PUKUL TIGA PAGI, POLISI MENYATAKAN ISTRIKU TEWAS DI HOTEL—PADAHAL DIA TIDUR DI SAMPINGKU, DAN CCTV MENUNJUKKAN DUA WAJAH YANG SAMA.
## BAGIAN 1
Ponselku bergetar pukul 03.07.
“Pak Rendra?”
“Iya.”
“Ini Polsek Menteng. Kami perlu memastikan identitas seorang perempuan yang ditemukan meninggal di Hotel Arunika.”
Aku langsung duduk.
“Apa hubungannya dengan saya?”
Petugas itu diam sebentar.
“Barang milik korban menunjukkan dia adalah istri Bapak, Laras Prameswari.”
Aku menoleh ke kiri.
Laras tidur di sampingku.
Rambutnya menutupi separuh wajah.
Tangannya masih menggenggam ujung selimut.
“Pak, Anda masih di sana?”
“Istri saya ada di kamar.”
Sunyi.
Kemudian suara petugas berubah.
“Jangan bangunkan dia dulu.”
Dadaku langsung sesak.
Aku turun dari ranjang perlahan.
Saat kakiku menyentuh lantai, Laras membuka mata.
“Siapa?”
Aku mematikan layar ponsel.
“Nomor salah.”
Dia menatapku beberapa detik.
Terlalu lama.
Lalu berkata, “Jam tiga pagi?”
Aku memaksakan senyum.
“Tidur lagi.”
Aku masuk kamar mandi dan mengunci pintu.
Petugas masih tersambung.
“Korban ditemukan pukul 02.34 di ruang laundry hotel. Tidak ada luka berat. Kami masih menunggu pemeriksaan.”
“Apa buktinya dia Laras?”
“E-KTP. Kartu pegawai. Dua kartu bank. Dan sebuah kalung.”
“Apa bentuk kalungnya?”
Petugas menyebutkannya.
Aku langsung menutup mulut.
Kalung perak dengan liontin kecil berbentuk daun.
Hadiah dariku pada ulang tahun pernikahan kami.
Aku melihat ke cermin.
Laras tidak memakai kalung itu malam ini.
Aku baru menyadarinya.
“Pak Rendra?”
“Saya datang.”
Ketika aku keluar dari kamar mandi, Laras sudah duduk di tepi ranjang.
“Ada masalah?”
“Teman kantor masuk rumah sakit.”
Aku mengambil celana.
“Aku ikut.”
“Tidak usah.”
Dia berdiri.
“Teman siapa?”
Aku menatapnya.
“Dimas.”
Wajahnya santai.
Padahal aku tidak punya teman bernama Dimas.
“Kasihan,” katanya. “Hati-hati.”
Aku keluar.
Begitu pintu apartemen tertutup, aku langsung menelepon satpam.
“Pak Darto, malam ini istri saya sempat keluar?”
“Bu Laras?”
“Iya.”
Satpam berpikir.
“Tidak lihat, Pak.”
“Cek CCTV.”
Tiga menit kemudian dia menelepon kembali.
Suaranya bingung.
“Pak… Ibu keluar jam 00.48.”
Aku berhenti di depan lift.
“Kembali kapan?”
“Jam 02.51.”
Aku menatap pintu apartemenku.
Laras mengatakan dia tidur sejak pukul sebelas.
“Send videonya.”
Rekaman masuk.
Aku memutarnya.
Perempuan dengan jaket krem keluar dari lift.
Laras.
Wajahnya terlihat jelas.
Pukul 00.48.
Video kedua menunjukkan dia kembali pukul 02.51.
Dua puluh tiga menit setelah perempuan bernama Laras ditemukan meninggal di hotel.
Aku memperbesar gambar.
Ada sesuatu di tangannya.
Tas kain hitam.
Aku pernah melihat tas itu.
Tadi sore tas tersebut berada di lemari kami.
Aku kembali membuka pintu apartemen tanpa suara.
Laras tidak ada di kamar.
Terdengar bunyi dari dapur.
Aku berjalan pelan.
Dia sedang berdiri di depan wastafel.
Membakar sesuatu.
“Apa itu?”
Dia tersentak.
Kertas di tangannya langsung dilempar ke bak cuci.
“Struk belanja.”
Aku mengambilnya sebelum api habis.
Separuh terbakar.
Masih terlihat tulisan:
**ARUNIKA HOTEL — KAMAR 1706.**
Laras langsung merampasnya.
“Kenapa menggeledah barangku?”
“Kamu bilang tidur sejak jam sebelas.”
Dia membeku.
Aku mengeluarkan ponsel.
“CCTV menunjukkan kamu pulang jam 02.51.”
Wajahnya berubah.
Bukan takut.
Marah.
“Siapa yang kasih kamu rekaman itu?”
Pertanyaan itu membuat tengkukku dingin.
Bukan, “Kamu salah.”
Bukan, “Itu bukan aku.”
Dia justru ingin tahu siapa yang memberiku bukti.
Bel berbunyi.
Tiga kali.
Laras langsung menoleh.
Aku membuka pintu.
Dua polisi berdiri di luar.
Salah satunya memperlihatkan kartu identitas.
“Pak Rendra?”
Laras muncul di belakangku.
Petugas itu menatapnya.
Wajahnya langsung pucat.
“Bu Laras?”
“Iya.”
“Boleh kami melihat KTP Ibu?”
Laras kembali ke kamar.
Dia keluar membawa dompet.
KTP-nya ada.
Asli.
Nama sama.
Nomor identitas sama dengan yang ditemukan di hotel.
Petugas kedua langsung menelepon seseorang.
“Ada dua KTP dengan NIK identik.”
Laras menyilangkan tangan.
“Berarti KTP korban palsu.”
Mungkin.
Sampai petugas pertama mengeluarkan sebuah foto.
“Pak Rendra, kenal cincin ini?”
Aku melihat cincin emas tipis.
Ada satu batu hijau kecil.
Aku mengenalnya.
Tetapi bukan milik Laras.
Cincin itu milik kakaknya, Ratih.
Ratih meninggal sembilan tahun lalu.
Setidaknya itu yang selalu dikatakan Laras.
“Dari mana kalian dapat?”
“Dipakai korban.”
Laras menjatuhkan dompetnya.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar kehilangan warna.
Aku menoleh kepadanya.
“Kamu bilang cincin Ratih ikut dikuburkan.”
Dia tidak menjawab.
Ponsel petugas berdering.
Dia mengangkatnya.
“Iya, Dok.”
Beberapa detik kemudian, dia menatap Laras.
Lalu menatapku.
“Kami baru mendapat hasil pencocokan sidik jari korban.”
Aku menahan napas.
Petugas itu membalik layar tabletnya.
“Sidik jari perempuan yang meninggal cocok dengan data biometrik resmi Laras Prameswari.”
Aku menunjuk perempuan yang berdiri dua meter dariku.
“Kalau begitu… dia siapa?”
Laras mundur satu langkah.
Dan dari saku piyamanya, jatuh sebuah kartu identitas lama dengan foto wajahnya sendiri.
Namanya bukan Laras.
**RATIH PRAMESWARI.**
BAGIAN 2
DUA WAJAH, SATU KEBOHONGAN
Petugas pertama melangkah maju, sepatunya berderit di lantai keramik apartemenku. Dia menunduk, mengambil kartu identitas yang jatuh dari saku piyama Laras—atau siapa pun perempuan yang berdiri di depanku sekarang.
Kartu itu sudah usang. Sudut-sudutnya terlipat, warnanya memudar seperti foto yang terlalu lama terpapar matahari. Tapi fotonya masih jelas. Wajah perempuan muda dengan rambut sebahu, senyum tipis yang aku kenal terlalu baik.
Namanya: RATIH PRAMESWARI.
Tanggal lahir: 14 Maret 1989.
“Bu,” kata petugas itu pelan, “boleh kami duduk?”
Laras—atau Ratih—tidak bergerak. Tubuhnya kaku seperti patung yang baru saja retak. Matanya menatap kartu identitas di tangan petugas itu dengan ekspresi yang sulit kubaca. Bukan panik. Bukan takut.
Lebih seperti… pasrah.
“Aku membuat kopi,” katanya tiba-tiba. Suaranya aneh. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja ketahuan berbohong selama sembilan tahun.
Dia berbalik menuju dapur.
Petugas kedua, yang sejak tadi diam, menyentuh lenganku.
“Pak, jangan biarkan dia sendirian.”
Aku mengangguk dan mengikuti.
Di dapur, Laras—Ratih—sedang menuang air ke dalam ketel. Tangannya stabil. Terlalu stabil. Seperti seseorang yang sudah lama berlatih menyembunyikan gemetar.
“Siapa yang meninggal di hotel itu?” tanyaku.
Dia tidak menoleh.
“Kamu sudah dengar jawabannya.”
“Mereka bilang sidik jarinya cocok dengan data Laras Prameswari.”
“Iya.”
“Jadi siapa yang kubawa ke kantor pos setiap minggu? Siapa yang menandatangani surat nikah denganku? Siapa yang—”
Dia meletakkan ketel dengan suara keras.
“Aku.”
Dia berbalik.
“Aku yang menandatangani surat nikah itu. Aku yang kamu bawa ke kantor pos. Aku yang kamu tiduri setiap malam selama sembilan tahun.” Matanya berkaca-kaca. “Tapi namaku bukan Laras.”
“Aku tahu sekarang.”
“Kamu tidak tahu apa-apa, Rendra.”
Petugas pertama muncul di ambang pintu dapur.
“Bu Ratih, kami perlu membawa Ibu ke kantor untuk pemeriksaan.”
“Ratih sudah mati,” katanya tajam. “Sembilan tahun lalu.”
Petugas itu terdiam.
Aku melangkah maju.
“Kalau Ratih sudah mati, siapa yang meninggal di Hotel Arunika malam ini?”
Dia menatapku lama. Ada sesuatu di matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sesuatu yang gelap, seperti dasar laut yang tidak pernah tersentuh cahaya.
“Kakakku,” jawabnya akhirnya. “Laras.”
YANG TERSIMPAN DI BALIK CINCIN
Kantor Polsek Menteng pukul 04.30 pagi terasa seperti dunia yang berbeda. Lampu neon yang berkedip, kopi yang sudah dingin di meja, dan bau kertas yang menua. Aku duduk di ruang interogasi bersama seorang detektif bernama Pak Hendra—pria kurus dengan kacamata tebal dan tatapan yang membuat siapa pun merasa bersalah.
“Ceritakan dari awal,” katanya.
Aku menceritakan semuanya. Panggilan telepon pukul 03.07. Laras yang tidur di sampingku. CCTV yang menunjukkan dia keluar dan kembali. Struk hotel yang setengah terbakar. Cincin Ratih.
Pak Hendra mendengarkan tanpa interupsi. Ketika aku selesai, dia membuka folder di depannya.
“Pak Rendra, ada beberapa hal yang perlu Bapak ketahui.”
Dia mengeluarkan foto-foto. Korban di hotel. Perempuan dengan jaket krem—jaket yang sama yang kupakai di CCTV. Wajahnya tenang. Hampir seperti sedang tidur.
“Korban ditemukan pukul 02.34 di ruang laundry lantai 17,” kata Pak Hendra. “Penyebab kematian: keracunan sianida. Tidak ada tanda-tanda kekerasan.”
“Sianida?”
“Ada di kopi yang dia minum. Kami menemukan cangkir di kamar 1706. Sidik jari di cangkir itu…” Dia berhenti. “Milik istri Bapak.”
“Laras?”
“Ya. Laras Prameswari.”
Aku menelan ludah.
“Tapi kalau sidik jari korban cocok dengan data Laras Prameswari, dan sidik jari di cangkir juga milik Laras Prameswari…”
“Maka kita punya satu orang dengan dua sidik jari yang sama di dua tempat berbeda,” kata Pak Hendra. “Yang secara biologis tidak mungkin terjadi pada dua orang yang berbeda.”
Aku menatapnya.
“Kembar.”
Pak Hendra mengangguk pelan.
“Kami sudah menghubungi rumah sakit tempat Ratih dirawat sembilan tahun lalu. Menurut catatan, Ratih Prameswari meninggal karena leukemia. Dimakamkan di TPU Karet Bivak.”
“Aku menghadiri pemakamannya.”
“Apakah Bapak melihat jenazahnya?”
Aku terdiam.
Ingatanku kembali ke sembilan tahun lalu. Hari hujan. Payung hitam. Laras—istriku—menangis di pelukanku. Peti mati tertutup. “Kakakku tidak ingin dilihat dalam kondisi seperti itu,” katanya saat itu. “Dia ingin dikenang saat masih sehat.”
Aku tidak melihat wajah Ratih. Tidak ada yang melihatnya.
“Peti itu tertutup,” kataku pelan.
“Kami akan melakukan ekshumasi besok pagi.”
RUANG GANTI YANG TERKUNCI
Pukul 06.00, aku diizinkan pulang sementara. Dua petugas berjaga di depan apartemenku. Laras—Ratih—ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Tapi aku tidak bisa pulang.
Aku duduk di lobi hotel Arunika, menatap lift yang membawa orang-orang ke kamar mereka. Kamar 1706. Tempat seorang perempuan bernama Laras Prameswari meninggal dengan sianida di kopinya.
Resepsionis hotel, seorang perempuan muda bernama Sinta, menatapku dengan curiga.
“Pak, ada yang bisa saya bantu?”
“Aku ingin tahu siapa yang memesan kamar 1706.”
Dia mengetik di komputer.
“Kamar itu dipesan atas nama Bapak.”
” Apa ?”
“Rendra Wijaya. Kamar 1706, check-in kemarin sore pukul 15.42.”
Darahku dingin.
“Aku tidak pernah memesan kamar di sini.”
Sinta menatapku.
“Kami punya CCTV di lobi. Boleh saya lihat?”
Dia mengangguk dan memutar rekaman.
Pukul 15.42. Seorang pria mendekati meja resepsionis. Tinggi, rambut pendek, kemeja putih. Wajahnya… wajahku.
Aku menonton diriku sendiri menandatangani formulir check-in. Menyerahkan KTP. Tersenyum kepada Sinta.
” Itu bukan aku ,” kataku.
“Pak, itu jelas—”
” Itu bukan aku! “
Sinta mundur. Petugas keamanan mendekat.
Aku menatap layar itu lagi. Pria itu—aku—mengambil kunci kamar dan berjalan menuju lift. Sebelum pintu lift tertutup, dia menoleh ke kamera.
Dan tersenyum.
Senyum itu bukan senyumku.
Aku tidak pernah tersenyum seperti itu.
PESAN DARI YANG SUDAH MATI
Pukul 08.00, aku menerima telepon dari Pak Hendra.
“Pak Rendra, kami menemukan sesuatu di kamar 1706.”
“Apa?”
“Ada laptop di bawah kasur. Terkunci, tapi tim forensik berhasil membukanya.”
“Apa isinya?”
“Video.”
Aku menunggu.
“Video Bapak.”
” Apa? “
“Video Bapak… membunuh seseorang.”
Dunia sekitarku menghilang. Suara lobi hotel, gemerisik koran, denting cangkir kopi—semuanya lenyap.
“Video itu palsu.”
“Kami belum bisa memastikan. Tapi ada yang lebih aneh lagi.”
” Apa? “
“Video itu direkam sembilan tahun lalu. Tanggalnya 14 Maret 2015.”
Tanggal itu.
Tanggal kematian Ratih.
“Pak Rendra, apakah Bapak ingat apa yang terjadi pada 14 Maret 2015?”
Aku menutup mata.
Hujan. Payung hitam. Peti mati tertutup.
Dan sebuah janji yang kupaksakan untuk kulupakan.
BAGIAN 3
YANG TERKUBUR BERSAMA PETI
Ekshumasi dilakukan pukul 10.00 di TPU Karet Bivak. Aku berdiri di bawah pohon beringin, menonton petugas menggali tanah yang sudah sembilan tahun tidak tersentuh. Tanah itu keras, berwarna coklat tua, seperti luka yang mengering.
Pak Hendra berdiri di sampingku.
“Bapak tidak perlu melihat ini.”
“Aku perlu.”
Peti itu muncul pukul 11.30. Kayunya sudah lapuk, tapi masih utuh. Petugas membuka tutupnya dengan hati-hati.
Aku menahan napas.
Di dalam peti itu tidak ada jenazah.
Hanya boneka.
Boneka plastik dengan wajah yang dilukis tangan. Rambut palsu. Gaun putih. Dan sebuah amplop coklat di atasnya.
Pak Hendra mengambil amplop itu dan membukanya.
Di dalamnya ada surat. Tulisan tangan yang aku kenal—tulisan Laras.
“Rendra, kalau kamu membaca ini, berarti aku sudah gagal. Aku mencoba melindungimu. Tapi kebohongan ini terlalu besar untuk kubawa mati. Aku bukan Laras. Aku Ratih. Dan Laras—kakakku—masih hidup. Dia yang memalsukan kematianku. Dia yang mengambil identitasku. Dia yang menikahimu. Aku mencoba menghentikannya malam ini. Tapi aku terlambat. Aku minta maaf. Aku mencintaimu. Selalu.”
Tanganku gemetar.
” Ini tidak masuk akal .”
Pak Hendra menatapku.
“Pak Rendra, ada satu hal lagi.”
Dia mengeluarkan ponsel dan memutar video.
Video dari kamar 1706. Pukul 02.15. Seorang perempuan masuk ke kamar. Dia memakai jaket krem. Wajahnya—wajah Laras. Wajah istriku.
Dia menuang sesuatu ke dalam cangkir kopi.
Lalu dia menoleh ke kamera.
Dan tersenyum.
Senyum yang sama seperti pria di lobi hotel.
“Aku tahu kamu menonton ini, Rendra,” katanya di video. “Aku tahu kamu akan datang. Aku tahu kamu akan mencari kebenaran. Tapi kebenaran itu tidak akan menyelamatkanmu. Karena kebenaran adalah aku.”
Video berhenti.
Aku menatap layar yang gelap.
” Dia yang membunuh korban ,” kataku pelan. “Dia yang membunuh Laras.”
“Kami belum bisa memastikan.”
“Tapi dia mengaku.”
“Di video, ya. Tapi pengadilan butuh lebih dari itu.”
Aku mengepalkan tangan.
“Di mana dia sekarang?”
“Di kantor polisi. Menunggu pemeriksaan lanjutan.”
PENGAKUAN DI TENGAH MALAM
Pukul 14.00, aku diizinkan bertemu dengannya. Ruang interogasi itu kecil, hanya ada meja besi dan dua kursi. Dia duduk di seberangku, tangan diborgol ke meja. Rambutnya kusut. Matanya merah. Tapi senyumnya—senyum itu masih ada.
“Kamu datang,” katanya.
“Aku datang untuk mendengar kebenaran.”
“Kebenaran?” Dia tertawa pelan. “Kebenaran itu relatif, Rendra. Tergantung siapa yang bercerita.”
“Ceritakan.”
Dia menatapku lama.
“Aku Ratih. Laras adalah kembarku. Kami lahir 14 Maret 1989. Identik. Sama dalam segala hal—kecuali satu.”
“Apa?”
“Aku mencintaimu.”
Aku terdiam.
“Sejak pertama kali kamu datang ke rumah kami, aku sudah mencintaimu. Tapi kamu memilih Laras. Kamu selalu memilih Laras. Karena dia lebih… sempurna. Lebih cantik. Lebih pintar. Lebih baik dalam segala hal.”
“Ratih—”
“Jangan panggil aku Ratih!” bentaknya. “Ratih sudah mati. Aku yang membunuhnya.”
Darahku dingin.
” Apa? “
“Sembilan tahun lalu. Aku dan Laras bertengkar. Dia tahu aku mencintaimu. Dia mengejekku. Dia bilang aku tidak akan pernah mendapatmu. Jadi aku…” Dia berhenti. “Aku mendorongnya dari tangga.”
“Tapi mayatnya—”
“Tidak ada mayat. Laras selamat. Tapi dia amnesia. Tidak ingat apa pun. Termasuk namanya sendiri.”
Aku menahan napas.
“Jadi aku mengambil kesempatan itu. Aku bilang dia adalah Ratih. Aku bilang Ratih yang meninggal. Aku memalsukan kematianku sendiri. Aku mengubur boneka. Aku menangis di pemakaman. Dan aku menikahimu.”
“Tapi KTP—”
“Aku mengurus semua dokumen. Aku punya akses ke data kependudukan melalui pekerjaanku di kelurahan. Aku mengganti nama Laras menjadi Ratih di sistem. Aku membuat KTP baru. Aku menghapus jejaknya.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin hidupnya. Aku ingin menjadi dia. Aku ingin menjadi perempuan yang kamu cintai.”
Aku menatapnya dengan perasaan yang tidak bisa kujelaskan. Campuran antara marah, sedih, dan… kasihan.
“Tapi Laras kembali,” kataku.
Dia mengangguk.
“Tiga bulan lalu. Ingatannya kembali. Dia menemukanku. Dia mengancam akan melaporkan semuanya. Aku panik. Aku mengatur pertemuan di Hotel Arunika. Aku bilang aku akan menyerahkan identitasnya kembali. Tapi aku…”
“Kamu meracuninya.”
Dia tidak menjawab.
“Kamu meracuni kakakmu sendiri.”
Dia menatapku.
“Dia tidak pernah menjadi kakakku. Dia selalu menjadi bayang-bayangku. Selalu lebih baik. Selalu lebih dicintai. Selalu lebih segalanya.”
“Tapi dia tidak bersalah.”
“Tidak ada yang tidak bersalah dalam cerita ini, Rendra.” Dia mencondongkan tubuh ke depan. “Termasuk kamu.”
Aku mundur.
“Apa maksudmu?”
“Kamu tidur dengan aku selama sembilan tahun. Kamu bilang kamu mencintaiku. Kamu bilang aku adalah segalanya. Tapi kamu tidak pernah benar-benar mengenalku. Kamu mencintai wajah ini.” Dia menyentuh pipinya. “Wajah Laras. Bukan aku.”
“Itu tidak benar.”
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak pernah curiga? Kenapa kamu tidak pernah bertanya kenapa aku tidak punya foto masa kecil? Kenapa aku tidak pernah menghubungi keluargaku? Kenapa aku selalu menghindar ketika kamu ingin mengunjungi makam Ratih?”
Aku terdiam.
“Karena kamu tidak ingin tahu,” katanya pelan. “Karena kamu nyaman dengan kebohongan ini. Karena kebohongan ini membuatmu bahagia.”
Dia benar.
Aku tidak ingin tahu.
KEBENARAN YANG TERLALU TERANG
Pukul 18.00, Pak Hendra memanggilku ke ruangannya.
“Ada perkembangan.”
“Apa?”
Dia memutar video lagi. Video dari lobi hotel. Pria yang mirip denganku.
“Kami melacak pria ini. Namanya Bayu Pratama. Dia aktor. Spesialis makeup prostetik.”
“Jadi dia disewa?”
“Ya. Oleh seseorang.”
“Siapa?”
Pak Hendra menatapku.
“Istri Bapak.”
Aku menutup mata.
“Dia menyewa aktor untuk berpura-pura menjadi Bapak. Untuk memesan kamar hotel. Untuk membuat alibi palsu. Untuk mengarahkan kecurigaan kepada Bapak.”
“Kenapa?”
“Karena dia ingin Bapak yang dipenjara. Dia ingin bebas.”
Aku tertawa pahit.
“Sembilan tahun. Sembilan tahun aku hidup dengan seseorang yang tidak pernah ada.”
“Pak Rendra, ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Kami memeriksa rekam medis Laras Prameswari. Dia tidak pernah amnesia.”
Aku menatapnya.
” Apa? “
“Dia tahu siapa dirinya. Dia tahu dia adalah Laras. Tapi dia memilih untuk berpura-pura. Dia memilih untuk menjadi Ratih.”
“Kenapa?”
“Karena dia juga mencintai Bapak.”
Dunia terasa berputar.
“Dia…”
“Dia tahu Ratih mencintai Bapak. Dia tahu Ratih akan menikah dengan Bapak jika dia tidak ada. Jadi ketika Ratih mendorongnya dari tangga dan dia selamat… dia memutuskan untuk membalas.”
“Balas dendam?”
“Ya. Dia berpura-pura amnesia. Dia membuat Ratih percaya bahwa dia adalah Ratih. Dia membuat Ratih mengambil identitasnya. Dia membuat Ratih menikah dengan Bapak. Lalu dia menghilang.”
“Tapi kenapa?”
“Karena dia ingin Ratih merasakan apa yang dia rasakan. Hidup dalam kebohongan. Hidup sebagai orang lain. Hidup tanpa identitas.”
“Dan setelah itu?”
“Dia kembali. Tiga bulan lalu. Untuk mengakhiri semuanya.”
“Jadi…”
“Laras meracuni dirinya sendiri.”
Aku tercekat.
” Apa? “
“Dia menaruh sianida di kopinya sendiri. Dia tahu Ratih akan datang ke kamar itu. Dia tahu Ratih akan panik. Dia tahu Ratih akan lari. Dia ingin Ratih dipenjara karena pembunuhan yang tidak pernah dia lakukan.”
“Tapi sidik jari di cangkir—”
“Milik Ratih. Karena Ratih yang menuang kopi. Tapi sianidanya…”
“Ditambahkan oleh Laras sendiri.”
“Ya.”
Aku menatap Pak Hendra.
“Jadi…”
“Ratih tidak membunuh siapa pun.”
“Aku menutup mata. Sembilan tahun. Dua perempuan. Satu kebohongan yang tidak pernah bisa kuurai.
“Di mana Ratih sekarang?”
“Di sel tahanan. Menunggu persidangan.”
“Untuk apa?”
“Pemalsuan identitas. Penipuan. Tapi bukan pembunuhan.”
Aku berdiri.
“Aku ingin menemuinya.”
EPILOG: DUA WAJAH, SATU CINTA
Pukul 20.00, aku duduk di seberang Ratih lagi. Tapi kali ini, tidak ada borgol. Tidak ada petugas. Hanya kami berdua.
“Aku tahu,” katanya pelan.
“Apa yang kamu tahu?”
“Tentang Laras. Tentang semuanya.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Karena aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kamu akan membenciku.”
Aku menatapnya.
“Sembilan tahun, Ratih. Sembilan tahun kamu berbohong.”
“Aku tahu.”
“Aku tidak bisa memaafkanmu.”
Dia mengangguk. Air mata jatuh di pipinya.
“Aku tahu.”
“Tapi…”
Dia menatapku.
“Aku juga tidak bisa membencimu.”
Dia menahan napas.
“Karena meskipun kamu bukan Laras… kamu tetap perempuan yang aku cintai. Perempuan yang memasak untukku. Perempuan yang menungguku pulang. Perempuan yang tidur di sampingku setiap malam.”
“Rendra—”
“Aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya. Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan. Tapi aku tahu satu hal.”
“Apa?”
“Kamu mencintaiku. Dengan caramu sendiri yang salah dan rusak. Tapi kamu mencintaiku.”
Dia menangis.
“Aku minta maaf.”
“Aku tahu.”
“Aku tidak bisa mengembalikan waktu.”
“Aku tahu.”
“Aku tidak bisa memperbaiki apa yang sudah rusak.”
“Aku tahu.”
Dia menatapku.
“Kamu masih mencintaiku?”
Aku diam.
Sembilan tahun. Dua wajah. Satu kebohongan.
Dan satu cinta yang tidak pernah bisa kujelaskan.
“Aku tidak tahu,” jawabku akhirnya. “Tapi aku akan menunggu.”
“Menunggu apa?”
“Menunggu sampai aku tahu.”
Dia tersenyum. Senyum yang sama seperti sembilan tahun lalu. Senyum yang membuatku jatuh cinta.
“Terima kasih,” katanya.
Aku berdiri.
“Ratih?”
“Iya?”
“Apa kamu pernah menyesal?”
Dia menatapku lama.
“Setiap hari.”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Aku berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, aku menoleh.
“Ratih?”
“Iya?”
“Aku akan datang besok.”
Dia tersenyum.
“Aku akan menunggu.”
TAMAT
