Dimas tidak langsung menjawab.
Bibirnya bergerak sedikit, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Aku masih berdiri di hadapannya sambil memegang kacamata hitam di tangan kanan. Nadine yang tadi begitu santai bersandar di bahunya sekarang duduk tegak. Tangannya sudah tidak berada di paha Dimas lagi.
Menarik.
Beberapa menit lalu mereka bicara tentang delapan puluh miliar rupiah seolah sedang membicarakan uang receh untuk membeli kopi.
Sekarang sekadar melihatku saja keduanya seperti lupa cara bernapas.
“Laras, aku bisa jelaskan.”
Akhirnya.
Kalimat itu juga yang keluar.
Entah kenapa aku hampir tertawa.
“Jelaskan yang mana, Mas?”
Aku menunjuk jaketnya.
“Seminar di Surabaya?”
Lalu mataku berpindah kepada Nadine.
“Atau bagian yang ini?”
Nadine langsung berdiri.
“Bu Laras, sebenarnya saya—”
“Duduk.”
Aku mengatakannya tanpa berteriak.
Dia justru langsung diam.
Dimas berdiri dan mencoba mendekatiku.
Aku mundur satu langkah.
“Jangan.”
Satu kata saja.
Wajahnya berubah.
“Laras, jangan bikin keributan di sini.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Aneh sekali mendengarnya.
Laki-laki yang berencana mengambil puluhan miliar rupiah lalu kabur bersama perempuan lain sekarang khawatir aku akan membuat keributan.
“Tenang saja,” jawabku. “Aku juga tidak suka keributan.”
Aku melirik papan keberangkatan.
“Penerbangan kalian masih berapa lama?”
Dimas menelan ludah.
“Laras…”
“Amsterdam, kan?”
Nadine menoleh cepat kepada Dimas.
Aku melihat perubahan kecil di wajahnya.
Barangkali baru saat itulah dia mulai bertanya-tanya.
Seberapa banyak yang sudah kuketahui?
Aku sengaja tidak memberinya jawaban.
Dimas mencoba tersenyum.
Senyum buruk.
Kaku.
“Ini salah paham.”
Aku mengangguk.
“Mungkin.”
“Benar.”
Dia langsung menangkap kesempatan itu.
“Aku memang tidak di Surabaya. Aku berbohong soal seminar, aku akui. Tapi bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Bagus.”
Aku membuka tas.
Dimas mendadak tegang.
Aku hanya mengambil ponsel.
“Kalau begitu, jelaskan saja nanti kepada pengacaraku.”
Wajahnya langsung pucat lagi.
“Pengacara?”
Aku belum sempat menjawab ketika ponsel Dimas bergetar.
Dia mengambilnya.
Aku melihat matanya bergerak membaca layar.
Seketika alisnya mengerut.
Dia mengetuk layar beberapa kali.
Kemudian sekali lagi.
“Apa-apaan ini?”
Aku diam.
Dimas mencoba membuka aplikasi perbankan lagi.
Nadine mendekat.
“Kenapa?”
“Rekeningnya…”
“Ada apa?”
“Tidak bisa.”
Aku memasang kembali kacamata hitamku.
“Coba sekali lagi, Mas.”
Dimas menatapku.
Barangkali ada saat dalam hidup ketika seseorang akhirnya memahami bahwa lantai yang sejak tadi dianggap kokoh ternyata sudah tidak ada.
Aku melihat saat itu di wajah suamiku.
“Kamu melakukan apa?”
“Nah.”
Aku tersenyum.
“Akhirnya pertanyaannya benar.”
Dimas mulai mengetik cepat di ponselnya.
Beberapa detik kemudian dia menelepon seseorang.
Tidak diangkat.
Dia menelepon lagi.
Kemudian nomor lain.
Nadine mulai gelisah.
“Mas, uangnya bagaimana?”
Dimas tidak menjawab.
“Mas?”
“Aku sedang urus!”
Nada suaranya meninggi.
Beberapa orang menoleh.
Aku malah mundur sedikit dan membiarkannya.
Tadi dia yang meminta aku tidak membuat keributan.
Sekarang justru dia yang mulai menjadi pusat perhatian.
Ponselku bergetar.
Pesan dari Pak Arif.
Tahap pengamanan selesai. Tidak ada dana yang keluar. Tim legal sudah menerima seluruh laporan transaksi.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Delapan puluh miliar rupiah.
Aman.
Entah kenapa, baru pada detik itu pundakku terasa sedikit lebih ringan.
Bukan karena uang semata.
Uang bisa dicari.
Aku sudah membangun perusahaan dari masa ketika ruang kantorku hanya berupa ruangan sewaan dengan dua meja bekas dan mesin pendingin yang bocor setiap hujan.
Yang membuatku lega adalah satu hal sederhana.
Mereka gagal.
Dimas mematikan telepon.
“Kamu membekukan rekening?”
“Bukan.”
Aku memasukkan ponsel kembali.
“Aku mengamankan apa yang memang harus diamankan.”
“Itu rekening bersama!”
“Benar.”
“Aku punya hak!”
“Kalau memang begitu, pengacara kita nanti bisa membahasnya dengan tenang.”
Nadine mulai menarik lengan Dimas.
“Mas, kita pergi saja dulu.”
Aku mendengarnya.
Dimas juga.
Dan saat itulah terdengar suara langkah dari belakangku.
Tidak terburu-buru.
Tidak seperti adegan film dengan belasan orang berlari dan meneriakkan nama seseorang.
Justru biasa saja.
Itulah yang membuat Dimas semakin gugup.
Aku menoleh sedikit.
Pengacaraku, Ratih Kusuma, berjalan mendekat bersama seorang staf. Di belakang mereka ada dua petugas yang sebelumnya sudah berkoordinasi mengenai laporan yang kubuat.
Ratih berhenti di sampingku.
“Bu Laras.”
“Bu Ratih.”
Dia menyerahkan sebuah map tipis.
“Sudah selesai.”
Dimas menatap map itu.
“Apa itu?”
Aku tidak menjawab.
Ratih yang bicara.
“Pak Dimas, kami sudah melakukan langkah hukum untuk mencabut kewenangan yang berkaitan dengan aset perusahaan yang berada di bawah otorisasi Ibu Laras. Mengenai aset pribadi dan rekening bersama, semuanya akan diproses sesuai ketentuan dan status kepemilikannya.”
Dimas tertawa pendek.
Tetapi aku tahu dia tidak sedang merasa lucu.
“Laras, kamu gila?”
Aku memandangnya.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di bandara, sesuatu di dadaku terasa benar-benar sakit.
Bukan karena Nadine.
Bukan karena uang.
Karena laki-laki ini pernah duduk bersamaku di lantai apartemen kecil kami delapan tahun lalu sambil makan nasi goreng dari kotak kertas.
Pernah memegang tanganku ketika perusahaan hampir bangkrut.
Pernah berkata bahwa kalau suatu hari aku kehilangan semuanya, dia tetap akan tinggal.
Dan sekarang…
Sudahlah.
Ada kenangan yang tidak perlu dibunuh.
Cukup diletakkan.
Kemudian ditinggalkan.
“Aku tidak gila, Mas.”
Suaraku lebih pelan.
“Aku cuma akhirnya berhenti mempercayaimu.”
Dia terdiam.
Nadine tiba-tiba mengambil kopernya.
“Aku tidak mau ikut campur urusan kalian.”
Aku menoleh kepadanya.
Hampir saja aku tidak percaya.
“Tidak ikut campur?”
Nadine menghindari tatapanku.
“Saya tidak tahu soal semuanya.”
Dimas langsung menoleh.
“Nadine!”
“Apa?”
“Kamu tahu!”
“Aku cuma tahu kamu bilang uang itu bagianmu!”
Suara Nadine meninggi.
Nah.
Retakan pertama.
Ternyata cepat sekali.
Dimas mendekatinya.
“Kamu tahu rencananya dari awal.”
“Tidak semua!”
“Kamu bahkan yang menyuruhku mempercepat transfer!”
Nadine memucat.
Ratih melirikku.
Aku tidak mengatakan apa pun.
Perekam di ponselku masih aktif.
Biarkan.
Kadang orang yang panik jauh lebih pandai membuka rahasianya sendiri daripada seratus pertanyaan.
Nadine menurunkan suaranya.
“Kamu bilang Laras tidak akan tahu.”
Dimas tertawa sinis.
“Jadi sekarang semua salahku?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Lalu?”
“Aku tidak mau kena masalah gara-gara kamu!”
Dimas membeku.
Beberapa menit sebelumnya:
Sayang.
Hidup baru.
Eropa.
Selamanya.
Sekarang berubah menjadi:
Gara-gara kamu.
Aku hampir merasa kasihan.
Hampir.
Seorang petugas kemudian meminta mereka tetap berada di lokasi untuk proses klarifikasi terkait laporan dan dokumen yang telah diserahkan.
Dimas langsung menatapku.
“Kamu laporkan aku?”
“Aku menyerahkan bukti.”
“Kita suami istri!”
Kalimat itu keluar begitu keras sehingga beberapa orang kembali menoleh.
Aku tidak menjawab cepat.
Karena justru kalimat itu yang paling menyakitkan.
Kita suami istri.
Benar.
Seharusnya dia mengingatnya sebelum memesan dua tiket sekali jalan.
“Ya,” kataku akhirnya.
“Kita suami istri.”
Aku berhenti.
“Makanya seharusnya kamu bicara denganku sebelum merencanakan hidup baru dengan orang lain memakai uang yang bukan milikmu sendiri.”
Dimas membuka mulut.
Tidak ada jawaban.
Petugas kemudian meminta tas kerjanya diperiksa sebagai bagian dari proses sesuai laporan yang sudah masuk.
Dimas refleks memegang tas itu.
Gerakan kecil.
Tapi semua orang melihatnya.
Ratih menatapku sebentar.
Ada sesuatu di sana.
Aku langsung mengerti.
Tas.
Dokumen.
Dimas tadi membanggakan dokumen yang dibawanya.
Petugas meminta dia menyerahkannya secara kooperatif.
Setelah beberapa saat, Dimas akhirnya melepaskan tangannya.
Tas dibuka.
Beberapa map berada di dalam.
Salinan dokumen perusahaan.
Dokumen kewenangan.
Berkas transaksi.
Dan satu amplop cokelat yang bahkan belum pernah kulihat sebelumnya.
Ratih memeriksanya bersama petugas sesuai prosedur.
Lalu wajahnya berubah.
“Bu Laras.”
Aku mendekat.
“Ada apa?”
Dia menunjukkan satu dokumen.
Aku membacanya.
Sekali.
Dua kali.
Aku sampai mengangkat kepala dan menatap Dimas.
Ternyata bukan hanya uang.
Ada rancangan transaksi atas salah satu aset perusahaan yang sedang disiapkan menggunakan kewenangan lama yang dia miliki.
Belum selesai.
Belum sah.
Tetapi niatnya terlihat.
Untuk pertama kalinya hari itu, kemarahanku benar-benar muncul.
Bukan meledak.
Lebih buruk.
Dingin.
“Sejak kapan?”
Dimas tidak menjawab.
“Sejak kapan kamu merencanakan ini?”
“Laras…”
“Enam bulan?”
Diam.
“Setahun?”
Matanya turun.
Aku mendapat jawabannya.
Astaga.
Selama itu.
Berarti ketika kami merayakan ulang tahunku di Bali, dia sudah merencanakannya.
Ketika dia memberikan bunga pada ibuku.
Ketika dia memelukku setelah rapat pemegang saham.
Ketika dia bilang bangga kepadaku.
Semua itu berjalan bersamaan dengan rencana ini.
Aku ingin marah.
Benar-benar ingin.
Namun yang keluar justru tawa kecil yang pahit.
“Aku bodoh sekali.”
Ratih langsung berkata, “Bu Laras—”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Aku menatap Dimas.
“Aku memang bodoh dalam satu hal. Aku mengira orang yang tidur di sebelahku setiap malam masih orang yang sama dengan laki-laki yang kunikahi delapan tahun lalu.”
Dimas tiba-tiba melembut.
“Laras, dengarkan aku.”
Aku sudah lelah mendengar kalimat itu.
“Aku masih sayang sama kamu.”
Nah.
Itu dia.
Kalimat paling tidak berguna hari itu.
Nadine bahkan menoleh kepadanya dengan ekspresi tidak percaya.
Aku justru tertawa.
Kali ini benar-benar tertawa.
Tidak keras.
Tetapi cukup.
“Jangan.”
Dimas mendekat setengah langkah.
“Aku salah.”
“Benar.”
“Aku khilaf.”
“Berbulan-bulan?”
Dia diam.
Aku mengangguk.
“Panjang juga khilafnya.”
Ratih sampai menunduk sedikit, mungkin menyembunyikan reaksi.
Dimas tampak kehilangan kata-kata.
Aku menatapnya untuk terakhir kali sebelum membiarkan proses berikutnya berjalan.
“Aku tidak tahu bagaimana semuanya akan diputuskan nanti. Itu urusan bukti, hukum, dan proses yang berlaku.”
Aku menarik napas.
“Tapi untuk pernikahan kita, aku sudah tahu jawabannya.”
Wajah Dimas berubah.
“Laras…”
“Aku selesai.”
Dua kata.
Ternyata delapan tahun bisa berakhir dengan dua kata.
Bukan dengan piring pecah.
Bukan dengan tamparan.
Bukan dengan teriakan.
Aku selesai.
Lalu aku pergi.
Tidak kutunggu penerbangan mereka.
Tidak kutunggu drama berikutnya.
Aku bahkan tidak menoleh ketika Dimas memanggil namaku.
Di luar terminal, udara Tangerang terasa panas.
Aku masuk ke mobil.
Menutup pintu.
Barulah tanganku gemetar.
Aku memegang setir meski sopirku sebenarnya duduk di depan dan sedang menunggu instruksi.
“Bu?”
Aku menatap jendela.
“Pak Joko.”
“Iya, Bu.”
“Tolong jangan tanya apa-apa dulu.”
“Baik.”
Aku duduk di belakang.
Lima menit.
Mungkin sepuluh.
Lalu air mataku keluar.
Tidak dramatis.
Tidak sesenggukan.
Hanya mengalir.
Diam-diam.
Aku membiarkannya.
Karena aku bukan mesin.
Menjadi direktur utama tidak membuat hati berubah menjadi laporan keuangan.
Aku tetap perempuan yang baru saja kehilangan pernikahan delapan tahun.
Malam itu aku tidak pulang ke rumah yang kutinggali bersama Dimas.
Aku pergi ke rumah ibuku.
Ibu membuka pintu sendiri.
Dia melihat wajahku.
Tidak bertanya.
Hanya membuka kedua tangannya.
Dan saat itulah aku menangis seperti anak kecil.
Tiga bulan setelah hari di bandara, hidupku berubah total.
Proses hukum dan penyelesaian urusan perkawinan berjalan melalui jalurnya masing-masing. Aku tidak mengikuti setiap gosip yang muncul. Beberapa media sempat mencium ada masalah internal, tetapi tim perusahaan menangani semuanya tanpa menjadikan kehidupan pribadiku sebagai tontonan.
Dana perusahaan tetap aman.
Transaksi mencurigakan berhasil dihentikan sebelum menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Kewenangan Dimas atas urusan perusahaan juga sudah tidak berlaku.
Tentang Nadine?
Hubungan mereka ternyata tidak bertahan bahkan sampai pesawat yang seharusnya membawa mereka ke Eropa lepas landas.
Aku tahu karena Ratih memberitahuku sambil tertawa kecil suatu sore.
Mereka saling menyalahkan.
Aku tidak tertarik mengetahui detailnya.
Benar-benar tidak.
Ada kepuasan yang aneh ketika kita akhirnya tidak lagi ingin tahu apa yang dilakukan orang yang pernah menghancurkan hati kita.
Enam bulan berlalu.
Aku mulai tidur nyenyak lagi.
Aku kembali berlari pada Minggu pagi.
Aku makan siang dengan ibuku setiap dua minggu.
Aku bahkan mengambil cuti empat hari tanpa membawa laptop.
Para direksi hampir tidak percaya.
Pak Joko sampai bertanya apakah aku sakit.
Aku tertawa.
“Enggak. Saya cuma baru sadar cuti ternyata boleh dipakai.”
Setahun kemudian, Rina pulang dari Australia untuk liburan.
Kami bertemu di sebuah kedai kopi di Jakarta.
Begitu melihatku, dia langsung memelukku.
“Gila.”
“Apa?”
“Kamu beda.”
Aku memeriksa bajuku.
“Apanya?”
“Wajahmu.”
“Tambah tua?”
“Tambah hidup.”
Aku terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Tapi aku membawanya pulang.
Tambah hidup.
Mungkin benar.
Perusahaan juga berubah.
Aku membentuk sistem baru sehingga tidak ada satu orang pun—termasuk anggota keluarga pemilik—yang dapat memiliki kewenangan berlebihan atas transaksi besar tanpa lapisan verifikasi.
Pengalaman buruk itu ternyata memaksaku memperbaiki sesuatu yang selama ini kuabaikan karena rasa percaya.
Dua tahun kemudian, Mahendra Investama membuka program pendanaan untuk pengusaha perempuan yang sedang membangun usaha kecil dan menengah.
Bukan program pencitraan.
Aku sendiri ikut menyeleksi beberapa peserta.
Di sana aku bertemu banyak perempuan yang kehilangan sesuatu.
Ada yang kehilangan pekerjaan.
Ada yang ditinggalkan pasangan.
Ada yang usahanya bangkrut.
Ada seorang ibu yang datang membawa anak karena tidak punya siapa pun untuk menjaganya selama wawancara.
Aku memandang mereka dan tiba-tiba sadar.
Hidup tidak selalu menjadi indah setelah sesuatu yang buruk terjadi.
Kadang hidup tetap berantakan cukup lama.
Tetapi kita belajar membangun di antara puing-puing itu.
Pelan-pelan.
Tidak cantik.
Tidak sempurna.
Tetap jadi.
Pada tahun ketiga setelah kejadian di bandara, aku kembali ke Terminal 3.
Kali ini bukan untuk menangkap siapa pun.
Bukan pula mengantar orang pergi.
Aku sendiri yang akan berangkat.
Tujuanku Sydney.
Rina menikah.
Dan perempuan gila itu mengancam tidak akan memaafkanku seumur hidup kalau aku tidak datang menjadi pendampingnya.
Aku berdiri di depan papan keberangkatan dengan koper kecil.
Tanpa masker.
Tanpa topi.
Tanpa kacamata hitam.
Seorang perempuan muda mengenaliku.
“Bu Laras?”
Aku menoleh.
Dia terlihat gugup.
“Saya pernah ikut program UMKM Mahendra. Mungkin Ibu nggak ingat.”
Aku mengamatinya sebentar.
Kemudian ingat.
“Keripik singkong?”
Matanya membesar.
“Ibu ingat?”
“Yang sambal matahnya terlalu pedas sampai saya minum dua botol air.”
Dia tertawa.
Aku ikut tertawa.
Dia bercerita usahanya sekarang mempekerjakan dua belas orang.
Aku mendengarkan sampai pengumuman penerbanganku terdengar.
Sebelum pergi, perempuan itu berkata,
“Terima kasih sudah kasih kesempatan waktu itu, Bu.”
Aku tersenyum.
“Bukan saya yang membangun usahamu.”
“Tapi Ibu membuka pintunya.”
Aku terdiam.
Pintu.
Lucu.
Dulu aku mengira hari di bandara itu adalah hari ketika hidupku runtuh.
Ternyata bukan.
Itu hanya sebuah pintu yang tertutup dengan sangat keras.
Saking kerasnya sampai aku tidak menyadari ada pintu lain terbuka di sebelahnya.
Aku berjalan menuju pemeriksaan keberangkatan.
Di tengah jalan, ponselku berbunyi.
Pesan dari Ibu.
Sudah makan?
Aku tersenyum.
Belum, Bu.
Pesan berikutnya masuk.
Jangan sok sibuk. Makan.
Aku tertawa sendirian.
Beberapa orang menoleh.
Aku tidak peduli.
Aku membeli roti sebelum masuk ke ruang tunggu.
Kemudian duduk di dekat jendela besar menghadap landasan.
Pesawat datang dan pergi.
Orang berpelukan.
Ada yang menangis karena berpisah.
Ada yang berlari karena hampir terlambat.
Ada anak kecil menempelkan wajah ke kaca sambil menunjuk pesawat.
Tiba-tiba aku teringat Dimas.
Bukan dengan marah.
Itu yang mengejutkanku.
Aku hanya mengingatnya seperti mengingat sebuah rumah lama yang pernah kutinggali.
Pernah ada kehidupan di sana.
Pernah ada hari-hari baik.
Lalu rumah itu tidak lagi bisa ditempati.
Kita pindah.
Sesederhana itu.
Aku tidak perlu membenci seluruh masa lalu untuk meninggalkannya.
Pengumuman boarding terdengar.
Aku berdiri dan menarik koper.
Sebelum berjalan, aku melihat pantulanku sendiri di kaca.
Perempuan tiga tahun lalu datang ke bandara memakai topi, masker, dan kacamata hitam agar tidak dikenali.
Perempuan yang berdiri sekarang tidak sedang bersembunyi dari siapa pun.
Aku tersenyum kepada bayanganku sendiri.
Sedikit konyol memang.
Tapi biarlah.
Kemudian ponselku kembali berbunyi.
Rina.
CEPAT! KALAU KAMU KETINGGALAN PESAWAT, AKU NIKAH TANPA PENDAMPING!
Aku membalas:
Tenang. Aku datang.
Tiga titik muncul.
Kemudian jawabannya masuk.
JANJI?
Aku berhenti tepat sebelum menyerahkan boarding pass.
Entah mengapa pertanyaan itu membuatku tersenyum lebih lama.
Dulu aku takut pada kata janji.
Sekarang tidak.
Karena aku akhirnya mengerti sesuatu.
Janji paling penting ternyata bukan janji seseorang untuk tidak pernah meninggalkan kita.
Melainkan janji yang kita buat kepada diri sendiri bahwa ketika seseorang pergi, ketika sebuah rencana gagal, ketika sesuatu yang kita bangun bertahun-tahun tiba-tiba runtuh…
kita tidak ikut meninggalkan diri kita sendiri.
Aku mengetik dua kata.
Aku janji.
Lalu kusimpan ponselku.
Petugas mempersilakanku masuk.
Aku berjalan melewati gerbang.
Tidak menoleh ke belakang.
Dan kali ini, ketika sebuah pesawat membawaku meninggalkan Jakarta, tidak ada delapan puluh miliar rupiah yang dicuri.
Tidak ada suami yang berbohong.
Tidak ada perempuan lain.
Tidak ada jebakan.
Hanya aku, sebuah koper kecil, pernikahan sahabatku yang menunggu di Sydney, dan hidup yang ternyata masih menyediakan begitu banyak halaman kosong.
Lucunya, dulu aku datang ke bandara hanya untuk mengantar seseorang pergi.
Aku sama sekali tidak tahu bahwa pada hari itulah aku sebenarnya sedang mengantar versi lama diriku sendiri menuju pintu keluar.
Butuh waktu lama untuk menyadarinya.
Tiga tahun, tepatnya.
Tetapi tidak masalah.
Beberapa hal memang baru terlihat jelas setelah kita berada cukup jauh darinya.
Pesawat mulai bergerak meninggalkan garbarata.
Aku memandang Jakarta dari balik jendela.
Kemudian tersenyum.
Aku tidak mendapatkan kembali pernikahanku.
Aku mendapatkan sesuatu yang ternyata jauh lebih lama hilang tanpa kusadari.
Diriku sendiri.
Dan kali ini…
aku tidak berniat kehilangannya lagi.
