MANAJER SOMBONG MENYIRAMKU DI DEPAN 40 KARYAWAN KARENA MENGIRAKU PELAMAR MISKIN—DIA TAK TAHU AKU PEMILIK MAYORITAS PERUSAHAAN YANG SEDANG MENYELIDIKINYA
BAGIAN 1
“Pergi dari depan meja saya. Saya tidak punya waktu melayani pengemis.”
Suara Julian Santoso terdengar sampai ke ujung ruangan.
Puluhan kepala langsung menoleh.
Aku berdiri di dekat meja administrasi dengan blazer hitam bekas yang sengaja kupilih pagi itu. Sepatuku murah. Tas di tanganku juga bukan barang bermerek.
Penampilanku memang dibuat untuk tidak menarik perhatian.
Tapi aku tidak menyangka baru dua puluh menit masuk ke kantor ini, seseorang sudah memperlakukanku seperti itu.
“Saya datang untuk proses wawancara,” jawabku.
Julian melihat kartu pengunjung yang tergantung di leherku.
“Wawancara apa?”
“Staf administrasi kontrak.”
Dia tertawa kecil.
Dua orang supervisor di belakangnya ikut tersenyum.
“Pantas.”
Aku tidak menjawab.
Ruangan lantai dua puluh tiga gedung Arunika Tower di kawasan SCBD Jakarta mendadak sangat tenang.
Aku bisa melihat beberapa karyawan berpura-pura mengetik.
Yang lain terang-terangan memperhatikan.
Seorang perempuan muda di meja resepsionis, Siska, menatapku dengan gelisah.
Dialah satu-satunya orang yang memperlakukanku dengan sopan sejak aku masuk tadi.
“Pak Julian,” katanya pelan. “Namanya memang ada di daftar tamu.”
Julian menoleh tajam.
“Saya tidak bertanya kepada kamu.”
Siska langsung diam.
Julian kembali menatapku.
“Dengar. Saya manajer operasional regional di sini. Saya sudah melihat ratusan orang datang meminta pekerjaan. Kalau penampilan saja begini, bagaimana perusahaan mau percaya?”
Aku menahan diri.
Bukan karena takut kepadanya.
Aku hanya ingin tahu seberapa jauh dia akan bertindak jika merasa orang di depannya tidak memiliki kekuasaan.
“Saya hanya ingin mengikuti jadwal saya.”
“Jadwal?”
Dia mengambil kertas dari meja Siska, melihat namaku, lalu meremasnya.
Nama yang tertulis di sana adalah Dira Permata.
Bukan nama asliku.
Julian melempar kertas itu ke meja.
“Tidak ada wawancara.”
Siska tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi aku menggeleng kecil.
Biarkan.
Aku datang untuk melihat keadaan sebenarnya.
Sekarang aku sedang mendapatkannya.
Julian berjalan beberapa langkah mengelilingiku.
“Dari mana kamu?”
“Bekasi.”
“Naik apa?”
“Kereta.”
Dia tersenyum tipis.
“Sudah kuduga.”
Beberapa orang mulai terlihat tidak nyaman.
Seorang pria berkacamata berdiri dari mejanya.
“Pak, mungkin biar HR saja yang—”
“Duduk, Fajar.”
Pria itu langsung berhenti.
Julian menunjuk kursinya.
“Kerja.”
Fajar duduk kembali.
Saat itulah aku mengerti sesuatu.
Mereka bukan tidak peduli.
Mereka takut.
Aku menatap seluruh ruangan.
Tak ada yang berani menatap Julian terlalu lama.
Tak ada yang berani bertanya.
Ini bukan kejadian pertama.
Itulah hal yang paling menggangguku.
Aku mengeluarkan ponsel murah dari tas.
Julian langsung menunjuk tanganku.
“Jangan merekam.”
“Saya hanya melihat jam.”
“Masukkan.”
Aku memasukkannya kembali.
Pukul 08.46.
Aku masih punya waktu.
Julian ternyata belum selesai.
“Kalau mau kerja di perusahaan besar, minimal tahu diri.”
Aku menarik napas pelan.
“Apakah semua pelamar diperlakukan seperti ini?”
Wajahnya berubah.
“Apa?”
“Saya bertanya sederhana.”
Aku menatapnya.
“Apakah semua orang yang melamar pekerjaan di sini diperlakukan seperti saya?”
Suasana makin sunyi.
Siska menunduk.
Fajar berhenti mengetik.
Julian maju satu langkah.
“Kamu merasa pintar?”
“Tidak.”
“Merasa penting?”
“Tidak juga.”
Dia tersenyum.
“Bagus. Karena orang seperti kamu memang tidak penting di tempat ini.”
Kalimat itu menjawab banyak hal.
Selama enam bulan terakhir, aku membaca keluhan anonim dari gedung ini.
Pegawai kontrak dimaki.
Staf kebersihan dipermalukan.
Karyawan yang berani protes mendadak dipindah.
Pelamar ditolak bukan karena kemampuan, tetapi karena penampilan.
Namun setiap laporan internal selalu berakhir dengan kesimpulan sama.
Tidak cukup bukti.
Aku mulai curiga masalahnya bukan sekadar rumor.
Karena itulah pagi itu aku datang tanpa memberi tahu para direktur.
Aku ingin melihat sendiri.
Julian memandang sekeliling.
Mungkin karena tidak ada yang menentangnya, rasa percaya dirinya makin besar.
Dia berjalan ke dekat mesin fotokopi.
Di sana ada ember kecil milik petugas kebersihan.
Siska langsung berdiri.
“Pak Julian…”
“Duduk.”
Julian membuka keran dispenser dan mengisi ember itu.
Aku benar-benar tidak menyangka dia akan melakukannya.
Aku sempat berpikir dia hanya ingin membuatku takut.
Ternyata tidak.
Dia kembali dengan ember di tangan.
“Terakhir kali saya bilang.”
Tatapannya dingin.
“Keluar.”
Aku tidak bergerak.
“Saya masih punya jadwal.”
Dia mendekat.
“Saya yang membatalkannya.”
“Anda bukan HR.”
Dia tertawa.
“Di lantai ini, saya lebih berkuasa daripada HR.”
Lalu dia mengangkat ember.
Siska menutup mulut.
Aku tidak sempat mengatakan apa pun.
Air dingin jatuh dari kepala sampai kakiku.
Seluruh ruangan membeku.
Blazerku basah.
Rambutku menempel di wajah.
Air masuk ke dalam sepatuku.
Aku berdiri diam beberapa detik.
Bukan karena tidak tahu harus melakukan apa.
Aku hanya berusaha memahami bagaimana seorang manajer bisa merasa begitu aman melakukan ini di depan puluhan saksi.
Julian meletakkan ember.
“Nah.”
Dia tersenyum puas.
“Sekarang mungkin kamu mengerti tempatmu.”
Siska mengambil tisu dan hendak mendekat.
Julian mengangkat tangan.
“Jangan dibantu.”
Kali ini Fajar berdiri lagi.
“Pak, itu sudah keterlaluan.”
Julian menunjuknya.
“Kamu mau menyusul?”
Fajar tidak duduk.
Aku melihat ketakutan di wajahnya.
Tapi dia tetap berdiri.
Aku baru saja hendak bicara ketika ponselku bergetar di dalam tas.
Satu pesan masuk.
Aku mengeluarkannya.
Julian langsung melangkah mendekat.
“Apa yang saya bilang soal ponsel?”
Aku membaca pesan di layar.
Dari Arga.
Rapat audit siap. Dewan sudah masuk. Mereka masih mengira Ibu berada di Singapura. Saya tunggu instruksi.
Aku tidak menyadari Julian berdiri cukup dekat untuk membaca sebagian tulisan itu.
Wajahnya berubah.
“Rapat audit?”
Dia menatapku.
“Siapa kamu sebenarnya?”
Aku menyeka air dari wajahku.
Lalu untuk pertama kalinya pagi itu, aku tersenyum.
“Orang yang baru saja memberi Anda kesempatan untuk menunjukkan siapa diri Anda sebenarnya.”
Aku mengambil ponsel.
Menekan satu nomor.
Kemudian berkata singkat,
“Pak Arga, mulai rapatnya.”
Julian langsung pucat.
Dan saat itulah semuanya berubah.

BAGIAN 2
Julian mencoba mengambil ponselku.
Aku langsung mundur.
“Jangan sentuh barang saya.”
Nada suaraku membuatnya berhenti.
Mungkin baru saat itu dia menyadari caraku berbicara tidak seperti pelamar yang sedang memohon pekerjaan.
“Siapa Arga?” tanyanya.
Aku memasukkan ponsel ke tas.
“Sebentar lagi Anda tahu.”
Julian menatap Siska.
“Kunci pintu akses.”
Siska terdiam.
“Pak?”
“Sekarang.”
Aku hampir tidak percaya.
Bahkan setelah membaca pesan itu, reaksinya bukan meminta penjelasan.
Dia justru mencoba menahanku di lantai itu.
“Pak Julian,” kata Fajar. “Jangan bikin situasi makin buruk.”
Julian membentaknya.
“Saya bilang diam!”
Dia lalu menelepon keamanan.
“Ada orang mencurigakan di lantai dua puluh tiga. Tolong naik.”
Aku berdiri sambil menahan dingin dari pakaian yang masih basah.
Siska akhirnya memberikan beberapa tisu kepadaku tanpa meminta izin.
“Maaf, Mbak.”
“Terima kasih.”
Julian mendengarnya.
“Siska.”
Perempuan itu menatapnya.
“Kalau kamu masih mau kerja di sini, kembali ke meja.”
Tangannya gemetar.
Tetapi kali ini dia tidak bergerak.
“Saya cuma kasih tisu, Pak.”
“Meja kamu.”
Siska perlahan kembali.
Aku memperhatikan semuanya.
Cara Julian bicara.
Cara orang-orang langsung diam.
Cara ancaman kehilangan pekerjaan bisa membuat satu ruangan berhenti menjadi manusia biasa.
Pintu lift terbuka.
Dua petugas keamanan datang.
Yang paling senior bernama Pak Dedi.
Aku mengenalnya.
Dia tidak mengenalku secara pribadi, tetapi kami pernah berada dalam satu acara perusahaan dua tahun lalu.
Julian langsung menunjukku.
“Bawa perempuan ini keluar.”
Pak Dedi melihatku.
Wajahnya berubah sedikit.
Aku cepat menggeleng.
Jangan katakan apa-apa.
Dia memahami.
“Masalahnya apa, Pak?”
“Dia masuk dengan alasan wawancara palsu dan mengganggu operasional.”
Siska berdiri.
“Bukan begitu, Pak.”
Julian menoleh.
“Diam.”
Siska mengepalkan tangannya.
“Namanya ada di daftar.”
Aku agak terkejut dia akhirnya berani bicara.
Julian mendekati meja resepsionis.
“Siska, kamu mau pulang sekarang juga?”
Siska tidak menjawab.
Pak Dedi melihat lantai yang basah.
Lalu melihat bajuku.
“Ini kenapa?”
“Bukan urusan Anda,” jawab Julian.
“Saya perlu tahu kalau diminta mengeluarkan seseorang.”
Julian menunjukku.
“Dia bikin masalah.”
Pak Dedi menatapku lagi.
Aku berkata tenang, “Saya bersedia menunggu di ruang rapat sampai orang dari pusat datang.”
Julian tertawa pendek.
“Pusat?”
“Ya.”
“Tidak ada orang pusat yang akan datang demi kamu.”
Aku tidak membalas.
Pak Dedi akhirnya membawa kami ke ruang rapat kecil di ujung lorong.
Julian ikut masuk.
Dia menutup pintu.
“Apa tujuanmu?”
Aku duduk.
“Saya sudah menjelaskannya.”
“Nama asli.”
“Dira.”
“Jangan main-main.”
Aku menatapnya.
“Bukankah lima menit lalu Anda yakin saya tidak penting?”
Dia tidak menjawab.
Pintu terbuka.
Seorang perempuan sekitar empat puluh tahun masuk dengan langkah tergesa.
Aku langsung mengenalnya dari berkas.
Rina Wibowo.
Kepala HR wilayah Jakarta.
Dialah orang yang menandatangani hampir seluruh kesimpulan laporan mengenai Julian.
“Pak Julian, ada apa?”
Julian segera menjelaskan.
Namun versinya berbeda.
Menurutnya, aku datang tanpa jadwal.
Aku bicara kasar.
Aku merekam rahasia perusahaan.
Lalu aku menolak pergi.
Tentang ember air, dia hanya berkata,
“Terjadi sedikit insiden.”
Aku menatap Rina.
“Sedikit?”
Rina baru melihat bajuku.
Dia terdiam.
“Siapa yang melakukan itu?”
Aku menunjuk Julian.
Rina menarik napas.
Lalu berkata sesuatu yang membuatku lebih kecewa daripada tindakan Julian.
“Mbak, mungkin ada kesalahpahaman. Pak Julian memang tegas.”
Aku hampir tertawa.
“Tegas?”
“Kami bisa memberikan pakaian ganti. Setelah itu masalah ini tidak perlu diperpanjang.”
Aku menatapnya cukup lama.
Dia menghindari mataku.
Sekarang aku mengerti bagaimana laporan bisa selalu hilang.
Bukan karena tidak ada saksi.
Bukan karena tidak ada keluhan.
Orang yang seharusnya menangani keluhan justru sibuk membuat masalah terlihat kecil.
“Saya ingin membuat laporan resmi,” kataku.
Rina cepat menjawab.
“Nanti kami bantu.”
“Sekarang.”
“Mbak…”
“Sekarang.”
Julian menepuk meja.
“Cukup!”
Pak Dedi yang berdiri dekat pintu menatapnya.
Julian menunjukku.
“Saya tidak tahu siapa kamu, tapi kamu tidak akan datang ke kantor saya dan memberi perintah.”
Kantor saya.
Aku mencatat kalimat itu dalam pikiran.
Rina mencoba menenangkan suasana.
“Kita bisa selesaikan baik-baik.”
Aku bertanya,
“Berapa banyak keluhan tentang Pak Julian yang masuk tahun ini?”
Rina terdiam.
Julian menoleh kepadanya.
Aku melanjutkan.
“Empat?”
Tidak ada jawaban.
“Sepuluh?”
Rina terlihat makin tidak nyaman.
Aku sudah tahu jumlah sebenarnya.
Dua puluh tujuh.
Belum termasuk laporan yang dikirim langsung melalui surel anonim.
“Informasi itu rahasia,” kata Rina akhirnya.
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Aku berdiri.
“Berarti datanya memang ada.”
Rina langsung sadar dia salah bicara.
Ponsel Julian berbunyi.
Dia membaca sesuatu.
Wajahnya semakin tegang.
“Apa?” tanya Rina.
Julian menunjukkan layar.
Aku tidak bisa membaca isinya.
Namun beberapa detik kemudian dia menatapku dengan ekspresi berbeda.
“Direktur utama sedang rapat mendadak.”
Aku tidak menjawab.
“Siapa kamu?”
Aku berjalan ke pintu.
Julian menghalangi.
“Belum selesai.”
“Sudah.”
Aku melihat Pak Dedi.
“Tolong antar saya ke lift eksekutif.”
Julian tertawa.
“Lift eksekutif butuh akses biometrik.”
“Aku tahu.”
Aku sengaja berhenti menggunakan kata formal.
Julian menyadarinya.
Kami berjalan keluar.
Hampir semua karyawan masih memperhatikan.
Pakaian basahku membuat keadaan terlihat aneh, tetapi aku sudah tidak peduli.
Julian mengikuti beberapa langkah di belakang.
Mungkin dia ingin memastikan aku gagal.
Kami sampai di pintu lift khusus direksi.
Dia menyilangkan tangan.
“Silakan.”
Aku meletakkan ibu jari di panel.
Lampu berubah hijau.
AKSES DISETUJUI.
Nama muncul di layar kecil.
NADIRA MAHESWARI — CHAIRWOMAN / PRINCIPAL SHAREHOLDER
Tidak ada suara selama beberapa detik.
Aku mendengar Siska menarik napas.
Fajar berdiri dari kursinya.
Pak Dedi menundukkan kepala.
“Selamat pagi, Bu Nadira.”
Julian tidak bergerak.
Rina seperti kehilangan kata-kata.
Aku menoleh kepada mereka.
“Sekarang kita bicara sebagai diri kita masing-masing.”
Julian mencoba bicara.
“Bu… saya…”
“Naik bersama saya.”
Dia pucat.
“Bu Nadira, saya benar-benar tidak tahu.”
“Justru itu masalahnya.”
Pintu lift terbuka.
“Ayo.”
Kami naik ke lantai tiga puluh satu.
Rina ikut.
Pak Dedi tetap di bawah.
Sebelum pintu menutup, aku melihat puluhan karyawan masih berdiri.
Beberapa terlihat takut.
Sebagian terlihat lega.
Aku tahu satu hal.
Kalau aku hanya memecat Julian, masalahnya tidak akan selesai.
Orang seperti dia bisa berkuasa karena ada sistem yang membiarkannya.
Lantai tiga puluh satu adalah wilayah direksi.
Tidak banyak orang tahu aku sudah kembali ke Jakarta tiga hari sebelumnya.
Selama hampir lima tahun, sebagian besar rapatku dilakukan dari luar negeri atau lewat video.
Setelah ayah meninggal, aku sengaja membiarkan Direktur Utama Surya Mahendra menjalankan kegiatan harian.
Dia sudah bekerja bersama ayahku lebih dari dua puluh tahun.
Aku mempercayainya.
Mungkin terlalu lama.
Ketika pintu ruang dewan terbuka, dua belas orang sudah duduk di dalam.
Surya berdiri.
“Nadira?”
Dia benar-benar terlihat terkejut.
Di sebelahnya duduk Arga Pranoto, sekretaris korporat sekaligus penasihat yang paling sering berhubungan denganku selama beberapa tahun terakhir.
Arga berdiri.
“Bu Nadira.”
Aku mengangguk.
Dia langsung melihat pakaian basahku.
“Apa yang terjadi?”
Julian buru-buru bicara.
“Pak Arga, ini salah paham.”
Aku meletakkan tas di meja.
“Tidak.”
Semua mata tertuju kepadaku.
“Tidak ada salah paham.”
Surya menatap Julian.
“Jelaskan.”
Aku mengangkat tangan.
“Tidak perlu.”
Aku mengeluarkan bros kecil dari kerah blazer.
Aku meletakkannya di meja.
“Semua percakapan sejak saya masuk gedung direkam.”
Julian menatap benda itu.
Rina langsung memandang ke bawah.
Arga mengangguk pelan.
“Bagus.”
Aku duduk.
“Putar.”
Tim audit internal sudah menerima rekamannya otomatis.
Suara Julian memenuhi ruang dewan.
Kalimat tentang pengemis.
Tentang orang tidak penting.
Tentang dirinya lebih berkuasa daripada HR.
Lalu suara air.
Setelah itu percakapannya dengan para karyawan.
Tidak ada yang bicara saat rekaman selesai.
Surya memandang Julian dengan kecewa.
“Sejak kapan Anda melakukan hal seperti ini?”
Julian langsung berdiri.
“Pak, saya salah. Saya sedang stres. Ada target yang—”
Aku memotongnya.
“Dua puluh tujuh keluhan dalam sepuluh bulan.”
Julian terdiam.
Aku melihat Rina.
“Sebelas laporan ditutup dengan alasan tidak cukup bukti.”
Rina gelisah.
“Tujuh pelapor kemudian dipindahkan.”
Tidak ada jawaban.
“Empat mengundurkan diri.”
Aku membuka tablet yang sudah disiapkan di meja.
“Dua lainnya kontraknya tidak diperpanjang.”
Rina menatap Surya.
Surya menatapku.
“Nadira, saya tidak pernah melihat angka-angka itu.”
“Itu sebabnya kita rapat.”
Aku menyentuh layar.
Bagan lain muncul.
“Sekarang masalah kedua.”
Beberapa direktur mulai membaca.
Selama tiga tahun terakhir, penggunaan tenaga outsourcing meningkat hampir dua kali lipat.
Biayanya naik jauh lebih cepat dibanding jumlah pekerja.
Satu nama perusahaan muncul berkali-kali.
PT Karya Nusa Solusi.
“Apa hubungannya dengan Julian?” tanya seorang komisaris.
Aku melihat Julian.
“Pak Julian?”
Dia tidak menjawab.
Arga mengambil alih.
“Berdasarkan audit awal, sebagian karyawan yang mengajukan keluhan kemudian diganti tenaga kontrak dari perusahaan tersebut.”
Surya membalik beberapa halaman dokumen.
“Siapa pemilik Karya Nusa?”
Arga menjawab,
“Secara legal, seorang bernama Dimas Santoso.”
Nama belakang itu membuat ruangan sunyi.
Aku melihat Julian.
“Adik Anda?”
Julian langsung duduk.
Surya berdiri.
“Kamu menggunakan perusahaan keluarga?”
“Pak, semuanya melalui tender.”
Arga menyodorkan dokumen.
“Tiga peserta tender menggunakan alamat kantor administrasi yang sama.”
Julian tidak menjawab.
Aku mulai paham kenapa orang-orang yang dianggap sulit selalu disingkirkan.
Bukan hanya soal ego.
Ada uang di belakangnya.
Karyawan tetap yang bersuara ditekan.
Sebagian pergi.
Posisinya kemudian diisi pekerja outsourcing.
Semakin banyak tenaga outsourcing masuk, semakin besar kontrak Karya Nusa.
Rina terlihat panik.
Aku menatapnya.
“Anda tahu?”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat.
Aku membuka satu surel.
“Ini persetujuan HR.”
Wajahnya berubah.
“Pak Julian mengatakan vendor itu sudah disetujui direksi.”
“Siapa?”
Dia tidak menjawab.
Aku menatap Surya.
Surya langsung berdiri.
“Jangan lihat saya seperti itu.”
Aku diam.
Dia mengambil dokumen.
“Saya tidak mengurus tender operasional kecil.”
Arga kemudian menggeser sebuah berkas ke tengah meja.
“Sayangnya ada persetujuan elektronik dari akun Direktur Utama.”
Surya mengambilnya.
Wajahnya berubah.
“Ini tidak mungkin.”
Julian memandangnya.
Mereka saling bertatap beberapa detik.
Itu cukup.
Aku bertanya,
“Pak Surya?”
Dia perlahan duduk.
“Nadira, dengarkan saya.”
Aku menunggu.
“Kamu tinggal di luar negeri bertahun-tahun. Perusahaan ini punya lebih dari sembilan ribu pekerja. Kadang keputusan harus cepat.”
“Apakah itu jawaban?”
“Tidak sesederhana yang kamu pikirkan.”
“Silakan buat sederhana.”
Surya diam.
Julian tiba-tiba bicara.
“Pak Surya tahu tentang vendor.”
Semua orang menoleh.
Surya langsung memandangnya.
“Jaga ucapanmu.”
Julian sudah tidak peduli.
“Bapak yang minta biaya tenaga kerja dialihkan.”
“Nadira, jangan percaya dia.”
“Ada pesan WhatsApp,” kata Julian.
Surya langsung diam.
Julian mengeluarkan ponsel.
Rina terlihat makin panik.
Aku mulai melihat bagaimana kelompok yang tampak kuat bisa pecah hanya karena satu orang merasa akan ditinggalkan.
Arga menerima ponsel Julian lalu menyerahkannya kepada staf audit.
Beberapa menit kemudian salinannya ditampilkan.
Nama Surya ada di sana.
Instruksi soal vendor.
Target pergantian staf.
Permintaan menjaga jumlah pegawai tetap agar tidak naik.
Tidak semua isi pesan melanggar aturan.
Namun polanya cukup jelas.
Aku menatap Surya.
Orang yang selama bertahun-tahun kupanggil Om.
Orang yang berdiri di samping ayahku sejak aku masih sekolah.
“Kenapa?”
Surya mengusap wajah.
“Margin kita menurun.”
“Jadi orang diperlakukan seperti sampah supaya biaya lebih rendah?”
“Saya tidak pernah menyuruh Julian melakukan itu.”
“Tapi Anda membiarkannya.”
“Saya tidak tahu.”
“Dua puluh tujuh keluhan.”
“Rina tidak pernah melaporkannya.”
Semua mata sekarang berpindah kepada Rina.
Rina langsung menangis.
“Saya disuruh.”
“Oleh siapa?” tanyaku.
Dia melihat Julian.
Lalu Surya.
“Ada tekanan dari operasional.”
“Nama.”
Rina diam cukup lama.
“Pak Julian.”
Julian tertawa tidak percaya.
“Jangan lempar semuanya ke saya.”
Aku mengangkat tangan.
“Cukup.”
Aku tidak ingin ruang itu berubah menjadi tempat orang saling berteriak.
Aku meminta tim audit mengambil semua laptop kantor mereka.
Julian berdiri.
“Bu Nadira, apakah saya dipecat?”
Aku menatapnya.
“Mulai hari ini Anda dinonaktifkan dari seluruh kewenangan operasional sampai pemeriksaan selesai.”
Dia menunduk.
“Kalau hanya soal pagi tadi, saya minta maaf.”
Aku menggeleng.
“Anda masih belum mengerti.”
Dia menatapku.
“Masalahnya bukan karena Anda menyiram saya.”
Aku menunjuk layar.
“Masalahnya Anda melakukan itu karena yakin saya tidak punya jabatan.”
Dia diam.
“Kalau pagi tadi saya datang memakai mobil mahal dan membawa lima asisten, Anda tidak akan berani berbicara seperti itu.”
Tidak ada jawaban.
Aku menatap Rina.
“Anda juga dinonaktifkan sementara dari fungsi HR.”
Rina langsung berdiri.
“Bu, saya punya dua anak.”
“Aku tahu.”
Aku tidak meninggikan suara.
“Pemeriksaan belum menentukan kesimpulan akhir. Tapi selama proses berjalan, Anda tidak bisa memegang akses laporan pegawai.”
Dia perlahan duduk.
Aku lalu menatap Surya.
Ruangan makin sunyi.
Dia tersenyum pahit.
“Sekarang giliran saya?”
“Ya.”
“Nadira, pikirkan baik-baik. Saya menjalankan perusahaan ini ketika kamu bahkan tidak berada di Indonesia.”
“Benar.”
“Tanpa saya, dewan akan kesulitan.”
“Ada struktur pengganti.”
“Siapa?”
Aku belum menjawab ketika Arga berkata,
“Saya bisa mengambil fungsi koordinasi sementara bila dewan mengizinkan.”
Aku menoleh kepadanya.
Arga segera menambahkan,
“Hanya sampai pemeriksaan selesai.”
Surya tertawa kecil.
“Tentu saja.”
Aku menatap keduanya.
Ada sesuatu dalam cara Surya mengatakan kalimat itu.
Aku menyimpannya dalam pikiran.
Dewan melakukan pemungutan suara.
Dengan kepemilikan saham pengendali yang kupegang, keputusan akhirnya jelas.
Surya dinonaktifkan sementara.
Julian dibawa keluar lebih dulu.
Rina menyusul.
Surya berhenti di pintu.
Sebelum pergi, dia menatap Arga.
“Kamu pasti puas.”
Arga tidak menjawab.
Surya lalu melihatku.
“Periksa semua orang, Nadira.”
“Akan kulakukan.”
Dia tersenyum tipis.
“Jangan berhenti pada kami.”
Pintu tertutup.
Aku duduk kembali.
Rasanya seharusnya lega.
Namun tidak.
Aku terus memikirkan kalimat terakhirnya.
Arga berdiri di sampingku.
“Bu Nadira, saya sudah menyiapkan pengumuman internal.”
“Belum.”
Dia berhenti.
“Kita jangan membuat pengumuman sampai tim audit mengamankan data.”
“Baik.”
“Semua akses Julian, Rina, dan Pak Surya sudah ditutup?”
“Sudah.”
“Keluhan karyawan?”
“Kita bisa membuka kanal baru.”
Aku mengangguk.
“Langsung ke tim independen.”
“Saya urus.”
Dia selalu seperti itu.
Cepat.
Tenang.
Selalu punya jawaban.
Itulah alasan aku mempercayainya bertahun-tahun.
Menjelang sore, aku kembali ke lantai dua puluh tiga.
Aku sudah mengganti pakaian.
Saat lift terbuka, semua orang langsung diam.
Aku tidak suka suasana itu.
“Semuanya lanjut kerja saja.”
Beberapa orang perlahan duduk.
Siska masih berada di meja depan.
Aku mendekatinya.
“Terima kasih untuk tisunya.”
Dia terlihat gugup.
“Maaf, Bu. Saya seharusnya dari awal—”
“Kamu tidak perlu minta maaf.”
“Tapi saya takut.”
“Aku tahu.”
Fajar mendekat.
“Bu, boleh bicara?”
“Boleh.”
Dia menyerahkan sebuah amplop.
“Ada beberapa orang yang sudah lama menyimpan ini.”
Di dalamnya ada salinan pesan.
Perubahan jadwal.
Ancaman evaluasi.
Pemindahan staf.
Catatan pemotongan insentif.
Aku melihat wajah orang-orang di ruangan itu.
“Kenapa tidak dikirim ke pusat?”
Fajar menjawab pelan.
“Kami sudah kirim.”
Aku berhenti.
“Kapan?”
“Tiga kali.”
“Ke siapa?”
“Alamat pengaduan eksekutif.”
Aku merasa ada sesuatu yang tidak benar.
Alamat itu bukan dikelola HR wilayah.
Itu berada langsung di bawah sekretariat korporat.
Di bawah Arga.
Aku tidak menunjukkan reaksiku.
“Hapus salinan digitalnya?”
“Tidak, Bu. Saya masih simpan.”
“Kirim ke saya langsung.”
“Baik.”
Aku kembali ke lantai tiga puluh satu.
Arga sedang rapat dengan tim legal.
Aku tidak masuk.
Sebaliknya, aku menelepon kepala teknologi informasi, Bagas.
“Mas Bagas, saya butuh satu hal.”
“Siap, Bu.”
“Jangan beri tahu siapa pun.”
Dia diam sebentar.
“Baik.”
“Cari jejak semua surel pengaduan dari tiga tahun terakhir.”
“Termasuk yang dihapus?”
“Terutama yang dihapus.”
Dua jam kemudian dia datang sendiri ke ruanganku.
Wajahnya serius.
Dia membawa laptop tanpa mengirim data lewat jaringan kantor.
“Bu, saya rasa Ibu perlu melihat ini langsung.”
Aku mengunci pintu.
Bagas membuka log server.
Ada puluhan surel pengaduan.
Bukan dua puluh tujuh.
Enam puluh tiga.
Sebagian besar tidak pernah sampai kepada dewan.
Aku melihat kolom akses.
Satu akun muncul berkali-kali.
Aku mengenalnya.
Aku tidak langsung bicara.
“Yakin?”
“Log server tidak bisa diubah dari akun biasa.”
“Dia menghapusnya?”
“Sebagian dipindahkan. Sebagian ditandai selesai tanpa tiket pemeriksaan.”
Aku duduk.
Semua potongan cerita mendadak berubah.
Arga selalu menjadi orang pertama yang memberitahuku bahwa keluhan tidak cukup kuat.
Dia yang menyarankan aku tetap memantau dari jauh.
Dia pula yang mengatur audit hari ini.
“Cari hubungan Arga dengan Karya Nusa.”
Bagas mengetik.
Butuh beberapa menit.
Kemudian satu data muncul.
Pemilik resmi Karya Nusa memang Dimas Santoso, adik Julian.
Namun perusahaan itu memiliki satu komisaris yang mengundurkan diri dua tahun lalu.
Namanya bukan Arga.
Namanya Laras Pranoto.
Aku mengenal nama itu.
“Istrinya?”
Bagas mengangguk.
Aku tidak merasa marah.
Belum.
Aku hanya merasa sangat bodoh.
Aku langsung kembali ke ruang rapat kecil.
Arga masih di sana.
Dia berdiri ketika melihatku.
“Bu Nadira, pengumuman sudah—”
“Tutup pintu.”
Dia berhenti.
Bagas masuk setelahku.
Dua anggota komite audit ikut masuk.
Arga melihat mereka.
“Ada masalah?”
Aku meletakkan hasil log di meja.
“Enam puluh tiga keluhan.”
Dia melihat layar.
Wajahnya tidak langsung berubah.
Dia terlalu berpengalaman untuk itu.
“Apa ini?”
“Kamu tahu.”
Dia membaca beberapa baris.
Kemudian duduk.
“Bu Nadira, saya bisa menjelaskan.”
Aku hampir tertawa.
Pagi tadi Julian mengatakan hal yang sama.
Siang tadi Surya juga mengatakan hal yang sama.
Sekarang orang yang selama ini kupercaya mengucapkan kalimat yang sama.
“Aku mendengarkan.”
Arga menatap Bagas.
“Data ini bisa salah.”
Bagas menjawab,
“Tidak.”
Arga kembali melihatku.
“Saya menahan beberapa laporan karena tidak semuanya valid.”
“Enam puluh tiga?”
“Banyak laporan emosional.”
“Kamu bukan HR.”
“Saya melindungi perusahaan.”
“Dari siapa?”
Dia tidak menjawab.
Aku menggeser data berikutnya.
Nama istrinya.
Karya Nusa.
Arga akhirnya kehilangan ketenangannya.
“Itu investasi lama.”
“Yang tidak pernah dilaporkan.”
“Sebelum saya menjadi sekretaris korporat.”
“Tapi perusahaan itu masih mendapat kontrak saat kamu sudah menjabat.”
“Saya tidak terlibat tender.”
Aku menunjukkan log surel.
“Namun kamu menghapus pengaduan tentang orang yang membuat vendor itu terus mendapat tenaga kerja baru.”
Arga terdiam.
Sekarang aku paham semuanya.
Surya memang bersalah karena membiarkan sistem yang buruk berkembang.
Julian memang menggunakan jabatan untuk kepentingan keluarga.
Rina memang menutup keluhan.
Namun ada seseorang yang memastikan semua itu tidak pernah sampai kepadaku.
Orang yang paling kupercaya.
Arga.
Aku berdiri.
“Kamu yang menyuruhku datang menyamar hari ini.”
“Karena saya ingin Ibu melihat masalah sebenarnya.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Kamu tahu aku sudah meminta data mentah minggu lalu.”
Dia diam.
“Kamu sadar aku akhirnya akan menemukan keluhan yang hilang.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu mempercepat semuanya.”
Salah satu anggota audit melihat Arga.
Aku melanjutkan.
“Kamu membiarkan aku menjatuhkan Julian, Rina, dan Surya.”
Arga tidak menjawab.
“Lalu kamu tadi menawarkan diri menjadi pengganti sementara.”
Ruangan benar-benar sunyi.
Barulah aku melihat rencana sebenarnya.
Dia tidak menciptakan kelakuan Julian.
Dia juga tidak memaksa Surya mengambil keputusan buruk.
Dia hanya membiarkan semuanya tumbuh.
Kemudian ketika aku mulai curiga, dia mencoba berdiri di sisi orang yang membongkar masalah.
Dengan begitu, ketika semua orang jatuh, dia menjadi satu-satunya orang yang terlihat bersih.
“Aku salah soal satu hal pagi ini,” kataku.
Arga mengangkat wajah.
“Aku mengira sedang menyelidiki seorang manajer sombong.”
Aku menatap dokumen di meja.
“Ternyata aku sedang melihat sistem yang dibangun oleh beberapa orang sekaligus.”
Arga perlahan melepas kartu aksesnya.
Dia sudah tahu.
Aku memanggil tim keamanan.
Tidak ada keributan.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada adegan panjang.
Arga hanya meletakkan ponsel dan laptop kantor di meja.
Sebelum keluar, dia berhenti di dekat pintu.
“Kalau saya tidak mengatur kunjungan hari ini, Ibu mungkin tidak akan menemukan semuanya secepat ini.”
Aku menatapnya.
“Mungkin.”
Dia seolah berharap ada kesempatan.
Aku menambahkan,
“Tapi orang yang membuka sebagian kebenaran untuk menyembunyikan bagian dirinya sendiri tetap bukan orang yang bisa kupercaya.”
Arga keluar.
Malam sudah turun ketika aku kembali sendirian ke lantai dua puluh tiga.
Hampir semua karyawan sudah pulang.
Siska masih ada.
“Belum pulang?”
“Sebentar lagi, Bu.”
Aku melihat ember yang tadi pagi digunakan Julian.
Benda itu sudah diletakkan kembali di sudut dekat mesin fotokopi.
Tidak ada yang istimewa.
Aku teringat bagaimana pagi tadi semua orang diam saat melihatku dipermalukan.
Dulu mungkin aku akan menyalahkan mereka.
Sekarang aku tidak bisa.
Orang-orang itu sudah terlalu lama hidup dalam keadaan di mana bicara bisa membuat mereka kehilangan pekerjaan.
Aku mengambil papan kecil di meja resepsionis.
PENGADUAN PEGAWAI — HUBUNGI HR
Aku melepaskannya.
Siska memperhatikanku.
“Besok jangan pasang itu lagi.”
Dia terlihat bingung.
“Terus diganti apa, Bu?”
“Nomor tim independen.”
Aku memberikan secarik kertas.
“Dan setiap laporan dapat nomor tiket yang tidak bisa dihapus satu orang.”
Siska mengangguk.
Aku berjalan menuju lift.
“Bu Nadira.”
Aku menoleh.
Dia ragu sebelum bertanya.
“Waktu Pak Julian menyiram Ibu tadi… Ibu sudah tahu semua ini akan terjadi?”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Terus kenapa Ibu tidak langsung bilang siapa Ibu?”
Aku memikirkan jawabannya.
“Karena kalau dia tahu dari awal, dia akan bersikap baik.”
Siska diam.
Aku menekan tombol lift.
“Dan aku tidak datang untuk melihat bagaimana seseorang memperlakukan pemilik perusahaan.”
Pintu terbuka.
“Aku datang untuk melihat bagaimana mereka memperlakukan orang yang mereka pikir tidak punya kekuasaan.”
Keesokan paginya, hasil audit awal dikirim kepadaku.
Ada satu catatan tambahan di halaman terakhir.
Tim menemukan bahwa laporan anonim pertama yang membuatku mulai curiga enam bulan lalu ternyata tidak dikirim oleh seorang karyawan.
Alamatnya dibuat seolah anonim.
Namun metadata lama masih tersimpan.
Pengirimnya adalah Surya.
Aku membaca halaman itu dua kali.
Orang yang kemarin kami nonaktifkan ternyata orang pertama yang mencoba memberi tanda bahwa ada sesuatu yang salah.
Dia tidak berani melakukannya secara terbuka karena Arga memegang hampir semua jalur komunikasi menuju aku.
Surya memang melakukan banyak kesalahan.
Dia membiarkan Julian terlalu kuat.
Dia menyetujui keputusan yang buruk.
Namun dia bukan orang yang sejak awal berusaha menyembunyikan semuanya.
Aku baru memahami tatapannya kepada Arga sebelum keluar dari ruang dewan.
“Periksa semua orang, Nadira. Jangan berhenti pada kami.”
Ternyata itu bukan ancaman.
Itu peringatan.
Dan dalam satu hari, aku belajar bahwa orang paling berbahaya di perusahaan bukan selalu orang yang paling keras menghina orang lain.
Kadang justru orang yang duduk tenang di samping kita, membantu membereskan masalah, sambil memastikan kita tidak pernah melihat bahwa sebagian masalah itu sudah lama melewati mejanya.
Aku menutup laporan.
Kemudian mengambil ponsel.
“Mas Bagas.”
“Ya, Bu?”
“Perluas audit.”
“Ke bagian mana?”
Aku melihat daftar seluruh direksi dan vendor.
“Ke semuanya.”
Kali ini, tidak ada lagi orang yang dikecualikan.

