Aku tinggal sendirian, tetapi tetanggaku bersikeras bahwa dia mendengar seorang wanita memohon pertolongan dari dalam rumahku setiap sore. Jadi keesokan harinya, aku berpura-pura pergi bekerja dan bersembunyi di bawah tempat tidurku. Pada pukul 14.14, seseorang membuka pintu depan dengan kunci, berjalan langsung menuju kamarku, lalu berbisik ke telepon seluler, “Dia tidak ada di sini.” Seorang pria menjawab melalui pengeras suara… dan begitu aku mengenali suaranya, perutku langsung terasa mual.


“Apakah kamu sudah memeriksa garasi?” tanyanya.

Wanita itu berdiri cukup dekat hingga aku bisa melihat goresan kecil samar di ujung sepatu hak hitamnya.

“Mobilnya tidak ada di sini,” jawab wanita itu. “Tapi mobil itu juga tidak ada di kantornya.”

Suara ketukan kecil terdengar dari pengeras suara. Tiga ketukan berirama pada sebuah permukaan keras.

Suara itu lebih menyakitkan daripada mendengar suaranya.

Dulu, dia selalu mengetukkan cincin pernikahannya ke cangkir kopi keramik miliknya ketika sedang berpikir keras. Dia melakukannya saat memeriksa tagihan listrik, saat membaca menu makan malam, bahkan ketika menunggu jawabanku saat dia melamarku.

Aku tidak pernah mendengar suara itu selama dua tahun.

Sejak enam orang pengusung jenazah membawa peti matinya yang tertutup keluar dari Gereja St. Maria di Jakarta.

“Periksa kamar tidur lagi,” perintahnya. “Map biru itu pasti ada di sekitar sana.”

Wanita itu membuka laci paling atas meja rias kamarku. Suara kain bergesekan terdengar. Botol parfum kaca berbenturan dengan kayu. Dia mengacak-acak barang-barang pribadiku dengan kepercayaan diri seseorang yang sudah melakukan hal itu berkali-kali sebelumnya.

Aku menempelkan pipiku ke lantai kayu yang berdebu dan menahan dorongan luar biasa untuk keluar dari persembunyian.

Suamiku, Derek, meninggal dalam kecelakaan di jalan tol dekat Bandung dua puluh enam bulan yang lalu. Mobilnya menabrak pembatas jalan dan terbakar sebelum tim penyelamat tiba.

Polisi yang datang ke rumahku mengatakan bahwa jasadnya terbakar parah. Aku mengenali Derek melalui jam tangan yang dipakainya, cincin pernikahan yang disimpan dalam kantong barang bukti, dan gantungan kunci perak yang kubelikan untuk ulang tahun pernikahan kami yang kelima.

Peti matinya tetap tertutup.

Selama berbulan-bulan, aku hidup dengan rasa bersalah karena tidak pernah melihat wajahnya untuk terakhir kali.

Sekarang, suaranya terdengar dari sebuah ponsel tepat di dalam kamarku.

“Map yang mana?” tanya wanita itu.

“Map kulit biru. Isinya sertifikat rumah, dokumen asuransi jiwa, dan contoh tanda tangan Claire.”

Mendengar namaku keluar dari mulutnya membuat seluruh tubuhku merinding. Derek membicarakanku seperti aku hanyalah orang asing.

Wanita itu menarik laci lain dengan kasar.

“Kamu bilang dia menyimpan semuanya di ruang kerja.”

“Dia memindahkannya setelah pemeriksaan asuransi.”

“Bagaimana kamu tahu?”

“Karena dia menceritakan jauh lebih banyak kepada Dr. Aditya daripada yang dia sadari.”

Napas tertahan di tenggorokanku.

Dr. Aditya telah merawatku sejak pemakaman. Rekan bisnis lama Derek yang merekomendasikannya, mengatakan bahwa dia adalah ahli terkenal dalam menangani trauma kehilangan yang rumit.

Dalam sesi terapi terakhir kami, dia bertanya apakah aku pernah merasa mendengar Derek berada di dalam rumah. Aku mengaku pernah terbangun karena mendengar langkah kaki di lorong lantai atas dan menemukan pintu belakang terbuka.

Dia menulis sesuatu di buku catatannya selama satu menit penuh sebelum akhirnya menatapku.

“Kesedihan bisa membuat suara-suara biasa di rumah terasa sangat pribadi,” katanya dengan lembut.

Setelah itu, aku tidak pernah membicarakannya lagi.

Wanita itu berpindah menuju lemari pakaian, mendorong gantungan bajuku ke samping.

“Apa yang terjadi kalau aku tidak menemukannya?”

“Kita lanjutkan dengan rencana utama.”

Dia menurunkan suaranya menjadi bisikan tajam.

“Tetangga itu mulai curiga.”

“Itu memang tujuannya.”

“Bagaimana kalau dia menelepon polisi?”

“Lebih bagus lagi.”

Keheningan memenuhi kamar.

Pikiranku kembali ke Bu Siti, tetanggaku, yang berdiri di dekat pagar taman rumahku kemarin pagi sambil masih mengenakan sarung tangan cuci piring berwarna kuning.

“Setiap sore,” bisiknya, “ada seorang wanita berteriak dari jendela lantai atas rumahmu.”

Aku tertawa kecil saat itu, sebagian karena pilihan lainnya adalah mempercayai sesuatu yang terdengar mustahil.

Bu Siti tidak ikut tersenyum.

“Dia memohon agar seseorang membebaskannya, Claire. Kemarin dia menangis memanggil ibunya.”

Setiap pukul 14.00 sore, aku berada lima belas kilometer dari rumah, bekerja di kantor memproses klaim asuransi. Rumahku seharusnya benar-benar kosong.

Malam itu, aku memeriksa setiap lemari, kabinet, dan sudut rumah. Tidak ada yang tampak berubah, tetapi aroma bunga yang manis samar-samar masih tertinggal di kamar tidurku.

Parfum.

Aroma yang sama persis dengan yang sekarang tercium dari bawah tempat tidurku.

Wanita itu berlutut.

Rambut hitamnya jatuh melewati satu bahu saat dia meraih ke bawah rangka tempat tidur.

Genggamanku semakin erat pada gagang pisau dapur yang kubawa ke atas.

Tangannya menyentuh hanya beberapa sentimeter dari hidungku, lalu dia meraih sesuatu dan menariknya dari sela papan kayu.

Sebuah speaker Bluetooth kecil berwarna hitam jatuh ke karpet dengan suara keras.

Dia menekan sebuah tombol di ponselnya.

Suara seorang wanita berteriak.

Suara mengerikan itu memenuhi kamar dengan sangat keras hingga aku terkejut dan bahuku terbentur sisi tempat tidur.

“Tolong!” teriak suara rekaman itu. “Seseorang tolong saya! Keluarkan saya dari sini!”

Suara pukulan keras terdengar berulang-ulang ke arah pintu yang sebenarnya tidak ada. Wanita itu menangis, terengah-engah mencari udara, lalu berteriak lagi.

Wanita yang masuk ke rumahku menghentikan rekaman.

Telingaku berdenging dalam keheningan yang tiba-tiba.

“Jadi itu yang didengar nenek tua itu,” gumamnya.

Derek mengeluarkan tawa rendah yang sangat kukenal. Tawa yang selalu dia gunakan ketika merasa dirinya adalah orang paling pintar di ruangan itu.

“Bu Siti sudah mengeluh dua kali. Satu kejadian lagi dan kita punya pola yang kuat.”

“Pola tentang apa?”

“Claire yang bertindak tidak waras saat sendirian.”

“Tapi suara teriakan itu terjadi saat dia sedang bekerja.”

“Untuk sementara. Besok, kamu akan menelepon polisi dan melaporkan bahwa dia berteriak tengah malam. Minggu depan, kamu akan mengatakan bahwa dia berteriak kepada seseorang yang sebenarnya tidak ada.”

Wanita itu berjalan menuju jendela kamar.

“Dan Dr. Aditya?”

“Dia akan mengajukan penahanan psikiatri darurat. Catatannya sudah banyak berisi tentang paranoia, gangguan ingatan, dan kemungkinan halusinasi pendengaran.”

Genggamanku pada pisau perlahan melemah.

Pintu teras yang sering terbuka. Obat tidur yang hilang. Cangkir kopi Derek yang muncul kembali di meja dapur setelah aku menyimpannya di gudang. Foto pernikahan kami yang berpindah dari lorong ke meja samping tempat tidur.

Setiap kali, aku menyalahkan obat tidurku. Aku menyalahkan kelelahan. Aku menyalahkan rasa kehilangan mendalam yang semua orang bilang bisa membuat pikiranku kacau.

Seseorang telah menyelinap masuk ke rumahku dan meninggalkan jejak-jejak Derek.

Mereka ingin aku menyadarinya. Mereka ingin aku terlihat gila ketika menceritakannya kepada Dr. Aditya.

Wanita itu menatap speaker hitam tersebut.

“Dan setelah dia diperiksa?”

“Kamu mengajukan permohonan hak perwalian sementara.”

Dia berbalik dengan cepat.

“Aku?”

“Kamu adalah satu-satunya kerabat sedarah terdekatnya yang masih hidup.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa semakin sempit dan sesak.

Aku menatap pintu lemari bercermin. Hanya sebagian kecil wajah wanita itu yang terlihat dalam pantulan—lekukan tulang pipi, rambut hitam yang diselipkan di belakang telinga, anting mutiara kecil yang elegan.

Lalu dia mengubah posisi berdirinya.

 

Có thể là hình ảnh về điện thoại

 

 

Anting mutiara itu berkilat ditimpa seberkas sinar matahari yang lolos dari celah gorden. Mutiara air tawar bentuk tetesan air mata, dengan kait perak tipis yang salah satu ujungnya agak bengkok.

Nadia.

Sepupu kandungku sendiri. Anak mendiang bibiku dari pihak ibu, orang yang dua tahun lalu duduk bersimpuh di lantai ruang tengah rumah ini, memegang mangkuk bubur kacang hijau panas, memaksa aku menelan setidaknya tiga suap saat aku mogok makan sehabis pemakaman kosong Derek.

Tenggorokanku tercekat oleh debu halus lantai dan rasa mual yang meluap sampai ke pangkal lidah. Selama ini, satu-satunya orang yang memegang kunci cadangan rumahku—selain mendiang ibuku—hanyalah Nadia. Dia yang sering mampir setiap hari Kamis dengan alasan “mengecek tanaman hias dan menyiram anggrek peninggalan Mama.”

“Tiga puluh persen, Derek. Jangan coba-coba memotong bagianku lagi,” suara Nadia membelah dengung di kepalaku. Nadanya datar, dingin, jauh dari nada lembut yang selalu ia pakai kalau berbicara padaku di depan para kerabat. “Polisi gadungan yang mengurus surat kematianmu di Subang itu kemarin meneleponku lagi. Dia minta tambahan lima puluh juta karena ada audit internal di polresnya. Kalau kamu tidak melunasinya minggu ini, dia mengancam akan membuka kembali berkas kecelakaan tol itu.”

Suara Derek berdecak kesal dari pengeras suara ponsel. Tuk. Tuk. Tuk. Cincin kawin kami—yang dulu kupikir meleleh bersama jari tangannya di dalam kabin mobil yang terbakar—masih terus diketukkan ke cangkir keramik.

“Katakan pada tikus itu untuk tutup mulut sampai persidangan perwalian selesai,” potong Derek, kasar dan tidak sabar. “Begitu Claire resmi masuk bangsal isolasi di Sanatorium Dharma Graha atas rekomendasi tertulis Aditya, seluruh aset likuid atas nama yayasan keluarga dan klaim asuransi jiwa luar negeri yang selama ini tertahan di Singapura akan langsung cair ke rekening perwalianmu. Empat belas miliar, Nadia. Kamu bisa beli vila di Jimbaran yang kamu impikan itu tanpa perlu pusing memikirkan uang tutup mulut recehan.”

“Kalau map birunya tidak ada di sini bagaimana?”

“Cari di bagasi mobilnya! Jangan bodoh. Terakhir kali aku menyuruh Aditya memeriksa isi tas kerjanya saat sesi hipnoterapi bulan lalu, Claire bilang dia memfotokopi semua berkas asli untuk verifikasi klaim asuransi tambahan di kantor pusat Prudential. Map itu pasti ada di dalam sedan tuanya.”

“Sedannya tidak ada di kantornya, Derek! Aku tadi sudah mutar dua kali di parkiran gedung kantornya di Kuningan sebelum ke sini. Satpam bilang Claire ambil cuti sakit hari ini.”

Hening.

Jeda itu terasa seperti ditarik dari karet ban yang hampir putus. Di lantai kayu yang dingin, aku menahan napas sampai dadaku serasa mau meledak. Jemariku yang mencengkeram gagang pisau dapur sampai memutih, kaku tak berdarah.

“Cuti sakit?” Suara Derek mendadak turun setengah oktaf. Desis curiga yang sangat kuhafal tiap kali ada anak buah di kantor kontraktornya yang berbohong soal nota pembelian material semen. “Sejak kapan perempuan itu ambil cuti tanpa mengabari dokter Aditya?”

Nadia melangkah mundur dari lemari pakaian. Ujung sepatu hak hitamnya kembali terlihat di sudut pandangku yang sempit. “Mungkin dia sedang pergi ke makammu. Hari ini tanggal dua puluh enam, kan? Dua tahun dua bulan sejak kamu ‘mati’.”

Derek menghela napas panjang, lalu tertawa kecil, tawa meremehkan yang bikin bulu kudukku berdiri. “Perempuan cengeng. Sampai sekarang masih saja meratapi seonggok abu gelandangan yang terbakar di dalam mobil rongsokan itu. Baguslah kalau dia ke makam. Pasang speaker itu lagi di celah ventilasi kamar tamu. Atur timernya untuk menyala jam lima sore pas Bu Siti menyapu halaman depan.”

“Baterainya sisa lima belas persen. Aku bawa pulang saja untuk diisi ulang.”

“Terserah. Cepat keluar dari sana sebelum dia pulang.”

Langkah kaki Nadia berbalik menuju pintu kamar tidur. Bunyi klik-klak hak sepatunya terdengar tegas di atas lantai kayu, menuruni tangga selangkah demi selangkah. Beberapa detik kemudian, derit engsel pintu depan terdengar menutup, disusul bunyi gerendel yang berputar dua kali.

Lalu sunyi.

Hanya ada suara detak jam dinding kuno di lantai bawah dan desau angin siang yang menggesek dahan pohon mangga di samping jendela.

Aku tidak langsung merangkak keluar.

Aku tetap diam menelungkup di bawah dipan kayu jati itu selama hampir dua puluh menit, membiarkan debu menempel di pipi basahku, memastikan tidak ada langkah kaki kedua yang mengendap kembali. Di dalam kegelapan yang sempit itu, bayangan dua tahun terakhir melintas cepat seperti pecahan kaca yang menusuk bertubi-tubi.

Semua mimpi burukku. Tangisanku di sudut kamar mandi saat mencium aroma sabun mandi Derek yang tiba-tiba menguar dari handuk bersih. Rasa takutku saat melihat cangkir kopi kesayangannya berpindah dari rak piring ke atas meja dapur. Dan sesi-sesi panjang di ruang praktek Dr. Aditya yang serba putih, tempat psikiater berwajah teduh itu menatapku dengan mata penuh rasa iba palsu sambil menuliskan resep obat penenang dosis ganda: Chlorpromazine. Obat yang membuat kepalaku berkabut, tubuhku limbung, dan ingatanku bolong-bolong seperti kain dimakan ngengat.

Mereka tidak hanya membunuh Derek secara hukum. Mereka sedang merekayasa kematian jiwaku pelan-pelan agar seluruh hidupku—dan setiap sen warisan kakekku yang dipegang teguh oleh mendiang Papa—pindah ke tangan mereka tanpa menyisakan jejak kejahatan.

Aku merangkak keluar dari kolong tempat tidur.

Lututku gemetar parah sampai-sampai aku harus bertumpu pada pinggiran kasur agar tidak ambruk ke karpet. Pisau dapur di tanganku kuletakkan di atas meja rias, tepat di samping botol parfum yang tadi sempat digeser oleh Nadia.

Aku tidak menangis lagi.

Ada jenis kemarahan tertentu yang begitu pekat sampai-sampai air mata terasa terlalu murah untuk membasahinya. Rasa dingin yang menjalar dari telapak tanganku naik ke ubun-ubun, membersihkan sisa-sisa kabut obat tidur yang selama berbulan-bulan meracuni otakku.

Aku berjalan ke arah jendela, mengintip dari balik tirai tipis. Jalanan komplek perumahan di Cilandak ini sepi di jam dua siang. Di seberang jalan, pagar rumah Bu Siti tertutup rapat. Mobil Honda Jazz merah milik Nadia sudah lenyap dari ujung gang.

Sedan tuaku memang tidak ada di parkiran kantor Kuningan. Sejak jam delapan pagi tadi, mobil itu terparkir aman di garasi rumah sepupu jauh ayahku, Om Faisal—seorang pensiunan jaksa pidana umum yang selama setahun terakhir ini sering mengirim pesan menanyakan keadaanku, tapi selalu kuhindari karena Dr. Aditya melarangku bertemu kerabat yang “bisa memicu trauma masa lalu”.

Aku merogoh saku jaket tebalku, mengeluarkan ponsel cadangan yang kubeli tunai di gerai pinggir jalan dua hari lalu. Kutelepon nomor yang tersimpan di kartu namanya.

“Om Faisal?” bisikku begitu sambungan terbuka. Suaraku tercekat, serak seperti orang yang baru menelan pasir.

“Claire? Kamu di mana? Om dari tadi nungguin di rumah, sedanmu ditinggal tapi kamu malah pergi naik ojek pangkalan—”

“Om,” potongku, kali ini suaraku dingin, nyaris tak bernada. “Derek masih hidup.”

Keheningan di ujung telepon terasa jauh lebih panjang daripada jeda percakapan Derek tadi. Aku bisa mendengar suara kertas-kertas tebal yang disingkap dan decit kursi putar Om Faisal.

“Kamu minum obat penenangmu lagi, Claire?” tanyanya hati-hati, dengan nada dokter yang berusaha menenangkan pasien histeris.

“Aku punya rekaman suaranya di kamarku sepuluh menit yang lalu, Om,” kataku tegas, memotong keraguannya sebelum ia mulai terdengar seperti Dr. Aditya. “Nadia ada di sini. Membawa speaker kecil yang selama ini menyiarkan suara wanita menjerit tiap jam dua siang. Mereka merencanakan sidang penetapan perwalian palsu minggu depan memakai berkas medis palsu dari Aditya. Kalau Om masih menganggap Papa sebagai saudaramu, jemput aku sekarang di jalan belakang komplek. Di samping pos ronda yang lama.”

Tidak ada pertanyaan lagi. “Tiga belas menit. Bawa semua ponsel yang biasa kamu pakai, jangan sentuh apa pun di dalam rumah.”

Pukul 14.35, aku melangkah keluar lewat pintu belakang dapur, menyusuri jalan setapak di antara rumpun bambu yang membatasi komplek kami dengan perkampungan warga. Di saku jaketku, ponsel utamaku yang dipasangi aplikasi pelacak oleh Dr. Aditya kubungkus rapat dengan tiga lapis kertas timah bekas bungkus rokok yang kutemukan di dekat tempat sampah dapur, memutus seluruh sinyal GPS tanpa perlu mematikannya secara manual.

Mobil Kijang Innova hitam milik Om Faisal sudah berhenti di bawah pohon kersen dekat pos ronda. Pintunya terbuka bahkan sebelum aku sempat mendekat.

Begitu aku duduk di kursi penumpang depan, Om Faisal menatap wajahku lekat-lekat. Matanya yang tua dan berkerut menatap debu lantai yang masih menempel di jaket dan ujung celanaku, lalu melihat sorot mataku. Sebagai mantan jaksa yang puluhan tahun memeriksa ratusan terdakwa kasus pembunuhan berdarah dingin, dia tahu tatapan orang gila berbeda dengan tatapan orang yang baru saja lolos dari liang kubur.

“Putar rekamannya,” katanya singkat.

Aku menyodorkan ponsel cadanganku. Di layar kecil itu, rekaman memo suara berdurasi delapan belas menit berputar. Suara derit laci meja rias, suara tawa angkuh Derek, suara Nadia yang menuntut bagian tiga puluh persen, desis tentang sanatorium swasta, hingga ketukan cincin kawin di atas cangkir keramik.

Rahang Om Faisal mengeras. Urat-urat di lehernya menegang, memerah perlahan dari balik kerah kemeja batiknya yang kusam.

“Si bajingan itu…” geramnya tertahan, tangannya memukul setir mobil sekali, keras dan mantap. “Dua tahun lalu aku curiga waktu hasil otopsi Subang dikeluarkan cuma dalam waktu empat jam dengan alasan jasad terbakar seratus persen. Tapi waktu itu kamu histeris dan menolak otopsi ulang, dan keluarga Nadia yang mendesak pemakaman segera ditutup tanah.”

“Aku dibius, Om,” kataku datar, menatap lurus ke arah kaca depan yang berdebu. “Setiap kali aku mulai bertanya soal hasil tes DNA gigi, Aditya menaikkan dosis obat tidurku. Mereka membuatku percaya bahwa mempertanyakan kematian Derek adalah bentuk penolakan mental yang berbahaya.”

Om Faisal menyalakan mesin mobilnya. Gigi dimasukkan dengan kasar. “Kita tidak ke kantor polisi biasa. Kepala unit Resmob Polda Metro Jaya itu mantan anak didik Om waktu di kejaksaan agung. Kita ke sana sekarang.”

“Tunggu, Om.” Aku menoleh padanya. “Kalau polisi bergerak sekarang, Derek akan langsung kabur. Dia belum ada di Jakarta. Dari percakapan tadi, dia mengendalikan semuanya dari luar pulau atau luar negeri. Yang di sini cuma Nadia dan Aditya.”

Om Faisal melirikku dari balik kacamata bacanya. “Lalu maumu apa?”

“Mereka mau map biru itu, kan?” Aku tersenyum tipis, senyuman pertama yang kurasakan di wajahku setelah berbulan-bulan hidup seperti mayat berjalan. “Biarkan mereka mengambilnya. Biarkan mereka datang ke tempat yang sudah kita siapkan.”

Rencana itu berjalan tanpa cela selama empat hari berikutnya.

Dr. Aditya menerima pesan darurat dariku lewat WhatsApp pada hari Kamis pagi: Dokter, tolong saya. Suara Derek terdengar lagi semalam dari arah loteng. Saya tidak tahan lagi. Saya mau menyerahkan semua surat-surat rumah dan asuransi ke Nadia saja, biar dia yang urus semuanya. Saya mau istirahat di klinik yang Dokter rekomendasikan kemarin.

Balasannya masuk hanya dalam hitungan detik: Keputusan yang sangat bijak, Claire. Penerimaan adalah langkah awal penyembuhan. Bawa semua map dokumen aslinya ke klinik saya sore ini jam lima. Saya dan Nadia akan menunggu di sana untuk menyelesaikan administrasinya secara privat agar kamu tidak perlu repot di pengadilan.

Pukul 16.45.

Klinik Psikiatri Medika Sejahtera di kawasan Tebet itu tampak seperti rumah mewah bergaya kolonial yang dipugar menjadi fasilitas medis eksklusif. Pagar besinya tinggi, tertutup tanaman rambat tebal, dengan dua satpam bertubuh tegap yang berjaga di gerbang depan. Tempat yang sangat sempurna untuk menenggelamkan seseorang tanpa ada orang luar yang bisa mendengar jeritannya.

Aku turun dari taksi biasa di depan pintu gerbang, memeluk erat map kulit berwarna biru tua di depan dadaku. Di bawah mantel musim hujan yang longgar, sebuah mikrofon nirkabel kecil berperekat menempel rapat di tulang selangkaku, terhubung langsung ke mobil van penyidik Ditreskrimum Polda Metro yang terparkir dua ratus meter di balik deretan ruko fotokopi.

Resepsionis berpakaian serba putih mengantarkanku langsung ke ruang konsultasi utama di lantai dua.

Ruangan itu luas, kedap suara dengan karpet wol tebal berwarna krem dan sofa kulit yang empuk. Di balik meja kerja kayu jati yang mengilap, Dr. Aditya duduk mengenakan jas dokter tanpa kancing, tersenyum lebar menyambutku dengan tatapan kebapakan yang memualkan.

Di sofa sudut ruangan, Nadia duduk dengan tas tangan mahalnya di pangkuan, mengenakan kacamata hitam yang langsung ia lepas begitu aku melangkah masuk.

“Claire, Sayang,” Nadia berdiri, menghampiriku dengan tangan terentang seolah ingin memeluk. “Lihat dirimu… kurus sekali. Syukurlah kamu akhirnya mau mendengarkan saran Dokter Aditya.”

Aku melangkah mundur setengah jengkal, pura-pura gemetar karena panik. “Mana berkas persetujuannya? Aku mau tanda tangan sekarang, Dok. Kepalaku sakit sekali. Tolong kasih aku obat tidur yang biasa, suaranya… suara Derek terus berputar di telingaku.”

Dr. Aditya bertukar pandang kilat dengan Nadia. Senyum penuh kemenangan tersungging tipis di sudut bibirnya saat ia menarik sebuah map merah muda dari laci mejanya.

“Tentu saja, Claire. Ini surat permohonan rawat inap tertutup di fasilitas rehabilitasi kami di Lembang, sekaligus penyerahan hak kuasa penuh atas seluruh perwalian harta dan klaim asuransi jiwa Derek kepada Nadia sebagai wali sah keluarga,” Aditya menyodorkan pena emas ke tanganku. “Tanda tangan di lembar ketiga dan kelima. Setelah itu, perawat kami akan memberimu suntikan penenang ringan agar kamu bisa tidur nyenyak sepanjang perjalanan ke Lembang.”

Aku menatap dokumen di atas meja. Di sana tertulis jelas: Diagnosis Skizofrenia Paranoid Berat dengan Kecenderungan Melukai Diri Sendiri.

“Map birunya ada di sini,” kataku sambil meletakkan map kulit itu di atas meja kaca, namun tetap menahan ujungnya dengan jariku. “Tapi sebelum aku tanda tangan… ada satu hal yang ingin kutanyakan pada Nadia.”

Nadia mengerutkan keningnya, sedikit tidak sabar. “Apa lagi, Claire? Cepat tanda tangan, ambulans jemputanmu sudah ada di halaman belakang.”

“Cincin kawin Derek,” bisikku pelan, menatap lurus ke manik matanya. “Waktu polisi memberikan kantong barang bukti dua tahun lalu, cincinnya ada di dalam kantong itu. Tapi kenapa… kenapa semalam aku mendengar bunyi cincin itu diketukkan ke cangkir tiga kali dari telepon genggammu?”

Udara di ruangan itu mendadak membeku.

Senyum palsu di bibir Dr. Aditya lenyap seketika. Tangannya yang memegang map merah muda tertahan di udara.

Nadia menelan ludah, matanya melirik gelisah ke arah pintu keluar. “Kamu… kamu mulai halusinasi lagi, Claire. Kan Dokter Aditya sudah bilang—”

“Aku tidak halusinasi, Nadia,” potongku. Suaraku tidak bergetar lagi. Nada rapuh yang kupasang sejak turun dari taksi tadi menguap tanpa sisa, digantikan oleh kepastian yang dingin dan menusuk. “Dan pria di ujung telepon itu bukan hantu. Dia suamiku yang memalsukan kematiannya sendiri di tol Cipularang demi lari dari kejaran utang rentenir proyek dan klaim asuransi jiwa palsu sebesar empat belas miliar.”

Dr. Aditya langsung berdiri dari kursinya. Wajahnya yang tenang berubah menjadi topeng kemarahan yang buas. “Tutup pintunya, Nadia! Panggil dua perawat di luar, bawa suntikan penenangnya sekarang!”

Nadia bergegas menuju pintu, tapi sebelum tangannya menyentuh gagang kayu jati itu, pintu ganda tersebut mendadak didorong dari luar dengan hantaman keras.

BRAAAK!

“POLISI! JANGAN BERGERAK!”

Tiga petugas bersenjata lengkap dengan rompi antipeluru merangsek masuk ke dalam ruangan, moncong senapan otomatis terarah lurus ke dada Dr. Aditya. Di belakang mereka, Om Faisal melangkah masuk dengan tenang bersama Kasubdit Resmob Polda Metro Jaya, memegang surat perintah penggeledahan dan penangkapan resmi bertanda tangan basah.

Nadia menjerit histeris, melangkah mundur hingga menabrak lemari buku, tas tangannya terlempar ke karpet dan memuntahkan isinya—termasuk speaker Bluetooth hitam kecil yang beberapa hari lalu kulihat di kolong tempat tidurku.

“Apa-apaan ini?!” bentak Dr. Aditya, wajahnya pucat pasi seperti mayat, tangannya gemetar mengangkat ke atas kepala. “Saya dokter berizin resmi! Pasien ini mengalami gangguan jiwa berat, dia berada di bawah pengawasan medis saya!”

