Setelah putraku meninggal, cucuku meminta untuk tinggal bersamaku.

Suara di rekaman itu tidak meledak seperti teriakan seorang penjahat di film bioskop; suaranya justru dingin, datar, dan lelah, jenis nada yang hanya keluar dari seseorang yang sudah muak berpura-pura di balik pintu tertutup.
“…kalau kamu pikir kamu bakal dapat sepeser pun dari uang asuransi bapakmu lewat nenek tua itu, kamu salah besar, Leo. Berhenti pasang muka melas begitu. Masuk kamar. Kunci pintunya. Jangan bikin saya harus lihat muka kamu lagi malam ini, saya pusing.”
Lalu terdengar denting sendok beradu dengan porselen, desah napas pendek anak kecil yang tertahan di tenggorokan, dan bunyi pintu dibanting—tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat mikrofon ponsel menangkap getaran kayu yang berderak di kusennya.
Hening. Bukan jenis hening yang dramatis, melainkan kesunyian canggung yang biasa terjadi di ruangan ber-AC ketika orang-orang terpelajar tiba-tiba sadar mereka baru saja menguping borok rumah tangga orang lain. Pengacara Sarah, seorang pria kurus dengan setelan abu-abu yang tampak terlalu longgar di pundaknya, perlahan menurunkan berkas yang dipegangnya, menatap ke arah meja seolah-olah lantai kayu mahoni di bawah kakinya tiba-tiba menjadi hal paling menarik di dunia. Di sampingnya, Sarah tidak menangis lagi. Air mata buatan yang tadi menggenang di pelupuk matanya lenyap begitu saja, digantikan oleh rahang yang mengeras dan tatapan tajam yang langsung menusuk ke arah Leo—tatapan yang bukan berasal dari seorang ibu yang patah hati, melainkan seseorang yang baru saja menyadari bahwa pion caturnya telah berbalik membalikkan papan permainan.
Hakim Harrison tidak langsung berbicara. Dia melepas kacamatanya, menyeka sudut hidungnya yang memerah karena jepitan bingkai kacamata, lalu membolak-balik lembar laporan konselor sekolah yang sudah teronggok di mejanya sejak pagi. Kertas-kertas itu bergemerisik pelan di bawah dengung kipas angin ventilasi.
“Nyonya Vance,” kata hakim akhirnya, suaranya berat dan serak, tipikal pria tua yang sudah terlalu sering mendengar kebohongan keluarga selama tiga puluh tahun duduk di kursi pengadilan. “Rekaman ini diambil tadi malam pukul sepuluh lewat empat belas menit, menurut metadata yang tertera di layar. Anda sebelumnya bersumpah bahwa tadi malam Anda membacakan buku untuk anak Anda sebelum dia tidur.”
Sarah menelan ludah. Jakunnya bergerak kaku di balik kerah gaun hitamnya. “Yang Mulia, konteksnya… rekaman itu dipotong. Leo memprovokasi saya. Saya sedang mengalami tekanan emosional yang hebat sejak Daniel pergi, dan ibu mertua saya terus-menerus meracuni pikirannya—”
“Cukup,” sela Hakim Harrison tanpa menaikkan intonasi suaranya sedikit pun, tapi ada ketegasan tumpul di sana yang membuat Sarah langsung menutup mulut rapat-rapat. Pria tua itu kemudian menatap Leo. Tatapannya melunak, tidak sampai tahap memanjakan, hanya jenis kelembutan praktis dari orang dewasa yang tahu kapan seorang anak tidak boleh lagi dipaksa memikul beban orang tua. “Leo, letakkan ponselmu di atas meja. Kamu tidak perlu memutar apa-apa lagi.”
Leo meletakkan ponsel itu. Tangannya yang kurus ditarik kembali ke pangkuannya, meremas ujung celana bahan warna gelap yang sengaja kubelikan dua hari lalu di toko serba ada dekat stasiun kereta—celana yang sebenarnya kepanjangan dua inci di bagian kelim bawahnya, tapi kami tidak punya waktu untuk membawanya ke penjahit karena pengadilan memanggil kami lebih cepat dari jadwal semula. Aku ingin sekali meraih tangannya saat itu, meremas jemarinya yang dingin seperti es, tapi pengacaraku memberi isyarat kecil dengan sikunya agar aku tetap duduk tegak dan tidak menunjukkan emosi berlebihan. Sistem hukum menyukai orang tua yang tabah; mereka curiga pada nenek-nenek yang terlihat terlalu protektif.
Keputusan sementara itu dibacakan dalam waktu kurang dari tujuh menit. Tidak ada palu yang diketuk berkali-kali secara dramatis seperti di televisi. Hanya goresan pena di atas kertas karbon rangkap tiga, suara hakim yang membacakan pasal-pasal hak asuh sementara yang dialihkan kepadaku, serta perintah peninjauan ulang dalam enam bulan ke depan dengan syarat evaluasi psikologis berkala bagi Sarah jika ingin mempertahankan hak kunjung yang diawasi.
Sarah tidak menatapku saat kami berdiri. Dia mengemasi tas tangannya dengan gerakan terburu-buru, menyambar mantelnya, dan berjalan keluar dari ruang sidang bahkan sebelum pengacaranya selesai menandatangani salinan berita acara. Hak sepatunya berderap cepat di lantai marmer lorong luar, suara tajam yang berangsur-angsur menjauh lalu hilang ditelan keriuhan lobi pengadilan distrik.
Kami keluar lewat pintu samping, menghindari tangga utama tempat beberapa orang dari dinas sosial berkumpul untuk shift siang. Udara musim gugur di luar terasa menusuk tulang, jenis dingin kering yang membawa bau aspal basah dan daun-daun mapel busuk yang menumpuk di selokan jalan. Leo berjalan setengah langkah di belakangku, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket tebal warisan Daniel yang masih terlalu besar untuk bahunya yang bungkuk.
“Nenek,” katanya pelan saat kami sampai di lampu merah penyeberangan jalan.
“Ya, Nak?”
“Ibu marah sekali tadi.”
“Ibumu marah pada dirinya sendiri, Leo. Bukan padamu.” Aku berbohong sedikit di situ, dan aku tahu Leo tahu aku berbohong. Anak umur dua belas tahun yang tumbuh di rumah tangga penuh pertengkaran biasanya punya radar yang terlalu tajam untuk kebohongan orang dewasa. Dia hanya menatap ke arah lampu penyeberangan yang berganti hijau, lalu melangkah di sampingku tanpa berkata apa-apa lagi.
Kami naik bus kota nomor 42 pulang ke pinggiran kota. Perjalanan memakan waktu empat puluh menit melewati deretan pabrik tua yang setengah ditinggalkan dan perumahan bata merah yang catnya mulai mengelupas di sana-sini. Di dalam bus yang pengap oleh bau uap radiator dan mantel lembap para pekerja pabrik, Leo menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang bergetar setiap kali bus berpindah gigi. Dia tidak menangis. Itu yang paling membuatku cemas. Sejak Daniel meninggal, aku belum pernah melihatnya menangis lepas. Dia hanya menjadi pendiam, waspada, dan selalu bersiap-siap meminta maaf seolah-olah keberadaannya di sebuah ruangan adalah sebuah kesalahan tata krama.
Rumahku adalah bangunan kayu bertingkat satu dengan cat putih kusam yang kubeli bersama suamiku, Arthur, empat puluh tahun yang lalu. Tidak ada yang mewah di sana. Ruang depannya berbau lilin lebah, kertas koran lama, dan sedikit aroma rebusan kaldu ayam yang sudah kupanaskan di kompor gas sejak subuh tadi sebelum kami berangkat ke pengadilan.
Saat aku membuka pintu depan, Leo langsung melepas sepatunya dan meletakkannya di rak paling bawah—rapi sekali, ujungnya sejajar dengan garis kayu lantai, jenis kerapian kaku yang biasa dikembangkan anak-anak yang takut dimarahi jika meninggalkan jejak sedikit saja di karpet.
“Kamar ayahmu di lantai atas sudah kubersihkan kemarin,” kataku sambil melepaskan syal wolku dan menggantungnya di pasak dekat pintu. “Seprainya baru. Tapi kalau kamu mau tidur di kamar bawah dulu dekat kamarku, ada kasur lipat di ruang tengah.”
Leo memandang tangga kayu yang menuju ke lantai atas. Tangga itu sempit dan anak tangga kelimanya selalu berderit kalau diinjak di bagian tengah. Itu kamar tempat Daniel menghabiskan masa remajanya, tempat Daniel dulu menyembunyikan kaset-kaset musik rock terlarang di bawah kolong tempat tidur, tempat Daniel belajar matematika sampai larut malam sambil meminum kopi susu dingin buatan Arthur.
“Di atas saja, Nek,” bisik Leo. Suaranya terdengar seperti pasir kering yang bergeser. “Boleh aku bawa tas ranselku sekarang?”
“Bawalah. Setelah itu cuci tanganmu. Supnya hampir mendidih.”
Sore itu berlalu tanpa banyak kata. Kami makan di meja dapur kecil beralas taplak plastik bermotif kotak-kotak merah. Leo menghabiskan dua mangkuk sup ayam dan sepotong roti gandum tanpa sisa, mengunyah perlahan seolah dia sedang menghitung setiap suapan. Setiap kali sendoknya membentur mangkuk terlalu keras, matanya melirik ke arahku secara refleks, mengamati reaksiku. Dan setiap kali itu pula aku hanya memotong wortelku atau menyodorkan mentega ke arahnya, pura-pura tidak melihat ketegangan di lehernya. Membiasakan seorang anak bahwa rumah bukanlah ladang ranjau butuh waktu yang lama, jauh lebih lama dari proses hukum di pengadilan mana pun.
Sekitar pukul delapan malam, telepon rumah di lorong berdering. Suara deringnya yang melengking membuat Leo yang sedang duduk di karpet ruang tengah sambil membaca komik tua tersentak hingga bukunya jatuh.
Aku berjalan ke lorong dan mengangkat gagang telepon hitam yang berat itu. “Halo?”
Hening beberapa detik, hanya desah napas berat di seberang kabel tembaga. Lalu suara Sarah terdengar, tidak lagi terdengar rapi seperti di pengadilan, melainkan sedikit cadel, menandakan botol anggur murah di meja dapurnya pasti sudah berkurang setengahnya.
“Eleanor,” katanya dingin. “Kamu pikir kamu menang?”
“Ini sudah malam, Sarah. Leo sedang istirahat.”
“Dia anakku. Darah dagingku. Kamu menculiknya dariku dengan trik murahan itu. Daniel tidak akan pernah memaafkanmu kalau dia tahu apa yang kamu lakukan pada istrinya.”
Mendengar nama Daniel keluar dari mulutnya terasa seperti tamparan yang disengaja. Hatiku berdenyut nyeri, jenis rasa sakit tumpul yang sudah bersarang di dadaku sejak dokter di rumah sakit mengumumkan kematian Daniel delapan bulan lalu. Tapi rasa marah itu tidak meledak; di usiaku, amarah yang membara hanya akan membuang-buang energi yang kubutuhkan untuk merawat cucuku.
“Daniel meninggalkanmu karena dia tahu kamu tidak pernah benar-benar ada untuk Leo, Sarah,” kataku pelan, memastikan suaraku tidak bergetar agar tidak terdengar sampai ke ruang tengah. “Tiga bulan terakhir sebelum dia meninggal, Daniel yang mengurus makan siang Leo dari tempat tidur rumah sakit. Dia menelepon restoran seberang sekolah untuk mengirimkan makanan karena kamu sering lupa bangun pagi. Aku tahu itu. Daniel bercerita padaku. Jadi jangan bawa-bawa Daniel malam ini.”
“Kamu wanita tua licik—”
Kutarik napas perlahan, lalu kututup telepon itu di dudukannya tanpa menunggu dia menyelesaikan kalimatnya. Bunyi klik mekanis yang tumpul itu mengakhiri sambungan. Aku berdiri di lorong yang temaram selama beberapa saat, menatap wallpaper dinding bergambar bunga-bunga pudar yang mulai mengelupas di dekat soket listrik, menunggu detak jantungku melambat kembali ke ritme normalnya.
Ketika aku kembali ke ruang tengah, Leo tidak lagi membaca komiknya. Dia sedang berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke halaman depan, menatap ke arah jalanan gelap tempat lampu merkuri kuning menyinari aspal yang mulai basah oleh gerimis tipis.
“Tadi itu Ibu?” tanyanya tanpa menoleh.
“Bukan siapa-siapa, Leo. Orang salah sambung.”
Bohong lagi. Tapi kali ini dia tidak mempermasalahkannya. Dia hanya mengusap embun tipis yang terbentuk dari napasnya di kaca jendela dengan lengan bajunya, membuat lingkaran kecil bening di tengah permukaan kaca yang buram.
“Nenek,” katanya tiba-tiba. “Ayah dulu benar-benar benci padaku ya?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa nada merajuk, datar seperti seseorang yang menanyakan ramalan cuaca esok hari. Kakiku terasa terpaku di lantai karpet. Aku melangkah mendekatinya perlahan, berhenti sekitar satu jengkal di sampingnya tanpa menyentuhnya, tahu bahwa anak yang terluka sering kali merasa terancam jika tiba-tiba dipeluk dari belakang.
“Kenapa kamu bisa berpikir begitu?” tanyaku hati-hati.
“Sebelum Ayah masuk rumah sakit terakhir kali, dia jarang bicara padaku. Ibu selalu bilang Ayah capek karena harus kerja keras bayar biaya sekolahku, dan kalau aku tidak merepotkan mereka dengan les atau seragam baru, Ayah tidak akan jatuh sakit. Tadi malam Ibu bilang hal yang sama sebelum aku rekam suaranya. Ibu bilang Ayah meninggal gara-gara stres memikirkan masa depanku.”
Tenggorokanku tercekat. Ada rasa mual yang pahit naik ke pangkal lidahku. Bagaimana bisa seorang wanita menjejalkan racun seperti itu ke dalam kepala seorang anak berusia dua belas tahun, menjadikannya penanggung jawab atas kematian ayahnya sendiri hanya untuk menutupi ketidakmampuannya mengurus hidupnya sendiri?
“Leo, lihat Nenek,” kataku, kali ini dengan sedikit nada memerintah yang lembut tapi tidak bisa dibantah.
Leo memutar tubuhnya perlahan, mengangkat wajahnya. Matanya yang cokelat gelap—persis mata Daniel waktu kecil—terlihat lelah dan terlalu tua untuk usianya.
“Ayahmu meninggal karena kanker getah bening. Bukan karena kamu, bukan karena biaya sekolahmu, bukan karena kamu minta sepatu olahraga baru. Sel-sel jahat di tubuhnya tumbuh tanpa ada yang bisa mencegahnya, bahkan dokter paling pintar di kota ini pun tidak bisa menghentikannya. Ayahmu tidak banyak bicara di akhir hidupnya karena bernapas saja dadanya sakit luar biasa, Leo. Tapi setiap kali aku datang ke rumah sakit menjenguknya, orang pertama yang dia tanyakan selalu kamu. Dia tanya apa kamu sudah makan siang, apa kamu menang pertandingan catur di perpustakaan, apa sepedamu rantainya sudah diperbaiki.”
Leo menatapku lekat-lekat, bibir bawahnya mulai bergetar tipis.

“Daniel sangat mencintaimu,” lanjutku, suaraku mengeras karena menahan getaran di tenggorokan. “Dia mencintaimu sampai hari terakhirnya. Dan kalau ada orang yang bilang kamu penyebab sakitnya, orang itu sedang berbohong demi membuat dirinya sendiri merasa lebih baik. Mengerti?”
Bocah itu tidak menjawab dengan kata-kata. Tapi perlahan, pertahanan kaku yang dibangunnya selama delapan bulan terakhir mulai retak. Bahunya yang tegang turun beberapa sentimeter, lalu kepalanya tertunduk hingga dahinya membentur dadaku. Tangannya yang kurus mencengkeram kain kardiganku begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Tangisnya pecah tanpa suara raungan—hanya isakan pendek, terputus-putus, dan basah yang meresap ke dalam rajutan wol di pundakku.
Kupeluk dia di sana, di dekat jendela ruang depan yang dingin, di bawah temaram lampu meja antik warisan Arthur. Aku tidak mengatakan kalimat-kalimat klise seperti “semuanya akan baik-baik saja,” karena kenyataannya hidup tidak pernah sepenuhnya baik-baik saja. Daniel tidak akan pernah hidup kembali. Sarah akan tetap menjadi wanita yang bermasalah dan kemungkinan besar akan terus menggugat di masa depan. Persidangan enam bulan lagi masih membayangi kami seperti awan mendung di kejauhan. Dan tubuh tuaku suatu saat nanti akan menyerah pada usia, meninggalkan Leo sendirian di dunia ini lebih cepat dari yang kuinginkan.
Tapi malam ini, di rumah kayu tua yang berderit ditiup angin musim gugur ini, Leo aman. Dia punya tempat tidur dengan seprai bersih, mangkuk sup hangat yang menunggunya di dapur jika dia lapar lagi tengah malam, dan seorang nenek tua yang tidak akan pernah menyalahkannya atas hal-hal buruk yang terjadi di dunia orang dewasa.
Setelah tangisnya reda dan hanya menyisakan napas yang sesenggukan, kubimbing dia naik ke lantai atas. Kamar Daniel masih sama seperti lima belas tahun lalu—rak buku dari kayu pinus tua yang dipenuhi ensiklopedia bekas, meja belajar yang permukaannya ada bekas torehan jangka, dan jendela kecil yang mengarah ke pohon apel di pekarangan samping.
Leo naik ke tempat tidur tanpa melepas kaus kakinya. Dia menarik selimut tebal sampai ke bawah dagunya, meringkuk menyamping menghadap dinding.
“Tinggalkan pintunya sedikit terbuka, Nek,” gumamnya lirih, matanya sudah setengah terpejam karena kelelahan emosional yang menguras seluruh tenaganya.
“Pintunya tidak akan pernah dikunci, Leo,” jawabku sambil mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur kecil berwarna kuning redup di atas meja nakas. “Tidurlah. Besok kita harus ke sekolah pagi-pagi untuk mengambil berkas pindahanmu.”
Aku berdiri di ambang pintu selama beberapa saat, memperhatikan napasnya yang perlahan menjadi teratur dan dalam. Gerimis di luar mulai berubah menjadi hujan lebat, suara rintiknya menabrak genteng seng di atap rumah dengan ritme yang konstan dan menenangkan.
Aku berjalan menuruni tangga kayu yang berderit pelan di bawah langkah kakiku yang berhati-hati. Di lantai bawah, aku mematikan lampu dapur, memeriksa kembali gerendel pintu belakang, lalu duduk di kursi goyang dekat perapian yang apinya sudah padam. Rumah ini sunyi, tapi untuk pertama kalinya sejak Daniel dimakamkan delapan bulan lalu, kesunyian ini tidak lagi terasa kosong dan dingin. Ada kehidupan lain di lantai atas yang sedang bernapas dengan tenang, dan selama nafasku sendiri masih tersisa di dada ini, aku tahu persis apa yang harus kulakukan besok pagi saat matahari terbit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *