Aku memergoki suamiku seorang perwira TNI bercumbu mesra dengan direktur pengusaha di lantai dua markas militer detik itu juga aku menelepon kakakku membekukan dana yayasan ratusan miliar rupiah dan menghancurkan hidupnya sampai dia bersimpuh menangis darah!

BAGIAN 1
Pagi itu, sebelum azan Subuh berkumandang pukul lima pagi, putra kecilku Rizky sudah terbangun dengan mata berbinar. Bocah delapan tahun itu telah menghabiskan satu pekan penuh menyusun rencana kejutan manis untuk ayahnya, Mayor Laut Dimas Prabowo, seorang perwira yang menjabat di Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut Surabaya.
Aku, Siti Nurhaliza, berdiri di dapur mengamati jemari mungil Rizky yang sibuk menempelkan stiker gambar jangkar buatan tangannya di tutup termos kopi hangat. Dengan tulisan tangan khas anak-anak yang sedikit miring, ia menuliskan kalimat: “Untuk Komandan terbaik dan Ayah terbaik di dunia.” Di sampingnya, kue bolu pandan panggang buatan tanganku masih menguapkan aroma harum manis yang memenuhi seluruh ruangan dapur kami.
Hati ibu mana yang tidak teriris melihat pemandangan itu? Sudah tiga kali berturut-turut Dimas melewatkan makan malam keluarga kami dengan alasan tugas dinas mendadak yang tak bisa ditunda. Bahkan, acara pentas seni sekolah Rizky yang sudah ditunggu-tunggu selama berbulan-bulan terpaksa batal dihadiri oleh ayahnya. Kecewa? Ya Allah, tentu saja dada ini terasa sesak dan hancur. Namun demi kebahagiaan buah hatiku, aku menahan seluruh rasa pahit itu rapat-rapat.
“Begitu lihat kita datang membawa kue dan kopi hangat, Ayah pasti langsung lupa sama rasa capeknya, kan Ibu?” ucap Rizky gembira sambil memeluk erat wadah penyimpanan kue yang masih hangat.
Aku tersenyum getir sembari mengelus lembut kepalanya. “Iya, Sayang. Ayah pasti bangga sekali punya anak sehebat Rizky.”
Mobil kami akhirnya tiba di pintu gerbang pos penjagaan utama markas pangkalan militer. Udara pagi laut terasa dingin menyapu wajah. Seorang prajurit muda berinisial Sertu Bambang melangkah mendekat dan memeriksa kartu identitas resmiku. Awalnya, wajah prajurit itu mengumbar senyum ramah saat menyapa Rizky. Namun, tatkala mata prajurit itu melirik ke arah layar komputer pos penjagaan, raut wajahnya mendadak berubah tegang, pucat, dan serba salah.
“Maafkan saya, Bu Siti… Mayor Dimas sedang sangat sibuk dan tidak bisa diganggu oleh siapa pun saat ini,” ujar Sertu Bambang dengan nada suara yang bergetar ragu.
Aku mengernyitkan dahi. Melalui kaca depan mobil, mataku menangkap keberadaan mobil dinas suamiku yang terparkir rapi tepat di halaman depan gedung utama. “Kami tahu dia ada di dalam, Bambang. Kami hanya ingin mengantarkan sarapan sebentar untuk Komandanmu.”
Prajurit muda itu menelan ludah dengan susah payah. Matanya menatap Rizky dengan pandangan penuh rasa iba yang amat dalam. “Sungguh, Bu… Demi kebaikan Ibu dan Adik Rizky, lebih baik Ibu pulang ke rumah sekarang juga.”
Rizky perlahan menurunkan kotak kuenya dari pangkuan. “Apakah Ayah sedang memimpin rapat sangat penting, Paman Bambang?” tanya anakku lugu.
Sertu Bambang berdiri kaku, posisinya bergeser canggung seolah ingin menghalangi pandangan kami ke arah gedung utama. “Mayor… Mayor berpesan keras agar tidak ada tamu yang masuk. Beliau sedang menerima konsultan proyek di ruangannya…”
Insting seorang istri tidak pernah berdusta. Ada sesuatu yang sangat tidak beres. Mengikuti arah pandangan mata Sertu Bambang yang gelisah, aku melempar pandangan tajam ke arah jendela lantai dua gedung markas. Kaca transparan itu memperlihatkan ruangan kerja suamiku dengan sangat jelas.
Di sana, berdiri seorang wanita cantik bergaun anggun bernama Maya Kartika. Maya adalah Direktur Utama PT Nusa Bahari, kontraktor penyedia jasa perawatan kapal militer. Yayasan Aranda—yayasan bisnis milik keluarga besarku—telah menyokong dan mendanai perusahaan Maya selama dua tahun terakhir. Aku mengenal wanita itu dengan sangat baik, bahkan sering menyambutnya makan siang di rumah kami.
Namun detik berikutnya, dadaku seperti dihantam hantaman gada besi yang menghancurkan seluruh sel dalam tubuhku.
Dimas muncul dari belakang Maya. Seragam dinas kebanggaannya tidak terkancing rapi, kerahnya terbuka berantakan. Maya tertawa manja, jemari lentiknya membetulkan kerah kemeja suamiku dengan sangat intim. Tanpa canggung sedikit pun, Dimas mendaratkan tangannya di pinggang mulus Maya, menarik tubuh wanita itu mendekat, lalu mendaratkan ciuman mesra di bibirnya!
Astaga! Ya Allah! Bumi seolah runtuh menimpa kepalaku!
Aku membeku di tempat. Rasa panas membakar seluruh pembuluh darahku. Aku tidak menjerit, aku tidak berteriak histeris di depan pos penjagaan. Dengan gerakan kilat, aku langsung menutupi mata dan telinga Rizky rapat-rapat. Tapi terlambat… Mata kecil putraku sudah lebih dulu menangkap bayangan tragis ayahnya di balik kaca jendela tersebut.
“Ibu… itu Ayah sama Tante Maya, kan?” bisik Rizky dengan suara gemetar menahan tangis.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Sertu Bambang, aku menuntun Rizky kembali masuk ke dalam mobil. Jemariku gemetar hebat saat memasangkan sabuk pengaman anakku. Aku mengusap air mata yang hampir menetes di pipinya, lalu memintanya menunggu di dalam kendaraan sebentar.
Aku melangkah menjauh beberapa meter dari mobil, berdiri tegak di tengah terik matahari pagi yang mulai membakar. Dengki, sakit hati, dan kehormatan keluarga yang diinjak-injak berganti menjadi amarah dingin yang mematikan. Aku mengambil ponsel dari tas genggamku dan menekan nomor kakak kandungku, Hendra, pimpinan tertinggi holding bisnis Yayasan Aranda.
“Hendra?” suaraku terdengar begitu dingin, menusuk bagaikan es di kutub.
“Ya, Siti? Ada apa pagi-pagi begini?” sahut Hendra di ujung telepon.
Mataku menatap lurus, mengunci sosok dua pengkhianat di jendela lantai dua itu. “Hentikan seluruh dana hibah, kucuran investasi, dan dukungan Yayasan Aranda untuk seluruh proyek militer Dimas hari ini juga.”
Hendra terdiam seribu bahasa di ujung sana. “Maksudmu? Siti, kamu sadar apa yang kamu katakan?”
“Bekukan juga seluruh kontrak kerja sama, rekening operasional, dan izin bisnis PT Nusa Bahari milik Maya Kartika detik ini juga! Aku minta audit forensik total terhadap seluruh keuangan mereka!”
“Kamu yakin, Siti? Keputusan ini bisa meruntuhkan karier Dimas dan mematikannya di pangkalan!”
“Lakukan sekarang tanpa sisa! Hancurkan mereka!” tegasku dingin.
Sebelum mengakhiri panggilan, aku menambahkan satu perintah utama yang mematikan. “Periksa siapa yang menandatangani berkas rekomendasi anggaran tiga tahun terakhir. Aku curiga kecurangan dan pengkhianatan ini sudah berlangsung jauh lebih lama dari yang kita bayangkan…”
Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇
BAGIAN 2
Setelah mematikan telepon, aku menghela napas panjang untuk menetralkan gemuruh gempa bumi di dalam dadaku. Aku melirik melalui kaca spion tengah. Rizky duduk terpaku di kursi belakang, memeluk erat termos kopi dengan gambar jangkar yang kini terasa begitu menyindir kejam. Air mata kecil menetes perlahan menembus kain celananya, tetapi bocah polos itu berusaha keras tidak bersuara agar tidak membuat ibunya makin sedih.
“Ibu…” suara Rizky bergetar halus. “Ayah sudah tidak sayang lagi ya sama kita?”
Hatiku seperti disayat sembilu tajam. Namun aku menolak untuk runtuh saat ini. Aku menghentikan mobil di tepi jalan, berbalik, dan memegang kedua bahu putraku dengan lembut namun mantap. “Dengar Ibu, Rizky. Ayahmu mungkin telah memilih jalan pengkhianatan, tapi kamu punya Ibu yang tidak akan pernah membiarkan siapa pun menginjak-injak harga diri kita. Mulai hari ini, Ibu yang akan jadi pelindungmu.”
Aku mengantar Rizky pulang ke rumah keluarga besar kami, menyerahkannya ke dalam pengawasan aman ibu kandungku dan pengasuh tepercaya. Setelah memastikan anakku tenang, aku melangkah ke kamar utama. Aku membakar seluruh foto pernikahan kami yang terpajang di dinding tanpa meneteskan sebutir air mata pun.
Hari ini, Siti Nurhaliza yang lembut dan penurut telah meninggal dari jiwaku. Yang tersisa adalah putri tunggal pendiri Yayasan Aranda, pewaris tunggal imperium bisnis yang memegang kendali atas dana investasi militer bernilai ratusan miliar rupiah.
Aku mengganti pakaian sederhanaku dengan gaun mahakarya kebaya modern berwarna lavender bertabur kristal yang amat mewah, dipadukan dengan hijab senada dan kacamata hitam elegan. Aku tidak akan mendatangi pengkhianat itu sebagai wanita teraniaya yang merengek menangis. Aku akan mendatanginya sebagai eksekutor yang mencabut seluruh napas kehormatannya.
Di kantor pusat Yayasan Aranda, Hendra sudah menunggu bersama tim hukum senior dan lima auditor forensik independen terbaik di Jakarta.
“Siti, seluruh perintahmu sudah dijalankan,” ujar Hendra dengan wajah tegang saat aku memasuki ruang rapat utama. “Dalam waktu kurang dari satu jam, rekening operasional PT Nusa Bahari telah dibekukan oleh Bank Mandiri dan BCA atas permintaan kita sebagai penjamin utama. Kucuran dana hibah sebesar delapan puluh miliar rupiah untuk proyek pemeliharaan armada kapal di Pangkalan Utama TNI AL resmi kita tarik kembali!”
“Bagaimana dengan posisi Dimas?” tanyaku dingin sambil menghempaskan badan di kursi pimpinan.
“Efek dominonya sangat mematikan,” balas Hendra cepat. “Divisi pengadaan logistik pangkalan militer baru saja mengeluarkan sinyal merah. Tanpa jaminan dana dari Yayasan Aranda, Dimas dianggap melanggar kontrak pengadaan pertahanan negara. Saat ini, seluruh pejabat pangkalan sedang geger luar biasa!”
Belum sempat Hendra menyelesaikan kalimatnya, ponselku bergetar hebat di atas meja. Nama “Suamiku Dimas” tertera di layar. Aku membiarkannya berdering hingga lima kali sebelum akhirnya mengangkatnya dengan nada santai.
“SITI! APA-APAAN INI?!” teriakan histeris Dimas menggema keras dari pengeras suara telepon. Suaranya penuh kepanikan dan kemarahan yang meluap-luap. “Kamu gila ya?! Kenapa seluruh rekening PT Nusa Bahari dibekukan?! Kenapa kucuran dana proyek pangkalan ditarik tanpa persetujuanku?! Pejabat logistik dan Panglima Pangkalan baru saja memanggilku ke ruang komando! Kamu mau menghancurkan karier yang sudah kubangun bertahun-tahun ini, hah?!”
Aku terkekeh pelan, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Hendra berdiri. “Mengapa kamu panik, Mayor Dimas yang terhormat? Bukankah kamu sedang sangat sibuk membetulkan kerah baju dan bermesraan dengan Direktur Maya Kartika di ruang kerja ber-AC milikmu?”
Hening seketika di ujung telepon. Suara napas Dimas mendadak tercekat keras. “Ka… kamu… apa maksudmu, Siti?”
“Sertu Bambang sudah berusaha melarangku masuk pagi tadi,” kataku tajam, setiap kata terucap bagaikan pisau belati. “Tapi mataku dan mata polos anakmu, Rizky, melihat dengan sangat jelas bagaimana tanganmu merangkul pinggang wanita itu dan mencium bibirnya di balik jendela lantai dua markas! Kamu pikir kamu bisa menyembunyikan kebusukanmu di bawah seragam kehormatan TNI AL itu?!”
“Siti, dengarkan aku dulu! Itu tidak seperti yang kamu bayangkan! Itu… itu hanya ucapan terima kasih bisnis! Maya hanya konsultan!” Dimas mencoba membela diri dengan kebohongan yang sangat murahan.
“Simpan kebohonganmu untuk Pengadilan Militer, Dimas. Kopi hangat dan kue bolu buatan anakmu sudah kubuang ke tempat sampah. Dan kariermu? Mulai detik ini, aku sendiri yang akan membumihancurkannya sampai tak tersisa sebutir debu pun!”
Aku langsung mematikan sambungan telepon sebelum dia sempat membantah.
Dua jam kemudian, tim auditor forensik memberikan laporan awal yang membuat darahku mendidih lebih hebat lagi. Pengkhianatan Dimas ternyata tidak sekadar urusan ranjang dan perselingkuhan murahan.
“Bu Siti, ada temuan kejahatan sistematis yang sangat berbahaya,” kata ketua tim auditor sambil menyodorkan setumpuk dokumen bertanda centang merah. “Selama tiga tahun terakhir, Mayor Dimas dan Maya Kartika secara diam-diam memalsukan tanda tangan Ibu dan cap stempel almarhum ayah Ibu. Mereka memindahkan dana simpanan pokok Yayasan Aranda sebesar seratus lima puluh miliar rupiah secara bertahap ke rekening cangkang di Singapura!”
“Apa?!” Hendra berdiri dari kursinya dengan wajah memerah karena murka. “Kurang ajar! Itu dana abadi yayasan untuk panti asuhan dan beasiswa prajurit!”
Auditor itu melanjutkan dengan nada bergetar, “Bukan hanya itu, Pak Hendra. Berkas rekomendasi anggaran proyek pertahanan yang ditandatangani Dimas berisi pembelian suku cadang kapal fiktif dan peralatan navigasi rusak. Jika hal ini terbongkar oleh Inspektorat Jenderal TNI, bukan hanya Dimas yang terseret, tapi Yayasan Aranda dan Pak Hendra akan dituduh sebagai penyokong kejahatan korupsi pertahanan negara!”
Ular beludak! Rencana mereka sangat cermat dan jahat! Dimas dan Maya bermaksud mengeruk habis harta kekayaanku, melimpahkan seluruh kesalahan hukum kepada keluarga besarku, lalu melarikan diri ke luar negeri bersama setelah karier militer Dimas usai!
“Kumpulkan seluruh bukti autentik,” perintahku dengan pandangan membunuh. “Hubungi Kepala Staf Pangkalan Militer dan Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Puspomal). Katakan bahwa pemilik Yayasan Aranda akan hadir di dermaga markas besar sore ini untuk menyerahkan bukti kejahatan berat korupsi dan pemalsuan dokumen negara!”
Sore harinya, matahari mulai menyusut merah di ufuk barat Pangkalan Utama TNI AL Surabaya. Cahaya jingga keemasan memantul dramatis di atas permukaan air laut, menerangi kegagahan kapal perang militer yang bersandar rapat di dermaga.
Mobil kemewahanku berhenti tepat di area dermaga utama. Didampingi oleh Hendra dan jajaran pengacara senior, aku melangkah keluar. Penampilanku yang begitu megah dan berkelas menyedot perhatian seluruh prajurit yang bertugas. Rizky berjalan di sampingku dengan setelan jas kecil yang rapi, memegang erat tanganku dengan tatapan mata yang kini dipenuhi keberanian.
Di depan kapal perang utama, telah berkumpul Panglima Pangkalan Militer, jenderal senior, serta puluhan prajurit Puspomal baret biru. Di sudut lain, Dimas dan Maya Kartika berdiri kaku dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat.
Dimas, yang mengenakan seragam dinas harian lengkap dengan tanda pangkat Mayor di bahunya, mencoba berlari menghampiriku. Wajahnya dipenuhi peluh dingin.
“Siti! Tolong hentikan kegilaan ini!” jerit Dimas histeris di depan para pejabat tinggi militer. “Kita bisa bicarakan ini baik-baik di rumah! Kenapa kamu harus membawa masalah rumah tangga kita ke hadapan Komando Pangkalan? Kamu mau bikin malu suamimu sendiri di depan seluruh prajurit?!”
Maya Kartika, yang berdiri di samping mobil mewahnya dengan gaun merah muda yang mewah namun berantakan, melangkah maju dengan wajah memerah tahan malu. Wanita itu berpura-pura menangis tersedu-sedu untuk mencari simpati.
“Bu Siti… Tolong jangan fitnah saya dan Mayor Dimas!” ratap Maya dengan suara dibuat-buat. “Hubungan kami murni profesionalisme kerja! Ibu hanya cemburu buta dan emosional! Karena kecemburuan Ibu, perusahaan saya hancur dan proyek pertahanan pangkalan terancam gagal! Ibu harus bertanggung jawab!”
Aku menghentikan langkahku tepat beberapa meter di depan mereka. Aku perlahan melepaskan kacamata hitamku, memperlihatkan tatapan mata dingin yang sanggup membekukan lautan.
“Cemburu?” kataku halus namun gema suaraku terdengar tegas di seluruh penjuru dermaga. “Maya Kartika, kamu terlalu berprasangka tinggi jika berpikir wanita sepertiku akan cemburu pada seorang pencuri murah seperti dirimu.”
Aku memberi isyarat kepada pengacaraku. Map tebal berisi dokumen hasil audit forensik langsung diserahkan ke tangan Komandan Puspomal dan Panglima Pangkalan.
“Jenderal,” kataku nyaring pada Panglima Pangkalan yang berdiri tegap. “Map itu berisi bukti lengkap pemalsuan tanda tangan, penggelembungan anggaran fiktif suku cadang kapal militer, serta pengalihan uang negara sebesar seratus lima puluh miliar rupiah ke rekening Singapura atas nama Maya Kartika dan Mayor Dimas Prabowo!”
Panglima Pangkalan membuka map tersebut. Wajah sang Panglima berubah drastis menjadi sangat murka. Matanya melotot tajam menatap Dimas. “Mayor Dimas! Apakah dokumen ini benar?!”
Dimas gemetar hebat. Lututnya seolah lemas tak bertulang. “T-tidak Komandan! Itu bohong! Itu fitnah dari istri saya karena dia cemburu!”
“Bohong?!” potong Hendra melangkah maju dengan suara menggelegar. “Ini bukti autentik transfer bank dan rekaman CCTV saat kalian berdua menandatangani surat garansi palsu di hotel minggu lalu! Dan kamu, Maya Kartika! Jangan berpura-pura menjadi korban!”
Hendra melempar seberkas foto tambahan ke hadapan Maya. Foto-foto itu memperlihatkan Maya sedang bernegosiasi dengan para penagih utang judi ilegal internasional.
“Maya Kartika sebenarnya adalah buronan utang judi!” teriak Hendra membongkar kebenaran yang mengejutkan. “Perusahaannya PT Nusa Bahari hanyalah perusahaan cangkang yang hampir bangkrut total! Dia mendekati Dimas hanya untuk memanfaatkan jabatan militernya dan menyedot habis harta Yayasan Aranda demi membayar utang judi puluhan miliar rupiah!”
Pengungkapan itu membakar habis sisa pertahanan Dimas!
Dimas menoleh dengan mata terbelalak lebar menatap Maya. Selama ini, Dimas berpikir Maya adalah pengusaha wanita kaya raya yang mencintainya tulus dan siap membawanya hidup mewah di luar negeri!
“Maya?! Apa-apaan ini?!” teriak Dimas meremas pundak Maya dengan kasar. “Kamu bilang padaku kalau kamu punya aset ratusan miliar di Singapura?! Kamu memanfaatkan aku, hah?!”
Maya menepis tangan Dimas dengan kasar. Wajah manisnya berubah menjadi sangat kejam dan penuh kebencian. “Diam kamu, Dimas! Kamu pikir aku benar-benar sudi dicium oleh perwira miskin sepertimu kalau bukan karena uang yayasan milik istrimu?! Kamu yang bodoh dan gampang tergoda paha mulus!”
Pertengkaran cakar-cakaran antara dua pengkhianat itu terjadi di depan mata puluhan prajurit militer dan Panglima Pangkalan. Betapa menjijikkan dan memalukan!
“CUKUP!” teriak Panglima Pangkalan dengan suara bagaikan petir menyambar.
Panglima melempar berkas ke dada Dimas dan memberi komando tegas kepada anggota Puspomal. “Prajurit! Copot seluruh tanda pangkat dan atribut kehormatan militer dari pakaian Mayor Dimas Prabowo detik ini juga! Tahan dia dan wanita ini atas dakwaan pengkhianatan pertahanan negara, pemalsuan dokumen, dan korupsi tingkat tinggi!”
Dua prajurit Puspomal bertubuh tegap langsung maju. Dengan gerakan cepat dan tanpa belas kasihan, mereka mencabut paksa tanda pangkat Mayor di bahu Dimas. Bintang dan jangkar emas yang selama ini dibanggakan Dimas dicopot kasar hingga kain seragamnya robek.
Suara kain robek itu menandai berakhirnya seluruh karier, nama baik, dan kehormatan militer yang disandang Dimas selama dua puluh tahun.
“TIDAK! JANGAN! AMPUN KOMANDAN! AMPUN!” jerit Dimas histeris saat tangannya diborgol besi dingin dari belakang.
Maya Kartika menyumpah-nyumpah histeris saat borgol kedua melingkar di pergelangan tangannya, diseret masuk ke dalam mobil tahanan militer.
Dimas, yang kini tak bertanda pangkat dan berpenampilan berantakan, jatuh berlutut di atas lantai beton dermaga tepat di depan kakiku. Air matanya menetes deras membasahi semen. Ia menangis darah, meratap-ratap memohon belas kasihan.
“Siti… Tolong aku, Siti! Aku suamimu! Ingat anak kita, Rizky! Tolong cabut laporan ini, Siti! Aku janji akan berubah! Aku akan putuskan Maya! Tolong jangan biarkan aku membusuk di penjara militer!” ratap Dimas bersimpuh sambil mencoba memegang ujung gaun lavenderku.
Aku melangkah mundur satu tapak, menatapnya dengan rasa jijik yang tak terhingga. Rizky, putra kecilku, memandang ayahnya yang merengek seperti pecundang tanpa ada lagi rasa kagum di matanya.
“Ayah…” kata Rizky pelan, suaranya terdengar begitu dewasa melampaui usianya. “Termos kopi dan gambar jangkar buatan Rizky sudah Rizky buang. Karena Ayah bukan lagi Komandan terbaik dan Ayah terbaik untuk Rizky.”
Perkataan polos putra tunggalnya itu bagaikan belati yang menusuk tepat di jantung Dimas. Dimas meraung-raung menangis histeris.
Aku mengambil satu amplop cokelat dari tas mewahku dan melemparnya tepat di pangkuan Dimas yang terborgol.
“Ini surat gugatan perceraian kita, Dimas. Tanda tangani di dalam sel tahanan,” kataku dingin.
Dimas menengadah dengan mata memerah penuh penyesalan. “Siti… kenapa kamu bisa sekejam ini padaku? Kenapa kamu tega menjebakku sampai hancur seperti ini?!”
Aku membungkukkan badan sedikit, mendekatkan wajahku ke telinga Dimas, lalu membisikkan sebuah rahasia terakhir yang membekukan darah di dalam nadinya.
“Kamu ingin tahu kebenarannya, Dimas? Maya Kartika sebenarnya tidak pernah datang secara kebetulan dua tahun lalu. Aku sendiri yang membayar mahal Maya untuk menjebakmu setelah aku menemukan bukti bahwa kamu secara perlahan memberikan racun dosis rendah pada obat medis almarhum ayahku demi menguasai seluruh warisan Yayasan Aranda!”
