DIBELI DENGAN UTANG 95 JUTA OLEH PRIA TULI, WANITA INI MENEMUKAN SESUATU DI TELINGA SUAMINYA HINGGA

Namun Bagas sendiri bahkan tidak pernah mampu mendengar suara teriakannya itu…

Pinset di tangan Kirana hampir terlepas.

Dia buru-buru meletakkan benda hitam yang baru saja dikeluarkannya ke dalam mangkuk kecil di lantai.

Lalu dia membeku.

Benda itu bukan sekadar gumpalan kotoran.

Bukan pula sesuatu yang bisa langsung dia kenali.

 

 

 

 

 

 

Bentuknya memanjang, hitam kecokelatan, dan salah satu ujungnya tampak seperti diselimuti lapisan keras. Ada bagian kecil yang bergerak karena baru terlepas dari jaringan yang lembap.

Kirana mundur setengah langkah.

“Ya Allah…”

Bagas sudah tidak memperhatikannya.

Lelaki itu menekan sisi kepalanya sambil terengah-engah. Anehnya, beberapa detik kemudian ekspresi kesakitan di wajahnya mulai berubah.

Tangannya yang semula mencengkeram lantai perlahan mengendur.

Bagas mengangkat kepala.

Matanya berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu dia memandang Kirana dengan ekspresi aneh.

Bukan kesakitan.

Bukan ketakutan.

Kebingungan.

Bagas menunjuk ke arah kompor.

Kirana mengikuti arah jarinya.

Air yang tadi dipanaskan masih mendidih di dalam panci.

Tutup pancinya sedikit bergoyang.

Tik.

Tik.

Tik.

Bagas menelan ludah.

Dia menunjuk lagi.

Kemudian tangannya bergerak cepat mencari buku catatan.

“Apa itu?”

Kirana mengernyit.

Bagas menunjuk panci.

“Apa itu?”

Kirana membaca tulisan tersebut dua kali.

“Itu suara tutup panci.”

Bagas menatap bibir Kirana.

Lalu kembali menatap panci.

Tik.

Tik.

Tik.

Wajah lelaki itu berubah.

Dia berdiri terlalu cepat sampai hampir kehilangan keseimbangan.

Kirana segera memegang lengannya.

Bagas justru melepaskan diri, berjalan ke jendela, lalu membuka daun jendela dengan kasar.

Malam di perbukitan Pangalengan sangat sunyi.

Tetapi bukan benar-benar sunyi.

Ada jangkrik.

Angin menggesek daun bambu.

Seekor kambing mengembik dari kandang.

Dari kejauhan terdengar suara sepeda motor melintas di jalan desa.

Bagas berdiri kaku.

Kemudian kedua tangannya naik menutupi mulut.

Air mata jatuh begitu saja.

Kirana tidak langsung memahami.

Sampai Bagas menoleh kepadanya.

Bibirnya bergerak.

“Kirana…”

Pelafalannya masih kaku.

Tetapi kali ini dia mengucapkan nama itu sambil menatap Kirana dengan mata membesar.

“Aku…”

Dia berhenti.

Kirana merasa jantungnya berdegup semakin cepat.

Bagas menunjuk telinga kirinya, kemudian telinga kanannya.

“Aku dengar…”

Kirana langsung mendekat.

“Mas bisa dengar aku?”

Bagas tidak menjawab.

Dia hanya menatap wajah Kirana.

“Mas Bagas?”

Lelaki itu tiba-tiba menangis.

Bukan tangisan yang rapi seperti dalam sinetron.

Dia terisak sampai bahunya berguncang.

Tangannya menutup wajah.

Kirana panik dan tanpa sadar memegang kedua lengannya.

“Mas, kita ke rumah sakit sekarang.”

Bagas menggeleng.

“Kita harus periksa. Aku tidak tahu benda apa yang keluar dari telinga Mas.”

Bagas tetap menggeleng.

Lalu dia melihat mangkuk di lantai.

Wajahnya berubah lagi.

Kali ini ada ketakutan lama di sana.

Sangat lama.

Dia mengambil buku catatan.

Tangannya gemetar ketika menulis.

“Simpan.”

Kirana membaca.

“Kenapa?”

Bagas menulis lagi.

