Istriku pamit beli pop0k ke minimarket, dia juga membawa a-nak kami yang masih ba-yi. Tapi dia tak pernah kembali pulang. Aku setengah gi-la mencarinya. Ternyata istri dan a-nakku telah….//

Istriku pamit beli pop0k ke minimarket, dia juga membawa a-nak kami yang masih ba-yi. Tapi dia tak pernah kembali pulang. Aku setengah gi-la mencarinya. Ternyata istri dan a-nakku telah….

_____

Malam harinya, suasana makin riuh. Kami semua berkumpul di ruang makan yg penuh dengan hidangan.

Nuri akhirnya keluar. Dia memakai bedak cukup tebal, menutupi bekas jariku di pi pinya. Dia duduk di sampingku, diam seribu bahasa, hanya bergerak saat menyendokkan nasi ke piringku.

“Wah, Nuri makin cantik ya setelah tinggal di Jakarta,” puji Pakde sambil terkekeh.

Aku tersenyum bangga, menep uk bahu Nuri. “Iya, Pakde. Di Jakarta kan perawatannya beda.”

Aku melirik Nuri, berharap dia memberikan senyum manis atau setidaknya ikut menimpali. Tapi dia tetap membisv.

“Yusman, nanti habis lebaran rencananya mau langsung balik Jakarta atau gimana?” tanya Pakde lagi.

“Rencananya seminggu di sini, Pakde. Biar pu as ketemu Ibu,” jawabku mantap.

Tiba2, Nuri bersuara. Suaranya pelan, tapi cukup untuk membuat meja makan mendadak hening. “Mas, aku mau ke minimarket sebentar di depan. P0pok Arzan habis, minyak telon dan bedaknya juga.”

. “Sekarang? Ini sudah jam delapan malam, Nur. Besok saja.”

“Nggak bisa, Mas. Takutnya Arzan bangun tengah malam terus pop0knya habis, nanti dia rewel dan ganggu tidur Ibu,” jawab Nuri tenang.

Aku menimbang sejenak. Benar juga sih, kalau Arzan menje rit je rit tengah malam karena pop0knya penuh, Ibu pasti bakal ngomel lagi. Dan jujur saja, aku m alas bangun malam2 buat menenangkan ba yi.

“Ya sudah, tapi jangan lama2. Naik motor Bapak saja di depan, kuncinya ada di tembok,” kataku.

“Aku jalan kaki saja, Mas. Dekat, kok. Sekalian cari angin biar nggak pusing,” Nuri bangkit, menggendong Arzan dengan kain jarik warna hijau.

“Loh, ba yinya dibawa? Malem2 loh ini, Nur,” tegur Ibu.

“Iya, Bu. Arzan lagi manja, kalau ditaruh pasti rewel lagi. Cuma sebentar kok ke depan,” sahut Nuri pelan.

Ibu mendengus, “Ya sudah, sana. Hati-hati, jangan keluyuran.”

Nuri mengangguk, menyalami Ibu, Pakde, dan Budhe. Saat dia menyalamiku, aku merasa tangannya sangat dingin. Aku tidak cur iga. Sama sekali tidak. Kupikir itu karena dia habis cuci tangan barusan, air sumur di sini memang sedingin es.

“Cepat ya, jangan mampir-mampir,” pesanku pendek.

Nuri hanya mengangguk kecil, lalu berjalan keluar melewati pintu depan. Aku kembali asyik mengobrol dengan Pakde tentang harga tanah di Jakarta yang makin gi la. Aku merasa hidupku sempurna malam itu. Pe rut kenyang, keluarga kumpul, dan istri yang akhirnya menurut meskipun sempat “mo gok” bicara.

Setengah jam. Satu jam. Dan kini hampir dua jam sejak Nuri pamit ke mini market, ia belum juga kembali. Aku mulai melirik jam dinding di ruang tamu. Ge lisah? Pasti. Tapi aku berusaha untuk tenang. Nuri bukan ana k kecil. Dia ngak mungkin kesasar.

“Yusman, istrimu kok lama banget?” tanya Ibu, mulai tidak sabar.

“Mungkin antre di kasir, Bu. Kan malam lebaran begini biasanya ramai,” jawabku menenangkan diri sendiri.

Tapi hat iku mulai tidak tenang. Aku keluar ke teras, menatap jalanan desa yang mulai sepi. Lampu jalan yang remang-remang tidak menunjukkan tanda-tanda sosok wanita menggendong ba yi. Aku mencoba menelepon ponselnya, tapi tidak aktif.

“Si al,” um patku pelan. “Mana mungkin dia berani ka bur? Dia nggak punya siapa-siapa di sini. Dia nggak punya ua ng, semua tabungan, kan, di tanganku.”

Aku yakin, Nuri sengaja berlama-lama di luar. Ia sengaja mau menghindar dari keluargaku. Dia pasti ngak nyaman dengan bude Lastri.

Aku kembali masuk. Namun, sisi hatiku tiba-tiba merasa ngak enakan.

Apa mungkin Nuri betulan kab ur? Apa diam-diam dia ambil du it yang aku simpan di koper?

Aku mempercepat langkah ke kam ar. Memasukkan sandi dan membuka koper. Satu persatu ua ng itu kuhitung. Utuh. Tidak berkurang sehe lai pun. Aku tersenyum semringah. Nuri istri penurut dan dia sangat mencintaiku jadi dia ngak mungkin pergi jauh.

Aku pun kembali bergabung dengan saudaraku di ruang tengah. Sesekali melirik ke pintu depan berharap Nuri segera datang.

 

Bagian 2: Yang Tak Pernah Kembali

Dua jam lebih. Aku sudah tidak bisa duduk tenang lagi. Pakde mulai bosan menunggu dan memutuskan untuk pulang. Budhe mengikutinya, meninggalkan aroma parfum menyengat yang bercampur dengan bau rokok kretek. Ibu sudah masuk kamar sejak tadi, menggerutu tentang “menantu yang tidak tahu diri.”

Aku berdiri di teras, menatap jalanan desa yang gelap. Lampu neon di minimarket seberang sudah mati sejak setengah jam lalu. Itu artinya… Nuri tidak mungkin masih di sana.

“Astaga,” bisikku, tangan mulai gemetar.

Aku berjalan cepat menyusuri jalan setapak menuju minimarket. Batu-batu kerikil menusuk telapak kaki, tapi aku tidak peduli. Sepanjang jalan, aku menyapukan pandangan ke kiri dan kanan. Mencari sosok wanita dengan kain jarik hijau dan bayi dalam gendongan.

Minimarket itu sudah tutup. Rolling door besi terkatup rapat. Aku mengetuk-ngetuk, berharap ada penjaga yang masih di dalam. Tidak ada jawaban.

“Mas, cari siapa?”

Aku menoleh. Seorang pria tua dengan lampu senter di tangannya berdiri di depan rumah sebelah minimarket. Pak Slamet, penjaga warung kopi yang biasa buka sampai malam.

“Pak, tadi… tadi ada perempuan menggendong bayi ke minimarket sini? Sekitar jam delapan?” tanyaku, napas memburu.

Pak Slamet mengernyit, mengangkat lampu senternya ke arah wajahku. “Perempuan menggendong bayi? Jam delapan?” Dia menggeleng. “Nggak ada, Mas. Saya dari jam tujuh duduk di teras warung, nggak lihat siapa-siapa masuk minimarket. Lagipula, minimarketnya tutup jam tujuh malam ini. Lebaran, Mas. Karyawannya pulang kampung.”

Darahku serasa berhenti mengalir. “Apa? Tutup jam tujuh?”

“Iya. Saya yang lihat sendiri karyawannya kunci pintu jam tujuh kurang. Nggak ada yang buka lagi setelah itu.”

Aku mundur selangkah. Kepalaku berdenyut. Nuri bilang mau ke minimarket. Tapi minimarket sudah tutup sejak jam tujuh. Berarti… Nuri tidak pernah sampai ke sini.

Atau…

“Pak, tolong,” suaraku serak. “Istri saya hilang. Dia pamit ke sini jam delapan, tapi nggak pernah pulang.”

Pak Slamet terkejut, senternya jatuh ke tanah. “Hilang? Ya ampun, Mas. Sudah lapor polisi?”

“Belum. Saya… saya baru sadar sesuatu yang aneh.”

Aku berlari pulang. Kaki ini rasanya ringan, tapi dada terasa sesak. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar. Membuka lemari Nuri. Pakaian-pakaiannya masih tersusun rapi. Tasnya masih di rak. Dompetnya—dompet kulit coklat yang selalu dia bawa—masih di atas meja rias.

Aku membuka dompet itu. Di dalamnya ada KTP, kartu ATM, dan… selembar foto. Foto lama. Foto Nuri dengan seorang pria yang tidak kukenal. Pria itu tersenyum, memeluk bahu Nuri dari belakang. Mereka berdua berdiri di depan sebuah rumah yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Di balik foto itu, ada tulisan tangan yang jelas bukan tulisan Nuri. Tulisan itu berbunyi:

“Untuk selamanya. 12 Desember 2019.”

Tanggal itu… tiga bulan sebelum aku menikahi Nuri.

“Apa ini?” bisikku, jantung berdebar kencang.

Aku terjaga sepanjang malam. Duduk di kursi ruang tamu, menatap pintu depan yang tidak pernah terbuka. Ponselku terus kucoba hubungi, tapi selalu masuk ke voicemail. Suara Nuri yang lembut menyapa: “Halo, ini Nuri. Maaf tidak bisa menjawab. Silakan tinggalkan pesan.”

Pesan suara itu kini terasa seperti ejekan.

Menjelang subuh, aku memutuskan untuk melapor ke polisi. Tapi sebelum itu, aku harus tahu siapa pria di foto itu. Aku membuka ponsel Nuri—yang ternyata tertinggal di laci meja rias, tersembunyi di balik tumpukan pakaian dalam. Aku tidak pernah curiga sebelumnya. Nuri selalu bilang ponselnya rusak, makanya dia tidak pernah menggunakannya di depanku.

Ponsel itu masih menyala. Baterai 67%. Aku membuka galeri fotonya.

Dan dunia serasa runtuh.

Ada ratusan foto. Foto Nuri dengan pria yang sama. Foto mereka berdua di pantai, di restoran, di depan gedung bertingkat. Foto Nuri sedang hamil—perut buncit yang tidak pernah kulihat karena dia selalu memakai pakaian longgar. Dan yang paling menyakitkan… foto bayi yang baru lahir, digendong oleh pria itu, dengan caption: “Selamat datang, Arzan. Anak kita.”

Anak kita.

Bukan anakku.

Aku terjatuh ke lantai. Ponsel itu terlepas dari tanganku, layarnya masih menyala menampilkan foto bahagia yang tidak pernah kumiliki. Arzan… bayi yang selama ini kubanggakan sebagai anakku… bukan darah dagingku.

Aku mengingat kembali malam-malam ketika Nuri menolak tidur bersamaku. Alasan capek, pusing, sedang tidak enak badan. Aku mengingat perutnya yang membesar dengan cepat, tapi dia selalu bilang itu karena “faktor keturunan.” Aku mengingat saat Arzan lahir, sembilan bulan setelah pernikahan kami—padahal kami baru menikah tujuh bulan sebelumnya.

Tuhan. Aku begitu bodoh.

Di kantor polisi, aku duduk dengan tubuh lemas. Buku laporan terbuka di depanku, tapi tanganku tidak bisa menulis. Polisi yang bertugas, Bripka Sandi, menatapku dengan tatapan campur aduk antara iba dan curiga.

“Jadi, istri Anda hilang sejak semalam?” tanyanya.

“Iya. Dia pamit ke minimarket jam delapan malam, tapi tidak pernah kembali.”

“Ada tanda-tanda kekerasan? Pertengkaran sebelumnya?”

Aku menggeleng. “Tidak ada. Kami… kami baik-baik saja.”

Bohong. Kami tidak baik-baik saja. Tapi bagaimana aku bisa menjelaskan bahwa istriku mungkin kabur dengan pria lain? Dengan bayi yang bukan anakku?

“Pak Yusman,” Bripka Sandi mencondongkan tubuh. “Ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan?”

Aku menelan ludah. “Saya… saya menemukan foto di dompet istri saya. Foto dia dengan pria lain. Dan tulisan di belakangnya.”

Bripka Sandi mengangguk pelan. “Bisa saya lihat fotonya?”

Aku menyerahkan foto itu. Bripka Sandi mengamatinya lama, lalu mengerutkan dahi. “Pria ini… sepertinya saya pernah lihat.”

“Di mana?”

Dia tidak menjawab. Sebaliknya, dia bangkit dan berjalan ke lemari arsip di sudut ruangan. Membuka beberapa map, lalu kembali dengan selembar kertas. Kertas itu berisi daftar orang hilang di wilayah hukum setempat.

“Nama pria ini,” Bripka Sandi menunjuk foto di tanganku, “adalah Raka Pratama. Dia dilaporkan hilang tiga bulan lalu oleh keluarganya di Jakarta. Terakhir terlihat di desa ini.”

Darahku membeku. “Di desa ini?”

“Iya. Dan ada satu hal lagi, Pak Yusman.” Bripka Sandi menatapku tajam. “Raka Pratama adalah adik kandung dari Bude Lastri.”

Bagian 3: Rahasia yang Terkubur

Kepalaku berdenyut hebat. Bude Lastri. Wanita yang sejak awal tidak menyukai Nuri. Wanita yang selalu mengomel, selalu mengkritik, selalu membuat Nuri tidak nyaman. Ternyata… dia punya alasan.

Aku berlari pulang, mengabaikan teriakan Bripka Sandi yang menyuruhku tenang. Sepanjang jalan, potongan-potongan kejadian berputar di kepalaku seperti film yang diputar mundur.

Bude Lastri yang tiba-tiba datang ke Jakarta tiga bulan sebelum pernikahanku dengan Nuri. Bude Lastri yang “kebetulan” memperkenalkan Nuri padaku. Bude Lastri yang selalu mendesak agar kami segera menikah. Bude Lastri yang… yang menyembunyikan sesuatu.

Sesampainya di rumah, Ibu sedang duduk di teras, menyeruput kopi. Wajahnya muram.

“Sudah ketemu?” tanyanya tanpa menoleh.

“Belum, Bu. Tapi aku tahu sesuatu.”

Ibu mengangkat alis. “Apa?”

“Bude Lastri. Di mana dia?”

Ibu mengerutkan dahi. “Di rumahnya, lah. Memangnya kenapa?”

Aku tidak menjawab. Aku berbalik dan berjalan cepat menuju rumah Bude Lastri, yang hanya berjarak tiga rumah dari rumah Ibu. Rumah itu tampak sepi, tapi lampu di ruang tamu menyala.

Aku mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi, lebih keras. Masih tidak ada jawaban. Aku mencoba gagang pintu—terkunci.

Tapi aku tahu ada jalan lain. Jendela samping yang selalu tidak terkunci karena rusak. Aku berjalan memutari rumah, mendorong jendela itu, dan masuk ke dalam.

Rumah Bude Lastri gelap dan pengap. Bau obat nyamuk bakar menyengat. Aku menyalakan lampu ponsel, menyusuri ruang tamu yang penuh dengan foto-foto keluarga. Foto Bude Lastri muda, foto almarhum suaminya, dan… foto seorang pria muda yang tersenyum.

Raka.

Aku melanjutkan ke kamar belakang. Pintu kamar itu tertutup rapat. Aku mendorongnya, dan yang kulihat membuatku terpaku.

Nuri.

Duduk di sudut kamar, memeluk Arzan yang tertidur. Wajahnya pucat, matanya bengkak. Kain jarik hijau yang dia pakai semalam masih melilit tubuhnya, kotor dan kusut. Di sampingnya, Bude Lastri duduk di kursi kayu, menatapku dengan tatapan dingin.

“Mas…” suara Nuri nyaris tidak terdengar.

“Jadi ini…” aku melangkah masuk, tangan gemetar. “Kamu… kamu di sini?”

“Jangan salahkan Nuri,” Bude Lastri angkat bicara. Suaranya tenang, terlalu tenang. “Dia hanya menjalankan perintahku.”

“Perintah?” Aku menoleh ke arahnya. “Perintah apa?”

Bude Lastri tersenyum tipis. Senyum yang membuat bulu kudukku merinding. “Duduk, Yusman. Ada yang harus kamu tahu.”

Aku tidak duduk. Aku berdiri di ambang pintu, menatap dua wanita di depanku dengan perasaan campur aduk antara marah, bingung, dan takut.

“Raka,” kata Bude Lastri. “Dia anakku. Anak kandungku.”

Aku tercekat. “Apa?”

“Raka bukan keponakanku, Yusman. Dia anakku. Hasil hubungan gelapku dengan seorang pria yang sudah meninggal. Aku menyembunyikannya karena malu. Aku bilang dia keponakanku yang tinggal di Jakarta.”

Bude Lastri bangkit dari kursi, berjalan ke arah jendela. Cahaya bulan yang masuk membuat wajahnya tampak seperti topeng.

“Raka mencintai Nuri. Mereka sudah bersama sejak kuliah. Tapi aku tidak bisa menerima Nuri. Dia bukan dari keluarga baik-baik. Ibunya… pekerja seks. Ayahnya tidak diketahui. Aku tidak mau anakku menikahi perempuan seperti itu.”

“Aku melarang mereka. Aku mengancam akan bunuh diri jika Raka tetap bersama Nuri. Dan Raka… dia anak yang patuh. Dia menurut. Tapi Nuri sudah hamil.”

Aku menoleh ke Nuri. Wanita itu menunduk, air mata mengalir di pipinya.

“Aku tidak tahu harus bagaimana,” lanjut Bude Lastri. “Aku tidak bisa membiarkan anak haram itu lahir tanpa status. Jadi… aku mencari suami untuk Nuri. Suami yang bodoh. Suami yang tidak akan bertanya. Suami yang…”

“Yang bisa kau kendalikan,” potongku, suaraku serak.

Bude Lastri menoleh. “Ya. Dan kamu, Yusman, adalah pilihan sempurna. Kamu tinggal di Jakarta, jauh dari keluarga. Kamu pekerja keras, tapi tidak terlalu pintar membaca situasi. Kamu… mudah dimanipulasi.”

Aku merasa seperti ditinju. Semua yang kukira tentang hidupku—tentang pernikahanku, tentang istriku, tentang anakku—semuanya palsu. Aku hanya boneka dalam permainan Bude Lastri.

“Lalu kenapa sekarang?” tanyaku. “Kenapa Nuri kabur?”

Bude Lastri diam sejenak. “Karena Raka kembali.”

“Raka kembali?”

“Raka datang ke desa ini tiga bulan lalu. Dia ingin mengambil Nuri dan Arzan. Dia bilang dia tidak bisa hidup tanpa mereka. Aku… aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku sudah menyusun semuanya dengan rapi. Aku tidak bisa membiarkan Raka menghancurkan semuanya.”

“Apa yang kau lakukan pada Raka?”

Bude Lastri tidak menjawab. Tapi tatapan matanya—tatapan yang kosong, dingin, tanpa penyesalan—sudah cukup untuk menjawab pertanyaanku.

“Di mana Raka?” tanyaku, suaraku meninggi.

“Di tempat yang tidak akan ditemukan siapa pun.”

Aku melangkah mundur, tubuhku lemas. Nuri menangis tersedu-sedu, memeluk Arzan yang masih tertidur. Bude Lastri berdiri di sana, seperti patung, tanpa ekspresi.

“Kamu…” bisikku. “Kamu sudah membunuh anakmu sendiri?”

Bude Lastri tersenyum. Senyum yang paling mengerikan yang pernah kulihat. “Aku melakukan apa yang harus dilakukan. Demi keluarga. Demi nama baik.”

Aku menghubungi Bripka Sandi. Dalam waktu singkat, rumah Bude Lastri dipenuhi polisi. Bude Lastri tidak melawan. Dia hanya duduk di kursi, tersenyum, sementara tangannya diborgol.

“Kamu tidak akan pernah mengerti,” katanya saat dibawa keluar. “Aku melakukan ini semua untuk keluarga.”

Nuri dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Arzan dititipkan ke Ibu, yang menangis tersedu-sedu saat mengetahui kebenaran tentang cucunya—cucu yang bukan darah dagingnya.

Aku duduk di teras rumah, menatap langit yang mulai berwarna jingga. Bripka Sandi duduk di sampingku, menyerahkan secangkir kopi.

“Kami menemukan tubuh Raka,” katanya pelan. “Dikubur di belakang rumah Bude Lastri. Sudah tiga bulan.”

Aku mengangguk. Tidak ada kata-kata yang bisa keluar.

“Pak Yusman,” lanjut Bripka Sandi. “Ada satu hal lagi yang harus Anda tahu.”

“Apa?”

“Raka… dia bukan meninggal karena dibunuh.”

Aku menoleh. “Maksudnya?”

“Hasil otopsi menunjukkan bahwa Raka meninggal karena racun. Racun yang biasanya digunakan untuk… membasmi tikus. Dosisnya sangat tinggi. Tapi yang menarik…”

Bripka Sandi berhenti sejenak, seolah menimbang apakah harus melanjutkan atau tidak.

“Yang menarik,” lanjutnya, “racun itu diberikan melalui makanan. Dan menurut keterangan Nuri… makanan itu dimasak oleh Nuri sendiri.”

Darahku berhenti mengalir.

“Apa?”

“Nuri mengaku. Dia bilang… dia tidak sengaja. Dia bilang Bude Lastri menyuruhnya memasak untuk Raka, tanpa memberi tahu bahwa makanan itu sudah dicampur racun. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Tapi kami menemukan bukti bahwa Nuri tahu. Ada chat di ponselnya. Chat antara dia dan Bude Lastri. Nuri bertanya, ‘Apakah ini akan menyakitkan?’ Dan Bude Lastri menjawab, ‘Tidak. Dia akan tidur dan tidak bangun lagi.'”

Aku menutup mata. Dunia serasa berputar. Istriku—wanita yang kukira penurut, wanita yang kukira bodoh, wanita yang kukira tidak punya nyali—ternyata…

“Jadi Nuri…”

“Nuri terlibat dalam pembunuhan Raka,” kata Bripka Sandi. “Dia mungkin melakukannya karena tekanan, karena takut, atau karena alasan lain. Tapi dia terlibat.”

Aku membuka mata, menatap kopi yang masih mengepul di tanganku. Kopi yang tidak akan pernah kuminum.

“Dan Arzan?” tanyaku.

“Arzan akan dirawat oleh negara sampai ada keputusan pengadilan. Mengingat ayah kandungnya sudah meninggal dan ibunya terlibat kasus pidana…”

Aku mengangguk. Perlahan, aku bangkit. Berjalan ke dalam rumah. Menuju kamar tempat Ibu menidurkan Arzan.

Bayi itu terbangun. Matanya membuka, menatapku dengan tatapan polos. Tatapan yang tidak mengerti apa pun tentang dunia yang kejam ini.

Aku menggendongnya. Tubuhnya hangat, kecil, rapuh. Dan meskipun aku tahu dia bukan darah dagingku, meskipun aku tahu dia adalah anak dari pria yang tidur dengan istriku, meskipun aku tahu dia adalah hasil dari semua kebohongan yang menghancurkan hidupku…

Aku tidak bisa membencinya.

“Kamu tidak bersalah,” bisikku. “Kamu tidak meminta dilahirkan dalam kekacauan ini.”

Arzan merengek, lalu tertidur lagi di pelukanku. Aku duduk di kursi goyang, menatap bayi itu, dan untuk pertama kalinya sejak semalam, aku menangis.

Bukan karena kehilangan Nuri. Bukan karena kehilangan pernikahanku. Tapi karena… aku menyadari bahwa hidupku selama ini hanyalah ilusi. Dan sekarang, ilusi itu telah hancur, meninggalkan kenyataan yang pahit dan menyakitkan.

Seminggu kemudian, aku mengunjungi Nuri di sel tahanan. Wanita itu tampak lebih kurus, lebih pucat, lebih tua dari usianya. Dia menatapku dengan mata yang kosong.

“Mas,” suaranya serak. “Maafkan aku.”

Aku duduk di kursi seberang, memisahkan diri dengan meja besi.

“Aku tidak bisa memaafkanmu,” kataku. “Bukan karena kamu berselingkuh. Bukan karena kamu membohongiku. Tapi karena… kamu membiarkan aku mencintai anak yang bukan anakku. Kamu membiarkan aku percaya bahwa hidupku sempurna, padahal itu semua palsu.”

Nuri menunduk. Air mata mengalir di pipinya. “Aku tidak punya pilihan, Mas. Bude Lastri… dia mengancam akan membunuh Raka jika aku tidak menurut.”

“Tapi kamu justru yang membunuh Raka.”

Nuri terisak. “Aku tidak tahu, Mas. Aku sungguh tidak tahu. Bude Lastri bilang itu hanya obat tidur. Aku… aku hanya ingin Raka tenang. Aku hanya ingin dia berhenti memaksa aku kembali. Aku sudah mencintaimu, Mas. Aku sudah nyaman dengan hidupku bersamamu.”

Aku tertawa pahit. “Mencintaiku? Kamu bahkan tidak pernah membiarkanku menyentuhmu sejak Arzan lahir.”

“Aku takut, Mas. Takut kamu tahu. Takut kamu melihat perutku yang masih penuh stretch mark. Takut kamu menyadari bahwa Arzan lahir terlalu cepat.”

Jadi itu alasannya. Semua penolakan Nuri, semua alasan dia menghindar dariku—bukan karena dia tidak mencintaiku, tapi karena dia takut aku akan mengetahui kebenaran.

“Kamu tahu,” kataku pelan, “aku mungkin akan memaafkanmu. Suatu hari nanti. Tapi aku tidak akan pernah bisa melupakan. Dan aku tidak akan pernah bisa mempercayaimu lagi.”

Nuri mengangguk. “Aku mengerti, Mas. Aku tidak berharap kamu memaafkanku. Aku hanya… aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar minta maaf.”

Aku bangkit. Sebelum pergi, aku menoleh sekali lagi. “Arzan… dia akan baik-baik saja. Aku akan pastikan itu.”

Mata Nuri membuka. “Mas… kamu mau merawat Arzan?”

“Dia tidak bersalah. Dan meskipun dia bukan darah dagingku, aku sudah menganggapnya sebagai anakku. Aku akan merawatnya sampai kamu bebas. Dan setelah itu… kita lihat saja apa yang terjadi.”

Nuri menangis. Kali ini bukan tangis kepalsuan atau ketakutan, tapi tangis penyesalan yang tulus.

Aku keluar dari sel tahanan, meninggalkan wanita yang pernah kukira istri sempurna. Di luar, matahari bersinar terang. Langit biru, tanpa awan. Seperti hidup baruku yang menanti.

Epilog: Dua Tahun Kemudian

Aku duduk di teras rumah, menyeruput kopi. Di halaman, Arzan berlari-lari kecil, mengejar kupu-kupu yang terbang di antara bunga-bunga. Dia sudah berusia dua tahun sekarang, dan setiap hari dia semakin mirip… bukan dengan Raka, bukan dengan Nuri, tapi dengan dirinya sendiri. Anak yang tumbuh dengan cinta, meskipun berasal dari kebohongan.

Ibu keluar dari rumah, membawa sepiring pisang goreng. Dia duduk di sampingku, menatap Arzan dengan tatapan yang… hangat. Dua tahun lalu, Ibu tidak bisa menerima Arzan. Tapi waktu mengubah segalanya.

“Dia pintar,” kata Ibu. “Tadi dia bilang ‘nenek’ dengan jelas.”

Aku tersenyum. “Iya. Dia memang pintar.”

Ibu diam sejenak, lalu berkata, “Yusman… kamu sudah memaafkan Nuri?”

Aku menatap langit. “Belum sepenuhnya. Tapi aku sudah berhenti marah. Nuri… dia juga korban. Korban dari ambisi Bude Lastri, korban dari cintanya yang salah, korban dari kelemahannya sendiri.”

“Nuri akan bebas tahun depan.”

“Aku tahu.”

“Kamu akan menerimanya kembali?”

Aku menoleh ke arah Ibu. “Tidak.”

Ibu mengangkat alis. “Lalu Arzan?”

“Arzan tetap anakku. Aku akan merawatnya. Dan Nuri… dia bisa mengunjungi Arzan kapan pun dia mau. Tapi aku tidak akan pernah bisa kembali bersamanya. Terlalu banyak luka. Terlalu banyak kebohongan.”

Ibu mengangguk pelan. “Kamu sudah dewasa, Yusman.”

Aku tersenyum pahit. “Terlalu dewasa, mungkin.”

Arzan menghampiriku, membawa sekuntum bunga yang dia petik dari halaman. Bunga itu layu, kelopaknya hampir lepas, tapi dia menyerahkannya dengan bangga.

“Untuk ayah,” katanya.

Aku mengambil bunga itu, mencium kepala Arzan. “Terima kasih, sayang.”

Di kejauhan, aku melihat sosok wanita berdiri di depan gerbang. Nuri, dengan seragam tahanan yang sudah pudar, ditemani seorang petugas. Dia tidak boleh masuk, tapi dia bisa melihat dari jauh. Matanya menatap Arzan dengan tatapan yang campur aduk antara cinta dan penyesalan.

Arzan melambai ke arahnya. “Ibu!”

Nuri tersenyum, air mata mengalir di pipinya. Dia melambai balik, lalu berbalik dan berjalan pergi bersama petugas.

Aku menatap punggungnya yang menjauh. Wanita yang pernah kukira istri sempurna. Wanita yang pernah menghancurkan hidupku. Wanita yang… masih ibu dari anak yang kucintai.

Mungkin suatu hari nanti, aku akan bisa memaafkannya sepenuhnya. Mungkin suatu hari nanti, luka ini akan sembuh. Tapi untuk sekarang, aku hanya bisa bersyukur. Bersyukur karena aku masih hidup. Bersyukur karena aku masih punya Arzan. Dan bersyukur karena… akhirnya, aku tahu kebenaran.

Meskipun kebenaran itu menyakitkan.

TAMAT

Catatan Penulis:

Cerita ini adalah fiksi. Semua karakter, tempat, dan peristiwa adalah imajinasi penulis. Jika ada kesamaan dengan orang atau kejadian nyata, itu hanyalah kebetulan.

Pesan moral dari cerita ini: Kebohongan, sekecil apa pun, akan selalu terungkap pada akhirnya. Dan ketika terungkap, kebohongan itu akan menghancurkan lebih banyak hal daripada yang bisa kita bayangkan. Kejujuran memang menyakitkan, tapi kepalsuan lebih menyakitkan lagi.