Aku buru-buru meraih ransel kainku yang tergeletak di lantai mobil, berusaha bersiap keluar secepat mungkin sebelum rasa maluku menembus atap SUV mewah ini. Tapi kepalaku yang berdenyut hebat membuat tanganku sedikit limbung.

“Terima kasih banyak, Pak Alexander. Sekali lagi maaf atas ketidaksopanan saya,” gumamku sambil memegang kening, mencoba meredakan pusing yang mendadak menyerang. “Operasi tadi benar-benar menguras tenaga. Pendarahan di rongga perutnya parah sekali, tulang rusuknya remuk menghantam paru-paru. Kalau tim kami terlambat sepuluh menit saja memasang klem pada arteri splenikanya, wanita itu tidak akan selamat.”

Alexander hanya bergumam pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet. Jemarinya yang berbalut jam tangan Patek Philippe bergeser santai di atas layar kaca. “Dedikasi yang bagus, Dokter. Beruntung korban tabrak lari itu ditangani orang sepertimu.”

“Iya… kasihan sekali dia,” lanjutku tanpa sadar, setengah bergumam pada diriku sendiri saat membetulkan ritsleting ransel. “Dia sendirian di jalanan sepi Menteng tanpa dompet, tanpa ponsel. Yang tersisa di lehernya cuma kalung rantai platinum tipis dengan liontin safir biru tua berukir inisial ‘V.M.’ dan sebuah cincin perak berpahat bunga krisan di jari kelingkingnya.”

Prang.

Bunyi cangkir porselen yang menghantam tatakan kecil di konsol tengah mobil terdengar begitu keras dan mendadak.

Kopi panas tumpah, merembes ke kain celana wol mahal yang dikenakan pria itu. Tapi Alexander sama sekali tidak mempedulikan noda kopi di celananya.

Layar tablet di tangannya terkulai miring.

Aku menoleh kaget, berniat meminta maaf lagi karena mengira gerakanku yang menyenggol kopinya. Namun saat tatapanku bertemu dengan wajah pria itu, kata-kata yang sudah kusiapkan mendadak lenyap di tenggorokan.

Wajah Alexander Montecillo yang tadinya tenang, angkuh, dan penuh wibawa… kini sepenuhnya pucat pasi. Seolah seluruh aliran darah di tubuhnya tersedot habis dalam satu detik. Rahangnya mengeras begitu kencang hingga urat-urat di pelipisnya menonjol keluar.

“A-apa yang baru saja kamu katakan?” suaranya tidak lagi terdengar lembut atau dingin. Suaranya serak, rendah, dan bergetar hebat menahan badai emosi yang luar biasa.

Aku mengerjap bingung, tubuhku menegang merespons tatapan matanya yang kini membelalak liar menatapku. “P-Pak Alexander? Ada apa—”

“Kalung itu,” Alexander memotong kata-kataku, tubuhnya condong ke arahku begitu cepat hingga aku terdorong mundur ke sandaran kursi kulit. Tangannya mencengkeram lengan jaket scrub-ku dengan kekuatan yang luar biasa. “Ulangi. Apa ukiran di balik liontin safir itu?!”

“V… V.M.,” jawabku terbata-bata, ketakutan mulai merayapi tengkukku. “Inisialnya V.M. Huruf V-nya memiliki ukiran sulur daun di bagian tangkainya. Dan cincin krisan itu—”

“Di mana dia sekarang?!”

Teriakan Alexander meledak di dalam kabin mobil yang kedap suara itu. Sopir pribadinya yang duduk di kursi depan langsung tersentak kaget dan menoleh ke belakang dengan mata membulat.

“T-Tuan Alexander?” panggil sang sopir ragu.

“Putar balik ke Rumah Sakit Medika Utama sekarang juga, Hendra! Bawa mobil ini secepat yang kamu bisa atau kupastikan kamu tidak akan pernah menyetir lagi seumur hidupmu!” raung Alexander, dadanya naik-turun dengan napas yang memburu liar.

Sopir itu tidak membantah sepatah kata pun. Mesin SUV bertenaga besar itu langsung meraung keras, bannya mendecit di lantai beton basah area parkir bawah tanah sebelum melesat kencang membelah rintik hujan malam Jakarta.

Aku terpaku di kursiku, menatap sang miliarder yang selama ini dikenal publik sebagai “Pria Berhati Es”. Tangannya yang tadi begitu tenang kini gemetar hebat saat merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel, dan menekan panggilan cepat dengan gerakan panik.

“Viona…” bisik pria itu, suaranya tercekat di pangkal tenggorokan. Untuk pertama kalinya, kulihat setitik air mata menggenang di sudut kelopak mata pria berkuasa itu. “Adikku masih hidup… Viona masih bernapas…”

Duniaku mendadak tersentak sadar.

Viona Montecillo. Putri bungsu keluarga konglomerat Montecillo yang dilaporkan hilang tanpa jejak setelah sebuah pertikaian internal perebutan saham keluarga empat puluh delapan jam yang lalu. Seluruh media massa nasional sejak kemarin memberitakan pencarian besar-besaran ahli waris perempuan itu, namun tidak ada yang menyangka bahwa sang putri tunggal dibuang di pinggir jalanan Menteng dalam kondisi sekarat sebagai seorang Jane Doe.

Alexander menoleh perlahan ke arahku. Tatapan matanya tidak lagi dingin atau meremehkan. Di balik mata elang yang memerah itu, ada rasa gentar, rasa syukur yang meluap-luap, dan kerapuhan seorang kakak yang baru saja ditarik keluar dari dasar neraka keputusasaan.

“Dokter Reyes,” bisiknya dengan napas yang bergetar hebat di sampingku, “kamu tidak naik mobil yang salah malam ini. Tuhan yang mengirimmu masuk ke mobil ini untuk menyelamatkan sisa hidupku.”

Không có mô tả ảnh.

Lidahku terasa kelu, kering kayak kardus kena jemur seminggu. Tanganku refleks meraba-raba saku jaket scrub, memastikan ponsel bututku nggak jatuh di sela-sela jok kulit Nappa seharga uang muka apartemen tipe studio itu.

“Nggak perlu, Pak. Saya turun di sini saja,” gumamku buru-buru, tanganku sudah sibuk mencari tuas pintu. “Maksud saya, di depan lobi juga nggak apa-apa. Saya bisa pesan taksi online beneran lewat aplikasi. Sekali lagi maaf, saya betul-betul linglung sehabis dari meja operasi.”

Alexander bahkan nggak mengangkat wajah dari layar tabletnya. Cahaya biru dari layar itu memantul di sudut kacamata frameless miliknya.

“Duduk saja, Althea. Jakarta jam segini macetnya bikin orang gila. Supir saya baru selesai beli rokok di seberang gedung,” suaranya datar, tanpa nada ramah, tapi juga nggak ada nada mengusir. Dingin yang efisien. Jenis intonasi yang biasa dipakai orang yang terbiasa memberi perintah tanpa perlu berteriak.

Aku menelan ludah, kembali menyandarkan punggungku yang remuk. Menatap ujung sepatu karet putihku yang bernoda cokelat kehitaman—darah kering dari pasien ruang operasi nomor tiga. Pemandangan itu mendadak memicu memori beberapa jam lalu di kepalaku. Bau antiseptik bercampur zat besi yang pekat, bunyi ritmis monitor elektrokardiogram yang sempat mendatar dua kali, dan bunyi patahan tulang iga yang menusuk pleura kiri.

“Kadang aku heran kenapa orang-orang memilih menyetir seperti orang kesurupan pas hujan lebat,” gumamku tanpa sadar. Bukan buat dia, lebih ke arah membuang sisa racun stres dari otakku sendiri ke udara kabin. “Mobilnya SUV hitam juga, persis kayak mobil ini. Tapi kabur begitu saja setelah menghantam seorang ibu paruh baya di daerah Menteng. Ditinggalkan begitu saja di trotoar kayak karung beras robek.”

Ujung jari Alexander yang sedang menggulir layar tablet berhenti sepersekian detik. Sangat tipis. Tapi dia tetap diam.

“Dia beruntung masih bernapas waktu tim forensik jalanan membawanya masuk,” lanjutku, menghela napas panjang sambil memijat pelipis kananku yang berdenyut-denyut. “Hati dan limpanya robek. Kalau saya nggak nekat memasang shunt sementara sebelum menjahit robekan di vena cava inferiornya, dia sudah mati kehabisan darah di atas brankar transit. Tapi anehnya…”

“Apanya yang aneh?”

Pertanyaan itu keluar pelan. Alexander masih memandangi tabletnya, tapi posisi tubuhnya sedikit bergeser. Ada ketegangan yang mendadak mengendap di antara kami, setipis lapisan minyak di atas air tenang.

“Dia nggak punya identitas sama sekali. Ponselnya hancur terlindas roda belakang, dompetnya kosong, cuma ada uang tunai beberapa lembar,” jawabku sambil mengingat-ingat formulir laporan visum yang sempat kutandatangani sebelum roboh di jok mobil ini. “Tapi pakaian dalamnya bermerek mahal. Dan dia mengenakan sebuah liontin platinum kuno. Liontin itu agak penyok kena benturan aspal, tapi kunciannya masih utuh. Bentuknya ganjil, mirip sangkar burung kecil dengan batu zamrud lonjong di dalamnya, terus di bagian belakangnya ada ukiran nama: Valerie, 1994.”

Prak.

Bukan cangkir kopi yang pecah.

Itu bunyi tablet titanium tipis milik Alexander yang meluncur bebas dari pangkuannya dan membentur lantai mobil yang dilapisi karpet beludru hitam.

Suasana di dalam kabin mendadak senyap, sampai-sampai suara dengung AC mobil terdengar seperti deru angin badai.

Aku menoleh.

Pria yang beberapa detik lalu tampak seperti patung marmer hidup di majalah Forbes itu… kini tidak lagi terlihat seperti Alexander Montecillo.

Wajahnya putih kapas. Bukan pucat karena kedinginan AC, tapi jenis pucat yang muncul ketika seseorang mendadak melihat hantu bangkit dari kuburnya sendiri. Matanya yang biasanya tajam dan berjarak, kini membelalak lebar, pupilnya melebar penuh ketakutan bercampur rasa tak percaya yang begitu telanjang. Bibirnya yang tipis membuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar.

“P-Pak?” panggilku, tubuhku refleks mundur merapat ke pintu. “Bapak sakit? Dada Bapak nyeri?”

Tangan kanannya yang berbalut kemeja putih mahal terangkat perlahan, gemetar hebat seperti orang terkena tremor parkinson. Dia meraba dasinya sendiri, menarik simpulnya dengan gerakan kasar dan panik sampai kancing teratas kemejanya terlepas dan memantul pelan di jok.

“B-batu zamrud…” suaranya pecah, tercekat di pangkal tenggorokan. “Kamu bilang… sangkar burung dengan batu zamrud?”

“I-iya,” jawabku terbata-bata, insting dokternya langsung menyala melihat napasnya yang mendadak pendek-pendek dan dangkal. “Ada goresan kecil di sisi kirinya, dan di dalamnya ada lipatan kertas foto mini seukuran kuku yang sudah luntur kena rembesan darah. Tapi ukirannya masih jelas terbaca: Valerie, 1994. Pasien itu sekarang ada di ICU lantai empat, masih koma pasca-operasi—”

“HENDRA!”

Teriakan Alexander meledak, begitu keras dan liar hingga kaca jendela mobil terasa bergetar.

Pintu depan mobil terbuka sentak. Seorang pria paruh baya dengan seragam safari hitam—sopir yang baru saja menghisap rokoknya—langsung menjulurkan kepala dengan wajah panik. “Y-ya, Tuan Alex?! Ada apa, Tuan?!”

Alexander mencengkeram sandaran kursi depan dengan kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih pasi. Urat-urat di lehernya menonjol keluar, merah keunguan.

“Nyalakan mesin. Putar balik ke Medika Nusantara. SEKARANG!”

“Tapi Tuan, rapat dengan konsorsium Singapura lima belas menit lagi di lantai—”

“BATALKAN SEMUANYA!” raung Alexander, matanya menyala liar, dipenuhi kombinasi antara amarah murni dan keputusasaan yang mengerikan. “Suruh sekuriti blokir semua akses lift pribadi. Hubungi tim investigasi Darmawan, bawa mereka ke rumah sakit dalam waktu dua puluh menit. Dan Hendra… kalau kamu nggak sampai di rumah sakit dalam sepuluh menit, jangan pernah berani menampakkan mukamu lagi di depanku seumur hidup!”

Sopir itu tidak bertanya lagi. Pintu dibanting menutup. Mesin V8 mobil itu menggeram garang, menyentak tubuh kami ke belakang saat roda-roda besarnya mencengkeram aspal basah jalanan Sudirman dengan kecepatan yang melanggar semua batas kewarasan.

Aku mencengkeram sabuk pengamanku erat-erat, menatap Alexander yang kini membungkuk ke depan, kedua tangannya menutupi wajahnya sendiri. Dari balik celah jemarinya yang bergetar, aku mendengar suara isakan.

Bukan tangisan terisak yang biasa. Itu erangan tertahan dari seorang pria yang baru saja menyadari bahwa jurang maut yang ditakutkannya selama ini ternyata baru saja dilompati oleh seseorang yang duduk di sampingnya.

“Ibu…” bisik Alexander, begitu lirih hingga nyaris tenggelam di balik suara deru mesin. “Tuhan… itu Ibu…”

Duniaku mendadak berputar ganjil.

Valerie Montecillo.

Nama itu menghantam ingatanku seperti martil godam. Tentu saja. Bagaimana mungkin aku bisa sebodoh itu?

Tiga tahun lalu, berita nasional diguncang oleh hilangnya istri mendiang pendiri Montecillo Group secara misterius dari vila peristirahatan mereka di Puncak. Keluarga besar mengklaim bahwa Valerie mengalami depresi berat pasca kematian suaminya dan diduga melarikan diri ke luar negeri. Polisi menutup berkas pencarian setelah enam bulan tanpa hasil. Sejak saat itu, Alexander mengambil alih kendali penuh perusahaan dan dikenal sebagai monster korporat tanpa belas kasihan yang membersihkan semua kerabatnya dari kursi dewan direksi.

Dan wanita yang terkapar bersimbah darah di bawah lampu ruang operasi nomor tiga tadi pagi… adalah Valerie.

“Dia bukan melarikan diri,” gumamku pelan, menyusun kepingan teka-teki itu dengan suara tercekat. “Pak Alexander… luka di tubuh wanita itu bukan cuma luka akibat tabrakan mobil.”

Alexander menurunkan tangannya perlahan. Matanya merah padam, basah oleh air mata yang tak sempat disekanya, tapi sorot matanya kini berubah menjadi sesuatu yang luar biasa dingin—dingin yang mematikan.

“Maksudmu apa?”

“Sebelum mobil itu menabraknya,” kataku hati-hati, mengingat kembali memar-memar lama yang kutemukan di sekitar pergelangan tangan dan tengkuk pasien saat tim anestesi memasang kateter vena sentral, “ada bekas luka jeratan tali rami di kedua pergelangan tangannya. Sudah mengalami infeksi sekunder, artinya dia diikat selama berhari-hari. Dan di dalam darahnya… ada residu sedatif dosis tinggi. Senyawa diazepam cair yang biasa dipakai untuk melumpuhkan pasien psikiatri agresif.”

Alexander tidak berkedip. Napasnya terdengar lambat, berat, dan mengerikan.

Dia merogoh saku dalamnya, mengeluarkan ponsel berlapis casing titanium gelap, lalu menekan sebuah nomor panggilan satelit.

“Darmawan,” suara Alexander datar, tapi jenis datar yang mengisyaratkan bahwa darah akan segera tumpah. “Ibu masih hidup. Dia ada di Medika Nusantara. Dan seseorang baru saja mencoba menyelesaikannya di jalanan Menteng tadi subuh.”

Terdengar suara terengah di ujung telepon, disusul suara kursi yang terbanting.

“Kunci lantai empat rumah sakit itu,” lanjut Alexander dingin. “Tutup semua tangga darurat. Tempatkan orang-orang kita di ruang CCTV. Dan Darmawan… tangkap paman saya, Hendarto, di rumahnya di Kebayoran sekarang juga. Jangan biarkan bajingan itu sempat melangkah keluar dari pintu kamarnya, hidup atau mati.”

Mobil kami menerobos palang pintu masuk Rumah Sakit Medika Nusantara dengan kecepatan gila, berhenti mendadak tepat di depan lobi instalasi gawat darurat sampai ban belakangnya mengeluarkan bau karet terbakar.

Petugas sekuriti rumah sakit yang awalnya hendak berlari marah sambil membawa pentungan langsung mematung di tempat begitu melihat sosok Alexander melangkah keluar dari kursi belakang. Kemeja mahalnya yang terbuka di bagian leher dan noda kopi di celananya sama sekali tidak mengurangi aura teror yang dibawanya.

Aku buru-buru menyusul di belakangnya, mengabaikan rasa perih di otot kakiku yang kelelahan.

“Di mana dia?” tanya Alexander padaku tanpa menoleh.

“ICU Timur. Lantai empat, kamar isolasi 402,” jawabku sambil mempercepat langkah setengah berlari.

Kami masuk ke dalam lift khusus staf medis. Begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai empat, pemandangan yang menyambut kami membuat bulu kudukku meremang seketika.

Dua orang pria berbadan tegap mengenakan kemeja batik lengan panjang berdiri di depan pintu ruang isolasi 402. Mereka bukan petugas keamanan rumah sakit. Salah satu dari mereka sedang berbicara dengan seorang dokter jaga malam—Dr. Firman, dokter spesialis anestesi senior yang tadi sempat bertukar jadwal denganku di ruang ganti.

“Dokter Reyes?” Firman menoleh kaget saat melihatku keluar dari lorong bersama Alexander Montecillo. Wajah Firman tampak tegang, ada lapisan keringat dingin di dahinya. “Kamu… kamu ngapain balik lagi? Bukannya tadi kamu sudah pulang?”

“Siapa mereka, Dok?” tanyaku langsung, matanya melirik ke arah pintu kaca isolasi 402 yang tirai penutupnya sengaja ditarik rapat.

Salah satu pria berbatik melangkah maju, tangannya terselip di balik saku jaketnya. “Kami keluarga dari pasien tabrak lari tadi pagi. Kami mau memindahkan korban ke rumah sakit swasta lain di Karawaci untuk perawatan lanjutan.”

“Pemindahan?” Aku mengerutkan kening, insting medisku mendadak membunyikan lonceng bahaya sekeras-kerasnya. “Pasien itu baru selesai laparatomi eksplorasi tiga jam yang lalu! Hemoglobinnya baru naik ke angka delapan sehabis transfusi empat labu PRC. Menggeser tubuhnya sekarang sama saja dengan membunuhnya di jalan!”

“Itu keputusan pihak keluarga, Dokter,” potong pria itu dingin, nada bicaranya kasar dan menekan. “Dokter jaga di sini sudah menandatangani surat persetujuan keluar atas permintaan keluarga sendiri. Jadi Anda tidak punya hak untuk menghalangi.”

Aku menatap Firman dengan tatapan tak percaya. “Dokter Firman? Anda menyetujui rujukan pasien pasca-operasi mayor tanpa verifikasi data identitas resmi dari kepolisian?!”

Firman menundukkan kepala, menghindari tatapanku. Tangannya yang memegang map rekam medis bergetar samar. “K-keluarga membawa kartu keluarga asli, Althea… berkasnya lengkap…”

“Bohong,” potong sebuah suara dingin dari belakang punggungku.

Alexander melangkah maju dua langkah. Bayangan tubuhnya yang jangkung menutupi lampu koridor rumah sakit, jatuh menimpa wajah kedua pria berbatik itu.

Pria yang berbicara tadi langsung ternganga. Matanya membelalak, mundur setengah langkah sampai punggungnya membentur pintu kaca ruang ICU. “T-Tuan… Tuan Alexander?”

“Siapa yang menyuruh kalian kemari?” bisik Alexander. Suaranya pelan, tapi di koridor rumah sakit yang sunyi ini, suara itu terdengar seperti bilah pisau bedah yang sedang digesekkan ke tulang. “Hendarto? Atau anak haramnya yang baru kalah judi di Makau minggu lalu?”

Kedua pria itu saling melirik panik. Salah satu dari mereka merogoh saku belakang celananya, tapi sebelum tangannya berhasil menarik benda logam yang tersimpan di sana, pintu tangga darurat di ujung koridor terbanting terbuka dengan suara keras.

Empat orang pria berpakaian serba hitam dengan tanda pengenal militer swasta merangsek masuk, menodongkan senjata laras pendek berperedam suara langsung ke dahi kedua pria berbatik itu. Dalam hitungan detik, kedua pria itu sudah dilumpuhkan di atas lantai keramik, wajah mereka ditekan keras ke ubin, tangan mereka diikat ke belakang menggunakan tali pengikat taktis dari plastik tebal.

Dr. Firman gemetar hebat di sudut dinding, map rekam medisnya jatuh berserakan di lantai.

“T-Tuan Alex… saya bersumpah saya nggak tahu apa-apa!” ratap Firman dengan suara tercekat, kedua lututnya goyah sampai dia melorot duduk di lantai. “Pak Hendarto mentransfer dua ratus juta ke rekening istri saya tadi subuh… dia bilang cuma mau memindahkan bibinya ke klinik keluarga… dia mengancam akan menghabisi anak saya kalau saya nggak meloloskan ambulans mereka!”

Alexander bahkan tidak memandangnya. Dia melangkah melewati tubuh Firman seolah pria itu cuma seonggok sampah yang tercecer di lantai.

Tangannya menyentuh gagang pintu kaca kamar 402, mendorongnya perlahan.

Aku mengikuti langkahnya masuk ke dalam ruangan yang dingin dan berbau ozon itu.

Di atas ranjang periksa berkasur khusus dekubitus, seorang wanita paruh baya berambut kelabu terbaring tak berdaya. Tubuhnya tertutup selimut katun rumah sakit sampai ke sebatas dada. Pipa endotrakeal terpasang di mulutnya, terhubung ke mesin ventilator mekanik yang memompa udara dengan bunyi mendesis yang teratur: psshhh… klick… pssshhh…

Wajahnya penuh lebam biru keunguan, tulang pipi kanannya retak, dan perban tebal melingkari perutnya yang baru saja kujahit dengan benang nilon berlapis baja tiga jam yang lalu.

Alexander berdiri mematung di samping ranjang.

Seluruh arogansi konglomerat yang menakuti ratusan taipan di negeri ini lenyap tak berbekas. Yang tersisa hanyalah seorang anak laki-laki yang kehilangan separuh jiwanya selama tiga tahun terakhir.

Lututnya perlahan tertekuk. Alexander berlutut di lantai rumah sakit yang dingin di samping ranjang itu. Tangannya yang besar meraih telapak tangan ibunya yang kurus, kering, dan penuh bekas jarum infus. Dia menempelkan punggung tangan wanita itu ke dahinya sendiri, memejamkan mata rapat-rapat.

Pundaknya berguncang hebat. Tangisan tanpa suara itu merobek keheningan ruangan isolasi.

“Ibu…” bisiknya berkali-kali di sela napasnya yang tersengal. “Alex di sini… Alex sudah menemukan Ibu…”

Di meja nakas samping tempat tidur, dalam sebuah kantong plastik bening bertanda Barang Bukti Medis, tergeletak liontin sangkar burung berhias zamrud itu. Cahaya lampu ruangan memantulkan warna hijau tuanya yang tenang, berkilau di samping cincin kawin perak yang sudah kusam.

Aku berdiri di dekat pintu, merasakan air mata hangat tiba-tiba mengalir menuruni pipiku sendiri. Rasa lelah, kantuk yang tadi sempat menggelayuti mataku, mendadak menguap sepenuhnya digantikan oleh sebuah kehangatan aneh yang menyelimuti dadaku. Sebagai dokter bedah, aku terbiasa melihat kematian dan keputusasaan setiap malam. Tapi malam ini… malam ini aku melihat takdir memutar rodanya dengan cara yang paling tidak masuk akal.

Dua puluh menit berlalu dalam keheningan yang khidmat sebelum seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas abu-abu masuk perlahan ke dalam ruangan.

Darmawan. Kepala intelijen pribadi keluarga Montecillo.

“Tuan Alex,” lapor Darmawan dengan suara rendah dan tegas. “Hendarto sudah diamankan di jalan tol arah bandara Soekarno-Hatta. Kami menemukan tiket penerbangan satu arah ke Jenewa atas namanya. Dokumen pengalihan aset yayasan dan sertifikat tanah perkebunan teh Puncak yang disembunyikannya selama tiga tahun ini ada di dalam koper pribadinya. Polisi khusus dari Mabes sudah mengambil alih penahanan di safe house kita.”

Alexander menarik napas panjang, mengusap wajahnya dengan telapak tangan sebelum berdiri perlahan. Ketika dia membalikkan badan menghadap Darmawan, aura di sekelilingnya sudah kembali menjadi baja cair yang dingin dan tak tertembus.

“Pastikan Hendarto tidak mati sebelum melihat wajah Ibu di pengadilan,” perintah Alexander datar. “Cabut seluruh hak waris keturunannya dari yayasan keluarga. Dan dokter itu…” Alexander melirik sekilas ke arah pintu kaca tempat Dr. Firman masih bersimpuh menangis di lorong, “pastikan izin praktiknya dicabut permanen pagi ini juga. Jangan biarkan dia menyentuh pasien lagi seumur hidupnya.”

“Siap, Tuan.” Darmawan membungkuk hormat, lalu melangkah keluar untuk mengeksekusi perintah tersebut.

Alexander terdiam sejenak di tengah ruangan. Tatapannya kemudian beralih ke arahku.

Dia berjalan mendekat, berhenti tepat satu jangkah di depanku. Matanya yang merah menatap langsung ke dalam manik mataku. Untuk pertama kalinya, aku melihat rasa hormat yang begitu tulus memancar dari wajah pria yang biasanya memandang orang lain dari atas menara gadingnya.

“Dr. Reyes,” suaranya rendah, hangat, dan sarat dengan getaran yang tak bisa disembunyikannya. “Kamu tidak tahu apa yang baru saja kamu lakukan malam ini.”

Aku tersenyum tipis, merapikan kerah jaket scrub-ku yang kusut. “Saya cuma melakukan tugas saya di meja operasi, Pak Alexander. Menyelamatkan siapa pun yang terbaring di atasnya.”

“Bagi rumah sakit ini, dia cuma seorang pasien tanpa nama. Bagi orang-orang yang menabraknya, dia cuma batu sandungan yang harus dilenyapkan,” Alexander menggeleng perlahan, tangan kanannya terangkat ragu sebelum akhirnya mendarat lembut di pundak kananku, meremasnya pelan dengan rasa terima kasih yang tak bisa diucapkan oleh kata-kata. “Tapi bagiku… dia adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih bertahan hidup selama tiga tahun terakhir ini.”

Pria itu menarik tangannya, lalu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam pekat dengan cetakan huruf perak timbul—nomor kontak pribadi yang hanya dipegang oleh segelintir kepala negara dan komisaris bank dunia.

“Mulai detik ini, Dr. Reyes, rumah sakit ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan dan pendanaan langsung dari yayasan Montecillo,” katanya dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan. “Kamu tidak akan pernah lagi dipaksa melakukan operasi maraton tujuh jam sendirian tanpa tim pendukung terbaik. Departemen bedah toraks dan kardiovaskular akan mendapatkan fasilitas baru denganmu sebagai kepala peneliti klinisnya.”

Mataku membesar karena syok. “Pak Alex, tunggu dulu… saya baru dua puluh lima tahun, saya masih residen senior, belum punya gelar konsultan resmi—”

“Gelar dan birokrasi bisa dibeli dan diurus besok pagi, Althea,” senyum tipis—senyum yang benar-benar hangat dan tulus—muncul di bibir Alexander untuk pertama kalinya malam itu. “Tapi insting, keberanian, dan tangan dingin yang sanggup menarik ibuku dari liang lahat… itu tidak bisa dibeli di universitas mana pun di dunia.”

Pintu kamar isolasi diketuk pelan. Seorang perawat senior masuk dengan membawa monitor tanda vital portabel baru, memberi hormat singkat dengan wajah tegang sebelum mulai memeriksa selang infus pasien.

Alexander melirik jam tangannya. Pukul lima lewat lima belas menit pagi.

Di luar jendela kaca lantai empat, langit Jakarta mulai merekah, membiaskan semburat cahaya fajar berwarna jingga keemasan yang menembus sisa-sisa awan mendung pasca-badai semalam. Hujan lebat yang tadi malam menggila kini benar-benar reda, meninggalkan aroma tanah basah dan aspal bersih yang menguar lewat ventilasi udara.

“Kamu belum tidur sama sekali sejak kemarin siang, kan?” tanya Alexander pelan, memperhatikan lingkaran hitam tebal di bawah mataku.

Aku tertawa kecil, rasa letih yang sempat hilang mendadak menyerbu balik ke otot-otot leher dan punggungku. “Kalau saya bilang tidak lelah, saya pasti bohong besar.”

Alexander menoleh ke arah lorong luar, lalu memberi isyarat tangan ke arah sopirnya yang berdiri setia di dekat lift.

“Ayo,” kata Alexander sambil melangkah mendahuluiku menuju pintu keluar.

Aku mengernyitkan dahi, melangkah cepat menyamainya. “Ke mana, Pak?”

“Mengantarmu pulang ke SCBD,” jawabnya tanpa menoleh, tapi ada nada geli yang terselip di suaranya yang berat. “Kali ini dengan sopir yang sadar penuh dan mobil yang benar. Dan kalau kamu tertidur lagi di kursi belakang selama dua jam… aku berjanji tidak akan menagih biaya sewanya.”

Aku tersenyum lebar di balik masker bedahku yang masih menggantung di leher.

Melangkah keluar dari lorong rumah sakit di samping salah satu pria paling berkuasa di negeri ini, aku menyadari satu hal yang luar biasa ganjil tentang hidup: kadang-kadang, kesalahan paling konyol yang kita buat—seperti salah menaiki mobil di tengah malam yang basah oleh hujan—hanyalah cara semesta menempatkan kita tepat di tempat kita seharusnya berada, untuk menyelamatkan sebuah nyawa, dan membiarkan takdir membereskan sisanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *