…Jangan keluar dari gedung ini bersama putramu, atau Ibu tidak akan pernah melihat Bandung lagi. Masuk ke toilet wanita di sayap timur sekarang. Ada pintu darurat yang mengarah ke lorong arsip. Cepat.
Layar ponselku meredup di telapak tangan yang mendadak terasa basah oleh keringat dingin. Aku tidak mematikan layarnya, hanya membiarkannya terkunci sendiri sembari menjejalkannya kembali ke dasar tas rajut kulit yang biasa kubawa ke pasar. Jantungku bergedup tidak beraturan, bukan ritme cepat yang panik seperti anak muda sehabis lari keliling lapangan Gasibu, melainkan dentuman tumpul yang menekan ulu hati sampai lidahku terasa pahit.
Julian berdiri tepat di samping kananku. Bahunya agak condong ke depan, pose yang persis sama seperti saat dia masih berumur sembilan tahun dan ketahuan memecahkan pot porselen peninggalan mertuaku dengan bola tenis. Dia selalu mengira aku buta terhadap gerak-geriknya. Dia mengira karena rambutku sudah sepenuhnya keperakan dan aku butuh tiga detik lebih lama untuk bangkit dari sofa empuk ruang tamu, maka mataku tidak bisa membaca getaran urat di lehernya. Tapi ketakutan di wajah Julian saat melihat wanita berpapan klip itu melangkah melewati pintu kaca otomatis bukanlah rasa bersalah seorang anak kepada ibunya. Itu adalah ketakutan seorang pion yang baru menyadari bahwa permainan catur tempat ia menjadi umpan ternyata sudah berjalan jauh melampaui kendalinya.

“Ibu? Ayo,” Sarah memotong keheningan di antara kami. Suaranya ditekan sedemikian rupa agar terdengar lembut, jenis kelembutan palsu yang biasa dipakai perawat bangsal jiwa di film-film bioskop tua sebelum menyuntikkan obat penenang. Jemarinya mencengkeram mantelku, tepat di lipatan siku. Kuku-kukunya yang dicat merah marun menekan kain wol cukup keras sampai menusuk kulit. “Petugasnya mungkin salah ketik NIK. Kita urus ini di luar saja, ya? Julian sudah panggil mobil lain, lebih nyaman.”
Aku tidak menepis tangannya secara kasar. Kalau aku berteriak atau memberontak seperti orang gila, aku hanya akan memberi mereka bukti visual yang sempurna untuk memperkuat cap “lansia linglung dan histeris” di hadapan puluhan mata yang mulai menoleh penasaran. Dua pria berseragam abu-abu dari van putih itu sudah menjejakkan sepatu lars mereka di atas ubin pualam lobi. Bunyi sol karet mereka berdecit berat di lantai yang baru dipel. Wanita berpapan klip itu berhenti sejenak di dekat mesin antrean, matanya menyapu ruangan dengan ketenangan mekanis seorang juru sita, mencari target yang sudah dijanjikan.
Aku berpaling kembali ke arah petugas loket muda di balik sekat kaca. Namanya di papan dada bertuliskan Rian. Matanya masih melebar, sarat dengan pemahaman mengerikan yang tidak berani ia ucapkan secara terbuka di ruang publik yang sarat kamera pengawas. Ada berkas tebal tertera di layarnya yang tak sempat kusimak tuntas, tapi cukup untuk membuat pemuda itu menelan ludah berulang kali seolah kerongkongannya tersumbat kerikil.
“Nak,” kataku, suaraku sengaja kubuat agak bergetar dan sedikit serak, meminjam kerapuhan fisik yang biasanya selalu kuingkari mati-matian di hadapan tetangga. “Tolong tahan berkas saya sebentar. Kopi pagi tadi bikin lambung saya perih sekali. Julian, lepaskan mantel Ibu. Ibu harus ke belakang sebentar.”
“Bu, di luar ada toilet yang lebih bersih,” potong Sarah cepat. Tekanan jarinya di lenganku mengencang, kini bukan sekadar menyentuh, melainkan menahan. “Kita jalan beberapa meter ke kafe seberang saja. Biar Julian yang minta izin petugasnya.”
“Sarah,” ujarku, kali ini menatap tepat ke manik matanya yang berkedip terlalu sering. Ada sisa bedak yang menggumpal di sudut hidungnya; dia merias wajahnya terburu-buru pagi ini di Ciumbuleuit sebelum menjemputku. “Ibu sudah tujuh puluh dua tahun. Kalau Ibu bilang harus buang air sekarang, itu artinya sekarang. Atau kamu mau menanggung malu melihat mertuamu mengotori lantai kantor kecamatan di depan semua orang ini?”
Kata-kataku yang sengaja tidak ditutup-tutupi itu membuat dua orang ibu-ibu yang mengantre di barisan kursi tunggu menoleh dengan tatapan menghakimi ke arah Sarah. Di kultur kota ini, memperlakukan seorang wanita tua dengan kasar di tempat umum adalah aib instan. Cengkeraman Sarah mengendur sepersekian detik karena rasa rikuh.
Detik itu sudah lebih dari cukup.
Aku memutar tubuhku, setengah menyeret tasku, dan melangkah selekas mungkin yang bisa diizinkan oleh persendian lutut kananku. Aku tidak berlari. Berlari akan memicu alarm di kepala wanita berpapan klip itu. Aku hanya melangkah dengan ritme cepat seorang nenek yang sedang kebelet, kepalaku tertunduk, mengabaikan seruan tertahan Julian di belakangku yang memanggil, “Bu! Tunggu, biar Julian temani sampai depan pintunya!”
“Jangan ganggu ibumu, Yan!” bentak seorang bapak paruh baya bertopi pet yang duduk di deretan kursi tunggu terdepan, rupanya merasa perlu membela sesama generasi tua. “Biarkan orang tua jalan sendiri, kamu ini kenapa grasak-grusuk sekali!”
Keributan kecil itu memberi waktu tiga detik tambahan. Aku belok ke koridor samping yang berbau karbol murah dan aroma kertas lembap. Tanda toilet wanita terlihat menggantung miring di ujung lorong, tepat di sebelah pintu kayu bercat hijau kusam dengan tulisan pudar: Ruang Arsip & Inventaris – Selain Petugas Dilarang Masuk.
Pintu toilet wanita terbuka, tapi aku tidak masuk ke sana. Pesan singkat itu sangat spesifik: lorong arsip. Gagang pintu kayu hijau itu berguncang ketika kutarik ke bawah. Tidak terkunci. Begitu aku menyelinap masuk dan merapatkan kembali daun pintunya sampai berbunyi klik, suara bising lobi administrasi kependudukan mendadak teredam seperti disumpal kapas tebal.
Ruangan itu pengap, dipenuhi tumpukan kardus arsip cokelat dari era sembilan puluhan yang berdebu tebal. Sinar matahari pagi hanya masuk lewat ventilasi udara sempit dekat langit-langit, menyorot butiran debu yang melayang lambat di udara. Di antara dua rak besi bertingkat yang melengkung karena menahan beban tumpukan berkas kematian dan akta tanah lapuk, berdiri seorang wanita berperawakan kurus dengan kemeja flanel longgar dan rambut dipotong pendek tak beraturan.
Dia sedang memegang sepasang sepatu kanvas flat tanpa hak dan sebuah jaket parasut hitam kusam.
“Bu Eleanor,” bisiknya tanpa basa-basi, suaranya parau seperti orang yang terlalu banyak merokok kretek. “Tukar sepatumu sekarang. Sepatu kulit berhak rendahmu itu bunyinya terlalu nyaring kalau menginjak pelat bordes di pintu belakang.”
Aku tidak langsung menurut. Puluhan tahun hidup mandiri setelah suamiku, Arthur, meninggal dunia karena serangan jantung mendadak di kebun belakang telah menempaku menjadi orang yang tidak gampang menyerahkan kendali kepada orang asing. Tasku kupeluk erat di dada. “Siapa kamu? Dan dari mana kamu tahu nama resmiku? Petugas tadi bahkan belum sempat menyebutkannya dengan lantang.”
Wanita itu menghela napas pendek, lalu merogoh saku kemejanya dan memperlihatkan lencana perunggu kusam dengan lambang pengadilan negeri serta kartu identitas berlaminasi yang sudutnya sudah mengelupas. Maya Sastroamidjojo. Panitera Pengganti, non-aktif.
“Tiga belas bulan yang lalu, berkas penetapan pengampuan atas nama Eleanor Vance disahkan di ruang sidang tiga tanpa kehadiran Ibu sama sekali,” kata Maya, bicaranya cepat namun sangat terartikulasi, khas orang yang terbiasa mencatat risalah persidangan maraton. “Surat keterangan medis menyatakan Ibu menderita demensia vaskular berat dan ketidakmampuan merawat diri, diteken oleh seorang psikiater swasta di Dago yang kliniknya sudah tutup permanen dua minggu setelah tanda tangan itu keluar. Dan pemohonnya bukan Julian sendirian. Julian cuma pemohon perantara. Wali sah yang memegang kendali finansial dan fisik Ibu sejak putusan itu inkrah adalah sebuah badan perwalian bernama Aethelgard Custody Services.”
Nama itu terdengar asing, dingin, dan sama sekali tidak berakar di tanah ini. “Aku belum pernah mendengar nama itu seumur hidupku.”
“Tentu saja belum. Karena mereka tidak berurusan dengan orang biasa. Mereka mengincar aset para lansia yang memiliki properti bernilai tinggi di zona hijau Bandung Utara dan rekening pasif peninggalan keluarga lama,” bisik Maya seraya berlutut tanpa ragu di lantai yang kotor, menarik lepas sepatu kulitku lalu memakaikan sepatu kanvas yang ternyata pas di kakiku—ukuran tiga puluh delapan. “Julian terlilit utang spekulasi tanah di Majalengka hampir empat miliar rupiah. Dua tahun lalu orang-orang Aethelgard mendekatinya, menawarkan jalan keluar: serahkan hak perwalian ibunya beserta rumah di Cipaganti, maka utangnya diputihkan plus dia dapat komisi bulanan sebagai ‘pengawas keluarga’. Tapi Julian bodoh. Dia pikir dia cuma menandatangani surat penitipan panti jompo biasa. Dia baru sadar pagi ini kalau Aethelgard tidak berniat menaruh Ibu di panti jompo lokal.”
“Lalu wanita berpapan klip di depan itu?”
“Itu tim penjemputan dari fasilitas tertutup mereka di kaki Gunung Salak. Kalau Ibu melangkah masuk ke van itu, dalam waktu empat puluh delapan jam Ibu akan resmi dinyatakan ‘menolak interaksi luar karena kondisi mental yang memburuk’. Semua aset Ibu, rumah, sertifikat deposito peninggalan Pak Arthur, dialihkan secara legal untuk biaya perawatan seumur hidup. Julian baru sadar tadi malam waktu pengacara Aethelgard memberitahunya bahwa hak kunjungannya sebagai anak dibatasi menjadi setahun sekali melalui panggilan video. Makanya dia panik dan pura-pura membawamu ke kantor kecamatan ini, berharap sistem kependudukan memblokir prosesnya karena NIK ganda. Anakmu itu penakut, Bu Eleanor. Dia pengkhianat yang tidak punya nyali untuk menyelesaikan pengkhianatannya sendiri.”
Ulu hatiku serasa ditikam belati berkarat. Julian. Bayi laki-laki yang dulu kupapah belajar berjalan di atas rumput halaman belakang, anak yang menangis berhari-hari saat ayahnya dimakamkan di Pandu, anak yang setiap lebaran selalu meminta kubuatkan lidah kucing dan semprit keju toples kaca besar… ternyata telah menjual dinding-dinding rumah tempat ia dibesarkan demi melunasi kebodohannya sendiri. Dan Sarah. Pantas saja wanita itu begitu rajin membersihkan lemari berkas Arthur di ruang kerja, pura-pura bersin karena alergi debu, padahal sedang mencari salinan asli eigendom verponding dan sertifikat hak milik tanah warisan.
“Lalu kenapa kamu membantuku?” tanyaku, menatap lurus ke dalam pupil mata Maya yang keruh. “Orang tidak mempertaruhkan pekerjaannya di pengadilan hanya karena rasa kasihan pada wanita tua acak di kantor kecamatan.”
Maya berhenti mengikat tali sepatuku. Dia mendongak, ada guratan kepahitan yang sangat dalam di sudut bibirnya. “Karena ibu saya tidak seberuntung Ibu. Tiga tahun lalu, ibu saya dimasukkan ke fasilitas yang sama oleh paman saya lewat putusan sepihak dari komplotan yang sama. Enam bulan kemudian beliau dikabarkan meninggal karena gagal jantung, dan rumah keluarga kami di Jalan Riau sudah berubah jadi deretan kafe kekinian sebelum makam ibu saya genap berusia seratus hari. Saya butuh saksi hidup yang masih memiliki kesadaran hukum penuh dan belum sempat diberi obat penenang untuk membongkar sindikat penetapan perwalian palsu ini di tingkat pengawasan Mahkamah Agung. Saya butuh Ibu tetap hidup dan tetap waras di luar sistem mereka.”
Terdengar debuman keras di luar pintu lorong arsip. Suara sepatu bot berat dan dengung percakapan yang meninggi. Julian sedang berteriak, suaranya melengking putus asa: “Tunggu dulu, Pak! Jangan masuk ke sana! Itu area privat petugas, ibu saya cuma di toilet!” Lalu suara dingin wanita berpapan klip itu menimpali dengan otoritas mutlak: “Berdasarkan penetapan pengadilan nomor 412, kami memiliki hak penjemputan paksa jika subjek menunjukkan tanda-tanda disorientasi atau melarikan diri dari pengawasan wali. Buka pintunya.”
“Pintu darurat. Sekarang,” desik Maya, menarik lenganku tanpa menunggu persetujuanku lagi.
Pintu belakang kantor kecamatan itu mengarah ke sebuah gang sempit tempat pembuangan sampah sementara. Bau busuk sayuran membusuk dan genangan air hujan sisa semalam menyambut kami begitu daun pintu besi berkarat itu didorong terbuka. Maya tidak membuang waktu. Dia menuntunku setengah berlari menyusuri gang yang lebarnya tak sampai satu setengah meter, diapit oleh dinding-dinding batako rumah warga yang dipenuhi lumut dan coretan cat semprot. Sepatu kanvas pinjamannya membuat langkahku tidak berisik, meski lututku mulai berdenyut ngilu memprotes beban yang tak biasa ini.
Di ujung gang, sebuah sepeda motor bebek tua keluaran awal tahun dua ribuan terparkir di dekat warung kopi yang tutup. Maya melemparkan helm cetok kusam ke arahku.
“Naik, Bu. Pegangan pada jaket saya, jangan pada behel belakang motor. Kita harus keluar dari radius kecamatan ini sebelum mereka melacak sinyal telepon Ibu.”
Aku tersentak, teringat benda pipih di tasku. “Ponselku—”
“Matikan sekarang juga atau buang baterainya kalau bisa dilepas,” potong Maya sembari menyalakan mesin motor dengan sekali engkol yang meraung kasar. “Aethelgard punya akses ke data menara seluler lewat oknum provider. Begitu mereka tahu Ibu menghilang dari radar kantor catatan sipil, hal pertama yang mereka pantau adalah pergerakan nomor Ibu.”
Aku merogoh tas, mengeluarkan ponsel pintar murah yang dibelikan Julian dua tahun lalu—ponsel yang selalu ia ingatkan untuk “selalu diaktifkan GPS-nya biar Julian gampang jemput kalau Ibu nyasar.” Betapa naifnya aku selama ini. Menelan mentah-mentah racun yang dibungkus perhatian berbakti. Kutekan tombol dayanya lama-lama, memilih opsi matikan daya, lalu tanpa ragu kulemparkan benda persegi itu ke dalam tong sampah plastik besar berisi tumpukan kulit kelapa di depan warung. Suara jatuhnya teredam sampah basah. Rasanya seperti memutus seutas tali kendali yang selama ini tak kasat mata menjerat leherku.
Begitu aku duduk membonceng dan mencengkeram kain tebal jaket Maya, motor itu melesat membelah jalanan belakang Bandung yang bergelombang. Angin pagi yang biasanya terasa sejuk menyejukkan saat kuhirup dari beranda rumah di Cipaganti kini menampar wajahku dengan rasa dingin yang asing dan mengancam. Kota tempat aku dilahirkan, tempat aku jatuh cinta pada Arthur, tempat aku menghabiskan separuh abad hidupku menanam mawar dan menyeduh teh melati, mendadak terasa seperti hutan beton yang dipenuhi jebakan pemburu.
Maya tidak membawaku ke kantor polisi. Dia juga tidak membawaku ke kantor pengacara di pusat kota. Motor tua itu meliuk-liuk menghindari jalan-jalan protokol, menyusuri gang-gang tikus di daerah Sukajadi, tembus ke arah pemukiman padat di Pasirkaliki, hingga akhirnya berhenti di sebuah bengkel bubut kecil yang bising oleh suara desing gerinda dan percikan api las.
Seorang pria tua bertubuh gempal dengan celemek kulit hitam pekat dan kacamata tebal pelindung las mendongak saat motor kami dimatikan di pelataran bengkel. Namanya Koh Wawan. Dari cara dia menatap Maya, jelas ini bukan pertama kalinya tempat itu dijadikan tempat persinggahan rahasia.
“Bawa ke ruang belakang,” kata Koh Wawan singkat tanpa menyapa, bahkan tanpa mematikan mesin bor duduk yang sedang mengikis batangan baja. “Orang-orang berbaju abu-abu itu tadi sempat muter di jalan depan satu jam lalu. Mereka menyisir dari arah pasteur.”
Ruang belakang bengkel itu sempit, berbau oli mesin dan kopi hitam tubruk yang diseduh di panci kecil. Maya menutup pintu tripleks rapat-rapat, lalu menyalakan lampu neon tunggal yang berkedip-kedip tak stabil sebelum akhirnya menyala benderang menyorot sebuah meja bundar kecil dengan dua kursi plastik.
Aku duduk, napasku masih memburu. Telapak tanganku gemetar hebat—bukan karena lelah fisik, tapi karena kemarahan yang begitu pekat sampai-sampai rasanya dadaku tidak cukup luas untuk menampungnya. “Apa langkah selanjutnya? Aku tidak bisa terus bersembunyi di balik tumpukan besi tua seperti buronan kriminal. Aku pemilik sah rumah itu. Aku membayar pajak bumi dan bangunanku setiap tahun dengan uang pensiun mendiang suamiku. Aku bukan orang gila!”
“Di atas kertas hukum negara saat ini, Ibu adalah orang yang tidak cakap bertindak,” sahut Maya dingin seraya meletakkan sebuah map kertas manila cokelat di atas meja. “Dan hakim yang mengetok palu penetapan itu tidak peduli seberapa lancar Ibu menyetir mobil ke gereja atau seberapa rajin Ibu membayar PBB. Selama ada surat keterangan dokter berstempel resmi dan tidak ada sanggahan dari pihak keluarga inti—yang mana Julian adalah satu-satunya anak kandus Ibu—penetapan itu sah dan berkekuatan hukum tetap.”
“Pasti ada cara untuk membatalkannya.”
“Ada. Tapi proses pembatalan penetapan perwalian butuh waktu minimal enam sampai delapan bulan di Pengadilan Tinggi, itu pun kalau Ibu bisa menghindar dari penangkapan tim medis Aethelgard. Sekali Ibu disuntik dengan antipsikotik dosis pemeliharaan di fasilitas mereka, dalam waktu tiga bulan fungsi kognitif Ibu yang sebenarnya sehat akan benar-benar rusak secara klinis. Saat sidang pemeriksaan fisik dilakukan oleh majelis hakim nanti, Ibu memang sudah menjadi seperti apa yang tertulis di surat keterangan palsu itu: linglung, pasif, dan tidak mampu mengurus diri sendiri. Begitulah cara mereka memenangkan semua perkara.”
Kata-kata Maya menelanjangi kenyataan yang begitu mengerikan dan sistematis. Ini bukan sekadar perselisihan warisan keluarga yang biasa kulihat di sinetron televisi tetangga. Ini adalah mesin industri pemangsa lansia yang bergerak di bawah perlindungan celah hukum, memanfaatkan birokrasi yang malas dan anak-anak kandung yang tamak sekaligus pengecut.
“Lalu kenapa anakku ketakutan di kantor kecamatan tadi?” tanyaku, mencoba merangkai pecahan teka-teki tingkah laku Julian. “Kalau dia sudah bersepakat dengan mereka, kenapa dia tampak seperti orang yang baru melihat malaikat maut?”
“Karena Julian baru sadar kalau dia juga menjadi target pembungkaman perdata,” Maya membuka map manila itu, mengeluarkan salinan akta notaris bertanggal enam bulan lalu. “Ini perjanjian pelepasan hak regres yang dia tandatangani tanpa membaca klausul kecil di halaman empat belas. Aethelgard tidak hanya mengambil alih perwalian Ibu. Mereka memasukkan klausul bahwa seluruh biaya administrasi, biaya keamanan khusus, dan biaya penanganan medis Ibu yang belum terbayar akan dibebankan secara pribadi kepada Julian sebagai penjamin perorangan jika aset tanah Cipaganti tidak mencukupi nilai taksiran likuidasi mereka.”
Aku membaca baris-baris hukum itu dengan saksama. Di usia tujuh puluh dua, mataku memang butuh kacamata baca, tapi otakku yang puluhan tahun bekerja sebagai mantan akuntan di sebuah pabrik tekstil di Majalaya langsung menangkap jebakan angka-angka tersebut.
“Nilai taksiran likuidasi rumahku… mereka pasang hanya sepertiga dari harga pasar,” desisku, merasakan darahku mendidih kembali. “Rumah di Cipaganti itu tanahnya seribu dua ratus meter persegi. Nilainya bisa mencapai tiga puluh lima miliar rupiah. Tapi di dokumen ini… mereka menilainya hanya delapan miliar?”
“Dan utang Julian yang mereka bayarkan adalah empat miliar, ditambah ‘biaya operasional perwalian’ sebesar lima miliar yang dihitung mundur sejak hari pertama penetapan palsu itu terbit. Begitu Ibu masuk ke fasilitas Gunung Salak, Julian tidak akan menerima sepeser pun uang komisi. Justru dia akan menerima surat tagihan sita eksekusi atas seluruh aset pribadinya—rumah kecilnya di Antapani, mobilnya, tabungannya—untuk menutupi defisit satu miliar rupiah yang sengaja diciptakan oleh Aethelgard. Dia bukan cuma menjual ibunya. Dia menandatangani surat kebangkrutannya sendiri.”
Sebuah tawa getir lolos dari kerongkonganku. Tawa yang kering dan tidak mengandung sedikit pun humor. Arthur dulu selalu bilang bahwa Julian terlalu mirip dengan pamannya dari pihak ayah: selalu ingin terlihat kaya sebelum memiliki kekayaan itu sendiri, selalu mencari jalan pintas untuk menghindari kerja keras, dan selalu menganggap remeh orang-orang yang menjalani hidup dengan cermat dan lambat. Tapi aku selalu membelanya. Aku selalu berkata pada Arthur bahwa anak kami hanya butuh waktu untuk menjadi dewasa. Dan inilah hasil dari pembiaran itu: anak lelakiku mengundang serigala masuk ke ruang makan keluarga, hanya untuk mendapati dirinya sendiri berada di daftar menu berikutnya setelah ibunya habis dimangsa.
Pintu tripleks berderit terbuka sedikit. Koh Wawan melongokkan kepalanya ke dalam. “Ada mobil sedan hitam parkir dua ratus meter di bawah, dekat jembatan penyeberangan. Dua orang turun, tidak pakai seragam abu-abu, tapi gayanya bukan orang lokal sini. Mereka mulai tanya-tanya ke tukang tambal ban.”
“Mereka melacak pelat motor saya,” bisik Maya, rahangnya mengetat. Dia langsung membereskan kertas-kertas di meja. “Kita tidak bisa lama di sini. Saya harus bawa Ibu keluar dari Kota Bandung siang ini juga. Saya punya kenalan di sebuah biara tua di daerah Sukabumi, mereka punya tempat perlindungan yang tidak terdaftar di dinas sosial.”
“Tidak,” kataku tegas, berdiri tegak dari kursi plastik. Rasa sakit di lututku mendadak sirna, tergantikan oleh keteguhan keras yang sudah lama tidak kugunakan sejak hari pemakaman suamiku sepuluh tahun silam. “Aku tidak akan lari ke Sukabumi. Aku tidak akan bersembunyi di biara seperti pesakitan yang menunggu ajal.”
Maya menatapku seolah aku sudah benar-benar kehilangan akal. “Ibu tidak paham situasinya. Di mata hukum formal, Ibu saat ini tidak punya hak atas diri sendiri! Kalau polisi menemukan Ibu bersama saya, mereka wajib mengembalikan Ibu ke wali sah Ibu. Dan wali sah Ibu adalah perusahaan itu!”
“Dan siapa yang memberi mereka hak itu?” tanyaku balik, suaraku rendah namun memaku langkah Maya di tempat. “Sebuah penetapan pengadilan yang cacat prosedur. Sebuah tanda tangan dokter gadungan. Dan sebuah persidangan tanpa kehadiran pihak tergugat. Aku tahu seluk-beluk pembukuan dan hukum perdata lebih lama daripada umurmu, Nak. Arthur Vance bukan cuma seorang insinyur perkebunan; dia menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya mengurus sengketa agraria peninggalan zaman kolonial. Kami tidak pernah membiarkan selembar pun dokumen tanah kami disimpan tanpa salinan legalisir notaris independen.”
“Salinan itu tidak ada gunanya kalau aslinya sudah dipegang mereka—”
“Siapa bilang mereka memegang yang asli?”
Sebuah senyum tipis, dingin dan tanpa ampun, terbit di wajahku.
Sarah memang menggeledah ruang kerja Arthur di rumah Cipaganti. Dia menghabiskan berminggu-minggu memilah map-map kulit buaya tua di lemari jati peninggalan Belanda, mengira map dengan pita segel lilin merah di laci tersembunyi meja kerja suamiku adalah sertifikat asli tanah dan bangunan. Mereka tidak tahu bahwa Arthur adalah orang yang luar biasa skeptis terhadap keamanan rumah tinggal biasa. Dua puluh tahun lalu, ketika desas-desus mafia tanah mulai marak di Jawa Barat, mendiang suamiku sudah menyerahkan sertifikat asli tanah Cipaganti, surat wasiat terbuka, dan seluruh portofolio obligasi negara kami ke dalam safe deposit box di kantor cabang utama sebuah bank milik pemerintah di Jalan Asia Afrika.
Kunci fisiknya ada dua. Satu disimpan di brankas kantor bank tersebut. Satu lagi tidak pernah meninggalkan tubuhku selama tiga dekade: tergantung di rantai kalung perak berbandul liontin giok hijau yang saat ini melingkar di leherku, tersembunyi aman di balik kerah tinggi blus rajut yang kukenakan.
Dan yang paling penting dari semuanya: perjanjian pembukaan safe deposit box itu dibuat dengan klausul pencairan bersyarat ganda yang sangat kuno namun kebal hukum modern. Arthur mendaftarkannya dengan klausul Personal Appearance and Biometric Verification Only. Tidak ada kuasa hukum, tidak ada penetapan perwalian pengadilan tingkat mana pun yang bisa membuka kotak baja itu kecuali Eleanor Vance hadir secara fisik, membubuhkan cap jempol tangan kiri di atas bantalan tinta manual, dan menyebutkan tiga kata sandi dalam bahasa Belanda yang hanya diketahui olehku dan Arthur.
“Sarah hanya membawa pulang salinan duplikat yang sudah dilegalisir untuk keperluan pembayaran pajak tahunan,” kataku tenang sembari meraba liontin logam dingin di balik bajuku. “Aethelgard mengira mereka sudah memegang sertifikat aslinya karena dokumen duplikat itu memang memiliki cap hologram notaris yang sangat meyakinkan. Tapi mereka tidak bisa mengeksekusi penjualan tanah itu ke pihak ketiga tanpa warkah asli dari Badan Pertanahan Nasional yang nomor serinya terkunci di dalam kotak baja di Jalan Asia Afrika.”
Mata Maya membelalak. Keterkejutan di wajahnya perlahan berganti menjadi secercah harapan liar. “Bank BNI Asia Afrika?”
“Tepat di seberang gedung Konferensi Asia Afrika,” jawabku mantap. “Dan kepala cabang operasionalnya saat ini adalah anak dari sahabat mendiang suamiku semasa di ITB. Dia tahu persis siapa aku. Dia tahu persis Arthur Vance tidak pernah meninggalkan istrinya dalam kondisi tanpa perlindungan hukum yang berlapis.”
“Tapi menuju ke sana sama saja menyerahkan diri,” potong Koh Wawan dari ambang pintu. “Jalan Asia Afrika itu pusat kota. Kamera pengawas di mana-mana, dan lalu lintasnya macet total di jam makan siang begini. Kalau orang-orang mobil hitam itu menyebar foto Ibu ke jaringan mereka, Ibu tidak akan sempat melangkah masuk ke pintu putar bank itu.”
“Mereka mencari seorang nenek tua yang linglung dengan mantel wol cokelat dan sepatu kulit bertumit rendah yang berjalan tertatih-tatih didampingi anaknya,” kataku sambil menatap mantel yang tersampir di sandaran kursi. “Maya, gunting rambutmu yang potongannya tidak beraturan itu… kamu punya pewarna rambut hitam instan di tasmu?”
Maya mengerutkan kening, lalu meraba ransel kanvasnya. “Hanya ada gunting saku dan kacamata hitam murah.”
“Itu cukup,” ujarku seraya melepaskan mantel wol mahalku dan melemparkannya ke atas meja. “Koh Wawan, aku butuh kemeja kerja bekas milikmu yang paling kusam, celana katun longgar, dan topi pet yang biasa dipakai montir bengkel ini. Kita tidak akan naik motor bebek atau mobil sewaan. Kita akan naik angkot trayek Stasiun Hall-Sadang Serang yang berhenti tepat di depan pasar barang bekas Cikapundung.”
Rencana itu gila, tapi justru karena kegilaannya itulah rencana itu memiliki peluang berhasil. Orang-orang Aethelgard adalah profesional korporat yang dingin. Mereka berpikir berdasarkan pola psikologis standar: lansia yang panik akan mencari perlindungan ke kantor polisi terdekat, bersembunyi di rumah kerabat di luar kota, atau tetap bertahan di tempat tertutup menunggu bantuan datang. Mereka tidak akan pernah menduga bahwa target buruan mereka, seorang wanita priayi Sunda berusia tujuh puluh dua tahun yang terbiasa hidup steril di kawasan elite Cipaganti, akan mengubah dirinya menjadi seorang kuli panggul tua yang berbau oli dan keringat, berdesak-desakan di bangku sempit angkutan kota bersama pedagang sayur dan anak sekolah.
Dua puluh menit kemudian, bayangan yang terpantul di cermin toilet bengkel Koh Wawan bukan lagi Eleanor Vance sang nyonya rumah Cipaganti. Rambut perakku disisir ke belakang, dipotong pendek kasar oleh tangan Maya hingga menyerupai potongan pria tua, lalu disembunyikan sepenuhnya di balik topi pet kanvas yang dekil bercak minyak rem. Kemeja kerja biru pudar milik Koh Wawan menutupi tubuhku yang kurus, menyamarkan lekuk tubuh wanita sepenuhnya. Kalung rantai perak dengan kunci baja itu kulilitkan erat di pergelangan tangan kiriku, lalu ditutup dengan perban elastis cokelat seperti tangan buruh yang habis terkilir.
Maya menatapku lama, pandangannya campur aduk antara rasa takjub dan ngeri. “Ibu yakin sanggup jalan kaki dari halte Cikapundung ke lobi bank? Jaraknya sekitar tiga ratus meter, dan Ibu harus melewati pos polisi lalu lintas di persimpangan Braga.”
“Nak,” kataku, memperbaiki posisi kacamata hitam berbingkai plastik tebal yang menutupi separuh wajahku. “Tahun seribu sembilan ratus enam puluh enam, aku ikut berjalan kaki dari Dago sampai Gedung Sate dalam barisan demonstrasi mahasiswa di tengah hujan gas air mata. Kamu pikir tiga ratus meter trotoar beraspal bisa meremukkan lututku?”
Kami keluar lewat pintu samping bengkel yang langsung menembus ke gang sempit pemukiman padat. Angkot hijau jurusan Stasiun melintas lambat, memuntahkan asap knalpot hitam pekat. Maya melambaikan tangan. Kami melangkah naik ke bagian belakang angkot yang sudah terisi penuh oleh seorang ibu paruh baya yang memangku keranjang tahu basah dan dua orang pemuda yang sibuk mendengarkan musik dari ponsel mereka dengan pelantang suara pecah.
Aku duduk di sudut paling dekat dengan pintu keluar, menekuk kepalaku ke bawah, berpura-pura tidur ayam di antara deru mesin mobil tua yang bergetar hebat di setiap tanjakan kecil. Dari balik kacamata hitam, aku memandangi jalanan Kota Bandung yang meluncur lambat di luar jendela kaca yang berdebu.
Ketika angkot melintasi Jalan Wastukencana, di seberang kantor wali kota, aku melihat mobil van putih sederhana itu terparkir di tepi trotoar dengan lampu hazard menyala. Dua pria berseragam abu-abu berdiri di luar, memegang ponsel masing-masing sembari menatap tajam ke setiap mobil pribadi dan taksi yang melintas lambat karena kemacetan tengah hari. Mereka memeriksa pelat nomor, mengintip ke dalam kaca mobil berpenyejuk udara, mencari siluet seorang wanita tua berambut perak yang duduk di kursi penumpang belakang. Mereka sama sekali tidak melirik ke arah angkot bobrok kami yang melintas hanya setengah meter dari ban serep mobil mereka, memercikkan air got keruh ke celana abu-abu mereka yang licin disetrika.
Ada kepuasan primitif yang menjalar di pembuluh darahku saat melihat wajah kaku mereka tertinggal di belakang. Keberanian, seperti yang selalu diingatkan Arthur padaku, bukanlah ketiadaan rasa takut; keberanian adalah kesadaran penuh bahwa ada hal-hal tertentu yang jauh lebih berharga daripada keselamatan diri sendiri. Dan martabat seorang manusia di ujung usianya adalah salah satu dari hal-hal berharga itu.
Angkot berhenti menyentak di dekat persimpangan Cikapundung Timur. Maya turun lebih dulu, membayarkan dua lembar uang dua ribuan yang kumal ke sopir, lalu mengulurkan tangannya membantuku menuruni pijakan besi angkot. Begitu kakiku menjejak trotoar Jalan Asia Afrika, aroma khas pusat kota lama menyergap: campuran kopi aroma dari toko legendaris di dekat Banceuy, bau aspal panas yang terpanggang matahari pukul satu siang, dan desir angin yang membawa gemerisik daun pohon damar raksasa yang sudah menaungi jalan ini sejak zaman Hindia Belanda.
Gedung bank milik pemerintah itu berdiri kokoh dengan pilar-pilar gaya kolonial art deco yang menjulang tinggi, mempertahankan arsitektur aslinya yang kaku dan berwibawa di antara deretan bangunan perbankan modern yang berdinding kaca cermin.
Di pelataran parkir bank, sebuah pemandangan membuat langkahku terhenti sesaat di balik bayang-bayang pohon peneduh.
Sedan hitam milik Julian terparkir tepat di slot penurunan penumpang VIP. Julian sedang bersandar di pintu mobilnya, merokok dengan tangan yang begitu gemetar hingga ia harus menggunakan kedua tangannya untuk memegang korek gas. Sarah berdiri di dekat pos satpam lobi utama, berbicara dengan nada histeris kepada dua orang pria berpakaian safari hitam yang bukan sekadar penjaga keamanan biasa—mereka memiliki potongan rambut cepak dan membawa tas selempang kulit kecil yang menggembung kaku di bagian pinggang.
“Mereka menebak ke sini,” bisik Maya, suaranya tercekat di tenggorokan. “Julian tahu tentang brankas itu?”
“Julian tahu brankas itu ada,” jawabku tenang, mengatur napas agar dadaku tidak terasa sesak. “Arthur pernah membicarakan brankas itu saat makan malam perayaan kelulusan sarjananya sepuluh tahun lalu. Tapi anakku itu tidak pernah mendengarkan detail teknisnya. Dia mengira itu brankas warisan biasa yang bisa dicairkan siapa saja yang memegang surat penetapan pengadilan dan kartu keluarga.”
“Ibu tidak bisa masuk lewat lobi utama. Orang-orang di pos satpam itu sudah dipegang oleh Sarah. Lihat cara satpam lobi membungkuk dan mendengarkan pria bersafari itu.”
“Aku tidak berniat masuk lewat lobi utama.”
Kutarik tangan Maya, menuntunnya berbelok ke gang sempit di sisi barat gedung bank, jalan masuk menuju area bongkar muat uang kas dan genset cadangan. Empat puluh tahun lalu, Arthur pernah terlibat dalam proyek perbaikan sistem pendingin sentral bawah tanah gedung ini. Dia sering bercerita tentang lorong servis bawah tanah yang menghubungkan ruang genset langsung ke koridor arsip brankas baja di rubanah dua—sebuah jalur utilitas yang dibangun pada era pasca-kemerdekaan untuk menghindari akses publik jika terjadi kerusuhan kota.
Pintu teralis besi area bongkar muat dijaga oleh seorang sekuriti senior bernama Pak Dadan—pria berusia akhir lima puluhan dengan kumis tebal yang sudah menjaga pintu itu sejak almarhum Arthur masih sering mampir untuk sekadar minum teh di kantor cabang ini.
Aku melepas kacamata hitam dan topi petku saat kami berdiri di hadapan jeruji besi pos servis.
Pak Dadan yang sedang menyeduh mi instan cangkir mendongak, matanya yang menyipit perlahan membesar saat mengenali guratan tulang pipi dan sorot mata wanita yang berdiri di hadapannya tanpa riasan, berbalut kemeja bengkel yang kotor.
“Bu… Bu Vance?” bisiknya tak percaya, buru-buru meletakkan cangkir mi-nya ke atas meja jaga. “Gusti nu agung… Ibu kenapa berantakan begini? Tadi Mas Julian dan istrinya datang sama orang-orang luar mencari Ibu, katanya Ibu menghilang dari rumah sakit jiwa—”
“Dadan,” potongku, menggunakan intonasi suara tenang dan berwibawa yang biasa kugunakan saat menyambut para tamu direksi di rumah Cipaganti. “Apakah Pak Bambang ada di ruangannya di lantai dua?”
“Pak Bambang… maksud Ibu, Kepala Cabang Utama?” Dadan menelan ludah, bingung melihat penampilanku yang compang-camping namun tetap memancarkan aura ketegasan yang tak terbantahkan. “Beliau ada. Sedang ada rapat dengan tim legal dari Jakarta di ruang atas, tapi—”
“Katakan padanya, Eleanor Vance ada di pintu servis barat dan meminta pemenuhan klausul darurat atas nama almarhum Arthur Vance. Sebutkan kata kodenya: Bunga Hortensia Sembilan Belas Tujuh Puluh Dua. Lakukan sekarang, Dadan. Demi persahabatan almarhum suamiku dengan ayahnya.”
Pak Dadan membeku sesaat. Ada keraguan yang melintas di matanya, melihat penampilan kuli kelilingku dibandingkan dengan pria-pria necis bersafari yang menjaga lobi depan. Namun loyalitas lama di kota ini tidak mudah dihapus oleh selembar surat penetapan pengadilan yang baru berumur setahun. Hubungan kekeluargaan dan rasa hormat kepada orang-orang tua yang telah menjaga integritas hidup mereka selama puluhan tahun adalah mata uang yang jauh lebih bernilai di sudut-sudut Bandung lama.
“Tunggu di pos dalam, Bu. Jangan terlihat dari arah jalan,” bisik Dadan seraya membuka kunci gembok teralis besi, mempersilakan kami melangkah masuk ke ruangan berpenyejuk udara yang sejuk dan hening. Dia langsung mengangkat gagang telepon interkom hitam di dinding posnya.
Lima menit kemudian, pintu lift servis berdenting pelan. Seorang pria berusia lima puluhan awal dengan setelan jas abu-abu gelap melangkah keluar dengan tergesa-gesa. Wajahnya yang semula tegang langsung melemas begitu melihatku berdiri di samping meja pos jaga. Bambang—anak laki-laki dari sahabat Arthur yang dulu sering kupanggangkan bolu marmer saat ia belajar kelompok di beranda rumah kami—menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Tante Eleanor,” desahnya pelan, melangkah maju dan meraih kedua tanganku yang kasar tanpa mempedulikan noda oli yang menempel di telapak tanganku. “Ya Tuhan… apa yang mereka lakukan pada Tante?”
“Julian dan Sarah sedang berada di lobi depanmu, Bambang,” kataku lugas, tanpa perlu mendramatisasi keadaan. “Bersama orang-orang yang ingin memasukkanku ke fasilitas isolasi seumur hidup demi sebidang tanah di Cipaganti. Mereka membawa penetapan perwalian palsu dari Pengadilan Negeri.”
Bambang menghela napas panjang, rahangnya mengetat dengan kemarahan dingin seorang bankir senior yang integritas lembaganya baru saja diinjak-injak. “Mereka sudah di lobi sejak setengah jam lalu, Tante. Pria bersafari itu membawa surat penetapan dari Jakarta dan menuntut akses darurat ke kotak deposit almarhum Om Arthur atas nama wali hukum perdata. Legal kami sedang menahan mereka di ruang tunggu VIP lantai satu dengan alasan verifikasi sistem tahunan.”
“Bisakah mereka membukanya secara hukum?” tanya Maya, menyuarakan kekhawatiran terbesarnya.
Bambang menoleh ke arah Maya, lalu kembali menatapku seraya menggeleng tegas. “Kotak nomor nol-empat-tujuh itu tidak terikat pada hukum administrasi waris biasa. Om Arthur menguncinya di bawah skema Trust Covenant perbankan tertutup sebelum undang-undang fidusia baru disahkan. Kotak itu berada di bawah yurisdiksi perlindungan personal independen. Selama Tante Eleanor masih bernapas dan mampu memverifikasi identitas secara fisik, tidak ada pengadilan di negeri ini yang bisa memaksa kami menyerahkan kuncinya kepada pihak ketiga, termasuk anak kandung sendiri.”
“Bawa aku ke rubanah sekarang,” kataku. “Aku ingin menyelesaikan ini hari ini juga.”
Bambang mengangguk. Dia mengeluarkan kartu akses magnetik berwarna emas dari sakunya, menempelkannya ke panel lift servis, lalu menekan tombol rubanah dua.
Lift turun dalam keheningan yang khidmat. Maya berdiri di sudut, matanya memandangi indikator lantai yang menyala turun dengan rasa tak percaya yang perlahan berubah menjadi kelegaan luar biasa. Sepanjang hidupnya sebagai panitera rendahan yang terbiasa melihat ketidakadilan hukum di ruang sidang kumuh, dia baru pertama kali menyaksikan bagaimana sebuah benteng hukum yang dirancang dengan kecerdikan absolut dan kesabaran puluhan tahun lalu mampu menahan gempuran mafia paling licin sekalipun.
Pintu lift terbuka di sebuah koridor bawah tanah berdinding granit hitam yang dingin. Di ujung lorong, sebuah pintu baja bundar berdiameter dua meter dengan roda pemutar manual berdiri megah—seperti pintu kapal selam raksasa yang menjaga rahasia-rahasia terdalam kota ini. Dua petugas brankas berseragam khusus membungkuk hormat saat Bambang mendekat.
“Buka loker kosong empat puluh tujuh,” perintah Bambang.
Salah satu petugas memasukkan kunci master bank ke lubang pertama, lalu memutar roda pengunci dengan suara mekanis yang berat: clack-clack-clack. Daun pintu brankas terayun terbuka perlahan, memperlihatkan ratusan laci baja berkilau di balik jeruji besi sekunder.
Aku melangkah maju. Tanganku melepaskan lilitan perban elastis di pergelangan kiriku. Liontin perak itu kulepas, memperlihatkan kunci kuningan kecil dengan ukiran angka Romawi kuno di batangnya. Kumasukkan kunci itu ke lubang kunci kedua di loker nomor 047.
Bunyi klik kedua terdengar begitu renyah di udara bawah tanah yang kering.
Laci baja itu meluncur keluar. Di dalamnya terbaring sebuah kotak kayu jati berukir yang masih beraroma minyak cendana. Di atas kotak itu, tergeletak tiga lembar dokumen bersampul linen tebal: sertifikat asli hak milik tanah Cipaganti, surat wasiat terbuka yang disahkan oleh lima orang notaris sepuh Bandung pada tahun 1995, dan sebuah map hitam tebal bertuliskan Catatan Aliran Dana dan Audit Internal Yayasan Aethelgard.
Maya terkesiap saat melihat map hitam itu. “Bagaimana mungkin… bagaimana mungkin Pak Arthur punya data tentang mereka?”
“Arthur tidak pernah mempercayai Julian sejak anak itu pertama kali berutang demi membeli mobil sport pertamanya dua puluh tahun lalu,” gumamku, jemariku membelai permukaan kayu jati yang halus. “Arthur tahu anak kami punya kelemahan karakter yang fatal: dia gampang dimanipulasi oleh orang-orang yang menawarkan jalan pintas. Suamiku menyewa auditor swasta untuk memetakan siapa saja sindikat keuangan yang bermain di sekitar tanah-tanah sengketa di Jawa Barat. Dia sudah memprediksi bahwa suatu hari nanti, jika Julian jatuh bangkrut, orang-orang ini yang akan datang mengetuk pintunya.”
Kutatap Bambang yang berdiri tenang di sampingku. “Panggil polisi resort kota sekarang, Bambang. Tapi jangan panggil patroli biasa. Telepon langsung Komisaris Besar Hendrawan di Polda Jabar. Katakan padanya, putri mendiang Jenderal Vance ingin menyerahkan berkas tindak pidana pencucian uang dan sindikat perwalian bodong yang sudah mandek selama lima tahun di mejanya.”
Mata Maya membelalak mendengar nama itu. “Ibu… putri Jenderal Vance?”
Aku tidak menjawab pertanyaannya secara langsung. Aku hanya membetulkan kerah kemeja bengkelku yang kusam, merasakan martabat yang tidak pernah sekalipun luntur dari darahku mengalir kembali dengan penuh kekuatan. “Aku mungkin sudah tua, Maya. Aku mungkin pelupa meletakkan kacamata bacaku dan butuh waktu lama untuk menyiram bunga hortensiaku di pagi hari. Tapi aku dibesarkan di era ketika integritas dipertahankan dengan nyawa, bukan dengan tanda tangan palsu di atas materai sepuluh ribu rupiah.”
Dua puluh menit kemudian, lobi utama kantor cabang bank itu berubah menjadi panggung kejatuhan yang sunyi namun mematikan.
Julian sedang mondar-mandir di dekat pintu putar kaca ketika pintu lift utama berdenting terbuka. Dia menoleh, bersiap melontarkan keluhan lain kepada pihak manajemen bank karena merasa diulur-ulur waktunya. Namun kata-kata di kerongkongannya mati seketika.
Aku melangkah keluar dari lift. Bukan lagi sebagai tahanan yang melarikan diri, melainkan didampingi oleh Kepala Cabang Utama di sisi kananku, dua petugas keamanan bersenjata lengkap di belakangku, dan Maya yang membawa map hitam tebal di dadanya.
Di luar gedung kaca, tiga mobil dinas kepolisian bergaris biru-merah sudah memblokir jalan keluar pelataran parkir, menyalakan lampu sirine tanpa suara raungan yang mencolok, mengepung mobil van putih dan sedan hitam Julian dengan presisi militer. Empat orang penyidik berpakaian sipil masuk melewati pintu putar, langsung melingkari dua pria bersafari dan wanita berpapan klip yang seketika mematung di tempatnya.
Sarah adalah orang pertama yang menyadari bahwa seluruh skenario mereka telah runtuh berantakan. Wajahnya yang semula angkuh mendadak pucat pasi seperti kain kafan; tas tangan bermereknya terlepas dari jemarinya, jatuh berdebam ke lantai marmer lobi tanpa ia pedulikan.
Julian menatapku, matanya membelalak dipenuhi campuran rasa malu, takjub, dan teror murni yang membuat lututnya goyah. Dia melangkah maju satu tindak, bibirnya bergetar, mencoba merangkai dusta atau permohonan ampun terakhir. “I… Ibu?”
Aku berhenti melangkah tepat dua meter di depannya. Tidak ada kemarahan yang meluap-luap di wajahku. Tidak ada air mata histeris seorang ibu yang dikhianati anaknya sendiri. Yang tersisa di tatapanku hanyalah kehampaan yang dingin—jenis kehampaan yang kau rasakan ketika menatap rumah tua yang seluruh fondasinya sudah habis digerogoti rayap hingga tak layak lagi ditinggali.
“KTP baruku tidak jadi kuperbarui hari ini, Julian,” kataku, suaraku terdengar begitu jernih dan tenang di tengah lobi yang mendadak sunyi senyap. “Tapi aku baru saja memperbarui surat wasiatku di lantai bawah.”
Penyidik polda melangkah maju, membacakan surat perintah penangkapan atas dugaan pemalsuan dokumen negara, percobaan perampasan kemerdekaan orang lain, dan konspirasi tindak pidana perbankan kepada Julian, Sarah, dan seluruh tim penjemput dari Aethelgard. Bunyi borgol baja yang mengunci pergelangan tangan anak lelakiku terdengar begitu tajam, memantul di dinding-dinding pualam gedung tua itu. Julian tidak memberontak. Dia hanya tertunduk, bahunya melorot sepenuhnya, menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang baru tersadar bahwa rumah tempat ia selalu bisa pulang untuk meminta perlindungan telah ia bakar sendiri dengan tangannya sendiri.
Aku tidak memalingkan pandanganku saat polisi menuntun mereka berdua keluar menuju mobil tahanan. Aku menyaksikan setiap detiknya dengan mata terbuka lebar.
Sore harinya, matahari terbenam di atas langit Bandung dengan warna jingga keemasan yang membakar puncak Gunung Tangkuban Parahu di kejauhan.
Aku duduk di kursi goyang beranda depan rumahku di Cipaganti, secangkir teh melati hangat mengepul di atas meja kayu kecil di sampingku. Maya duduk di anak tangga teras, mengenakan jaket bersih yang kupinjamkan dari lemari pakaian Arthur, menikmati sepiring pisang goreng panas yang kubuatkan sendiri setelah kami kembali dari kantor polda untuk memberikan kesaksian resmi.
Gedung-gedung pengadilan dan sindikat perwalian itu masih butuh waktu berbulan-bulan untuk dibersihkan sepenuhnya oleh kejaksaan, tapi malam ini, rumah tua ini kembali menjadi milikku seutuhnya. Halaman rumputnya yang luas, semak-semak bunga hortensia ungu yang mulai bermekaran di dekat pagar besi tempa, dan derit lantai kayu jati yang bersuara akrab di setiap langkah kakiku.
Kupandangi cangkir teh di tanganku, lalu menatap jalanan Cipaganti yang mulai temaram diterangi lampu-lampu jalan antik bercahaya kuning temaram.
Julian mengira di usia tujuh puluh dua tahun, dunia seorang wanita menyusut menjadi sekadar kepatuhan pada anak dan kerinduan pada masa lalu. Dia lupa bahwa untuk bertahan hidup melintasi dekade-dekade yang keras di negeri ini, seorang wanita tua tidak hanya butuh ingatan yang tajam; dia butuh akar yang menancap jauh lebih dalam daripada badai mana pun yang berani mencoba mencabutnya.
Kusesap teh melatiku perlahan. Manisnya pas, pahitnya tertinggal sedikit di ujung lidah—persis seperti kehidupan yang telah kupilih untuk kujalani, dengan caraku sendiri, sampai ketukan palu terakhir yang sesungguhnya tiba.
