Dia Meremehkan Ibunya Karena Miskin… Sampai Sang Istri Memberinya Surat Perceraian
—Kalau perempuan itu masuk ke rumah ini, aku akan menginap di hotel —kata Arif sambil merapikan manset emas di depan cermin kamar utama—. Aku tidak mau melewatkan malam Natal bersama seseorang yang bahkan tidak tahu bagaimana cara berpakaian untuk acara seperti ini.
Nadia selesai memasang gelang peraknya tanpa menoleh kepadanya. Ia menarik napas panjang, berusaha mempertahankan ketenangan yang selama ini selalu ia gunakan untuk menghadapi badai dalam rumah tangganya.
—Perempuan itu adalah ibuku, Arif —jawab Nadia dengan suara tenang dan terukur—. Dan rumah ini kita beli berdua. Kalau kamu lebih memilih pergi ke hotel, sebaiknya pergi sekarang juga, karena Ibu akan makan malam di sini bersama kita.
Arif berbalik dengan kasar. Wajahnya mengeras karena marah.
Selama empat tahun pernikahan mereka, Arif terus berusaha menjauhkan Nadia dari masa lalunya. Sebagai seorang eksekutif senior di salah satu bank besar di Jakarta, Arif menganggap kehidupan sederhana keluarga istrinya sebagai sesuatu yang harus disembunyikan di balik pakaian bermerek, pesta eksklusif, dan jamuan bersama para petinggi perusahaan.
Nadia memang menerima kehidupan sosial itu demi menjaga rumah tangganya tetap tenang.
Namun ada satu hal yang tidak pernah mau ia korbankan: ibunya, Bu Marta, perempuan sederhana yang bekerja tanpa mengenal lelah demi membesarkan Nadia seorang diri.
—Ini semua demi kebaikanmu, Nadia! —suara Arif meninggi sambil melangkah dua kali ke arahnya—. Para direksi utama bank akan datang sebentar lagi. Apa yang harus kukatakan ketika mereka melihat seorang perempuan tua miskin duduk di ruang tamu? Setiap kali kamu membawanya ke sini, kamu membuatku malu.
—Satu-satunya orang yang mempermalukan dirinya sendiri adalah kamu, Arif, karena berusaha berpura-pura berasal dari keluarga terpandang padahal tidak —kata Nadia sambil menatap lurus ke matanya dengan harga diri yang tak tergoyahkan—. Aku tidak pernah malu dengan tempat asalku. Yang membuatku malu adalah laki-laki yang kunikahi ternyata begitu rendah sampai mengukur harga seseorang hanya dari pakaiannya.
Saat itu, bel pintu utama berbunyi.
Nadia tidak menunggu jawaban.
Ia keluar dari kamar, berjalan mantap menuruni tangga marmer, lalu membuka pintu.
Di sana berdiri Bu Marta.
Ibunya mengenakan mantel terbaik yang dimilikinya. Di kedua tangannya, ia membawa sebuah wadah besar berisi kue tradisional buatan sendiri yang harum dengan aroma kayu manis dan gula merah.
—Selamat Natal, Nak —kata Bu Marta dengan senyum hangat—. Ibu membuat banyak. Biar cukup untuk semua tamumu. Ibu tahu kamu suka sekali kue seperti ini.
—Selamat Natal, Bu —jawab Nadia sambil memeluk ibunya dengan penuh kasih—. Wanginya enak sekali. Ayo masuk.
Bu Marta baru saja melangkah ketika Arif turun dari tangga dengan cepat. Rahangnya mengeras dan wajahnya tampak tegang.
—Selamat malam, Bu Marta —kata Arif dingin—. Saya sudah bilang kepada Nadia bahwa malam ini kami akan mengadakan jamuan resmi bersama jajaran direksi bank.
Bu Marta memeluk wadah kue itu lebih erat ke dadanya.
Wajahnya langsung pucat ketika menyadari sikap menantunya.
—Nak… kalau kedatanganku membuat masalah dengan tamu-tamumu, atau membuatmu bertengkar dengan suamimu, Ibu bisa pulang saja —ucap Bu Marta dengan suara bergetar—. Ibu tidak ingin merusak malam pentingmu.
—Tidak mungkin Ibu pergi —Nadia langsung menghentikannya dan menggenggam tangan ibunya dengan lembut—. Ibu tidak membutuhkan izin siapa pun untuk berada di rumahku sendiri.
Nadia kemudian berbalik menghadap Arif.
Sikapnya tetap anggun, tetapi kata-katanya jatuh dengan ketegasan yang tidak menyisakan ruang untuk tawar-menawar.
—Sampai di sini, Arif. Kalau kamu tidak mampu memperlakukan ibuku dengan rasa hormat dan martabat yang layak ia terima, maka ini adalah Natal terakhir yang akan kamu lewati bersamaku.
Sebelum Arif sempat menjawab, bel pintu kembali berbunyi.
Nadia membuka pintu.
Di depan mereka berdiri Pak Rendra, direktur utama bank tempat Arif bekerja, bersama istrinya, Bu Ratna, serta beberapa eksekutif senior lainnya.
Arif tidak punya pilihan selain menelan ludah, memasang senyum terpaksa, lalu menyambut mereka.
—Selamat malam! Wah, rumah kalian indah sekali, Arif —sapa Pak Rendra.
Namun baru beberapa langkah masuk, ia berhenti dan menarik napas dalam-dalam.
—Tapi tunggu… aroma apa ini? Harumnya luar biasa.
—Ibu saya membawa kue tradisional buatan sendiri —jelas Nadia sambil tersenyum bangga dan memperkenalkan ibunya—. Ini Bu Marta, ibu saya.
Bu Ratna langsung berjalan mendekati Bu Marta. Matanya berbinar penuh nostalgia.
—Kue tradisional dengan gula merah seperti ini? —serunya sambil menggenggam kedua tangan Bu Marta dengan tulus—. Sudah bertahun-tahun saya tidak mencicipi yang benar-benar dibuat rumahan. Bu Marta, terima kasih sudah membuatkan ini untuk kami.
Pak Rendra mengambil satu kue dan mencicipinya.
Sesaat kemudian, ia memejamkan mata karena kagum.
—Ini luar biasa, Bu Marta. Arif, kamu beruntung memiliki ibu mertua yang masih menjaga tradisi seperti ini dengan penuh kasih. Terlihat sekali betapa Nadia menyayangi ibunya.
Selama satu jam berikutnya, perhatian di meja makan justru berpusat pada Bu Marta.
Para petinggi bank berbicara dengannya dengan ramah. Mereka tertarik mendengar cerita sederhana tentang kehidupan Bu Marta, resep makanan yang ia buat, dan bagaimana ia membesarkan Nadia sejak kecil.
Nadia berkali-kali memastikan teh ibunya tidak habis dan memastikan sang ibu duduk di tempat yang nyaman.
Sementara itu, Arif hanya bisa duduk diam.
Perempuan yang selama ini ingin ia sembunyikan dari lingkungan sosialnya justru menjadi orang yang paling disukai semua tamunya malam itu.
Ketika para tamu akhirnya berpamitan dengan membawa kesan yang sangat baik, pintu rumah kembali tertutup.
Kesunyian perlahan memenuhi ruang tamu.
Bu Marta yang kelelahan tetapi bahagia naik ke kamar tamu untuk beristirahat.
Arif mendekati Nadia.
Ia mencoba melunakkan suaranya.
—Yah… ternyata semuanya berjalan baik juga, Nadia —katanya sambil mengembuskan napas lega—. Para atasan tadi terlihat sangat terkesan. Itu yang penting. Untung saja ibumu tidak membawa hal-hal kampungan seperti biasanya.
Nadia menatapnya dalam diam.
Tidak ada lagi kemarahan di wajahnya.
Yang tersisa hanya jarak yang dingin dan keputusan yang sudah bulat.
Ia berjalan menuju meja di ruang keluarga, lalu mengambil sebuah map kulit yang telah disimpannya sejak sore tadi.
—Semuanya berjalan baik karena ibuku memiliki pendidikan, ketulusan, dan kerendahan hati yang tidak kamu miliki, Arif —kata Nadia perlahan—. Dan karena orang-orang yang datang malam ini adalah orang-orang yang benar-benar tahu bagaimana menghargai manusia, bukan orang yang merasa minder seperti kamu.
—Nadia, semuanya sudah berlalu…
—Tidak. Belum berlalu.
Nadia memotong kalimatnya dengan tenang.
Ia meletakkan map kulit itu di atas meja.
—Penghinaanmu terhadap ibuku tidak hilang hanya karena para atasanmu menyukai kue buatannya. Kamu berniat mempermalukannya. Kamu ingin menyembunyikan asal-usulnya. Dan malam ini aku sadar bahwa aku tidak bisa mencintai laki-laki yang malu terhadap akar keluarganya sendiri.
Arif membuka map tersebut.
Wajahnya seketika berubah pucat.
Di halaman paling atas tertulis:
PERMOHONAN PERCERAIAN
—Kamu serius? —tanya Arif dengan suara tercekat—. Kamu mau menghancurkan empat tahun pernikahan hanya karena ini?
Nadia berdiri tegak.
—Bukan aku yang menghancurkannya. Kamu yang menghancurkannya setiap kali kamu merendahkan perempuan yang telah melahirkan dan membesarkanku.
Ia menatap suaminya untuk terakhir kalinya.
—Besok pagi, aku ingin kamu mengemasi semua barangmu. Aku dan Ibu akan tetap tinggal di rumah ini.
Nadia mengambil napas perlahan.
—Dan kali ini, tidak ada satu pun kata-katamu yang akan membuatku berubah pikiran.