“Jangan dibuang.”

“Kenapa?”

Bagas menatapnya.

Lama sekali.

Lalu hanya satu kalimat yang ditulisnya.

“Karena saya pernah melihat benda itu.”

Kirana merasakan tengkuknya dingin.

“Kapan?”

Bagas tidak menjawab.

Dia mengambil kain bersih, menutup mangkuk tersebut, lalu memasukkannya ke dalam kotak makanan plastik.

Setelah itu, dia berdiri.

“Rumah sakit.”

Itu salah satu dari sedikit kata yang diucapkannya malam itu.

Mereka berangkat sekitar pukul dua dini hari.

Bagas mengemudikan pikap tuanya sementara Kirana duduk di sebelahnya sambil memegangi kotak plastik tersebut.

Tidak ada percakapan.

Tetapi malam itu berbeda.

Beberapa kali Bagas tiba-tiba memperlambat mobil.

Dia mendengar klakson kendaraan.

Suara hujan kecil di kaca depan.

Suara ban menyentuh jalan basah.

Hal-hal biasa bagi Kirana tampaknya menjadi sesuatu yang luar biasa bagi Bagas.

Sekitar empat puluh menit kemudian mereka tiba di sebuah rumah sakit di Bandung Selatan.

Dokter jaga yang memeriksa Bagas bernama dr. Farhan.

Setelah pemeriksaan awal, ekspresi dokter itu justru membuat Kirana semakin tidak tenang.

“Sejak kapan Bapak kehilangan pendengaran?”

Bagas menjawab terbata-bata.

“Sejak… kecil.”

“Berapa umur Bapak waktu itu?”

Bagas menatap langit-langit.

“Tujuh… mungkin delapan.”

Dokter memeriksa telinga kanan Bagas sekali lagi.

Kemudian telinga kiri.

“Pendengaran Bapak tidak langsung normal. Jangan berharap seperti itu. Ada peradangan cukup berat dan kemungkinan jaringan lama yang rusak. Kita perlu pemeriksaan lanjutan.”

Kirana menyerahkan kotak plastik.

“Dok, ini yang tadi keluar.”

Dokter Farhan membuka kotak itu.

Beberapa detik kemudian, dia mengernyit.

Dia mengambil alat kecil dan mengamati benda tersebut.

“Ini bukan serangga utuh.”

Kirana terdiam.

“Tadi bergerak, Dok.”

“Bisa jadi ada jaringan atau organisme kecil yang menempel. Tapi bagian keras ini…”

Dokter berhenti.

Bagas langsung menatapnya.

“Kenapa, Dok?”

Farhan memutar benda tersebut.

“Ada material yang kelihatannya bukan berasal dari tubuh.”

Kirana merasakan sesuatu turun ke perutnya.

“Artinya?”

“Saya belum bisa memastikan. Jangan mengambil kesimpulan dulu.”

Dokter memasukkannya ke wadah pemeriksaan.

Bagas mendadak berdiri.

“Saya tahu.”

Semua orang menoleh.

Bagas memegang sisi meja.

“Saya pernah lihat.”

Kirana berdiri di sampingnya.

“Mas bilang begitu tadi. Di mana?”

Bagas tidak langsung menjawab.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, dia mencoba menceritakan masa kecilnya menggunakan suara sendiri.

Terputus-putus.

Kadang terlalu keras.

Kadang hanya bibir yang bergerak.

Ketika berusia delapan tahun, Bagas tinggal bersama ayahnya, almarhum Pak Rahmat, di desa yang sama.

Pak Rahmat memiliki lahan cukup luas.

Saat itu Bagas belum mengalami gangguan pendengaran.

Dia anak yang aktif.

Suka memanjat pohon.

Suka bermain di sungai.

Dan, menurut Bagas, dia sangat berisik.

“Saya ingat suara ibu,” katanya pelan.

Kirana tidak menyela.

“Itu suara terakhir yang saya ingat sebelum semuanya…”

Bagas menekan dahinya.

Ibunya meninggal ketika Bagas berusia tujuh tahun.

Setahun kemudian terjadi sesuatu.

Sebuah malam yang selama ini dianggap Bagas sebagai mimpi buruk.

Dia sedang tidur ketika beberapa laki-laki datang ke rumah.

Bagas mengenali salah satunya.

Pak Hendra.

Ayah Kirana.

Kirana langsung menatap suaminya.

“Abah?”

Bagas mengangguk.

Ada orang lain bersama Pak Hendra.

Bagas tidak mengenal mereka saat itu.

Dia hanya ingat ayahnya sedang bertengkar dengan mereka mengenai sebidang tanah.

Malam berikutnya, Bagas diberi minuman oleh seseorang.

Setelah itu ingatannya kabur.

Dia terbangun dengan sakit luar biasa di kepala.

Beberapa hari kemudian pendengarannya memburuk.

Ayahnya membawa Bagas berobat ke berbagai tempat.

Tidak berhasil.

Setahun kemudian Pak Rahmat meninggal karena sakit.

Sejak itulah Bagas hidup bersama pamannya sampai dewasa.

“Kenapa Mas tidak pernah cerita kepada siapa pun?”

Bagas tersenyum pahit.

“Siapa yang mau percaya anak tuli?”

Kalimat itu membuat Kirana tidak mampu berkata-kata.

Pagi menjelang ketika mereka pulang.

Namun mereka tidak langsung menuju rumah.

Bagas membelokkan pikap ke sebuah warung kecil di pinggir jalan.

Dia membeli dua gelas kopi panas.

Saat penjual meletakkan gelas di meja, sendok kecil berbenturan dengan kaca.

Ting.

Bagas mendadak tersenyum.

Kirana memperhatikannya.

“Apa?”

Bagas menunjuk gelas.

“Bagus.”

“Apanya?”

“Suara itu.”

Kirana tertawa kecil.

Entah kenapa air matanya ikut keluar.

Bagas tertawa juga.

Aneh sekali.

Dua orang yang sepuluh hari lalu bahkan tidak ingin menikah satu sama lain sekarang duduk di warung sebelum matahari terbit sambil menangis karena bunyi sendok mengenai gelas.

Tetapi persoalan sebenarnya baru dimulai dua hari kemudian.

Hasil pemeriksaan keluar.

Dokter Farhan meminta mereka datang kembali.

Bagian keras yang ditemukan memang merupakan benda asing.

Sudah berada di sana sangat lama.

Peradangan kronis di sekitarnya kemungkinan besar memperburuk gangguan pendengaran Bagas selama bertahun-tahun, meskipun dokter menegaskan bahwa penyebab kondisi pendengarannya tetap harus dinilai melalui pemeriksaan spesialis lebih lengkap.

Ada satu hal lain.

Benda itu memiliki bentuk yang terlalu teratur untuk dianggap sebagai sesuatu yang masuk secara alami.

Bagas tidak mengatakan apa-apa sepanjang perjalanan pulang.

Sore harinya dia masuk ke gudang belakang rumah.

Kirana mengikutinya.

Bagas membuka sebuah peti kayu tua.

Di dalamnya ada dokumen tanah, foto, pakaian lama, dan beberapa surat milik ayahnya.

Mereka mencari hampir dua jam.

Tidak menemukan apa pun.

Sampai Kirana melihat bagian dasar peti sedikit terangkat.

Dia mengetuknya.

Tok.

Tok.

Bagas menoleh.

Kirana memasukkan ujung gunting jahit ke celah kayu.

Papan tipis itu terangkat.

Di bawahnya terdapat amplop plastik yang sudah menguning.

Bagas langsung duduk.

Ada beberapa surat.

Satu foto.

Dan sebuah buku catatan kecil milik Pak Rahmat.

Bagas membaca halaman demi halaman.

Tiba-tiba dia berhenti.

Kirana melihat wajahnya kehilangan warna.

“Mas?”

Bagas menyerahkan buku itu.

Tulisan tangan di sana sudah memudar.

Namun masih bisa dibaca.

Pak Rahmat pernah mencatat perselisihannya dengan empat orang terkait lahan perkebunan.

Salah satu nama itu adalah Hendra.

Nama ayah Kirana.

Ada catatan lain mengenai taruhan bodoh yang dibuat sekelompok pemuda desa puluhan tahun lalu.

Awalnya hanya soal siapa yang berani mempermalukan Rahmat.

Kemudian berubah menjadi sesuatu yang lebih kejam.

Mereka ingin membuat anak Rahmat “tidak mendengar lagi” agar Rahmat ketakutan dan menjual tanahnya dengan harga murah.

Pak Rahmat menulis bahwa dia mencurigai seseorang telah melakukan sesuatu kepada Bagas.

Tetapi tidak pernah memiliki bukti.

Kirana menutup buku tersebut.

Tangannya dingin.

“Abah tahu?”

Bagas tidak menjawab.

Pertanyaan yang lebih buruk muncul sendiri.

Jika Pak Hendra memang mengetahui sesuatu…

mengapa dua puluh sembilan tahun kemudian dia justru menyerahkan Kirana kepada Bagas?

Malam itu Kirana menelepon ayahnya.

“Abah, besok aku mau pulang.”

Suara Pak Hendra terdengar gugup.

“Kenapa? Bagas berbuat sesuatu?”

“Tidak.”

“Terus?”

“Aku cuma kangen.”

Keesokan paginya Kirana dan Bagas datang ke rumah Pak Hendra.

Rendy sedang berada di sana.

Begitu melihat Bagas turun dari mobil, Rendy menyeringai.

“Wah, pengantin baru pulang.”

Biasanya Bagas tidak bereaksi.

Kali ini dia menoleh.

“Rendy.”

Senyum Rendy langsung hilang.

“Kok…”

Bagas berjalan mendekat.

“Saya bisa dengar sedikit.”

Wajah Pak Hendra yang baru keluar dari rumah mendadak pucat.

Sangat pucat.

Kirana melihatnya.

Dan saat itulah dia tahu.

Ayahnya memang menyimpan sesuatu.

Mereka duduk di ruang tengah.

Kirana meletakkan buku catatan Pak Rahmat di meja.

Pak Hendra hanya melihat sampulnya.

Gelas teh di tangannya langsung bergetar.

“Abah kenal ini?”

Tidak ada jawaban.

“Abah.”

Pak Hendra menunduk.

Rendy mengambil buku itu.

“Apa-apaan sih?”

“Taruh.”

Suara Pak Hendra tiba-tiba keras.

Semua terdiam.

Rendy meletakkan buku itu kembali.

Pak Hendra mengusap wajahnya.

“Saya pikir benda itu sudah tidak ada.”

Kirana merasa dadanya sesak.

“Jadi Abah tahu?”

Pak Hendra tidak langsung menjawab.

Bagas hanya duduk.

Anehnya, dia tidak marah.

Justru ketenangannya membuat ruangan terasa semakin sempit.

Pak Hendra akhirnya bicara.

Tiga puluh tahun lalu, dia masih muda.

Bodoh.

Suka berjudi.

Dia dan beberapa pemuda sering membuat taruhan keterlaluan.

Pak Rahmat pernah mempermalukan mereka setelah memergoki permainan judi di lahan perkebunan.

Salah seorang dari kelompok itu kemudian membuat taruhan.

Siapa yang bisa membuat anak Rahmat ketakutan sampai tidak berani keluar rumah akan mendapat uang.

Pak Hendra mengaku ikut berada di sana.

Namun menurut pengakuannya, dia tidak tahu bahwa salah seorang pemuda membawa benda kecil dan memasukkannya ke telinga Bagas ketika anak itu dalam keadaan setengah sadar.

Pak Hendra melihatnya.

Dan diam.

Keesokan harinya Bagas demam tinggi.

Beberapa minggu kemudian pendengarannya mulai terganggu.

“Kenapa Abah tidak bilang?” suara Kirana pecah.

Pak Hendra menangis.

“Abah takut.”

“Takut?”

“Abah masih sembilan belas tahun.”

“Bagas waktu itu delapan tahun!”

Pak Hendra menutup wajah.

Rendy tidak lagi tersenyum.

Bagas akhirnya bicara.

“Kenapa Kirana?”

Pak Hendra mengangkat kepala.

“Kenapa… menikahkan Kirana dengan saya?”

Pertanyaan itu rupanya lebih berat daripada semua pertanyaan sebelumnya.

Pak Hendra tidak menjawab.

Sampai Kirana menghantam meja dengan telapak tangan.

“Jawab, Bah!”

Pak Hendra tersentak.

“Karena Rendy.”

Kirana menoleh kepada kakaknya.

Rendy berdiri.

“Jangan bawa-bawa gue.”

Pak Hendra menunjuknya.

“Utang itu bukan utang Abah.”

Sunyi.

Kirana tidak bergerak.

“Apa?”

Pak Hendra menangis semakin keras.

“Uang Rp95 juta itu sebagian besar utang Rendy. Dia pakai untuk judi online dan pinjaman. Abah menutupinya.”

Rendy langsung membantah.

“Itu bohong!”

“Diam!”

Pak Hendra berdiri.

Untuk pertama kalinya Kirana melihat ayahnya berteriak kepada anak laki-laki kesayangannya.

“Sudah cukup!”

Ternyata beberapa bulan sebelumnya Rendy mengetahui kisah lama Bagas dari salah seorang mantan teman Pak Hendra.

Rendy kemudian membuat ide yang menurutnya lucu.

Bagas sudah hampir empat puluh tahun dan belum menikah.

Kirana selalu dianggap tidak laku.

Maka Rendy menantang ayahnya.

Kalau Pak Hendra berani menawarkan Kirana kepada Bagas sebagai istri, Rendy akan berhenti berjudi dan membantu melunasi sebagian utang.

Pak Hendra menyetujuinya.

Bukan karena Bagas meminta membeli Kirana.

Bukan.

Bagas bahkan tidak mengetahui asal-usul uang tersebut.

Pak Hendra datang kepadanya dan mengatakan keluarga membutuhkan Rp95 juta sebagai bantuan penyelesaian utang sebelum pernikahan. Sebagai gantinya, Pak Hendra menawarkan pernikahan dengan Kirana.

Bagas menerima karena…

dia sudah mengenal Kirana.

Kirana menatap suaminya.

“Mas?”

Bagas tampak salah tingkah.

“Saya pernah lihat kamu.”

“Kapan?”

“Pasar.”

“Kapan?”

“Sering.”

Bagas menunduk.

“Kamu memperbaiki tas anak kecil gratis.”

Kirana terdiam.

Bagas melanjutkan dengan suara kaku.

“Anak itu tidak punya uang. Kamu jahit tas sekolahnya.”

Tiba-tiba Kirana mengingatnya.

Seorang anak perempuan pernah datang ke kios jahitnya membawa tas sekolah robek.

Kirana memang memperbaikinya tanpa meminta bayaran.

Dia tidak pernah menyadari Bagas berada di sana.

“Saya tidak membeli kamu,” kata Bagas.

Kirana menatapnya.

“Saya pikir uang itu bantuan untuk keluarga kamu. Saya…”

Dia kesulitan mencari kata.

Kemudian berkata sangat pelan,

“Saya cuma ingin punya rumah yang ada orang menunggu.”

Kalimat sederhana itu menghancurkan sesuatu dalam diri Kirana.

Bukan karena sedih.

Karena selama hidupnya orang selalu mengatakan Bagas aneh.

Menakutkan.

Pemarah.

Tuli.

Tidak ada seorang pun yang pernah bertanya apa yang sebenarnya dia inginkan.

Ternyata hanya itu.

Pulang dan ada seseorang di rumah.

Kirana menoleh kepada Rendy.

“Jadi semua ini taruhan buat kamu?”

Rendy tidak menjawab.

“Menikahkan adikmu sendiri itu lucu?”

“Gue cuma bercanda.”

Kirana tertawa pendek.

Tidak ada sedikit pun rasa lucu dalam tawanya.

“Selama dua puluh tiga tahun hidupku, setiap kali kamu menyakiti aku, kamu bilang bercanda.”

Rendy menunduk.

“Mulai sekarang aku tidak ikut bercanda lagi.”

Kirana mengambil buku catatan.

Dia berdiri.

Pak Hendra mencoba memegang tangannya.

“Nduk…”

Kirana mundur.

“Utang itu urusan Abah dan Rendy.”

“Tapi…”

“Aku bukan pembayaran.”

Kalimat itu keluar tenang.

Justru karena tenang, Pak Hendra tidak mampu menjawab.

Kirana berjalan keluar.

Bagas mengikutinya.

Mereka tidak melaporkan semuanya secara gegabah. Mereka membawa dokumen lama tersebut untuk mendapatkan nasihat hukum dan menyerahkan temuan medis kepada pihak yang berwenang agar riwayat kejadian dapat diperiksa sebagaimana mestinya.

Beberapa orang yang disebut dalam catatan Pak Rahmat sudah meninggal.

Sebagian pindah entah ke mana.

Bukti setelah hampir tiga puluh tahun jelas tidak sederhana.

Kirana akhirnya mengerti satu hal yang sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya.

Kebenaran tidak selalu datang seperti palu hakim.

Kadang bentuknya hanya sebuah buku tua.

Sebuah benda kecil.

Pengakuan seorang ayah.

Dan keberanian untuk berkata: cukup.

Bagas menjalani perawatan selama berbulan-bulan.

Pendengarannya tidak pulih sempurna.

Dokter sudah memperingatkan itu sejak awal.

Telinga kirinya tetap mengalami gangguan berat.

Telinga kanannya membaik sedikit demi sedikit setelah peradangan ditangani dan dia menggunakan alat bantu dengar yang sesuai.

Hari pertama Bagas memakai alat itu, Kirana membawanya ke halaman belakang rumah.

“Mas.”

Bagas menoleh.

“Kedengeran?”

“Sedikit.”

Kirana tersenyum.

Kemudian seekor kambing mengembik keras tepat di belakang Bagas.

“Mbeeek!”

Bagas terlonjak sampai hampir menjatuhkan ember.

Kirana tertawa terbahak-bahak.

Bagas memelototi kambing tersebut.

“Keras sekali.”

Kirana malah semakin tertawa.

Bagas akhirnya ikut tertawa.

Mereka mulai membangun kehidupan yang tidak direncanakan siapa pun.

Kirana memindahkan mesin jahitnya ke salah satu ruangan kosong di rumah.

Awalnya hanya menerima pesanan dari warga sekitar.

Lalu dia membuat pakaian sederhana.

Kemeja.

Mukena.

Baju anak.

Tas kain.

Bagas membuatkan rak untuknya.

Rak pertama miring.

Kirana memandangnya lama.

“Mas.”

“Hm?”

“Ini rak atau mau roboh?”

Bagas melihat hasil pekerjaannya sendiri.

“Modern.”

Kirana tertawa sampai perutnya sakit.

Bagas ternyata punya selera humor yang selama puluhan tahun tidak pernah diketahui orang.

Usaha jahit Kirana berkembang.

Mereka memberi nama sederhana pada tempat itu:

Rumah Jahit Kirana.

Tidak ada nama Bagas.

Bagas sendiri yang meminta begitu.

“Kenapa?”

“Karena ini punya kamu.”

“Tapi rumahnya punya Mas.”

Bagas menggeleng.

“Rumah kita.”

Kirana tidak menjawab.

Dia hanya masuk ke dapur karena mendadak ingin menangis.

Hubungannya dengan Pak Hendra tidak langsung pulih.

Butuh waktu.

Berbulan-bulan.

Pak Hendra akhirnya menjual sebagian aset pribadinya untuk menyelesaikan utang yang memang menjadi tanggung jawabnya dan berhenti melindungi Rendy dari akibat perbuatannya sendiri.

Rendy pergi dari desa beberapa waktu.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, tidak ada ayah yang membereskan kekacauan di belakangnya.

Hampir setahun kemudian dia kembali.

Tubuhnya lebih kurus.

Tidak ada teman-teman yang dulu tertawa bersamanya.

Rendy datang ke rumah Kirana sendirian.

Bagas sedang memberi makan kambing.

Kirana sedang memotong kain.

Rendy berdiri di pintu.

“Kir…”

Kirana tidak menoleh.

“Apa?”

“Gue mau minta maaf.”

Gunting di tangan Kirana berhenti.

Rendy menelan ludah.

“Gue nggak minta lo langsung maafin.”

Kirana akhirnya menatapnya.

“Bagus.”

Rendy tampak bingung.

“Karena aku memang belum bisa.”

Rendy mengangguk.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada musik.

Tidak ada keajaiban.

Hanya seorang kakak yang akhirnya belajar bahwa kata maaf tidak otomatis menghapus dua puluh tahun luka.

Tetapi sebelum pergi, Rendy meletakkan sesuatu di meja.

Sebuah tas sekolah kecil.

Talinya putus.

“Anak tetangga,” katanya. “Katanya Mbak Kirana bisa benerin.”

Kirana memandang tas itu.

Kemudian memandang Rendy.

“Taruh.”

Rendy meletakkannya.

Itulah awal yang mereka punya.

Tidak sempurna.

Tapi cukup.

Dua tahun setelah pernikahan itu, rumah batu di lereng bukit sudah berubah.

Bagian depannya menjadi tempat jahit.

Di sampingnya ada kandang kambing yang lebih besar.

Di teras tergantung lonceng kecil.

Bagas menyukai lonceng itu.

Kadang dia sengaja menyentuhnya hanya untuk mendengar bunyinya.

Ting…

Dia selalu tersenyum.

Suatu sore, Kirana sedang menjahit ketika Bagas datang dari belakang.

“Kirana.”

“Hm?”

“Saya dengar sesuatu.”

“Apa?”

Bagas menunjuk ke dapur.

Kirana memasang wajah bingung.

“Apa?”

Bagas tersenyum lebar.

“Anak kita bangun.”

Kirana langsung berdiri.

Dari kamar belakang terdengar tangisan bayi.

Tidak terlalu keras.

Namun cukup.

Bagas berjalan lebih dulu.

Di dalam kamar, bayi perempuan mereka yang baru berusia tiga bulan sedang menangis sambil menggerakkan tangan kecilnya.

Bagas mengangkatnya dengan hati-hati.

“Ssst…”

Bayi itu justru menangis semakin keras.

Bagas panik.

“Kirana.”

“Apa?”

“Kenapa makin keras?”

“Ya jangan tanya aku. Itu anak Mas juga.”

Bagas menggendongnya sambil berjalan ke sana kemari.

Akhirnya bayi itu tenang.

Kepala kecilnya bersandar di dada ayahnya.

Bagas tidak bergerak.

Matanya berkaca-kaca.

Kirana berdiri di pintu.

“Ada apa?”

Bagas menatap anak mereka.

“Saya bisa dengar napasnya.”

Kirana tidak sanggup menjawab.

Dia berjalan mendekat dan menyandarkan kepala ke bahu suaminya.

Di luar, hujan tipis mulai turun di atas perkebunan.

Suara air mengenai genting.

Ayam berlarian menuju kandang.

Lonceng kecil di teras bergoyang tertiup angin.

Ting…

Ting…

Bagas mendengarnya.

Tidak sempurna.

Tetapi cukup jelas.

Dulu, semua orang mengenalnya sebagai si tuli dari bukit.

Pria aneh yang konon “membeli” seorang perempuan dengan uang Rp95 juta.

Bertahun-tahun kemudian, cerita yang dikenal warga berubah.

Mereka mengenal Bagas sebagai peternak yang selalu pulang sebelum magrib karena putrinya menunggu.

Mereka mengenal Kirana sebagai pemilik tempat jahit yang kini mempekerjakan beberapa perempuan dari desa.

Dan rumah yang dulu dianggap terlalu sunyi itu justru menjadi salah satu rumah paling ramai di lereng bukit.

Suatu malam, setelah anak mereka tertidur, Kirana menemukan buku catatan lama yang dulu mereka gunakan untuk berbicara.

Halaman pertama masih ada.

Tulisan Bagas pada malam pertama pernikahan mereka masih terbaca.

“Kamar ini untuk kamu. Saya akan tidur di sofa ruang tengah. Di rumah ini, tidak ada seorang pun yang akan memaksa kamu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan.”

Kirana tersenyum.

Bagas duduk di sampingnya.

“Apa?”

Kirana menunjukkan halaman itu.

Bagas membaca.

Wajahnya malu.

“Tulisan saya jelek.”

“Itu yang Mas pikirin?”

“Iya.”

Kirana menggeleng sambil tertawa.

Dia mengambil pulpen.

Di bawah tulisan lama itu, Kirana menambahkan satu kalimat.

Bagas membacanya.

“Kamu tidak pernah membeli saya. Kamu justru orang pertama yang memberi saya pilihan.”

Bagas terdiam.

Kemudian mengambil pulpen dari tangan Kirana.

Dia menulis tepat di bawahnya.

“Saya juga tidak menyelamatkan kamu.”

Kirana mengangkat alis.

Bagas melanjutkan.

“Kita cuma berhenti membiarkan orang lain menentukan hidup kita.”

Kirana membaca kalimat tersebut.

Lalu menutup buku.

Tidak ada lagi yang perlu ditulis.

Dari kamar belakang terdengar bayi mereka mulai merengek.

Bagas berdiri lebih dulu.

“Giliran Mas.”

Bagas menghela napas.

“Kemarin juga saya.”

“Kemarin siapa yang bangun tiga kali?”

Bagas berpikir.

“Kamu.”

“Nah.”

Bagas berjalan menuju kamar.

Baru beberapa langkah, dia berhenti dan menoleh.

“Kirana.”

“Apa lagi?”

Bagas tersenyum.

“Terima kasih.”

Kirana menatapnya.

“Buat apa?”

Bagas menyentuh alat bantu dengar di telinganya.

Lalu menunjuk rumah mereka.

Kamar bayi.

Mesin jahit.

Foto keluarga di dinding.

Dan akhirnya menunjuk Kirana.

“Untuk semua suara ini.”

Kirana tidak menjawab dengan kalimat manis.

Dia mengambil bantal sofa dan melemparkannya.

“Udah sana, anakmu nangis.”

Bagas tertawa sambil menghindar.

Lalu berlari kecil menuju kamar.

Kirana tetap duduk di ruang tengah.

Beberapa saat kemudian dia mendengar suara Bagas yang fals menyanyikan lagu pengantar tidur.

Sangat fals.

Benar-benar tidak enak didengar.

Kirana menutup wajah sambil tertawa.

“Ya ampun, Mas! Jangan nyanyi!”

Dari kamar terdengar Bagas membalas,

“Katanya suara saya bagus!”

“Siapa yang bilang?”

“Kamu!”

“Kapan?”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Bagas menjawab,

“Belum pernah.”

Kirana kembali tertawa.

Dan begitulah rumah itu akhirnya dipenuhi suara.

Bukan suara yang sempurna.

Bukan kehidupan yang rapi.

Ada tangisan bayi pada pukul dua pagi.

Ada kambing yang berisik.

Mesin jahit yang berdetak sepanjang siang.

Panci jatuh.

Pintu berderit.

Pertengkaran kecil tentang siapa yang lupa membeli beras.

Tawa.

Kadang tangis.

Kadang mereka memilih diam.

Namun bagi Bagas, semuanya memiliki arti.

Sebab selama hampir tiga puluh tahun, dunia telah mengambil suara darinya.

Dan orang-orang yang seharusnya berkata jujur memilih diam.

Kini dia tahu sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan mendengar.

Dia tahu seperti apa rasanya didengarkan.

Sedangkan Kirana akhirnya memahami bahwa dirinya tidak pernah menjadi perempuan yang “tidak laku”, seperti ejekan Rendy sejak mereka kecil.

Nilai dirinya tidak pernah ditentukan oleh bentuk tubuhnya.

Tidak oleh utang ayahnya.

Tidak oleh taruhan kakaknya.

Tidak pula oleh jumlah uang yang pernah berpindah tangan sebelum hari pernikahannya.

Dia adalah Kirana.

Perempuan yang tangannya mampu menjahit kain robek hingga kembali utuh.

Dan tanpa pernah merencanakannya…

dia bersama Bagas melakukan hal yang sama terhadap kehidupan mereka sendiri.

Tidak menghapus bekas sobekannya.

Tidak berpura-pura kain itu tak pernah rusak.

Mereka hanya menjahitnya perlahan.

Satu bagian.

Lalu bagian berikutnya.

Sampai akhirnya cukup kuat untuk dipakai kembali.

Di rumah batu kecil di perbukitan Pangalengan, bunyi lonceng di teras masih terdengar setiap kali angin sore datang.

Ting…

Ting…

Dan hampir setiap kali mendengarnya, Bagas masih tersenyum.

Seolah untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia sudah sampai di rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *