Pesan itu berisi kalimat pendek yang mengejutkan:

PART 2

Maya membaca pesan dari Siska dengan tenang.

Ia tidak membalas pesan itu.

Maya memilih mematikan notifikasi ponselnya dan fokus pada perjalanan menuju Bandung menggunakan kereta jadwal berikutnya.

Pukul 11.30 WIB, Maya tiba di hotel tempat rapat investasi akan digelar besok pagi.

Saat Maya berjalan menuju area sarapan dan ruang tunggu eksekutif di lantai 3, ia melihat Rendi dan Siska duduk bersama di meja sudut.

Rendi tampak sedang memberikan arahan dengan wajah serius.

“Besok kamu yang buka presentasinya, Siska. Kamu butuh panggung ini supaya klien kenal kamu,” kata Rendi dengan suara cukup keras saat Maya melintas di belakang mereka.

Rendi tidak menyadari kehadiran Maya sampai Maya berdehem pelan.

Rendi kaget, tetapi langsung menguasai diri dan berdiri dengan angkuh.

“Baguslah kalau kamu datang. Besok Siska yang akan membawakan bagian pembuka proposal,” ujar Rendi.

Maya menatap Rendi tanpa ekspresi.

“Boleh. Tapi kamu yang bertanggung jawab penuh atas apa yang dia sampaikan.”

Rendi tersenyum sinis.

“Tidak masalah. Siska sudah saya ajari.”

Keesokan paginya, pukul 09.00 WIB, rapat dengan jajaran direksi grup hotel dari Bandung dimulai.

Klien utama, Pak Hendra, duduk di ujung meja konferensi.

Rendi memberi isyarat kepada Siska untuk berdiri dan membuka presentasi.

Bencana dimulai pada menit ke-6.

Siska mulai terbata-bata saat menjelaskan proyeksi keuntungan tahunan.

Ia salah menyebut angka investasi awal, menggunakan slide proposal versi lama yang belum direvisi, dan terperanjat saat di layar proyektor muncul slide catatan internal.

Catatan itu dibuat oleh Rendi.

Di bagian bawah slide itu tertulis kalimat tebal:

“Kurangi peran Maya secara bertahap. Setelah menikah, Maya akan fokus di rumah dan Siska mengambil alih klien utama.”

Ruang rapat menjadi hening seketika.

Pak Hendra mengerutkan kening dengan wajah kecewa.

“Apa maksudnya ini, Pak Rendi? Kami mengundang tim Anda karena kami percaya pada reputasi Bu Maya Arisandi. Siapa yang menyusun berkas tidak rapi seperti ini?”

Rendi panik.

Wajahnya pucat pasi.

“Maaf Pak Hendra, ada kesalahan teknis sedikit…”

Pak Hendra memotong ucapan Rendi dan menatap Maya.

“Bu Maya, bisakah Anda yang mengambil alih jalannya rapat?”

Maya berdiri dari kursinya.

Ia membuka laptopnya, menyambungkan kabel HDMI, dan menampilkan berkas revisi final yang telah ia kerjakan semalaman.

Dalam waktu 20 menit, Maya menjelaskan seluruh rencana keuangan, efisiensi operasional, dan alur kerja proyek dengan sangat sempurna.

Pak Hendra tersenyum puas dan langsung menandatangani lembar kesepakatan awal di tempat.

Setelah rapat selesai dan pihak klien meninggalkan ruangan, Rendi langsung menghadang Maya di lorong hotel.

“Kamu sengaja kan, Maya?! Kamu tahu Siska bakal gagal tapi kamu diam saja!” bentak Rendi dengan napas memburu.

Maya merapikan garis pakaian kerjanya.

“Kamu yang memaksa dia maju. Kamu tahu betul dia belum siap, tapi kamu mengorbankan profesionalisme demi ego kamu.”

Sore harinya, Maya kembali ke Jakarta.

Ia tidak langsung pulang ke rumah, melainkan memeriksa log sistem kerja digital kantornya.

Maya memiliki hak akses sebagai Manajer Senior.

Hasil pelacakan sistem menunjukkan bahwa akun milik Siska telah mengunduh 14 dokumen rahasia perusahaan dalam 3 minggu terakhir.

Dokumen tersebut berisi analisis data klien, strategi harga, dan template proposal yang dibuat Maya selama 4 tahun terakhir.

Izin akses khusus itu diberikan langsung oleh akun milik Rendi.

Saat itulah Maya membuka kembali pesan yang dikirim Siska saat di stasiun kemarin.

Siska telah melampirkan tangkapan layar percakapan pribadi antara dirinya dan Rendi di aplikasi pesan singkat.

Di percakapan itu, Rendi menulis:

“Setelah nikah, Maya pasti bakal sibuk urus rumah dan anak. Kamu pelajari semua cara kerja dia sekarang. Begitu posisi Manajer kosong, aku yang bakal dorong kamu naik.”

Di bawahnya, ada balasan Rendi lagi:

“Ambil dulu posisinya di proyek Bandung. Nanti posisi jabatannya ikut sendiri.”

Maya menyimpan semua tangkapan layar tersebut sebagai bukti digital yang sah.

Ia mencetak seluruh log akses sistem dan bukti percakapan tersebut ke dalam sebuah map tebal.

Hari Senin pukul 08.30 WIB.

Maya masuk ke ruangan divisi Kepatuhan Internal (Compliance) dan Departemen SDM (HRD) untuk menyerahkan laporan resmi atas dugaan pelanggaran wewenang dan pembocoran dokumen internal.

15 menit kemudian, Rendi masuk ke ruangan kerja Maya dengan wajah panik.

Ia menutup pintu dengan kasar.

“Maya! Kamu gila ya melaporkan aku ke Compliance?! Kamu tahu sanksinya bisa bikin karirku hancur?!”

Maya tidak berhenti mengetik di laptopnya.

“Kamu yang memberikan izin akses dokumen rahasia tanpa persetujuan Manajer Utama. Itu pelanggaran Kode Etik Pasal 4.”

Rendi mengepalkan tangan di samping tubuhnya.

“Ini semua cuma gara-gara hal sepele! Cuma gara-gara Siska duduk di kursi kamu di kereta!”

Maya menghentikan ketikannya dan menatap Rendi tajam.

“Bukan soal kursi di kereta, Rendi. Soal kamu yang merasa berhak membagikan kerja keras saya, jabatan saya, dan hidup saya ke orang lain tanpa izin saya.”

Proses pemeriksaan internal berjalan cepat selama 3 hari.

Siska dipanggil oleh tim HRD.

Di depan tim pemeriksa, Siska akhirnya mengaku bahwa Rendi yang menyuruhnya mengunduh seluruh berkas milik Maya.

Rendi berjanji akan mempromosikan Siska menjadi Manajer Muda setelah Maya menikah dan mengundurkan diri.

Bukti-bukti digital yang diserahkan Maya terlalu kuat.

Rendi tidak bisa mengelak.

Manajemen memutuskan mencopot Rendi dari jabatannya sebagai Manajer Proyek.

Ia diturunkan menjadi staf biasa di divisi administrasi tanpa hak memegang klien eksternal.

Sementara itu, kontrak magang Siska langsung dihentikan hari itu juga dan ia diminta meninggalkan gedung kantor.

Hari Kamis malam, Ibu Heni mendadak mengadakan pertemuan keluarga di sebuah ruangan privat di restoran daerah Senopati, Jakarta Selatan.

Ibu Heni mengundang 8 orang kerabat dekat keluarga Rendi.

Ketika Maya datang memenuhi undangan tersebut, ia terkejut melihat Siska juga duduk di sana.

Siska mengenakan gaun putih polos, duduk di sebelah Rendi yang menunduk lesu.

Ibu Heni berdiri dengan raut wajah angkuh, mencoba menekan Maya di depan seluruh keluarga.

“Akhirnya datang juga kamu, Maya. Sini duduk di samping Rendi,” kata Ibu Heni dengan suara memerintah.

Maya memilih duduk di kursi paling ujung dekat pintu keluar.

“Saya cukup di sini, Tante.”

Seorang bibi Rendi langsung bersuara dengan nada menghakimi.

“Maya, kamu ini perempuan tapi kok keras kepala sekali? Rendi itu cuma khilaf sedikit soal anak magang. Masa hubungan 5 tahun dan rencana nikah dirusak cuma gara-gara hal sepele di kereta?”

Maya menatap wanita itu tenang.

“Kalau begitu, silakan Tante berikan posisi dan aset Tante ke orang lain kalau menurut Tante itu hal sepele.”

Bibi tersebut langsung bungkam dan membuang muka.

Ibu Heni mengetukkan jarinya di atas meja dengan wajah tegang.

“Pernikahan tinggal 7 minggu lagi! Undangan sudah dicetak 500 lembar! Keluarga di daerah sudah diberi tahu! Kamu mau bikin keluarga kami malu?”

Maya mengeluarkan sebuah map hitam dari tasnya dan meletakkannya di atas meja.

“Seluruh pesanan gedung, katering, dan dekorasi di Bogor atas nama saya sudah resmi dibatalkan. Pembatalan ini sah secara hukum.”

Ibu Heni membelalakkan mata.

“Apa?! Kamu batalkan semuanya?! Siapa yang beri kamu hak batalin acara keluarga?!”

“Saya yang bayar seluruh DP menggunakan uang pribadi saya, Tante. Jadi saya punya hak penuh untuk membatalkannya,” jawab Maya dingin.

Suasana ruangan menjadi sangat tegang.

Ibu Heni lalu menatap Rendi.

“Soal rumah di Tangerang, itu kan atas nama kamu, Rendi. Biarkan saja dia pergi, kita cari perempuan lain yang lebih penurut!”

Maya tersenyum tipis.

Ia membuka lembaran berikutnya dari map tersebut.

“Soal rumah Tangerang, ada surat perjanjian notaris bernomor 45/N/2024 yang Tante sendiri ikut menandatanganinya sebagai saksi.”

Maya membacakan isi surat tersebut di depan seluruh keluarga.

“Dalam surat perjanjian tersebut tertulis jelas bahwa uang DP dan angsuran sebesar Rp146.000.000 murni berasal dari rekening pribadi Maya Arisandi. Jika pernikahan batal, pihak Rendi wajib mengembalikan uang tersebut secara utuh dalam waktu 30 hari.”

Wajah Ibu Heni mendadak pucat pasi.

Ia menatap Rendi yang terus menundukkan kepala.

Rendi menyela dengan suara gemetar.

“Maya… kita bisa bicarakan ini baik-baik tanpa hukum…”

“Kita bicara pakai data dan dokumen hukum sekarang, Rendi. Seperti yang biasa kamu minta,” potong Maya.

Maya lalu membalik lembar berikutnya.

“Dan sekarang kita bahas uang Rp27.500.000 yang Tante Heni pinjam dari saya dalam waktu 2 tahun terakhir.”

Rendi mendongak kaget.

“Uang apa? Ibu pinjam uang ke Maya?”

Maya mengeluarkan salinan bukti transfer bank dan tangkapan layar pesan WhatsApp dari Ibu Heni.

Di pesan itu, Ibu Heni berkali-kali meminta transfer uang untuk membayar cicilan mobil, membeli perhiasan, dan biaya arisan, sambil memohon agar Maya tidak memberitahu Rendi.

“Tante selalu bilang ‘nanti Tante ganti begitu uang deposito cair’. Ada 8 bukti transfer resmi di sini,” kata Maya sambil menunjukkan lembaran kertas itu.

Rendi menatap ibunya dengan raut wajah tidak percaya.

“Ibu… Ibu minta uang ke Maya tanpa cerita ke Rendi?”

Ibu Heni tidak bisa menjawab lagi.

Keangkuhannya runtuh seketika di depan kerabat keluarganya sendiri.

Ibu Heni menunjuk Siska dengan marah untuk mengalihkan perhatian.

“Lagipula kamu! Kenapa kamu ikut-ikutan ada di sini?!”

Siska yang sejak tadi diam, terkejut dan mulai terisak.

“Mas Rendi yang suruh saya datang ke sini supaya Mba Maya mau dengar penjelasan…”

Maya mengeluarkan ponselnya dan mengaktifkan speaker.

Ia memutar rekaman suara.

Rekaman itu diambil malam sebelum mereka berangkat ke Bandung, saat Siska mendatangi kamar hotel Maya untuk memohon agar Maya tidak melaporkannya.

Di rekaman itu, suara Siska terdengar jelas:

“Mas Rendi yang bilang ke saya kalau dia sudah bosan sama Mba Maya. Dia bilang Mba Maya terlalu dominan dan bikin dia merasa kerdil. Mas Rendi janji kalau sudah nikah, Mba Maya bakal disuruh berhenti kerja dan posisinya diserahkan ke saya…”

Suara dari rekaman itu bergema di seluruh ruangan privat restoran.

Seluruh kerabat Rendi saling pandang dengan wajah malu.

Siska menangis histeris lalu berdiri dan berlari keluar dari restoran.

Rendi menatap Maya dengan mata merah.

“Maya… aku tidak pernah bermaksud jahat…”

Maya merapikan berkas-berkasnya dan memasukkannya kembali ke dalam map.

“Kamu tidak bermaksud jahat, Rendi. Kamu cuma ingin memanfaatkan kepintaran saya, uang saya, dan kerja keras saya, tapi kamu tidak mau menerima keberhasilan saya.”

Maya berdiri dari kursinya.

“Pihak pengacara saya sudah mengirimkan surat somasi resmi ke alamat rumah Tante Heni. Ada waktu 30 hari untuk melunasi seluruh total Rp173.500.000. Jika tidak, proses hukum perdata akan berjalan.”

Maya berjalan keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi.

Rendi berlari mengejar Maya sampai ke area parkir restoran.

“Maya! Tunggu!”

Maya berhenti di samping mobilnya dan berbalik.

Rendi menatapnya dengan wajah penuh penyesalan.

“Kalau… kalau hari itu di kereta aku memberikan kursi 8A itu kembali ke kamu… apa kita masih bisa sama-sama?” tanya Rendi dengan suara serak.

Maya menatap Rendi untuk terakhir kalinya.

“Mungkin. Tapi kursi di kereta itu cuma pintu yang terbuka.”

“Pintu apa, Maya?”

“Pintu yang memperlihatkan ke saya, bahwa kapan pun ada pilihan, kamu akan selalu mengorbankan saya demi kenyamanan kamu sendiri.”

Rendi bungkam seribu bahasa.

“Aku minta maaf, Maya…”

“Saya terima maaf kamu. Tapi saya tidak akan pernah kembali.”

Maya masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin, dan mengendarai mobilnya membelah jalanan Jakarta yang ramai.

3 bulan berlalu sejak kejadian malam itu.

Rumah di Tangerang akhirnya dijual oleh Rendi untuk melunasi seluruh utangnya kepada Maya dan membayar biaya pembatalan vendor.

Ibu Heni tidak pernah lagi berani menghubungi Maya setelah seluruh uang pinjaman dilunasi melalui transfer pengacara.

Di kantor, proyek pembangunan hotel di Bandung fase pertama sukses besar.

Direksi perusahaan mengangkat Maya Arisandi menjadi Senior Vice President Divisi Konsultasi Bisnis.

Rendi tetap bertahan di kantor yang sama sebagai staf biasa, memindahkan berkas-berkas fisik di ruangan arsip tanpa pernah lagi dilibatkan dalam proyek strategis.

Suatu pagi di Stasiun Gambir, Jakarta.

Maya berdiri di peron menunggu Kereta Cepat Argo Parahyangan menuju Bandung untuk pembukaan proyek fase 2.

Ia datang 30 menit sebelum jadwal keberangkatan.

Maya menikmati secangkir kopi panas sambil memegang tiket digital di ponselnya.

Nomor kursi: 8A.

Saat melangkah masuk ke dalam gerbong eksekutif, Maya melihat kursinya bersih dan kosong.

Sinar matahari pagi menembus jendela kaca, menerangi tempat duduk tersebut.

Maya meletakkan koper kecilnya di bagasi atas, lalu duduk dengan nyaman di kursi dekat jendela.

Ia membuka laptopnya dan tersenyum menatap pemandangan kota yang mulai bergerak cepat di luar kaca.

Kursi itu tidak pernah berubah.

Yang berubah adalah Maya yang kini tahu persis berapa harga dari rasa hormat terhadap dirinya sendiri.