“Izin praktikmu resmi dibekukan sejak dua jam lalu oleh Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia, Aditya,” suara Om Faisal membelah kepanikan itu dengan nada dingin seorang mantan jaksa senior. “Dan rekening penampungmu di Bank Mandiri cabang Rawamangun yang kemarin menerima transferan seratus juta dari rekening atas nama David Tanuwijaya baru saja disita penyidik tindak pidana pencucian uang.”

Mendengar nama itu, mata Nadia membelalak liar.

“David Tanuwijaya?” bisik Nadia putus asa.

“Nama paspor baru Derek di Bali,” ujarku sambil menatap sepupuku itu tanpa setitik pun rasa kasihan yang tersisa. “Dia ditangkap satu jam yang lalu di sebuah vila sewaan di kawasan Canggu saat sedang bersiap memesan tiket penerbangan malam ke Manila. Dia mengira kalian berdua sudah berhasil memaksaku menandatangani surat perwalian ini.”

Ponsel Nadia yang tergeletak di karpet mendadak berdering nyaring.

Layar ponselnya menampilkan nama panggilan: DEREK BALI.

Salah seorang penyidik kepolisian mengambil ponsel itu memakai sarung tangan karet, menekan tombol pengeras suara, lalu meletakkannya di atas meja kaca di hadapan kami semua.

Suara panik Derek meledak dari speaker telepon, terengah-engah dan kacau balau: “Nadia! Angkat teleponnya, sialan! Ada polisi di lobi vila! Rekening Singapura dibekukan otoritas moneter! Berkasnya bocor! Bawa kabur map birunya sekarang juga, kita harus—”

“Derek,” suaraku memotong teriakannya. Tenang, jernih, bergema di seluruh ruangan berkarpet tebal itu.

Keheningan di ujung telepon terasa begitu pekat hingga suara deru angin AC vila di Bali terdengar jelas.

“Claire…?” bisik suara di seberang sana, nadanya tercekat seperti orang yang baru saja melihat peti mati terbuka sendiri di depan matanya. “K-kamu…”

“Dua puluh enam bulan, Derek,” kataku pelan, menatap lurus ke arah speaker ponsel itu. “Dua puluh enam bulan aku menangisi makam kosong yang cuma berisi abu bangkai orang tak bersalah yang kamu bakar demi ambisi kotormu. Kamu merampas kewarasanku, kamu membayar dokter busuk ini untuk meracuni otakku, dan kamu memanfaatkan sepupuku sendiri untuk mengubah rumah peninggalan orang tuaku jadi neraka.”

“Claire… tolong dengarkan aku dulu, Sayang…” Suara Derek mendadak runtuh menjadi ratapan mengiba, persis seperti nada rengekannya setiap kali ia ketahuan kalah judi bola di tahun-tahun awal pernikahan kami. “Ini semua ide Nadia! Dia yang menyuruhku pura-pura mati supaya kita bisa bayar utang kontraktor! Aku melakukan ini demi masa depan kita, Claire! Demi kita!”

Di sudut ruangan, Nadia mendongak dengan mata menyala murka. “Bajingan kamu, Derek! Kamu yang merencanakan semuanya sejak awal! Kamu yang bawa cairan pemutih dan membakar mayat itu di tol!”

“Bicarakan itu nanti di ruang interogasi Bareskrim,” potong perwira polisi di samping Om Faisal dengan nada dingin, memberi isyarat kepada anak buahnya untuk memborgol kedua tangan Dr. Aditya dan Nadia.

Bunyi klik logam borgol yang mengunci pergelangan tangan Nadia terasa begitu melegakan di telingaku. Ratu sandiwara keluarga itu kini tersedu-sedu di lantai, memegangi ujung celana jins polisi sambil memohon ampun, sementara Dr. Aditya hanya bisa mematung menatap dinding, menyadari bahwa karier, reputasi, dan sisa masa hidupnya akan membusuk di balik jeruji besi Lapas Cipinang.

Di ujung sambungan telepon, suara gebrakan pintu dan teriakan polisi dari tim gabungan Polda Bali terdengar jelas, disusul bunyi ponsel yang terhempas ke lantai dan suara erangan Derek yang ditindih petugas ke atas marmer.

Sambungan terputus.

Hening kembali menguasai ruangan.

Om Faisal melangkah mendekatiku, lalu menepuk pundakku perlahan dengan tangannya yang besar dan hangat. “Sudah selesai, Claire. Semuanya sudah selesai.”

Aku menarik napas panjang. Udara di ruangan itu masih berbau aromaterapi lavender yang selama ini dipakai Dr. Aditya untuk menidurkan kesadaranku. Tapi sore ini, untuk pertama kalinya setelah dua tahun hidup dalam bayang-bayang ketakutan, udara yang masuk ke paru-paruku terasa begitu murni, segar, dan sepenuhnya milikku.

Tiga bulan kemudian.

Pagi hari di kawasan Cilandak terasa sejuk setelah diguyur hujan deras semalaman. Bau tanah basah dan aroma melati dari kebun samping menguar lembut terbawa angin fajar yang masuk melewati pintu depan rumahku yang sengaja kubuka lebar-lebar.

Semua kunci rumah sudah diganti. Kusen-kusen lama yang berderit sudah diperbaiki oleh tukang kayu langganan Om Faisal, dan seluruh interior kamar tidur lantai dua sudah kurobak total.

Tidak ada lagi dipan kayu jati tua tempatku bersembunyi ketakutan. Ranjang baru bergaya minimalis dari kayu sungkai terang kini berdiri di sana, beralaskan seprai putih bersih beraroma sabun cuci jeruk nipis segar. Dinding kamarku yang tadinya dicat abu-abu suram kini berganti warna menjadi sage muda yang cerah, dipenuhi cahaya matahari pagi yang menerobos tanpa halangan melalui jendela kaca yang bersih berkilap.

Di atas meja dapur, sebuah teko kopi porselen putih mengepulkan uap hangat.

Bukan cangkir keramik hitam milik Derek yang dulu selalu berderak menusuk telingaku, melainkan sepasang cangkir tanah liat buatan tangan perajin lokal di Kasongan yang kubeli saat jalan-jalan ke Yogyakarta bersama beberapa kawan lamaku minggu lalu.

“Neng Claire!” suara cempreng Bu Siti memanggil dari arah pagar depan.

Aku melangkah keluar ke teras sambil membawa sepiring pisang goreng renyah yang baru kuangkat dari penggorengan.

Bu Siti berdiri di sana, mengenakan daster batik bunganya yang cerah, memegang sapu lidi di satu tangan dan seikat kangkung segar di tangan lainnya. Di wajahnya yang keriput, senyum lebar yang tulus merekah tanpa ada lagi ketakutan atau kecurigaan seperti sore-sore kelam beberapa bulan silam.

“Ini lho, Neng, kangkung hasil panen kebun belakang rumah saya tadi subuh. Gemuk-gemuk banget, enak buat ditumis pake terasi nanti siang,” katanya sambil menyerahkan sayuran segar itu melewati pagar rendah.

“Terima kasih banyak, Bu Siti,” jawabku sambil tersenyum hangat, menyodorkan piring pisang gorengku ke arahnya. “Kebetulan sekali, kopinya baru saya seduh. Ayo masuk dulu, kita sarapan di teras.”

Bu Siti tertawa senang, meletakkan sapu lidinya di sudut pagar lalu melangkah masuk ke halaman rumahku yang kini bersih dari ilalang liar.

“Senang banget saya lihat Neng Claire sekarang,” gumam Bu Siti pelan sambil duduk di kursi rotan teras dan mengunyah sepotong pisang goreng hangat. “Wajahnya segar, nggak pucat kayak dulu waktu masih sering berobat ke dokter yang di Tebet itu. Rumah ini juga hawanya jadi adem banget, kayak ada beban berat yang akhirnya diangkat dari atas genteng.”

Aku menyesap kopi tubruk hitamku perlahan. Pahitnya mantap, manis gulanya pas di lidah.

Dari pengadilan negeri kemarin lusa, Om Faisal mengabarkan bahwa berkas dakwaan untuk Derek dan komplotannya sudah resmi dilimpahkan ke meja hijau. Tuduhan berlapis: pemalsuan identitas kematian, penipuan klaim asuransi jiwa lintas negara, rekayasa rekam medis pidana, hingga percobaan pembunuhan terencana terhadapku. Derek terancam hukuman penjara seumur hidup, sementara Nadia dan Dr. Aditya masing-masing menghadapi tuntutan minimal dua belas tahun kurungan tanpa remisi.

Seluruh rekening tabungan keluarga dan sertifikat tanah rumah ini sudah kembali aman atas namaku sendiri, bersih dari segala sengketa perwalian palsu yang sempat mereka rancang.

Aku menatap langit pagi Jakarta Selatan yang mulai membiru terang, bebas dari awan mendung. Di dahan pohon mangga di sudut halaman, dua ekor burung pipit berkicau riang menyambut hangatnya sinar matahari yang mulai menghangatkan kulit lenganku.

Dua tahun aku hidup sebagai tawanan di dalam rumahku sendiri, diperdaya oleh rasa berduka yang dimanipulasi oleh orang-orang yang paling kupercaya. Tapi pagi ini, saat kuhirup udara segar yang memenuhi rongga dadaku, aku tahu pasti satu hal:

Hantu-hantu masa lalu itu sudah musnah terbakar oleh cahaya kebenaran. Rumah ini bukan lagi tempat persembunyian seorang janda yang rapuh dan ketakutan di bawah kolong tempat tidur. Rumah ini, sekali lagi, adalah istanaku yang kokoh—tempat di mana aku akhirnya bisa berdiri tegak, bernapas bebas, dan menyambut hidupku yang baru dengan kepala terangkat tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *