DIAM-DIAM SUAMIKU MENGAMBIL SERTIFIKAT APARTEMEN MEWAHKU DARI BRANKAS UNTUK SELINGKUHAN DAN ANAK GELAPNYA, SEHINGGA AKU DATANG NEKAT MENGHANCURKAN NAMA BAIKNYA DI HADAPAN SELURUH DOKTER DAN DIREKTUR RUMAH SAKIT TERNAMA DI JAKARTA SAAT RAPAT BESAR!

DIAM-DIAM SUAMIKU MENGAMBIL SERTIFIKAT APARTEMEN MEWAHKU DARI BRANKAS UNTUK SELINGKUHAN DAN ANAK GELAPNYA, SEHINGGA AKU DATANG NEKAT MENGHANCURKAN NAMA BAIKNYA DI HADAPAN SELURUH DOKTER DAN DIREKTUR RUMAH SAKIT TERNAMA DI JAKARTA SAAT RAPAT BESAR!

Tidak pernah terbayang sedikit pun dalam benakku bahwa niat sederhanaku mengurus dokumen kependudukan anak di kantor pemerintah akan menjadi awal dari kehancuran rumah tanggaku. Hari itu, udara di dalam Kantor Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Jakarta Selatan terasa begitu dingin mengigit kulit. Namun, dalam sekejap mata, darah di sekujur tubuhku mendadak mendidih bagaikan disiram air panas.

Aku berdiri menggendong Bayu, putra kecilku yang baru berusia satu bulan, di dalam baby carrier yang melekat erat di dadaku. Langkahku sejatinya hanya ingin mengurus pendaftaran domisili serta meminta surat keterangan resmi untuk keperluan administrasi keluarga.

Petugas kelurahan di balik meja kaca menatap layar komputernya dengan kening berkerut dalam. Ia membolak-balik lembaran dokumen di tangannya, lalu menatapku dengan pandangan penuh keraguan.

“Ibu Putri… apakah Ibu benar-benar pemilik tunggal dari unit apartemen mewah di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan ini?” tanya petugas wanita itu dengan nada hati-hati.

Aku mengangguk tegas tanpa ragu. “Benar, Mbak. Sertifikat Hak Milik atas apartemen itu murni atas nama saya pribadi. Saya membelinya secara tunai dari hasil kerja keras saya sebagai Senior Finance Manager sebelum saya menikah.”

Petugas itu menghela napas panjang, lalu menggeser layar monitor komputernya sedikit ke arahku. “Kalau begitu, apakah Ibu tahu bahwa ada dua orang lain yang saat ini resmi terdaftar dan menggunakan alamat apartemen Ibu sebagai domisili legal mereka di sistem kependudukan nasional?”

Jantungku bagai berhenti berdetak seketika. “Dua orang? Maksud Mbak bagaimana? Mungkinkah ada kesalahan input data di sistem?”

“Tidak ada kesalahan, Bu,” sahutnya tenang sembari menunjuk layar. “Ada seorang wanita bernama Indah, dan seorang anak laki-laki berusia delapan tahun bernama Rizky. Nama belakang mereka sama sekali tidak berhubungan dengan keluarga Ibu. Tetapi alamat yang tercantum pada dokumen identitas resmi mereka adalah alamat tepat di unit apartemen milik Ibu.”

Astaga! Ya Allah! Kakiku seketika bergetar hebat. Tanganku gemetar merengkuh tubuh mungil Bayu yang sedang tertidur pulas. Kepala rasanya berputar mendengarkan kenyataan pahit ini. Siapa Indah? Dan siapa anak bernama Rizky itu? Mengapa mereka bisa bertindak selanganggu ini mencaplok alamat rumahku tanpa izin?

“Mbak… bisakah Mbak memperlihatkan siapa yang memproses pendaftaran dan menyerahkan berkas izin ini ke kantor kelurahan?” bisikku dengan suara serak menahan amarah yang mulai membakar dada.

Petugas itu meneliti lembaran dokumen pemindahan domisili yang telah dipindai ke dalam sistem. “Di sini tercatat, berkas ini diserahkan langsung oleh suami Ibu, dr. Aditya. Beliau membawa Surat Kuasa yang ditandatangani di atas meterai serta salinan Sertifikat Hak Milik yang sudah dilegalisir pada bulan lalu.”

Demi Tuhan! Pengakuan itu bagaikan petir di siang bolong yang menghantam dadaku tanpa ampun!

Aku melangkah keluar dari gedung kelurahan dengan pikiran kosong. Angin Jakarta yang berdebu menyapu wajahku yang pucat pasi. Selama tiga bulan terakhir, aku menjalani masa cuti melahirkan. Fisikku sangat lemah karena baru saja melewati proses operasi caesar yang menyakitkan. Aku hampir tidak pernah keluar rumah, memfokuskan seluruh tenaga dan pikiranku untuk memulihkan diri serta merawat Bayu. Semua dokumen berharga—dokumen tanah, paspor, hingga Sertifikat Hak Milik apartemen—tersimpan sangat rapi di dalam brankas pribadi di dalam kamar utama kami.

Namun, laki-laki yang kusebut suami, laki-laki yang sangat kupercayai dan kupuja, ternyata telah lancang membobol brankas tersebut! Dia mencuri dokumenku dan menyerahkan alamat rumahku kepada wanita lain tanpa pernah meminta izin padaku!

Aku segera merogoh ponsel dan menelepon dr. Aditya. Panggilan pertama ditolak. Panggilan kedua diabaikan. Baru lima menit kemudian, sebuah pesan suara masuk melalui aplikasi WhatsApp dari suamiku.

“Putri, tolong jangan berlebihan dan jangan berpikiran sempit! Indah itu suster senior di departemenku, dia seorang janda kasihan. Anak laki-lakinya, Rizky, harus masuk ke Sekolah Dasar Negeri favorit di distrik Kuningan. Aku cuma meminjamkan alamat apartemenmu sebentar agar anaknya bisa lolos seleksi zonasi sekolah. Cuma beberapa tahun saja! Nanti kalau mereka sudah pindah rumah, datanya akan kuurus lagi. Jangan membuat drama tak berguna, tidak ada kerugian materiil sedikit pun buat kita!”

Aku mendengarkan pesan suara itu dari awal hingga akhir dengan dada kian menyempit. Tidak ada permohonan maaf. Tidak ada rasa penyesalan. Yang ada hanyalah sikap arogan dan nada meremehkan.

Aku tidak membalas pesannya. Aku hanya mematikan layar ponselku dengan perlahan.

Orang-orang sering menyebarkan rumor bahwa aku adalah wanita yang dingin, keras kepala, dan tidak punya empati. Tapi mereka salah besar. Aku hanya sangat membenci orang-orang yang mengambil keputusan atas nama diriku, merampas hakku, dan menginjak-injak harga diriku tanpa rasa hormat.

Sejak zaman kuliah di Universitas Indonesia, aku selalu tegas pada batas diri. Ketika teman sekamarku dulu secara diam-diam meminjam laptop dan dokumen riset pribadiku tanpa izin, aku tidak memaki-makinya. Hari itu juga aku mengganti seluruh kata sandi, mengambil kembali barangku, dan melaporkannya langsung ke pengelola asrama hingga dia dikeluarkan. Dalam dunia korporat yang keras, prinsipku semakin mengkristal: Kebaikan hati tidak pernah boleh dijadikan lisensi bagi orang lain untuk memanfaatkannya sesuka hati. Apalagi jika hal itu menyangkut aset pribadi yang kubeli dengan keringatku sendiri dan menyangkut masa depan anakku!

Sesampainya di rumah, aku langsung membuka brankas pribadi menggunakan kunci rahasia yang selalu kupegang. Tumpukan dokumen di dalamnya tampak sedikit berantakan. Benar saja… satu lembar sertifikat asli milikku telah menghilang!

Seketika memori dua bulan lalu terngiang jelas di ingatan. Saat itu, aku masih terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit dengan luka jahitan operasi di perut yang masih basah. Aditya mengelus rambutku dengan penuh kelembutan palsu seraya berkata: “Sayang, boleh aku minta kunci brankasku sebentar? Ada beberapa dokumen tabungan yang harus kuperbarui di bank demi akun bersama kita dan masa depan anak kita.”

Saat itu aku sangat lelah, kurang tidur, dan menaruh kepercayaan seratus persen padanya. Aku menyerahkan kunci itu tanpa curiga sedikit pun. Ternyata… dia tidak pergi ke bank! Dia lari ke kelurahan untuk mendaftarkan wanita lain dan anak wanita itu menggunakan nama rumahku!

Jariku bergerak cepat mengetik pesan singkat padanya.

“Sepuluh menit. Kembalikan semua dokumen yang kamu ambil dari brankas.”

Pesan itu dibaca. Dua centang biru muncul. Tapi tidak ada balasan.

Aku mengirim pesan kedua.

“Jika dalam sepuluh menit kamu tidak menelepon dan memberi penjelasan yang masuk akal, aku akan bertindak dengan caraku sendiri. Dan kamu tidak akan menyukai akibatnya.”

Detik berikutnya… suamiku secara tidak tahu diri langsung memblokir nomorku! Dia sengaja melarikan diri dari tanggung jawab!

Aku menatap layar ponselku dalam hening. Rasa dingin yang mencekam di dadaku perlahan membeku menjadi keberanian dan tekad bulat yang tidak tergoyahkan.

Aku melangkah ke dapur, membuka lemari es besar. Di sana masih tersimpan tiga kotak besar pastry dan kue-kue mewah berharga jutaan Rupiah, sisa dari syukuran sederhana satu bulan kelahirannya Bayu kemarin.

Aku memasukkan kotak-kotak pastry tersebut ke dalam tas belanja kain yang besar. Aku mengganti pakaianku dengan setelan blazer formal yang sangat rapi, memoleskan gincu merah menyala di bibirku, lalu merengkuh Bayu erat-darah dagingku—ke dalam dekapan.

Tujuanku hanya satu: Rumah Sakit Harapan Medika Jakarta, rumah sakit swasta ternama tempat suamiku bertugas sebagai dokter spesialis senior ternama.

Suasana Departemen Penyakit Dalam sangat ramai saat aku melangkah masuk. Sesi konsultasi pagi baru saja usai. Para perawat sibuk hilir mudik membawa rekam medis dan obat-obatan pasien.

Aku melangkah mantap menuju stasiun perawat utama dengan senyuman paling manis yang bisa kubentuk di wajahku. Aku meletakkan tiga kotak pastry mewah itu di atas counter perawat.

“Selamat siang, Semuanya. Tolong dinikmati kue-kue pastry ini ya,” ucapku dengan suara nyaring dan ramah.

Seorang perawat senior yang sudah lama mengenal diriku langsung menyapa dengan raut wajah berbinar. “Eeh, Ibu Putri! Astaga, ada angin apa Ibu berkunjung ke sini sambil bawa Bayu yang tampan ini?”

Aku tersenyum semakin lebar, membetulkan posisi gendongan bayi di dadaku. “Aku hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih secara formal dan terbuka kepada suamiku tercinta, dr. Aditya.”

“Hatinya sungguh mulia dan luar biasa besar,” lanjutku dengan volume suara yang dengan sengaja kunaikkan dua tingkat. “Dia begitu dermawan sampai rela memberikan izin penggunaan alamat apartemen mewah pribadiku di Kuningan agar anak dari rekan kerjanya di rumah sakit ini bisa mendaftar sekolah!”

Seketika itu juga, suasana di lorong perawat menjadi hening mencekam. Tangan para perawat yang hendak mengambil kue mendadak terhenti di udara.

Aku melanjutkan aksiku dengan santai, membagikan kotak pastry itu satu per satu ke tangan staf yang terpaku. “Aku benar-benar tersentuh oleh kebaikan suamiku. Siapa yang menyangka, ternyata ada keluarga lain yang secara diam-diam ikut menikmati fasilitas aset pribadiku tanpa pernah berdiskusi denganku sama sekali? Kebaikan dr. Aditya sungguh luar biasa, jadi aku merasa seluruh departemen ini wajib merayakannya bersama-sama!”

Bisik-bisik kasak-kusuk mulai menjalar cepat seperti api menyambar jerami kering. Para dokter muda, koas, dan perawat yang melintas mendadak menghentikan langkah mereka. Puluhan pasang mata kini tertuju lurus padaku.

Pada saat yang sangat krusial itu, pintu ruang rapat utama di ujung lorong terbuka lebar.

Suamiku, dr. Aditya, keluar dari dalam ruang rapat bersama dengan Kepala Departemen, dr. Hendra, serta beberapa dokter spesialis senior papan atas. Dan tepat berada di belakang suamiku… berdirilah seorang suster berparas jelita dengan seragam medis yang sangat ketat—Suster Indah.

Saat pandangan dr. Aditya berbenturan dengan mataku…

Senyuman percaya diri di wajahnya langsung membeku seketika. Wajahnya berubah pucat pasi bagaikan kain kafan di hadapan seluruh jajaran pimpinannya.

Aku mengambil kotak pastry terakhir, melangkah maju mendekatinya dengan tatapan mata tajam terkunci lurus pada manik matanya, lalu bersuara sangat lantang sehingga setiap telinga di lorong rumah sakit itu mendengar jelas:

“Kedatanganmu pas sekali, Mas Aditya…”

“Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih di depan para atasan dan rekan kerjamu…”

“…atas keberanianmu memberikan aset pribadiku kepada wanita lain tanpa pernah berani meminta izin dariku!”

Suster Indah yang berdiri di belakang suamiku mendadak tersentak mundur dengan wajah memerah menahan malu, sementara dr. Hendra menatap suamiku dengan raut wajah kaget dan tidak percaya…

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Keheningan yang mencekam menyelimuti seluruh lorong lantai empat Rumah Sakit Harapan Medika. Suasana yang tadinya bising oleh suara langkah kaki kini mendadak seperti kuburan. Puluhan pasang mata—mulai dari perawat, dokter koas, hingga para dokter spesialis senior—tertuju lurus pada drama nyata yang tersaji di depan mata mereka.

Wajah dr. Aditya berganti warna dari pucat pasi menjadi merah padam karena menahan malu yang amat sangat. Tubuhnya gemetar hebat. Ia mencoba melangkah maju dan mencengkeram lenganku dengan kasar.

“Putri! Apa-apaan kamu?! Hentikan gila ini! Kamu bikin malu di tempat kerjaku!” bisik Aditya dengan nada mengancam yang tertahan di balik giginya yang berkulat. “Ayo pulang sekarang! Jangan bawa-bawa urusan rumah tangga ke rumah sakit!”

Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh kulitku, aku melangkah mundur satu tapak dengan anggun. Tatapanku dingin bagaikan es di kutub.

“Bikin malu, Mas?” suaraku menggema nyaring, memantul di dinding-dinding lorong rumah sakit. “Siapa sebenarnya yang membuat malu? Aku yang mempertahankan hakku, atau kamu—seorang dokter spesialis yang dihormati di rumah sakit ini—tapi tega bertindak seperti pencuri di dalam rumahnya sendiri?!”

“Putri! Tutup mulutmu!” bentak Aditya, matanya melotot panik saat menyadari dr. Hendra—Kepala Departemen Penyakit Dalam—mulai melangkah mendekat dengan dahi berkerut tajam.

“Kenapa aku harus tutup mulut, Mas?” lanjutku tanpa gentar sedikit pun. Dari dalam tas belanjaku, aku mencabut seberkas kertas berstempel resmi dari Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil yang telah kucetak tebal, lengkap dengan lembaran bukti tangkapan layar percakapan WhatsApp-nya.

Aku menyerahkan berkas-berkas tersebut secara langsung ke tangan dr. Hendra.

“Dokter Hendra yang saya hormati,” ucapku lantang dan lugas. “Saya minta maaf jika kehadiran saya mengganggu ketenangan rumah sakit ini. Namun, sebagai seorang istri, saya merasa wajib meluruskan penyalahgunaan wewenang dan manipulasi yang dilakukan oleh dr. Aditya. Beliau telah membobol brankas pribadi saya saat saya masih belum pulih dari operasi caesar, mencuri Sertifikat Hak Milik apartemen atas nama saya pribadi, dan memalsukan tanda tangan saya untuk mendaftarkan Suster Indah beserta anak laki-lakinya ke dalam domisili resmi aset milik saya!”

Dr. Hendra menerima berkas itu dan langsung membacanya dengan saksama. Kacamata minusnya diturunkan sedikit. Raut wajah sang dokter senior berubah dari terkejut menjadi sangat murka.

Suster Indah yang berada di belakang Aditya mendadak gemetar hebat. Air mata buaya mulai menetes di pipinya yang dipoles perona tipis. Ia melangkah maju dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, berakting seolah-olah dialah korban paling teraniaya di dunia.

“Ibu Putri… Demi Allah, tolong dengarkan penjelasan saya dulu!” tangis Indah dengan suara dibuat-buat agar terkesan iba. “Saya ini cuma seorang janda, Bu. Saya tidak punya niat jahat sedikit pun pada harta Ibu! Dokter Aditya cuma kasihan melihat anak saya, Rizky, yang kesulitan masuk Sekolah Dasar Negeri favorit. Kami cuma meminjam alamat apartemen Ibu… tidak ada niat merebut apartemen itu! Tolong jangan fitnah saya di depan para dokter dan atasan saya!”

Beberapa perawat muda di sudut lorong sempat saling berbisik, tampak kasihan melihat tangisan Indah. Namun, aku sama sekali tidak memberi ruang bagi sandiwara murahan seperti itu. Aku membalasnya dengan senyuman paling sinis.

“Menumpang alamat, Indah? Atau menumpang hidup?!” gertakku tegas.

Aku mencabut lembaran kertas dokumen berikutnya dari dalam tas—dokumen audit keuangan perbankan yang baru saja kudapatkan berkat akses pekerjaanku sebagai Senior Finance Manager di bank investasi multinasional ternama.

“Aduh, Indah… jangan berakting lugu dan miskin di depanku!” cecarku sembari mengibaskan kertas tersebut di udara. “Kalau kamu memang janda miskin yang cuma butuh alamat sekolah, bisakah kamu menjelaskan dari mana uang senilai 1,5 Miliar Rupiah yang baru saja masuk ke rekening pribadi milikmu dua minggu yang lalu?! Dan dari mana kamu bisa membuka klinik kecantikan swasta di kawasan mahal Kemang serta membeli mobil Honda HRV baru jika uang itu bukan berasal dari pencucian aset milikku?!”

DAAAAMMM!

Bagaikan ledakan bom atom, pernyataan itu meremukkan seluruh pertahanan Aditya dan Indah! Seluruh staf rumah sakit berteriak tertahan. Suasana menjadi sangat liar oleh riak kehebohan.

“Ya Allah! Satu koma lima Miliar?!” “Astaga! Suster Indah punya klinik di Kemang?!” “Jadi Dokter Aditya menggadaikan aset istrinya sendiri buat wanita simpanannya?!” “Kurang ajar sekali! Jahat banget sama istri sah yang baru melahirkan!”

Gumam penuh cemoohan membanjiri lorong tersebut dari segala penjuru.

Wajah dr. Aditya mati rasa seketika. “Putri! Jangan sebar fitnah keji! Dari mana kamu dapat dokumen itu?!”

“Fitnah?!” seruku dengan nada tertawa mengejek. “Mas Aditya, kamu lupa kalau aku ini Senior Finance Manager?! Kamu pikir aku tidak bisa melacak surat pemberitahuan pembebanan hak tanggungan yang dikirimkan oleh lembaga keuangan swasta ke kantor perbankanku pagi ini?! Kamu memalsukan tanda tanganku di atas Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) untuk menggadaikan sertifikat apartemen Kuningan milikku demi mendapatkan pinjaman dana tunai senilai 1,5 Miliar Rupiah! Dan seluruh uang hasil kejahatanmu itu kamu transfer lurus ke rekening Indah untuk membiayai gaya hidup mewahnya!”

Dr. Hendra membaca lembaran bukti transfer perbankan dan dokumen jaminan pinjaman tersebut dengan mata membelalak lebar. Tangannya sampai bergetar menahan amarah yang meluap.

“CUKUP!” teriak dr. Hendra dengan suara menggelegar hingga menyetop seluruh kasak-kusuk di lorong.

Sang Kepala Departemen menatap dr. Aditya dengan pandangan penuh jijik dan kekecewaan yang teramat sangat.

“Dokter Aditya! Kamu adalah calon kuat yang dipromosikan untuk menjabat sebagai Kepala Tim Residen dan Dosen Utama di rumah sakit ini! Namun tindakanmu sungguh sangat tidak berstruktur, tidak beretika, dan jelas-jelas merupakan tindak pidana berat!” tegas dr. Hendra tanpa ampun.

“Dokter Hendra… tolong dengarkan saya dulu, Pak… Ini cuma salah paham keluarga…” ratap Aditya dengan suara gemetar, bertekuk lutut mencoba memegang tangan pimpinannya.

“Salah paham bagaimana?!” bentak dr. Hendra seraya menepis tangan Aditya. “Memalsukan dokumen istri sah yang baru melahirkan, menggadaikan aset istri secara ilegal, dan membawa-bawa nama baik profesi dokter untuk memuluskan penipuanmu?! Ini sudah mencoreng institusi Rumah Sakit Harapan Medika!”

Dr. Hendra langsung menoleh ke arah dua orang petugas keamanan rumah sakit yang berdiri tegak di dekat lift. “Satpam! Bawa dr. Aditya dan Suster Indah ke ruang Komite Etik sekarang juga! Terhitung detik ini, dr. Aditya dan Suster Indah dibebastugaskan secara tidak hormat dari seluruh kegiatan medis di rumah sakit ini hingga proses hukum selesai!”

“Tidak! Dokter Hendra! Tolong saya, Pak! Karir saya bisa hancur!” jerit Aditya histeris.

Petugas keamanan langsung memegang kedua tangan Aditya dan Indah, menyeret mereka berdua melewati kerumunan staf medis yang kini menatap mereka dengan penuh kehinaan dan rasa jijik. Indah menangis terisak-isak menutup wajahnya, sementara Aditya menatapku dengan mata merah penuh kebencian dan keputusasaan.

Aku berdiri tegak di tengah lorong. Kuperbaiki posisi gendongan Bayu yang masih tertidur lelap dalam dekapanku. Dengan kepala terangkat tinggi dan senyuman dingin, aku berbalik arah lalu melangkah pergi meninggalkan kehancuran nama baik suamiku yang baru saja kumulai.

Namun… permainanku baru saja dimulai.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku tidak langsung pulang ke rumah. Bersama tim pengacara pribadi yang sudah kusewa sejak pagi hari, aku melangkah mantap menuju Markas Polda Metro Jaya.

Di hadapan penyidik Kepolisian, aku menyerahkan seluruh bukti otentik: rekam medis yang membuktikan aku sedang dirawat intensif pasca operasi caesar pada tanggal pendaftaran jaminan, bukti analisis laboratorium forensik atas pemalsuan tanda tanganku, serta bukti pencairan dana pinjaman ke rekening Indah.

Hari itu juga, Kepolisian Republik Indonesia secara resmi menerbitkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dan menetapkan dr. Aditya serta Suster Indah sebagai tersangka atas kasus pelanggaran Pasal 263 KUHP tentang Pemalsuan Surat dan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dan Penggelapan.

Langkah berikutnya, aku menghubungi pihak lembaga keuangan swasta yang memegang jaminan apartemenku. Dengan ancaman gugatan hukum atas ketidakhati-hatian mereka meloloskan pinjaman beragunan dokumen palsu tanpa konfirmasi langsung padaku sebagai pemilik sah, pihak lembaga keuangan tersebut langsung mencabut status agunan apartemenku dan mengalihkan seluruh beban hutang 1,5 Miliar Rupiah itu menjadi hutang pribadi dr. Aditya dan Indah secara mutlak!

Tak berhenti di situ, aku mendatangi pihak pengelola Apartemen Mewah Kuningan. Aku menyerahkan surat penetapan tersangka dari kepolisian, mencabut seluruh kartu akses masuk milik Aditya, serta memerintahkan tim keamanan apartemen untuk memblokir total akses suamiku dan siapapun kawanannya.

Malam harinya, Jakarta diguyur hujan deras.

Aku duduk tenang di sofa empuk ruang tamu apartemenku yang hangat, sembari menyeruput teh chamomile panas. Bayu sudah tertidur lelap di kamar bayi.

Tiba-tiba, suara gedoran pintu depan terdengar sangat keras dan bertubi-tubi. Suara teriakan panik menggema dari balik pintu besi apartemenku.

“Putri! Buka pintunya, Putri! Buka! Ini Mas Aditya!”

Aku melangkah tenang menuju pintu, membawa sebuah map tebal di tanganku. Ketika kubuka pintu apartemen, pemandangan memilukan tersaji di depanku.

Aditya berdiri di sana dengan pakaian basah kuyup oleh air hujan. Wajahnya sembab, matanya merah karena terus menangis. Namun dia tidak datang sendirian. Di belakangnya, berdiri kedua orang tua kandungnya—Bapak Suwandi dan Ibu Sumarni—yang baru saja tiba dari kampung halaman mereka di Yogyakarta.

Ibu mertuaku, Ibu Sumarni, langsung menerobos masuk dan berlutut di hadapanku sembari memegang erat kakiku.

“Putri! Istighfar, Nak! Tolong ampuni suamimu!” tangis Ibu Sumarni dengan suara serak meraung-raung. “Mas Aditya itu suamimu, Ayah dari anakmu sendiri! Masa kamu tega mempermalukan dia di rumah sakit, memecatnya dari pekerjaan, dan mau memenjarakannya hanya karena urusan harta duniawi?!”

Bapak mertuaku, Bapak Suwandi, ikut bersuara dengan nada memohon. “Iya, Putri… Ingatlah norma keluarga kita. Kalau Aditya masuk penjara, bagaimana dengan masa depan Bayu? Bagaimana kata orang-orang di kampung nanti saat Lebaran? Lagipula… Indah itu masih saudara jauh kita dari Yogyakarta yang butuh pertolongan!”

DUARRR!

Satu kenyataan baru terkuak lagi malam itu!

Aku menatap ibu mertuaku dengan mata menyipit tajam. “Saudara jauh dari kampung? Oh… jadi Ibu dan Bapak sudah tahu dari awal tentang masalah ini?!”

Ibu Sumarni tersentak, wajahnya menyiratkan kepanikan karena tidak sengaja membocorkan rahasia tersebut.

“Jadi…” aku tertawa terkekeh, suara tawa yang sangat dingin hingga membuat bulu kuduk mereka berdiri. “Jadi kalian semua sudah merencanakan ini di belakangku? Ibu yang menyuruh Mas Aditya mencuri sertifikat rumahku untuk membiayai wanita pilihan Ibu dari kampung itu?! Karena dari awal Ibu tidak pernah menyukai aku yang terlalu mandiri dan kaya, kan?!”

“Bukan begitu, Putri! Bukan!” potong Aditya panik, berlutut di sebelah ibunya. “Putri, tolong aku… Aku mohon cabut laporanku di Polda! Izin praktiku sebagai dokter sudah dibekukan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI)! Aku sudah dipecat dari rumah sakit! Aku punya hutang 1,5 Miliar yang dikejar-kejar debt collector! Indah bahkan kabur dan membawa lari sisa uang simpananku!”

Aditya menangis tersedu-sedu, mencium ujung sepatuku. “Aku khilaf, Putri… Indah menipuku! Dia bilang uang itu untuk investasi klinik, tapi ternyata dia bekerja sama dengan jaringan penipu! Tolong selamatkan aku, Putri… Rumah orang tua kita di Yogyakarta bahkan sekarang terancam disita bank karena aku ikut menjaminkannya untuk menutupi hutang-hutang lain!”

Mendengar pengakuan dosa dari laki-laki yang pernah kucintai ini, tidak ada satu tetes pun air mata yang keluar dari mataku. Rasa kasihan di hatiku sudah mati total, digantikan oleh kepuasan atas pembalasan dendam yang sempurna.

Aku melempar map tebal yang kupegang tepat ke dada Aditya.

“Buka map itu, Mas,” perintahku datar.

Dengan tangan gemetar, Aditya membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat dua lembar dokumen penting:

  1. Surat Gugatan Cerai Resmi yang telah didaftarkan ke Pengadilan Agama.

  2. Akta Pengalihan Hak Tagih dan Sertifikat Kepemilikan Aset.

Aditya membaca lembaran dokumen kedua dengan mata membelalak lebar. “Ini… ini kan Sertifikat Rumah Orang Tuaku di Yogyakarta?! Dari mana kamu dapat dokumen ini, Putri?!”

Ibu Sumarni dan Bapak Suwandi langsung berdiri kaget mendengarnya.

Aku bersedekap dada, menyandarkan tubuhku di ambang pintu sembari menatap keluarga parasit itu dengan tatapan penuh kemenangan.

“Kamu bilang rumah orang tuamu di Yogyakarta mau disita bank besok pagi karena kamu tidak bisa membayar hutang-hutangmu, kan Mas?” bisikku dengan nada suara sangat halus namun mematikan.

“Kemarin sore, sebelum aku datang menghancurkan nama baikmu di rumah sakit… aku telah menggunakan dana pribadiku senilai 2 Miliar Rupiah untuk membeli seluruh portofolio hutangmu dari pihak bank. Aku melunasi seluruh sisa pinjaman atas sertifikat rumah orang tuamu!”

Ibu Sumarni seketika bernapas lega, wajahnya mendadak berbinar penuh harapan. “Ya Allah! Putri! Jadi kamu menyelamatkan rumah kami di kampung?! Kamu memang menantu yang berhati mulia!”

“Jangan keburu senang dulu, Ibu Mertua yang terhormat…” kupotong kalimatnya dengan senyuman iblis.

“Saya tidak menyelamatkan rumah kalian. Saya MENGAMBIL ALIH rumah itu secara sah demi hukum!”

Kalimatku membuat napas mereka bertiga tercekat seketika.

“Sertifikat rumah leluhur kalian di Yogyakarta sekarang secara legal dan mutlak telah berpindah kepemilikannya atas nama SAYA—Putri Indah Pratama!” tegasku tanpa ampun. “Dan besok pagi, tim pengacara dan eksekutor hukumku akan mendatangi rumah itu di Yogyakarta untuk mengosongkan seluruh barang-barang kalian.”

“TIDAK! PUTRI! JANGAN TEGA KAMU!” jerit Ibu Sumarni histeris seraya memegang dadanya yang mendadak sakit.

Aku menatap Aditya, suamiku yang kini benar-benar telah menjadi hamba yang hancur tanpa sisa.

“Mas Aditya… besok pagi kamu harus menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya jika tidak ingin dijemput paksa oleh tim Buser. Karir doktormu sudah tamat, nama baikmu sudah hancur tak berbekas, dan sekarang… kamu, bersama kedua orang tuamu yang serakah ini, resmi tidak memiliki rumah lagi, baik di Jakarta maupun di kampung halaman!”

Tanpa menunggu balasan atau jeritan histeris dari mereka bertiga, aku melangkah mundur ke dalam apartemen, lalu menutup pintu besi mewah itu rapat-rapat.

Suara tangisan, raungan kesakitan, dan gedoran pintu dari keluarga parasit itu bergema di luar lorong, perlahan tenggelam oleh suara rintik hujan malam di Jakarta. Aku berjalan menghampiri keranjang bayi, mencium kening Bayu dengan senyuman puas, menyadari bahwa mulai malam ini, aku dan anakku telah menang secara mutlak.