Astaga! Suami Miliarderku Terdiam Kaku Saat Melihat Noda Merah Pekat Di Atas Sprei Pengantin Baru Kami, Ternyata Rahasia Kelam Mendiang Istri Pertamanya Dua Puluh Tahun Lalu Kembali Terulang Demi Merebut Harta Warisan Triliunan Rupiah!

Astaga! Suami Miliarderku Terdiam Kaku Saat Melihat Noda Merah Pekat Di Atas Sprei Pengantin Baru Kami, Ternyata Rahasia Kelam Mendiang Istri Pertamanya Dua Puluh Tahun Lalu Kembali Terulang Demi Merebut Harta Warisan Triliunan Rupiah!

Namaku Indah.

Malam itu, di usiaku yang baru menginjak dua puluh tujuh tahun, aku resmi menjadi istri dari Aditya Mahendra.

Pria itu berusia empat puluh sembilan tahun. Seorang duda kaya raya yang disegani di seluruh penjuru Jakarta. Ia adalah pemilik jaringan rumah sakit megah, hotel berbintang, dan perusahaan farmasi raksasa bernilai triliunan Rupiah.

Orang-orang di kampungku di Yogyakarta menyebutku wanita paling beruntung di dunia. Bahkan ibuku sampai meneteskan air mata haru saat memelukku di hari pernikahan kami.

“Indah, Ya Allah… akhirnya hidupmu dan keluarga kita aman, Nak,” bisik Ibu sambil mengusap air matanya.

Aku hanya mampu melempar senyum tipis yang dipaksakan. Di balik kebaya putih yang membalut tubuhku, dadaku terasa begitu sesak. Pernikahan mewah ini sama sekali tidak didasari oleh cinta.

Semua ini terjadi karena kemalangan yang bertubi-tubi. Ayahku berpulang ke Rahmatullah dengan meninggalkan tumpukan utang ratusan juta Rupiah kepada lintah darat. Lebih parahnya lagi, adik kandungku, Rizky, terbaring kritis di ruang ICU dan membutuhkan biaya operasi jantung sebesar lima ratus juta Rupiah.

Di saat kami hampir menyerah pada keadaan, Aditya datang bak pahlawan. Pria paruh baya yang tampan dan berwibawa itu melunasi seluruh utang Ayah dan menanggung semua biaya rumah sakit Rizky tanpa ragu. Namun, bantuan itu tidak cuma-cuma. Ada satu syarat mutlak yang ia ajukan.

“Menikahlah denganku, Indah,” ucapnya dingin saat itu.

Dengan bibir gemetar, aku memberanikan diri bertanya, “Kenapa harus saya, Bapak Aditya? Ada ribuan wanita cantik di Jakarta yang mengantre untuk Anda.”

Tatapan matanya menyipit tajam, menatap lurus ke dalam manik mataku. “Karena wajah dan sorot matamu… sangat mengingatkanku pada seseorang.”

Jawaban singkat itu seharusnya membuatku bergidik ngeri dan berlari sejauh mungkin. Tapi bayangan adikku yang napasnya sudah terengah-engah di atas ranjang rumah sakit memaksaku untuk menelan semua ketakutan. Aku mengangguk pasrah.

Malam pertama kami di kediaman mewah kawasan Pondok Indah berlangsung sangat sunyi. Tidak ada pesta resepsi megah yang dihadiri ribuan tamu. Hanya makan malam keluarga yang kaku, lalu kami melangkah masuk ke dalam kamar utama yang terlalu luas dan dingin.

Aditya sama sekali tidak menyentuhku. Ia hanya duduk di sofa kulit dekat jendela kaca besar, melepas jam tangan mewahnya, lalu menatapku datar.

“Kamu bisa tidur sekarang, Indah. Tidurlah dengan tenang. Aku tidak akan pernah memaksamu melakukan hal yang tidak kamu inginkan,” tuturnya pelan.

Aku tertegun di samping ranjang. “Tapi… bukankah saya…”

“Aku membeli ikatan pernikahan ini untuk melindungimu, bukan untuk menguasai tubuhmu,” potongnya singkat.

Kalimat itu terdengar begitu aneh. Suaranya dingin dan tegas, namun anehnya tidak terasa kejam. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membaringkan tubuhku di sisi kiri ranjang berukuran king size itu. Aditya mematikan lampu utama dan berbaring di sisi kanan. Malam itu berlalu tanpa ada sentuhan sedikit pun.

Keesokan harinya, matahari pagi baru saja terbit menyinari kamar. Aku terbangun lebih dulu karena terbiasa bangun pagi di kampung. Namun, saat aku hendak merapikan selimut, mataku menatap sebuah pemandangan yang membuat jantungku serasa berhenti berdetak.

Tepat di atas sprei putih bersih, di area dekat bantal tempat tidur Aditya, terdapat bercak noda merah pekat yang masih basah!

“Astaga!” pekikku tertahan sambil menutup mulut.

Aditya terbangun seketika karena mendengar suaraku. Ia mengucek matanya, lalu pandangannya jatuh pada bercak merah pekat di atas sprei. Dalam sekejap, wajah pria tegas itu berubah pucat pasi. Bibirnya mengatup rapat, dan matanya membelalak penuh kaget.

Tubuhku gemetar hebat. “Bapak! Demi Tuhan, itu… itu bukan berasal dari saya! Saya tidak terluka sama sekali!” seruku panik, takut ia akan menuduhku yang tidak-tidak.

Anehnya, Aditya tidak marah. Ia tidak berteriak, tidak menelepon polisi, ataupun menuduhku membawa orang asing masuk ke dalam rumah. Pria itu justru bangkit dari ranjang dengan gerakan kaku. Langkah kakinya melangkah menuju meja rias antik di sudut kamar.

Ia berlutut, lalu menarik laci paling bawah. Dari dalam laci tertutup itu, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu ukir tua yang berdebu. Jemarinya yang gemetar membuka tutup kotak tersebut.

Lalu, Aditya terdiam sangat lama. Suasana kamar menjadi begitu mencekam.

“Bapak… Bapak Aditya?” panggilku lirih, hampir tak terdengar.

Dengan perlahan, Aditya mengeluarkan selembar kain putih kecil dari dalam kotak. Di atas kain lusuh itu, terdapat noda merah yang sudah berubah warna menjadi cokelat tua kehitaman.

“Dua puluh tahun yang lalu…” suara Aditya terdengar sangat bergetar, sarat akan penderitaan yang terpendam, “aku pernah melihat noda merah pekat yang persis seperti ini di atas ranjangku.”

Dahiku berkerut. “Maksud Bapak apa?”

Ia duduk lemas di tepi ranjang, menatap kosong ke lantai marmer. “Namanya Ayu.”

“Siapa Ayu, Pak?”

“Istri pertamaku.”

Darahku serasa membeku seketika. Selama ini aku tahu bahwa Aditya adalah seorang duda. Namun, tidak pernah ada satu pun kerabat atau media yang berani menyebutkan nama mendiang istri pertamanya.

Aditya memejamkan mata erat-erat, seolah ingatan masa lalu menghantam kepalanya dengan dahsyat. “Pagi setelah malam pernikahan kami dua puluh tahun lalu, ada noda merah pekat di atas sprei. Wajahnya sangat pucat pagi itu. Aku membawanya berobat, tapi semua orang mengira dia hanya kelelahan akibat acara pernikahan.”

Napas Aditya terdengar berat. “Dua hari kemudian… Ayu berpulang ke Rahmatullah secara mendadak.”

“Ya Allah…” tanganku spontan menutup mulut. “Karena apa, Pak?”

“Pemeriksaan medis menyatakan dia menyerah pada hidupnya sendiri karena racun. Semua orang menuduhnya mengakhiri hidup,” bisik Aditya dengan mata menahan gemuruh emosi. “Tapi aku tidak pernah percaya! Beberap hari setelah pemakamannya, aku menemukan kain ini tertinggal di laci. Kain ini menyerap sisa zat berbahaya yang ditaruh di dalam cangkir minumannya. Seseorang telah mengganti obat vitamin rutinnya malam itu!”

Mataku bergetar menatap noda merah segar di atas sprei kami pagi ini. “Jadi… jadi noda di ranjang kita ini…”

Aditya mendongak, menatapku dengan sorot mata yang penuh bahaya. “Seseorang di dalam rumah ini sedang berusaha mengulang kejahatan keji yang sama terhadapmu!”

TOK! TOK! TOK!

Ketukan keras di pintu kamar mengejutkan kami berdua. Suara asisten rumah tangga terdengar dari balik pintu wood jati yang tebal.

“Tuan Aditya, Ibu Dewi sudah menunggu di meja makan untuk sarapan bersama Nyonya Muda.”

Ibu Dewi. Kakak perempuan kandung Aditya. Wanita anggun bermobil mewah yang sepanjang acara pernikahan kemarin menatapku dari atas ke bawah, seolah-olah aku adalah kotoran yang mencemari nama baik keluarga besar Mahendra.

Aditya memegang kedua bahuku erat-erat, menatap lurus ke mataku. “Indah, dengarkan aku baik-baik. Jangan pernah menyentuh, meminum, atau memakan apa pun yang disajikan di rumah ini pagi ini!”

Kami berdua berjalan turun menuju ruang makan yang begitu megah. Di sana, Ibu Dewi sudah duduk anggun berbalut gaun batik sutra premium, menggenggam cangkir teh porselen dengan senyum manis yang terlihat sangat palsu.

“Wah, pengantin baru akhirnya turun juga,” menyapa Dewi dengan suara halus tapi menusuk. Pandangannya langsung tertuju padaku. “Kamu kelihatan pucat sekali, Indah. Kenapa? Apa kamu sakit?”

Jantungku berdegup kencang. Aku memegang pinggiran meja makan, mencoba menetralkan rasa panik. Aku tidak berani menyentuh gelas air jeruk di depanku.

Aditya tidak membuang waktu. Ia berdiri tegap di ujung meja dan menatap kakaknya dengan dingin. “Mba Dewi, siapa yang menyiapkan obat tidurku dan vitamin Indah semalam?”

Gerakan Dewi yang sedang mengoles mentega ke atas roti mendadak terhenti. Raut wajahnya berubah kaku. “Kenapa kamu bertanya seperti itu, Aditya? Seperti biasa, perawat pribadi keluarga kita yang menyiapkannya.”

“Panggil Maya ke sini sekarang juga!” perintah Aditya dengan nada membentak.

Wajah Dewi berkedut kesal. Beberapa saat kemudian, Maya—perawat pribadi kepercayaan keluarga Mahendra—berjalan mendekat dengan tubuh gemetaran dan wajah pucat pasi.

Aditya melempar satu strip kapsul obat ke atas meja makan. Bunyinya menyengat ruang makan yang hening. “Ini obat yang kamu berikan padaku dan Indah semalam, Maya?”

Maya menunduk dalam-dalam, jemarinya saling meremas. “I-iya, Tuan…”

“Siapa yang menyuruhmu mengganti isi kapsul herbal itu dengan substansi asing yang memicu pendarahan lambung?!” gertak Aditya dengan suara menggelegar.

Dewi langsung berdiri dari kursinya, menepuk meja makan dengan keras. “Kurang ajar kamu, Aditya! Ini meja makan keluarga, bukan ruang interogasi kepolisian! Kenapa kamu menuduh orang-orang rumah?!”

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Aditya mengambil ponsel mewahnya, lalu menekan tombol play pada sebuah video rekaman CCTV rahasia yang terhubung langsung ke kamar penyimpanan obat.

Di layar ponsel itu, terlihat jelas sosok wanita bergaun mewah masuk ke dalam kamar obat pada pukul sebelas malam. Wanita itu memegang botol kecil dan memasukkan cairan misterius ke dalam strip obat Indah.

Wanita di dalam video itu tidak lain adalah Ibu Dewi sendiri!

Seketika itu juga, Maya langsung berlutut di lantai sambil menangis histeris. “Ampun, Tuan Aditya! Ampunkan saya! Saya hanya menjalankan perintah! Saya diancam akan dipecat dan dipenjara kalau tidak menuruti kemauan Ibu Dewi!”

Wajah Ibu Dewi berubah pucat bagaikan mayat. Seluruh keanggunannya luntur seketika. “Bo-bohong! Video itu rekayasa! Kamu menuduh kakakmu sendiri demi wanita kampung ini, Aditya?!”

Aditya melangkah maju, menatap kakaknya dengan kemarahan yang sudah terpendam selama dua puluh tahun. “Dua puluh tahun yang lalu… apakah kamu juga yang menyuruh orang mengganti obat racik milik Ayu sampai dia berpulang?!”

Dewi menatap Aditya dengan mata melotot tajam, lalu kekehan sinis keluar dari mulutnya…

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Tawa sinis Ibu Dewi bergema di seluruh penjuru ruang makan yang luas itu. Hilang sudah topeng kesantunan dan keanggunan wanita bangsawan yang selama ini ia tampilkan di hadapan publik.

“Ya! Aku yang melakukannya!” teriak Dewi tanpa rasa penyesalan sedikit pun. “Ayu pantas menerima nasib itu! Wanita berhati licik itu hampir saja menghancurkan seluruh kejayaan keluarga Mahendra! Dan sekarang, kamu malah membawa wanita kampung tak berpendidikan ini ke dalam rumah kita?! Kamu benar-benar sudah gila, Aditya!”

Astaga! Aku tersentak mundur hingga punggungku menabrak sandaran kursi. Tubuhku gemetar hebat mendengarkan pengakuan keji dari wanita yang tampak begitu terhormat ini. Demi Tuhan, bagaimana bisa ada seorang manusia yang begitu tega menghabisi nyawa orang lain hanya demi harta?

“Kurang ajar!” geram Aditya dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. “Ayu adalah istri sahku! Dia tidak pernah berniat merebut apa pun dari keluarga ini! Kamu menghabisi nyawanya hanya karena keserakahanmu sendiri, Mba Dewi!”

“Kamu yang tidak paham, Aditya!” bentak Dewi dengan histeris. Ia menunjuk mukaku dengan jari telunjuknya yang dihiasi cincin berlian mahal. “Asal kamu tahu, dua puluh tahun lalu Ayu menemukan dokumen rahasia Almarhum Bapak! Dia tahu bahwa seluruh saham raksasa Mahendra Group tidak akan pernah jatuh ke tanganku jika dia melahirkan seorang anak laki-laki dari rahimnya! Aku tidak punya pilihan lain! Dan sekarang… kamu menikah lagi dengan wanita ini? Aku tidak akan biarkan sejarah terulang kembali!”

Dewi mengarahkan pandangannya padaku dengan tatapan penuh kebiasaan benci. “Noda merah di spreimu pagi ini baru permulaan, Indah! Zat yang dicampurkan ke dalam minumanmu semalam seharusnya membuat organ dalammu rusak perlahan-lahan dalam kurun waktu tiga hari tanpa bisa dideteksi oleh dokter biasa! Tapi sayang sekali… suamimu terlalu cepat menyadarinya!”

Aduh, Ya Allah! Mendenagarkannya saja membuat perutku mendadak mual dan kepalaku terasa berputar hebat. Jadi noda merah pekat di atas sprei tadi pagi adalah reaksi awal dari zat berbahaya yang menggerogoti lambungku saat aku tertidur?

Sebelum aku sempat menenangkan diri, tiba-tiba pintu utama rumah dibuka secara paksa. Empat orang pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam melangkah masuk ke dalam ruang makan. Masing-masing dari mereka memiliki tatapan dingin dan intimidatif.

“Tuan Putri tidak perlu khawatir,” ujar salah satu pria berbadan tegap itu sambil membungkuk kearah Ibu Dewi.

Sontak situasi berubah menjadi sangat mencekam. Ibu Dewi tersenyum culas, merapikan gaun sutranya dengan santai.

“Kamu pikir aku datang ke sini tanpa persiapan, Adikku tersayang?” ujar Dewi dingin. “Orang-orang ini adalah pengawal pribadiku. Mereka akan memastikan kamu dan istri barumu tidak akan pernah melangkah keluar dari gerbang rumah ini untuk melapor ke polisi.”

“Mba Dewi! Kamu sudah benar-benar hilang akal!” teriak Aditya sambil pasang badan, menyembunyikan tubuhku di belakang punggung lebar dan kokohnya.

“Aku hanya melindungi apa yang menjadi hakku, Aditya,” jawab Dewi santai sambil menyesap teh hangatnya. “Kalian berdua akan mengalami ‘kecelakaan tragis’ di dalam rumah ini. Dan sebagai satu-satunya ahli waris Mahendra yang tersisa, aku akan mengambil alih seluruh aset, rumah sakit, dan perusahaan farmasi milikmu.”

Jantungku berdegup serasa ingin melompat keluar dari dada. Kami terkepung! Ponsel di dalam saku celanaku mendadak bergetar hebat. Dengan tangan gemetar, aku melihat layar ponsel. Ada panggilan masuk dari nomor Rumah Sakit Medika Jakarta—tempat adikku, Rizky, sedang dirawat.

Aku menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telingaku dengan sangat berhati-hati.

“Halo? Apakah ini dengan Mbak Indah?” suara perawat di ujung telepon terdengar sangat panik.

“I-iya, saya Indah! Ada apa dengan adik saya?!” bisikku histeris.

“Mbak Indah, ada dokter spesialis baru yang tiba-tiba masuk ke ruang ICU adik Anda dan mencoba mencopot alat bantu napas Mas Rizky! Katanya ini atas perintah keluarga Mahendra! Kami sedang menahannya, tapi situasi sangat mendesak!”

PLAK!

Ponsel di tanganku terlepas dan jatuh menghantam lantai marmer. Tubuhku rasanya lemas seketika. “Rizky…” gumamku lirih dengan air mata yang menetes deras.

Ibu Dewi tertawa terbahak-bahak melihat reaksiku. “Bagaimana, Indah? Apakah adik kesayanganmu di rumah sakit sudah mendapatkan kejutan manis dariku? Kamu pikir kamu bisa menyelamatkannya dengan menikahi Aditya? Kasihan sekali… kamu hanya dimanfaatkan oleh pria ini!”

Aku menatap Aditya dengan pandangan penuh rasa percaya yang goyah. “Bapak… apa maksud Ibu Dewi? Kenapa adik saya diserang?”

Namun, sebelum Aditya sempat menjawab, suara sirene mobil polisi mendadak membahana di luar kediaman megah tersebut. Suaranya kian mendekat dan memenuhi area halaman depan!

WIU… WIU… WIU…

Pintu ruang makan didobrak dari luar! Belasan personel kepolisian berpakaian dinas lengkap dari Polda Metro Jaya menerobos masuk dengan senjata terarah lurus ke arah para pengawal berbadan tegap.

“JANGAN BERGERAK! ANGKAT TANGAN KALIAN SEMUA!” teriak komandan polisi dengan suara lantang.

Para pengawal pribadi Ibu Dewi langsung mengangkat tangan mereka, tidak berani berkutik. Wajah culas Ibu Dewi seketika berubah kaku dan pucat pasi. Cangkir porselen di tangannya terlepas dan hancur berkeping-keping di lantai.

“A-apa-apaan ini?! Kenapa ada polisi di rumahku?!” jerit Dewi histeris.

Aditya melangkah maju dengan tenang, mengeluarkan sebuah alat perekam kecil dari saku jasnya yang terkoneksi langsung dengan sistem komunikasi kepolisian dan tim medis darurat.

“Aku sudah menunggumu melakukan pergerakan ini selama bertahun-tahun, Mba Dewi,” ujar Aditya dengan nada dingin yang menyayat hati. “Aku sudah tahu sejak awal bahwa kamu tidak akan pernah membiarkan aku hidup bahagia. CCTV rahasia, pengawasan di rumah sakit tempat adik Indah dirawat, hingga mikrofon tersembunyi di meja makan ini… semuanya sudah terhubung langsung ke Markas Polda Metro Jaya!”

Komandan polisi melangkah mendekat dan merampas tangan Ibu Dewi, lalu memasangkan borgol besi yang dingin di kedua pergelangan tangannya.

“Ibu Dewi Mahendra, Anda kami tahan atas dugaan percobaan pembunuhan berencana terhadap Saudari Indah, perusakan alat medis pasien kritis di rumah sakit, serta pembukaan kembali penyelidikan kasus pembunuhan Saudari Ayu dua puluh tahun yang lalu berdasarkan bukti baru yang diserahkan oleh Tuan Aditya,” tegas Komandan Polisi.

“Tidak! Lepaskan aku! Ini fitnah! Aditya, kamu adik kandungku! Beraninya kamu melakukan ini padaku?!” teriak Dewi sambil memberontak saat diseret keluar oleh petugas polisi. Perawat Maya juga ikut digiring dengan tangisan penyesalan yang tak berguna.

Ruang makan yang tadinya penuh ketegangan kini berubah menjadi sunyi senyap. Aku terduduk lemas di atas kursi, menangis sesenggukan karena rasa syok dan lega yang bercampur aduk.

Aditya mendekatiku, berlutut di hadapanku, lalu memegang kedua tanganku yang masih dingin gemetaran.

“Indah, maafkan aku… Maafkan aku karena harus melibatkanmu dalam drama berbahaya ini,” tuturnya tulus dengan sorot mata yang penuh penyesalan. “Adikmu Rizky sudah aman. Pihak kepolisian sudah mengamankan dokter gadungan di rumah sakit, dan tim dokter terbaikku sedang melakukan operasi jantung untuk adikmu detik ini juga. Seluruh biayanya sudah lunas.”

Aku mengusap air mataku, menatap wajah pria paruh baya di hadapanku ini. “Bapak… kenapa Bapak melakukan semua ini? Kenapa Bapak memilih saya untuk menjadi istri Bapak?”

Aditya menghela napas panjang. Ia berdiri dan mengisyaratkan padaku untuk mengikutinya kembali ke kamar utama.

Di dalam kamar, Aditya berjalan menuju lemari besi rahasia yang tersembunyi di balik lukisan besar. Ia memasukkan kombinasi angka, lalu mengeluarkan sebuah dokumen tua berstempel resmi kepolisian dan sebuah kalung liontin perak berbentuk hati.

Ia menyerahkan kalung liontin itu ke tanganku.

“Bukalah liontin itu, Indah,” perintahnya pelan.

Dengan jemari gemetar, aku membuka pengait liontin perak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah foto berukuran sangat kecil. Foto seorang wanita muda berwajah sangat jelita dengan senyuman lembut.

Mataku membelalak. Wanita di dalam foto itu… memiliki wajah, garis mata, dan bentuk bibir yang sangat mirip denganku!

“Ini… ini Ayu?” bisikku tak percaya.

“Ya, itu Ayu,” jawab Aditya dengan suara bergetar emosi. “Dan ada satu hal besar yang tidak pernah diketahui oleh Mba Dewi atau siapa pun di dunia ini. Dua puluh tahun lalu, sebelum Ayu berpulang secara tragis… dia sebenarnya sempat melahirkan seorang bayi perempuan secara prematur di sebuah klinik terpencil di Yogyakarta.”

Jantungku berdegup sangat kencang. “Maksud Bapak…”

“Ayu tahu bahwa hidupnya berada dalam bahaya besar karena keserakahan Mba Dewi. Demi menyelamatkan nyawa bayinya, Ayu meminta bantuan seorang perawat terpercaya untuk membawa bayi itu jauh ke sebuah kampung di Yogyakarta dan menyerahkannya kepada pasangan suami istri yang belum memiliki anak,” terang Aditya dengan air mata yang menetes di pipinya.

Tubuhku mematung sepenuhnya. Pikiran-pikiranku seolah terhenti. “Pasangan suami istri… di Yogyakarta?”

“Ayah dan Ibumu di kampung… mereka adalah orang tua angkatmu, Indah,” bisik Aditya lirih. “Kamu bukan sekadar wanita yang mirip dengan Ayu. Kamu adalah putri kandung dari Ayu Mahendra! Kamu adalah anak kandungku yang telah hilang selama dua puluh tujuh tahun!”

BUMM!

Kata-kata itu menghantam kesadaranku bagaikan petir di siang bolong! Seluruh persendianku terasa lolos. Ya Allah! Pria yang berdiri di hadapanku… pria yang semalam kunikahi ini… adalah ayah kandungku sendiri?!

Aditya berlutut di hadapanku, menggenggam tanganku erat-erat dengan linangan air mata. “Aku baru mengetahui keberadaanmu enam bulan yang lalu setelah melacak keberadaan perawat tua yang menyelamatkanmu. Ketika aku tahu adikmu butuh biaya operasi dan keluargamu terlilit utang, aku tahu aku harus membawamu pulang ke rumah ini. Tapi aku tidak bisa terang-terangan mengakuinya karena Mba Dewi akan langsung mengincarmu jika tahu kamu adalah ahli waris tunggal Mahendra Group bernilai lima triliun Rupiah!”

“Jadi… pernikahan ini…” suaraku tercekat di tenggorokan.

“Pernikahan ini hanyalah rekayasa hukum yang kubuat agar aku bisa memindahkan seluruh hak waris dan perlindungan hukum atas namamu tanpa kecurigaan Mba Dewi! Surat pernikahan kita yang kamu tanda tangani kemarin sebenarnya adalah Surat Pengakuan Anak dan Pengalihan Warisan Mutlak!” jelas Aditya panjang lebar. “Aku terpaksa memancing Mba Dewi keluar dari sarangnya agar dia tertangkap tangan oleh polisi, sehingga kamu bisa hidup aman selamanya.”

Aku berdiri terpaku di tengah kamar megah itu. Kebenaran yang begitu besar hantamannya menyapu bersih seluruh penderitaan dan kebingungan yang kurasakan selama ini. Pria yang kukira memanfaatkan kemalanganku ternyata adalah ayah kandungku yang mengorbankan segalanya demi melindungiku dari kejahatan bibiku sendiri.

Tiga bulan kemudian…

Kondisi adikku, Rizky, telah pulih sepenuhnya pascaoperasi jantung. Kehidupan keluarga kami berubah total. Ibu Dewi dan perawat Maya kini mendekam di dalam penjara besi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kejam mereka selama puluhan tahun.

Pernikahan rekayasa itu telah dibatalkan secara hukum, dan nama asliku kini resmi tercatat sebagai Indah Mahendra—putri tunggal dan pewaris sah dari Mahendra Group.

Aku berdiri di depan cermin besar di dalam kamar mewakku, membelai liontin perak milik ibu kandungku yang kini melingkar indah di leherku.

Namun, saat mataku menatap pantulan diriku sendiri di dalam cermin, sebuah senyuman tipis dan dingin perlahan terukir di bibirku.

Aku mengambil sebuah buku diari tua dari dalam tas kulitku—buku diari milik almarhum Ayah angkatku yang kutemukan di kampung sebelum aku berangkat ke Jakarta. Di halaman terakhirnya, tertulis jelas bahwa aku sudah mengetahui identitas asli diriku sejak berusia dua puluh tahun.

Pernikahan, utang keluarga, hingga pertemuan “tidak sengaja” dengan Aditya Mahendra… semuanya adalah bagian dari rencanaku yang tersusun rapi untuk masuk ke dalam kediaman ini dan membalas kematian Ibu kandungku!