GADIS YANG BERTERIAK “HENTIKAN PERNIKAHAN” JUSTRU DITERIMA KASIH OLEH PENGANTIN PRIA MILIARDER.

Bau alkohol murahan dan AC mobil Ferrari yang menusuk hidung adalah dua hal pertama yang membuat kepala Clarissa berdenyut seperti dihantam palu godam. Dia mengerjap, menatap jok kulit berwarna krem yang sekarang terkena cipratan cairan keruh dari botol rum yang masih tergenggam erat di tangan kanannya. Di sampingnya, seorang pria dengan tuksedo hitam pekat tanpa dasi—kancing teratas kemejanya sudah copot entah ke mana—sedang menginjak gas tanpa ampun. Jarum spidometer melompat melewati angka seratus dua puluh, tapi pria itu malah menyeringai seperti orang sinting yang baru saja memenangkan lotre ilegal.
“Rem, bodoh! Lampu merah di depan!” Clarissa menjerit, suaranya parau karena tadi berteriak di altar gereja orang asing. Tangannya mencari pegangan di atas pintu, tapi yang tersentuh cuma panel serat karbon licin. “Dan demi Tuhan, gue bukan pacar lo! Pocholo gue itu montir di bengkel ujung jalan, kulitnya sawo matang, bukan cowok muka licin salon kayak lo!”
Pria itu menoleh sekilas, matanya cokelat terang dan tajam, sama sekali tidak tampak panik meski suara sirene mobil pengawal keluarga mantan calon istrinya terdengar sayup-sayup di belakang. “Frankie. Nama gue Frankie Fernandez. Dan gue nggak peduli kalau cowok lo namanya Kaleng Rombeng sekalipun. Lo baru aja ngebebasin gue dari pernikahan aliansi bisnis paling mengerikan abad ini. Keluarga Daisy mau ngambil alih empat puluh persen saham logistik bokap gue, dan lo—dengan kaos oblong bergambar SpongeBob belel dan celana boxer longgar itu—baru aja jadi pahlawan nasional gue.”
“Gue mau turun!” Clarissa menendang dashboard. Bunyi gedebuk keras membuat Frankie meringis, bukan karena marah, tapi lebih ke arah geli. “Pocholo lagi mau nikah sama sepupu gue sendiri di kapel Santo Thomas! Gue harus ke sana sebelum cincinnya dipasang, bego!”

 

 

 

 


“Santo Thomas itu sepuluh kilometer ke arah selatan, Nona Mabuk. Kita sekarang di jalan tol lingkar luar menuju bandara privat,” kata Frankie santai, memutar setir tajam untuk memotong jalur sebuah truk tronton, membuat truk itu membunyikan klakson panjang yang memekakkan telinga. “Dan lagipula, kalau cowok lo mutusin buat nikahin sepupu lo, dia emang bajingan murahan. Ngapain buang tenaga buat cowok yang selera perempuannya serendah itu?”
“Lo nggak ngerti apa-apa soal kami! Kami udah nabung buat beli mesin cuci dua tabung bareng-bareng!” Clarissa meraung, sebagian karena efek miras yang mulai mengaduk lambungnya, sebagian lagi karena kenyataan pahit bahwa misi heroiknya membela cinta pertama malah nyasar ke pesta orang kaya raya. Perutnya mendadak bergejolak hebat. “Woi… Frankie atau siapa pun lo… pinggirin mobilnya. Sumpah, pinggirin. Kalau nggak, jok miliaran lo ini bakal jadi kuburan muntah gue.”
Frankie melirik wajah gadis itu yang mendadak berubah hijau pucat. Seringai percaya dirinya langsung lenyap, digantikan kepanikan murni yang jauh lebih nyata dibanding saat dia kabur dari calon mertuanya sepuluh menit lalu. “Jangan di sini! Demi Tuhan, mobil ini baru keluar dari detailing kemarin lusa!” Dia membanting setir ke bahu jalan tol berbatu, mengerem mendadak sampai ban berdecit mengeluarkan asap tipis. Belum sempat mobil berhenti total, Clarissa sudah menendang pintu hingga terbuka lebar, jatuh bertumpu pada kedua lututnya di rumput liar pinggir jalan, lalu memuntahkan isi perutnya—kombinasi rum murah, mie instan pedas tadi pagi, dan kepedihan hidup.
Frankie keluar dari mobil, merapikan jasnya dengan gerakan canggung. Beberapa pengemudi mobil lain yang melintas sempat melambatkan laju kendaraan, melongok ke arah mobil sport mewah dan pengantin pria berjas lengkap yang sedang menatap seorang cewek kucel muntah di semak-semak. Frankie merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan saputangan sutra berinisial bordir emas lalu mengulurkannya dari jarak aman, seolah Clarissa adalah hewan liar yang bisa menggigit.
“Pakai ini,” gumam Frankie, nada suaranya sedikit melunak, menyisakan kebingungan yang genuine. “Lo… lo beneran patah hati ya? Gue kira lo cuma orang gila random yang nyari sensasi.”
Clarissa merampas saputangan sutra itu tanpa rasa terima kasih, menyeka mulutnya kasar, lalu menatap pria itu dengan mata berair. “Gue pacaran sama Pocholo lima tahun. Lima tahun gue temenin dia dari zaman cuma punya motor bebek rongsok sampai punya bengkel sendiri. Terus minggu lalu, sepupu gue yang baru pulang kerja dari Dubai pamer cincin berlian, bilang kalau dia dapet calon suami pengusaha bengkel mapan. Ternyata orangnya sama. Lo pikir gue badut?”
Frankie terdiam beberapa detik. Angin jalan tol meniup rambutnya yang disisir rapi dengan pomade mahal hingga berantakan. “Gue ngerti rasanya,” ucapnya pelan, nada suaranya berubah jauh lebih rendah dari sebelumnya. “Daisy itu sahabat gue dari umur tujuh tahun. Dua bulan lalu, bokapnya bangkrut karena judi saham. Tiba-tiba keluarga kami sepakat kami harus nikah biar aset mereka nggak disita bank. Daisy bahkan nggak suka cowok. Dia punya pacar cewek di Barcelona yang disembunyikan rapat-rapat. Tapi demi gengsi keluarga, kami berdua dipaksa berdiri di altar itu hari ini. Gue nggak mau benci dia seumur hidup gue, makanya gue butuh alasan buat kabur. Lo alasan itu.”
Clarissa berdiri sempoyongan, membuang saputangan kotor itu sembarangan ke tanah, tapi kemudian memungutnya lagi karena merasa bersalah mengotori lingkungan—sebuah refleks moral kelas pekerja yang masih tersisa di otaknya yang keracunan alkohol. “Jadi kita berdua sama-sama orang kalah yang lagi lari?”
“Bukan kalah. Kita sabotase permainan kotor mereka,” potong Frankie cepat, matanya kembali menyala dengan binar nekat. “Lo punya paspor?”
“Hah? Ada di dompet selempang gue. Gue bawa dompet, KTP, paspor, semua berkas penting karena niatnya abis labrak Pocholo gue mau kabur jadi TKI ke Taiwan biar nggak ketemu keluarga besar lagi.” Clarissa menepuk tas kanvas kumal yang melingkar di dadanya.
Frankie tertawa lepas, tawa yang begitu tulus sampai kerutan di sudut matanya terlihat jelas. “Bagus. Tiket honeymoon gue ke Maladewa udah dibayar lunas. Dua minggu di vila atas air, koki pribadi, pantai privat, dan nggak bakal ada sepupu sialan lo atau keluarga gila gue yang bisa nemuin kita di sana. Lo mau ikut, atau mau gue drop di halte bus terdekat biar lo bisa pulang ke rumah dan dengar omelan tante-tante lo soal Pocholo?”
Clarissa menatap wajah pria itu lekat-lekat. Tidak ada aura predator atau mesum di sana, hanya keputusasaan seorang anak orang kaya yang kehabisan opsi waras dan sedikit kenekatan yang menular. Dia melirik botol rumnya yang tergeletak di rumput, lalu menatap langit siang yang terik. Taiwan dengan visa kerja pabrik yang belum jelas, atau Maladewa gratisan bareng pengantin kabur yang sedikit gila. Pilihan itu mendadak jadi sangat mudah di kepalanya yang masih pening.
“Gue nggak bakal tidur sama lo,” tukas Clarissa tegas, melangkah kembali ke arah pintu mobil sport itu. “Dan lo harus beliin gue baju ganti di bandara. Kaos gue bau muntah.”
“Deal, partner,” sahut Frankie sambil membukakan pintu untuknya dengan bungkukan ala pelayan istana yang berlebihan.
Perjalanan udara selama enam jam di kelas satu terasa seperti mimpi demam bagi Clarissa. Begitu efek alkohol mereda, rasa mual berganti dengan kecemasan eksistensial yang luar biasa. Dia duduk di kursi berlapis kulit yang bisa direbahkan sepenuhnya, mengenakan setelan piyama kasmir yang dibeli Frankie di butik transit bandara seharga tiga kali lipat gaji bulanannya, sementara Frankie sendiri sudah tertidur pulas dengan penutup mata sutra hitam, mendengkur halus tanpa beban. Sesekali Clarissa menyalakan layar ponselnya yang berada dalam mode terbang. Lusinan panggilan tak terjawab dari ibunya, pesan penuh makian dari sepupunya, dan satu pesan suara dari Pocholo yang tidak berani dia putar. Dia menatap layar itu lama, lalu menekan tombol hapus semua notifikasi dan menenggelamkan diri ke dalam selimut tebal pesawat.
Maladewa menyambut mereka dengan aroma garam yang pekat dan udara lembap yang hangat saat pesawat amfibi mendarat di laguna sebuah pulau privat. Resor itu begitu sunyi, hanya ada suara deburan ombak lembut dan gesekan daun kelapa tertiup angin laut. Manajer vila, seorang pria paruh baya berpakaian serba putih, menyambut mereka di dermaga kayu tanpa sedikit pun menunjukkan rasa heran melihat Frankie Fernandez tiba dengan seorang wanita yang rambutnya diikat asal-asalan dengan karet gelang sayur, bukan Daisy si sosialita yang fotonya sempat terpampang di majalah gaya hidup minggu lalu.
“Selamat datang di surga, Tuan Fernandez dan Nyonya,” sapa manajer itu sopan.


Clarissa hampir menyemburkan tawa mendengar panggilan ‘Nyonya’, tapi Frankie menyenggol lengannya pelan sambil menyerahkan kartu kredit tanpa limit untuk biaya deposit.
Vila mereka adalah struktur megah dari kayu jati dan kaca besar yang menjorok langsung ke atas laut toska. Kolam renang tanpa batas di dek belakang menyatu dengan cakrawala samudra Hindia. Di dalam kamar utama, terdapat ranjang berukuran super king dengan kelopak mawar merah yang ditabur membentuk simbol hati raksasa, lengkap dengan dua angsa dari handuk yang saling menempelkan paruh.
“Klasik,” komentar Clarissa datar, menendang tumpukan kelopak mawar di lantai dengan ujung kakinya. “Gue tidur di sofa luar. Lo ambil kasur angsa norak ini.”
“Sofa luar itu kena angin laut langsung, lo bisa masuk angin,” Frankie melempar tas ranselnya ke sudut ruangan, melonggarkan kemeja pantainya yang baru. “Kamar ini punya dua kasur tambahan lipat di lemari cadangan. Gue udah minta staf nyiapin sebelum kita sampai. Santai aja, gue bukan tipe cowok di novel picisan yang bakal maksa lo tidur satu ranjang demi alasan ‘menghangatkan tubuh’.”
Clarissa tertegun sesaat, lalu tersenyum tipis. “Baguslah kalau sadar diri.”
Tiga hari pertama berlalu dalam keheningan yang aneh namun menenangkan. Mereka tidak saling mengganggu. Clarissa menghabiskan sebagian besar waktunya duduk di ujung dek kayu dengan kaki menjuntai ke air laut, membaca tumpukan majalah lama yang dia temukan di lobi, atau sekadar menatap ikan-ikan karang kecil yang berenang di bawahnya. Frankie lebih banyak menyendiri di sudut lain, berkutat dengan laptopnya, mematikan telepon satelit setiap kali nama pengacara ayahnya muncul di layar, lalu sesekali turun ke laut untuk snorkeling sendirian hingga punggungnya terbakar matahari.
Rasa canggung itu mulai mencair di malam keempat, ketika badai tropis tiba-tiba menghantam pulau tersebut. Hujan deras turun seperti ditumpahkan dari ember raksasa, disertai angin kencang yang membuat vila kayu berderit-derit mengerikan. Listrik utama pulau mendadak padam, menyisakan hanya lampu darurat remang-remang bertenaga baterai di koridor. Clarissa yang tadinya mencoba tidur di ruang tengah akhirnya menyerah dan mengetuk pintu kamar Frankie, memegang bantalnya erat-erat seperti anak kecil.
“Gue nggak takut gelap, gue cuma nggak mau mati keseret badai sendirian,” kilah Clarissa begitu pintu terbuka, mendapati Frankie sedang duduk di lantai beralaskan selimut sambil menyalakan lilin aromaterapi.
“Masuk aja. Suara kayunya emang bikin parno kalau baru pertama kali ngalamin badai di atas air begini,” Frankie menggeser posisinya, memberi ruang di sampingnya. Di depannya ada sepiring keju, biskuit kering, dan sebotol anggur merah. “Nggak ada sinyal sama sekali. Kita bener-bener terisolasi sekarang.”
Clarissa duduk bersila di sampingnya, menarik selimut menutupi kakinya yang dingin. “Bagus deh. Ponsel gue dari kemarin rasanya kayak mau meledak tiap kali dapet wifi. Nyokap gue bilang gue udah bikin malu silsilah keluarga tujuh turunan karena ngilang gitu aja pas hari pernikahan Pocholo.”
Frankie menuangkan anggur ke gelas kedua lalu menyodorkannya pada Clarissa. Kali ini Clarissa menerimanya tanpa protes, menyesapnya perlahan. Rasanya pahit, manis, dan hangat di kerongkongan, jauh lebih beradab dibanding rum murah tempo hari.
“Lo mau denger kabar yang lebih lucu?” Frankie menatap api lilin yang bergoyang ditiup hembusan angin dari celah jendela. “Daisy udah kabur ke Spanyol kemarin pagi. Begitu tahu gue kabur dari altar bareng cewek misterius, dia langsung manfaatin kekacauan itu buat bungkus koper dan terbang ke pacarnya. Bokapnya ngamuk besar, bokap gue juga sama. Tapi sekarang udah terlambat. Skandalnya udah meledak di semua koran bisnis.”
Clarissa tertawa kecil, suara tawanya membaur dengan deburan ombak ganas di luar. “Jadi… lo berhasil nyelamatin dia juga?”
“Secara nggak langsung, iya. Dua burung tumbang dengan satu batu lemparan lo,” Frankie menatap Clarissa, pandangannya kini lebih lembut, tanpa topeng arogansi orang kaya yang biasa dia tunjukkan. “Lo tahu, Clarissa, pas lo teriak ‘Hentikan pernikahan ini’ di pintu kapel itu… gue nggak pernah ngelihat manusia seberani itu seumur hidup gue. Muka lo blepotan maskara luntur, kaos lo kumal, tapi lo berdiri di sana kayak jenderal perang yang siap ngehancurin dunia demi harga diri lo. Detik itu juga gue mikir, kalau gue harus kabur, gue mau kabur bareng orang gila ini.”
Pipi Clarissa mendadak panas, bukan hanya karena alkohol, tapi karena cara Frankie menatapnya—tatapan yang belum pernah diberikan Pocholo selama lima tahun mereka bersama. Pocholo selalu menuntutnya untuk tampil rapi, pendiam, dan menurut, memperlakukannya seperti pajangan rumah tangga masa depan yang harus tahu tempatnya di dapur. Tidak pernah sekalipun pria itu melihat keliaran dalam dirinya sebagai sebuah kekuatan.
“Gue nggak berani, Frankie. Gue cuma kalap karena ngerasa dibodohi,” bisik Clarissa, memutar-mutar batang gelas anggurnya. “Dan sekarang badainya reda, terus apa? Kita nggak bisa selamanya ada di pulau ini. Besok atau lusa, listrik nyala lagi, dan dunia nyata bakal nunggu kita di bandara.”
“Dunia nyata bisa nunggu sedikit lebih lama,” jawab Frankie tenang. Dia meraih tangan Clarissa yang dingin, jemarinya yang terbiasa memegang pena mahal dan dokumen kontrak terasa hangat di kulit tangan Clarissa yang kasar karena kerja harian. “Gue punya tawaran baru buat lo. Bukan drama kawin kontrak atau omong kosong anak miliarder lainnya. Di Singapura, gue punya perusahaan rintisan logistik independen yang nggak ada hubungannya sama keluarga Fernandez. Bersih dari campur tangan bokap gue. Gue butuh orang lapangan yang ngerti realitas hidup kelas pekerja, orang yang nggak takut buat ngomong kasar di depan dewan direksi kalau mereka bikin keputusan bego.”
Clarissa mengerjapkan mata, menatap tangan mereka yang bertaut, lalu menatap wajah Frankie. “Lo mau nawarin gue kerjaan? Setelah semua kekacauan ini?”
“Gue nawarin lo jalan keluar baru. Bukan jadi TKI pabrik di Taiwan, bukan jadi korban patah hati yang nangis di pojokan rumah tantenya. Lo bisa mulai hidup lo sendiri di tempat baru, dan lo bakal kerja bareng gue. Kalau lo ngerasa kita cocok lebih dari sekadar rekan kerja… ya itu urusan bab selanjutnya.”
Clarissa menarik tangannya perlahan, membuat Frankie sedikit tersentak, namun kemudian Clarissa justru tersenyum lebar—sebuah senyum nakal yang sama persis seperti saat dia menendang pintu gereja tempo hari.
“Gajinya harus dua kali lipat dari UMR Singapura, tiket apartemen lo yang tanggung, dan lo nggak boleh ngungkit-ngungkit soal insiden muntah di jok Ferrari lo lagi,” tagih Clarissa dengan nada menantang.
Frankie mendengus geli, lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan resmi di bawah temaram lilin yang hampir habis. “Sepakat, Nona SpongeBob.”
Di luar, deru angin badai perlahan mulai melambat, menyisakan suara tetesan air hujan yang ritmis di atap vila. Pernikahan yang salah itu memang telah berakhir berantakan, namun di atas pecahan kekacauan tersebut, sebuah babak baru yang sama sekali tidak mereka rencanakan—tanpa anak kembar tiga fiktif dan tanpa belenggu masa lalu—akhirnya dimulai dengan langkah yang mantap dan kepala yang tegak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *