PARTE 1
“Pak Arga, Bu Nadira sudah dihukum hampir tiga jam. Tujuh belas tulangnya retak, dan dokter internal menduga ada pendarahan di bagian perut. Kalau tidak segera dibawa ke rumah sakit, nyawanya bisa benar-benar tidak tertolong.”
Tangan Arga Mahendra yang sedang memegang gelas berhenti sesaat.
Di seberangnya, Livia Anindita meletakkan sendok dengan gerakan pelan. Wajahnya langsung berubah seolah sangat terkejut.

Namun Arga hanya menyesap minumannya.
“Bawa dia ke ruang penyimpanan bawah,” katanya datar. “Jangan panggil dokter. Biar dia ingat, jangan pernah menyentuh Livia lagi.”
Damar, kepala keamanan keluarga Mahendra, tidak bergerak.
Arga mengangkat pandangan.
“Kenapa masih di sini?”
Damar mengepalkan tangan.
“Pak Arga… kondisi Bu Nadira bukan lagi sekadar luka ringan. Tim medis rumah mengatakan dia harus dibawa ke rumah sakit besar sekarang juga.”
“Damar.”
Satu kata itu membuat ruangan makan yang luas mendadak senyap.
Livia segera berdiri, lalu menyentuh lengan Arga.
“Mas Arga, sebenarnya Kak Nadira cuma tidak sengaja menyenggolku di tangga. Aku tidak apa-apa. Jangan marah sebesar ini. Bagaimanapun juga… dia istrimu.”
Arga memandang Livia, dan tatapannya yang dingin tadi langsung melunak.
“Kamu terlalu baik.”
“Mas…”
“Kalau dia punya setengah saja sifatmu, semua ini tidak akan terjadi.”
Livia menunduk.
“Tapi…”
“Istri?”
Arga tersenyum tanpa kehangatan.
“Dia masih pantas disebut istriku?”
Damar menahan napas.
“Lakukan apa yang saya katakan.”
Beberapa menit kemudian, pintu ruang bawah tanah kediaman keluarga Mahendra terbuka.
Nadira Prameswari terbaring lemah di lantai dingin.
Dia hampir tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Saat Damar berlutut di sampingnya, wajah pria itu berubah.
“Bu Nadira…”
Kelopak mata Nadira bergerak.
“Dia… bilang apa?”
Damar tidak menjawab.
Nadira tersenyum tipis.
“Dia menyuruhku mengingat… supaya tidak menyentuh Livia lagi, bukan?”
Damar menunduk.
Nadira tidak membutuhkan jawaban.
Enam tahun menjadi istri Arga membuatnya mampu menebak setiap keputusan pria itu.
Damar mengeluarkan obat, perban, dan cairan antiseptik dari balik jaket.
“Saya tidak bisa memanggil dokter tanpa perintah. Tapi setidaknya biarkan saya membantu.”
“Tidak perlu.”
“Bu Nadira—”
“Damar.”
Suara Nadira sangat pelan.
“Tolong ambilkan sesuatu untukku.”
Damar terdiam.
“Di kamar lama… ada koper merah yang kubawa saat pertama kali menikah. Di bagian paling bawah ada kotak kayu kecil.”
“Apa isinya?”
“Liontin giok.”
Damar menatapnya lama.
“Cepat.”
Pria itu akhirnya berdiri dan pergi.
Begitu pintu tertutup, Nadira menatap retakan kecil di lantai semen.
Dulu, hidupnya tidak pernah seperti ini.
Enam tahun lalu, seluruh Jakarta mengenal nama Nadira Prameswari.
Dia adalah putri tunggal keluarga Prameswari, pemilik salah satu grup properti terbesar di Indonesia.
Ayahnya, Surya Prameswari, dikenal sebagai pengusaha yang mengembangkan kawasan perumahan, pusat komersial, dan hotel dari Jakarta sampai Bali.
Kakaknya, Raka Prameswari, masuk jajaran eksekutif muda paling diperhitungkan sebelum berusia tiga puluh tahun.
Sedangkan Nadira?
Dia adalah anak perempuan yang dibesarkan seperti permata keluarga.
Saat menikah dengan Arga Mahendra, pesta resepsi mereka digelar di sebuah hotel mewah di Jakarta dengan ribuan tamu.
Media bisnis menulis pernikahan itu sebagai penyatuan dua keluarga besar.
Malam setelah resepsi, Arga pernah menggenggam tangannya dan berkata,
“Nadira, selama aku hidup, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.”
Nadira mempercayainya.
Sampai tiga tahun kemudian, Arga membawa pulang seorang perempuan bernama Livia Anindita.
Arga mengatakan Livia adalah orang yang pernah menyelamatkannya setelah kecelakaan mobil di Puncak.
Sejak hari itu, semuanya berubah.
Awalnya Livia hanya tinggal beberapa hari.
Lalu beberapa minggu.
Kemudian beberapa bulan.
Lambat laun, kamar tamu berubah menjadi kamar pribadinya.
Staf rumah mulai memanggil namanya dengan hormat.
Arga mulai membatalkan makan malam bersama Nadira karena menemani Livia.
Hari ulang tahun Nadira dilewatkannya karena Livia demam.
Ulang tahun pernikahan mereka dilupakannya karena Livia ingin pergi ke Bandung.
Setiap kali Nadira protes, Arga selalu mengatakan hal yang sama.
“Dia pernah menyelamatkan hidupku.”
Seolah satu kalimat itu cukup untuk membenarkan semua hal.
Nadira bertahan.
Bukan karena lemah.
Tetapi karena dia masih mengingat Arga yang dulu.
Arga yang menunggunya di depan rumah saat hujan.
Arga yang belajar memasak hanya karena Nadira pernah bercanda ingin sarapan buatan suaminya.
Arga yang pernah berkata bahwa rumah tanpa Nadira bukan rumah.
Namun pria itu seperti telah hilang.
Dan pagi tadi, semuanya mencapai batas.
Saat Nadira turun dari lantai dua, Livia berdiri tepat di tangga sambil memegang secangkir kopi.
Entah bagaimana, bahu mereka bersentuhan.
Cangkir jatuh.
Livia terduduk.
Arga yang baru masuk langsung berlari menghampirinya.
Tanpa bertanya apa pun, dia menuduh Nadira mendorong Livia.
Nadira bahkan belum sempat membela diri ketika Arga memerintahkan orang-orang keamanan membawanya pergi.
“Aku bahkan tidak menyentuhnya,” kata Nadira saat itu.
Tetapi Arga hanya menjawab,
“Masih mau berbohong?”
Pintu ruang bawah tanah terbuka kembali.
Damar masuk membawa koper merah.
Tangannya gemetar saat menyerahkan sebuah kotak kayu tua.
Nadira membuka tutupnya perlahan.
Di dalamnya ada liontin giok hijau berbentuk bunga melati.
Benda itu diberikan ibunya sebelum meninggal.
Namun yang lebih penting, di balik batu giok itu terdapat sebuah pelat tipis dengan nomor khusus.
Nomor yang terhubung langsung ke satu orang.
Nadira mengangkat tangan dengan susah payah.
“Ponselmu.”
Damar menyerahkannya.
Nadira mengetik nomor itu.
Hanya sekali nada sambung terdengar sebelum seseorang menjawab.
“Siapa?”
Nadira menutup mata.
“Kak…”
Di seberang sana, napas orang itu berhenti.
“Nadira?”
Air mata pertama dalam tiga tahun akhirnya jatuh dari sudut mata Nadira.
“Jemput aku.”
Suara Raka Prameswari langsung berubah.
“Kamu di mana?”
“Rumah keluarga Mahendra.”
“Nadira, apa yang terjadi?”
Nadira memandang pintu besi di depannya.
“Kalau Kakak datang terlambat…”
Dia berhenti sebentar.
“…mungkin besok keluarga Prameswari tinggal punya satu anak.”
Di ujung telepon, suara kursi terdengar jatuh.
Lalu sambungan terputus.
Damar pucat.
“Bu Nadira… apakah Pak Raka akan datang?”
Nadira tidak menjawab.
Karena hanya dia yang tahu satu hal.
Selama enam tahun pernikahannya, keluarga Prameswari tidak pernah ikut campur karena Nadira sendiri yang melarang mereka.
Tetapi malam ini…
Larangan itu telah dicabut.
Dan tidak seorang pun di rumah keluarga Mahendra tahu apa yang sebentar lagi akan datang melalui gerbang depan mereka.
PARTE 2
Dua puluh tujuh menit setelah panggilan itu, gerbang utama kediaman keluarga Mahendra terbuka.
Bukan satu mobil yang masuk.
Ada enam.
Tiga SUV hitam, dua sedan, dan satu ambulans dari rumah sakit swasta terbesar di Jakarta.
Raka Prameswari turun dari mobil pertama.
Dia mengenakan kemeja putih tanpa jas, seolah meninggalkan rapat penting tanpa sempat mengganti pakaian.
Di belakangnya berjalan seorang dokter spesialis, dua perawat, pengacara keluarga Prameswari, dan beberapa staf keamanan.
Pelayan rumah berlari memberi tahu Arga.
Saat Arga keluar dari ruang makan, ekspresinya langsung berubah.
“Raka?”
Raka tidak menjawab salam.
“Di mana adikku?”
Arga berdiri tegak.
“Ini masalah rumah tangga saya.”
Raka menatapnya.
“Di mana Nadira?”
“Aku bilang, ini urusan—”
Raka melangkah maju.
“Kalau aku harus mengulang pertanyaan itu sekali lagi, malam ini juga seluruh keluarga Mahendra akan tahu seberapa besar harga yang harus dibayar karena menyentuh adikku.”
Livia keluar dari ruang makan.
Wajahnya tampak cemas.
“Kak Raka, mungkin ada salah paham…”
Raka bahkan tidak melihatnya.
Damar muncul dari lorong.
Pandangan mereka bertemu.
Raka langsung memahami sesuatu dari wajah kepala keamanan itu.
“Bawa saya ke sana.”
Arga berdiri menghadang.
“Tidak ada yang masuk tanpa izin saya.”
Namun Damar berkata,
“Maaf, Pak.”
Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun bekerja untuk keluarga Mahendra, dia mengabaikan perintah Arga.
Dia membawa Raka menuju ruang bawah tanah.
Ketika pintu dibuka, langkah Raka berhenti.
Wajah pria yang biasanya tenang itu kehilangan seluruh warna.
“Nadira…”
Tim medis segera bergerak.
Dokter memeriksa kondisi Nadira dan langsung memerintahkan pemindahan ke ambulans.
Raka berdiri kaku di samping tandu.
Ketika Nadira membuka mata, dia berbisik,
“Kak…”
Raka menggenggam tangannya.
“Pulanglah.”
Hanya dua kata.
Nadira menatap kakaknya.
“Boleh?”
Pertanyaan itu membuat mata Raka memerah.
Rumah keluarga Prameswari tidak pernah menutup pintu untuknya.
Namun selama enam tahun, Nadira yang terus mengatakan bahwa hidupnya bersama Arga baik-baik saja.
Bahkan ketika ayah mereka curiga.
Bahkan ketika Raka berkali-kali ingin menjemputnya.
Nadira selalu membela suaminya.
Sekarang, untuk pertama kali, dia meminta izin untuk pulang.
Raka menunduk.
“Selama ini kamulah yang tidak mau pulang.”
Saat tandu melewati ruang utama, Arga berdiri di sana.
“Nadira.”
Perempuan itu tidak menoleh.
“Nadira!”
Barulah dia membuka mata.
Arga menatap Raka.
“Dia istri saya. Kalian tidak bisa membawanya begitu saja.”
Pengacara keluarga Prameswari mengeluarkan sebuah dokumen.
“Pak Arga, mulai malam ini seluruh komunikasi dengan Bu Nadira dilakukan melalui kuasa hukum.”
Arga tertawa dingin.
“Kuasa hukum?”
Kemudian Nadira berbicara dari tandu.
“Aku mau bercerai.”
Senyum Arga lenyap.
Livia terlihat terkejut.
Namun Raka justru menatap adiknya seolah baru mendengar kalimat yang sudah ditunggunya selama bertahun-tahun.
Arga berjalan mendekat.
“Kamu sedang tidak sadar.”
“Aku sangat sadar.”
“Kamu pikir keluarga Prameswari masih seperti enam tahun lalu?”
Nadira tersenyum tipis.
“Kamu benar.”
Arga mengernyit.
“Keluarga Prameswari memang tidak sama lagi.”
Raka mengambil alih.
“Nilai grup kami sekarang hampir empat kali lipat dibanding saat Nadira menikah denganmu.”
Arga terdiam.
Raka lalu menambahkan,
“Dan sepertinya kamu juga lupa satu hal.”
“Apa?”
“Dana yang menyelamatkan Mahendra Group dari krisis lima tahun lalu…”
Raka menatap Arga tanpa berkedip.
“…bukan berasal dari ayah kami.”
Arga mulai terlihat tidak nyaman.
“Lalu?”
Raka menoleh ke Nadira.
“Itu uang Nadira.”
Wajah Arga berubah.
Livia ikut membeku.
Nadira memejamkan mata.
Selama lima tahun, tidak ada seorang pun di keluarga Mahendra yang tahu bahwa perempuan yang mereka anggap hanya hidup dari nama besar keluarganya itu diam-diam telah mempertaruhkan hampir seluruh kepemilikan pribadinya untuk menyelamatkan perusahaan suaminya.
Dan rahasia itu baru permulaan.
Karena keesokan paginya, sebuah dokumen lama ditemukan di brankas pribadi Nadira.
Dokumen yang membuat Arga akhirnya memahami bahwa perceraian ini bukan hanya akan mengakhiri pernikahannya.
Dokumen itu bisa mengubah siapa yang sebenarnya mengendalikan Mahendra Group.
PARTE 3
Nadira berada di ruang operasi selama hampir empat jam.
Raka tidak meninggalkan rumah sakit.
Ayah mereka, Surya Prameswari, tiba dari Surabaya menjelang subuh setelah penerbangan khusus.
Pria berusia enam puluhan itu selama bertahun-tahun dikenal tenang bahkan dalam krisis bisnis terbesar.
Namun saat melihat putrinya terbaring di ruang perawatan intensif, tangannya gemetar.
“Kenapa dia tidak pernah mengatakan apa-apa?”
Raka berdiri di samping jendela.
“Karena dia masih mencintainya.”
Surya menutup mata.
“Cinta macam apa yang membuat seseorang menyembunyikan penderitaan seperti ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Pagi itu, tim hukum keluarga membuka kembali semua dokumen keuangan Nadira.
Enam tahun lalu, ketika menikah, Nadira memiliki saham pribadi dari warisan ibunya.
Tiga tahun setelah pernikahan, Mahendra Group mengalami krisis likuiditas akibat beberapa proyek properti gagal.
Saat itu Arga hampir kehilangan perusahaan keluarganya.
Dia tidak pernah tahu bahwa dana darurat yang menyelamatkannya berasal dari Nadira.
Nadira menggunakan perusahaan investasi pribadi untuk membeli obligasi konversi Mahendra Group.
Tujuannya sederhana.
Dia tidak ingin harga diri suaminya terluka.
Jika Arga tahu istrinya yang menyelamatkan perusahaan, Nadira takut hubungan mereka berubah.
Karena itu dia meminta seluruh transaksi dilakukan melalui perusahaan perantara.
Ironisnya, justru keputusan itu sekarang mengubah segalanya.
Menurut kontrak, jika Mahendra Group gagal memenuhi beberapa syarat tata kelola dan ada tindakan kriminal serius yang melibatkan direktur utama, obligasi tersebut dapat dikonversi menjadi saham.
Jumlahnya?
Tiga puluh satu persen.
Raka menatap dokumen itu lama.
“Nadira bahkan tidak pernah mengaktifkan hak ini.”
Pengacara mereka mengangguk.
“Karena dia tidak pernah berniat mengambil perusahaan suaminya.”
Surya berdiri.
“Sekarang aktifkan.”
Sementara itu, Arga baru mulai memahami akibat dari tindakannya.
Di kantor pusat Mahendra Group, direktur keuangan menemui Arga dengan wajah tegang.
“Pak, ada surat dari Prameswari Capital.”
“Apa?”
“Mereka mengajukan konversi obligasi lama.”
Arga berdiri.
“Tidak mungkin.”
Direktur keuangan menyerahkan dokumen.
Setelah membaca halaman pertama, jari Arga menegang.
Tiga puluh satu persen.
Dia langsung menelepon Nadira.
Tidak aktif.
Dia menelepon Raka.
Tidak dijawab.
Livia yang duduk di sofa kantor memperhatikannya.
“Mas, memang separah itu?”
Arga menatapnya.
“Kalau transaksi ini sah, keluarga Nadira menjadi pemegang saham terbesar kedua.”
Livia pucat.
“Bukankah perusahaan ini milik keluargamu?”
“Tidak setelah konversi.”
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Arga, Livia melihat ketakutan nyata di mata pria itu.
Namun masalah berikutnya datang sebelum siang.
Damar meminta bertemu.
Begitu masuk, dia meletakkan sebuah flash drive di meja.
“Apa ini?”
“Rekaman CCTV tangga kemarin.”
Arga membeku.
“Bukankah kamera di lantai dua rusak?”
“Tidak, Pak.”
“Siapa bilang rusak?”
Damar tidak langsung menjawab.
Lalu dia menatap Livia.
Ruangan seketika sunyi.
Arga memasang flash drive ke laptop.
Video menampilkan Nadira berjalan menuruni tangga sambil membawa buku.
Livia berdiri dua anak tangga di bawahnya.
Saat Nadira melewati Livia, tidak ada sentuhan berarti.
Namun setelah Nadira membelakangi kamera, Livia sengaja menjatuhkan cangkirnya sendiri, lalu duduk cepat di anak tangga.
Beberapa detik kemudian, Arga masuk.
Video berhenti.
Wajah Arga kosong.
Dia memutar ulang.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Livia segera berdiri.
“Mas, aku bisa jelaskan.”
Arga tidak menjawab.
“Waktu itu aku cuma takut Kak Nadira marah karena—”
“Kamu bilang dia mendorongmu.”
“Aku panik.”
“Kamu bilang dia mengancammu.”
“Aku tidak bermaksud—”
Arga menutup laptop.
“Karena perkataanmu…”
Dia berhenti.
Tiba-tiba bayangan malam sebelumnya muncul di kepalanya.
Damar berlutut.
Memohon agar Nadira dibawa ke rumah sakit.
Dan dirinya sendiri berkata:
Jangan panggil dokter.
Livia menangis.
“Mas Arga, aku salah. Tapi aku tidak tahu kamu akan menghukumnya separah itu.”
Kalimat itu membuat Arga menatapnya.
Untuk pertama kali, tidak ada kelembutan.
“Keluar.”
“Mas…”
“Keluar!”
Livia tersentak.
Dia mengambil tasnya dan pergi.
Namun saat pintu menutup, Arga tetap tidak merasa lega.
Karena satu kebenaran mengerikan mulai terbentuk.
Livia mungkin berbohong.
Tetapi keputusan untuk menghukum Nadira adalah keputusannya sendiri.
Tidak ada seorang pun yang memaksanya.
Siang itu, Arga pergi ke rumah sakit.
Raka menghadangnya di depan ruang perawatan.
“Saya mau melihat Nadira.”
“Tidak.”
“Dia istri saya.”
“Dia sedang menyiapkan gugatan cerai.”
Arga menarik napas.
“Saya hanya ingin bicara.”
Raka menatapnya.
“Enam tahun lalu, adik saya meninggalkan rumah kami karena memilih kamu.”
Arga diam.
“Ketika perusahaanmu hampir bangkrut, dia menjual dua aset milik ibunya untuk menyelamatkanmu.”
Wajah Arga berubah.
“Dia tidak pernah bilang.”
“Karena dia tidak mau kamu merasa berutang.”
Raka semakin mendekat.
“Ketika ayah kami meminta Nadira pulang dua tahun lalu karena melihat bagaimana kamu memperlakukannya, dia menolak.”
“Kenapa?”
“Karena dia berkata, ‘Arga hanya sedang berubah. Suatu hari dia akan kembali seperti dulu.’”
Arga tidak bisa berkata apa-apa.
Raka tertawa pendek tanpa humor.
“Dia menunggu tiga tahun.”
Pintu ruang perawatan terbuka.
Seorang dokter keluar.
“Keluarga Bu Nadira?”
Raka mengangkat tangan.
“Kondisinya sudah stabil. Tapi pemulihannya akan panjang.”
Arga menutup mata sebentar.
“Boleh saya melihatnya?”
Dokter menatap Raka.
Raka tidak langsung menjawab.
Namun dari dalam kamar, terdengar suara lemah.
“Biarkan dia masuk.”
Arga masuk sendirian.
Nadira terlihat jauh lebih kecil di atas ranjang rumah sakit.
Untuk pertama kalinya, Arga tidak berani mendekat.
“Nadira…”
Perempuan itu membuka mata.
“Aku sudah lihat CCTV.”
Nadira tidak menunjukkan keterkejutan.
“Bagus.”
“Aku tidak tahu Livia berbohong.”
“Kamu memang tidak tahu.”
Arga seperti mendapat sedikit harapan.
Namun Nadira melanjutkan,
“Karena kamu tidak pernah bertanya.”
Harapan itu langsung hilang.
“Aku salah.”
Nadira menatap langit-langit.
“Enam tahun lalu kamu bilang tidak akan membiarkan siapa pun menyakitiku.”
Arga mengepalkan tangan.
“Ternyata orang yang seharusnya paling kutakuti justru kamu.”
“Nadira…”
“Aku tidak pernah meminta kamu memilih antara aku dan Livia.”
Air mata mulai menggenang di mata Arga.
“Aku hanya berharap satu kali saja, ketika seseorang menuduhku, kamu bertanya kepadaku apa yang sebenarnya terjadi.”
Dia menoleh.
“Tapi kamu tidak pernah melakukannya.”
Arga mendekat satu langkah.
“Beri aku kesempatan memperbaiki semuanya.”
Nadira tersenyum kecil.
“Memperbaiki?”
“Aku akan mengusir Livia. Aku akan menjelaskan pada keluarga. Aku akan—”
“Mas Arga.”
Sudah bertahun-tahun Nadira tidak memanggilnya dengan nada selembut itu.
Justru karena itu, dada Arga terasa semakin sesak.
“Yang rusak bukan rumah kita.”
Nadira memandangnya.
“Yang rusak adalah rasa aman yang dulu kurasakan saat melihatmu.”
Arga terdiam.
“Dan aku tidak tahu bagaimana cara membangun kembali sesuatu yang sudah mati.”
Dia mengambil amplop putih dari meja samping ranjang.
Surat gugatan perceraian.
Arga tidak menyentuhnya.
“Aku tidak akan tanda tangan.”
Nadira menutup mata.
“Itu hakmu.”
“Kamu benar-benar mau meninggalkanku?”
Nadira terdiam lama.
“Tidak.”
Arga menatapnya cepat.
Lalu Nadira berkata,
“Akulah yang sudah lama ditinggalkan.”
Kalimat itu membuat Arga tidak mampu bergerak.
Beberapa minggu kemudian, kasus kekerasan itu masuk proses hukum.
Damar memberikan kesaksiannya.
Rekaman CCTV diserahkan.
Livia juga diperiksa karena memberikan keterangan palsu mengenai kejadian di tangga.
Sementara itu, konversi saham Mahendra Group tetap berjalan.
Namun Nadira mengambil keputusan yang tidak diduga siapa pun.
Dia tidak merebut jabatan Arga.
Tidak mengambil kursi direktur.
Tidak menghancurkan perusahaan.
Dia hanya memindahkan seluruh kepemilikan sahamnya ke sebuah trust independen dengan syarat satu hal:
Mahendra Group harus membentuk sistem kepatuhan dan perlindungan karyawan yang tidak bisa dikendalikan satu orang.
Ketika Raka bertanya mengapa dia tidak menghancurkan Arga setelah semua yang terjadi, Nadira hanya menjawab,
“Aku ingin pergi, Kak. Bukan berubah menjadi orang yang sama seperti mereka.”
Enam bulan kemudian, Nadira kembali ke rumah keluarga Prameswari.
Suatu pagi, dia berdiri di balkon tempat ibunya dulu menanam melati.
Raka datang membawa kopi.
“Masih memikirkannya?”
Nadira memandang bunga-bunga yang bergerak diterpa angin.
“Kadang.”
“Menyesal menikah?”
Nadira tersenyum.
“Tidak.”
Raka mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Karena kalau aku tidak pernah salah memilih orang, mungkin aku juga tidak pernah belajar memilih diriku sendiri.”
Di tempat lain, Arga masih tinggal di rumah besar yang dulu terasa penuh.
Kamar Nadira kosong.
Lemarinya kosong.
Meja kerjanya kosong.
Hanya satu benda yang tertinggal.
Foto pernikahan mereka.
Dalam foto itu, Nadira tersenyum lebar.
Arga muda berdiri di sampingnya, menatapnya seolah tidak ada perempuan lain di dunia.
Setiap malam Arga melewati foto itu.
Dan setiap malam, dia diingatkan bahwa seseorang tidak selalu kehilangan orang yang dicintainya ketika orang itu pergi.
Kadang, kehilangan sebenarnya terjadi jauh lebih awal—
saat kita mulai memperlakukan seseorang seolah dia akan tetap tinggal, seburuk apa pun kita menyakitinya.
