil tanpa ada lagi rahasia yang disembunyikan.

Namun hubungan dengan Maya tetap membutuhkan waktu.

Aris tidak berusaha memaksakan kehendak.

Dia mulai hadir pada hal-hal kecil.

Setiap Selasa dan Kamis sore, Aris mengosongkan jadwal kerjanya hanya untuk menjemput Maya dari tempat les.

Dia menghafal makanan favorit Maya, tahu bahwa anaknya alergi udang, dan selalu ada saat Maya membutuhkan bantuan pelajaran matematika.

Aris tidak lagi datang membawa hadiah mahal, melainkan membawa ketepatan waktu dan perhatian.

Kehadiran Aris yang konsisten perlahan mengikis rasa canggung di hati Maya.

Suatu malam di rumah kontrakan Rina, Aris duduk di meja makan sederhana sambil menikmati nasi goreng buatan Rina.

Rina memperhatikan interaksi antara Aris dan Maya dari dapur.

Tidak ada lagi rasa dendam di antara mereka.

Yang tersisa adalah kedewasaan untuk menerima masa lalu yang terlanjur rusak dan niat baik untuk menata masa depan.

Satu bulan kemudian, Ibu Kartini datang sendiri ke rumah Rina.

Kali ini tanpa sikap sombong.

Wanita tua itu duduk di kursi plastik kecil di teras rumah Rina.

“Rina,” kata Kartini dengan suara bergetar. “Saya datang bukan sebagai ibunya Aris. Saya datang sebagai seorang nenek yang sadar akan dosanya.”

Kartini meletakkan sebuah kotak perhiasan kecil di atas meja.

“Ini milik almarhum ibuku. Aku ingin Maya menyimpannya jika kamu mengizinkan.”

Maya keluar dari dalam rumah dan melihat neneknya.

“Saya tidak butuh perhiasan ini, Nenek,” kata Maya tenang. “Tapi saya mau Nenek datang kalau saya lulus sekolah nanti.”

Ibu Kartini menahan air mata, lalu mengangguk pelan.

Enam bulan setelah malam pesta ulang tahun itu, Rina membuka cabang atelier barunya di kawasan Jaksel.

Usaha itu berkembang bukan karena uang Aris, melainkan karena kerja keras Rina yang kini mendapat dukungan moral penuh dari keluarga.

Pada hari peresmian toko, Aris berdiri di samping Rina dan Maya.

Di sudut ruangan, Ibu Kartini duduk bersama Pak Joko yang kini kembali bekerja sebagai keluarga dekat.

Maya berjalan mendekati Aris yang sedang melihat hasil karya gaun buatan Rina.

“Ayah,” panggil Maya pelan.

Itu adalah pertama kalinya Maya menyebut kata itu secara langsung kepada Aris.

Aris menoleh, matanya berkaca-kaca.

“Ya, Maya?”

“Terima kasih karena tidak menyerah untuk datang tepat waktu,” kata Maya sambil tersenyum.

Aris merangkul bahu putri kandungnya itu dengan erat.

Kebenaran yang sempat tersembunyi selama 16 tahun akhirnya terbuka sepenuhnya.

Mereka bukan lagi keluarga yang dibangun atas dasar nama besar dan rahasia kelam, melainkan sebuah keluarga yang berdiri di atas kejujuran dan keberanian untuk saling memaafkan.